Meker

Saya sempat terkesima membaca tulisannya Ibu Enny yang berjudul Uang, karir dan keluarga.

Tadinya, saya berfikir akan komentar di kolom itu. Sebab ada cerita mirip yang sebenarnya mau saya bagi. Tapi, karena mungkin agak kepanjangan dan khawatir OOT (Out Of Topic). Saya coba saja memilih menuliskannya di blog sendiri.

Jadi, yaah ini kebetulan adalah salah satu tulisan yang terinspirasi dari tulisan lainnya. Hehe. Kebetulan pengalaman pribadi. Jadi yaah ndak apa-apa lah di bagi.

Begini ceritanya;

Beberapa waktu lalu, saya punya teman nih yang kerjanya tiap hari cemburu terus.

Saya juga bingung menghadapi rekan saya satu ini. Memangnya kerjaan di dunia ini sudah habis apa, jadi setiap hari kerjanya cemburu saja?

Rekan saya, panggil saja Ona, setiap hari menelpon atau email atau kadang bersua dengan saya. Hanya demi satu tujuan, ngegosipin kakak iparnya, Uni.

Apabila hari senin dia bilang, “Rip, elo tau ga… Masak si Mbak Uni dibeliin leptop tuh ama bosnya”, maka hari selasa dia akan berkata, “Iiih bete deh. Mbak Uni leptopnya mereknya mekerr. Lo tau ga? Ahh lo mah mana tau! lo mah kan kampungan, Rip”

Saya bengong sambil protes, “Mana ada laptop mereknya Meker. Jorok bener mereknya?”

“Aah susah gua mah ngomong sama elo. Nih gua kasih tau. Ada leptop bagus namanya mekbuk. Nah ini lebih bagus lagi, mereknya mekerrr… Mekeeerr..! Lu tau ga! Dasar lu mah urat susah. Mana ngerti barang bagus!”

Ooo… Maksud dia Macintosh Mac Air rupanya.

Pokonya, yaa setiap berjumpa saya. Dia gosipin kakak iparnya deh. Tanpa jemu-jemu, tanpa kenal lelah, tanpa peduli matahari bersinar atau tidak. Pokoknya gosip. Dan gosipnya juga amat spesifik. Yaitu Uni, kakak iparnya.

Lama-lama sebal juga mendengarnya.

Maka, suatu hari, saya mencari jalan lain. Agar ketika berangkat kerja, tidak satu bus bersama Ona lagi. Untung saja musim panas hampir tiba. Jadi saya pilih bersepeda ketika berangkat kerja.

Nah si Ona, yang mengetahui nampaknya saya mulai menghilang dari peredaran bus kota, gerilya nih mencari saya.

Setiap hari, dia menelpon Ibu Nyonyah, majikan saya. Bertanya, “Eh… ada si Arip ga? Saya ada perlu penting nih!”

Waktu itu saya memang tidak ada. Tapi, telpon-telpon itu, cukup membuat Ibu Nyonyah terang saja bertanya-tanya. Kok yaa tumben-tumbennya si Ona mencari saya terus. Maka suatu hari, Ibu Nyonyah mengkonfirmasikan kepada saya, apa yang sebenarnya tengah terjadi.

Karena saya juga sama-sama bingung. Maka saya putuskan untuk mencari jawabnya.

Yaitu; bertanya langsung pada Uni. Apa yang sebenarnya sedang terjadi.

Suatu sore, saya berendong-petong ramai-ramai bersama majikan saya, Ibu Nyonyah dan majikan baru saya, Den Putri Novi Kirana. Menuju rumahnya Mbak Uni, kakak iparnya Ona. Tujuan kami hanya satu; bertanya.

Di rumah Mbak Uni, saya kebingungan. Sebab kok yaa ada mobil mewah di rumahnya. Tumben. Ada tamu kah?

Tidak lama kemudian, saya dipersilahkan masuk oleh Bang Herman, suaminya Mbak Uni, sekaligus kakaknya Ona. Setelah diberi jamuan teh manis anget. Bang Herman cerita bahwa Mbak Uni sedang tidak di rumah.

Saya dan Ibu Nyonyah mau menunggu sebenarnya. Tapi Bang Herman cerita bahwa Mbak Uni bukan hanya tidak ada di rumah, tapi sedang pergi ke luar negeri. Ada tugas dari kantor.

Saya tiba-tiba tertarik menanggapi. Sebab apa kata si Ona nanti kalau Uni ternyata ke luar negeri dibayari kantor. Waah, pasti gosipnya tidak habis ia bahas selama tiga hari.

Sebab Ona pernah bilang pada saya, “Rip, orang Indonesia itu udah paling hebatnya kalo bisa bilang ama orang-orang sekampungnya.. ‘Eeh, gue dong udah ke Amrik’. Itu kan gengsi meen. Gengsii tau!”

Kata Ona, kalau orang Indonesia di luar negeri, pasti duitnya banyak. Contohnya orang haji yang memenuhi panggilan Illahi. Sebab cuman orang kaya doangan yang bisa ke Mekkah kepanggil, katanya Ona. Orang miskin mah, biar kata dapat panggilan, mau kemana? Ke pasar?

Saya lupakan sejenak Ona. Mata saya tertumbuk pada benda mengkilat di depan rumah. Sambil iseng, saya tanya “Bang Herman, beli mobil baru yaa”.

Bang Herman menjawab sambil melamun, “Bukan rip, punyanya Uni”

Saya bingung. Setahu saya, Uni itu tidak suka pakai mobil. Ia lebih suka pakai bus atau sepeda kemana-mana. Kata beliau, hemat dan ramah lingkungan.

Itu mobil Uni? Wah sejak kapan Uni memilih punya mobil.

Bang Herman lalu tanpa saya minta, bercerita. Sejak Uni pindah kerja ke tempat baru, Uni dapat banyak fasilitas dari kantornya. Apa saja dibelikan. Mulai dari handphone canggih, blackberry, laptop, hingga mobil. Semuanya dikasih oleh kantor baru.

Tapi… Yaah dibalik itu semua, pasti ada tapinya.

Kata Bang Herman, Mbak Uni jadi susah dikontak. Rupanya itu alat-alat canggih dipakai untuk berhubungan dengan client. Jadi, yang namanya instrumen elekronik semacam laptop, handphone dan blackberry itu rupanya bukannya membuat hidup Uni makin mudah. Namun malah membuat ia semakin terisolasi.

Begitu kesan Bang Herman.

Kata beliau lebih lanjut, Uni bekerja bagaikan tidak kenal siang dan malam. Pokoknya kalau ada email masuk dari client, kapanpun jua, harus dibalas secepatnya. Walaupun tengah malam buta sekalipun, kalau ada email mancanegara masuk, yaa harus dibalas.

Itu mobil, mobil mewah, diberi kantor. Bayarnya mencicil kridit. Rupanya agar lebih memudahkan bertemu client dan membuat kantor terlihat elegan dan ngegaya. Sebab agar client tidak merasa bahwa mereka bayar mahal tapi ketemu costumer services yang lecek.

Uni, saat ini harus ke luar negeri. Sebab client kantor yang di luar negeri ingin proyek mereka di urus oleh Uni. Maklumlah, pekerjaan baru Uni ini sekarang Project Manager.

Bang Herman bilang, kalau Uni ada proyek ke luar negeri, rasanya kalau pulang ke rumah tidak enak. Sebab tidak ada orang yang ia cintai di rumah.

Itu rumah, rasanya sepi.

Sejak penghasilan bulanan keluarga mereka makin bertambah. Ternyata ada juga pengeluaran tambahan. Salah satunya adalah upaya menghilangkan stress.

Work hard, play hard. Begitu kata dia istilahnya.

Saya (dan majikan-majikan saya) mah bengong saja. Maklum, kami ini mah seperti kata Ona… Orang kampung. Urat susah. Mana ngerti yang begituan.

Saya termangu. Bingung. Menyadari betapa pekerjaan, karir dan mimpi terkadang malah membuat membelenggu. Teknologi yang memudahkan manusia, kadang malah membuat pemiliknya menjadi bisu.

Bingung saya. Dalam hati berfikir, nanti kalau ketemu Ona, apa yang saya harus ceritakan?
Apakah membiarkan Ona terbang dalam imajinasi liarnya terhadap Uni?
Atau cerita; …bahwa selama ini ia cemburu pada dunia yang bisu?

Ahh, apa yang seharusnya saya ceritakan…

This entry was posted in bangaip, cerita_kerja and tagged . Bookmark the permalink.

8 Responses to Meker

  1. Pingback: Meker « Arif Kurniawan as Bangaiptop

  2. Semoga kita terhindar dari karakter ‘penggosip’ ulung begitu yah.. πŸ˜€
    Seperti pepatah kondang berkata: “Sirik tanda tak mampu” – adalah benar gambarannya akan cerita diatas..

    Terlepas dari itu, ‘the grass on the other side of the fence [has always been look] is greener’ – itulah sifat dasar manusia, yang mana kalaupun ada arrangement tukar-guling, seperti serial TV di UK berjudul “Wife Swap” pastilah akan lain ceritanya.

    Sayang urat leher itu kalau harus cerita sama Neng Ona, biarlah dia ‘learn the hard way’ dan terbang dengan imajinasinya sendiri, sementara bang Aip bisa berlanjut dengan objecktivitas dan pikiran positifnya..

    PS: Salam hangat dari Afrika Barat!

    -0-
    Salam dari sini, Kang Luigi.

    Soal wife swap. Waah saya punya cerita tuh soal itu. Kebetulan salah satu client saya bandarnya. Nanti deh kapan-kapan saya ceritakan. Hehe

  3. edratna says:

    Bangaip, saya bersyukur mempunyai suami yang justru pendukung saya. Dulu, saya adalah pemalu, pendiam, tak berani mencoba, suamilah yang selalu menguatkan saya untuk berani mencoba.

    Awal menikah dan kemudian punya anak, pekerjaan saya mengharuskan bertugas keliling Indonesia…orang lain membayangkan enak sekali, kemana-mana dibayari kantor…padahal: sebelum pergi saya menyiapkan semacam aturan apa yang harus dilakukan untuk kedua anak saya, kalau sakit dokter mana yang harus dihubungi, juga tentang biaya listrik dll, harus saya tempatkan dalam amplop sesuai tanggal kapan harus dibayarkan dsb nya. Setiap malam saya menciumi baju si kecil, saat itu belum ada telepon…begitu kerjaan selesai, biarpun malam saya pulang pake penerbangan terakhir dan sampai rumah langsung mengurus anak-anak. Praktis, menjadi perempuan pekerja, tidur saya rata-rata hanya 2-3 jam per hari.

    Setelah anak cukup besar, masalahnya adalah anak remaja, setiap bulan sekali saya ngapel ke sekolah anak-anak, menghadap bapak/ibu kepaa sekolah, guru bimbingan dan wali kelas, apakah anakku tak membuat masalah di kelas. Setiap malam, saat anak kecil, saya selalu mendongeng sebelum mereka tidur, setelah mereka beranjak besar, ada acara mengobrol bersama ibu sambil guling-guling di kasur…ganti mereka yang cerita keseharian di sekolah..ibu mendengarkan sambil deg2an, tapi wajah harus di setel datar, agar anak-anak tak takut cerita pada ibu.

    Saat ditugaskan ke luar negeri, kebetulan sudah ada yang namanya sms, setiap waktu luang, adalah mencari oleh-oleh untuk kedua anak, si mbak yang momong anak-anak. Syukurlah si mbak nya anak-anak awet di rumah, mereka seperti keluarga sendiri, karena saya dan suami memperlakukan sebagai saudara. Semakin menanjak karir, saya mendapat mobil dinas “Camry”, tapi setiap Sabtu Minggu, mobil tetap teronggok di garasi, kalau tak ada suami, saya dan anak-anak tetap menikmati naik bis, bajay dan taksi (kalau lagi punya uang). Saya tahu, banyak tetangga yang heran, mungkin ngomongi, ada dua mobil (satunya milik sendiri) kok malah naik kendaraan umum. Tapi itulah cara kami mendidik anak-anak agar mereka tetap bisa menjadi rakyat biasa.

    Setelah si sulung bisa naik sepeda motor, maka ke sekolah SMA tetap naik bis, sepeda motor baru digunakan saat dia sudah mahasiswa, sudah mampu mengerem emosinya. Si sbungsu pun sekarang suka naik angkot (masih takut2 nyopir), walau dia udah lulus S1 di ITB dan meneruskan S2 sambil bekerja sebagai koordinator asisten.

    Menurut saya, dukungan orang terdekatlah yang penting. Jujur saja, tulisan saya di blog sebetulnya sudah ada setahun yang lalu, curhatan teman yang kerja di luar negeri, baru saya posting sekarang untuk dibaca si sulung, yang saat ini juga lagi berjuang di Miami, bersama isterinya.

    Salam manis Bangaip….hidup ini susah, tapi dengan dukungan suami/isteri dan saudara yang memahami kita, semuanya akan menjadi lebih mudah.

    -0-
    Terimakasih Bu untuk pendapatnya. Saya setuju memang dengan dukungan keluarga, semuanya jadi lebih mudah. Amiini. BTW, semoga si sulung dan keluarga betah di Miami.

  4. aRuL says:

    mau tuh dapat meker… hehehe
    btw semakin tinggi fasilitas, semakin tinggi penghasilan semakin tinggi juga tingkat stress..
    namun orang kaya skrg, membeli kebahagiaan, soalnya sudah capek cari duit πŸ˜€ hehehe
    moga2 keluarga sy seimbang nantinya :)

    -0-
    Membeli kebahagiaan? Emang bisa Rul? :)

  5. hehehe…memang begitulah.
    pekerjaan ‘bagus’, salary+fasilitas ‘keren’, maka stresnya pun ‘hebat’ :-)

    -0-
    Wah sepertinya Mas Fahmi ini pengalaman pula.

  6. Manusiasuper says:

    Seperti pepatah bilang ‘istri tetangga selalu terlihat lebih seksi’

    Saya jadi bertanya-tanya, apa tidak mungkin menjadi kaya, bahagia dan dekat keluarga dalam saat yg bersamaan?

    -0-
    pertanyaan yang menarik

  7. ira says:

    Met kenal bangaip… tulisan bagus-bagus… :)betah banget bacanya…. :)
    dulu dah pernah kesini tapi lupa dah ninggalin salam atau belom…
    tapi ngga ada ruginay kenalan lagi…. :)

    -0-
    Salam kenal juga Mbak. Saya senang bisa disinggahi oleh Mbak Ira. Salam untuk keluarganya.

  8. itikkecil says:

    rumput tetangga memang selalu kelihatan lebih hijau. orang kadang-kadang lupa kalau ada harga yang dibayar untuk mendapatkan semua fasilitas itu.

Leave a Reply