Download Komik – Ndak Lagi-Lagi (Suara Di Balik Penjara Anak)
Kata Cirul, “Lo tau Jawa kan? Dia masuk penjara anak-anak lagi. Kemaren baru ditransfer. Untung slamet. Nggak digebugin. Kepala kamarnya masukin limapuluh ribu lewat bool”
Iya saya kenal Jawa. Nama aslinya Rahmat namun lebih suka dipanggil Jawa. Dia salah satu anak jalanan yang dapat beasiswa dan ikut pendidikan Art Therapy dulu di Fri Gallery, Depok. Jawa ini memang nampaknya mencintai banyak masalah dalam hidupnya. Mabuk memakai lem aibon atau spirtus, membobol warung kaki lima untuk mencuri, berkelahi dan banyak lainnya telah ia jalani dan jadi santapan sehari-hari. Ajaibnya, ia punya bakat untuk melukis dan membuat puisi yang luar biasa di usianya yang saat itu belum genap 13 tahun di penghujung tahun 90-an. Maka itu ia kami pilih sebagai kandidat beasiswa pendidikan seni sekaligus terapi.
Jalan hidupnya memang sungguh istimewa.
Jawa masuk penjara anak-anak? Itu biasa. Bukan hal yang spesial buat dia. Tapi tidak dipukuli oleh penghuni lama, itu luar biasa. Sebab si Jawa ini memang suka cari masalah. Begitu sampai tempat baru, ia pasti menantang penghuni lama. Penjara anak-anak tetap saja penjara.
Maka bertanyalah saya pada Cirul yang sama-sama mengurus beasiswa seni ini, “Sori Rul, gua nggak ngerti”
“Jawa ditransfer. Dari polres ke Tangerang. Gua nggak tau dia diapain di Polres, yang gua denger dia selamet sampe Tangerang nggak digebugin”
Saya masih bingung. Apa hubungannya penjara Polres dengan lembaga pemasyarakatan anak-anak Tangerang serta uang lima puruh ribu yang diselipkan di dubur?
Cirul ketawa, “Yaelah Rip. Kayak gitu aja nggak tau luh. Biasa lah, kalo anak baru kan diminta uang keamanan ama anak lama. Si Jawa kali aja nyepong siapa lah di Polres terus dapet lima puluh ribu. Sebelom ditransfer, kan ditelanjangin dulu. Diperiksa. Limapuluh ribu dilinting kecil terus dimasukin ke bool biar nggak ketauan waktu diperiksa”
“Buat apa?”
“Lu kira duit nggak laku di penjara? Ngawur luh!”
Obrolan itu berhenti dan masih membekas di otak saya. Hingga akhirnya ‘Jawa’ Rahmat meninggal tahun 2007 terbunuh di daerah dekat pasar Bendungan Hilir, Jakarta. Katanya dia mabuk, lalu ‘reseh’ yang mengakibatkan tiga preman situ mencekik lehernya hingga mengundang malaikat maut tiba. Namun kenangan terhadap Jawa, limapuluh ribu lintingan, dan penjara anak-anak di Indonesia, masih terus membekas di otak ini.
Dan begitulah adanya hingga suatu hari kenal Jeany.
Jeany ini teman dekatnya Ombow, salah seorang pendiri dan kru SERRUM, komunitas seni di Jakarta. Ia lincah dan ramah. Minimal selalu menawarkan saya pisang goreng, kacang rebus atau kudapan ringan lainnya kalau bertemu.
Suatu hari saya kaget ketika mendengar bahwa Jeany bekerja di Penjara Anak-anak Tangerang. Jeany yang mungil, lucu dan imut itu ada di penjara anak? Wow! Kok bisa?
Ingatan tentang Jawa muncul kembali.
Waktu saya konfirm ke Jeany, ia mengiyakan. Katanya, ia mengajar anak-anak itu membuat komik. Dan dahsyatnya, kompilasi komik-komik itu sudah jadi dan sempat dipamerkan di beberapa kota di Indonesia.
Saya terharu. Kagum, gembira, salut dan sejuta perasaan berkecamuk lainnya. Hebat betul ini Jeany. masih muda sudah berbuat sedemikian banyak. Diantaranya adalah peduli dengan komunitas anak-anak yang ada dalam penjara. Bahkan sudah berhasil mengkompilasikan karya anak-anak itu dalam buku komik mereka.
Penasaran, saya minta komik tersebut pada Jeany. Syukurlah ia tidak menampik. Bahkan ia tidak pula menolak ketika saya meminta kesediannya untuk wawancara di bangaip dot org.
Ini Jeanny sedang beraksi melukis komik. Hobi yang ia cintai.

1. Kak Jeany, cerita sedikit dong latar belakang Jeany. Siapa sih Kak Jeany sebenarnya?
Saya seorang kapiten…loch..loch… ha..ha..ha..
Saya seorang mahasiswa tingkat akhir di Universitas Negeri Jakarta, Jurusan Seni Rupa yang berpenampilan menarik unik dan juga lucu.. ha..ha.ha…!! o(^_^)o.. Kegiatan yang selama ini dijalani ya kuliah, ikut-ikut pameran dan juga ’ngajar di Lembaga Pemasyarakatan Anak Pria Tangerang sebagai fasilitator kegiatan komik, namanya KOLAPS (Komik Anak Lapas).
2. Kok Kak Jeany bisa begaul dan nongkrong sama anak-anak penghuni lembaga pemasyarakatan. Bagaimana awal mulanya, Kak?
Bergaul dan nongkrong sama temen-temen AndikPas di Lembaga Pemasyarakatan Anak Pria Tangerang (Anak didik Lembaga Pemasyarakatan, sebutan untuk anak-anak yang ada di sana pengganti kata ’napi’) wah untuk ngebayangin aja gak kepikiran banget apalagi ada bersama-sama ma mereka saat ini. Awal mulanya sih sedikit membingungkan. Kasus pertama ada fasilitator kegiatan komik namanya Mas Maman, mencari co-fasilitator tapi perempuan, temennya minta tolong saya yang ’nyariin… kasus kedua, saya gak bisa nemuin siapa yang tertarik untuk ngajar di sana, alasannya sih beragam salah satunya ’jauhhhhh…’. Kasus ke tiga ”ya udahlah kenapa ’gak saya aja yang coba sendiri’. Emang sih ada sedikit ragu, penjara gitu loh… huuhhh ’serem’. Akhirnya kena putusan juga deh untuk ngajar d sana, sekarang saya sudah menjalani masa mengajar hampir 4 tahun he..he..he… kegiatan Kolaps tidak hanya kegiatan penyaluran minat dan bakat, fungsinya juga sebagai art terapi untuk anak-anak di Lapas, yaitu media curhatan, curhat lewat komik..
3. Apakah Kak Jeany senang menjadi guru sekaligus teman curhat anak-anak penghuni lapas?
Kalo ditanya seneng apa nggak ya sudah tentu senang, karena secara tidak langsung saya juga bisa belajar menjadi dewasa dengan mengartikan sebuah permasalahan. Curhatan teman-teman AndikPas sangat beragam dan biasanya permasalahan mereka secara garis besar sama yaitu curhat ketika di khianatin sahabat sendiri hingga pada akhirnya harus masuk penjara, di tinggal keluarga, pacar dan juga teman. Curhat karena kangen keluarga tapi keluarga gak pernah mau jenguk, atau perasaan bingung setelah bebas nanti mau kemana dan jadi apa.
4. Apa suka duka Kak Jeany ketika mengajar cara membuat komik di Lapas anak-anak Tangerang?
Suka duka..? Emmm.. banyak juga sihh..
Sukanya ketika temen-temen AndikPas enjoy ma kegiatan membuat komik, ketika mereka tidak ada beban u/bercerita segala ’uneg-uneg’ melalui media gambar atau juga secara verbal..
Dukanya kalo ada AndikPas yang cemburu ma temen yang lain dan males-malesan untuk datang dikegiatan komik karena merasa tidak diperhatikan. Ya begitu deh jadi harus benar-benar adil, walaupun sudah merasa adil seadil-adilnya tapi kadang mereka yang tidak bisa mengerti, jadi kita yang harus bisa ’ngertiin mereka..!! ribet ya..!! he..he..he..
Ada juga suka d icampur duka.. Hmm.. misalnya ada AndikPas yang sudah jago banget atau sederhananya nyaman untuk ’bikin komik tapi mereka harus ninggalin kegiatan Kolaps karena masa tahanan sudah berakhir akhirnya dari jumlah anggota 20 bisa jadi 5 anggota ’aja.. suka karena akhirnya mereka bebas.. dukanya karena kehilangan AndikPas Kolaps. Jadi harus merekrut anggota baru untuk ikut dan bergabung dengan kegiatan Kolaps dan harus mengajar lagi dari ’nol’. Yang tentu saja hal itu gak mudah, gimana menarik mereka untuk meyakini kalo bikin komik atau gambar itu gak sulit karena yang selama ini mereka rasakan ngomik atau bikin gambar itu susah, mereka selalu aja merasa ’takut salah’, padahal ngegambar itu bebas euy.. toh itu karakter kita..
5. Apa pesan Kak Jeany buat pembaca bangaip dot org yang tidak atau belum pernah masuk Lapas?
Pesannya.. keep smile.. be your self tetap cintai hidupmu, karena hal ini membuat kita sadar untuk tidak merusaknya dengan hal-hal bodoh.. kalaupun terjadi tetap syukuri saja dan coba menyikapinya dengan positif (amin).. untuk bangaip dot org dukung terus ya anak-anak yang ada di Lembaga Pemasyarakatan karena saat ini mereka hanya tersesat mencari jalan untuk segera sadar..
Terimakasih Kak Jeany ![]()
Sama-sama..!! o(^_^)o
Wawancara dengan Jeany dan lalu membaca isi komik tersebut, benar-benar membuka mata. Penjara anak-anak, yang selanjutnya akan kita sebut sebagai Lapas saja, ternyata menyimpan banyak bibit kreatif.
Di dalam komik kompilasi karya adik-adik penghuni Lapas ini ditemukan banyak sekali cerita-cerita menarik. Mulai dari cerita berwujud teks hingga illustrasi bergambar. Temanya beragam, dari yang kangen dengan ibunya, hingga memikirkan mau jadi apa nanti ketika keluar dari Lapas.
Illustrasi bagian “Keluarga Tersayang”

Diantara yang mencolok perhatian adalah salah satu illustrasi curahan hati ketika seorang anak ditangkap oleh aparat yang berwajib dan lalu diinterogasi. Ia tuangkan dalam sebuah kertas putih dicoret-coret ketika tubuhnya digantung dan dipukuli.
Illustrasi komik bagian “Pengalaman berkesan”

Apapun intinya, gabungan antara komik dan teks setebal 107 halaman ini amat layak untuk dibaca.
Dan yang lebih hebat lagi, Jeany, para kakak pembina Komik Curhat Anak Lapas Tangerang beserta adik-adik kita yang sempat membuat komik di sana, membebaskan komik ini sehingga anda bisa baca dan unduh di bangaip dot org dengan mudah dan tanpa bayar.
Terimakasih Kak Jeany. Terimakasih kakak-kakak yang bergiat di program komik curhat ini lainnya. Terimakasih kepada bapak-ibu pembimbing Lapas. Terimakasih kepada seluruh teman-teman PLAN Indonesia. Dan yang paling penting, terimakasih adik-adik yang memberi kami kesempatan untuk melihat karya kalian.
Seperti pesan Kak jeany: “Terus berkarya dan tetap positif mengahadapi hidup”
Selamat mengunduh dan selamat menikmati
Kompilasi Komik Curhat: Ndak Lagi-lagi (PDF) 22,3 Mb | Kompresi Komik Ndak Lagi-lagi (tar.gz) 20.2 Mb
Silahkan mengunjungi website resmi Komunitas Komik Curhat Lembaga Pemasyarakatan Anak di Kolaps.Multiply.com jika anda tertarik mengetahui lebih lanjut lika-liku pengalaman Jeanny dan teman-teman lainnya berhubungan dengan adik-adik penghuni lapas.
Hijau Mata Duitan
Beberapa pagi lalu saya terburu-buru. Lupa sarapan. Sadar bahwa sarapan penting, maka ke toko terdekat mencari alternatif. Kebetulan ketemu jeruk dan jus buah botol 250 ml. Lumayan untuk ganjal perut.
Sambil minum jus, mata saya iseng melihat-lihat botol kemasan. Sekedar membaca apa isi yang ada di sana. Dari iseng, muncul beberapa pertanyaan setelah melihat bahwa di belakang kemasan label botol tersebut. Sebab terpampang tulisan bahwa ada tulisan ‘green label’ di belakang botol. Padahal yang nyata-nyata itu botol terbuat dari plastik. Bahkan labelnya juga dari plastik.
Saya kaget. Apanya yang hijau dari botol plastik?
Sumpah mati saya penasaran mencari jawabannya. Botol nekat itu benar-benar mengganggu kenyamanan pola kerja otak ini. Tidak lama kemudian mulailah saya mencari jawabannya.
Karena ini menyangkut botol tersebut. Langkah yang saya lakukan adalah:
- Mencari siapa yang memproduksi. Setelah dapat nomor telpon nama pabrik belakang label di buku kuning telepon, saya telpon untuk bertanya siapakah yang memproduksi botol jus buah yang baru saja saya minum. Mereka bilang, mereka sendiri yang memproduksi
- Bertanya pada orang yang tepat. Setelah menelepon bagian produksi botol yang katanya tidak tahu apa-apa, sebab label itu ada di bawah bagian departemen disain grafis dan saya pun terlempar ke bagian disain grafis. Di departemen ini disainernya nampak bersembunyi di balik bahasa Inggris terpatah-patah. Daripada susah komunikasi, saya ajak pakai bahasa lokal setempat, bahasa dia sejak lahir. Dan sialnya, masih susah di ajak komunikasi. Kali ini bukan gara-gara bahasa, melainkan dia mengelak memberi jawaban dan melemparkan ini ke bagian marketing. Katanya, “Mereka yang minta saya mendisain ini. Konten disain itu bukan tanggung jawab kami”. Hebatnya, setelah dari departemen marketing, telepon saya malah dilempat ke bagian Hubungan Masyarakat perusahaan yang berada di Lyon, Perancis. Dari mereka saya dapat jawaban bahwa botol itu hijau bukan karena plastik mudah didaur ulang (ini pun saya dapat setelah saya debat dengan sumber-sumber yang saya siapkan sebelum menelepon mereka. Saya sudah menebak bahwa awalnya mereka akan pakai alasan itu). Mereka mengaku bahwa mereka ‘Hijau’ karena sudah menyumbang untuk organisasi lingkungan hidup.
- Verifikasi. Menurut organisasi lingkungan hidup, si pabrik pembuat botol memang memberikan sejumlah euro pada mereka, yang bisa di cek di laporang pertanggungjawaban keuangan website organisasi tersebut. Tapi bukan berarti bahwa mereka bisa lepas tanggung jawab memberikan data palsu pada konsumen
Ini fakta yang menarik. Minimal buat saya. Logika subyektif yang bisa saya tangkap dari cerita diatas adalah; ketika anda bersedekah maka itu akan menghapuskan dosa-dosa tolol anda ketika sedang memperkosa hak-hak orang lain.
Tapi oke lah. Mari tidak usah bicara tentang dosa atau perkosaan. Dua kalimat itu lebih baik anda temui di tulisan lain. Seperti di kitab suci misalnya. Hehe.
Mari kita bicara lainnya. Misalnya tentang penipuan atas nama ‘Hijau’
Pertanyaan utama yang paling penting adalah; Mengapa?
Tahun 1986, seorang warga New York yang juga ahli lingkungan bernama Jay Westerveld melontarkan jargon ‘greenwashing’. Asal kalimat tersebut adalah green dan white washing dalam bahasa Inggris. Kalimat ini digunakan sebagai terminologi dalam menjelaskan langkah pemasaran sebuah perusahaan yang pura-pura menggunakan produksi ramah lingkungan padahal sebenarnya tidak.
Banyak perusahaan-perusahaan menggunakan teknik marketing hijau greenwashing ini untuk memperoleh laba lebih banyak. Atau bahkan sekedar untuk memperlihatkan mereka ramah lingkungan. Atau peduli dengan pemanasan global.
Contoh ajaib adalah perusahaan minyak Chevron. Di tahun 1980-an mereka membuat kampanye menggembar-gemborkan bahwa mereka ramah lingkungan dan konsumen mereka adalah orang-orang yang peduli lingkungan. Ternyata sialnya ini adalah marketing gimmick. Trik pemasaran agar produknya lebih laku.
Yang paling gila katanya adalah BP plc (dulunya British Petroleum plc), sebuah perusahaan enerji yang bergerak utama di bidang minyak (*aah lagi-lagi minyak*). Tahun 2000, BP ini mengeluarkan uang sebesar 200 juta dollar. Semuanya hanya untuk melakukan penggantian branding. Misalnya mengganti logo menjadi berwarna hijau dan mencerminkan daun dan matahari. Agar lebih terlihat ‘membumi’. Padahal tetap saja kenyataannya BP ini adalah salah satu perusahaan penyedot minyak, sumber daya bumi non daur-ulang terbesar.
Pertanyaan kedua yang tidak kalah pentingnya; Kok bisa laku?
Ini penting. Sebab tidak ada yang mao dagang kalau tidak laku.
Teori marketing orang betawi menyatakan, ‘Lu jual gua beli!’. Whahaha, walaupun hubungannya tidak signifikan tapi ini membuktikan satu hal pokok. Bahwa selalu ada pasar untuk apa saja.
Klasifikasi keperluan konsumen itu luas, bahkan pada yang paling spesifik sekalipun.
Maka misalnya, ketika ada pedagang bensin yang memperlihatkan bahwa mereka ‘ramah lingkungan’, konsumen pun merasa punya lebih dari satu keuntungan; ditunaikan kebutuhannya serta terpuaskan egonya sebab mereka merasa telah berbuat sesuatu untuk planet bumi ini.
Memenuhi kebutuhan konsumen itu penting. Namun dibutuhkan lebih daripada itu untuk dapat menjaring loyalitas pelanggan. Salah satunya yaa melalui pemenuhan ego konsumen
Pemasar yang baik bukan hanya yang mampu menjual, melainkan adalah yang juga mampu membuat pembelinya kembali datang dan bahkan mentransformasi pelanggan menjadi agen pemasarannya, baik langsung maupun tidak langsung.
Masa ini, menjadi ‘hijau’ adalah seksi. Contoh; banyak orang kaya di muka bumi ini yang mampu beli mobil mewah sebagai tunggangan pribadi maupun sarana pemuasan eksebisi diri. Tapi diantara orang-orang kaya itu, yang memiliki mobil mewah ramah lingkungan akan terlihat beda. Menjadi unik adalah salah satu target yang dibidik para pemasar (atau yang mengaku). ‘Menjadi Hijau’ saat ini unik. Di saat manusia lain berlomba-lomba menghabiskan isi bumi, ada manusia yang masih mencoba menyelamatkannya. Dan manusia-manusia penyelamat itu, apa boleh buat, mereka toh konsumen juga.
greenwash laku. Sebab banyak pemasar yang matanya hijau mata duitan melihat segmentasi pasar ini. Sebab banyak konsumen yang mencoba ‘hidup tanpa dosa’ dengan ‘menyelamatkan bumi’ tanpa melihat apakah benar produk yang mereka konsumsi menyelamatkan bumi atau tidak.
Tapi itu kan di luar Indonesia. Kita mah di Indonesia tidak akan kena greenwashing.
Proyek greenwashing ada di mana-mana. Bahkan juga di negeri tercinta.
Contoh pertama: Piala Dunia di Indonesia
Yang pertama yang paling terkenal (sekaligus paling ajaib) mungkin ketika bos PSSI, Nurdin Halid memberikan proposal pada FIFA, badan sepakbola dunia, agar Indonesia bisa masuk sebagai penyelenggara Piala Dunia 2022.
Walaupun luar biasa ajaib sebab ternyata Indonesia memiliki banyak masalah di sepakbola dalam negerinya (yang bisa anda baca di ulasan Mas Hedi ini). Namun tidak kalah ajaibnya adalah alasan bapak Nurdin Halid dalam proposal tersebut. Sebab Pak Nurdin berkata “Laju penggundulan hutan kami telah menyumbang banyak polusi dunia. Dengan menjadi tuan rumah Piala Dunia, kami ingin membangun infrastruktur dan fasilitas yang ramah lingkungan sehingga kita dapat memberikan lebih banyak ke planet bumi ini”
Luar biasa bukan alasannya. Sayang sekali belum disetujui. Entah kenapa alasannya. Namun kalau kira-kira dibuat percakapan nyeleneh, mungkin begini:
Nurdin: “Jangan ditolak ditolak! Coba bayangkan, dengan sepakbola kita bisa menyelamatkan bumi! Kita bisa melawan rasisme dengan sepakbola? Kenapa tidak sekalian menyelamatkan bumi?”
FIFA: “Kamu dulu sekolah makan apa sih? Bikin proposal nggak jelas gini. Bahasanya muter-muter banyak basa-basi. Kamu sudah siap belum?”
Nurdin (dengan semangat): “Sudah!”
FIFA: “Punya website?”
Nurdin (mikir-mikir): “Errhh… Errhh… Kalo fesbuk sih ada. Kami kan jamaah al-fesbukiyah. Eh ada deng. Tapi belom resmi. Masih dibikin ama suporter”
FIFA: “Punya logo?”
Nurdin (garuk-garuk kepala): “Errhh… Errhh… Kalo itu mah gampang. Coming sooon…”
FIFA: “Punya sarana pendukung”
Nurdin (celingak-celinguk kebingungan): “Errhh… Errhh… Yaa itu tadi.. Fesbuk…”
FIFA: “Kamu ngerti ga sih sarana pendukung?”
Nurdin (emosi jiwa): “Kamu gimana siih! Pendukung yaa itu tadi!! Fesbuk!!!”
Untung saja FIFA belum bilang “Menyelamatkan Planet bumi? Coba urus Bonek dulu noh! Ngurus satu suporter klub begitu aja nggak becus apalagi mao ngurus orang sedunia? Baru bisa fesbukan ajah udah belagu luh”
(*Haha, jangan diambil hati Bos Nurdin. Itu diatas hanya percakapan imajinatif nyeleneh yang berangkat dari proposal nan ajaib*)
Contoh kedua: THE ROYALE SPRINGHILL RESIDENCES
Tertarik dengan proyek marketing greenwash di Indonesia. Mata saya tertumbuk pada blog ArchitectureUrban. Di sana dijelaskan mengenai pengembang hunian yang melakukan praktek bogus, pura-pura ‘hijau’ dalam menjual produk mereka.
Kali ini, justru tulisan itu yang saya verifikasi.
Berdasarkan riset kecil-kecilan; THE ROYALE SPRINGHILL RESIDENCES adalah perumahan yang terletak mengakunya terletak di Jakarta. Tepatnya menurut kutipan dari mereka “in the midst of Jakarta; where enjoying the breeze and smelling the flower’s scent in the air are an everyday happenings.”
Canggih sekali lokasinya. Di Jakarta. Di mana bisa menikmati kesegaran dan harumnya wangi bunga. Buset! Masih adakah area berhektar-hektar penuh kesegaran dan wangi bunga di Jakarta selain di kebun binatang Ragunan pagi hari?
(*Di Ragunan Zoo pun anda akan dapat bonus, selain wangi bunga, juga wangi binatang sana.
*)
Lebih hebatnya lagi dari perumahan ini, mereka mengklaim sebagai satu-satunya apartemen yang mengusung green Label Certification. Ini screenshotnya:
Saya penasaran. Apa itu Green Label Certification?
Menurut Departemen Hortikultura Belanda, Green Label Certification adalah “A green Label certification system enabling the grower and the greenhouse constructor to verify if a planned investment in a greenhouse system meets green Label Investment rules i.e. the system has better energy performance than is required according to normal standards.”
Saya curiga. Bukan gara-gara itu dari Belanda dan datangnya dari Departemen Hortikultura pula yang tidak ada hubungannya dengan tata bangunan. Bukan. Bukan itu.
Saya curiga ini greenwash marketing sebab marketing ini masuk dalam klasifikasi enam dosa greenwash marketing. Adapun ‘dosa’ tersebut adalah:
- Sin of the Hidden Trade-Off: Terjemahan asalnya kira-kira “Menyamarkan konten”. Contoh, menempelkan label “recycle” botol pembungkus cairan kimia pembersih lantai. Iya benar, botolnya mungkin bisa di daur ulang. Namun apakah cairan kimianya bisa? Tentu saja tidak.
- Sin of No Proof: Terjemahan asalnya kira-kira, “Tanpa Bukti Jelas”. Contohnya adalah; Beberapa lampu menempelkan label ‘ramah lingkungan’ pada label mereka. Bahkan di cetak di bola lampunya. Tapi apa buktinya? Siapa yang bilang lampu itu ramah lingkungan, bapak moyang yang punya pabrik lampu? Yaelah… Kalau iya ramah lingkungan, buktikan dong!
- Sin of Irrelevance: Terjemahan asalnya kira-kira “Tidak Nyambung”. Contohnya: Beberapa produk pelumas kondom, pembersih jendela, sampai jel cukur menggunakan label CFC-free. maksudnya biar konsumen melihat bahwa produk mereka tidak menambah bahaya karbon buat bumi ini. Padahal CFC sudah tidak berlaku lagi sejak 20 tahun lalu. Artinya, ‘bebas CFC’ itu basi dan sama sekali tidak ada hubungannya dengan penyelamatan bumi.
- Sin of Lesser of Two Evils: Ini kira-kira artinya “Jahatan dia daripada saya”. contoh: Ada perusahaan rokok yang mengklaim bahwa rokok mereka menggunakan bahan organik, jadi mereka menyelamatkan bumi. Aneh. Sebab filter rokok itu adalah salah satu bahan yang susah di daur ulang. Sementara ada pula perusahaan insektisida dan herbisida yang mengklaim bahwa produk mereka ramah lingkungan. Ini lebih aneh lagi. Apa yang ramah dari insektisida dan herbisida? Contoh di persawahan jalur Pantura, Jawa, telah mengajarkan pada kita apa yang mereka perbuat pada padi IR-5 dan sosial ekonomi masyarakat sana. Pestisida itu racun buat bumi.
- Sin of Vagueness: Terjemahan ngawur saya kira-kira adalah “Remang-remang”. Contoh banyak sekali produk yang menempelkan kalimat “Hijau”, “Ramah Lingkungan”, “Natural”, “Bebas Bahan Kimia” atau apalah sebut saja kalimatnya. Tapi apa sebenarnya arti kalimat itu? “Bebas bahan kimia” itu aneh, air yang dapat kita minum saja masih mengandung bahan kimia. “Natural” malah lebih aneh, arsenik, merkuri, formaldehida itu natural. Tapi itu racun buat bumi dalam jumlah tertentu dan kalau ditempatkan dalam wadah yang tidak semestinya.
- Sin of Fibbing: Kalau saya terjemahkan dengan asal, kira-kira adalah “Boong luh yee”. Contohnya: Shampo yang ada tulisannya “Bersertifikat Organik”. Organik dari mana? Dari Hongkong! Sudah jelas itu berasal dari bahan kimia, masih saja ngotot bilang organis. Atau botol plastik yang bilang “100% Daur Ulang”. Daur ulang apaan? Buat bikin helikopter? Ngarang aja deh bisanya tuh pabrik!
Untuk kejelasan mengenai THE ROYALE SPRINGHILL RESIDENCES, anda bisa membaca lebih lanjut di blog ArchitectureUrban di sana. Blog tersebut lebih detil menjelaskan lebih detil mengapa pengembang hunian itu berlaku ajaib dan mengklaim ‘hijau’ (terutama baca deh jawaban dari pihak pengembang. Mulai dari argumentasi ad-hominem hingga red herring diumbar semuanya oleh mereka. Hehe).
Yah tapi… Sekian dulu deh ocehan saya kali ini. Saran saya buat sahabat-sahabat sesama konsumen, jangan ketipu deh. Hati-hati kalau belanja. Sedangkan saran buat sesama pemasar, “Ati-ati kalo dagang. Lu jual, gua beli”. Hahaha
Hari sudah sore ketika saya selesai konfirmasi kiri-kanan di sela-sela menumpuknya pekerjaan. atasan saya, Pak Ali masuk ke ruangan saya. Bertanya, “Hari ini kamu iseng ngapain saja?”.
Saya jawab lah segala macam greenwash ini dan tetek bengek yang menyertainya dengan semangat 45.
Ia cengar-cengir dan berkata, “Lain kali, jangan lupa sarapan”.

