Tentang Kekuasaan Yang Melengkung

Di depan saya kanvas kosong. Dan harus diisi. Entah diisi apa orang lain mungkin tidak akan tahu. Yang pasti harus diisi agar bisa memperlihatkan sesuatu. Tadi malam lebih mudah, ‘sesuatu’ yang harus muncul adalah aplikasi perangkat lunak komputer yang mempermudah manusia mengunduh aplikasi yang mempermudah hidup mereka dalam menjaga kesehatan. Bingung mencernanya? Iya, sama dong. Saya juga bingung bagaimana memulainya. Tapi untunglah tadi malam sudah dimulai dan juga sudah selesai.

Ini sama seperti jaman sekolah dahulu. Pak Guru meminta kami, para siswa, untuk mendeskripsikan sesuatu benda dalam format ilustrasi pointilisme. Bagaimana cara membuatnya? Gampang. Pointilisme itu tehnik melukis dengan memakai titik-titik kecil, jarak antar titik bahkan hingga warna dan ketebalan sebagai pola yang membentuk sebuah gambar. Pertama kali dipakai oleh George Seurat sebagai mediumnya. Cara saya, pakai pena bernama Rotring yang memiliki ketebalan ujung bermacam-macam. Area yang lebih gelap akan dilukis dengan pena bermata tebal dan bagian terang jelas pakai pena bermata tipis. Gampang? Tidak juga sih sebenarnya. Butuh kesabaran dan ketekunan. Sebab untuk mendeskripsikan sebuah kisi jendela dari sudut 45 derajat. Sebab dalam format kertas A5 saja sudah butuh kira-kira tiga ribu titik dengan ketebalan mata pena yang berbeda. Tapi ini bukan yang paling susah. Yang susah jelas ketika menghadapi kertas kosong. Pertanyaan terbesar adalah… Apa yang harus saya isi disana?

Pagi ini saya memiliki kebingungan yang sama. Mau menulis apa? Tadi malam banyak ide, harusnya ditulis. Tapi karena esoknya sebagai buruh pabrik kecil-kecilan ini saya harus memimpin rapat, maka saya putuskan tidur lebih awal. Hilang sudahlah semua ide yang muncul di kepala itu. Maka kali ini saya iseng-iseng saja lah menulis.

Topik yang saya pilih sederhana. Tentang polisi. Mau cari topik apa lagi coba? Yang gampang saja lah. Kakek saya polisi. Teman-teman saya polisi. Tetangga saya polisi. Dulu jaman sekolah pernah pacaran, juga sama polisi. Adik ipar saya pas nikah, lah walinya juga polisi. Hidup saya dikelilingi polisi. Ya sudah cerita yang gampang saja. Cerita soal polisi.

Kata orang-orang polisi Indonesia itu galak. Nah! Kalau ini saya pasti membantah. Polisi-polisi yang saya kenal itu kalah galak dibandingkan Ibu saya. Wah Ibu saya kalau mengamuk, itu gawat deh pokoknya. Apalagi kalau mengamuknya ke saya. Orang-orang satu kampung itu bisa sampai prihatin campur pusing mendengarnya.

Beberapa waktu ini, orang-orang rajin marah pada polisi. Biasa lah, namanya juga profesi yang paling dekat sama warga, yaa biasa diomeli. Polisi diomeli ketika memalak warga dipinggir jalan soal lalu lintas. Warga bingung, susah membedakan mana polisi mana preman. Polisi diomeli lagi ketika tahanan status koruptor kelas kakap kabur dari tahanan mereka. Warga lagi-lagi bingung, katanya mau jadi polisi tesnya berat dan susah sebab pakai tes kesehatan segala. Loh kok pas jadi polisi, matanya jadi pada buta? Orang dibalik jeruji bisa mabur seenak jidatnya. Memangnya di kantor polisi diajari ilmu ‘ngilang’.

Beberapa minggu lalu, wanita Ontario kelahiran Uganda bernama Irshad Manji datang ke Jakarta, kampung saya. Ini perempuan, rencananya datang untuk diskusi. Namanya diskusi yaa pakai mulut dan otak. Kalau pakai mulut dan tangan terus ditempat gelap, itu mah pacaran a’la anak Cilincing namanya. Hehe.

Ketika asik-asik Irshad Manji sedang diskusi, tiba-tiba segerombolan orang kampung saya lainnya datang sambil teriak-teriak nama tuhan mereka dan bawa golok. Rencananya menghentikan diskusi Mbak Manji ini. Waduh malu-maluin banget yah. Masa orang diskusi pake mulut dibalas golok. Coba kalau diskusi pakai mulut dibalas juga dengan mulut, ada kemungkinan beradu mulut. Kemungkinan besar lagi, ciuman. Asoy geboy tuh. Kan lebih enak ciuman pakai mulut daripada pakai golok. Buset dah!

Apa saya malu? Yaa iya dong. Mbak Manji kan tamu. Seajaib-ajaibnya tamu, yaa kita hargai dan kita jamu dengan baik. Dilindungi kemaslahatannya. Kalau memang beliau kurang ajar, yaa diberi tahu baik-baik. Didiskusikan untuk cari solusi. Masak tamu dilempar golok? Memangnya kita perguruan kungfu, tamu datang disodori alat tempur?

Untung saja saat itu polisi datang. Menghentikan.

Menghentikan. Iya benar. Polisi datang untuk menghentikan. Tapi ajaibnya, polisi datang untuk menghentikan diskusi Mbak Manji dan teman-temannya.

Ini menarik loh. Yaitu polisi datang bukan untuk menghentikan langkah kekerasan yang ditempuh orang-orang bergolok.

Ada dua premis yang bisa ditarik disini. Premis pertama adalah: “Polisi tidak mendukung Mbak Manji”. Sedangkan premis kedua, yang paling ekstrim yaitu: “Polisi menyetujui tindak kekerasan”.

Mari kita ulas premis pertama. Yaitu “Polisi tidak mendukung Mbak Manji”. Sebagai institusi (Jelas bukan sebagai perorangan. Sebab yang melarang adalah Polri, bukan tetangga saya si Otong yang kebetulan polisi juga). Maka itu sebagai institusi independen polisi berhak tidak mendukung siapa-siapa. Posisi mereka sebagai pelayan publik adalah netral. Polisi, sebagai hamba hukum hanya mengabdi pada satu dan hanya satu hal saja, yaitu hukum. Disanalah kaki polisi berpijak. Jika pada Undang-Undang Dasar Republik Indonesia tertera: “Kami bangsa Indonesia dengan ini menjatakan bahwa Irshad Manji soenggoeh tidak seksama dan harus diusir dalam tempoh jang sesingkat-singkatnja”, maka polisi memang harus mengusir Irshad Manji. Tapi lah memang ada nama Mbak Manji dalam tetapan hukum RI? Jika bukan dari tetapan hukum, darimana itu dasar hukum datangnya pembubaran diskusi Mbak Manji? Disini, premis awal dengan kalimat “Polisi tidak mendukung Mbak Manji” ternyata tidak memiliki dasar hukum yang kuat.

Sekarang premis yang kedua. Yaitu “Polisi menyetujui tindak kekerasan”.

Saya benci mengulas ini. Sebab implikasinya menyebalkan. Tapi kalau kita mau jujur, kita harus mengulas ini. Pertanyaannya adalah, apa benar polisi menyetujui tindak kekerasan?

Berdasar kasus yang terjadi pada Indonesia tahun 65-66, perang sipil Maluku, bahkan hingga humor miring soal warga yang sial tertangkap ketika mencuri lalu dinterogosi, kekerasan memang terjadi di tubuh kepolisian. Tapi ketika polisi mulai memilah-milah dan bermain dengan politik kekerasan ini, maka yang terjadi adalah korupsi.

Korupsi? Polisi? FBR dan FPI? Irshad Manji? Apa hubungannya?

Ketika polisi (yang diwakili Pasar Minggu Police Chief. Comr. Adri Desas Furyanto) membubarkan diskusi Irshad Manji tanggal 3 May 2012 sekitar pukul 1900 di Jakarta Selatan atas desakan organisasi massa FBR dan FPI, yang terjadi adalah korupsi. Polisi, dengan segala kewenangan dan kekuatannya, tanpa didasari aturan hukum yang kuat telah melanggar konstitusi UUD 1945 pasal 28. Lebih parah lagi, Polri melalui tangan Adri Desas Furyanto secara terang-terangan melanggar UU no 12 tahun 2005 mengenai jaminan hak-hak sipil dan hak politik. Ketika kepolisian dengan terang-terangan telah melanggar konstitusi, menyerang kebebasan hak sipil dan politik warga, berpihak pada pelaku kekerasan terorganisir, maka yang terjadi adalah POLRI tengah korupsi.

Benar. Ini saya ulangi. Anda tidak salah baca. POLRI tengah korupsi.

Korupsi pada polisi adalah bentuk spesifik dari penyelewengan polisi yang dirancang untuk mendapatkan keuntungan finansial, keuntungan pribadi lain, atau kemajuan karir bagi seorang polisi atau petugas dalam pertukaran untuk tidak mengejar, atau selektif mengejar, penyelidikan atau penangkapan.

Salah satu bentuk umum dari korupsi polisi adalah meminta atau menerima suap sebagai imbalan untuk tidak melaporkan kejahatan terorganisir atau jaringan prostitusi atau kegiatan ilegal lainnya. Contoh lain adalah ketika polisi mencemooh kode etik mereka sendiri dalam membantu tersangka kejahatan – misalnya melalui pemalsuan barang bukti. Lebih parah lagi adalah ketika polisi mungkin dengan sengaja dan sistematis berpartisipasi dalam kejahatan terorganisir itu sendiri.

Di kota-kota besar di penjuru dunia yang memiliki institusi kepolisian ada bagian urusan internal untuk menyelidiki korupsi yang dilakukan oleh polisi. Korupsi pada polisi merupakan masalah yang tersebar signifikan di beberapa negara, seperti Rusia, Ukraina, India dan Meksiko.

Bentuk korupsi pada polisi terbagi menjadi beberapa diantaranya:

  • Korupsi wewenang: polisi menerima minuman gratis, makan, dan imbalan lainnya hanya karena ia seorang polisi.
  • Suap: menerima pembayaran dari merujuk orang untuk bisnis lain. Hal ini dapat mencakup, misalnya, kontraktor dan operator mobil derek.
  • Mencuri dari tersangka, tahanan atau korban kejahatan atau mayat mereka.
  • Shakedowns“: menerima suap untuk tidak mengejar pelanggaran pidana.
  • Perlindungan kegiatan ilegal: menjadi bodyguard, atau menerima pembayaran untuk meelindungi kegiatan ilegal: seperti pelacuran, kasino, atau pengedar narkoba untuk melindungi mereka dari penegakan hukum dan menjaga mereka ketika beroperasi.
  • Fixing“: Dengan sengaja merusak tuntutan pidana dengan menahan barang bukti atau mengagalkan barang bukti muncul di sidang pengadilan.
  • Kegiatan kriminal langsung dari aparat penegak hukum sendiri.
  • Hadiah internal: Membeli dan menjual hak istimewa yang diperoleh dari aparat penegak hukum lainnya. Misalnya waktu tugas, wilayah dinas, atau cuti/libur.
  • Tukang Timpa“: yang menanam atau menambah bukti, terutama dalam kasus narkoba.
  • Memplonco sesama penegak hukum.
  • Lewat aja santai“: polisi lalu lintas membatalkan tilang sebagai hadiah ke teman dan keluarga petugas polisi lainnya.

Nah Anda sudah baca sekarang bentuk korupsi yang terjadi di atas? Kenal? Pernah kejadian dengan Anda atau dengan orang terdekat?

Hell yeah, saya tahu Republik Indonesia bukan satu-satunya yang negara dimana Kepolisiannya korup. Masih banyak negara di dunia ini yang juga punya polisi korup. Haji Mamadov di Uzbekistan yang terkenal selain sebagai seorang reserse polisi, ternyata adalah pembunuh bayaran yang sialnya telah berhasil mengeksekusi puluhan manusia. William King dan Antonio Murray di Baltimore, US sana, bahkan menjadi kepala geng sindikat pengedar narkoba di malam hari ketika siang harinya menjadi detektif satuan polisi anti narkoba.

Tapi… Tapi.., saya kenal polisi Indonesia dan saya mencintai mereka. Gila jika saya biarkan mereka korup. Dan saat ini, kepolisian Indonesia entah bagaimana tingkahnya, kok tiba-tiba cenderung ke korup.

Punya kuasa itu berat. Apalagi jika membawa hukum sebagai pijakan kaki di setiap langkah ini. Menurut Lord Acton, kekuasaan itu cenderung kepada korup dan kekuasaan mutlak adalah sebuah korupsi yang mutlak. Semakin besar kuasa polisi, semakin besar pula kekuatan yang akan menariknya ke jurang korupsi.

Maka sore ini di akhir minggu, ijinkanlah saya bicara pada keluarga, teman-teman, tetangga, dan orang-orang yang saya cintai dan kebetulan jadi polisi dengan kalimat, “Hati-hati kena korupsi. I love you loh”

Posted in Orang Indonesia, Republik Indonesia | Tagged , , | 1 Comment

Lelaki Dari Indonesia

Saya dipanggil oleh rekan kerja dari departemen Sumber Daya Manusia. Kata beliau, ada training yang mungkin menarik untuk saya. Saya tanya training apa, dia jawab, training personal branding. Saya tanya lagi apa ada makan siang gratis, dia ketawa. Padahal saya serius. Saya mau ikut kalau ada makan gratisnya. Maklum lah, mental kere macam saya begini kan doyannya gratisan.

Teman saya, si trainer, bilang kalau training ini dibutuhkan sebagai bagian dari sekolahnya. Ia harus mentraining enam kali karyawan pabrik agar bisa lulus sekolah. Jadi atas dasar bantu teman, saya ikuti lah training ini.

Training ini dilaksanakan pagi hari. Diikuti oleh sembilan peserta dari negara-negara yang berbeda. Satu-satunya orang asia dan kebetulan dari Indonesia, yaa saya. Jadi, saya dapat perhatian khusus memang pada sesi pagi ini.

Saya biasa dapat perhatian khusus. Mirip bule di Candi Borobudur di Jogja sana yang dikerubuti anak sekolah untuk minta foto bersama. Saya bukan bule, ini jelas. Tapi kan sekeliling saya bule semua, jadi jelas juga kalau saya eksotis.

Ini bukan belagu. Bukan pula sok-sokan. Ini fakta. Jadi berbeda itu memang mengundang tatap mata. Satu anak punk berambut mohawk di komunitas santri berpeci pasti jadi lirikan sekelilingnya. Nah logika yang sama kita terapkan pada seorang lelaki tinggi standar berkulit coklat berambut panjang awut-awutan diantara manusia-manusia setinggi dua meter lebih berkulit terang pucat berambut pendek jambul mirip model tokoh kartun tintin. Jelas jadi tatapan. Sekali lagi, jadi berbeda itu mengundang tatap mata. Mau menafikkan fakta ini, silahkan

Sebelum acara dimulai, kami diminta memperkenalkan diri. Setiap orang pun mengenalkan dirinya masing-masing. Bagaimana mereka mengidentifikasi dirinya dan apa yang akan mereka perbuat di masa depan untuk personal brandingnya.

Ketika kami bicara sosial media, ini adalah topik yang sangat menarik. Sebab tidak semua orang ternyata memiliki akun sosial media dan bahkan ada yang membencinya.

Ketika giliran saya harus mengenalkan diri di training ini, saya bilang kalau saya sudah melakukan personal branding sejak lama. Si trainer kaget. Dia tanya kenapa dia tidak bisa menemukan saya di mesin pencari dan sosial media lainnya. Padahal saya sudah mengaku kalau saya punya lima blog, tiga akun facebook, dua akun twitter dan hampir setengah lusin alamat email.

Jawabnya sederhana, saya melakukan semua itu atas nama anonimitas.

Saya tahu personal branding itu penting. Yang jadi pertanyaan, apa itu yang saya butuhkan?

Tahun 2006 blog saya dikunjungi kira-kira tiga ribu pengunjung dari alamat unik perhari. Orang yang berbeda. Tapi lantas apa yang saya dapat? Nama besar? Uang? Jumlah fans membludak?

Tidak! Saya tidak dapat itu semua dan semua itu memang bukan kebutuhan saya.

Yang saya dapatkan adalah diri saya dibelakang komputer tiga jam perhari untuk membalas komen-komen atas nama ‘kode etik ngeblog’.

Bayangkan, tiga jam perhari? Kalau iya saya tidak punya pekerjaan lain seperti nyuci baju, ngepel, beres-beres rumah, masak, nyari nafkah, menservis partner, jelas saja saya bisa meluangkan waktu tiga jam perhari hanya untuk menjadi terkenal dalam imaji diri sendiri. Semacam onani jiwa. Tapi kalau saya tidak punya waktu menanggapi? Maka jadilah itu bumerang buat saya. Semacam melempar opini pada publik dan lalu lari tidak bertanggung jawab atas apa yang ditulisnya. Mirip anjing yang kencing di tiang listrik. Main lempar air seni sembarangan, endus-endus dikit dan lalu pergi lenggang kangkung setelahnya.

Jadi, pada saat saya mengenalkan diri, saya jawab bahwa saya muak jadi terkenal. Bahkan ketika anonimitas melindungi buruknya muka asli saya pun, saya tetap tidak bisa menghindari bahwa saya harus meluangkan waktu untuk menjaga ‘imaji personal’ digital di depan publik. Dan menjaga ‘branding’ itu butuh waktu, tenaga dan upaya.

Jadi pada intinya, jika anonim saja sudah susah jaga branding, apalagi pakai nama asli. Betapa membosankannya harus mati-matian jaga imaji 24 jam sehari melalui semua akun-akun sosial media. Sebagaimana betapa membosankannya jadi orang yang terus-terusan tersenyum dan melambai-lambai di depan publik setiap kali. Memangnya apa? Keluarga raja? Huh!

Tapi yaa begitulah hidup. Kata Kang Adi teman saya. Setiap orang harus mengenalkan personal brandingnya pada publik. Kalau presiden kita saja punya politik pencitraan diri (yang kemudian dengan sangat bangganya diikuti oleh istri, anak, dayang dan siapa saja yang mempu menjilat pantatnya), masak sih kita sebagai warganya tidak mau ikutan?

Jadi, menuruti saran Kang Adi, ikut-ikutanlah saya punya personal branding.

Personal branding saya jelas. Yaitu seorang ayah, sopan dan selalu tersenyum. Singkat kata, dalam bahasa asing, ‘a nice guy’. Tipikal manusia yang tidak menjadi ancaman buat sekelilingnya.

Punya personal branding sebagai nice guy itu susah-susah gampang. Gampangnya, saya tidak perlu susah-susah jadi nice guy. Senyum sedikit, ibu-ibu pedagang jengkol tetangga saja sudah ikutan senyum. Jadi ayah? Apalagi. Apa susahnya? Lah wong saat ini saya sudah dikaruniai seorang putri yang ramah baik dan cantik jelita. Apa susahnya berperan jadi ayah?
Lantas sopan? Lah kalau itu mah kewajiban. Sudah dari bawaan orok memang harus sopan kalau lahir di kampung saya Cilincing sana. Mau rusuh? Yaa siap-siap aja muka babak belur digebugin orang sekampung. Jelas saya harus sopan. Dan itu kewajiban.

Susahnya, yaa dengan orang-orang tertentu saja sih. Terutama gadis-gadis. Ehem…

Iya, saya ini single. Bukan sebuah kebanggan, apalagi kewajiban. Hanya sekedar fakta. Bahwa saya hidup sendiri, membujang, dan melakukan semua kegiatan cuci-mencuci, masak-memasak, membersihkan rumah, mencari nafkah, membesarkan anak, secara sendiri adalah fakta bahwa saya single. Tidak usah ditutup-tutupi. Realita. Pahit memang. Tapi hadapi saja.

Lantas apa hubungannya dengan personal branding sebagai nice guy dan single?

Lah banyak loh!

Sudah berapa kali saya ini diomeli beberapa orang. Ada yang menggerutu dibelakang ada yang terang-terangan memaki di depan. Biasanya yang diumbar adalah, “Kamu ini gimana sih, kalau flirting sama aku… yaa aku saja dong. Masak semua cewek digoda. Dasar buaya!”

Tinggallah saya bengong termehek-mehek. Apa maksudnya? Lah sejak kapan saya flirting sama beliau? Dan sejak kapan saya menggoda gadis-gadis?

Dan dengan seksama dalam tempo sesingkat-singkatnya secara gagah perkasa, saya tangkis omongannya dengan jawaban, “Saya? Beneran nih?”

Beliau sambil marah-marah menukas, “Ya iya kamu! Masih aja pura-pura nggak tau! Kemarin kamu di pestanya si Ayu, duduk disamping dia sambil senyum-senyum. Terus pas di dapur kamu sama Siti, masak bareng. Masih juga senyum-senyum. Trus pas kamu nyanyi maen gitar. Ngeliatin aku terus. Udah gitu lagunya love is in the air lagi. Kamu ini apa sih maksudnya? Kalian ini orang Indonesia berlaku nice dan doyan flirting yaa?”

Wah ini jelas saya tidak bisa terima. Itu generalisasi. Tidak semua orang Indonesia itu nice. Masih ada yang bawa-bawa parang pakai nama agama melarang diskusi buku. Masih banyak di Indonesia yang bakar-bakarin rumah ibadah. Masih banyak orang Indonesia yang cuek lihat tetangganya lapar. Jelas saya tidak terima. Tidak semua orang Indonesia itu nice! (*Pakai tanda kutip, biar efeknya jelas kalau saya tidak terima. Hihihi*)

Lalu kalau soal flirting. Ini jelas merupakan sebuah tantangan untuk menjawabnya. Katanya, orang Indonesia itu suka senyum. Dan oleh beberapa bangsa, yang kelihatannya jarang senyum, senyum itu memang bentuk flirting. si Soni sahabat saya bilang, “Men, kita ini orang dari negara tropis. Katanya mudah jatuh cinta”. Lah saya belum tentu setuju pendapat si Soni. Oke lah memang ada wakil rakyat Indonesia di Senayan sana yang mungkin jatuh cinta dan dengan asoynya memperlihatkan kepada publik adegan rekam mereka ketika tengah bercinta, tapi itu kan bukan berarti semua orang Indonesia mudah jatuh cinta. Lalu menggoda umat manusia sebanyak-banyaknya. Kalau memang orang Indonesia suka menggoda umat manusia dan ditakdirkan lahir sebagainya, pasti kita sebangsa sudah dikerangkeng di neraka. Idih amit amit naujubilah mijalik. Jelas yang pasti saya tidak terima.

Maka itu dengan perlahan tapi pasti, saya jawab beliau dengan, “Neng, nggak semua orang Indonesia begitu. Apalagi saya. Nggak semua orang Indonesia seperti saya. Kami ini terdiri dari banyak manusia yang berbeda. budaya berbeda. Pakaian berbeda. Bahasa berbeda. Tidak bisa semua orang Indonesia dikategorikan sama. Apalagi disama ratakan dengan saya”

Sambil berdiri dan pergi ia dengan ketus menjawab, “Ahh dasar laki-laki. Semuanya sama. Gombal. Bisanya ngeles saja”

Sambil garuk-garuk kepala saya berfikir. Dalam hati. Ahh susahnya jadi laki-laki… Apalagi jadi laki-laki Indonesia. Mau senyum, dibilang menggoda. Mau cemberut, dibilang sombong.

Lah kita, lelaki Indonesia. Harusnya bagaimana yaaa?

Posted in bangaip, sehari-hari | Tagged , , , | 6 Comments