Kita kan bukan Ebiet

Karena rekan-rekan kerja saya ada banyak tersebar di beberapa negara. Maka kami biasanya hampir dua kali seminggu meeting melalui web atau teleconfrence. Bayar lumayan mahal pada ATT, namun untunglah kualitas suara pada teleconfrence maupun koneksi meter pada webmeeting selalu stabil.

Nah, saya mau membicarakan kestabilan komunikasi ini. Bukan, bukan soal teknis. BUkan pula soal biaya yang akan saya bicarakan. Saya mau bicara topik meeting kami beberapa waktu lalu.

Rekan-rekan kerja saya ini, hampir 70 persen diantaranya dari Amerika Serikat. Sisanya dari beberapa negara Eropa.

Ada kebiasaan diantara kami sebelum menuju pembicaraan pokok, yaitu ngobrol sebentar basa-basi bertanya soal cuaca.

Kenapa cuaca? Sebab itu merupakan topik yang netral. Selain itu, selain saya (*karena atas permintaan sendiri sejak punya bayi*), semua personil meeting juga semua hampir selalu mobile. Jadi, mereka biasanya bercerita soal cuaca di negara yang sedang mereka singgahi.

Karena saya satu-satunya personel yang tahun ini tidak mobile, maka lama-lama saya cemburu juga nih mendengar cerita rekan-rekan kerja saya. Sebab si sini, di tempat saya ngepos, cuaca sama sehari-hari. Semakin dingin dan hujan terus. (*Hehe, iya, iya, saya mengaku, saya cemburuan iih. Hehe*).

Gimana nggak cemburu, rekan saya Peter, ketika meeting ini berlangsung, sedang menikmati senja nan hangat di sebuah pulau terpencil di Yunani. Heidi, lebih gila lagi, lagi minum es kelapa muda di pantai Karibia. Sedangkan Tammy, sedang melihat matahari terbit dengan indahnya di teras sebuah cafe di Manhattan.

Kebetulan tempat saya bekerja amat fleksibel. Kami semua dapat kerja dimana saja asalkan terkoneksi internet dan telpon.

Jadi yaa begitu, sebelum meeting setiap orang cerita soal cuaca. Dan saya, hanya cengar-cengir merana sambil menatap kaca jendela luar kantor yang berkabut dan basah.

Maka, pada suatu hari… Saya iseng bertanya soal topik lain.

Saya tanya begini, “Kenapa di Amerika, masalah warna kulit amat sensitif sekali. Maksud saya begini, bahkan di Google saja, sebuah perusahaan nomor satu di dunia, ada klub di mana engineernya berkulit hitam, kenapa?”

Tiba-tiba, obrolan antusias sebelum meeting berubah drastis. Senyap.

Heidi memecahkan kesunyian, bertanya, “Ehhm… Apakah saya mendengar Arif bertanya soal warna kulit di Amerika? Hehe, kalau benar, sayang sekali Arif saya tidak bisa menjawab. Saya tidak lahir dan besar di Amerika”

Hehe, Heidi mabur dari topik.

Tapi, akibat kestabilan komunikasi pula, saya dengar di seberang sana ada orang yang terbatuk-batuk. Hehe, nampaknya ada yang tersedak mendengar pertanyaan saya.

Karena merasa tidak enak, saya minta maaf kemudian. Saya bilang, “Kalau ini terlalu personal, mohon tidak usah dijawab. Saya dari Indonesia. Saya tidak tahu sejarah negeri kalian, guys. Maaf”.

Tammy, yang secara hierarkis tidak langsung berada di atas saya, secara hati-hati menjawab pertanyaan saya. Ia juga menandaskan hal tersebut kepada peserta web meeting kami, “Kami punya sejarah panjang mengenai hal itu Arif. Saya pikir nanti setelah meeting saya berharap setiap americans yang ikut meeting mau menyumbangkan link kepada Arif soal ini”.

Setelah itu, kami meeting. Dan benar ucapan Tammy, tidak lama setelah meeting saya diberi beberapa link di internet mengenai perbedaan warna kulit di Amerika Serikat.

Tiap orang, berbeda-beda memberikan link. Tidak semuanya memandang masalah warna kulit di Amerika Serikat secara hitam putih belaka.

Menarik.

Tapi sialnya, tidak lama kemudian AIM saya, protokol chat antar personil, berdering-dering. Rupa-rupanya rekan se-tim saya tidak puas hanya memberikan hyperlink saja.

Mereka mau lebih.

Saya tanya, “Ada yang bisa saya bantu…”

James bertanya balik, “Bagaimana dengan di Indonesia?”

Hmhh… Saya gelagapan juga menjawabnya. Langsung putar otak cepat-cepat. Mencari jawaban terpendek dan terbaik untuk pertanyaan itu. Pertanyaan yang menarik sekaligus membingungkan. Yaitu, soal perbedaan warna kulit di Indonesia.

Seperti biasa, bukan bangaip kalo beginian mah nggak bisa ngeles. Hihi. Maka itu, langsung saja saya jawab dengan diplomatis. Dan tentu saja berdasarkan pengalaman pribadi. Sebab ilmu saya jelas tidak mumpuni kalau pakai acuan textbook. Hehe.

Saya jawab santai, “Mama saya kulitnya hitam. Almarhum bapak saya kulitnya kuning. Saya sendiri coklat. Sedangkan istri saya berkulit pucat. Anak saya nampaknya coklat muda. Hehe. Sejauh ini, tidak ada masalah tuh. Baik-baik saja semuanya”

James tidak puas. Ia bertanya mendesak. Kali ini lebih spesifik, “Apakah ada konflik berlatar belakang warna kulit di Indonesia?”

Waah buset, curang banget. Saya nanya cuma satu kali, dia jawab pakai hyperlink internet. Sekarang pas giliran dia, nanya kok yaa banyak amat. Minta jawaban langsung pula.

Kali ini, bangaip pakai jurus pamungkas menjawabnya, “James, lo makan gaji buta yee. Bukannya kerja malahan nanyain kayak ginian! Kerja luh sono!”

James berhenti bertanya.

Saya senyum di depan monitor. Hehe, kena dia dikerjain anak Cilincing. Hehe.

Tapi senyum saya tidak bertahan lama. Baru beberapa detik ujung mulut berubah normal, telpon berdering. Rupanya bos saya yang menelpon.

Dia bilang, “Arif, bukan hanya James yang ada di room tersebut. Kami semua ada di room chat tersebut. Akan sangat menyenangkan sekali jika kamu bisa menjawab pertanyaannya James. Kami penasaran nih. Bagaimana?”

Waah. Lemes saya langsung.

Tidak mungkin membuka-buka internet dalam dua detik bertanya pada Suhu Google maupun Kitab Wikipedia untuk mencari jawaban konflik horisontal yang terjadi di Indonesia. Tidak mungkin pula memetakannya menjadi konflik antar rasial dalam waktu sesingkat itu.

Sambil gemetar, saya jawab kembali lagi ke chat room. Mencoba menjawab pertanyaan James.

Dalam hati, saya mengutuk kebodohan saya yang terlalu sok tahu bertanya hal-hal yang dapat menjalar tidak enak ke diri saya sendiri.

Tapi biarlah, kata saya dalam hati. Mengutip lagu dangdut ‘Kau yang mulai kau yang mengakhiri’, saya beranikan diri menjawab pertanyaan James.

Arip: “James, konflik antar ras ada di Indonesia. Permasalahan utamanya biasanya kesenjangan ekonomi. Setahu saya tidak pernah dipicu akibat perbedaan warna kulit”
James: “Banyak?”
Arip: “Tidak juga?”
James: “Kalau begitu, konflik yang sering terjadi di Indonesia karena apa?”

Ooh my.., James, betapa teganya luh nanya-nanya sama gue. WNI yang kagok bicara bangsanya sendiri. James, andai dirimu tahu, orang Indonesia itu tidak suka ditanya-tanya soal konflik. Apalagi kami ini, sudah capai di dera-dera konflik antar saudara sebangsa yang makin banyak dari hari ke hari.

Andai James tahu, saya bukan orang Indonesia yang baik dan benar. Pasti dia tidak bertanya hal begituan. Orang Indonesia yang baik dan benar, setahu saya paham sekali permasalahan bangsanya. Dan mungkin juga menawarkan solusi atas permasalah tersebut.

Saya? Buset dah, boro-boro jadi orang Indonesia yang baik dan benar. Mana ngerti saya solusi atas bangsa republik tercinta ini.

Arip: “Sepengetahuan saya, konflik yang terjadi di Indonesia kebanyakan masalah yang membingungkan, James”
James: “Contohnya apa, Arif?”

Berat rasanya saya mengetik jawaban untuk James. Sebab saya nampaknya akan melakukan tindakan sok tahu. Tapi saya beranikan diri juga menjawabnya.

Arip: “James, kami disini sering dilanda konflik. Namun agama selalu menjadi isu sentral perang saudara. Kadang-kadang, hingga bunuh-membunuh antar saudara sebangsa”
James: “Agama?”
Arip: “Iya James, agama…”

Saya lemas mengetik kalimat terakhir itu.

Membayangkan sudah berapa ribu nyawa melayang sia-sia di republik tercinta atas nama tuhan yang dipaksa.

Tidak lama kemudian, saya pamit. Selain kerjaan bertumpuk. Saya takut.

Iya… jujur, saya ketakutan. Takut ditanya lebih lanjut lagi. Misalnya pertanyaan, mengapa ketika rezim berganti, agama tetap selalu dibawa-bawa dalam menumpahkan darah saudara.

Saya takut, sebab saya bodoh. Kalau saya pintar mah, saya nggak perlu takut. Saya jawab itu pertanyaan sekalian semua orang di chat room.

Bahkan bukan cuma itu saja, kalau saya pintar, saya beri solusi dah agar ada solusi terbaik pada kekerasan atas nama agama di Indonesia.

Tapi yaah sayang sekali saya bodoh euy. Bahkan tidak hanya bodoh, saya pun sudah semakin lelah dilanda berita-berita konflik kekerasan atas nama agama yang setiap hari semakin tidak mereda.

Mau bertanya… Aahh, bertanya pada siapa? Rumput yang bergoyang?

Ahh, kita kan bukan Ebiet…

This entry was posted in bangaip, cerita_kerja and tagged . Bookmark the permalink.

14 Responses to Kita kan bukan Ebiet

  1. Pingback: Kita Kan Bukan Ebiet « Arif Kurniawan as Bangaiptop

  2. manusiasuper says:

    Kalau soal agama, sepertinya tidak hanya di Indonesia ya bang? Irlandia, India, Filipina, sebagian negara muda Afrika, dan beberapa negara lain juga kerap konflik dengan alasan agama. Bahkan menurut saya, lebih frontal dibandingkan Indonesia.

    Konflik Indonesia mungkin bukan konflik beragama, tapi kurang dewasanya sebagian penganut agama mayoritas. Agama hanya alasan, nanti ujung-ujungnya ya kaya LSM karbitan.

    “Ente ga mau diskotiknya ane serang?? Mangkanye, ente transfer duit keamanan ke rekening Forum ane…”

    -0-
    Memang, dari beberapa contoh negara yang disebutkan diatas, konflik horizontal keagamaan memang lebih tinggi, Mansup. Saya setuju.

    Saya pribadi beranggapan bahwa konflik ini tadinya dipicu oleh desentralisasi Jakarta (baca: Pemerintah RI). Contoh Nipah atau Dili (ketika masih dijajah RI). Akibat politisasi dan kepentingan tertentu, isunya pun beralih ke agama. Agama mayoritas vs minoritas. Padahal awalnya murni penghisapan sebuah institusi di bawah nama RI terhadap warganya.

    Kalau kasus Haur Koneng, jelas berbeda. Saya sendiri tidak berani bicara banyak soal Haur Koneng, apalagi menyandingkannya dengan Ahmadiyya baru-baru ini. Sebab masih misteri sebenarnya apa yang terjadi pada hari itu. Tapi unsur agama kental sekali pada konflik tersebut.

  3. edel says:

    Wadow Bang, pertanyaan basa basinya berat amat he3x. Btw, foto bayi yang di banner itu Novi ya? Lucu euy ๐Ÿ˜€

    -0-
    Iya Edel, kamu benar. Itu foto majikan baru saya. :)

  4. itikkecil says:

    itu juga yang membuat saya lelah bang…. apalagi menghadapi orang yang merasa dirinya lah yang paling benar dan orang lain salah.

    -0-
    Setahu saya, menghadapi orang yang merasa dirinya lah yang paling benar dan orang lain salah adalah dengan cara; mengajukannya pada bagan tertinggi lagi untuk diaudit.

    Contoh kasus; Anaknya Bu Ijah, Wawan memukul anaknya Bu Irma, Santi. Ibu Ijah tidak melihat. Tapi Ibu Irma melihat bahwa Wawan memukul Santi.

    Setahu saya, tindakan yang paling bisa dilakukan dalam konteks mendidik adalah bukan Ibu Irma menyuruh Santi untuk memukul Wawan balik. Tapi, Ibu Irma, bersama-sama Wawan dan Santi melaporkan hal tersebut pada Ibu Ijah. Agar Ibu Ijah bisa melakukan pendidikan melalui informasi pada Wawan, anaknya. Bahwa memukul orang itu tidak baik.

    Pada proses ini, Tindakan Ibu Irma adalah proses tertinggi dalam audit. Sebab tidak hanya mendidik Wawan agar tidak memukul orang sembarangan. Melainkan juga, mendidik Ibu Ijah agar memberikan informasi yang tepat pada anaknya.

    Yang jadi pertanyaan, memang sulit. Sebab kalau di RI, siapa yang mau melakukan audit ketika segerombolan preman yang mengaku paling benar sendiri main pukul sembarangan?

    Polisi?

    Setahu saya, polisi kalau sudah berurusan dengan agama, mundur teratur perlahan-lahan

  5. dnial says:

    Konflik antar ras jarang. Konflik antar suku banyak.
    Di Indonesia konflik terjadi bukan karena diskriminasi seperti di AS, tapi karena kesenjangan sosial. Itu perbedaan yang mendasar.

    -0-
    Sepengetahuan saya, konflik rasial di AS juga banyak dipicu oleh kesenjangan sosial. Los Angeles 1992 tadinya karena kebencian warga kulit hitam pada polisi (kulit putih. Yang memukuli Rodney). Tapi ujung-ujungnya warga malahan menjarah toko dan merkosa warga kulit putih. Mirip di Jakarta 1998.

    Bedanya.., Ehemm… Bedanya yaa di warna kulit kali yaa?

  6. Rupanya para bule tersebut cukup prihatin dengan konflik. Terbukti mereka ingin tahu lebih jauh mengenai konflik horizontal yg terjadi di Indonesia. Sayangnya konflik di Indonesia itu multi-dimensi. Dan dimensi terbesar harus diakui di dimensi agama.

    Sebenarnya sudah banyak sekali inisiatif untuk memfasilitasi dialog antar agama. Sayangnya memang masih saja ada kelompok yg menutup mata terhadap perbedaan ini. Bukannya memahami malah mau menyeragamkan. Hiks…

    -0-
    Saya kebetulan pernah ikut nih Mas Dewo dalam fasilitas dialog antar agama dalam mencari solusi dalam mengatasi konflik Batumera.

    Waktu itu konfliknya bukan hanya antar agama, melainkan juga antar bangsa. Sebab sudah ada campur tangan asing dalam konflik tersebut.

    Yang menarik, waktu kejadian itu berlangsung (di sebuah museum di negara non-RI). Justru yang ribut bukanlah pihak yang bertikai. Melainkan para pengamat.

    Artinya, para pelaku konflik, sudah bersedia saling menyerahkan senjata. Tapi para pengamatnya (yang namanya tidak saya sebutkan disini, tapi gampang di cari di Google) malah menyayangkan hal itu. Bahkan menuduh bahwa akan ada udang di balik batu dibalik acara serah senjata. Huehehe.

  7. edratna says:

    Terus terang saya bingung bang. Bagi orang yang dibesarkan dari keluarga yang menganut berbagai kepercayaan (keluarga saya ada yang Muslim, Katolik, Kristen Protestan, bahkan ada yang jadi biksu)…namun adem ayem aja….malah setelah saya besar dan kuliah ke luar kota, kok jadi terasa ada perbedaan begitu ya…..

    Padahal, kalau saja kita bisa menghargai perbedaan….
    Tapi warna kulit memang di permasalahkan sih, coba aja iklan di TV….yang cantik adalah yang berkulit putih, dan sayangnya kulit saya coklat.

    -0-
    Iya Bu. Benar. Bagi beberapa orang saudara sebangsa kita, kadang susah sekali memahami perbedaan. Saya pikir, mereka mungkin khilaf, bahwa ada ratusan suku dengan ribuan pulau di negeri tercinta ini. Hehe.

    Kalau soal warna kulit di iklan TV, saya pikir Mbak Dian (Dian Sastro) tesisnya mengenai hal itu deh, Bu. Saya sendiri tidak terlalu paham dengan iklan di TV. Maaf.

    Mbak Dian mungkin bisa menjawab nih?

  8. aRuL says:

    saya sependapat yang mengatakan bahwa itu adalah karena kesenjangan sosial. yang ujung2nya kadang dibawa ke agama.
    nah provokator2 ini yg sebenarnya harus dibasmi di Indonesia.

    @ manusiasuper :

    Konflik Indonesia mungkin bukan konflik beragama, tapi kurang dewasanya sebagian penganut agama mayoritas. Agama hanya alasan, nanti ujung-ujungnya ya kaya LSM karbitan.

    Kalo menurut sy bukan hanya mayoritas, kadang juga minoritas lho… ๐Ÿ˜›
    Demikian juga konflik di moro philipina. apa karena mayoritas? apa karena minoritas? bisa kedua-duanya ๐Ÿ˜€

  9. manusiasuper says:

    Saya pribadi beranggapan bahwa konflik ini tadinya dipicu oleh desentralisasi Jakarta

    Ah, iya bang… Baru nyadar saya… Sepertinya kebanyakan konflik di Indonesia memang berakar pada inkonsistensi jargon ‘pemerataan pembangunan’ oleh jakarta.

    Beberapa teman saya sampai sekarang bahkan masih beranggapan kalimantan sebenarnya masih ‘dijajah’ jawa.

    Saya? Saya lebih memilih jalur lembut, karena disintegrasi di Indonesia sejauh ini juga belum membawa hasil yang menyenangkan rakyat kebanyakan…

    Eh, tapi ini tadi membicarakan konflik agama ya?

    @ aRul
    Tapi kalo dibandingkan, minoritas rusuh sama mayoritas yang rusuh, dampaknya tentu lebih besar yang mayoritas kan Rul?

  10. Fortynine says:

    konflik karena agama? Kalau yang itu saya yakin bahwasanya konflik karena nama agama di Indonesia adalah hasil kolaborasi dari rendahnya tingkat pendidikan dan kemudahan terpancingnya emosi para pengklaim diri sebagai pemeluk agama.

    Kalau konflik karena kulit: SAMPIT! Jelas sekali ini adalah konflik berdarah karena alasan warna kulit, ketika orang orang Dayak sudah sangat panas dengan sikap sikap orang orang Madura.

    Dan untuk urusan penjajahan oleh negara sendiri. Saya masih beranggapan bahwasanya orang orang pusat sana memang senang melihat pulau pulau di luar pulau jawa menderita. Entah bagaimanapun caranya mereka akan tetap membuatnya menjadi nyata. Semoga saja ini hanya prasangka buruk

    -0-
    Saya yakin kamu lebih baik dalam memahami persoalan SAMPIT daripada saya, Rid. Sebab setahu saya, kamu tidak jauh dari lokasi TKP. Jadi lebih menguasai issue yang ada.

    Soal ‘Jawa’ dan ‘non-Jawa’, itu memang masih berat sekali untuk dibicarakan ataupun malah tidak dibicarakan Sebab yang di ‘Jawa’ sendiri tidak semuanya sebahagia seperti anggapan yang dilihat oleh ‘non-Jawa’.

    Contoh kasus yang paling mudah adalah waktu Dili masih dijajah RI. Saya pikir, banyak sekali kecemburuan dari ‘Jawa’ terhadap ‘Timtim’. Waktu itu bilangnya begini, “Ngapain sih daerah gersang kayak gitu dipelihara? Udah bikin rusuh, kok yaa terus-terusan disubsidi?”

    Padahal, pada saat yang sama, di Dili pun hingga seorang Uskup Belo mengeluh habis-habisan terhadap kezaliman ‘Pusat’.

  11. sufehmi says:

    kalau sudah berurusan dengan agama, mundur teratur perlahan-lahan
    .
    Hm, masih mending.
    .
    Kadang malah ditunggangi
    .
    Aji mumpung abis…. :(

  12. sufehmi says:

    WNI yang kagok bicara bangsanya sendiri. James, andai dirimu tahu, orang Indonesia itu tidak suka ditanya-tanya soal konflik.
    .
    Jadi sekarang sudah paham dong kenapa Americans itu kagok ketika ditanya soal rasisme nya mereka ya ? ๐Ÿ˜€
    .
    Hihihi…

  13. sufehmi says:

    Mana ngerti saya solusi atas bangsa republik tercinta ini.
    .
    Sama-sama bingung dong. Gak ngerti solusi yang pas untuk masalah yang super kompleks ini.
    .
    Tapi ada satu pengamatan yang menarik : ketika ada 2 orang dari latar belakang yang berbeda kemudian saling mengenal, dan interaksinya diatur/didorong agar positif — maka mereka akan belajar untuk menghargai & menikmati perbedaan mereka.
    .
    Memang betul pepatah “tak kenal maka tak sayang”.

    -0-
    Di tivi, kebetulan di stasiun lokal saya, Pak. Ada acara pertukaran suku. Jadi, suku-suku di pedalaman Eropa, yang ekstrim kanan, diekspor ke Afrika. Ke suku yang tengah dilanda perang saudara.

    Nah, suku yang dilanda perang saudara itu, dikirimlah ke Eropa ke suku-suku yang karena kebanyakan makan, jadi gendut dan kerjanya hanya internetan saja mencela orang lain.

    Hasilnya menarik. Dua suku itu tiba-tiba mendapat pencerahan. Bahwa di dunia ini, bukan hanya suku mereka dan keyakinan mereka saja yang ada. Masih banyak orang di muka bumi ini, yang punya masalah yang berbeda. Namun tetap hidup di bumi yang sama.

    Setelah acara itu berlalu, ada ikatan persaudaraan antara manusia-manusia dari pertukaran suku-suku tersebut.

  14. nadin says:

    Bang Aip kerja dimana sih?
    Pasti asik banget ya bisa jalan – jalan terus keliling dunia!Sayang ga semua pulau di Indo udah kesambung internet dan telepon…kalo ga pasti Bang Aip dah nyantol juga tuh di salah satu pulau terpencil dengan pemandangan yang ga kalah bagus sama Yunani! he…

    @manusia super;
    Kalau warung harus bayar keamanan juga ga bang?Cuma jualan teri tempe sama sayur katuk kok?!

    -0-
    Saya kerja disini, Mbak. Jadi buruh kecil. Makanya harus banyak ngider. :)

Leave a Reply