Coleshill

Setiap hari, saya luangkan waktu 15 menit untuk menulis. Iya saya sadar, itu tidak banyak. Dibandingkan waktu 20 jam sehari yang dipakai untuk mengurus pekerjaan hingga mengurus keluarga, 15 menit memang bukan apa-apa.

Dulu, waktu masih merokok, 15 menit saya pakai untuk merokok. Tentu saja sambil minum kopi panas. Nikmat sekali.

Sekarang, setelah tidak lagi merokok, pelampiasannya yaa… Itu… Menulis itu. Hehe.

Hari ini tumben saya membahas soal tulisan. Sebab tiba-tiba terkagum-kagum ketika para blogger, para penulis lepas maya. Mereka berhasil menggandeng sebuah Kedutaan Besar Asing sebagai sponsor hajat mereka. Pesta Blogger.

Lepas dari pro kontra pesta blogger. Saya memang terkagum-kagum dengan para blogger ini. Apalagi para blogger yang menulis tanpa imbalan apa-apa selain berbagi informasi.

Sebab di beberapa negara Eropa, menulis blog ituย  sudah menjadi pekerjaan. Dibayar secara profesional. Jadi pekerjaan utama. Sama seperti jaksa, guru atau polisi.

Beberapa tahun lalu, saya sedang mencoba menulis rancang tulisan untuk blog. Tulisannya sendiri yaa tulisan biasa saja. Tidak terlalu istimewa.

Di belakang saya, ada seorang wartawan. Mengintip melalui bahu. Iya, dia mengintip baca tulisan yang sedang saya buat.

Tiba-tiba ia tertawa.

Wah, dalam hati, saya bangga juga. Tulisan yang sedang di ketik ini, mendapat reaksi. Itu pula dari seorang wartawan terkenal. Ahlinya ahli dalam menulis.

Hidung saya kembang kempis. Bangga euy.

Saya tanya, “Hehe, iya nih Pak. Ini sedikit cerita dari kampung saya. Kata orang-orang, cerita kampung saya Cilincing, menarik”

Dia tambah ketawa, “Goblook… Goblook… Gue nggak ngetawain tulisan luh. Guoblok. Gua ngetawain cara nulis luh. Mana ada setelah titik kalimat sambung!”

Saya diam. Malu.

“Kalo luh mau nulis. Belajar dulu bahasa Indonesia. Bikin malu gue aja luh. Jangan sebut nama gua yaah di blog lo. Malu gua nanti. Begaul ama penulis jejadian”

Saya tambah diam, dipanggil penulis jejadian. Yaah dalam hati sabar saja lah.ย  Namun tetap memenuhi janji, hingga kini pun namanya tidak saya sebut di blog.

Waktu itu, menulis melalui blog memang masih rentan. Banyak orang, terutama para teman-teman saya yang bekerja di media cetak meragukan keabsahan tulisan blog. Katanya, yang nulis itu pengangguran. Sebab kata mereka, “mana ada orang mau menulis tidak dibayar?”

Saya sadar diri, waktu dikritik seperti itu.

Dalam hati, timbul rasa rendah diri. Bahkan sempat mengutuk diri sendiri, yang ketika pelajaran bahasa Indonesia kala SMA, duduk di pojok jadi bandar judi.

Pelan-pelan saya belajar menulis sejak saat itu. Untuk mengikis rasa rendah diri ketika di hina seorang wartawan.

Saya sadar diri, tidak menguasai bahasa. Jangankan bahasa asing, bahasa Indonesia saya pun tidak bagus. Maklum saja, ibu saya orang Cilincing, desa pinggiran utara Jakarta. Orang kampung. Maka lidah saya pun ikut-ikutan lidah kampung.

Cara berbahasa saya, ikut kampungan. Setelah titik, banyak kalimat sambung.

Tapi saya terus menulis.

Setiap malam, 15 menit saya habiskan untuk menulis. 45 menit, untuk membaca. Sayangnya, saya tidak hanya membaca pelajaran berbahasa Indonesia yang baik dan benar. Saya membaca apa saja.

Jadi, maaf kalau bahasa yang disampaikan banyak yang kurang bagus berdasarkan kaidah berbahasa Indonesia.

Ketika saya berjalan-jalan blogwalking, terkagum-kagumlah saya membaca tulisan banyak rekan-rekan penulis blog Indonesia.

Banyak tulisan mereka, menggerakkan hati saya. Untuk berbuat lebih baik pada sesama manusia. Maupun berbuat baik pada non-manusia, seperti alam dan binatang.

Mereka, yang dituduh penulis jejadian itu, nampaknya berusaha keras memperbaiki kondisi negerinya. Melalui tulisan blog tentunya. Sebuah media alternatif penyampaian pada publik.

Mereka, yang dulu dipandang sebelah mata, sekarang punya hajat yang mampu disponsori Kedutaan Besar Asing negara besar dan maju.

Namun, kalau anda bingung, apa sebenarnya maksud tujuan tulisan ini. Jangan lah bingung maupun gundah gulana. Saya tidak pro atau kontra hajat para blogger.

Saya menulis untuk menasihati diri sendiri. Dan sama sekali tidak berminat menggurui anda. Apalagi bagi-bagi moral.

Moral saya tidak banyak. Dan tidak berminat untuk saya bagi-bagi. Maka itu, daripada bagi moral, mendingan saya bagi cerita dah. Hehe.

Begini ceritanya;

Beberapa sore di musim lalu, saya duduk di mobil di sebuah perjalanan yang menghubungkan Birmingham dengan daerah-daerah lainnya. Saya duduk di belakang mobil. Letih, pulang kerja. (*Maklum, saya kuli. Pulang kerja kecapekan, hehe*)

Supir, rekan kerja saya, orang Coleshill. Maka, ketika turun dari tol M6, kami mampir ke kampungnya itu, Coleshill (*nama kampungnya aneh sekali yaa? Lebih aneh dari kampung saya, Cilincing*)

Dia, sebagaimana orang Coleshill lainnya punya tradisi minum di pub setelah pulang kerja. Dan saya pun, biasanya menghargai tradisi warga lokal. Ikut-ikutan ke pub bersama dia.

Di perjalanan menuju pub, ada bapak-bapak lagi kerja. Tiga orang. Dua diantaranya, berumur kira-kira pertengahan 50 tahunan. Satu lagi, tua banget. Tua bangka. Kira-kira 70 tahun lah.

Mereka bertiga, sedang mencuci jendela di sebuah rumah. Kepayahan. Maklum jendelanya besar. Namun dari seragam dan mobil van yang diparkir di depan tumah yang sedang direnovasi itu, kelihatan bahwa mereka bertiga memang tukang cuci jendela.

Saya tanya Tony, rekan kerja sekaligus supir kami, “Itu udah tua begitu, kok nggak tinggal di panti jompo?”

Tony mengangkat bahu, “Mungkin masih kepingin kerja?”

Saya keheranan, “Kenapa?”

“Masih butuh uang”

“Kalo cuci jendela begitu kan, berapa sih penghasilannya? Cukup buat apa uang segitu?”

Tony menatap saya keheranan, “Jangan angkuh, Rip. Kerja bukan hanya mencari uang saja kan?”

DUG! Dalam hati jantung saya berdegup kencang. Iya, Tony benar. Saya terdengar angkuh dan memang angkuh. Mencoba membandingkan penghasilan saya dengan mereka. Mencoba membandingkan latar belakang ilmu saya (yang padahal tidak ada apa-apanya ini) dengan ilmu mereka.

Sombong sekali saya.

Tiba-tiba saya ingat wartawan yang mengintip dari balik bahu. Sore itu, saya seakan mencoba menggoblok-goblokkan orang lain dengan nada angkuh tanpa perasaan. Saya berubah menjadi dirinya.

Senja di Coleshill berubah warna. Hilang. Berpendaran.

Saya tenggalam dalam keremangan malam dan malu.

Sama seperti saya tenggelam dalam malu dan kebimbangan malam ini. Bertanya hati, apakah akan menerbitkan tulisan ini atau tidak.

3 hari x 15 menit dihabiskan untuk mempublikasikan keangkuhan saya ke penjuru dunia.

This entry was posted in cerita_kerja, sehari-hari and tagged , , . Bookmark the permalink.

16 Responses to Coleshill

  1. Pingback: Jadi-jadian « Arif Kurniawan as Bangaiptop

  2. Well…
    Temen bang Aip nyang wartawan ituh emang ciri khas orang Indon, bang…

    Bukannya membimbing tapi malah mencela….
    ( termasuk sayah… ) ๐Ÿ˜‰

  3. Sky says:

    DUG! tulisan abang yang juga kena ke saya hehe ๐Ÿ˜

  4. bsw says:

    “Kesombongan yang membuat kebaikan”, itu menurut saya…. Dan itu baik menurut saya.

  5. itikkecil says:

    saya juga malu bang aip…. ternyata saya terlalu tinggi menilai diri saya sendiri…

  6. lambrtz says:

    Mana ada setelah titik kalimat sambung!

    Apa yang maksudnya seperti ini?

    “… . Dan kemudian …”

    Kalau iya, walaupun konon katanya tidak termasuk dalam EYD, AFAIK bentuk ini bisa dipakai dalam menulis karya sastra. Saya sendiri kadang memakainya di blog untuk memberi efek penekanan. Buat saya, blog itu bagaikan karya sastra yang ga harus benar secara EYD sih, tidak seperti skripsi ^^

    Keterangan lebih lanjut bisa dilihat di film Finding Forrester. :mrgreen:

    Di sini dan di sini juga ada ding.

    Yah sekedar sharing :)

    BTW waktu saya pindah ke kampus baru, saya juga kaget Bang, banyak karyawannya, yang nyapu lantai, yang ngepel lantai, yang mbersihin jalan, yang jadi penjual maupun kasir di kantin, yang sudah tua. Bahkan ada juga yang kalau dilihat sekilas sudah masuk masa pensiun (nah seperti ini bukan kalimat sambung? ๐Ÿ˜› ). Entahlah, saya belum pernah omong-omongan sama mereka, jadi ga tau alasan mereka.

  7. kepuasan menulis (walau tidak dibayar) memang beda dg wartawan yg nulis demi uang, xixixix… ;))

  8. Mardun says:

    biarpun saya menulis serba gratis (internet numpang, blog di wordpress ๐Ÿ˜› ) dan menghasilkan tulisan-tulisan gak mutu, yang penting tetap berusaha untuk belajar aja. Siapa tahu besok-besok ada yang mau mbayar ๐Ÿ˜›

  9. adipati kademangan says:

    Bekerja, berkarya, menghasilkan, tidak harus dikhususkan untuk mencari uang. Maka jangan menggoblok-goblokkan orang dengan nada angkuh tanpa perasaan ketika hajatan itu mendapatkan sponsor dari Kedutaan Besar Asing negara besar dan maju.
    -Kesimpulan yang saya ambil secara ngawur-

  10. nadin says:

    Buat saya, tulisan abang termasuk tulisan paling enak buat dibaca,
    ternyata ada perjuangannya juga ya…kirain udah jago dari lahir!(jangan seneng dulu ya bang, saya mulai baca blog baru 2 minggu, jadi belum banyak referensinya..kikikikkk…)

    Thanks ya bang.
    Tadinya saya selalu takut kalau nulis di internet, mana kalau nulis lama banget…(lebih lama lagi ngeditnya..tanda bacanya ber”arak”an!)Baca tulisan diatas, jadi semangat lagi.

  11. edratna says:

    Tulisan saya tak berarti apa-apa dibanding tulisan bangaip…tapi saya pengin terus belajar, semoga dalam setiap tulisan ada pesan yang dapat dibagi….walau mungkin menurut orang lain hanya ecek-ecek tak ada artinya.

    Terus menulis bang…saya termasuk menunggu tulisanmu, yang suka menyentil…..namun mencerahkan.

  12. sofianblue says:

    tulisan saya juga nggak sebanding dengan bang aip. tulisan saya masih acak-acakan. bang aip mah top pisan euy!!

    *wah komentar saya mirip ibu edratna. maap.

  13. Saya kok bingung mbaca tulisan Bang Arif yg ini:

    Saya duduk di belakang mobil.

    Maksudnya di bagasi ya?

    Hehehe… sorry, komenku ga fokus.

    -0-
    Hehe, teliti betul Mas Dewo ini.

    Anda benar. Mobilnya jenis semi truk. Semestinya tidak boleh duduk di belakang, di bagian belakang truk. Tapi saya ngeyel. Waktu itu memang cari gara-gara, mau dapat pengalaman di tilang polisi lokal. Pengen tahu aja rasanya ditilang mereka. Biar ada perbandingan dengan polisi di RI.

    Sayangnya, kami tidak ditilang gara-gara kelakuan slebor saya itu. Huehe.

    Kalau ada pembaca disini yang pernah menjajal tol M6, pasti sadar ada yang aneh di kalimat tersebut. Hehe.

  14. sufehmi says:

    Sayangnya, kami tidak ditilang gara-gara kelakuan slebor saya itu. Huehe.
    .
    Iya, saya pernah lihat acara TV berupa berbagai rekaman lucu-lucu dari motorway (jalan tol, tapi gratis) di seluruh UK.
    .
    Sambil terpingkal-pingkal menontonnya, saya baru sadar bahwa seluruh jengkal dari motorway di UK itu di monitor secara aktif. Jadi tidak ada kesempatan kita untuk melakukan pelanggaran !
    .
    Pengalaman pribadi juga membuktikan. Suatu hari saya sedang berjalan di M6 dekat Manchester. Tiba-tiba mobil Porsche di samping saya mulai ngebut. Hehe, ikut ah tancap gas :) coba Toyota Previa diadu dengan Porsche.
    .
    Goblok? Iya :)
    Tapi tujuannya kan iseng, jadi masabodo amat, hahaha
    .
    Tetapi begitu sampai di batas kecepatan, saya tidak lagi menambah kecepatan saya. Porsche tersebut terus ngebut, sampai lenyap dari pandangan saya.
    .
    Tiba-tiba sebuah mobil Jaguar dengan sangat kencang muncul dari belakang sambil membunyikan sirene.
    .
    Sirene? Yup, Jaguar itu mobil polisinya Inggris ๐Ÿ˜€
    Mupeng deh….
    .
    Selang beberapa kilometer di depan, saya lihat mobil Jaguar & Porsche tersebut sedang berhenti di pinggir jalan, dan pak polisinya sedang menilang pengemudi yang nakal tersebut, he he.
    .
    Gila kan, respons polisi motorway terhadap pelanggaran itu bisa dalam hitungan detik/menit :)
    .
    Jadi pertanyaannya, kenapa bangaip tidak kena tilang??
    .
    Teori saya; para polisi di ruang monitor pada tertawa terpingkal-pingkal menyaksikan pemandangan di layar monitor mereka, sampai pada jatuh pingsan kehabisan nafas.
    .
    .
    .
    mm… ya, pasti itu kejadiannya.
    .
    .
    kekeke

    -0-

    Jadi pertanyaannya, kenapa bangaip tidak kena tilang??


    Pak Harry teliti. Ini memang di luar kebiasaan patroli M6. :)

    Kami tidak ditilang karena ada satu manusia Indonesia lagi di bagian belakang mobil, Udin Petot. Dan karena kejadiannya pada saat itu memalukan sekali, terpaksa saya sensor. Hihihi.

  15. Noba says:

    bang aip, makasih yach. saya sadar dari tulisan abang bahwa saya terlalu angkuh en menjaga zona aman saya dari carcian en, semoga nga- semoga nga, makian orang.

    saya sadar kalau nga pernah nulis, cuma bilang ama orang2 hobi nulis, nga akan pernah jadi penulis. makasih atas sharingnya bang. saya akan tulis blog sekarang.

    –0–
    Wah saya senang sekali Noba mulai menulis. Saya bersyukur kalau sekedar sharing ini ada gunanya.

  16. You’ve wrote a very well-written blog post.
    If it’s ok with you, I would like to ask permission to use your article as it relates to my topic. I will be glad to negotiate to pay you or hire you for this.

    With Regards from
    Republic Polytechnic

Leave a Reply