Gatot

Ada tiga gatot yang saya kenal dalam hidup ini. Gatot pertama adalah Om Gatot, almarhum, paman saya. Gatot kedua adalah Muhammada Gatot alias MG (*dibaca Emjie*), teman saya. Gatot ketiga, yaitu Gatotkaca, tokoh rekaan dalam wayang.

Semua Gatot yang saya kenal, punya cerita unik masing-masing. Tapi kali ini, saya hanya mau cerita gatot pertama. Mungkin lain kali, saya cerita gatot-gatot selain itu. Mungkin…

Almarhum Om Gatot, paman saya, dulu semasa hidup bekerja sebagai supir. Jiwanya, memang jiwa supir. Dari sejak muda cita-citanya hanya satu, jadi supir.

Di Bali, sebelum krisis moneter, ia bekerja sebagai supir Tours and Travel. Mengendarai mobil bus kecil untuk mengantar turis ke pelosok-pelosok daerah pariwisata di Bali. Bus nya berjenis L300. Warnanya putih.

Om Gatot ini ramah. Walaupun bahasa inggrisnya pas-pasan tapi turis-turis suka kepadanya. Ia lucu. Turis dari Jepang, Rusia, Korea, Amerika dan mana saja, sering tertawa-tawa apabila mengobrol dengan Om Gatot.

Ia tinggal bersama tante saya dan saudara-saudara sepupu saya di Denpasar. Tidak jauh dari tempat mereka tinggal, ada pool. Tempat mobil-mobil pengantar turis itu diperbaiki maupun sekedar disandarkan, sebagai garasi.

Poolnya lumayan besar. Ada kira kira seratusan mobil disana. Kata Om Gatot, ini mah hanya satu dari belasan pool yang dimiliki perusahaan Tours and Travel itu.

Saya sering diajak Om Gatot ke pool itu. Jangankan ke pool, saya pun sering diajak Om Gatot keliling Bali. Bersama turis-turis yang dibawanya. Asalkan ada kursi yang kosong, saya pun ikut jalan-jalan keliling Bali.

Tentu saja gratis.

Ini nepotisme, hehe.

Pulang dari jalan-jalan keliling Bali, saya ikut bersama Om Gatot ke pool bis Tours and Travel tempat ia menyandarkan kendaraan pencari nafkahnya. Disana, saya mencuci mobil L300 yang dipakai berkeliling Bali oleh kami.

Tentu saja ini gratis. Alias tidak dibayar.

Lagi-lagi… Ini nepotisme, hehe.

Suatu hari, ketika sedang mencuci mobil, ada bapak-bapak pakai kaus singlet dan celana pendek datang. Ia mengendarai sepeda mini. Sepeda yang sering dipakai ibu-ibu untuk belanja ke pasar.

Sepeda mini itu dilengkapi keranjang di setangnya. Dalam keranjang, ada bungkusan plastik berwarna hitam.

Om Gatot menghampiri bapak itu sambil tersenyum. Tangannya merogoh otomatis ke kantung plastik hitam dalam keranjang. Ternyata isinya rokok Dji Sam Soe, rokok kegemarannya. Teman-teman Om Gatot juga menghampiri bapak dan keranjangnya tersebut. Ikutan mengambil rokok.

Di dalam keranjang ternyata bukan hanya rokok kretek, Dji Sam Soe. Melainkan juga rokok-rokok dengan berbagai merek lainnya.

Dalam hati saya berfikir, si bapak tukang rokok ini idenya bagus juga tuh. Istilah pemasarannya, jemput bola. Langsung menuju sasaran. Menjual langsung pada perokok.

Saya waktu itu masih merokok. Dan kepinginnya minta ampun. Maksudnya, juga ingin merokok. Tapi karena bokek, tidak punya uang, yaa diam saja. Malu.

Tiba-tiba, si bapak tukang rokok ini menghampiri saya. Ia mengambil spoon basah berwarna kuning, mencemplungkannya ke dalam ember berisi air sabun. lalu membantu saya mencuci mobil.

Kata beliau, “Yoo mas, saya bantu. Biar situ cepat selesai”.

Wah saya makin terkaget-kaget saja. Ini tukang rokok dahsyat banget. Bahkan hingga membantu saya agar saya bisa cepat-cepat membeli dagangannya. Dalam hati saya berfikir, makin cepat saya selesai, makin cepat pula dagangannya laku, makin cepat pula ia akan pulang ketemu anak istrinya.

Wah hebat nih tukang rokok. Strategi yang oke.

Sambil mencuci L300 tersebut, kami berbincang-bincanglah.

Ia bertanya di mana sekolah saya. Kok bukan musim libur, tapi ada di rumah paman di Bali. Berlibur.

Saya mah ketawa-tawa saja menjawabnya. Saya bilang sekolah saya seharusnya sudah selesai. Tapi sedang cuti, keliling Indonesia. Cari pengalaman. Mumpung masih muda.

Dia kelihatannya cukup bingung. Tapi orangnya ramah. Santun. Tidak bertanya-tanya lebih lanjut apabila tidak diberitahu soal masalah pribadi.

Saya makin salut saja pada tukang rokok ini.

Tiba-tiba Om Gatot, paman saya datang. Menawarkan saya dan bapak tukang rokok itu, nasi bungkus. Beliau bertanya, “Rip, Pak Wayan, ayoo makan dulu”

“Pak Wayan, sudah kenal dengan keponakan saya ini?”

“Sudah Pak Gatot. Rajin yaa. Makanya saya bantu, biar bisa makan dan ngerokok sama-sama, hehe”

“Rip, ini Pak Wayan, bos kita. Ayoo na’e makan duluu”

Saya terperangah sejenak. Kaget. Selesai mencuci mobil. Saya hampiri Om Gatot. Berbisik dekat kupingnya, “Om, pak Wayan ini sopir senior?”

“Laah bukan… Ini yang punya Tours Travel ini Rip”

Saya terkesima.

Orang kaya. Armada busnya mungkin ratusan. Punya perusahaan dengan banyak anak cabang dengan ribuan karyawan. Kok yaa sederhana sekali? Kok yaa mau membantu saya cuci mobil karyawannya? Kok yaa jalan-jalan pakai sepeda mini membagikan nasi dan rokok buat anak buahnya?

Apa rahasia hidupnya, kok bisa ramah begitu?

Jangan tanya saya apa jawabnya. Sebab saya sendiri tidak tahu apa. Saya ini besar di Jakarta. Kota besar. Saya tidak bisa seramah itu. Kota besar mengajarkan kepada saya hanya untuk menghormati yang kaya, yang besar, yang berkuasa, yang perlente, yang wangi dan segala macam yang penampakan materi lainnya.

Bertahun-tahun, saya lupa kejadian di atas. Benar-benar lupa.

Hingga akhirnya tadi sore.

Jadwal hari ini mengharuskan saya bertemu dengan 897 juta dollar man.

897 juta dollar man itu sebenarnya adalah nama panggilan untuk Pak Asril (bukan nama sebenarnya). Ketika tahun lalu, tahun kedua Pak Asril menjabat direktur pemasaran, pada pertengahan Agustus beliau membukukan penjualan sebanyak 897 juta dollar Amerika.

Penjualan paling tinggi dalam sejarah perusahaan. Rekor dipecahkan Pak Asril.

Suksesnya bukan hanya pada ia seorang tentunya. Melainkan juga bersama teamnya. Tapi yang patut dicatat disini adalah, ia pribadi lah yang mewawancarai anggota teamnya untuk masuk ke dalam divisi pemasaran. Artinya, ia kadang turun langsung bersama Human Resources untuk mewawancarai timnya.

Saya akhirnya sore itu mampu bertemu beliau. Di sela-sela kesibukannya. Pertemuan setengah jam ini sudah dirancang sejak dua minggu lalu. Dan akan dijadwalkan secara tetap setiap dua minggu.

Agak nervous juga ketika menunggu di depan ruangan kantornya.

Karena gugup, campur kebelet. Saya putuskan ke kamar kecil dulu. Buang air kecil. Hehe.

Keluar dari wese, ada dua orang mendorong-dorong empat buah kursi kursi dengan trolley. Salah seorang diantaranya bertanya, “Pak, dimana kantor bagian pemasaran?”

“Ooh disana Pak. Di ujung. Saya juga kebetulan mau kesana. Ayo sama-sama”

Begitu sampai ke kantor pemasaran, dua orang ini, kelihatannya dari toko meubel, mulai membongkar kursi dan menyusun baik-baik. Karena saya juga sedang menunggu Pak Asril, maka saya putuskan untuk membantu lalu duduk menunggu di depan ruangan.

Ketika saya menunggu di depan kantor Pak Asril, satu dari laki-laki itu, duduk di kursi yang baru. Dia benar-benar duduk dalam kantor Pak Asril.

Satu lagi pergi ke luar.

Dug! Jantung saya langsung berdetak keras. Astaga… Jangan-jangan yang duduk ini Pak Asril?

Astaga, pengalaman saya di Bali dengan Pak Wayan terulang kembali. Waduh, kaget saya. Dan kembali terkesima.

Tukang meubel itu ternyata Pak Asril? Masa sih, 897 juta dollar man penampilannya begitu doang? Pakai kemeja biru dan celana pantalon. Mengapa pula sudah menghasilkan 897 juta dollar Amerika mau bersusah payah membantu tukang meubel mengangkat bawaan ke kantornya?

Jelas saya terperangah.

Dengan hati-hati… Saya ketuk pintu kantornya. Dengan muka bingung, saya bertanya, “Pak, permisi… Saya Arif”.

Ia tersenyum, “Oh ya… Ada yang bisa saya bantu?”

Wah, dalam hati saya tiba-tiba terbersit rasa kecewa. Orang yang mampu menghasilkan prestasi gemilang ini, ternyata lupa pada hal penting. Lupa pada janji.

Namun untuk mengobati kekecewaan, dalam hati saya bergumam, ‘ahh tidak ada manusia yang sempurna’.

“Begini Pak… Kita ada janji. Saya belum pernah bertemu bapak. Begitupun sebaliknya. Jadi mungkin ada miskomunikasi”

“Janji?”

“Iya pak, kita mau membicarakan strategi pemasaran lima tahun ke depan”

“Hah?”

Waah, dalam hati saya makin kecewa. Kok yaa begini kelakuan direktur pemasaran. Namun daripada kecewa berlarut-larut. Saya terangkanlah pada beliau mengenai agenda yang kami sepakati sebelumnya melalui email.

Lima menit berbusa-busa mulut saya dalam tempo bagaikan penyanyi rap menjelaskan agenda. Harus cepat. Sebab saya tahu waktu ia (dan juga waktu saya) amat berharga. Jangan disia-siakan sedikitpun jua.

Setelah lima menit menjelaskan agenda kerja pada Pak Asril, tiba-tiba tukang meubel yang satu lagi, yang keluar duluan, datang. Ia membawa nampan. Isinya tiga gelas teh.

Sambil meletakkan nampan di meja, si tukang meubel itu berkata, “Eh, selamat sore. Maaf yaa agak lama. Saya orang baru di gedung ini. Susah cari teh saja. Silahkan diminum…”

Saya bengong. Apa-apaan ini?

Si tukang meubel baru, menyodorkan tangan, “Wah, kamu pasti Arif yaa? Saya Asril. Terimakasih yaa sudah membantu kami merapikan bangku. Ayo minum dulu. Kenalkan ini Ray, manajer IT”

Saya makin terbengong-bengong sejadi-jadinya.

Astaga!

Apa rahasianya yaa punya hati yang ramah, tidak mudah berprasangka?
Apa rahasianya punya hati yang lurus, tidak mudah jumawa?

This entry was posted in cerita_kerja and tagged , . Bookmark the permalink.

20 Responses to Gatot

  1. Pingback: Tours and Travel « Arif Kurniawan as Bangaiptop

  2. Fortynine says:

    Kebetulan nih Bang. Kalau sudah ketemu jawabannya untuk 2 kalimat terakhir dalam tulisan ini. Tolong sekalian kasi tau, soalnya saya sendiri sedang dalam proses pembelajaran Ilmu Ihlas.

    He he, maunya ngekor melulu, dasar mental pemalas.

    Seandainya semua pemimpin itu sadar, bahwasanya. Kalau dalam perang, pemimpinnlah yang paling depan dan mati duluan. Kalau dalam pekerjaan, pemimpinlah yang paling sibuk dan lelah. Mungkin negara ini, setidaknya tidak akan separah sekarang kondisinya….

    -0-
    Kamu ndak malas kok Rid. Kalau malas, kan nggak menulis. :)

  3. dnial says:

    *Belajar jadi bos yang baik, mumpung belum jadi bos.*

    -0-
    *belajar masak, sebelum dimakan*

    *nggak nyambung, maap… hihi*

  4. itikkecil says:

    mungkin karena mereka rendah hati makanya mereka sukses bang… saya juga pengen tahu resepnya apa 😀

    -0-
    Saya rasa bener pendapatnya, Mbak. Rendah hati dan tidak sombong, bikin sukses.

  5. Eru Reed says:

    Masi belajar untuk untuk tidak *jumawa* ni bang, karena semua pujian dan kehebatan milik yang di-Atas

    tapi susah :(

    -0-
    Iya bener, aya sama-sama belajar yuuk

  6. edratna says:

    Hehehe….setelah sekian tahun bekerja, saya juga mengenal temperamen banyak orang. Bos saya, dulu Direktur, sekarang CEO Bank besar di Indonesia tipenya seperti itu, santun, baik hati, penampilannya sederhana. Beliau sering jalan-jalan ke bawah, ngelongok ke WC karyawan dsb nya.

    Saya melihat Bangaip, orang yang berhasil, adalah juga orang yang mau mengamati terus kondisi bawahannya, dan sering lihat ke bawah langsung. Banyak hal yang dapat diperoleh…dan buat apa sih kita harus minta dihormati berlebihan? Untuk apa? Untuk gaya? Lha kita ini semua sama kok….
    Thanks tulisannya menyejukkan….

    -0-
    Sama-sama Bu. Kembali kasih.

    Kalau soal minta dihormati, dulu saya pernah ketemu client. Sebelum bertemu, ia selalu meminta orang-orang yang menemuinya pakai jas dan dasi.
    Saya bingung tuh, di Jakarta kan panas. Pakai jas dan dasi minimal harus ada di tempat AC. Dan tempat AC itu kan banyak makan energi.
    Tapi kata beliau, “Kalau you tidak mau pakai jas dan dasi, jangan menemui saya deh. You nggak menghormati saya namanya itu”

    Saya bingung, ternyata makhluk langka seperti itu masih ada di RI. Hehe

  7. mayoritas orang sukses memang humble, sederhana sekali dalam penampilan. tapi, jika mereka berbuat atau berkata-kata, wuihhh…kita yg terbengong-bengong, seperti bang Aip 😉

    saya sendiri masih dalam taraf belajar untuk tidak sombong, belum sampai ke tahap sederhana, humble, dst dst…tapi insya ALLOH akan saya jalani juga :-)

    -0-
    Amiin

  8. Dianz says:

    Terima kasih sudah berbagi cerita om gatot-nya bangaip. Menginspirasi saya untuk lebih banyak belajar dan instropeksi diri lagi

    -0-
    Kembali kasih

  9. Citra Dewi says:

    Apa rahasianya punya hati yang lurus, tidak mudah jumawa?

    Hati yg lurus dengan lebih mendekatkan diri kepada pencipta dan sadar bahwa kita ini hanyalah dari debu dan walaupun sehebatnya dan setinggi kita terbang, satu waktu kelak (pasti) akan meninggalkan dunia ini. dan juga dgn menyadari bahwa tidak ada kekekalan di dunia ini.

    Kedua: Kalau kita berhasil menurutku kita harus lebih banyak bersyukur dan berterima kasih karena kita mempunyai kesempatan emas yg tidak di miliki orang miljoenen manusia di bumi ini dan kesempatan itu di rindukan oleh setiap mahluk yg berakal sehat.

    Apa rahasianya yaa punya hati yang ramah, tidak mudah berprasangka?

    Yg ini yg sulit he..he… apalagi utk exs priok (bukan cilincing lho) karena biasanya kita mayoritas terbentuk di dalam lingkungan yg suka mengeneraliseren dan voordelen (menghakimi).
    Saya rasa dgn berpikir sederhana: apa yg di tabur orang itulah yg akan dituainya juga.
    Saya melakukan yg terbaik yg saya bisa lakukan sesuai dgn norma2 agama dan norma2 yg ada dan kalau orang lain menyalah gunakan kebaikan hati saya, lambat atau cepat dia juga akan memakan buah hasil yg di tanamnya.

    Baca tulisannya Bang Aip seolah2 saya bertemu dengan Ananta Toer versie terbaru. Terimakasih utk tulisan2nya yg mengelitik, memberi inspritasi, mengajak berpikir. Saya rasa bangsa kita perlu pemuda/i yg kritis dan terpelajar dan berani mengambil risiko dan keputusan dan berpikiran luas utk bisa membangun negeri ini dari kehancuran. Maju terus Rief!!!!!!!!
    Semoga cita2mu tercapai dan hasil jerih payahmu ada buahnya. Yg pasti buah yg saat ini sdh nyata yaitu…majikan baru..he..he.

  10. Citra Dewi says:

    Bang Aip correctie: voordelen salah maksudku vooroordelen.

    -0-
    Terimakasih atas koreksi dan masukannya Mbak Citra.

  11. sofianblue says:

    luarbiasa kali bang!!
    kalo saja seisi senayan itu seperti pak Wayan semua ya..

    *mantab bang. sekali lagi menginspirasi.*

    -0-
    Seisi senayan Pak Wayan semua, pertandingan sepakbola pasti tidak bakal rusuh di Senayan. Hehe

  12. erander says:

    Jujur .. saya selalu iri dengan postingan bang Aip, yang banyak menorehkan kesan dalam kehidupannya. Mungkin karena banyaknya ‘cobaan’ hidup menjadikan lebih banyak ‘pengetahuan’ yang diperoleh dari pada hidup yang lempeng² saja sesuai dengan buku petunjuk *halah* :)

    Jujur .. saya akan copy habis²an kisah ini kalo saya nanti disuruh berbagi pengalaman dengan orang lain. Dan tentunya, nama pelaku tetap saya umpetin. Termasuk nama bang Aip. Kalo mereka mau minta identitas bang Aip, ya nanti saya kasih alamat blog ini.

    Jujur .. saya baru tahu kalo foto anak kecil yang diatas itu anaknya bang Aip :) .. *jujur .. ini asal nebak saja sih*

    *sengaja pake kata jujur ngikutin kampanye pilkada*

    -0-
    Iya Bang Eby, itu yang di foto atas, majikan baru saya euy. :)

  13. lambrtz says:

    Eh…
    Bang Arif kok ga tanya dulu, “Apakah Bapak yang yang bernama Pak Asril?” atau gimana gitu?
    Daripada salah orang 😛

    -0-
    Ini lah parahnya saya, sok tahu dan terburu-buru. Jangan diikuti yaa. Hehe

  14. Aku terkesima dengan “bengong”-nya Mas Arif. Benar2 membuat terkesima. hehehe…

    -0-
    Ini mah masih belum seberapa Mas Dewo. Masih banyak hal aneh yang sering membuat saya bengong. Hehe. Maklum, waktu kecil saya kurang cerdas, jadi doyan bengong. Hihi

  15. Hedi says:

    jawaban pertanyaan abang cuma satu: karena kita pasti dan akan mati, jadi harus cari bekal.

    -0-
    Terimakasih Mas Hedi sudah berbagi. Iya, saya camkan ini jawaban dari Mas Hedi untuk saya pribadi.

  16. nadin says:

    Duh Bang Aip,

    Salut banget yah sama orang – orang demikian! Moga – moga aku dan suami bisa punya pribadi hebat seperti mereka…juga bisa mendidik anak – anak supaya punya karakter ‘humble’. Bener bang, hidup di Jakarta dari lahir, susah ngerubah paradigmanya!

    -0-
    Iya, moga-moga saja anak-anak kita dapat pendidikan lebih baik. Jadi bisa punya karakter yang lebih baik.

  17. diyan says:

    menjaga kerendahan hati di tengah kesuksesan yang menyelimuti….
    ckckckckck….takjub saya sama kisah yang bangaip ceritakan…
    kalau ada dibuka kelas “ikhlas dan tidak sombong” mau dong saya ikut…

  18. sufehmi says:

    Saya apes. Saya pernah ketemu orang seperti pak Asril itu. Senior Manager, tapi ramahnya bukan main. Tidak pandang bulu siapa lawan bicaranya.
    Menyenangkan sekali bisa bertemu orang seperti itu. Jadi saya lepaskan kewaspadaan saya.
    .
    Tiba-tiba saudara-saudara, saya ditikam dia dari belakang :(
    .
    Ada masalah, yang sumber masalahnya adalah tim dia. Tentu otomatis dia yang bertanggung jawab.
    Tapi, dituduhnya bahwa saya yang membuat gara-gara. Hah…
    .
    Ternyata…. tingkah manis bukan jaminan akhlak yang baik. Bisa saja cuma sandiwara juga. Gawat.

  19. Noba says:

    bang, ane udah bikin blog nich. tulung diliatin yach bang.
    sori promosi.
    http://omnoba.wordpress.com

    –0–
    Sip deh Noba. Terimakasih atas undangannya. Tapi link langsung ke halaman adminnya blog kamu yang di komen ini saya hapus yaa (sori maaf banget. Saya nggak pernah menghapus komen. Tapi ini jaga-jaga menghalau kalau misalnya ada kancil yang suka mencuri ketimun masuk ke ladang kamu).

  20. Artikel Unik says:

    Selamat pagi, kunjungan perdana saya. Salam kenal bro. Blog nya bagus 😀

Leave a Reply