Pedekate

Andai saudara-saudari pengunjung tahu, saya menulis ini tidak berniat cari sensasi. Apalagi cari kebebasan finansial. Sama sekali bukan.

Kalau memang tulisan saya kontroversi bagi anda, yaa maaf lahir batin ya. Tidak bermaksud menggurui, tidak bermaksud bagi moral, apalagi bermaksud jadi trend setter. Semua tulisan disini yaa hasil pemikiran pribadi. Kalau anda tidak suka, silahkan dibantah. Dimaki-maki juga tidak apa-apa… Saya mah sudah lama pasrah kalau dimaki-maki. Hehe.

Saya ini hanya buruh kecil yang sering mengaku karyawan supaya kelihatannya lebih intelek sedikit. Sedang belajar menulis tanpa dibayar. Belajar berbagi melalui rangkaian kata.

Tulisan saya, adalah refleksi pengalaman hidup sehari-hari. Semuanya subyektif. Dilihat hanya dari kacamata satu orang, yaa kacamata saya yang jadul, kampungan dan buram ini.

Maaf belum bisa membalas komentar, nampaknya tulisan terdahulu memancing (lagi) reaksi. Kita biarkan saja teman-teman disini saling berbagi pendapat melalui komentar-komentar mereka yang bijak, cerdas dan menarik. 

Maka itu, sambil menunggu situasi agak dingin-dingin empuk, saya sajikan tulisan “pedekate” ini.  Sebuah tulisan berdasarkan pengalaman saya waktu masih pacaran dengan istri dahulu.

Pedekate sendiri adalah bahasa yang dipergunakan anak-anak Jakarta untuk mendeskripsikan ketika seseorang tengah jatuh cinta dan mencari cara agar bisa berdekatan dengan orang yang dicintainya itu. 

Selamat menikmati;

Seperti biasa lah. Namanya juga waktu pacaran, waktu saya masih pedekate (baca:pendekatan) terhadap istri dulu, yaa berbagi cerita satu sama lain. Atas nama keakraban. Hehe.

Ceritanya sih wajar-wajar saja. Saya cerita pengalaman saya. Beliau pun cerita pengalaman hidupnya. Saling menjajaki mungkin namanya.

Saling berbagi, melihat kecocokan satu sama lain.

Lucunya, waktu awal-awal pacaran dulu, istri saya menyangsikan semua cerita yang saya ceritakan. Beliau bahkan berfikir kalau saya menderita schizophrenia. Hidup dalam delusi dan punya teman dan keluarga imajiner.

Saya sih seperti biasa, pasrah saja. Habis mau bagaimana lagi? Kalau sudah tidak percaya, yaa jangan dipaksa untuk percaya.

Waktu awal-awal bulan bertemu istri, saya sedang terisolasi. Jauh dari teman-teman, keluarga bahkan orang yang kenal pun juga tidak ada. Jadi, tidak adalah pembuktian bahwa cerita-cerita saya bisa di cross-check satu sama lain.

Waktu itu, mantan pacar sempat khawatir juga. Sebab jarang bertemu manusia tipikal saya. Yang tiba-tiba muncul in the middle of nowhere. Dia kan tipe rumahan. Temannya yaa teman-teman sejak kecil. Keluarganya yaa tidak tinggal berjauhan. Dan sepanjang hidup, selalu berada dalam zona yang ramah dan menyenangkan.

Jelas beda dengan saya. Hehe.

Jadi, saya pasrah saja ketika beliau sama sekali tidak percaya cerita saya dan lalu menganggap saya menderita schizophrenia.

Tiga bulan setelah pacaran, mulailah saya kedatangan tamu. Teman lama dari Jogja, Bandung dan beberapa daerah lainnya. Para seniman pembuat komik.

Bersama mereka, saya dan pacar (waktu itu belum nikah) membuat komik raksasa. Komik itu kami pamerkan di alun-alun.

Kami di liput media lokal karena peristiwa tersebut. Wah senang sekali tuh istri saya. Seumur hidupnya kan jarang berhubungan dengan media mainstream. Tiba-tiba, setelah kenal saya berapa bulan, langsung masuk koran. Kembang kempis hidung dia. Hehe.

Besoknya, saya di telpon calon mertua (waktu itu masih calon). Diomeli. Kata mertua, kenapa anaknya diajak demonstrasi?

Rupanya, mertua saya melihat aksi kami di koran-koran lokal. Sebab waktu itu ide pembuatan komik raksasa di alun-alun adalah untuk memprotes rencana penjualan kapal tempur ke Indonesia.

Mertua saya takut, jika terjadi apa-apa dengan anak perempuan mereka semata wayang. Sebab pada saat itu, memprotes kebijakan luar negeri RI sama saja cari masalah. 

Ketakutan yang beralasan. Jangankan memprotes kebijakan RI, membicarakan gaya hidup manusia RI yang majemuk itu saja kadang sering menimbulkan masalah (*contohnya blog saya ini, hehe*)

Istri saya pun kaget waktu foto dia (bersama saya dan teman-teman) muncul di media lokal, dengan headline “Rakyat Indonesia memprotes peningkatan pembunuhan di Aceh”.

Jelas beliau tidak menyangka bahwa komik yang teman-teman, saya dan ia buat punya headline yang bombastis di koran-koran.

Reaksi pertamanya jelas takut. Panik. Dan mulai mengorek ulang cerita-cerita saya.

Saya jawab semua pertanyaannya dengan apa adanya. Yaah mau bagaimana lagi. Masa mau bohong sama calon mamanya anak-anak.

Ia tambah takut. Katanya, orang yang bicara mengkritik Indonesia itu suka hilang tiba-tiba. Dan andaipun dicari, maka pencarinya hanya akan muncul ketika ada desakan politis tiba-tiba pula. Itu pun tidak konsisten. Maksudnya, kalau ada desakan politis, tiba-tiba muncullah para jagowan di tengah krisis desakan itu. Kalau tidak, yaa tidak ada. Hehe.

Saya jelaskan, bahwa apa yang dilakukan setiap orang dalam hidup (termasuk dia) jelas ada konsekuensinya.

Komik yang kami buat, memang mengkritik penjualan kapal perang ke RI. Kenapa? Sebab waktu itu sedang konflik antara RI dengan anak yang menyayanginya, Aceh.

Dalam sebuah diskusi, saya dan teman-teman dikritik habis-habisan oleh beberapa teman kami yang kebetulan ada di institusi militer. 

Kata mereka, RI itu senjatanya besi bekas semua. Tank dari jaman Bung Karno. Pesawat tempur, onderdilnya di kanibal. Hingga yang parah, kapal perang tua dan lambat yang bahkan tidak bisa memburu para perompak di tengah laut.

Iya, jelas kalau melihat dari sisi itu, bicara kekuatan tempur RI yang lemah tidak ada habis-habisnya dibicarakan.

Tapi kalau mau melihat dari sudut rakyat, harusnya dipikirlah lebih panjang dahulu.

Saya bukan sok tahu tiba-tiba dalam diskusi jadi penyambung lidah rakyat. Namun kenyataannya, beli kapal tempur, memang minta ijin sama rakyat? Uangnya uang rakyat, kok mau main beli sembarangan saja.

Itu kapal, kalau sudah dibeli, apa ada yang berani menjamin bahwa tidak ada satupun amunisi yang akan ditembakkan pada rakyat RI?

Ketika waktu ada konflik di Aceh, Papua, Maluku dan beberapa titik minor di RI. Apakah ada penguasa yang berani bersumpah, bahwa kapal tempur super mahal yang akan dibeli itu tidak akan meminta tumbal darah rakyat Aceh, Papua atau daerah-daerah konflik lainnya?

Tidak ada teman-teman saya dari institusi militer yang menjawab saat itu. Bisa jadi karena mereka tidak tahu. Bisa jadi pula karena tidak berani bersumpah.

Waktu diskusi panas bersama teman-teman itu, kebetulan ada istri saya disamping. Takutnya bukan kepalang ia.

Saking takutnya, ia bertanya pada teman-teman diskusi saya itu, “Kalian tidak akan berniat menghilangkan saya kan hanya karena saya ada disini?”

Teman-teman saya bingung semuanya. Saya mah cengar-cengir saja.

Setelah dijelaskan dengan panjang lebar oleh saya dan teman-teman, bahwa keamanan ia akan baik-baik saja, legalah hati istri.

Pulang dari diskusi itu, istri saya berbisik di tengah jalan “Lain kali, kamu jangan cerita yang aneh-aneh yaa sama saya. Kalau diskusi jangan ajak saya lagi. Takuut…”.

Saya senyum saja.

Tapi dalam hati menyesal sekali. Sebab tidak ada niat sama sekali memang untuk menakut-nakuti siapapun juga.

Yaah, cerita ini sekedar berbagi. Kalau anda sedang pedekate, jangan cerita macam-macam yang menakutkan calon istri atau calon suami. Hehe.

This entry was posted in bangaip, Orang Indonesia, Republik Indonesia, sehari-hari and tagged . Bookmark the permalink.

14 Responses to Pedekate

  1. Hedi says:

    pdkt itu memang harus sensasional, bang…biar seru hahaha

    -0-
    Hehe, hati-hati loh kalau terlalu sensasional. Nanti malah tambah ngetop. Dan bisa gagal pdktnya gara-gara ada yang lain nampel karena terbuai sensasional dan topnya itu. Hihi

  2. aryf says:

    😀

    utk kedua x, melalu blog yg sama, bertemu blog yg berbeda, beta TERTAWA. trnyata byk saudara yg mengerti duka tp tak larut putus asa.

    terimakasih2..jd + semangat utk merdeka 😀

    -0-
    Kalimatnya menarik

    “melalu blog yg sama, bertemu blog yg berbeda”

    .

  3. Pingback: Pedekate « Arif Kurniawan as Bangaiptop

  4. lambrtz says:

    Walah Bang Arif, katanya “sambil menunggu situasi agak dingin-dingin empuk”, jadinya politis. Khas banget dah. 😀

    Berarti ga cuma saya yang bilang pengalamannya banyak kan? Mantan pacar Bang Arif malah sampai mengira schizophrenia 😛

    BTW habis nempelin komik itu ga didatengin pihak berwajib sama sekali Bang?

    -0-

    “sambil menunggu situasi agak dingin-dingin empuk”, jadinya politis. Khas banget dah.

    Setelah baca, langsung menghubungi beberapa teman yang berprofesi secara profesional di bidang hukum di RI. Setelah itu menghubungi pula beberapa teman di institusi yang bergerak membantu advokasi anak. Bertanya mengenai hukum RI mengenai hal ini. Setelah dapat data cukup, menghubungi KOMNAS anak dan POLRI. Hasil dari Komnas dan Polri dijadikan rujukan untuk menelaah dan mengambil putusan apabila terjadi kasus sama di masa depan.

    Maka itu saya bilang dingin-dingin empuk, sebab waktu tulisan ini tayang, prosesnya belum sampai Komnas Anak dan Polri. Masih ‘hot’ banget, begitu. :)

    Kalau soal komik, kami dapat lindungan dari Polisi waktu itu. Kebetulan polisinya amat koperatif sekali. Mereka ada selain mengamankan jalannya pameran (*atau demo atau art show atau apalah namanya*), juga mengamankan dari rencana penyerbuan ‘pihak-pihak yang tidak suka membaca komik’. :)

  5. manusiasuper says:

    Saya masih belum menemukan titik balik di mana Yang Tercantik Calon Nyonyah berubah dari takut dan curiga atas schizophrenia khayalannya Bang Aip lalu menjadi Cinta… Apa ada teks tersembunyinya ya?

    -0-
    Tidak ada teks tersembunyi. Tapi memang ada lanjutannya. Hehe

    (*Lanjutan komentar ini ada pada komentar balasan pada IMBA(TM), Mas Mbel*)

  6. ah, cerita pedekate-nya ga seru!! masa cuma segini?
    xixixi…
    *kabur*

    -0-
    Maklum mas, saya mah orang awam. Pedekatenya juga yang awam-awam saja. Hehe

  7. weeeh…
    Kalok dilanjutin inih cerita bisa jadi novel….

    -0-
    (*Melanjutkan pula jawaban Mansup*)

    Bisa… Tapi ndak mau. Hehe

  8. aryf says:

    ah kaw lambat..(susah x pun eja namamu) :-)
    telat x kaw ini.
    bang AIP ini kan dr kalangan berwajib.
    sebentar lg dia diangkat jd marsekal, bintang 5 pula.

    -0-
    Ini maksudnya apa?
    Saya memang dari kalangan wajib pajak, sama seperti anda. Hehe. Tapi bukan dari kalangan yang berwajib seperti institusi pemerintahan.

  9. aryf says:

    ehh kaw tipu aku..namaku pake `way` in englis
    in indonesia, pake `Y`..
    jgn kaw salah gunakan!

    *sejak kpn aku punya pacar???*

    NB: maaf ya bang aip, kami kesasar…

  10. setanalas says:

    saya jadi bingung. ini cerita pdkt bang aip sama calon nyonya atau sama kapal perang kah?

    -0-
    Hehe, digabung, Mas. Biar hemat. Maklum jaman krisis. Harus hybrid.

  11. itikkecil says:

    Kalau anda sedang pedekate, jangan cerita macam-macam yang menakutkan calon istri atau calon suami.

    bukannya biar tahu dari awal dan jadinya tidak kaget lagi bang?

    -0-
    Setuju!

    (*Walaupun saya tahu, berarti jawaban ini bertentangan dengan kalimat saya sendiri. Hehe*)

  12. Kayaknya curhatan tentang Blog dan sensasi itu sudah menjadi kata pengantar di setiap post.. :))

    Walah, cerita itu juga bisa bikin panas kuping orang, tho.. 😀

    -0-
    😀 Ada dua kemungkinan DeBe:

    1. Kuping/mata yang membaca sensitif
    2. Saya yang tidak sensitif, menulis seenaknya

    hehe

  13. Ada juga sih yg pas PDKT malah cerita yg heboh2. Biar dikira hebat. Padahal bo-ong. Tapi saya bukan salah satunya loh. Hehehe…

    -0-
    Hehe, sapa tuuh

  14. edratna says:

    Kalau pedekatenya manis-manis aja, ntar malah shock jika tahu keadaan sesungguhnya yang kemungkinan bertolak belakang.

    Hmm…sebetulnya isi komiknya apa sih? (Oon)

    -0-
    Isi komiknya menentang penjualan senjata ke RI, bu. Senjata itu dibeli tanpa sepengetahuan publik dan wakil rakyat.

    Pada prosesnya, setiap senjata yang akan dibeli sudah semestinya melalui proses pengajuan proposal dari institusi yang akan membeli senjata tersebut pada RAPBN. Di RAPBN itu ada anggaran yang tersedia untuk membeli instrumen pertahanan negara. Anggaran tersebut jelas sebab RAPBN biasanya selalu dapat diakses publik.

Leave a Reply