Bangsa Yang Gagal

Saya ini orangnya pemarah. Apa-apa sukanya marah. Ada salah sedikit, langsung marah. Ada yang melototin, saya maki-maki. Kalau dia membalas maki-maki, saya pukuli sampai babak belur. Entah siapa yang babak belur, mungkin dia, mungkin pula saya… yang pasti harus ada yang babak belur lah. Amit-amit jabang bayi, ganas sekali.

Pada intinya, saya ini agresif.

Namun sejak ikut Ibu Nyonyah, majikan, saya berubah jadi tidak terlalu agresif lagi.

Kata teman-teman dahulu, saya jadi pria aduhai sekarang. Alias pria ‘aduh jangan begitu lah yay’. Maksudnya, kalau ada apa-apa yang bikin saya marah, pasti kalimat awal saya “Aduh, jangan begitu dong” sebagai pengganti maki-maki dan tinju. Hehe.

Makin lama, sifat agresif saya makin terkikis. Apalagi sejak punya anak. Makin berfikir sebelum bicara dan bertindak. Sebab mau omong atau bicara sembarangan, khawatir akan melukai perkembangan jiwa anak saya. Selain itu, khawatir akan melukai perasaan orang lain.

Maka itu, yaa makin hari, mulut saya semakin terbungkam. Jarang kritis lagi. Lebih berfikir ke arah keselamatan anak dan istri. Keluarga jadi prioritas utama ketimbang diri sendiri.

Beberapa teman terkekeh-kekeh melihat perubahan saya sejak punya anak. Kata mereka, “Liat aja tuh si Arip sekarang. Tulisannya aja melempem semua, hehe”.

Saya sih tertawa-tawa saja. Yaa mereka benar. Sejak punya anak, yaa saya semakin melempem. Seperti kerupuk kena air.

Saya jarang marah.

Padahal kata El Hajj Malik El Shabazz (dikenal pula sebagai Malcolm X oleh dunia), marah itu anugrah.

Ahh, mungkin saya memang tidak diberi anugrah. Lagian siapa pula yang mau memberi anugrah pada saya. Memangnya saya ini siapa?

Sekian lama, saya tidak pernah marah lagi, dunia berubah.

Ahh mungkin saya salah. Saya pikir saya lah yang memandang dunia dari sudut pandang yang berbeda. Maka itu dunia berubah.

Di mata saya yang baru (ahh bahasanya bombastis sekali), dunia kok yaa lebih ramah sekarang. Ada apa gerangan?

Berbulan-bulan saya menikmati dunia baru saya ini. Sendirian. Bagaikan petualangan dalam padang sabana. Menikmati semua lekuk-lekuk tanah, rumput, angin angkasa.

Indah.

Hingga beberapa hari lalu, kenikmatan saya terkoyak.

Membuka berita hari, seorang pemuka agama di Indonesia menikahi gadis berusia 12 tahun. Dan dalam testimoni beliau, akan pula menikahi dua bocah berusia 7 dan 9 tahun.

Saya tidak pernah marah kalau membaca koran. Atau membaca apapun, saya tidak tidak pernah sekalipun marah. Saya percaya, setiap orang berhak menyuarakan mulutnya, sekotor apapun.

Jadi, ketika mengetahui bahwa saya ternyata bisa marah ketika membaca koran. Saya terkaget-kaget.

Dua malam saya susah tidur. Memikirkan masalah ini.

Kenapa di negeri saya tercinta, dapat terjadi seorang laki-laki yang katanya mengerti agama berusia 43 tahun menikahi anak perempuan berusia 12 tahun?

Jawabannya jelas pro dan kontra. Sebagian besar masyarakat jelas mengutuk tindakan tersebut. Namun tidak sedikit pula yang membela.., atas nama tuhan sebagai pembenarannya.

Sejujurnya, saya tidak peduli dengan yang pro dan kontra. Bukankah setiap manusia dapat memberikan pendapatnya secara sekotor apapun? Bukankah publik yang akan menilainya, lalu memujanya atau bahkan merajamnya?

Maka itu, maaf saja kalau saya tidak terlalu peduli pro dan kontra.

Namun, jelas saya peduli dengan warga yang mampu mengupayakan tindakan itu terjadi. Nyata-nyata, di tengah masyarakat yang mengaku berbudaya luhur warisan nenek moyang mereka.

Maka itu, pertanyaan saya adalah; Mengapa warga mengijinkan seorang tua bangka menggauli anak di bawah umur?

Kondisi apa yang membuat para tetua kampung, para sesepuh yang dihormati menistakan mata hati membiarkan gadis berusia 12 tahun dikoyak paksa pada malam pertama?

Kondisi apa yang membuat seorang bapak menepuk dada sebagai wali, bangga mengantar 12 tahun anak perempuannya dalam pernikahan siri?

Kondisi apa yang membiarkan seorang Ibu berkata pada 12 tahun bocah perempuannya “Nak, begini loh cara melayani laki-laki”?

Agama?
Ekonomi?
Status sosial?

Apa?… APA!!??

Dua malam saya susah memejamkan mata. Sedih. Kecewa. Takut.

Susah menjabarkan dengan kata-kata, apa yang saya sedihkan. Apa pula yang membuat saya kecewa. Dan mengapa saya begitu takut.

Hingga akhirnya saya tahu, bahwa ketika sebuah bangsa gagal melindungi anak-anak mereka, gagal memberi pendidikan yang baik pada anak-anak mereka, gagal menyayangi anak-anak mereka… Adalah sebuah bangsa yang gagal.

Dan akhirnya saya tahu, bahwa mengapa saya susah tidur. Saya tahu mengapa saya enggan memejamkan mata lalu merasa sedih, takut serta kecewa.

Sebab ternyata saya adalah bagian dari bangsa yang gagal.

Dua hari dua malam saya melawan kata hati. Melawan kenyataan bahwa saya adalah bagian dari bangsa yang gagal.

Apa yang mau di kata. Ini realita buat saya. Mungkin tidak buat anda. Atau mungkin tidak buat siapa-siapa.

Namun dalam dunia ciptaan saya sendiri, saya adalah bagian dari bangsa yang gagal. Itu realita pribadi.

Maka sejak malam itu, saya bersumpah bahwa akan terus melawan.

Melawan kenyataan, bahwa saya bukanlah bagian dari bangsa yang gagal.

This entry was posted in bangaip, sehari-hari and tagged . Bookmark the permalink.

40 Responses to Bangsa Yang Gagal

  1. Pingback: Marah-marah « Arif Kurniawan as Bangaiptop

  2. aRdho says:

    iya bang. aku juga udah mau ngeblogin itu dari sejak berita itu muncul di detik. rasanya marah. rasanya pengen teriak2:”makan tuh hukum agama!”. tapi entah setiap mau mulai ngetik, tangan ini langsung males. rasa pesimis mulai menggerogoti. apa gunanya aku teriak2 kalo ujung2nya gag ada yg denger.. ato lebih parahnya, ada yg marah dan ngebelain orang2 itu!

    *maap malah jadi ngeblog disini* hehehe

  3. Fortynine says:

    Kenapa terjadi seorang laki-laki yang katanya mengerti agama berusia 43 tahun menikahi anak perempuan berusia 12 tahun?

    Pertanyaan yang serupa tapi tak sama oleh saya, “Kenapa terjadi seorang laki-laki yang katanya mengerti agama berusia sekian puluh tahun malahan marah marah ketika gajinya dipotong karena tidak masuk dengan alasan cuti? Padahal memang sudah peraturannya bahwasanya cuti, akan membuat gaji mengkerut”

    Rupanya, agama memang bukan solusi untuk bisa jadi orang yang damai dan penyabar, khususnya di Indonesia mungkin. Ah, sebuah kesimpulan yang terlalu mentah dan tendensius…

  4. Guh says:

    @Ardho,
    Memang ga akan ada yang denger tulisan anda, tapi saya yakin yang membaca banyak. Ide2 yang anda tulis pasti menyebar dan sedikit banyak ikut mempengaruhi dunia. Ga usah pake alasan pesimis lah:-P

    @49,
    Agama memang sudah gagal menciptakan manusia yang lebih beradab, pendidikan yang kita miliki di indonesia juga belum berhasil melakukannya, dan malah dibikin semakin tak bermutu dengan terlalu banyak memasukkan unsur agama. Lihat bagaimana sejak belia anak2 sudah diajari untuk “merasa lebih suci dan berhak mengkafirkan orang lain”.

    @Bangaip,
    Orang bijak bilang, Gelisah itu menandakan bahwa seorang manusia masih hidup, hidup pikirannya, hidup hatinya. Jadi selamat merayakan kehidupan Bang, salam Perlawanan 😉

  5. Kgeddoe says:

    @ Bangaip

    Yang ada di kepala saya juga persis itu, arak-arakan orang tua si “gadis”, penghulu, dan rombongan, yang berseri-seri di “hari bahagia”. Terlalu surreal, saya jadi berkunang-kunang. Saya tidak habis pikir, kok yang seperti ini bisa terjadi (dan dibiarkan, bahkan direstui) di abad ke-21.

    Tapi kalau mau mencari hikmah, walau sebutir, ialah bahwa mungkin dengan insiden seperti itu, umat yang bersangkutan (ya, itu, hanya satu umat bukan?) mau membenahi ajaran yang diimaninya. Bersedia melakukan inspeksi dan reinterpretasi dengan lapang dada.

    @ Guh

    Hahaha, yang ini juga budaya impor, ya, Masbro? :)

  6. Cilaka benar tuh Kyai Syech Pujiono.
    Jadi bertanya tanya apakah kita memiliki UU Perlindungan Anak yang mengatur batas minimum usia menikah ? Malah di KUHP disebut orang disebut dewasa atau bisa bertindak atas nama hukum, jika diatas 18 tahun atau sudah menikah…Jadi walau umur 12 tahun sudah menikah dianggap dewawa secara otomatis ??
    Lebih cilaka lagi si syech ini sudah mengijon 2 anak lagi dibawah usia 9 tahun, untuk siap siap dipanen dalam waktu dekat. Nunggu mens dulu katanya.
    Jadi bertanya kemana hamba wet,polisi, Kak Seto,ulama, kenapa tidak ada suaranya ?? tentu saja takut karena dengan mudahnya digayang sebagai anti agama, anti Islam dan tidak menghayati syariat.

  7. silakan baca dulu artikel berikut, mungkin bisa ‘menenangkan’ (tergantung sudut pandang siapa dulu) 😉
    http://tausyiah275.blogsome.com/2008/10/25/maksud-hati-ingin-mencontoh-rasululloh-saw-tapi-ternyata-salah/

  8. KiMi says:

    Arrrggghhh… Saya tidak bisa membayangkan seandainya saya adalah anak gadis yang berusia 12 tahun tersebut. Ingin menangis, siapa yang mau memberikan bahunya? Ingin teriak marah, siapa yang peduli?

    Kalau saya anak gadis tsb, rasa-rasanya saya tidak akan pernah memaafkan orangtua saya seperti halnya Nyai Ontosoroh…

  9. Yogie says:

    Bisa jadi si anak di paksa sama orangtuanya
    soalnya si kiai khan tajir abis..

    bisa jadi dengan menikahnya anak mereka, maka derajat sosial keluarga juga ikut naik.

  10. itikkecil says:

    saya belum punya anak bang…. tapi saya tidak bisa membayangkan kalau ada anak kecil yang harus menikah di usia semuda itu….

  11. Mardun says:

    wah padahal media massa lokal justru memberikan porsi tersendiri untuk mengulas “keajaiban sang istri”. Media massa lokal justru memandang “hajad” sang kyai tersebut sebagai sebuah terobosan……

    untung saja saya belum dinikahkan waktu usia 12 tahun 😛

  12. lh- says:

    iya bang,,,sayah jg ngga abis pikir…ada orang tua yg macam gitu (orangtua gila syahwat ; orang tua gila ‘karat’) wahai putri2 ku nan-cantik. berdo’alah semoga orang tua mu ini tidak sampai jual kamu yg masih belia demi harta/tahta… Mama jg berdo’a smoga iman&mental kalian juga kuat,,,, kecil2 ngga kegoda sama om2 idung belang…

  13. Ahem.

    Katanya ada orang yang sudah hapal isi Al-Qur’an tetapi dia belum masuk kedalam agama Islam, acho…

    Sehingga yang nampaknya absolut bisa jadi menjadi kebohongan paling salah di dunia ini. Tho…anggap saja ilmu agama tadi sebagai pelengkap hidup yang tak terpakai. Dan gelar ustad itu hanya hiasan jidat.

    Bisa pula kita anggap perilaku pedofil itu sebagai tindakan paling benar di agama, toh kita tidak akan pernah tahu siapa yang akhirnye kena dzab. 😉

  14. Karena ada landasan hukum agama yang membenarkan hal tersebut. Moral pun terkalahkan…

    Hiks…

  15. titiw says:

    Ok lah, kalau dia bilang dia mencontoh Rasulullah (yg katanya juga belum tentu bener). Tapi.. apa dia gak punya hati? Di mana2 tuh hati pasti bicara.. Ih dengernya aja saya ngilu banget. Pake jiji. Pake geli. Pake jijay. Pokoknya semua yang nista2. OMG bang, umur 7 tahun itu saya lagi di depan rumah beli cincau sambil ingusan!! Iiiihhhh….

  16. saya aja yang cowok juga serem kalo ngeliat jenggotnya seh puji, bang. kok bisa2nya anak gadis sekecil itu nggak serem? doktrin model mana yang dikasih sama orang tuanya? kasian…yang namanya anak2 kan cenderung nurut dan jarang bisa milih sendiri

  17. fritzter says:

    Eh, saya liat dia punya BMW Z3.
    Ada yang tau, utk ukuran konglo indonesia, mobil itu masuk rating no.berapa?

  18. erander says:

    Bang Aip .. saya tahu, kenapa bang Aip yang sekarang sudah bisa mengendalikan amarah tiba² bisa ‘meledak’ demi membaca berita phedophilia dan menyatakan negara ini sudah gagal.

    Btw .. anaknya bang Aip, cowo apa cewe? .. kalo cewe, pasti ada rasa kekawatiran yang lebih besar. Sebagai orang tua, naluri kita akan melindungi anaknya. Nah, kalo sampai ada orang tua yang malah membiarkan anaknya, tentu menjadi keresahan buat kita sebagai orang tua ya bang.

    Kalo anak kita cowo, kita juga kawatir jangan² setelah anak kita besar, dia akan mendapatkan contoh untuk melakukan phedophilia. Jadi, wajar kalo kemudian kita merasa perlu bersuara, agar tidak terjadi imbas kemasa depan.

    Apapun bang .. perilaku ini tidak saja terjadi di Indonesia bang. Dapat terjadi disemua bangsa. Hanya saja, disini, pelaku itu mengatasnamakan ‘agama’ untuk melegitimasi tindakannya agar tidak tersentuh hukum bang.

    Ya sudah, yang pasti saat ini kita sedang memperingati 80 tahun sumpah pemuda bang *halah* sekalian promosi dah.

  19. scouteng says:

    wah kalo semuanya gak habis pikir, saya justri udah habis pikir, bingung mikir apa lagi, habis deh pikiran gue..
    mungkin benar ada hukum agam, tapi yang saya tau, –terutama di agama saya islam– ada hukum yang melarang ummatnya melanggar hukum negaranya.. nah apa pak kiyai itu gak tau hukum negara ya, mungkin aja dia gak tau, kan kalo gak tau terus melanggar gak dosa.. :) ebak ya dia kalo gak tau..

  20. sufehmi says:

    Hehe… jadi ingat waktu diskusi soal umur pernikahan Aisyah ra dengan Nabi Muhammad saw. Kawan saya, Stephen, nyeletuk : “Nenek saya menikah umur 13 tahun. Dan kakek saya tidak diciduk sebagai pedofil”.
    .
    Jadi speechless saya :) cuma bisa mengangguk-angguk seperti boneka dakochan, hehe
    .
    Lalu coba browsing2 lagi, nenek Sylvester Stallone menikah pada umur 11 tahun.
    .
    Dan ternyata memang trendnya demikian. Selama ribuan tahun, sampai awal 1990-an, pernikahan dengan mempelai wanita berumur sekitar 12 tahun itu wajar.
    .
    Malah di Amerika, sampai sekitar 1950-an, mempelai wanita berumur 15 tahun itu masih wajar. Mempelai prianya berumur 19 tahun — dan karirnya sudah sukses; punya mobil, rumah. Kita? Saya? Umur segitu masih asyik main game di komputer, hehehe.
    .
    Diskusi ini juga muncul di milis Telematika. Disitu bahasannya sudah jauh lebih komprehensif. Kawan saya yang Nasrani nyeletuk, “pedofil itu adalah jika melibatkan anak yang belum dewasa secara biologis. Yak, silakan lanjut lagi diskusinya”, kira2 demikian.
    .
    Intinya — not everything is as it seems. Yah biasa, media kan harus jualan. Oplah harus tercapai. Kalau tidak, bisa gulung tikar.

  21. sufehmi says:

    btw; saya sendiri tidak akan mengizinkan anak saya menikah pada umur 12 tahun. Masalahnya, lingkungan mereka saat ini mendorong anak2 untuk tidak menjadi dewasa secara mental :(
    Hasilnya ya bisa kita lihat sendiri, kadang umur sudah 40 tahun tapi kelakuannya lebih kekanak-kanakan daripada anak-anak saya, he he.
    .
    (ngiri berat euy baca cerita teenager marriage di Amrik yg saya tulis sendiri diatas)

  22. Wijaya says:

    Setau saya, semua agama yg resmi diakui di indonesia adalah IMPOR. Kenapa kita harus repot utk arabisasi, kristenisasi atau apalah itu, menjadi sesuatu yg harus diterapkan tanpa pandang bulu?
    Mengambil pembenaran atas tindakan yang mengiris hati nurani dengan menggunakan agama.
    Kenapa sih, kita tidak bangga menjadi INDONESIA, dengan segala ragam identitas, budaya-seni yang kita miliki?
    Kenapa kita menjadi bangsa yang minder, yang melihat budaya orang lain adalah lebih bagus? (Inferioritas complex?)

    Ngawinin anak umur 12 tahun? Ih, dimana sih nuraninya?
    Memahami agama secara membabi buta?
    Menurut saya, ajaran agama hendaknya dikomunikasikan dengan rasio (yang sehat), sehingga dapat dipilah, mana yang bisa dan sesuai utuk saat ini, mana yang konteksnya jaman purba itu….

    @bang Arip : Kok tulisan berikutnya tdk nongol di inbox saya yah…?
    @Guh : saya jadi suka tulisan situ, tadi barusan mampir…
    @Mbelgedez : saya akan rajin2 mampir dah, mbah…

    Pengelana.

  23. Wijaya says:

    Bang arip, kayaknya hampir sama deh. Setelah punya anak (perempuan), saya juga tidak senekat kayak dulu. Jadi lebih hati-hati dalam segala hal, he he he….

  24. AL says:

    Hebat banget Puji, cuma gara-gara dia satu bangsa yang kena dibilang gagal.
    Bagi masyarakat, itu gak masalah. Toh di Indramayu anak-anak perempuan begitu remaja dijaiin pelacur buat ngasih duit ortunya.Umur segitu, lumrah menikah apalagi sama orang yang kaya. Kondisi apa? Kemiskinan dan kebodohan.
    Gak perduli pro dan kontra.
    Gak mau jadi bagian bangsa yang katanya gagal itu.
    Ya gak usah balik ke sini gak usah ngaku-ngaku orang indonesia, gampang kan..
    Apa sih gunanya marah-marah?

  25. bsw says:

    @Pak Sufehmi,
    Coba anak Bapak disekolahin di pesantrennya Syekh Puji deh, siapa tahu anak bapak akan ada dilingkungan yg membuat mereka dewasa secara mental. Mungkin dalam beberapa tahun Bapak akan menerima pinangan dari Syekh Puji.

    O iya, kok jadi ada kalimat “Intinya — not everything is as it seems. Yah biasa, media kan harus jualan. Oplah harus tercapai. Kalau tidak, bisa gulung tikar”?

    Siapapun yg memberitakan Syekh Puji menikah dengan anak umur 12 tahun, reaksi kebanyakan kita akan sama saja, tidak peduli itu Kompas, Republika atau Sabili sekalipun…..

  26. bsw says:

    @ Mbak Alifia,
    Kalo menurut saya Bang Arif itu marah-marahnya positif. Coba baca lagi deh, termasuk tulisan2 tulisan lamanya dia di blog yg wordpress gratisan.
    Arif (he..he, nggak pake Bang) ini pernah kok cerita soal keprihatinannya soal pelacuran anak2 di daerah Pantura sana.
    Kalo saya baca tulisan Arif ini, saya justru merasa cinta dia pada bangsa ini lebih dari kebanyakan orang yg saya kenal.
    Kenapa? karena dia peduli….
    Kalo mbak Alif baca blognya dia, mbak akan tahu kalo dia adalah seorang “guru” juga, bahkan dia pernah jadi guru buat anak2 jalanan.

    Eh iya, saya kenal Arif juga cuma lewat tulisan loh, jadi saya bukan “antek”-nya dia :-)

  27. rina says:

    salam kenal Bang Arif,

    saya tahu Abang dari web-nya Indonesia Act.
    Awalnya saya mengira Abang adalah sso yang berpotensi menjadi pelaku KDRT, tapi ternyata ada kelembutan hati di balik cerita awal yang nampak serem.

  28. sufehmi says:

    Siapapun yg memberitakan Syekh Puji menikah dengan anak umur 12 tahun, reaksi kebanyakan kita akan sama saja, tidak peduli itu Kompas, Republika atau Sabili sekalipun
    .
    Hehehe.. jangan sok tahu gitu ah :)
    Satu contoh nih :
    .
    Pernah kejadian ada gerombolam preman yang meresahkan masyarakat. Ketika mengetahui soal tersebut, FPI kemudian bergerak dan memburu para preman tersebut. Terjadi keributan antara preman & FPI, yang di”menang”kan oleh FPI.
    .
    Tahu apa headline koran keesokan harinya?
    .
    “FPI menganiaya warga”.
    .
    Sedaaapppp…. 😀
    .
    Jika Anda berkomentar “lho tetap saja kekerasan itu tidak benar”, well you’re missing the point in the story.

  29. aryf says:

    melawan sifat kekanak2an yg dilakukan oleh mereka2 yg ngaku2 rohaniwan, adalah sikap pejuang yg sgt benci pd kemunafikan.
    kemunafikan emang sering dijadikan tameng kewajaran dan mengatasnamakan kebenaran.

    dasar preman, berbalutkan surban, rambut ubanan, sebentar lagi pakai kain kafan tp ga ada kemaluan dan ga tau jaga kehormatan.
    usia saja yg tua dan jenggotan, tp perilaku g pernah menunjukkan kedewasaan.
    suka menyebar kebohongan, menebar kerusuhan dan berbuat keonaran, tp malah nuduh org lain setan.

    emangnya g bosan hdp dlm peperangan, pgn ngerasain kesengsaraan?
    klo hobinya kekerasan dan suka penjajahan, merdeka pastinya hanya angan2.

  30. aryf says:

    geram hati ini melihat penindasan atas nama kekuaaan.
    miris hati ini melihat keangkuahan atas nama kebenaran.

    lawan, lawan dan lawan segala bentuk kezaliman atas nama agama!
    sekecil apapun perlawanan itu, tidak akan pernah sia-sia.

    …lawan Mode selalu On

  31. bsw says:

    @Sufehmi
    Untuk bapak ketahui, saya kebetulan lagi dipedalaman Kalimantan, yg walaupun ada akses internet (via satelit) tapi tetap saja terbatas.
    Begitu juga informasi ttg Syekh Puji ini, saya terima pertama kali juga cuma berupa informasi berupa:
    “Syekh Puji (yg saya tahu memberikan zakat 1,3 milyar saat Ramadhan dulu) menikahi anak perempuan 12 tahun”.
    Itu saja Pak, tapi reaksi saya tetap saja sama: Marah !!
    Kenapa? Karena:
    – Anak yg dinikashinya itu baru berumur 12 tahun.
    – Syekh Puji adalah seorang ulama pemimpin pesantren
    – Kejadiannya bukan di tempat terpencil yg susah akses kemana-mana (malah dekat sekali dengan Semarang)
    – Ini tahun 2008

    Kira-kira, bentuk berita seperti apa yg akan membuat saya tidak marah ketika menerima kabar ttg Syekh Puji ini?

    O iya, sudah ada rencana menyekolahkan anak anda di Pesantrennya Syekh Puji? Siapa tahu anak anda akan dewasa secara mental di sana, dan anda jadi tidak punya masalah ketika Syekh Puji meminang anak anda.
    Salam

  32. bsw says:

    @Arif,
    Maaf banget ya? Situ ndak kenal saya, tapi saya malah berpanjang-panjang komentar di sini.
    Saya kerja di tempat yg sulit buat punya blog yg bisa saya “up date” secara regular, jadilah saya “siluman blog” spt sekarang ini. Sekali lagi maaf ya?
    Salam

  33. sufehmi says:

    Begitu juga informasi ttg Syekh Puji ini, saya terima pertama kali juga cuma berupa informasi berupa:
    “Syekh Puji (yg saya tahu memberikan zakat 1,3 milyar saat Ramadhan dulu) menikahi anak perempuan 12 tahun”.

    .
    Hehe… Anda baru terima berita secuil saja, langsung sudah memvonis dan menuduh orang lain ? :)
    .
    Saya rekomendasikan Anda membaca tulisan yang bagus ini : Age of Ignorance
    .
    Dikutip :
    .
    Orang itu datang ke teritori pribadi saya, berbekal asumsi yang ia rakit dari info sepotong, kemudian dengan gagah berani mengusung panji kebenarannya sendiri. Persis prinsip orang main hakim sendiri, tanpa ba-bi-bu merajam sang tersangka tanpa perlu memproses lebih lanjut. Senjatanya bukan batu, melainkan kata-kata.
    .
    Kalau Anda masih tidak percaya dengan kemampuan media massa dalam mendistorsi fakta, silahkan baca posting ini. Dijamin Anda akan terpingkal-pingkal & tercerahkan di akhir artikel tsb :)

  34. sufehmi says:

    Kira-kira, bentuk berita seperti apa yg akan membuat saya tidak marah ketika menerima kabar ttg Syekh Puji ini?
    .
    Mungkin kalau Anda tahu konteks & cerita selengkapnya.
    .
    Atau kalau Anda bertemu dengan mereka dan mengklarifikasi sendiri kejadian sebenarnya.
    .
    Anyway, masyarakat kita kadang terlalu arogan. Mereka buat standar moral sendiri, lalu mereka siksa orang-orang yang melanggar standar tersebut. Padahal standar yang sebelumnya malah kontradiksi dengan yang baru ini. Dan mereka sendiri melakukan yang sekarang mereka larang itu.
    .
    Syekh Puji bisa saja sebetulnya adalah psikopat. Atau, bisa saja dia ternyata ada niat yang baik dan tulus. Kita tidak tahu.
    Yang kita tahu cuma informasi dari media massa, yang sangat memprovokasi emosi. Bukan fokus ke fakta. Bukan juga ke cerita selengkapnya.
    .
    Kalau kita tega menghakimi orang lain dari informasi secuil ini, berarti kita sudah terjerumus.
    Kalau mau menghakimi orang lain, HARUS adil. Cari dulu informasi selengkapnya. Lihat situasinya. Jernihkan hati dari emosi.
    .
    Baru kemudian jatuhkan keputusan & vonis Anda.
    .
    Kalau tidak sanggup, lebih baik diam dan menyerahkan soal ini kepada yang sanggup / berwenang. Daripada kita malah ikut membuat situasinya menjadi semakin keruh.
    .
    Saya sendiri tidak setuju dengan tindakan Syekh Puji ini. Tapi daripada menzalimi orang lain, saya lebih pilih berusaha untuk berbuat adil.

  35. Mr.Nunusaku says:

    Mengapa orang yang mengerti agamanya islam Muhammad, beranikahi anak umur 12 tahun sedangkan dia sudan sedikit kakek…?
    Jawabannya ialah, karena dia adalah pengikut nabi Muhammad karena dia dalam ajaran sunnah nabi Muhammad yang telah memberikan telada yang mulia, kan Muhammad juga telah nikahi anak kecil umur 9 tahun Aisha.

    Teladan nabi ini telah menjadi teladan bagi Syeik Puji untuk menikahi Ulfa kan tidak ada salahnya, Kalau nabi cabul Muhammad bisa lakukan, apa bedanya dengan Syeik Puji dengan Ulfa.

    Kata pepatah mengatakan: Jika Muhammad kencil berdiri, Syeik Puji kencing berlari…yang terpenting sunnah nabi harus diamalkan.

    Inilah ajaran yang paling mulia dari islam bisa poligami setelah puas dan merasa istri pertama gak mampu lagi melayani suami, beri talak 3 cari lagi yang baru…ini namanya pelacuran dalam muslim melalui poligami.

    -0-
    Sebaiknya dibaca lebih lanjut tulisan saya dengan baik. Ini tulisan berhubungan dengan aktifitas vertikal warga negara dengan negara melalui perangkat bernama undang-undang.

    Sama sekali tidak ada hubungannya dengan Muhammad, atau Najib Ali, atau Mbah Jambrong, Dukun AS atau siapa saja pula yang anda maksud.

    Saya memberanikan anda memberi komentar yang dapat membuat masukan agar kejadian pernikahan Puji ini tidak terulang. Sayang sekali komentar anda saat ini berbau kental islamophobi. Dan sebagaimana phobi-phobi yang lainnya, hanya pengecutlah yang memilikinya.

  36. Mr.Nunusaku says:

    Saya Nunusaku,mohon maaf yang sebesar2nya kepada seluruh umat Islam Diseluruh Dunia.
    Sebenarnya saya gembar gembor,menjelekkan Agama Islam Cuma pendapat sisi buruk & laknatnya saya.sungguh saya bersumpah,sebenarnya saya sangat mengagumi Islam,juga sangat meyakini kebenaran Agama Islam.
    Saya percaya seyakin2nya,Nabi Muhammad SAW,Adalah Manusia terbaik didunia,dan Agama Islam Adalah agama Yang saya yakini sampai saat ini.walau saya pake embel2 agama lain saat ini.
    Abaikan semua Perkataan buruk saya mengenai Agama Islam,karena saya yakin Islam Adalah Agama terbaik.
    Saya manusia yang bejad,laknat,semoga Allah SWT memberikan ampunannya pada Hamba.serta memberikan kekekalan Ayat2 Suci Al-Quran,serta Agama Islam Yang baik & kebenaran yang Hakiki.
    Hati Nurani Umat muslim,yang sebenarnya sangat meyakini Kebenaran ISLAM.
    Ini saya buat dengan sungguh2,bila suatu saat saya menyombongkan diri lagi & menghina Agama Islam jangan dipercaya & terkutuklah saya,karena kami yang menghina Agama Islam hanyalah Orang2 kafir yang iri atas kebesaran & kekuatan Agama ISLAM yang sangat kekal.
    Bila saya membuat tulisan/komentar lagi yang MENYANGKAL,tulisan komentar saya ini ABAIKAN itu hanya Provokasi Semata.
    Ingat saya hanya membuat suasana seru aja,biar banyak yang komentar.
    Tetapi Sejatinya Saya Sangat meyakini & mengagumi Agama ISLAM.
    ABAIKAN KOMENTAR SAYA YANG LAIN…
    ini yang sebenar2nya,dari hati nurani saya..
    Salam.

    –0–
    Mr Nunusaku / Nia Cakeb: Silahkan saja promosi diri / reliji / apapun yang anda percayai disini. Saran saya, lain kali kalau mau monolog akan lebih meyakinkan apabila IP address nya agak berbeda sedikit dengan tenggat waktu yang beda pula :) dan akan lebih baik jika diskusi terarah pada topik

  37. Nia cakeb says:

    Mr.Nunusaku ternyata moifmu dari semua komentarmu seperti itu too…alasannya.memprovokasi agar seru komen nya.tapi semua itu salah & ngak baik,karena bisa timbul salah paham antar umat beragama.
    Saya juga Nasrani,tapi semua agama baik,bila diyakini dengan penuh keteguhan.karena dalam klrgaku ada beberapa agama.Ayahku Khatolik,Ibuku Krinsten.aku ikut agama Ibuku Kristen,tapi kakakku menjadi mualaf dari Nasrani ke Islam.tapi kami sekluarga saling menghormati & menghargai satu sama lainnya,ngak saling menjatuhkan.
    Jadi intinya semua Agama itu Baik,tinggal bagaimana penganut Individunya seperti kita.
    Jadi hentikan Provokasi antar Agama,Tuhan YESUS juga tidak mengajarkan provokasi antar umat Agama kan…kita sebagai nasrani harus bersikap lembut juga seperti YESUS.
    Buat semua Agama didunia khususnya Di Indonesia,mari saling menghargai keyakinan kita masing2,jangan saling Provokasi.
    Saya harapkan semua agama saling bersanding dengan rukun.
    Oya..lebih baik kita sama2 juga menyebarkan pengakuan Mr.Nunusaku,agar tidak timbul salah paham.Jika suatu saat muncul orang2 yang memprovokasi Antar agama & bangsa dengan alasan apapun.seperti Mr.Nunusaku,agar tidak dipahami & percaya,karena semua itu hanya Tipu daya.Smg Mr.Nunusaku & orang sejenisnya(maaf prokator)bisa dimusnahkan & sadar kembali kejalan yang baik.amien..semoga Tuhan YESUS memberkati.

    –0–
    Mr Nunusaku / Nia Cakeb: Silahkan saja promosi diri / reliji / apapun yang anda percayai disini. Saran saya, lain kali kalau mau monolog akan lebih meyakinkan apabila IP address nya agak berbeda sedikit dengan tenggat waktu yang beda pula :) dan akan lebih baik jika diskusi terarah pada topik

  38. Noba says:

    saya rasa itu tinggal pilihan dari tuan puji sendiri. yang nikah kan dia, untung bukan calon anak saya (maaf bang, wa belum kawin).

    saya sendiri tidak bisa komentar apa2 tentang itu karena saya tidak tahu kondisi ekonomi mereka disana dan saya rasa saya belum pantas berkomentar karena saya masih pemuda juga.

    tapi saya setuju dengan bang arip mengenai bangsa yang gagal. saya rasa, kejadian itu mungkin akan sangat memerihkan hati para pejuang kita yang dulu. entah kenapa bangsa yang mereka tebus dengan darah dan nyawa, membiarkan tindak, maaf, kurang berkenan yang marak dilakukan di zaman penjajahan kita dulu.

    ayah saya selalu berkata pada saya “nak, hidup kami dulu susah, tapi kami bersedia hidup susah agar kami bisa memberikan masa depan yang lebih baik pada kalian.” ibu saya juga akan mendukung perkataan ayah saya dengan berkata
    “tak usah membalas pengorbanan kami, buatlah hal yang sama pada anakmu nanti” setelah tanya-tanya pada saudara, ternyata perkataan yang sama juga dikatakan oleh kakeknya pada dia dan semenjak itu prinsip saya adalah,

    “manusia (pria/wanita) yang tidak bersedia berkorban bagi anaknya, adalah manusia yang gagal.”

    @sufehmi
    buat mas sufehmi. argumen teman anda benar, tapi ada baiknya kalau kita mau menyamakan keadaan begitu, akan lebih baik kalau kita memperhitungkan faktor keadaan sosial dan ekonomi, ingat tahun 1950 itu jaman baby boomer dan pasca perang WWII. banyak pensiunan tentara yang kehilangan pekerjaan dan pabrik pembuat senjata yang bangkrut. otomatis di keadaan begitu, kita bisa menyimpulkan keadaan mereka seperti apa (silakan bayangkan sendiri hehehe)

    makanya saya tidak bisa menerima argumennya seperti itu karena faktor penunjang argumen tersebut belum jelas kemiripannya sehingga belum bisa diterima.

    note:
    oh orangnya sama toch bang arip? oh iya bang, kagak nulis novel? kalo ada bilang yach.

  39. sufehmi says:

    Halo mas @Noba, di kampung2 kita sendiri masih banyak lho kasus nikah muda seperti ini :) dan itu dianggap biasa saja.

    Dan, contoh2 yang saya sebutkan itu terjadi di daerah pedesaan Inggris / Amerika, ada juga yang di awal 1900, jadi hipotesa Anda juga tidak terlalu pas.

    Situasi sosial di kota & di desa memang berbeda mas. Satu suku ke suku yg lain. Satu pulau ke pulau yang lain. Dst.
    Kita tidak bisa sama ratakan begitu saja dengan mudah.
    Dan, mereka belum tentu tahu hukum yg mengatur pernikahan di NKRI ini.

    Apalagi sampai menghakimi, hanya dengan sedikit informasi yang belum tentu lengkap / bebas bias.
    Itu saja intinya.

    Anyway, kembali ke kasus Puji — kalau ternyata memang ada unsur eksploitasi anak dan/atau pelanggaran hukum oleh Puji, saya amat dukung agar dia mendapatkan ganjaran yang semestinya.
    Keadilan musti ditegakkan.

Leave a Reply