Lebaran Sendiri

Bertahun-tahun saya hidup di tanah rantau. Malam ini, adalah malam biasanya saya lebih sering terpekur dalam menerima ‘kondisi’ saya. Yaitu kondisi perantau.

Tapi sebelum jauh-jauh, mari kita definisikan dulu apa itu rantau.

Ini definisi dari KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia) dalam jaringan. Salah satu kamus favorit saya. Sebab kamus ini, bisa diakses oleh perantau macam saya. Yang enggan membawa buku tebal-tebal kemana-mana. Hehe.

ran·tau
daerah (negeri) di luar daerah (negeri) sendiri atau daerah (negeri) di luar kampung halaman; negeri asing;

me·ran·tau

1 berlayar (mencari penghidupan) di sepanjang rantau (dr satu sungai ke sungai lain dsb);
2 pergi ke pantai (pesisir); pergi ke negeri lain (untuk mencari penghidupan, ilmu, dsb);

pe·ran·tau
1 orang yg mencari penghidupan, ilmu, dsb di negeri lain;
2 orang asing; pengembara;

Berdasarkan terminologi di atas, saya ternyata dapat dikategorikan sebagai pe·ran·tau. Orang asing yang mencari penghidupan di negeri lain.

Saya tidak akan menjelaskan mengapa saya mencari penghidupan di negeri lain, bukan-di-negeri-sendiri, dalam tulisan ini. Sebab bisa saja jawaban saya adalah; bahwa pada suatu saat tertentu, kehidupan di negeri asal saya sedemikian berbahaya, sehingga saya terpaksa harus pergi.

Tidak, saya tidak akan menceritakan hal tersebut. Dan saya pun belum mau menceritakan mengapa saya me·ran·tau dan lokasi pe·ran·tau·an saya.

Saya hanya akan bercerita, mengapa malam ini saya ‘terpekur’. (*Anggap saja, ini masih dalam konteks curhat orang Cilincing, hehe*).

Begini;

Malam ini sama seperti halnya malam-malam yang lain. Langit pucat. Bulan dibalik awan pekat. Gelap.

Bedanya; Dua hari lagi adalah hari raya. Hari di mana warga kampung kelahiran saya, Cilincing, berpesta.

Sejak kecil, saya dibiasakan oleh lingkungan, budaya, keluarga hingga tata-krama untuk menerima pesta ini. Dan akibatnya, saya setiap tahun larut dalam kegembiraan berpesta.

Sebuah pesta yang meriah. Namanya lebaran. Dimana makanan tumpah ruah bagaikan jatuh dari langit. Dimana anak-anak lari berkejaran di jalan, cium tangan kepada yang lebih tua, sambil mengharapkan recehan duit.

Lebaran, bukan lagi ritual agama di kampung saya. Ia menjelma menjadi kegembiraan budaya bagi semua manusia. Sebuah hari, dimana semua orang, tanpa peduli latar belakang agama, kepercayaan, tingkat strata sosial, ngobrol ngalor-ngidul sambil menyantap ketupat dan sayur labu siam.

Sejak kecil, saya terbiasa dengan hal ini. Menerima hari bahagia dengan berpesta.

Hingga suatu hari… Saya harus pergi. Pergi jauh dari kampung halaman saya tercinta.

Di sana, di kampung tetangga, lebaran tetap ada. Hanya rasanya beda.

Mereka, kampung tetangga, tetap sama mengumandangkan kalimat yang dipercayai sanggup mensucikan hati. Tapi entah kenapa, rasanya sungguh berbeda.

Saya merasa sepi.

Suatu hari, di sebuah lapangan yang disulap menjadi masjid dadakan di desa samping Danau Tondano, Sulawesi, saya diam-diam menangis.

Ketika warga salam-salaman seusai shalat ied. Saya duduk di bawah pohon. Menyadari, betapa jauhnya geografis Cilincing, kampung saya, dengan kampung anak keturunan Kiai Mojo ini.

Lebaran tetap ada. Orang-orang sungguh ramai.

Tapi, saya merasa sendiri. Jauh dari keluarga. Jauh dari sanak famili. Lebaran saat itu sungguh berbeda.

Saya merasa sepi.

Bertahun-tahun berikutnya. Saya pikir kisah saya akan berbeda. Nyatanya tidak saudara-saudara. Hehe.

Semakin tahun, semakin jauh saya dari Cilincing, kampung halaman saya tercinta.

Semakin sepi rasanya hati di idul fitri.

Apalagi dulu, ketika saya masih bekerja di sebuah tempat dimana tingkat kesibukan masing-masing personel sungguh tinggi. Lebaran semakin berat. Sebab untuk cuti, kami sudah harus mengajukan dua bulan sebelumnya. Minimal.

Lah, bagaimana saya tahu lebaran itu kapan tepatnya. Wong di RI, patokan waktu lebaran warga kampung saya saja, orang-orang masih berdebat menentukan kapan hari-H.

Jadi yaa nasib oh sungguh nasib. Kadang-kadang tebakan cuti saya untuk sholat ied, benar. Namun seringkali, tidak.

Kok yaa Sholat Ied dipakai main tebak-tebakan. Ini kan bukan buah manggis. Hehe, maafkan saya pembaca budiman.

Jadi yaa… Saya semakin hari, semakin mencoba terbiasa dengan lebaran sendiri. Ini istilah yang saya temukan sepanjang hidup yang saya jalani.

Lebaran sendiri, artinya lebaran sendirian. Tanpa sanak saudara. Tanpa keluarga. Tanpa teman dekat. Yang lebih parah, tanpa ketupat, labu siam dan haru serta tawa.

Benar-benar sendiri.

Kalau anda tanya, “Apa rasanya?”

Maka akan saya jawab, “Sepi”

Tapi, yaa namanya juga saya orang Indonesia yaa. Yang sedari kecil diajari apapun yang kita terima, syukuri saja. Maka, syukurlah saya terima kesendirian ini.

Toh, bukankah ketika mati pun kita akan sendiri?

Maka, saya anggap saja ritual+budaya lebaran ini sebagai bahagian prosesi hidup yang semestinya lapang dada dijalani.

Tapi namanya juga manusia yaa. Saya sadar, sekuat-kuatnya saya sebagai manusia yang menahan sepi sendiri, ada lemahnya pula.

Suatu hari, lebaran tiba di hari sabtu. Waktu itu, salju turun dengan lebatnya di Kiel, sebuah kota pelabuhan antara Jerman dengan Denmark.

Setalah bertanya-tanya pada penduduk lokal, tibalah saya di sebuah gedung tua yang alih fungsi menjadi masjid.

Hari itu, bersyukur saya rupanya diberkahi waktu untuk ied.

Sampai di dalam, wajah-wajah asing berkulit pucat tinggi besar berambut pirang atau coklat, menatap saya janggal.

Iya, saya pakai sarung. Hehe, mereka rupanya belum pernah melihat manusia gondrong sarungan berpici masuk ke komunitas tersebut.

Saya dapat duduk di tengah. Waktu saya duduk, imamnya sejenak berhenti ceramah. Menatap saya. Saya malu juga. Emangnya saya cowok apaan. Sampai-sampai diliatin imam, ceramahnya berhenti.

Ia bicara sesuatu. Saya tidak mengerti.

Saya menanggapi.

Berdiri, cengar-cengir, mengangkat tangan satu ke atas sambil berkata “Saya Arip… orang Cilincing, Assalamualaikum”. (*pakai bahasa Cilincing*)

Entahlah, apa yang membuat saya melakukan tindakan itu. Kok yaa mirip adegan Winnetou, si Indian Apache menyapa orang-orang sesukunya, lalu berkata “HOWGH!”

Yang pasti, semua orang disana lalu menjawab salam saya sambil tersenyum pula.

Saya duduk, mendengarkan ceramah. Sialnya, saya tidak mengerti sama sekali apa yang imam bicarakan.

Ternyata ini masjid Bosnia.

Di kota ini, masjid bukanlah rumah tuhan saja. Ia juga rumah bagi para imigran untuk berkumpul dan berserikat.

Ketika ied selesai, saya duduk di ruang sebelah. Di dekat pemanas ruangan. Menatap kaca jendela dimana kapal-kapal besar pelan-pelan bergoyang di atas ombak dingin Desember.

Tidak ada burung. Tidak ada beduk. Tidak ada anak-anak lari-lari nakal menyembunyikan petasan. Tidak ada ketupat dan sayur labu. Tidak ada sanak keluarga saudara.

Hanya saya, manusia berbahasa Bosnia, pemanas, dan kaca jendela yang berlumuran salju beku.

Saat itu, saya menangis dan merasa sepi.

Jadi, jika suatu saat anda bertemu perantau yang berhari-raya sendiri, jangan tanya apa rasanya sepi. Sebab ia pasti telah memahami.

(*saran saya; Apapun agama atau latar belakangnya, kalau ada perantau yang berhari-raya sendiri, ajaklah ia berpesta merayakannya*)

Malam ini, saya terpekur. Menyadari bahwa lebaran ini saya tetap berada di tanah rantau.

Tapi yaa, syukurlah kali ini sudah ada istri dan buah hati. Tidak ada airmata yang tumpah sia-sia malam ini.

Maka itu, apapun dan siapapun anda. Entah merayakan hari raya secara sendiri atau dianugrahi silaturahmi, mohon maaf lahir batin.

Apapun yang terjadi di hari lebaran, jangan lah kecewa.

Sebab sepi, ternyata melatih diri menghadapi mati.

Dan katanya silaturahmi, membuat kaya jiwa dan hati.

This entry was posted in bangaip and tagged . Bookmark the permalink.

24 Responses to Lebaran Sendiri

  1. Pingback: Lebaran Sendiri « Arif Kurniawan as Bangaiptop

  2. aRuL says:

    wah bang, met idul fitri… maaf lahir batin juga :)
    semoga lebarannya menyenangkan :)

    -0-
    Maaf lahir batin juga, Arul

  3. .\Gojo says:

    Wah, baru tahu kalo ternyata BangAip dah pindah rumah. Betapa lama aku tidak berkunjung berarti ya?

    Met idul fitri, bang… mohon maaf lahir batin. Semoga lebaran yang tidak sendirian lagi ini akan menjadi hari yang menyenangkan…

    aku sendiri belum pernah merasakan lebaran yang benar2 sendiri. Kalau sekedar di perantauan (merujuk pada pengertian KBBI tadi) sih sudah pernah, tapi belum pernah yang bener2 sendirian seperti berlebaran dengan serombongan orang berbahasa sangat asing… Walau begitu, kesepian itu tetep terasa kok… kalau yang namanya di rantau, jauh dari keluarga, lebaran sering terasa sepi…

    untunglah lebaran kali ini aku juga tidak sendiri :)… walau agak di rantau, tapi ada yang menemani :)..

    -0-
    Maaf lahir batin juga euy.

  4. manusiasuper says:

    Selamat Idul Fitri Bang..

    Kemenangan hanya akan hadir bagi mereka yang berjuang…

    Salam buat keluarga…

    Selamat Idul fitri juga buat semau perantau yang sendiri…

    -0-
    Maaf lahir batin juga, Mansup.

  5. roswanda says:

    wah…bang aip…..ceritanya nonjok banget…sama dengan saya juga yang insya Allah untuk pertama kalinya merasakan lebaran sebagai perantau…

    rasanya sedih mikir kalo lebaran ini ga bisa sungkem, kumpul, makan ketupat, ma orang tua n keluarga…

    met lebaran juga bang aip…mohon maaf lahir batin…

    -0-
    Maaf lahir batin pula.

  6. sofianblue says:

    Maaf Lahir batin bang!!

    -0-
    Sama-sama Mas Sofian. Maaf lahir batin juga.

  7. Citra Dewi says:

    Bang Aip, seneng jumpa abang lewat dunia maya lagi. Selamat HAri Raya Idul Fitri, mohon maaf lahir dan batin.
    Yah Bang cerita kita kok sama yah. Hujan emas di negeri orang,kadang hujan batu di negeri sendiri lebih asooy yah. Saya juga rindu amah Priok yg selalu kebanjiran dan sama tetangga2 yg hobbynya ngrumpi..hi..hi.
    Saya rindu ama suara azan dan ributnya kentongan di pagi2 buta.

    -0-
    Maaf lahir batin juga Mbak Citra.

  8. Fortynine says:

    Saya banyak salah sama Bangaip dan blognya. Makanya saya tuliskan; Mohon Maaf Lahir dan Bathin….

    Saya ga kebayang gimana rasanya Lebaran di tanah orang, dimana Lebaran itu sendiri bukan hari libur dan bukanlah hari keagamaan yang dirayakan. Pasti sungguh sungguh sepi dan menyepikan…

    Sekali lagi saya tuliskan; Mohon Maaf Lahir dan Bathin. Mohon maaf atas segala kesalahan selama ini

    -0-
    Sama-sama Rid. Maaf lahir batin juga yaa.

  9. Saya bisa membayangkan, karena saya pernah mengalami seperti itu, Jauh dari negeri sendiri dan kesepian merayakan momen momen seperti itu. Apapun kita justru merasa kuat, dan bisa lebih menjadi orang Indonesia daripada mereka yang ada di Tanah Air. Ada sentimentil value yang membuat kita berpikir untuk merenung.
    Ya paling ke KBRI..he he..
    Minal Aidin Walfaidzin, Maaf lahir bathin..

    -0-
    Maaf lahir batin juga Mas Iman.

  10. Amed says:

    Waktu masih di radio, saya juga pernah ngerasain lebaran sendirian.. di studio… sholat id di lantai bawah, di halaman parkir. Itu pun cuma sebentar, sorenya saya bisa pulang ke rumah… Tapi mak, rasanya kok sepiii sekali…

    Apalagi Bang Aip ya yang bertahun-tahun terjebak dalam situasi yang sama, terulang terus-menerus…

    Apapun agama atau latar belakangnya, kalau ada perantau yang berhari-raya sendiri, ajaklah ia berpesta merayakannya

    Andai Bang Aip ada di sini, izinkan saya merayakan Idul Fitri bersama Abang… Selamat berlebaran Bang, mohon maaf lahir batin, semoga semua makhluk berbahagia…

    -0-
    Saya juga berharap, Med. Suatu saat nanti kita bisa ketemuan bareng-bareng. Sama farid dan mansup juga. Kita ngeteh bareng-bareng. Oh ya, maaf lahir batin euy.

  11. Bukannya para perantau itu pada “mudik”?
    BTW, saya sedang mudik nih. Seandainya saya tidak mudik, pasti saya akan kesepian di tanah rantau.
    😀

    -0-
    Hehe, kalau pakai analogi Mas Dewo, tentu saja benar, Mas. Selamat mudik. Bagus loh itu cerita-cerita perjalanan mudik lebarannya. Terutama review soal makanannya. Hehe

  12. cK says:

    huhuhu…saya memang belum pernah merayakan lebaran di negeri orang, tapi saya dengar cerita teman-teman saya yang lebaran di luar, terasa banget betapa sepinya lebaran di luar sana. belum lagi ternyata tidak ada libur yang diberikan. sehingga mereka tidak merayakan lebaran sama sekali…

    -0-
    Yaah, kadang-kadang memang begitulah kenyataannya Chik.

  13. Hedi says:

    Selamat Idul Fitri, bang, maaf lahir batin.

    -0
    Sama-sama Mas Hedi. Maaf lahir batin pula.

  14. edratna says:

    Bangaip, saya bisa membayangkan rasa kesepian itu. Berlebaran di kampung, semua merasakan nikmatnya, saling memaafkan, menyalakan mercon, saling berkunjung dan antar tetangga nyaris ada pertalian saudara….betapa perbedaan agama tak terlihat, semua bergembira….

    Di Jakarta rasanya berbeda, namun setelah tinggal lama di Jakarta, kami mulai dapat menyesuaikan, apalagi setelah ayah ibu dan ayah ibu mertua tiada. Apalagi setelah tinggal di rumah sendiri, yang rata-rata penghuninya sudah sepuh, seusai sholat saling berkunjung, saling memaafkan…kemudian ketemu di rumah pak RW, yang menyediakan makanan ketupat, opor ayam, sambel goreng ati, lemang dsb nya…dan anak kecil mendapat angpau. Betapa wajah anak-anak itu bersinar-sinar….dan gembira. Yahh kita memang harus selalu bisa menyesuaikan diri.

    Selamat Lebaran Bangaip…mohon maaf lahir dan batin

    -0-
    Sama=sama BU. Maaf lahir batin pula.

  15. fauzansigma says:

    menangis dalam kesendirian… MAs , masih ada anak istri.. mrk adalah harta yg luar biasa berharganya..

    maaf lahir batin

    -0-
    Maaf lahir batin juga, Mas.

  16. mathematicse says:

    Selamat hari raya Idul Fitri, 1 Syawal 1429 H. Mohon maaf lahir dan bathin, bang Aip.

    Eh, gemana kabarnya? Buah hatinya sehat and udah besar?

    -0-
    Maaf lahir batin juga, Kang Jupri. Alhamdulillah Novi Kirana makin cihuy saja ini setiap harinya.
    :)

  17. itikkecil says:

    selamat lebaran bang aip….
    maafkan kesalahan saya selama ini

    -0-
    Sama-sama, Mbak. Maaf lahir batin juga.

  18. funkshit says:

    “Apapun yang terjadi di hari lebaran, jangan lah kecewa.”

    Gimana klo yagn dimintai maaf. ngga memaafkan.. kecewa nda ?? ngga ya ?

    mohon maaf lahir batin deh

    -0-
    Dulu, saya pernah minta maaf pas lebaran.

    Pas lagi ngulurin tangan minta maaf. Muka saya diludahin. Hehe.

    Sabar saja lah.

    Waktu itu mah berfikir begini, “Masih untung muka saya yang diludahin. Untung bukan sarung baru saya”. Hehe

    Maaf lahir batin, Mas

  19. edo says:

    heheh..
    ini tahun ke 3 saya lebaran di jakarta.
    bahkan berlebaran di jakarta pun, dimana saudarapun masih banyak, saya bisa merasakan kesepiannya.

    lebaran dikampung jauh jauh jauh lebih terasa
    apalagi puasa.
    benar-benar terasa keinginan yang besar untuk membasuh diri.

    apalagi di luar negeri yah :)

    minal aidin wal faizin bangaip..

    -0-
    Sama-sama Mas Edo. Maaf lahir batin juga yaaa…

  20. sandal says:

    Kebetulan saya belum pernah merayakannya sendirian, tapi rasanya saya tau apa arti sepi itu :)

    Maaf lahir batin Mas Arif!

    -0-
    Sama-sama Mas Yeni. Maaf lahir batin juga.

  21. herianto says:

    Mohon ma’af lahir batin.
    Sepertinya waktu di wordpress saya pernah berkunjung, mohon ma’af ya kalo ada salah2 kata.

    -0-
    Sama-sama Mas Heri. Maaf lahir batin juga.

  22. arman says:

    cihui.
    sugeng riyadi
    ..bangaip

    -0-
    Siip Maan.. Tariik euy.. hihi

  23. fety says:

    terharu membaca cerita ini. Barusan aja lebaran tahun kemarin sendirian, jauh dari suami dan keluarga besar. alhamdullillah ada d=seorang teman yang mau diajak ngina di apartement.

  24. Noba says:

    bang aip, saya dari manado bang, baru pertama kali lebaran di jogja. semua temen2 pada pulang. sendiri en sepi bang…

    membaca tulisan abang… saya jadi senang bang, ternyata saya tidak sendirian mengalaminya. thank you bang. ada kelegaan di hati ini.

    –0–
    You never walked alone. Selalu ada orang yang senasib di muka bumi ini

Leave a Reply