Anak Mongtor

Dalam sebuah acara ramah tamah lebaran di KBRI, halal bihalal (*entah dari mana asal kata tersebut, halal bihalal. Lucu juga kedengarannya*) saya bertemu teman lama, Eko.

Eko, senangnya minta ampun ketika berjumpa. Wah saya dipeluk-peluk sampai susah nafas. Katanya, kangen sekali ia kepada saya.

Istri dan anak saya pun ikut-ikutan ia peluk-peluk. Pokoknya Eko ini luar biasa sekali hari itu kelihatannya.

Lalu kami mengobrol ngalor-ngidul. Seperti biasanya teman lama tak bersua. Ia terlihat antusias dalam obrolan ini. Namun, namanya juga ngobrol ngalor-ngidul, tak ada alasan jelas awal rimbanya, tiba tiba kami bicara soal Muklas.

Eko bertanya, “Eh rif, aku nggak nyangka loh si Muklas itu ternyata anaknya begitu?”

Saya masih tidak sadar dengan topik pembicaraan menyahut sok tahu, “ahh dia mah emang orangnya begitu. Biarin aja, nggak usah diambil hati”.

Eko menatap saya bingung, “Kamu baca koran, rif?”

Saya sewot, “Kamu ini Ko! sudah kenal saya lama, masih saja seperti orang lain… Menuduh saya tidak bisa baca!”

Saya memang tiba-tiba senewen. Sebab banyak sekali orang-orang baru kalau bertemu saya selalu bertanya, “Kamu bisa baca tulis?”. Buset dah, memangnya saya Yeti manusia gunung yang tidak pernah melihat buku? Memangnya muka saya mirip domba kali yaa?

Eko senyum, “Bukan itu, rif. Maksud saya Muklas tetangga saya. Omong-omong Muklas mana yang kamu maksud?”

“Muklas yang penyanyi dangdut di bar pelabuhan itu kan?”

“Woalah, makanya baca koran, Rif. Jangan ke bar dangdut terus”

“Yee, lagian kamu ngomongin Muklas tetangga kamu. Mana kenal saya tetangga kamu, Ko. Jangankan tetangga kamu, RT RW kamu saja saya nggak kenal”

“Muklas tetangga saya sebentar lagi dieksekusi, Rif”.

Habis bicara begitu. Eko diam.

Kami semua yang mendengar itu kaget. Semua terdiam. Muklas itu kakaknya Amrozi, teroris asal Indonesia. Kakak beradik itu dieksekusi pada tahun 2008.

Istri saya yang tadinya sedang mengobrol dengan teman-teman kami ikut terdiam. Saya juga ikutan diam.

Saya tahu, istri saya diam, karena dia tidak setuju atas hukuman mati. Ketidaksetujuannya mungkin karena ia berpendapat bahwa nyawa manusia bukanlah milik manusia lain, bahkan atas nama hukum sekalipun.

Saya diam. Saya pun tidak setuju akan hukuman mati. Alasannya jauh berbeda dengan alasan istri saya. Sebab bagi saya, kematian bukanlah sebuah hukuman.

Eko diam. Entah kenapa. Dan saya tidak mau banyak bertanya.

Tapi sebelum lenyap penasaran saya, Eko cerita. Bahwa Muklas itu teman kecilnya. Ketika beranjak dewasa, mereka sama-sama jadi anak mongtor (maksudnya ikut bergabung kelompok pengendara motor). Bersama kelompok mongtornya itu mereka sering menginap di rumah Mbahnya si Eko di Gresik.

Eko kenal Muklas dengan baik, tapi tidak dengan Amrozi. Mereka bahkan satu sekolah bersama dahulu.

Eko diam ketika tiba-tiba banyak mata menatapnya setelah informasi tersebut. Saya ajak ia ke dapur. Disana tidak begitu banyak orang. Saya tanya, “Kamu sedih Ko, Muklas akan dieksekusi?”

“Namanya temen, yaa sedih Rif. Tapi bukan eksekusi atau meninggalnya loh yang saya sedihkan. Ajal kan di tangan gusti aloh. Saya sedih, kok yaa Muklas berubah sekali yaa. Lama ndak ada kabarnya. Begitu ada kabar, kok yaa jadi pembunuh. Jadi pembenci orang asing, benci dengan sesuatu yang berbeda. Dan bangga pula sudah mengambil nyawa manusia lain. Masaoloh… Itu yang bikin saya sedih, Rif”.

Saya rangkul Eko yang sedang tenggelam dalam kesedihan. Sedih karena kehilangan sisi manusiawi seorang teman sesama anak mongtor.

Tidak lama kemudian, saya pulang ke rumah bersama istri dan putri kami yang masih bayi.

Di perjalanan, ada sejenak hal yang menggangu benak. Saya tanya kepada istri, “Si Muklas, temennya Eko. Sebentar lagi dieksekusi. Apa yaa rasanya mengetahui ajal akan datang pada saat yang pasti?”

Istri saya menyahut, “Saya baca di koran, dia tenang saja. Tidak menyesal. Dia kurang senang memang karena korbannya lebih banyak orang Australia ketimbang orang Amerika. Tapi dia tidak sama sekali tidak menyesal membunuh sekian ratus orang”

Saya termenung, pelan setengah berbisik saya berkata, “Apa rasanya ketika ajal tiba?”

Rupa-rupanya setengah lamunan setengah bisikan itu terdengar istri saya. Ia tiba-tiba menepikan mobil. Lalu bertanya, “Kamu mau tahu?”

Saya terkaget-kaget. Loh, apa maksudnya ini?

“Kalau kamu mau tahu, ayo ke rumahnya Deni dan Santi. Deni baru saja mengkremasi mamanya. Mau tahu jawaban pertanyaan kamu?”

Wah saya tambah terkaget-kaget. Apa hubungannya Deni dan Santi, sahabat kami yang akan menunggu kedatangan buah hatinya itu dengan pertanyaan saya? Tapi karena penasaran, saya anggukkan kepala.

Istri saya segera membelokkan mobil menuju rumahnya Deni dan Santi.

Tidak lama setelah itu, kami sampai di rumahnya Deni dan Santi. Rumah mereka tidak jauh dari rumah kami. Sekitar setengah jam perjalanan dengan kendaraan pribadi.

Setelah disuguhi teh, istri saya tanpa tedeng aling-aling (*memang begitu sifat beliau, hehe*) langsung bertanya pada saya, “Tanya langsung pada Deni dan Santi?”

Untung saya tidak tersedak. Sebab ketika istri bertanya, saya sambil menyeruput teh panas.

Namanya juga orang Indonesia, saya tidak mungkin bertanya pada Deni dan Santi, “Bagaimana mama kamu meninggal? Mertua kamu merepotkan nggak ketika mau mati?”

Maka itu, atas dasar basa-basi indonesiawi, berceritalah saya pengalaman kami hari itu pada mereka.

Setelah selesai bercerita, barulah saya bertanya, “Maaf kalau pertanyaan saya menyedihkan. Saya tahu Den, Mama kamu baru saja dikremasi. Katanya, beliau yang minta agar dikramasi. Bagaimana rasanya mengetahui ajal yang akan tiba?”

Deni diam sesaat. Memandang Santi, istrinya yang sedang hamil tua. Lalu ia mulai bercerita.

“Mama saya itu pecandu rokok berat. Sehari kadang bisa sampai tiga bungkus. Dari sejak muda terus merokok. Tidak mau berhenti”

Deni lalu diam. Ia mengambil teh di meja, menyeruputnya sebentar. Santi memegang lengannya. Ia tahu, suaminya berduka.

“Suatu hari mama sakit. Rasanya tidak enak badan. Agak aneh, padahal mama jarang sakit. Itu yang sering ia banggakan pada teman-temannya maupun saya. Kata beliau, walaupun merokok tetap saja sehat. Tapi hari itu, mama merasa tidak enak badan sekali. Jadi saya temani ke dokter. Kebetulan hari itu saya juga cuti. Sebab harus menemani Santi periksa kandungan ke dokter”.

Deni menghela nafas. Membayangkan masa ketika saat itu tengah berlangsung dalam otaknya.

“Di rumah sakit, setelah x-ray ternyata mama ketahuan kena kanker paru-paru. Dokter bilang, sudah teramat parah. Sisa tiga bulan lagi”. Deni berhenti. Mengucek mata dengan jempol dan telunjuk tangannya.

Santi menatap sedih suaminya. Ia melanjutkan cerita Deni, “Mama tidak terima vonis dokter. Tapi setalah konfirmasi biopsi, akhirnya mama pasrah. Mau juga mendengar kata dokter bahwa ia terkena kanker paru-paru”

Deni mengambil nafas panjang, lalu melanjutkan cerita Santi, “Mama kan selama ini tinggal sendiri, Rif. Akhirnya ia saya minta tinggal sama kami. Saya ingin, di hari-hari terakhirnya Mama bisa bersama kami. Sambil melihat kehamilan Santi. Dan Mama setuju”

Deni menatap Santi, seakan meminta persetujuan untuk melanjutkan. Santi bilang kepadanya, “Teruskan aja Den. Ceritakan nggak apa-apa kok”

“Begini Rif. Masa itu, bukanlah masa yang gampang untuk kami semua. Mama baru 57. Ia kecewa tidak bisa melihat cucu pertamanya. Ia kecewa akan mati dalam jangka waktu sekitar tiga bulan. Ia kecewa akan hidup ini. Dan ia melimpahkannya pada Santi”

Saya dan istri kaget, “Santi? Loh kok Santi?”

“Mama setiap hari memaki-maki Santi. Entah apa alasannya, ada saja hal-hal yang membuat Mama marah kepada Santi. Di satu sisi, saya tidak tega membiarkan Mama sendiri. Seakan menjadi anak durhaka. Di sisi lain, saya takut kalau terjadi apa-apa dengan kehamilan Santi”

Wah ceritanya makin seru saja. Saya sampai terbengong-bengong dan otomatis bertanya “Terus Den?”

“Akhirnya, saya harus ambil keputusan yang sulit. Keputusan berat sekali sebagai anak laki-laki satu-satunya. Dan keputusan yang sukar sebagai seorang suami dan calon ayah”

Ia berhenti, menyeruput teh. Saya dalam hati sebenarnya mendongkol. Ceritanya si Deni ini bikin penasaran. Kok yaa ditahan-tahan, mirip kopling gas mobil angkutan umum ketika mencari penumpang.

Setelah meminum tehnya Deni melanjutkan, “Dokter menasehati, agar Mama dibawa saja ke halte terakhir”

Saya semakin terbengong-bengong. “Halte terakhir?”

“Iya rif, halte tarkhir. Itu hanya penamaan sebuah tempat. Tempat dimana para penderita penyakit kronis menunggu ajalnya. Di sana suasananya tenang. Jauh dari kebisingan. Perawatnya juga khusus. Di sana, malah kata dokter Mama bahkan sebaiknya disuruh merokok. Sebab itu mungkin bisa menenangkan kondisi kejiwaan Mama ketika menunggu malaikat maut menjemput”

Saya bergidik mendengarnya. Halte terakhir. Persinggahan manusia dimana ajal semakin tiba.

This entry was posted in bangaip, sehari-hari and tagged . Bookmark the permalink.

11 Responses to Anak Mongtor

  1. Pingback: Halal + Lesbian « Arif Kurniawan as Bangaiptop

  2. aRuL says:

    ceritanya ini masih berlanjut bang?
    koq sampe dihaltekan?
    walau kesehatan semakin menurun, tapi hubungannya dengan emosi apa yakz? kenapa ngak dipisahkan aja?
    yah pertanyaan yang saya rasa bangaip tidak bisa menjawab karena itu tentang keluarga deni.

    -0-
    Mamanya kecewa, begitu ke dokter tiba-tiba di vonis ajal sisa tiga bulan lagi. Soal memisahkan emosi dengan kesehatan, well saya benar-benar tidak mengetahuinya.

    Setahu saya, ada beberapa tipe manusia. Yang menerima situasi kondisi dengan pasrah. Ada yang menerima dengan lapang dada dan terus hidup… Ada pula tipikal yang kecewa.

    Saya tidak bisa menulis tipikal keberapa mamanya Deni. Pengetahuan saya akan beliau tidak begitu baik.

  3. dnial says:

    Halte terakhir itu hospice ya?
    Kalau kakek-nenekku yang meninggal karena tua, biasanya mereka lebih tenang dan menghabiskan hari terakhirnya menunggu dengan sabar sekaligus memberi petuah ke anak2 mereka.

    Atau karena mereka masih kental Jawanya dengan budaya nrimo?

    -0-
    Iya benar, Mas. Hospice.
    Tempatnya tadinya mau dipikir-pikir, apa di Bandung (sebab mamanya Deni setengah Indonesia) atau di Wisconsin, kampung halaman mereka. Di Bandung ada hospice yang lebih murah (katanya) dibanding di Wisconsin (US$180/hari). Tapi Deni memilih Wisconsin akhirnya.

    Saya sering dengar, beberapa orang tertentu lebih ‘nrimo’ menghadapi kematian. Mungkin karena tingkat kesadaran dirinya sudah sedemikian tinggi. namun sebagian besar lainnya, tidak.

  4. itikkecil says:

    Saya tidak tahu, mana yang lebih menyakitkan, kematian yang datang secara tiba-tiba atau kematian yang sudah direncanakan sebelumnya…
    sama sakitnya saya rasa….

    -0-
    Wah kalau ini saya tidak bisa menjawabnya, Mbak. Maaf

  5. hamzah says:

    eh bang, namanya sinta apa santi bang? 😛

    -0-
    Dua-duanya bukan nama sebenarnya. Hehe. Maaf atas typo nya. Sudah diperbaiki. Terimakasih atas perhatiannya.

  6. Fortynine says:

    Konon para korban hukuman mati itu baru tewas setelah sekian menit! Tidak langsung tewas begitu di dor. Jadi yang lebih kejam kira kira yang dibunuh apa yang membunuh ya Bang?

    Soal mau mati, para Amrozi cs yang mau dihukum mati itu sudah pada rela untuk modar, jadi mungkin selama masa penantian kematian malahan mereka semangkin bahagia.

    Namun tetap saja dalam kasus ini pihak Indonesia justru tidak sopan, karena waktu eksekusi mati justru diekspose. Bukan disembunyikan. Entah ini salahnya media yang terlalu ingin tahu ataukah pemerintah dan keparat aparat yang bobrok.

  7. titiw says:

    Lha ini masih ada lanjutannya gak ya bang? kok kayaknya mengambang? gak tipe tulisan bang aip yg di akhir biasanya ada punch line.. Hm..??

    -0-
    Ada Tiw. Ada lanjutannya. Tapi nanti saja saya tulis. Sebab ceritanya memang tengah berlangsung. Salah satu pemainnya, yaa saya saya juga. Nanti kalau sudah ganti episode, baru deh saya tulis kembali lanjutannya. :)

  8. CY says:

    Jadi maksudnya Muklas itu sudah kena vonis kanker paru2 dan ngebom supaya bisa dihukum mati ya bang??

    **Los pokus**

  9. sufehmi says:

    Jadi kesimpulannya bang Aip nih masih takut mati ya bang ? 😀
    .
    Sama dong *gdubrak*

    -0-
    Soal takut mati, waah saya punya cerita banyak Pak. Hehe. Salah satunya adalah waktu menikah dan juga waktu anak saya lahir. Waktu itu, semua keluarga dan orang-orang yang saya cintai kumpul jadi satu.

    Waktu itu berfikir, bagaimana kalau tiba-tiba saya meninggal? Apa yang akan saya wariskan buat orang-orang yang saya cintai ini?

    Sebenarnya, bukan matinya yang ditakutkan. Tapi mati sebagai apa dan meninggalkan apa yang benar-benar saya takutkan.

    Dulu ada poster di kantor saya, di sana ada tulisan “Saya orang Chili, Saya hidup sebagai orang Chili. Saya bangga menjadi orang Chili dan akan mati sebagai orang Chili. Bukan mati sebagai hipokrit. Bukan pula mati sebagai musuh bangsa yang menggerogoti kekayaan tanah Chili”.

    Saya lupa siapa yang bilang begitu. Tapi kalimat itu tertera sekali di otak saya. Bahkan hingga detik ini.

    Hingga kini, terus berfikir setiap hari. Kalau-kalau saya mati, mati sebagai apa saya nanti? Dan pula, kalau-kalau saya mati, apa yang akan saya wariskan untuk orang-orang dan Indonesia yang saya cintai?

    Jawabnya ‘ya’, Pak. Saya masih takut mati. Hehe

  10. Tetap saja menakutkan, mati tiba-tiba dan yang direncanakan.

  11. DeZiGH says:

    Semakin lama ditunda eksekusi terpidana mati,
    semakin besar biaya yang harus dikeluarkan untuk terpidana itu.

    Biaya untuk ‘menghidupi’ terpidana mati tersebut hingga beberapa saat setelah eksekusi diambil dari pajak. Pajak yang dibayar oleh masyarakat yang bisa jadi salah satu anggotanya keluarganya termasuk dalam korban pembunuhan oleh terpidana tersebut. Sudah anggota keluarganya jadi korban, harus ikut menanggung biaya hidup dari sang pembunuhnya pula.

    Orang yang telah membunuh ratusan manusia dibiayai hidup (makanan dan tempat bernaung) dari pajak begitu lama, sedangkan banyak fakir miskin dan anak-anak terlantar harus sampai meminta-minta hanya untuk mendapatkan makan.

Leave a Reply