Lynda: Ijazah Atau Mata?

Banyak teman saya mengeluh, “Mas saya nggak punya ijasah. Susah nyari kerja”

Sedih saya mendengarnya. Padahal bakat mereka sungguh amat baik sekali.

Namun bukan pula salah mereka. Biasanya memang perusahaan penerima banyak sekali yang menginginkan calon pekerjanya punya ijasah dan minimal Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) sekolah mendekati angka sempurna.

Teorinya; Makin tinggi IPK, makin bisa diandalkan.

Teori tersebut, amat berguna bagi perusahaan yang mengandalkan hidup matinya dari penelitian yang erat dengan dunia akademisi. Namun di perusahaan yang mengandalkan aplikasi terapan, terutama teknologi baru, teori tersebut amat layak di debat dan dipertanyakan. Contoh, ketika gerakan open source muncul, banyak sekali aplikasi-aplikasi perangkat lunak baru yang datang menyertainya. Diantaranya adalah aplikasi yang mendukung mati hidupnya jaringan komputer perusahaan-perusahaan besar.

Masalah muncul ketika perkembangan aplikasi itu semakin cepat, infrastruktur akademik mungkin bisa mengimbangi (dengan upgrade Lab misalnya). Namun bagaimana dengan birokrasi pendidikan? Sebagaimana lazimnya birokrasi, apakah kurikulum mampu mengikuti perkembangan teknologi? Saya ragu. Sebab birokrasi edukasi itu selalu lamban bergerak karena harus mengikuti struktur yang ada.

Anda bingung? Jangan bingung. Ini saya beri contohnya.

Sekitaran awal tahun 2000 saya kerja di pabrik. Nah pabrik itu butuh tenaga baru. Jadi dibukalah lowongan pekerjaan dengan harap dapat merekrut tenaga kerja yang sesuai dengan harapan.

Seperti biasa, saya kebagian jatah aneh untuk mengurus hal yang aneh. Diantaranya memastikan bahwa rekan kerja kami mampu produktif selama eksistensi mereka di pabrik. Maka, untuk memenuhi target itu, direla-relakanlah saya mewawancarai para calon rekan kerja yang akan datang tersebut.

Yang jadi masalah, peminatnya sedikit. Padahal kami tidak butuh manusia super. Hanya butuh orang yang mengerti dan mampu mengoprasikan Apache di Linux/BSD atau minimal kenal kegunaannya. Omong-omong Apache yang saya maksud bukan manusia dari suku Indian, Amerika Utara sana. Melainkan aplikasi komputer untuk jaringan komputer.

Waktu itu, Apache memang belum terkenal seperti sekarang (*Eh! Perangkat lunak sumber terbuka ini pada tahun 2009 sudah melayani 100 juta website, loh. Lumayan ngetop! Hehe*)

Singkat cerita, tibalah 15 orang pelamar ke depan meja saya. Setelah mengobrol ngalor-ngidul mencari kecocokan antara budaya perusahaan dengan anak-anak muda ini (*Yang sebenarnya lebih tua dan senior daripada saya, sebab mereka sudah lulus sekolah. Saya belum. Hihi*), tibalah akhirnya pertanyaan saya yang paling inti:

“Kamu bisa Apache? Boleh di tes?”

Jawaban: Dari 15 orang, sepuluh mengaku tidak. Sementara sisanya, mengaku ‘Pernah melihat logonya’.

Pertanyaan lanjutan, “Apa distro basis NIX favorit kamu?”

Jawaban: Dari 15 orang, 14 orang bertanya balik “Hah apa! Apa itu distro? apa itu NIX”. Satu orang menjawab, “Saya pernah sih dikenalkan Linux oleh teman saya. Tapi saya nggak pake tuh. Ribet sih”

Maka saya pun heran seheran-herannya, “Kalian punya ijasah. Lulusan sekolah komputer. Prestasi di atas kertas amat baik sekali. Tapi kok nggak memahami Linux sebagai media untuk melakukan jaringan komputer?”

Jawaban: Dari 15 orang semua kompak menjawab, “Nggak diajarin sih di sekolah!”

Waduh, sekolah jadi kambing hitam. Ok, walaupun masih wajar jawabannya. Jujur pula. Sebab memang tidak diajarkan di sekolah. Walaupun sebenarnya toh bisa belajar sendiri. Tapi sejujurnya saya kagum juga atas keisengan mereka melamar kerja. Walaupun tidak bisa dan tidak tahu, tetap jalan terus. Hehe.

Akhir cerita, kami gagal dapat rekan kerja baru. Akhirnya mengandalkan support dari layanan vendor, pihak ketiga, untuk membantu kami mengatasi beberapa issue atau pertanyaan mengenai Apache. Walaupun sebenarnya lebih menyenangkan apabila ada orang yang ’standby di lokasi kalau ada apa-apa’, namun yaah, mau dibilang apa. Bukan rejeki.

Okay, sampai sini mengerti maksud saya mengenai struktur edukasi dan birokrasi dunia akademik yang tidak mampu mengimbangi dunia teknologi terbaru?

Namun ada satu pelajaran yang bisa saya petik hari itu. Bahwa untuk beberapa kasus tertentu, ijasah memang bukan sebuah ukuran kehandalan manusia (*apalagi kadar ketampanannya, hehe. Sebab dulu saya punya anggapan, kalo punya ijasah jadi ganteng. Sialnya, setelah susah-payah mendapatkannya, saya ternyata masih belum ganteng pula. Lebih ajaib lagi, selama bekerja saya belum pernah di tanya ijasah. Dari awal mulai kerja, sampai detik ini. Biasanya kalau melamar kerja atau bertemu client, ditanya, “Karya terbarunya bagaimana, Pak?”. Lebih parah lagi, ijasah saya hilang di sela-sela laci meja tumpukan dokumen dan saya sama sekali tidak berniat mencarinya. Parah euy!*)

Ahh, terlalu banyak cerita mengenai saya di atas. Sori pembaca, kalau saya agak eksibisionis. Hihi.

Maka, untuk menebusnya, ijinkanlah saya cerita mengenai Bu Lynda.

Begini ceritanya;

Lynda Weinman awal mulanya hanya seorang gadis biasa. Tidak punya uang. Maklum datang dari keluarga sederhana dengan pendapatan finansial di bawah rata-rata. Sekolahnya pun biasa. Tidak sampai tinggi sekali akibat memilih untuk mencari nafkah bertahan hidup.

Yang tidak biasa dari Lynda adalah hobinya menggambar dan ramah.

Walaupun gambarnya biasa-biasa saja, hebatnya Lynda ini gemar membantu teman-temannya. Jadi kalau temannya bertanya, “Lin, kok bisa bikin gambar gajah pake warna begitu. Gimana caranya?” Maka Lynda akan menjawab dengan senang hati.

Tanpa takut tersaingi. Tanpa takut rahasia ilmu menjadi rontok.

Keahlian menggambar (dan banyak relasi karena teman-teman yang gembira) mengantarkan kesempatan hingga suatu hari Lynda bekerja di Hollywood, pusat perfilman Amerika Utara. Ia bekerja di sana sebagai animator dan desainer sampai ia ‘menemukan’ komputer pada tahun 1982.

Pertama kali dia melihat komputer, matanya langsung berbinar, “Hey, benda ini bisa di pakai untuk menggambar dan membuat animasi!”

Terinspirasi oleh potensi industri perangkat lunak grafis yang muncul di Hollywood kala itu, Lynda pun mengalihkan fokusnya. Jika awalnya ia bekerja dengan dengan media tradisional dan kamera analog untuk memproduksi order maka selanjutnya ia menggunakan komputer untuk pencitraan, desain grafis, animasi dan interaktif.

Dengan modal nekat (plus skill, pengalaman di Hollywood dan teman-teman yang ternyata masih sayang padanya karena kegemaran Lynda memberikan tutorial pada yang membutuhkan) ia memulai bisnis sendiri. Keluar dari Hollywod, ia membuat bisnis berawal dari garasi. Sebagaimana perusahaan-perusahaan start-up lainnya masa itu untuk ikut menunggangi gemuruh ombak booming dot com. Dengan modal kapital pas-pasan ini menjadi sebuah keputusan yang luar biasa.

Kenapa luar biasa?

Karena Lynda otodidak. Beda dengan para raksasa dari Redmont atau Silicon Valley yang datang dari dunia kampus. Lynda sama sekali tidak ada hubungannya dengan dunia akademisi. Ia benar-benar mengandalkan mata dalam dunia visual. Keahlian menggambar di dapat dari sang kakek. Sementara animasi, dari pengalaman di Hollywood. Tidak ada seorang pun yang pernah mengajarkan kepada ia bagaimana cara menggunakan komputer. Ia belajar sendiri!

Kadung sudah basah, Lynda pun berproduksi. Mencari nafkah awal sebagai penghasil animasi yang dibuat pada komputer pribadinya. Cari sampingan kiri kanan bekerja sebagai kontraktor independen untuk klien seperti Disney dan Apple.

Ternyata hasilnya masih belum cukup untuk memenuhi kebutuhan finansial sehari-hari. Suatu hari ia ditawari menulis artikel untuk majalah pada tahun 1985. Isinya mengenai dunia komunikasi visual, disain, grafik, animasi, industri dan apa hubungan antara komputer dengan itu semua.

Hobinya menulis dan memberikan informasi sesuai dengan ilmu baru yang dikuasainya, rupanya tersalurkan.

Weinman menjadi guru penuh waktu dan penulis setelah menjadi seorang ibu pada tahun 1989. Lalu melanjutkan untuk mengajar di beberapa sekolah seni terkemuka seperti; Art Center College of Design, American Film Institute, San Francisco State University’s Multimedia Studies Program, UCLA dan Pusat Kreasi Imaging Kodak.

Beberapa orang mulai bergosip. Bukankah Lynda tidak punya ijasah? Bukankah Lynda tidak pernah menempuh pendidikan formal? Kok yaa dia boleh mengajar? Bukankah dunia akademisi adalah dunia hierarkis? Tidak punya ijasah kok nekat mengajar?

Gosip itu sempat keras melanda Lynda. Dan dengan amat cepat dipatahkan. Mengapa? Sebab dunia industri butuh Lynda. Tidak ada satu sekolah pun pada saat itu di muka bumi yang mengajarkan kombinasi cabang keilmuan yang dimiliki Lynda. Ia fenomenal. Mengetahui beberapa cabang keilmuan sekaligus, menggabungkannya dan mengaplikasikannya langsung secara terapan ke dunia industri.

Jadi gosip-gosip tersebut langsung terbenam jauh di dasar laut. Orang butuh pekerjaan. Pabrik butuh tenaga desainer grafis. Sutradara butuh animator. Gosip? Ahh gosip hanya butuh pendengar di waktu luang. Kalau semua orang sibuk mengejar hal yang lebih baik, untuk apa ada gosip?

Pada tahun 1995, Weinman menulis buku pertama di web desain, judulnya Designing Web Graphics (Merancang Grafis Web – sekarang dalam edisi keempat), yang menjadi buku terlaris nasional dan internasional. Lagi-lagi namanya makin meroket. Matanya jeli. Dunia dot com memang sedang booming. Orang butuh membuat website. Tapi siapa yang mau mengajarkannaya? Ini ilmu baru.

Lynda pun jadi jawaban atas ketidak-tahuan publik ini.

Dia menjadi terkenal karena dia mudah mengerti, didekati dan gaya pengajaran yang murah hati. Tidak congkak karena terbebani gelar tetek bengek segala macamnya. Tidak pelit karena khawatir takut muridnya jadi lebih pintar dan merebut ladang usaha.

Setelah rubuhnya wabah dot-com dan peristiwa 11 September 2001 di Amerika, Lynda meninggalkan posisinya sebagai guru di dunia akademik.

Lagi-lagi, matanya yang jeli melihat kesempatan baik. Alasan punya keluarga membuat ia malah memilih untuk lebih dekat dengan keluarganya. Peristiwa berkurangnya pengaruh wabah dot com dan akses mudahnya internet membuat banyak orang memilih jadi pekerja free-lance ilmu aplikasi komputer terapan. Sementara aksi terorisme 9/11 yang menimpa gedung kembar WTC di Amerika, membuat orang malas bepergian. Lynda pun memanfaatkan kesempatan jeli ini untuk memulai dunia sekolah desain web pertama dengan suaminya yang sekaligus juga mitra, Bruce Heavin.

Sekolah yang bisa di mulai dari rumah.

Mereka memfokuskan diri membuat pelajaran online dan menciptakan sebuah layanan berlangganan yang dihosting di perpustakaan kursus. Walaupun kursus dilakukan secara virtual, namun biaya langganannya adalah nyata. Dan banyak sekali peserta kursus yang bangga karena ilmu yang mereka terima mampu diaplikasikan secara nyata dan mempu menafkahi diri mereka.

Saat ini, perusahaannya – lynda.com, Inc – menerbitkan karya lebih dari 100 pelatih di ratusan topik perangkat lunak dan desain. Mereka telah menciptakan sebuah perpustakaan dengan lebih dari 35.000 tutorial video online, tersedia dengan harga yang terjangkau bagi siapa saja yang ingin untuk belajar atau meningkatkan kemampuan perangkat lunak.

Dengan puluhan ribu pelanggan setia lynda.com telah menjadi kekuatan utama dalam industri pelatihan perangkat lunak. Berkantor pusat di Ventura, California, lynda.com merayakan 15 tahun online di tahun 2010.

Ini bukan tulisan iklan. Sama sekali saya tidak kenal Lynda secara personal dan tidak ada hubungannya dengan beliau maupun perusahaannya.

Hanya sekedar berbagi; semoga sahabat-sahabat saya yang mengaku tidak berijasah, tidak rendah diri dan tetap kerja keras untuk selalu berkarya.

Paru Paru

Dulu. Beberapa orang sahabat saya ketika masih menjadi siswa di sebuah sekolah seni, mencoret-coret patung buatan guru yang terpajang di tengah-tengah bangunan sekolah. Mereka menyampaikan protes, baik kepada sekolah dan terutama kepada guru pembuat patung tersebut yang ternyata juga merangkap sebagai kepala sekolah. Kata si pemrotes, “Seni sudah dikadali. Uang sekolah dinaiki”

Entah apa maksud dan hubungannya dengan kadal sang binatang reptil itu. Saya pun tak mengerti. Katanya sih protes itu tujuannya mendemo kebijakan finansial sekolah.

Sebagai seniman, atau minimal mengaku seniman, teman-teman saya ini melakukan protes tanpa kekerasan. Mereka mengecat patung lalu melapisinya dengan kain putih. Sebuah protes melalui bahasa simbol visual. Namun walaupun tanpa kekerasan, reaksinya yang mereka terima cukup keras juga. Tiga orang siswa pelaku (yang disebut vandalis oleh pihak sekolah) sampai stress karena hampir dikeluarkan. Harus drop-out dengan terpaksa.

Beberapa orang siswa yang sama sekali tidak ikut-ikutan protes, marah. Bisa jadi karena solidaritas. Akibat saling mengenal dengan pencoret. Bisa jadi karena sebab lain. Namun ketika masalah ini keluar ke publik. Ternyata lebih banyak orang bereaksi. Publik berang. Tentu saja tidak suka karena anak-anak itu main corat-coret sembarangan. Namun lebih marah lagi ketika pihak sekolah menjatuhkan hukuman yang tak setimpal pada anak-anak itu. Kok corat-coret dibalas DO?

Pihak sekolah, terutama si pencipta patung, kecewa. Sama sekali tidak senang. Mereka kecewa. Publik lebih berpihak ke anak-anak pemrotes vandalis. Dengan balik berang, sekolah berkata bahwa publik tidak mengerti seni. Si pencipta bilang bahwa seni itu agung. Dalam membuat patung, dibutuhkan banyak sekali waktu, tenaga dan biaya yang tidak sedikit. Namun yang lebih banyak dari semua itu adalah ide. Dan semua ide, adalah agung.

Ide? Iya ide. Di balik karya seni, biasanya selalu ada ide. Agung atau tidak, masih bisa diperdebatkan. Namun, entah ditopang kreatifitas. Ditopang kerja keras, atau di topang hal lainnya, memang selalu ada ide di balik sebuah karya. Di balik patung yang ternoda itu, ada pesan di sana. Bisa satu, bisa lebih. Yang pasti, ada ide, ada pesan, ada komunikasi di sana. Sebelum di buat, atau dalam proses pembuatan, atau bahkan ketika sudah jadi dan lalu (sialnya) di protes.

Singkat cerita, tiga siswa tersebut tidak jadi dikeluarkan paksa. Patung dibersihkan. Kembali bersih berdiri seperti sedia kala seakan tidak terjadi apa-apa.

Apapun yang terjadi pada patung tersebut, ada hal menarik yang bisa saya petik. Yaitu bahwa kejadian pada patung tersebut ternyata mampu menyita emosi pembuatnya, penadah tempatnya, pemrotesnya serta orang-orang disekeliling yang tidak tahu apa-apa menjadi saling berinteraksi.

Siswa, guru dan sekolah yang semestinya menjadi ajang komunikasi dan fasilitas dalam mencari ilmu, tiba-tiba berubah menjadi ladang emosi yang mengharu-biru. Kegiatan belajar Mengajar (KBM) yang semestinya optimal entah bagaimana caranya bisa berubah menjadi opera sabun dadakan.

Katanya, agungnya karya seni bukan hanya terletak yang ada di depan mata saja. Melainkan pula pergulatan si pembuatnya dan ide-ide yang ada di belakang otak mereka. Tapi sekali lagi, ide agung itu amat layak diperdebatkan.

Apa yang saya anggap agung toh tidak harus dianggap sama oleh situ, misalnya.

Kasus RI dengan Malaysia tahun 2007 salah satu contoh yang baik mengenai ‘keagungan’ ide sebuah seni.

Bukan hanya satu warga RI yang kecewa ketika tetangga negeri jirannya itu tiba-tiba memakai tari atau produk budaya Indonesia dan mengklaimnya di dunia internasional. Bukan… Bukan hanya satu. Melainkan banyak sekali warga Indonesia yang kecewa.

Di saat yang sama, warga Malaysia pun kaget luar biasa. Bukankah banyak sekali warga yang ayah ibu mereka yang berasal dari Indonesia. Apakah sebegitu bermasalahnya sang tetangga seperti kebakaran jenggot? Punya rumpun sama namun kenapa mereka suka marah-marah?

Maka, logika tak sedap seperti ‘Bukankah mereka suka menawarkan dagangan pada saya dengan paksa? Bukankah negeri kami sudah baik hati menerima tenaga kerja mereka, sungguh tak tahu diri mana balas jasanya?’ hingga ‘Terlalu tinggi hati dengan masa lalu’ pun dialamatkan pada bangsa Indonesia.

Yang mencengangkan, di balas lagi oleh pemuda kita dengan logo Malingsia. Astaga! Bukankah itu melaknat nama sebuah negara yang terdiri dari banyak manusia? Jika memang yang melakukan tindakan tidak terpuji hanyalah beberapa orang saja, apakah pantas kita menyematkan titel nista pada semua orang di sana?

Akhirnya, sudah bisa di tebak. Fasilitas media massa, konvensional maupun tidak, penuh dengan hujatan, makian dan bahasa-bahasa ajaib lainnya. Isinya hampir senada; Indonesia vs Malaysia.

Ketika sudah jadi rumor publik, pemerintah pun turun tangan. Otoritas dari kedua belah pihak, saling bertemu untuk membicarakan semakin hangatnya isu. Bersyukurlah saya, pemerintah saat itu lebih dewasa daripada pemerintahan tahun 60-an dahulu. Tidak lagi ada korban jiwa dalam friksi antar tetangga kali ini.

Namun apapun yang terjadi antara dua negara tersebut, ada hal yang amat menarik dicermati. Minimal buat saya; Yaitu ada opera sabun dibungkus emosi antara hubungan bertetangga.

Dua manusia tiba-tiba menjelma menjadi aktor semu hanya karena dipisahkan sebaris batas pada peta.

Maka aktor-aktor itu pun menjalankan perannya. Ada aktor yang masih ‘berjuang di garis depan’ untuk ‘vokal’ di forum-forum internet. Ada aktor yang meminta dana pada negara; katanya untuk beli senjata. Alasannya; negara tidak bisa dilecehkan. Untuk mencapai keagungan dan kekuatan sebuah negara adalah dengan senjata.

Ini jelas gila. Buat apa beli senjata kalau tidak untuk dipakai? Buat gosok gigi? Terus kalau sudah dibeli dan mau dipakai, akan diarahkan kemana moncongnya? Ke pantat masing-masing?

Edan!

Beberapa warga Indonesia dan Malayasia itu sering lupa. Bahwa mereka di Kalimantan sana (atau Borneo atau apalah sebutannya) itu berbagi tanah. Menginjak pulau yang sama. Bernafas dari oksigen yang dilepaskan oleh tumbuhan yang sama. Bahkan mungkin minum dari sumber air yang sama.

Dan (sialnya lagi) pulau itu, makin lama makin sekarat dihantam keserakahan manusia. Entah yang menghancurkan hutan dan membuyarkan hidup banyak suku asli yang bergantung di sana. Atau mengeruk isi bumi dan lalu meninggalkan polusi.

Bagaimana kalau pulau itu semakin sekarat lalu dengan santainya warga diatasnya tembak-tembakan. Menghambur-hamburkan uang demi kesenangan membunuh, sok kuasa atau hanya ingin kelihatan jumawa.

Bukannya saling bahu membahu menyelamatkan tanah dan bumi, kok yaa saling membenci. Tidak mungkin Indonesia dan Malaysia kehabisan akal hanya untuk menyelesaikan masalah antara mereka soal tari pendet atau Tenaga Kerja Indonesia atau apalah yang akan muncul nanti. Bukankah energi yang ada saat ini lebih baik dipakai untuk kelangsungan hidup anak cucu kita lebih layak.

Tapi yaah, tentu saja tidak semua manusia mirip sama. Masih banyak warga di kedua belah negara yang saling memaki ‘Indon’ atau ‘Maling’. Semuanya atas nama ‘keagungan’ sebuah ide lantas berpikir bahwa seteru dua tetangga hanya dapat diselesaikan dengan peluru.

Sementara, semakin hari Kalimantan semakin lemah paru-paru.