Manit

Waktu menulis di blog lama, di arifkurniawan.wordpress.com, saya maunya niche saja waktu itu. Spesifik. Tidak banyak topik. Hanya menulis mengenai orang Indonesia di bagian Cilincing saja.

Sebab Cilincing itu kampung saya. Lahir dan besar yaa di kampung itu.

Rupa-rupanya, banyak orang Indonesia yang kebetulan tidak tinggal di Cilincing marah. Saya sendiri sampai bingung.

Dalam hati, saya bertanya-tanya. Apakah orang-orang kampung saya, Cilincing, yang sudah tidak punya urat peduli. Jadi banyak cuek dan tertawa mengenai kondisi sosial sendiri? Ataukah tetangga kami, Warga Negara Indonesia yang terhormat, mudah marah?

Iya benar. Banyak orang (yang kebetulan berbahasa Indonesia) yang marah kalau saya menulis mengenai orang Indonesia. Padahal saya tidak menulis orang Indonesia secara umum. Saya hanya menulis orang-orang Indonesia dari kampung saya. Hehe.

Mereka tersinggung. Mereka marah, ada yang memaki hingga main ancam melalui komentar di blog saya terdahulu. Bahkan ada yang dengan isengnya mengebom email saya dengan sampah. Yang paling aneh, saking marahnya, mau samperin ke rumah.

Saya bingung sih. Tapi mau gimana lagi… Paling ketawa saja bisanya. Hehe.

Banyak orang menuduh saya memanipulasi kata-kata, berbohong pada publik. Sebab mereka tidak percaya dengan apa yang saya tulis. Bahkan, tidak percaya dengan link-link fakta yang menyertai tulisan saya. Ada beberapa diantaranya, mengutuk.

Lagi-lagi, saya mah ketawa saja. Yaah, mau bagaimana lagi yaa. Masa sih orang ndak percaya mau saya paksa. Saya mah diam saja. Sebab bagi saya, pembaca mau percaya yaa sukur. Ndak percaya juga tidak apa-apa.

Saya pribadi, sudah amat senang sekali kalau ada yang membaca tulisan saya. Sukur-sukur ada yang mau berbagi pengalamannya.

Saya menulis blog memang berdasarkan pengalaman-pengalaman saya. Kadang berupa pengalaman yang telah terjadi jaman dulu (*yang sering saya singkat menjadi jadul*). Kadang pengalaman baru-baru ini.

Semua tulisannya, saya usahakan yang ringan-ringan saja. Agar mudah dibaca. Dan tentu saja, agar saya lebih mudah menuliskannya. Hehe. Sebab saya ini kurang pintar menulis. Maka itu menulis yang ringan saja.

Waktu saya pindah ke blog baru ini, banyak teman yang wanti-wanti. Mengirim email, bahkan hingga telpon. Hampir semuanya bilang, “Riip, tulis yang gampang-gampang aja. Jangan ngomongin orang Indonesia. Rese tau!”

Saya hanya cengar-cengir. Saya tidak percaya bahwa orang Indonesia itu reseh. Berisik. Menyebalkan. Tidak tahu aturan.

Saya percaya sebaliknya.

Saya percaya bahwa bangsa Indonesia itu berbudi luhur. Suka menolong. Berjiwa pengasih. Namun disisi lain, tetap tegar dan kuat menghadapi setiap badai yang menimpa hidup mereka. Mirip nenek moyang mereka yang katanya pelaut itu.

Maka itu, saya tetap menulis mengenai orang Indonesia.

Dan Indonesia, itu bukan hanya Jakarta saja.

Dulu, ketika saya masih tinggal di Jakarta. Setiap hari menghadapi macet. Jalanan penuh sesak. Bahkan hingga ke bahu trotoar dijubeli pengendara motor. Jangan tanya soal udara yang kotor. Sebab udara jalan-jalan utama Jakarta, sumpek, panas dan penuh berisi makian.

Sampai di rumah, saya letih. Lalu mandi sebagai upaya menghilangkannya. Habis mandi, saya ke Warung Tegal, cari makanan. Di sana, makan sayur tahu sambil membaca koran. Korannya koran Ibukota.

Di jalan, saya disiksa oleh ketidakramahan para pengguna jalan. Di Warung Tegal, saya disiksa oleh berita-berita koran mengenai Indonesia yang semakin terpuruk. Jatuh tersungkur. KO di tinju korupsi dan ditendangi mosi tidak percaya warga.

Dalam hati tercenung lama sekali.

Apakah ini wajah Indonesia saya? Masa sih Indonesia saya sebrutal ini?

Jawabnya; tentu saja tidak.

Indonesia itu bukan Jakarta saja.

Masih banyak jalan-jalan indah di pelosok nusantara yang tidak macet dan para pengendara disana ramah-ramah. Saling melambaikan tangan ketika bersua. Masih ada berita bahwa  anak muda terjun langsung ke lapangan untuk membantu pendidikan anak bangsa. Sementara di belahan bumi sana, masih ada orang Indonesia yang bahu membahu menjaga perdamaian dunia.

Masih banyak cerita indah soal Indonesia. Maka itu, yaa terang saja saya masih berminat menulis soal Indonesia.

Dan karena saya orang Cilincing, yaa ceritanya tidak jauh-jauh dari pengalaman orang Cilincing saja. Walaupun agak nekat sih. Sebab bahasanya pun banyak memakai bahasa Cilincing. Sebab jangan kan bahasa asing, bahasa Indonesia saja saya masih susah menuliskannya. Hehe.

Suatu hari. Saya sempat ingin pamit. Bahkan pernah menulis surat pamit saya. Ini surat pamit saya;

Hampir sudah dua tahun blog ini melayani publik.

Ada banyak suka dan duka dari saya, sebagai kakak pembina blog ini. Juga tidak sedikit pula kesan yang hadir dari para pengunjung setia blog ini. :)

Namun, yaah, akhirnya saya, kakak pembina blog ini, kok yaa sering berfikiran untuk pamit.

Pamit yaa artinya pergi. Entah pergi hingga suatu saat kembali. Atau entah pergi selamanya. Entahlah. Yang pasti, pamit adalah budaya untuk mengucapkan selamat tinggal dalam cara yang lebih elegan dan sopan.

Sebagai kakak pembina, hari ini, saya mohon pamit wahai pembaca nan budiman.

Banyak sekali alasan saya untuk pamit. Namun biarlah semua alasan itu akan saya simpan sendiri. Suatu saat nanti, mungkin ketika suatu hari akan tiba, saya pasti akan mengucapkannya.

Saya pergi kali ini. Namun, tulisan-tulisan saya masih tetap bangun kembali.

Tapi sebelum saya pergi, saya mau cerita sedikit nih. (*Hehe, bagian ini pasti yang anda tunggu*)

Saya menulis blog itu sudah lama. Awalnya pakai bahasa mesin bernama HTML sahaja. Lama-kelamaan mulailah lebih intens. Tahun 2003, saya pun mulai menulis pada layanan blogging gratis.

Saya menulis blog awalnya hanya menulis tentang kuda. Ya benar. Hanya tentang kuda. Sebuah blog yang berisi catatan harian Happy, kuda Danube saya.

Danube adalah sebuah sungai yang membelah Eropa. Sungai ini melewati hampir sepuluh negara-negara di eropa. Mulai dari Jerman mengalir jauh hingga konstanta laut hitam.

Dan Happy adalah kuda sungai Danube. Ia liar, tidak terlalu besar, tapi makannya banyak. Mirip saya, hehe.

Setelah Happy meninggal (Yup, kasian ia tidak Happy lagi) tahun 2003, saya jarang menulis. Saya lebih banyak merekam situasi lingkungan saya melalui lukisan atau foto. Setelah itu, saya tenggelam dengan banyak kesibukan-kesibukan lainnya yang menyita waktu.

Saya terlalu sedih kehilangan Happy.

Entah suatu hari, kok bisa-bisanya saya mendapati WordPress Dot Com. Di wordpress dot com ini, saya mulai lagi belajar menulis. Mencoba belajar berani. Belajar mengungkapkan apa isi hati pada dunia yang asing yang sungguh saya tidak kenal.

Menulis mengungkapkan isi hati pada orang asing seperti anda, pada saat itu bukanlah perkara yang mudah untuk saya.

Namun saya tetap menulis.

Saya menulis apa saja waktu itu. Hal-hal yang tidak perlu dan sepele pun saya tulis. Dan gaya bahasanya pun ala kadarnya lah. Hingga saat ini. Maklum saya bukan linguis yang mampu berbahasa dengan baik dan jitu.

Tapi intinya, saya bahagia.

Satu bulan setelah menulis, ada ide muncul di benak. Melihat terlalu banyak blog bertebaran, saya melihat sebuah peluang. Waktu itu, penampakan yang ditunjukkan pada saya adalah suara gaib yang berbunyi “Buatlah blog niche”. 😀

Niche sendiri artinya khusus spesifik. Bukan sodara kembar filsuf Jerman bernama Nietzsche yang telah membunuh tuhannya itu.

Saya pun beride bahwa saya harus memiliki sebuah blog yang membuat saya unik. Kenapa harus unik? Mungkin ini dorongan ego saya di alam bawah sadar sepertinya. Yaitu, butuh pengakuan.

Sebagai orang biasa saja, saya bingung mencari keunikan yang saya miliki ketimbang blog-blog lainnya. Saya toh ditakdirkan bukan lahir sebagai anak indigo yang cerdas gemilang berotak menawan. Saya pun bukan anak autis yang tiba-tiba sembuh dan menuliskan perlakuan medis yang saya terima sepanjang hidup.

Maka masalah yang paling besar untuk menjadi spesifik adalah; Apa yang spesifik dari yang terlalu wajar saja. Apa yang bisa dispesifikasi dari hal yang biasa?

Ketemu?

Iya.., untunglah ketemu jawabnya.

Akhirnya, saya memutuskan untuk menulis pengalaman saya sebagai anak manusia yang lahir dan besar di Cilincing. Sebuah desa di pesisir utara Jakarta. Itu niche saya. Itu keahlian saya, yaitu jadi orang Cilincing. Menjadi diri saya sendiri.

Sebagai orang Cilincing, saya tidak punya banyak keahlian lain. Namun, saya bersyukur pernah mengenyam pendidikan sekolah dasar. Di SDN 25 pagi (*sekolah ini sekarang sudah bubar. Entah kenapa*). Di sekolah ini, saya bersyukur belajar membaca dan menulis. Dasar itulah yang membuat saya berani menulis di blog ini.

Kemudian, saya menulis blog ini menatap orang-orang di sekeliling saya. Orang-orang Indonesia. Tatapan itu, saya namakan “Sesajen dari Cilincing untuk Indonesia”.

Sebagaimana banyak orang yang melihat Indonesia melalui kacamata pribadi mereka, tentu saja banyak suka dukanya.

Ahli-ahli mengenai Indonesia di jaman dahulu kala, di cap orientalis bahkan hingga oportunis. Apabila mereka melihat bangsa Indonesia berdasarkan mata mereka yang biru lalu menuliskannya dengan lidah mereka yang tebal.

Siapa yang mencap? Jelas Bangsa Indonesia dong. Sebagai objek pengamatan, bangsa saya, bangsa Indonesia sering tidak rela apabila dilihat secara telanjang dan diceritakan kembali dengan telanjang. Mereka malu.

Saya bagaimana?

Yaa, untung saja mata saya tidak biru. Untung saja kulit saya tidak putih. Dan lebih berbahagia lagi, lidah saya tidak terlalu tebal. Sehingga saya lebih leluasa menatap mata bangsa saya, bangsa Indonesia.

Namun, tetap saja banyak cap dilimpahkan pada saya sejak saya menulis khusus mengenai Indonesia. Bukan hanya cap, ancaman makian hingga sampah kerapkali menimpa muka rumah saya ini.

Tapi yaah biarlah, terima saja apa adanya. Kata Andri teman saya, “Itulah resiko menulis orang Indonesia”.

Pelan-pelan, saya mulai menulis terus mengenai Indonesia dari mata Cilincing ini. Dan meneruskan lidah Cilincing kepada jari-jemari Cilincing saya ini.

Perlahan, nama panggilan saya Bangaiptop, dikalahkan oleh top nya blog ini. Hehehe.

Saya, jauh tertimbun tertinggal dibelakang pesatnya blog yang saya tulis. Bagaikan pacar ketinggalan kereta. Bagaikan layang-layang, putus dari benangnya. Saya benar-benar tidak mampu mengimbangi majunya blog ini.

Setiap tulisan baru, bukan hanya mengundang teman-teman dekat saya berkumpul, melainkan juga kumbang-kumbang dan laron-laron cantik lainnya berkerubung. Kadang, hari pertama terbit, satu tulisan mampu menghasilkan 50 komentar dari manusia yang sungguh-sungguh jauh berbeda.

Luar biasa!

Namun sekali lagi, saya tak mampu mengimbanginya.

Dua jam setiap hari saya luangkan untuk membalas komentar teman-teman saya dan melakukan kunjungan sebaliknya. Niatnya adalah silaturahmi. Namun kok yaa, makin lama makin timbul penyakit di hati. Yaitu, saya takut dilupakan.

Pertama, keinginan untuk diakui. Kedua, rasa takut kehilangan yang berlebihan.

Saya semakin terjerembab dalam ilusi yang saya ciptakan sendiri. Saya asyik masyuk dalam dunia kecil saya ini.

Menakutkan. Sungguh menakutkan buat saya, orang Cilincing kecil dari desa pesisir ujung Jakarta terpencil. Tersesat dalam rimba ciptaan imajinasi pribadi.

Andy Warhol pernah berkata, bahwa dalam setiap 15 menit nanti, setiap orang dapat menjadi terkenal. Dan saya semakin jumawa. Sebab dalam setiap terbit, saya merasa bahwa saya sudah memiliki 15 menit itu.

Sungguh semakin menakutkan.

Maka itu, saya pamit. Hingga suatu hari nanti.., bisa jadi kita akan bertemu kembali.

Terimakasih atas perhatian teman-teman pembaca semua. Terimakasih atas waktu yang telah kita lewati bersama.

Saya pamit. Entah atas nama apa. Anda boleh menyebut saya pengecut, yang lari terkencing-kecing ketika takut. Atau, bisa jadi anda memanggil saya oportunis, sebab melakukan apa yang Jimi Hendrix perbuat, pergi ketika masa jaya berkuasa. Atau, boleh jadi memanggil saya siluman. Pergi datang tanpa terundang.

Saya terima semua apa adanya. Bahkan memanggil saya bangaip pun saya terima. Toh anda semua teman saya.

Maka itu, di hari baik bulan baik ini, saya pamit.

Lewat satu kata,

Permisi…

Tapi untunglah… Saya ndak jadi pamit. Hihi.

Saya masih tetap menulis. Semuanya saya tulis. Semua cerita-cerita jadul saya. Semua hal-hal bodoh dalam hidup ini yang pernah saya lakukan dengan adik-adik saya maupun teman-teman saya. Semua hal yang menurut saya, gampang dituliskannya.

Sebab melalui tulisan itu, saya tidak menuai harapan. Namun justru menimba harapan. Harapan dari para pembaca yang mungkin pernah punya pengalaman yang sama namun terlupa.

Atau punya harapan, namun karena sumpeknya hidup ini, jadi terlupa.

Di kampung saya, walaupun banyak yang tidak sekolah, miskin dan tertinggal, tidak pernah kita lupa bahwa masih saja tetap ada harapan.

Maka yakin saja, kalau di republik tercinta ini masih pula banyak harapan.

Sebab katanya, harapan itu penopang jiwa.

This entry was posted in bangaip. Bookmark the permalink.

27 Responses to Manit

  1. Pingback: Manit « Arif Kurniawan as Bangaiptop

  2. antown says:

    semakin lokal semakin asyik untuk diceritakan. tidak akan ada habisnya jika kita pandai2 memberi bumbu pada untaian kata yang kita buat sehingga menjadi sebuat cerita

    salam kenal

    -0-
    Salam kenal juga

  3. aRuL says:

    wah benar bang, bahasa blognya bangaip ini top banget, sederhana namun ngena… kapan2 sy diajari nulis seperti ini bang 😉
    wah kayaknya sampean mau hiatus koq bisa sampe ada surat itu.. hehehe
    tapi ngak jadi 😀

    -0-
    Hehe, kamu bisa aja Rul.
    Tapi iya benar. Kemarin-kemarin sudah hiatus, karena memang sibuk sekali.

  4. dnial says:

    Kalau di pilm Shawshank Redemption sih,”Hope is dangerous.” 😛
    Iya bahaya, karena bisa merubah dunia. Semoga Indonesia jadi lebih baik.

    Sebenernya saya suka tulisannya bangaip yang melihat Indonesia apa adanya. Nggak ngajari hanya memotret.

    Untunglah nggak jadi pamit. 😛

  5. kramero says:

    Setuju Bang…
    Masih banyak harapan….

    -0-
    Terimakasih atas dukungannya

  6. goop says:

    harapan dan mimpi yang boleh menjadi nyata 😀
    tetap menulis, Bang :mrgreen:

    -0-
    Terimakasih Paman Goop

  7. Yogie says:

    Tetep nulis bang..
    blog ini selalu saya pantau di aggregator saya..
    dan saya paling nunggu tulisan abang 😀

    -0-
    Terimaksih yaa Yogie

  8. edratna says:

    Saya selalu menunggu tulisan bangaip.
    Lucu, usil, dan selalu menemukan hal baru, dan melihat analisa Indonesia, terutama kampung Cilincing dari sudut pandang yang berbeda.

    Saya malah nggak mikir niche bang, karena bingung juga, mau seperti apa…jadinya ya cuma nulis…nulis…dan nulis….gado2pun lama-lama juga enak kok rasanya, kan kadang ketemu kentang rebus, tahu rebus, tempe rebus, kacang sambel dll. Manis, pedas, ada asamnya dan segaaar

    -0-
    Iya bu… Blog Ibu Enny ini segar. Setiap ada tulisan baru. Pasti saya baca. Kalau ada kebetulan pengalaman yang sama, saya ikutan berbagi lewat komen disana.
    :)

  9. itikkecil says:

    teruslah menulis bang aip… masih banyak orang Indonesia yang bisa menerima fakta dan kenyataan yang ada…
    saya banyak mendapat pencerahan setelah membaca tulisan-tulisan bang aip.

    -0-
    Terimakasih, Mbak.

    Soal pencerahan, hehe, saya sama sekali ndak niat mbagi-mbagi looh. Hehe

  10. Haaa…Bang Aip. Lama tak bersua semenjak di WordPress.com 😀

    Bang Aip, soal kroco – kroco pembual di kolom komentator itu, biarkan mereka menggonggong sementara Bang Aip menjadi kafilahnya. Karena kebanyakan dari teriakan marah hanyalah umpama dari tong kosong. :))

    -0-
    DeBe.., beberapa hari lalu, saya ketamuan perempuan muda yang sedang menempuh pendidikan tinggi (post-grad). Di luar negeri malah sekolahnya. Jauuh.

    Dia datang ke rumah saya karena diajak liburan sama temannya (yang teman saya juga).

    Pas ketemu, beliau ngatain saya ‘LAKNATULLAH!’ setelah tahu saya yang menulis arifkurniawan.wordpress.com

    Hehe, ada-ada aja.

  11. Rasyeed says:

    Jangan pergi bang…!

    -0-
    Nggak kok, saya masih tetap disini.

  12. wah untung berubah pikiran, blog Bang Aip kan hiburan kalo saya lagi suntuk… suntuk nulis, suntuk flu, suntuk dll..

    -0-
    Iya nih, saya mah gampang berubah pikiran. Apalagi kalo disogok makanan. Gampang sekali merubah keyakinan saya. hihihi.

  13. Bening says:

    Hufff…! Untung cuma manit, kalau sampai pamit daku kuciwa, Bang :(
    Ning ngikutin blog Bang Aip ini dari awal kehadirannya, karena umur blog bang Aip yang di WP nggak jauh beda dengan umur blog saya, waktu itu lagi getol-getolnya blogwalking. Sekarang setelah ada bloglines, Ning makin aman tidak perlu takut ketinggalan tulisan, jadi maaf kalau jarang berkomentar. 😀
    (eh, betul kan Bang Aip menulis untuk dibaca, bukan untuk dikomentari? hi hi hi, kalo begitu, ning sudah di jalan yang benar :mrgreen: )

    -0-
    Iya Mbak Ning sudah di jalan yang benar. Semoga selalu diridhoi. Hehe.

    Nggak kok, saya nggak pamitan. Saya masih setia bersama teman-teman semua. :)

  14. -tikabanget- says:

    kalo sayah ndak bisa baca tulisan bangaip.com lagi, minimal pertemukanlah sayah dengan penulis bangaip.com inih..

    -0-
    Suatu saat, pabila ada rizki… Akan saya pertemukan, Mbak Tika.

  15. lambrtz says:

    Bang Arif, salam kenal.
    Akhir2 ini baca blognya bang Arif yang lama, dikebut 1 hari bacanya 😀
    Terkesan sekali dengan banyaknya pengalaman yang pernah Bang Arif rasakan.

    Jangan pensiun ya Bang, tulisan Abang saya tunggu :)

    -0-
    Salam kenal juga. Wah terimakasih sudah ngebut mbaca tulisan saya. jadi tersanjung euy. Hehe.

    Pengalaman saya ndak banyak, Mas. Masih banyak orang yang lebih berpengalaman. Saya mah hanya sekedar menuliskan saja apa adanya. Dan inipun subjektif. Sebab dilihat dari kaca mata pribadi sih. :)

    Terimakasih atas mampirnya.

  16. sofianblue says:

    saya tak pernah lewatkan bangaip. maksud saya, blog bangaip.com ini.
    kalau pas banyak waktu senggang, kurang afdol kalo nggak merapal mantra dan mojo ala bangaip.

    saya percaya dengan tulisan-tulisan bangaip. gurih, referensif dan sangat menginspirasi.

    -0-
    Terimakasih atas mampirnya Mas Sofian.

    Sudi mampir terus yaa Mazz.. (*Hehe kayak gadis warung pantura aja nih saya*)

  17. sufehmi says:

    Pas ketemu, beliau ngatain saya ‘LAKNATULLAH!’ setelah tahu saya yang menulis arifkurniawan.wordpress.com
    .
    Kayaknya dia bisa bicara sama Tuhan tuh. Ada line khusus ke Surga.
    .
    Lalu suatu hari telponnya itu berdering. Dari Tuhan.
    .
    “Halo, ini Tuhan. Ya, ini xxx kan? OK, nanti itu tanggal sekian kamu bakalan ketemu sama si Bang Aip. Titip pesan dari saya, bahwa dia itu LAKNATULLAH. Oke? Awas jangan sampai lupa ya. ‘Tak pites kamu kalau lupa. Kamu yang jadi LAKNATULLAH”.
    .
    Lanjutan ceritanya sampeyan sudah tahu 😀

    -0-
    Hehe, bisa aja Pak Harry. :)

    Tapi setelah peristiwa ini, saya mulai berfikir ulang Pak. Dulu, saya berfikir bahwa tingkat rasionalitas, intelejensia dan pemahaman terhadap sesama makhluk hidup, akan jauh lebih baik jika seseorang punya pendidikan yang mencukupi.

    Setelah peristiwa tersebut. Nampaknya asumsi saya kurang tepat.

    Mungkin saya harus mencari tesis baru,yaitu mendefinisikan hubungan antara pergaulan dengan pemahaman antar sesama makhluk hidup. Hehe

  18. sufehmi says:

    Masih banyak jalan-jalan indah di pelosok nusantara yang tidak macet dan para pengendara disana ramah-ramah.
    .
    Kebetulan saya lagi di Pelabuhan Ratu. Dari Cicurug, jalan ke PR ini sangat nyaman, sepi, dan damai. Orang-orang di sepanjang perjalanannya pun ramah-ramah sekali. Kami juga ketemu dengan orang-orang lainnya yang sedang touring juga. Ada yang menggunakan sepeda. Ada yang dengan sepeda motor.
    .
    Keluar dari Jakarta, mendadak kita seperti pindah ke dunia yang berbeda 😀
    .
    Indonesia itu ternyata indah kok.

  19. sufehmi says:

    Tapi untunglah… Saya ndak jadi pamit. Hihi.
    .
    Hmf…. awas saja kalau nekat kabur sebelum “Cilincing Undercover” terbit. Awas ya ! 😀

    -0-
    Saya setuju, Pak. Indonesia itu indah. Indah sekali euy.
    Soal ‘Cilincing Undercover’ hehe, hampir rampung nih. Tinggal mencari penerbit dan mengurus illustrasinya.
    :)

  20. tiyok says:

    Teruslah menulis, Bang!
    Udah lama sih ngamati blog ini, cuma jarang banget ninggal komen 😀
    Kebetulan saya domisili di Jogja, dan yang saya rasakan, Indonesia memang indah. Masih ada tegur sapa antar warga di sini.
    Yah, itulah negeri kita, penuh warna.

    Terus menulis Bang!

    -0-
    Terimakasih Mas atas dukungannya.

  21. baru ngeh kalo bang aip sudah pake domain sendiri :p

    -0-
    Iya mas Fahmi. Baru, ini. Kalau ditilik, masih anak bau kencur saya dalam dunia perdotkomman. :)

  22. Citra Dewi says:

    Bang Aip,
    HArapan saya bang Aip tdk akan pernah berhenti menulis. Tulisan Bang Aip itu juga mewakili pemikiran dan perasaan dan suka duka saya sebagai ex priok he..he dan sbg perantau dan sebagai manusia yg mencintai negeri dan yg tidak dihiraukan oleh negeri tercinta.
    Tulisan Bang aip itu ibarat kata seperti jamu tolak angin, menyembuhkan hati yg kadang d rundung rindu, menguatkan hati yg kadang berduka, memberi informati yg berguna. Bang Aip tdk hanya menulis utk diri sendiri tapi juga memberi ilham, menambah ilmu dan memperluas cakrawala. Biarlah anjing tetap mengonggong. Turuti kata bang Aip sendiri.
    Sukses Bang, salam buang majikan yg baru. Pasti caem kayak ibu nyonya dan pinter, lucu dan baik hati kayak bapaknya.

    -0-
    Terimakasih Mbak Citra atas dukungannya. Saya sampaikan salam pada majikan-majikan saya. Kalau ada waktu, mungkin bisa ikut kendurian sama-sama lagi yaa, Mbak? :)

  23. titiw says:

    Alhamdulillah kagak jadi pegi kan bang..? Karena dari tulisan2 abang, banyak orang yang tersentuh lho.. Bahkan saya aja menjadi orang yang lebih sosial dan lebih ngeliat ke bawah karena baca tulisan2 bang aip (ini jujur lho bang.. kapan2 mungkin akan saya post di blog saya). Lha pas saya masuk LSM yang berkecimpung di dunia pendidikan ini, nama bang aip menjadi salah satu list orang yang secara tidak langsung mengcourage saya lho.. Yakinlah sumpah.. Aahaha.. Tapi karena bang aip gak suka terlalu disanjung2 ya udah deh..
    Sekedar share, saya selalu inget line film ini kalo ada orang yg mau mundur dari sesuatu hal, moga2 berkenan ya bang.. Salam.

    (The important thing in life is to believe that while you’re alive, it’s never too late. No matter how bad things look, they look better awake than they do asleep. When you die, there’s only one thing you want to happen. You wanna come back.)
    -The Jacket, 2005-

    -0-
    Bagus euy kutipannya. Terimakasih, Tiw.

  24. sufehmi says:

    Dulu, saya berfikir bahwa tingkat rasionalitas, intelejensia dan pemahaman terhadap sesama makhluk hidup, akan jauh lebih baik jika seseorang punya pendidikan yang mencukupi.
    .
    nooooo…. wah bang, sama sekali tidak. Kadang iya. Tapi, seringkali tidak relevan. Apalagi kalau nawaitu nya sudah salah, untuk mengejar ijazah doang. Ya dapatnya cuma ijazah doang :) lainnya tidak. He he

    -0-
    Iya pak, setuju, tingkat pendidikan memang tidak selalu relevan dengan common sense. Sama seperti halnya jabatan, yang kadang makin tinggi malah menjauhkan seseorang dari common sense terhadap sesama manusia.

  25. sufehmi says:

    Soal ‘Cilincing Undercover’ hehe, hampir rampung nih. Tinggal mencari penerbit dan mengurus illustrasinya
    .
    Saya bisa pre-order dimana ? 😀

    -0-
    Hehe, belum bisa Pak. Masih diurus ini illustrasinya sama teman-teman. Hehe. Tapi kalau sudah rampung, bapak yang pertama saya kontak deh. Janji pramuka :)

  26. Autisboy says:

    Tapi setelah peristiwa ini, saya mulai berfikir ulang Pak. Dulu, saya berfikir bahwa tingkat rasionalitas, intelejensia dan pemahaman terhadap sesama makhluk hidup, akan jauh lebih baik jika seseorang punya pendidikan yang mencukupi.

    Setelah peristiwa tersebut. Nampaknya asumsi saya kurang tepat.

    Tadinya saya juga berpikir seperti itu Bang Arif. Tapi setelah beberapa pengalaman pribadi, saya menyimpulkan ’emosi kerap kali meng-override logika’.

    Kayaknya otak kita jauuuh lebih cepat memproses ’emosi’ lalu mengirim sinyal-sinyal dengan output ‘tindakan’ daripada berpikir logis.

    Tapi. Entahlah.

    Ohiyah, salam kenal Bang Arif. Ngga sopan bener saya langsung tinggalkan 3 komen tanpa kenalan.

  27. fety says:

    he..he..selalu ada kejutan di akhir cerita:)

Leave a Reply