Tentang Rockstar 1 – Vonis Ukulele

(*Sudah beberapa bulan terakhir ini saya hidup dalam pengaruh obat resep dokter. Obat ini sedemikian keras membuat banyak sekali efek samping dalam tubuh. Efek samping ini saya tulis dengan rajin ke dalam telepon genggam. Kini tulisan-tulisan itu dijadikan tulisan berseri. Silahkan menikmati. Jika dirasa mengganggu, jangan anggap serius, anggap saja fiksi*)

16 Maret 2013

Ruangan ini serba putih. Kira-kira berukuran empat kali empat meter persegi. Sisi selatan ruangan adalah dinding kaca tebal sekitar sepuluh milimeter sebanyak dua kali lipat untuk menahan dingin di musim salju, saat ini tentu saja bukan musim dingin, matahari menyeruak masuk menerobos dinding kaca yang dibatasi tirai putih tipis sebagai sekatnya. Ada sebuah meja di sana dengan satu kursi dan komputer. Di belakang komputer seorang lelaki setengah baya yang bernama Job dengan kepala hampir setengah botak berwajah tirus memiliki senyum hangat menjabat tangan saya dan berkata, “silahkan duduk”.

Saya duduk di seberangnya. Ada dua kursi di hadapan meja beliau. Saya ambil kursi sebelah kanan, dekat dengan dinding kaca. Agar kena hangatnya sinar matahari. Iya, ini memang bukan musim dingin, ini sudah musim semi, tapi suhu di luar masih sekitar 6-7 derajat Celcius. Masih belum hangat. Namun ruang praktek ini cukup hangat.

Dokter Job adalah salah satu ahli saraf terbaik di Eropa. Dan saya, ahh saya hanya bisa berdoa semoga saya satu-satunya orang Cilincing yang jadi pasiennya. Sebab sama sekali tidak ada niatan untuk ajak-ajak orang sekampung untuk jadi pasien beliau.

Hari ini saya datang untuk kontrol tahunan. Sebagaimana hari lainnya, hari ini seperti hari suci buat saya, setiap tahun saya datang ke ruangan ini untuk kontrol satu bagian kecil di tubuh bernama saraf otak.

Saya tidak pernah tahu apa yang salah dengan otak saya. Saya pikir saya selalu baik-baik saja. Sebagaimana manusia bumi lainnya, saya pikir saya toh normal-normal saja. Saya bisa makan, berliur, batuk, bernafas, kencing, kentut, berak, dan alhamdulillah sekali-kali masih bisa orgasme. Apa yang salah? Saya pikir tidak ada yang salah?

Sayangnya, sejak 2006 saya sering sekali kena migrain. Sakit kepala. Bukan sembarang sakit kepala. Sebab hanya menyerang bagian kanan kepala. Tidak pernah bagian kiri. Sebagaimana sakit kepala, terang saja ia hanya menyerang kepala. Tidak pernah menyerang pantat. Sudah berkali-kali saya berobat. Tanya dokter ini, tanya dokter itu jawabnya sama; banyak-banyak istirahat-dengarkan tubuh. Saya ke pengobatan alternatif, tubuh disuntik-suntikkan jarum naudzubilah banyaknya dari ujung kaki sampai ujung kepala, tetap saja tidak sukses.

Oleh teman diajak ke orang pintar. Saya sebenarnya tidak pernah percaya, buat saya Muhammad Hatta itu orang pintar, Leonardo da Vinci itu orang pintar. Mbah Jambrong dari Gunung Kidul, apanya yang pintar? Tapi karena serangan migrain makin hari makin parah hingga saya pernah jatuh tak sadarkan diri di stasiun kereta hingga satu jam penuh terkapar di sisi jalan, akhirnya saya menurut. Hebat sekali Mbah Jambrong van Gunung Kidul, sebab ia menjamin kepintarannya mampu menyembuhkan penyakit migrain saya. Segala macam jampi-jampi beliau dan aroma dupa yang membuat sesak napas (walaupun aroma baju beliau lebih membuat saya sesak napas) ternyata sukses tidak membuat saya sakit kepala sebelah, melainkan seluruhnya. Semua bagian kepala, sakit semua, ketika saya keluar dari ruang praktek beliau.

Walaupun tentu saja bukan gara-gara Mbah Jambrong, sakit kepala sebelah ini makin ajaib. Mata saya makin sensitif terhadap cahaya. Kadang-kadang ketika memimpin rapat saya harus memakai kacamata hitam. Beberapa rekan dari laboratorium di Milan bahkan membawakan kacamata khusus untuk saya, kata mereka “kamu akan terlihat lebih modis dan vampiris dengan kacamata ini”. Kampret!

Saya pun makin jarang ke tempat hiburan malam. Teman-teman bahkan sampai bosan mengajak. Bukan karena apa, sebab sering pusing melihat lampu kelap-kelip. Jangankan clubbing, main game di komputer atau tablet saja sudah jarang. Sebab hasilnya sama, saya makin sering kena serangan migrain kalau melakukan dua hal itu.

Makin hari, dunia semakin riuh. Aneh, entah kenapa? Saya sendiri tidak mengerti. Saya akhirnya membeli headphone yang katanya mampu meredam suara luar hingga 32 desibel. Suara cempreng tapi pelan Amy Winehouse dan Iwan Fals yang akhirnya mampu menghibur saya dari bisingnya dunia. Mahal? Bodo amat! Sebab hanya dengan cara ini sakit kepala sebelah saya akibat berisiknya dunia bisa dikurangi.

Tahun 2011, saya bertemu Dokter Job. Spesialis saraf otak. Saya masih ingat saat itu bulan November. Beliau memberikan obat sakti bernama Topamax. Dosisnya rendah, hanya 25 miligram per dua hari. Saya hanya minum satu tablet kecil setiap dua hari. Gampang kan? Iya gampang. Hanya syaratnya yang agak susah, katanya beliau harus diminum selama 1,5 tahun lamanya.

Waktu itu saya tercengang. Buset dah 1,5 tahun? Lama amat, dok?

“Ente mao sembuh ga? Kalo mao, jangan cerewet jangan protes!”

Akhirnya dengan pasrah (walaupun sambil bersungut-sungut), saya jalani pula 1,5 tahun hidup bersama kekasih baru bernama aneh itu. Sebagaimana selingkuhan, tentu saja ia saya sembunyikan dari tatapan anak, keluarga dan teman-teman saya. Saya malu, punya selingkuhan. Satu-satunya tempat saya berani dengan terang-terangan mengakui bahwa ia adalah selingkuhan saya adalah ketika di bandara, sebab petugas keamanan bandara selalu bertanya, “Apa ini? Kamu bawa narkoba yaa?”. Yang dengan santainya saya jawab dengan lambaian surat cinta dari dokter spesialis bedah saraf.

November 2012 saya merasa jumawa. Sudah setahun ini saya tidak pernah jatuh tak sadarkan diri. Juga tidak pernah kena serangan migrain. Prestasi saya di pabrik membaik. Saya dapat bonus. Saya juga sampai bingung. Tumben saya dapat bonus. Biasanya saya kan biasa-biasa saja. Maka akibatnya, saya putuskan secara sepihak, bahwa saya sudah tidak membutuhkan selingkuhan saya ini. Oke Topamax, sudah saatnya kita berpisah. Itu yang ada di kepala saya. Habis manis sepah dibuang. Nasibmu ibarat permen karet. Bye bye, baby

Pelan-pelan, tanpa sepengetahuan siapapun juga, kecuali saya dan pil-pil (yang saya anggap laknat) ini, saya mengurangi dosis. Dari satu tablet per dua hari, jadi satu tablet per tiga hari. Lalu jadi satu tablet per empat hari. Lalu per minggu. Lalu per dua minggu. Hingga pada 16 Februari 2013, secara total akibat pil habis, saya berhenti total dari selingkuhan saya ini.

Maret 2013 saya putuskan untuk hidup sederhana. Maksudnya sederhana adalah tidak banyak riset dan bepergian lagi sebagaimana tahun-tahun terdahulu. Saya letih. Tahun ini saya mau tiarap. Mau istirahat. Mau jadi bapak yang baik dan benar. Vivere pericoloso wannabe dan jadi adrenalin junkie itu bukanlah hidup yang sederhana. Saya putuskan untuk membantu proyek sahabat saya berkebun cabe dan membuka kolam ikan nila. Jadi tani euy. Hehe.

Sulit? Hmhh, tidak juga. Jadi bapak yang baik dan benar itu ambisi personal saya. Tidak ada yang salah buat saya pribadi untuk jadi ayah putri semata wayang yang amat saya cintai itu. Saya mencintai Novi dan saya mencintai fungsi saya sebagai ayahnya. Apapun yang terjadi, akan saya tempuh.

Tapi berhenti jadi adrenalin junkie? Ugh, itu lain ceritanya. Satu satu, pelan-pelan, saya putuskan kontak dengan beberapa orang yang mampu membuat saya hidup dalam kondisi bahaya. Ini berat sekali. Banyak yang tidak bisa menerima dan lalu memutuskan kontak selamanya. Saya sangat bisa mengerti. Kami pernah bertarung bersama menantang bahaya gelapnya malam, mempertaruhkan nyawa. Saling melindungi, saling menjaga, saling merawat. Hidup dalam kode etik, disiplin dan sumpah setia. Kini ketika salah satu harus pergi demi hidup domestikasi, mereka kecewa. Saya mengerti. Hanya bisa mengurut dada dan mengikhlaskan. Yang terjadi mungkin memang harus terjadi. Yang bisa diterima, itu yang dijalani. Seperti kata Bob Marley, sahabat baik datang dan pergi. Hidup toh tak selamanya berujung bagai cerita akhir dongeng ceria.

Akhir Maret 2013 saya rindu. Ini tak disadari. Rindu menusuk hingga pembuluh nadi. Jauh merambat ke saraf otak. Saya kembali jatuh tak sadarkan diri. Di stasiun kereta. Di kantor. Di dapur. Di depan kantor pos. Di mana-mana. Selingkuhan pelan-pelan merayap menyayat di kepala menagih janji untuk ditelan lagi.

16 Maret 2013.

Saya duduk di hadapan Dokter Job. Dari tatap matanya, saya tahu ia kecewa ketika mendengar saya memutuskan sepihak dosis yang ia berikan.

“Kenapa kamu berhenti meminum obat?”

“Karena saya tidak mau hidup bergantung dari obat”

“Selama meminum obat itu kamu bagaimana?”

“Baik-baik saja, dok. Jadi saya pikir, saya bisa menghentikannya”

“Mulai sekarang kamu minum obat ini. Dosisnya naik empat kali lipat”

Saya bengong. Ini gila. Apa-apaan ini?

“Saya nggak terima, dok!”

“Yaa kamu harus terima. Ini hidup kamu sekarang. Kamu kena serangan. Kamu harus menerima ini sebagai bagian dari hidup kamu. Obat ini mencegah serangan itu terjadi. Kamu harus bisa menerima”

“Saya nggak terima!”

Dia senyum. Mungkin bosan mendengar saya terus mengulang-ulang pernyataan bagaikan kaset rusak.

“Kamu punya keluarga disini?”

“Saya punya anak, umurnya sebentar lagi lima tahun…”

“Kalau kamu masih mau hidup. Kalau masih mau jadi bapak untuk dia, kamu harus terima kenyataan ini”

Saya mau gebrak meja. Banting kursi. Menendang apa yang ada dihadapan saya saat itu. Untuk mengungkapkan bahwa saya kesal. Saya marah. Saya kecewa. Bahwa hidup saya bergantung pada zat kimia. Saya tidak bisa terima kebebasan saya terbatas. Saya mau menunjuk-nunjuk batang hidungnya dengan jari telunjuk dan berkata bahwa ia salah.

Sayangnya, dalam hati kecil ini, saya tahu kalau ia benar. Maka tidak ada satupun tindakan diatas saya lakukan.

Sore itu, saya tidak tahu mau kemana. Resepsionis memberikan daftar janji bahwa saya harus bertemu dokter Job lagi pada tanggal 16 Juli. Perempuan berjilbab itu bilang kalau saya secepatnya harus ke apotik.

Saya tidak mau ke apotik. Saya ambil trem menuju pusat kota. Tidak tahu mau kemana. Terserah langkah kaki akan membawa.

Di trem, perempuan asing manis berambut coklat sebahu yang duduk di seberang bangku memberikan tissu. “Ini untuk kamu”, sambil senyum walaupun matanya menyiratkan kalau ia khawatir.

Saya terperangah sejenak. Lalu senyum membalasnya. Menolak. Saya bilang saya tidak apa-apa. Tapi sebentar kemudian saya sadar, kenapa ia menyodorkan tissu? Saya belum pernah dalam hidup ini bertemu dengannya. Kenapa ia memberikan sesuatu kepada saya? Apa imbalan yang mau ia terima?

Saya tanya, “Terimakasih Mbak, tapi kenapa situ memberikan tissu?”

“Untuk airmata kamu…”, jawabnya sedih.

Saya kaget luar biasa. Airmata? Airmata darimana? Dari Hongkong? Saya menunduk. Saya lihat jaket hitam bagian dada basah. Astaga! Saya lihat kaca jendela. Refleksi disana terlihat seorang lelaki berwajah melayu kuyu dengan muka kebingungan dan air mata mengalir begitu saja tumpah ruah dari sela-sela matanya. Astaga! Saya menangis rupanya. Sh*t!

Saya malu sekali. Buru-buru menyetop tombol memberhentikan trem. Tidak tahu saya ada dimana.

Saya tidak terisak-isak. Tidak ada rasa ingin menangis. Tidak ada keinginan sedikitpun terpendam ingin sok memperlihatkan emosi di depan publik. Tapi kenapa ini airmata turun begitu saja?

Saya lap air mata sambil berjalan menyisiri kanal dalam udara siang yang dingin. Sinar matahari menerpa hangat wajah. Pelan-pelan saya sadar kalau saya sudah dekat stasiun pemadam kebakaran. Dekat sana ada toko yang khusus menjual ukulele.

Etalase terpampang banyak ukulele. Diantaranya ukulele yang ada lumba-lumbanya. Ahh, putri saya pasti suka ukulele itu. Toko ini tutup. Tidak ada orang di sana. Jalan ini sepi. Dan di situ, tiba-tiba saya merasa ingin menangis. Saya jatuh duduk di tepi jalan, di depan etalase toko ukulele. Tetap tidak menangis. Entah kenapa. Mungkin karena saya sok macho. Tapi kenapa juga saya sok macho? Padahal orang sok macho kan mati muda. Lihat itu Chairil Anwar? Lihat itu Jim Morrison? Sok macho semua itu manusia. Masak saya mau ikut-ikutan gerombolan mereka?

Saya lihat matahari di atas sana. Langit biru dan awan putih beararak-arak. Saya pikir saya harus tetap bertahan hidup. Untuk diri saya sendiri dan untuk putri yang amat saya cintai.

Sambil menangis saya senyum. Hidup ini lucu sekali ternyata. Mati-matian saya menjauhi diri dari bahaya maut yang mampu mengancam jiwa. Namun apa boleh dikata, tiap orang punya jalan hidup (dan juga jalan mati) masing-masing. Dengan segala kecerdikan, saya coba mengakali agar maut tidak mengintai dari balik jendela. Tapi, itu percuma. Yang ada, saya hanya terlihat membodohi diri sendiri.

Saya tatap langit. Matahari, awan, langit, masih disana. Saya satukan jari angkat tangan beri mereka salut tanda penghormatan sambil bergumam dalam hati, “terimakasih untuk humor hari ini”.

Kaki melangkah. Tujuan selanjutnya, toko musik yang masih buka. Tiba-tiba saya punya cita-cita baru. Dalam hidup yang indah tapi singkat ini, selain jadi bapak yang baik dan benar, saya juga ingin bisa main ukulele ☺

Jikalau saya ada di kampung saya, tepatnya di Kelurahan Cilincing Tercinta Merdeka Permai Asri Dirgantara, maka saya akan serta merta mencoret-coret plang papan yang tertera di depan Karang Taruna, tempat nongkrong kami semua. Dimana disana tertulis semboyan seperti “Anu Pangkal Anu”, “Jika Anu Maka Anu”, “Dilarang Menganukan Anumu ” atau blablabla lainnya.

Sumpah mati, kalau saya disana saya mau ambil cat putih. Saya sikat semua dogma-dogma itu dan saya tiban dengan cat semprot tulisan baru “Hidup ini indah, nikmati bro selagi bisa!”

Hehehe…

Posted in bangaip, sehari-hari | Tagged , , | 5 Comments

Tentang Kutipan

Tahun ini saya putuskan bahwa saya tidak akan membuat anak saya jadi yatim gara-gara hobi riset yang sedang dijalani.

Konsekuensinya, saya meninggalkan dunia petualangan ugal-ugalan ala Jason Bourne yang penyendiri dan berganti menjadi seorang petani yang berhubungan dengan tanaman, kebun dan bunga-bunga. Konsekuensi lain, saya dicap tidak konsisten sebab dengan begitu saja meninggalkan riset selama 5 tahun pas ketika hampir mencapai puncak karya. Tapi saya tidak begitu peduli. Anak saya lebih utama daripada semua puja-puji umat manusia. Konsekuensi lain, kata beberapa orang hidup saya jadi sedikit membosankan. Sebab harus berhubungan dengan manusia baik-baik dan melakukan hal yang baik-baik saja. Haha…

Sejak saya berganti hobi, dari tukang ojek yang suka cari masalah menjadi tukang kebun wannabe, akhir-akhir ini saya sering mendengarkan orang-orang di sekeliling saya bicara. Hidup di dunia yang berbeda itu butuh adaptasi, mendengarkan adalah kunci. Iseng-iseng saya kumpulkan kalimat paling banyak dan yang paling sering mereka ucapkan. Biasanya, kalimat-kalimat itu lalu menjadi kutipan-kutipan.

Kutipan-kutipan ini dikumpulkan berdasarkan banyaknya kalimat yang diucapkan paling sering/aneh (berdasar frekuensi) ketimbang kalimat-kalimat lainnya yang didengarkan. Atau paling tidak sering diucapkan atau terdengar di telinga (saya). Sama sekali tidak penting. Dan kelihatannya tidak berguna sama sekali, tapi ini cara (saya) mengidentifikasi personal dan ide-ide dibelakang kepala mereka (teman-teman/keluarga/kerabat kerja saya).

Berikut ini kutipan ucapannya:

(*Pengucap hanya dijelaskan tanpa menjelaskan nama asli mereka. Atas alasan privasi. Berikut ini tabel pengucapan kutipan):

Kutipan Pengucap
“Matahari tanpa wibawa” Diucapkan seorang seniman dari penghuni mantan komunitas seni Jogj. Kini beliau tengah naik daun sebab karyanya diburu oleh kolektor seni. Pada sebuah siang di musim dingin, matahari bersinar terik namun suhu menunjukkan angka -7C
“Memangnya kenapa?!” Diucapkan dengan nada mengotot dan mata melotot jika perlu. Sering sekali terlontar jika pendiri salah satu organisasi jurnalistik terkenal ini berbeda pendapat dengan lawan bicaranya. Sangat cerdas dan sangat kritis
“Manusia sering lupa dan bilang kita harus menyayangi alam. Padahal, kita manusia itu sendiri bagian dari alam” Filosof, pelukis dan ahli masak. Lelaki setengah baya yang sering lupa umurnya
“Gua mah kayak cowok. Abis orgasme tidur” Seorang wanita muda dari Indonesia ahli finansial mikro ketika berkomentar tentang perilaku seksual laki-laki vs perempuan
“Oh ya? Begitu yaa?” Kalimat yang sering terlontar dari wartawan senior yang sering meliput perang. Asam garam hidupnya sudah terlalu banyak. Sering skeptis dengan data dan selalu mempertanyakan keabsahannya
“Aku ini sudah capek. Pulang kerja maunya istirahat. Tidak mau lagi dengar masalah. Eh, di rumah selalu saja ada masalah. Gimana aku nggak gila!” Teriak seorang perempuan muda yang bekerja sebagai buruh migran mengomentari keluarganya yang selalu minta uang dan mengeluh soal uang setiap ia telpon ke kampungnya
“Terus.., terus.., terus…” Dalam setengah jam bicara ia hanya mengucapkan kalimat ini berulang-ulang. Pakar gender. Pendengar yang baik. Kadang suka galau tanpa sebab
“Saya takut ke Indonesia. Sebab di sana banyak orang islamnya” Perempuan muda juga. Dari Italia. Pernah bermukim lama di Jepang dan bersumpah bahwa saudara angkatnya, perempuan Indonesia beragama islam, adalah orang yang sangat baik. Ia belum pernah ke Indonesia dan kalimat ini diucapkan ketika ia dijawab harus liburan ke Indonesia saja.
“Hidup itu petualangan. Semua orang juga tahu. Basi. Yang orang nggak tahu itu, jangan terlalu jujur (ketika menjalani petualangan). Yang jadi pertanyaan, apa bener mau berhenti (berpetualang)?” Seorang lelaki muda, pebisnis, penulis dan filosof wannabe menceramahi saya di stasiun kereta ketika bercerita tentang hubungan antara pria dan wanita. Pacaran dengan perempuan di nomor empat.
“Sejak koneksi internet, tivi dan telpon saya putus, saya jadi kenal tetangga dan bartender di seberang jalan” Lelaki Inggris, 42 tahun, bujangan, ahli jaringan komputer
“Jumlah kekayaan itu seharusnya berimbang. Jika ada yang lebih kaya dari yang lain, artinya ia mengambil kekayaan dari kantong orang lain” Wanita. 27 tahun. Punker. Tidak punya pekerjaan tetap. Hobinya hidup menumpang dari rumah teman satu ke teman lainnya
“Ketika lo menguasai satu bahasa baru, satu dunia baru…, kebuka” Orang yang sama di nomor tiga
“Apa salahnya orangtua memanjakan anak. Kalau orang tua tidak mampu terus memanjakan anak, itu salah. Kalau mampu, kenapa salah?” Salah seorang pendiri komunitas seni ketika ditanya mengapa ia memberi subsidi terus pada komunitas seni baru
“Jadi begini…, bukan, bukan begitu…, gini…, eh… gimana yaa?” Pria, menjelang 40 tahun. Bujangan. Tinggal bersama orangtua. Bekerja paling lama 2 tahun di satu tempat. Sambil meremas-remas rambut ketika menjelaskan kisah cintanya yang dalam dalam 20 tahun terakhir, berantakan. Sebagaimana kisah cintanya, rambutnya yang sering dicukur pendek itupun kini sering rontok tumbang ke haribaan bumi
“Api ama asep itu sepaket” Kata seorang ibu-ibu dari Cilincing, Guru SD, ketika menceramahi anaknya yang hidup dipenuhi rumor-rumor tidak jelas
“Saya depresi. Saya mau pulang” Pengakuan seorang petani penggarap. Pria muda beranak satu yang rindu keluarganya dan jauh dari rumah
“Kalau lu membunuh satu pohon, sama aja lu bunuh banyak nyawa. Sebab pohon itu sumber hidup, sumber air, sumber kita” Kata seorang seniman senior sekaligus mantan pelarian politik. Kini jadi arsitek sekaligus petani
“Kalau kita terpaksa harus one night stand, pikir yang bener. Sebab dia harus berguna di masa depan. Jadi kalo kita butuh apa-apa, dia inget masa lalu, sebab kuncinya adalah nostalgia” Diucapkan seorang playboy dari Kebon Nanas, Jakarta. Di sebuah siang di Monas ketika ditanya apa kiat-kiatnya menjadi seorang player yang terus digila-gilai banyak wanita. Saat ini hidup dari tunjangan perempuan-perempuan yang dikibulinya (tanpa mereka tahu satu sama lain)
“Gimana caranya mengetahui kalau cowok kita masih perjaka atau nggak?” Tanya seorang perempuan muda, baru lulus SMU, lugu, asal Brebes, yang tengah berpacaran dengan lelaki dari Yunani. Seorang pendengar menjawab, jika pacarnya berusia tiga tahun, kemungkinan besar masih perjaka
“Saya mencatat omongan orang-orang. Saya jalan-jalan hanya untuk mencatat” Sambil bicara, lelaki muda berambut pirang dari Swedia ini membuka buku tulis dan mengambil pulpennya. Saat ini beliau dirawat di rumah sakit jiwa di Malmö. Katanya mengidap hypomania
“Orang yang kuat gampang terlihat ketika mereka bicara. Bukan dari cara bicara, tapi dari isinya” Lelaki dari Rumania. Bekerja di industri film dewasa sebagai editor dan pendistribusi konten. Mahasiswa teknik informatika. Gitaris. Baru saja diputus pacar. Suka memberi kursus bagaimana tetap tegar, kepada pria-pria yang mengalami disfungsi ereksi.
“Abis aku mau gimana lagi dong? Aku kan juga manusia!” Seorang wanita muda dari Indonesia lulusan sekolah tinggi teknik berprestasi akademis banyak sekali, menjawab dengan pertanyaan ketika ditanya mengapa ia menggoda seorang lelaki Irlandia rekan kerjanya yang beristri perempuan Korea
“Yang penting duitnya. Mau gendut, mau jelek, mau hitam, mau bau, nggak masalah. Yang penting duitnya” Lelaki setengah baya. Tambun. Berkumis. Pandai berhubungan dengan angkutan besar. Berprofesi sebagai penjaja cinta di Jawa dan Bali. Melayani pria dan wanita. Menjawab pertanyaan, apa rasanya menjalani profesi saat ini
“Durhaka itu hanya sudut pandang saja sebenarnya” Bapak dua anak. Petani merangkap pengusaha restoran merangkap pustakawan. Tinggal sporadis di beberapa daerah di pulau Jawa. Berkomentar soal tradisi sungkem
“Orang kalo jatuh cinta suka malu-malu” Seorang tentara khusus, ahli tembak jitu, pengawal RI-1, tanpa-ditanya-tanpa-diskusi tiba-tiba bicara cinta di markas. Komandannya mendelik ketika mendengar ia melontarkan kalimat ini. Ada delapan orang di barak saat itu, tiba-tiba semuanya terdiam
“Abis kalo nggak begituan saya stress” Perempuan muda. Masih SMP. Menjawab waktu diinterogasi di kantor Polres Tanjung Priok. Ketika tertangkap basah mengutil lipstik di supermarket. Orangtuanya keluarga terpandang, jadi tidak diproses. Tidak lama kemudian si ABG ini dipindah ke sebuah pesantren di Banyumas
“Lebih baik kaya sekarang daripada lebih kaya tapi nanti” Presenter televisi infotainment ketika membuka acaranya. Beberapa orang penonton bisik-bisik berkomentar bahwa si presenter tengah melakukan ‘mind fuck’, menggunakan media untuk memperkosa audensinya. Dari sejak jaman sekolah di Depok dulu, ia memang suka memperkosa logika lawan bicaranya
“Domba itu binatang yang cute sekali. Aku mau banget reinkarnasi jadi domba” Suatu sore sambil merokok. Perempuan, 26 tahun, seksi, ahli perangkat keras komputer, bekas tentara IDF ini berkata. Kini tengah berjuang mendapatkan promosi karena efisiensi kerjanya
“Yang penting itu usaha. Ikhtiar yang bener. Soal rejeki, bukan urusan kita” Ustad di Denpasar berkomentar soal bisnis anti hama yang dijalani sejak sepuluh tahun belakangan. Mantan preman Cilincing. Di bahu kanan masih memiliki tatto bertuliskan 100% HARAM. Masih bangga menunjukkan di paha kanan dekat selangkangan ada tatto bergambar hati dan nama pacar pertamanya
“Tetangga yang baik itu adalah tetangga yang menolong tetangganya berbelanja” Seorang kakek dari Turki. Pengusaha meubel kayu. Berkomentar ketika harus membeli barang melalui internet banking dan tidak tahu bagaimana caranya
“Sistem bisa salah. Sebab gangster bisa menguasai negara dan membuat sistem pemerintahan” Kata seorang mahasiswi arsitektur Semarang ketika mendebat temannya yang berdiskusi bahwa sistem pemerintahan RI itu selalu benar dan yang salah adalah oknum
“Radio itu dari awal ditemukan hingga sekarang sama saja. Ketika dibungkus kemasan berbeda mereka menyebut dagangannya radio baru” Seorang mantan CEO perusahaan elektronika multinasional terkenal dari US ketika tengah meyakinkan anak buahnya yang sangat skeptis
“Saya itu ibarat buku yang terbuka. Semuanya saya ceritakan ke sahabat dan orang-orang terdekat saya. Tapi kata suami saya, harus hati-hati dengan informasi. Sebab tidak semua orang itu sama” Kata seorang Ibu dari Swiss beranak balita dua orang ketika berkomentar soal bisnis high tech barunya dan kepada siapa dia harus cerita

Bagaimana? Aneh? Tidak cocok? Tidak penting?

Jangan khawatir. Bukan Anda saja yang bingung. Saya sendiri suka bingung. Tapi itu tidak penting. Yang penting adalah manusia itu berkomunikasi dengan caranya masing-masing. Dengan hasil yang masing-masing berbeda.

Dan saya sudah berbagi dengan Anda.

Jadi, kalau mau berbagi, apa kalimat dari mulut manusia di sekitar Anda yang paling ajaib/sering Anda dengar?

Posted in sehari-hari | Tagged | 3 Comments