Tentang Narsis dan Bencana Kota Jakarta

(*Maaf karena terlalu personal dan lebay, tulisan seri Tentang Rock Star saya publikasikan ke media lain. Hehe. Terimakasih untuk teman-teman disini yang mendoakan kesembuhan. Semoga kalian disana baik-baik selalu dan bisa kumpul dengan keluarga, sahabat dan tetangga*)

Sudah lama tidak menulis. Iseng ahh, menulis lagi. Hehe…

Jadi begini ceritanya, kemarin itu saya sedang berkomunikasi dengan adik saya si Uul melalui video internet. Sebagaimana tradisi Cilincing kami, tentu saja obrolan tidak jauh dari bercanda saling meledek dan mentertawakan kehidupan sehari-hari kami sendiri.

Gara-gara kuota internet si Uul habis, dan modem yang mengambang di air banjir jadilah obrolan itu terputus. Halah.

Ibu saya SMS tidak lama kemudian isinya: “Ibu seneng liat kamu kayak aripoter sekarang, tapi itu rambut makin panjang aja. Potong gih sana biar ganteng”.

Sambil tertawa saya membalas: “Ibu yang bener aja dong, ini lagi banjir ama bingung soal modem, lah kok ngomongin rambut saya kayak aripoter” (*Harap maklum  lidah betawi beliau lebih biasa melafalkan tokoh sihir Hogwarts Harry Potter dengan sebutan aripoter*)

Ibu balas: “Capek sehari-hari liat banjir mendingan ngomongin rambut kamu”

Saya tertawa ngakak tidak berhenti-henti. Ironi. Satu sisi khawatir tentang banjir, satu sisi lagi tentang pragmatisnya orang-orang kampung Cilincing. Sebuah desa pinggir laut di ujung Jakarta.

Sejenak saya lupa, kalau saya (lagi-lagi) sedang dirumahkan dari kerja memburuh harian akibat kondisi kesehatan yang kembali tidak stabil. Dan saya senang itu. Bisa lupa (atau tepatnya, istirahat) dari himpitan sehari-hari. Bicara dengan keluarga, yang walaupun jurang ideologi sangat mencolok tapi selera humornya sama, jadi penting untuk memulihkan kondisi kesehatan.

Tidak lama kemudian saya berbalas pesan dengan Gugun, adik yang lain. Isinya tidak jauh-jauh dari banjir Jakarta. Gugun tinggal di kampung kecil di ujung lain Jakarta. Ia sedikit mengeluh karena bersama keluarga kecilnya tidak bisa mengunjungi sanak saudara lain akibat transportasi yang sulit di masa banjir ini.

“Gua pengen sih ke rumah Ibu, tapi susah pake motor. Paling bisa pake mobil truk. Tapi mana punya gua mobil truk?”

Anaknya Gugun berusia empat tahun. Lahir di tahun 2010. Sebagaimana generasi yang lahir pada tahun ini di daerah Jakarta dan sekitarnya, mereka terbiasa dengan banjir. Bahkan dianggap sebagai hiburan tahunan, bermain dengan banjir.

Kami warga Cilincing sudah sangat akrab dengan banjir. Kalau musim hujan tiba, jalan-jalan kampung itu tergenang dengan banjir. Ibu adalah guru SD, yang walau banjir tetap mengajar. Anak muridnya, duduk dengan kursi diatas meja. Sebagaimana ia pun mengajar sambil berdiri di atas meja. Sebab itu satu-satunya KBM (Kegiatan Belajar Mengajar) tetap dimungkinkan. Banjir boleh datang Jakarta boleh tenggelam, kata ibu saya, tapi pendidikan jalan terus dong!

Beberapa tahun lalu, banjir besar melanda Jakarta. Rumah Ibu saya tenggelam. Mereka mengungsi, ke loteng atas rumah. Ibu saya cerita:

“Tadi malem banjir parah banget. Ujannya deres sekali. Ibu ketakutan. Tapi untung ada adek-adek kamu di rumah sama anak-anaknya. Awalnya cuma 15 senti, tapi ujan kaga berenti-berenti. Trus Ibu bangunin adek-adek kamu. Kita ngambil ijasah ama surat-surat penting lainnya. Sama mindahin kompor ama terpal plastik ke loteng. Trus banjirnya naik 30 senti. Ibu, adek-adek kamu ama cucu-cucu Ibu naik ke loteng. Waduh disana banyak tikus juga ngungsi. Kotor banget dah. Udah cucu ibu pada masih bocah bayi gitu nangis ditambah tikus gotnya cicit cuit bikin berisik aja. Tikus segede kucing. Tengah malem buta. Listrik mati. Lah, pas ibu itung, loh kok adek kamu si Ami kaga ada. Ibu cepet-cepet manggil Gugun, nanyain dimana si Ami. Eh buset ga taunya tuh anak masih tidur. Dia mah gila, dia pikir lagi ngimpi. Pas kasurnya basah kebanjiran, dia ambil meja trus ditaro di atas ranjang. Abis itu tidur lagi. Pas banjir udah semeter lebih, dia baru sadar. Bloon banget dah tuh anak, sadar pas tidurnya miring trus kejebur di aer comberan banjir. Amit-amit jabang bayi. Tidur kok sampe kebluk begitu. Pas dia bangon akhirnya udah pada di loteng semua. Ujan masih deres, loteng udah mulai basah. Ibu ketakutan lagi, nanti kalo lotengnya ambruk pigimana? Ini pan loteng rumah tua, kayunya lapuk. Jadi Ibu sama semuanya ngungsi di atap rumah. Udah kayak pengungsi Vietnam. Alhamdulillah ujannya berenti dah udah subuh kira-kira. Ibu masak mi buat adek-adek kamu”

Saya bengong mendengar cerita itu. Terbayang Ibu saya, beserta anak menantu dan cucunya, semuanya berjumlah delapan orang, berjejalan di ujung lancip segitiga loteng rumah. Menangkring bagaikan burung. Saling menutupi anggota keluarga dari terjangan dingin dan hujan, pakai terpal plastik. Dan memasak mi instan dengan kompor minyak. Gila, itu sih akrobat namanya.

Ditambah binatang-binatang pengungsi, macam tikus got, anjing tetangga, kecoak, kucing liar, semut; terbayanglah sebuah cerita epik tentang kapal Nabi Nuh zaman modern, namun dalam versi karam dan terbalik.

Ini bukan keluarga saya. Tapi kira-kira begini illustrasinya. Bedanya sama banjir di Cilincing yang dialami keluarga saya adalah, ada lebih banyak manusia (plus binatang) di atap itu. Ditambah satu sama lain saling pegang terpal plastik biru melindungi dari hujan. Plus ditengah-tengah mereka, ada ibu-ibu yang sedang memasak mi instan pakai kompor minyak tanah.

Ini bukan keluarga saya. Tapi kira-kira begini illustrasinya. Bedanya sama banjir di Cilincing yang dialami keluarga saya adalah, ada lebih banyak manusia (plus binatang) di atap itu. Ditambah satu sama lain saling pegang terpal plastik biru melindungi dari hujan. Plus ditengah-tengah mereka, ada ibu-ibu yang sedang memasak mi instan pakai kompor minyak tanah. (kredit foto untuk deredactie)

Jadi pagi ini. Tepatnya dini hari, saya dan Gugun masih bertukar pikiran lewat pesan-pesan digital. Kami bicara banjir. Tentang pemerintah daerah yang kerja mati-matian. Tentang para politisi pusat yang belaku ugal-ugalan. Tentang harapannya bisa mengunjungi orangtua. Tentang bocah kecilnya yang sudah memiliki mind-set bahwa banjir adalah fenomena alam yang wajib dijadikan arena bermain. Tentang kegilaan warga Jakarta yang berharap datangnya seorang utusan Tuhan yang mampu menuntaskan banjir secepat kilat tapi tetap buang sampah seenaknya. Kami bicara semuanya.

Saya lebih banyak diam dan hanya bertanya. Tak mampu berbuat apa-apa. Paling bisa, kirim uang buat beli makanan siap saji dan pulsa. Tak bisa lebih dari itu. Saya salut dengan mereka yang mengambil tindakan cepat menuntaskan banjir ini. Sama salutnya dengan mereka yang langsung turun tangan membantu korban bencana. Doa saya, dalam diam, untuk para korban dan mereka yang membantunya. Lepas dari itu adalah bagian dari kerja mereka atau sukarela, tetap saja bahagia ada orang-orang yang mau membantu keluarga dan warga Jakarta lepas dari bencana banjir ini.

Tadi malam saya bicara dengan sahabat, Kang Adi. Soal banjir Jakarta. Beliau cerita tentang Paris yang dulunya adalah kota super jorok dan banjir menggenang di mana-mana. Ketika Napelon berkuasa di Perancis, walau diktator dan agak gila, tapi beliau sadar bahwa kota Paris butuh penguasaan terhadap tata kota. Dengan tangan besi, ia memerintahkan arsitek dan insinyurnya, Baron Hausmann dan Eugene Belgrand, untuk membangun jaringan gorong-gorong kota sepanjang 600 kilometer. Gunanya untuk mengontrol air bersih dan air kotor kota Paris. Kang Adi menambahkan, bahwa pekerjaan ini walau dikontrol dengan tangan besi dan bujet tak terhingga, tetap saja butuh waktu 23 tahun.

Saya lalu berbagi cerita tentang air kota New York, sebuah proyek yang sedang dikerjakan oleh teman-teman. Bahwa ini adalah salah satu proyek yang paling lama dan paling eksis di kota itu. Selama manusia di kota New York ada, selama itu pula proyek ini berjalan dan terus berkembang. New York dibangun dalam lapisan. Mirip kota diatas kota. Lapisan paling atas dihuni oleh manusia. Lapis bawahnya oleh jaringan transportasi bawah tanah. Dibawahnya lagi ada jaringan uap, telekomunikasi, gas dan sebagainya. Lalu dibawahnya lagi ada jaringan air. Namun mengandalkan jaringan gorong-gorong, saluran air dan penampungan. Walaupun terlihat kompleks dan rumit, sebenarnya sederhana. Para pendiri kota New York sadar bahwa mereka butuh ruang untuk menyaring air bersih. Maka itu, ada banyak bagian kota New York yang dibiarkan sangat hijau untuk menyaring kebersihan lingkungan mereka.

Tapi tentu kami tidak begitu saja membandingkan Paris (yang sudah ada sejak zaman batu, sekitar 700 ribu tahun lalu) atau New York (yang sudah dihuni  sejak 1524 M) dengan Jakarta (yang baru berapa puluh tahun merdeka). Tentu saja kami tidak berani membandingkan peraturan dan kedisiplinan kota-kota itu dengan kedisiplinan warga Jakarta dalam menerapkan peraturan mereka.

Tidak mungkin memaki-maki orang Jakarta. Sebab untuk saya, ibarat memaki refleksi di depan kaca. Lahir dan besar di Jakarta, serta masih memiliki kartu identitas Jakarta, membuat saya terlihat bodoh memaki diri sendiri pada bayangan refleksi. Hanya sekedar untuk memuaskan jiwa sementara, memaki warga Jakarta (atau mereka yang mengaturnya) jelas membuat saya tidak menjadi lebih hebat daripada lainnya.

Paling yang saya bisa, ketika berkaca di dapur berkata dalam hati “Aku cinta kamu. Aku nggak mau keluargaku hanyut kebanjiran lagi. Aku nggak mau kena penyakit gara-gara air kotor. Aku mau bantu tetangga dan teman-teman menanam pohon dan mendirikan taman jadi kami bisa main bersama. Aku mau ajak jalan-jalan anak di udara pagi bersih. Aku mau bantu siapa saja yang mau mengurangi stress akibat macet. Aku mau kerja keras, karena aku cinta kamu”

Agak narsis memang. Tapi tidak apa-apalah. Hehe.

Sebab mungkin saja kota ini butuh orang yang mencintai dirinya dengan tulus sebagaimana ia mencintai lingkungan tempat tinggalnya.

Namun jika tidak begitu, mari siap-siap kita hadapi Jakarta yang akan jadi rumpon Atlantis baru. Hehehe…

Posted in bangaip | 1 Comment

Tentang Rockstar 1 – Vonis Ukulele

(*Sudah beberapa bulan terakhir ini saya hidup dalam pengaruh obat resep dokter. Obat ini sedemikian keras membuat banyak sekali efek samping dalam tubuh. Efek samping ini saya tulis dengan rajin ke dalam telepon genggam. Kini tulisan-tulisan itu dijadikan tulisan berseri. Silahkan menikmati. Jika dirasa mengganggu, jangan anggap serius, anggap saja fiksi*)

16 Maret 2013

Ruangan ini serba putih. Kira-kira berukuran empat kali empat meter persegi. Sisi selatan ruangan adalah dinding kaca tebal sekitar sepuluh milimeter sebanyak dua kali lipat untuk menahan dingin di musim salju, saat ini tentu saja bukan musim dingin, matahari menyeruak masuk menerobos dinding kaca yang dibatasi tirai putih tipis sebagai sekatnya. Ada sebuah meja di sana dengan satu kursi dan komputer. Di belakang komputer seorang lelaki setengah baya yang bernama Job dengan kepala hampir setengah botak berwajah tirus memiliki senyum hangat menjabat tangan saya dan berkata, “silahkan duduk”.

Saya duduk di seberangnya. Ada dua kursi di hadapan meja beliau. Saya ambil kursi sebelah kanan, dekat dengan dinding kaca. Agar kena hangatnya sinar matahari. Iya, ini memang bukan musim dingin, ini sudah musim semi, tapi suhu di luar masih sekitar 6-7 derajat Celcius. Masih belum hangat. Namun ruang praktek ini cukup hangat.

Dokter Job adalah salah satu ahli saraf terbaik di Eropa. Dan saya, ahh saya hanya bisa berdoa semoga saya satu-satunya orang Cilincing yang jadi pasiennya. Sebab sama sekali tidak ada niatan untuk ajak-ajak orang sekampung untuk jadi pasien beliau.

Hari ini saya datang untuk kontrol tahunan. Sebagaimana hari lainnya, hari ini seperti hari suci buat saya, setiap tahun saya datang ke ruangan ini untuk kontrol satu bagian kecil di tubuh bernama saraf otak.

Saya tidak pernah tahu apa yang salah dengan otak saya. Saya pikir saya selalu baik-baik saja. Sebagaimana manusia bumi lainnya, saya pikir saya toh normal-normal saja. Saya bisa makan, berliur, batuk, bernafas, kencing, kentut, berak, dan alhamdulillah sekali-kali masih bisa orgasme. Apa yang salah? Saya pikir tidak ada yang salah?

Sayangnya, sejak 2006 saya sering sekali kena migrain. Sakit kepala. Bukan sembarang sakit kepala. Sebab hanya menyerang bagian kanan kepala. Tidak pernah bagian kiri. Sebagaimana sakit kepala, terang saja ia hanya menyerang kepala. Tidak pernah menyerang pantat. Sudah berkali-kali saya berobat. Tanya dokter ini, tanya dokter itu jawabnya sama; banyak-banyak istirahat-dengarkan tubuh. Saya ke pengobatan alternatif, tubuh disuntik-suntikkan jarum naudzubilah banyaknya dari ujung kaki sampai ujung kepala, tetap saja tidak sukses.

Oleh teman diajak ke orang pintar. Saya sebenarnya tidak pernah percaya, buat saya Muhammad Hatta itu orang pintar, Leonardo da Vinci itu orang pintar. Mbah Jambrong dari Gunung Kidul, apanya yang pintar? Tapi karena serangan migrain makin hari makin parah hingga saya pernah jatuh tak sadarkan diri di stasiun kereta hingga satu jam penuh terkapar di sisi jalan, akhirnya saya menurut. Hebat sekali Mbah Jambrong van Gunung Kidul, sebab ia menjamin kepintarannya mampu menyembuhkan penyakit migrain saya. Segala macam jampi-jampi beliau dan aroma dupa yang membuat sesak napas (walaupun aroma baju beliau lebih membuat saya sesak napas) ternyata sukses tidak membuat saya sakit kepala sebelah, melainkan seluruhnya. Semua bagian kepala, sakit semua, ketika saya keluar dari ruang praktek beliau.

Walaupun tentu saja bukan gara-gara Mbah Jambrong, sakit kepala sebelah ini makin ajaib. Mata saya makin sensitif terhadap cahaya. Kadang-kadang ketika memimpin rapat saya harus memakai kacamata hitam. Beberapa rekan dari laboratorium di Milan bahkan membawakan kacamata khusus untuk saya, kata mereka “kamu akan terlihat lebih modis dan vampiris dengan kacamata ini”. Kampret!

Saya pun makin jarang ke tempat hiburan malam. Teman-teman bahkan sampai bosan mengajak. Bukan karena apa, sebab sering pusing melihat lampu kelap-kelip. Jangankan clubbing, main game di komputer atau tablet saja sudah jarang. Sebab hasilnya sama, saya makin sering kena serangan migrain kalau melakukan dua hal itu.

Makin hari, dunia semakin riuh. Aneh, entah kenapa? Saya sendiri tidak mengerti. Saya akhirnya membeli headphone yang katanya mampu meredam suara luar hingga 32 desibel. Suara cempreng tapi pelan Amy Winehouse dan Iwan Fals yang akhirnya mampu menghibur saya dari bisingnya dunia. Mahal? Bodo amat! Sebab hanya dengan cara ini sakit kepala sebelah saya akibat berisiknya dunia bisa dikurangi.

Tahun 2011, saya bertemu Dokter Job. Spesialis saraf otak. Saya masih ingat saat itu bulan November. Beliau memberikan obat sakti bernama Topamax. Dosisnya rendah, hanya 25 miligram per dua hari. Saya hanya minum satu tablet kecil setiap dua hari. Gampang kan? Iya gampang. Hanya syaratnya yang agak susah, katanya beliau harus diminum selama 1,5 tahun lamanya.

Waktu itu saya tercengang. Buset dah 1,5 tahun? Lama amat, dok?

“Ente mao sembuh ga? Kalo mao, jangan cerewet jangan protes!”

Akhirnya dengan pasrah (walaupun sambil bersungut-sungut), saya jalani pula 1,5 tahun hidup bersama kekasih baru bernama aneh itu. Sebagaimana selingkuhan, tentu saja ia saya sembunyikan dari tatapan anak, keluarga dan teman-teman saya. Saya malu, punya selingkuhan. Satu-satunya tempat saya berani dengan terang-terangan mengakui bahwa ia adalah selingkuhan saya adalah ketika di bandara, sebab petugas keamanan bandara selalu bertanya, “Apa ini? Kamu bawa narkoba yaa?”. Yang dengan santainya saya jawab dengan lambaian surat cinta dari dokter spesialis bedah saraf.

November 2012 saya merasa jumawa. Sudah setahun ini saya tidak pernah jatuh tak sadarkan diri. Juga tidak pernah kena serangan migrain. Prestasi saya di pabrik membaik. Saya dapat bonus. Saya juga sampai bingung. Tumben saya dapat bonus. Biasanya saya kan biasa-biasa saja. Maka akibatnya, saya putuskan secara sepihak, bahwa saya sudah tidak membutuhkan selingkuhan saya ini. Oke Topamax, sudah saatnya kita berpisah. Itu yang ada di kepala saya. Habis manis sepah dibuang. Nasibmu ibarat permen karet. Bye bye, baby

Pelan-pelan, tanpa sepengetahuan siapapun juga, kecuali saya dan pil-pil (yang saya anggap laknat) ini, saya mengurangi dosis. Dari satu tablet per dua hari, jadi satu tablet per tiga hari. Lalu jadi satu tablet per empat hari. Lalu per minggu. Lalu per dua minggu. Hingga pada 16 Februari 2013, secara total akibat pil habis, saya berhenti total dari selingkuhan saya ini.

Maret 2013 saya putuskan untuk hidup sederhana. Maksudnya sederhana adalah tidak banyak riset dan bepergian lagi sebagaimana tahun-tahun terdahulu. Saya letih. Tahun ini saya mau tiarap. Mau istirahat. Mau jadi bapak yang baik dan benar. Vivere pericoloso wannabe dan jadi adrenalin junkie itu bukanlah hidup yang sederhana. Saya putuskan untuk membantu proyek sahabat saya berkebun cabe dan membuka kolam ikan nila. Jadi tani euy. Hehe.

Sulit? Hmhh, tidak juga. Jadi bapak yang baik dan benar itu ambisi personal saya. Tidak ada yang salah buat saya pribadi untuk jadi ayah putri semata wayang yang amat saya cintai itu. Saya mencintai Novi dan saya mencintai fungsi saya sebagai ayahnya. Apapun yang terjadi, akan saya tempuh.

Tapi berhenti jadi adrenalin junkie? Ugh, itu lain ceritanya. Satu satu, pelan-pelan, saya putuskan kontak dengan beberapa orang yang mampu membuat saya hidup dalam kondisi bahaya. Ini berat sekali. Banyak yang tidak bisa menerima dan lalu memutuskan kontak selamanya. Saya sangat bisa mengerti. Kami pernah bertarung bersama menantang bahaya gelapnya malam, mempertaruhkan nyawa. Saling melindungi, saling menjaga, saling merawat. Hidup dalam kode etik, disiplin dan sumpah setia. Kini ketika salah satu harus pergi demi hidup domestikasi, mereka kecewa. Saya mengerti. Hanya bisa mengurut dada dan mengikhlaskan. Yang terjadi mungkin memang harus terjadi. Yang bisa diterima, itu yang dijalani. Seperti kata Bob Marley, sahabat baik datang dan pergi. Hidup toh tak selamanya berujung bagai cerita akhir dongeng ceria.

Akhir Maret 2013 saya rindu. Ini tak disadari. Rindu menusuk hingga pembuluh nadi. Jauh merambat ke saraf otak. Saya kembali jatuh tak sadarkan diri. Di stasiun kereta. Di kantor. Di dapur. Di depan kantor pos. Di mana-mana. Selingkuhan pelan-pelan merayap menyayat di kepala menagih janji untuk ditelan lagi.

16 Maret 2013.

Saya duduk di hadapan Dokter Job. Dari tatap matanya, saya tahu ia kecewa ketika mendengar saya memutuskan sepihak dosis yang ia berikan.

“Kenapa kamu berhenti meminum obat?”

“Karena saya tidak mau hidup bergantung dari obat”

“Selama meminum obat itu kamu bagaimana?”

“Baik-baik saja, dok. Jadi saya pikir, saya bisa menghentikannya”

“Mulai sekarang kamu minum obat ini. Dosisnya naik empat kali lipat”

Saya bengong. Ini gila. Apa-apaan ini?

“Saya nggak terima, dok!”

“Yaa kamu harus terima. Ini hidup kamu sekarang. Kamu kena serangan. Kamu harus menerima ini sebagai bagian dari hidup kamu. Obat ini mencegah serangan itu terjadi. Kamu harus bisa menerima”

“Saya nggak terima!”

Dia senyum. Mungkin bosan mendengar saya terus mengulang-ulang pernyataan bagaikan kaset rusak.

“Kamu punya keluarga disini?”

“Saya punya anak, umurnya sebentar lagi lima tahun…”

“Kalau kamu masih mau hidup. Kalau masih mau jadi bapak untuk dia, kamu harus terima kenyataan ini”

Saya mau gebrak meja. Banting kursi. Menendang apa yang ada dihadapan saya saat itu. Untuk mengungkapkan bahwa saya kesal. Saya marah. Saya kecewa. Bahwa hidup saya bergantung pada zat kimia. Saya tidak bisa terima kebebasan saya terbatas. Saya mau menunjuk-nunjuk batang hidungnya dengan jari telunjuk dan berkata bahwa ia salah.

Sayangnya, dalam hati kecil ini, saya tahu kalau ia benar. Maka tidak ada satupun tindakan diatas saya lakukan.

Sore itu, saya tidak tahu mau kemana. Resepsionis memberikan daftar janji bahwa saya harus bertemu dokter Job lagi pada tanggal 16 Juli. Perempuan berjilbab itu bilang kalau saya secepatnya harus ke apotik.

Saya tidak mau ke apotik. Saya ambil trem menuju pusat kota. Tidak tahu mau kemana. Terserah langkah kaki akan membawa.

Di trem, perempuan asing manis berambut coklat sebahu yang duduk di seberang bangku memberikan tissu. “Ini untuk kamu”, sambil senyum walaupun matanya menyiratkan kalau ia khawatir.

Saya terperangah sejenak. Lalu senyum membalasnya. Menolak. Saya bilang saya tidak apa-apa. Tapi sebentar kemudian saya sadar, kenapa ia menyodorkan tissu? Saya belum pernah dalam hidup ini bertemu dengannya. Kenapa ia memberikan sesuatu kepada saya? Apa imbalan yang mau ia terima?

Saya tanya, “Terimakasih Mbak, tapi kenapa situ memberikan tissu?”

“Untuk airmata kamu…”, jawabnya sedih.

Saya kaget luar biasa. Airmata? Airmata darimana? Dari Hongkong? Saya menunduk. Saya lihat jaket hitam bagian dada basah. Astaga! Saya lihat kaca jendela. Refleksi disana terlihat seorang lelaki berwajah melayu kuyu dengan muka kebingungan dan air mata mengalir begitu saja tumpah ruah dari sela-sela matanya. Astaga! Saya menangis rupanya. Sh*t!

Saya malu sekali. Buru-buru menyetop tombol memberhentikan trem. Tidak tahu saya ada dimana.

Saya tidak terisak-isak. Tidak ada rasa ingin menangis. Tidak ada keinginan sedikitpun terpendam ingin sok memperlihatkan emosi di depan publik. Tapi kenapa ini airmata turun begitu saja?

Saya lap air mata sambil berjalan menyisiri kanal dalam udara siang yang dingin. Sinar matahari menerpa hangat wajah. Pelan-pelan saya sadar kalau saya sudah dekat stasiun pemadam kebakaran. Dekat sana ada toko yang khusus menjual ukulele.

Etalase terpampang banyak ukulele. Diantaranya ukulele yang ada lumba-lumbanya. Ahh, putri saya pasti suka ukulele itu. Toko ini tutup. Tidak ada orang di sana. Jalan ini sepi. Dan di situ, tiba-tiba saya merasa ingin menangis. Saya jatuh duduk di tepi jalan, di depan etalase toko ukulele. Tetap tidak menangis. Entah kenapa. Mungkin karena saya sok macho. Tapi kenapa juga saya sok macho? Padahal orang sok macho kan mati muda. Lihat itu Chairil Anwar? Lihat itu Jim Morrison? Sok macho semua itu manusia. Masak saya mau ikut-ikutan gerombolan mereka?

Saya lihat matahari di atas sana. Langit biru dan awan putih beararak-arak. Saya pikir saya harus tetap bertahan hidup. Untuk diri saya sendiri dan untuk putri yang amat saya cintai.

Sambil menangis saya senyum. Hidup ini lucu sekali ternyata. Mati-matian saya menjauhi diri dari bahaya maut yang mampu mengancam jiwa. Namun apa boleh dikata, tiap orang punya jalan hidup (dan juga jalan mati) masing-masing. Dengan segala kecerdikan, saya coba mengakali agar maut tidak mengintai dari balik jendela. Tapi, itu percuma. Yang ada, saya hanya terlihat membodohi diri sendiri.

Saya tatap langit. Matahari, awan, langit, masih disana. Saya satukan jari angkat tangan beri mereka salut tanda penghormatan sambil bergumam dalam hati, “terimakasih untuk humor hari ini”.

Kaki melangkah. Tujuan selanjutnya, toko musik yang masih buka. Tiba-tiba saya punya cita-cita baru. Dalam hidup yang indah tapi singkat ini, selain jadi bapak yang baik dan benar, saya juga ingin bisa main ukulele ☺

Jikalau saya ada di kampung saya, tepatnya di Kelurahan Cilincing Tercinta Merdeka Permai Asri Dirgantara, maka saya akan serta merta mencoret-coret plang papan yang tertera di depan Karang Taruna, tempat nongkrong kami semua. Dimana disana tertulis semboyan seperti “Anu Pangkal Anu”, “Jika Anu Maka Anu”, “Dilarang Menganukan Anumu ” atau blablabla lainnya.

Sumpah mati, kalau saya disana saya mau ambil cat putih. Saya sikat semua dogma-dogma itu dan saya tiban dengan cat semprot tulisan baru “Hidup ini indah, nikmati bro selagi bisa!”

Hehehe…

Posted in bangaip, sehari-hari | Tagged , , | 9 Comments