Dunia Pahlawan

Dulu saya pikir, dunia ini satu. Sama. Artinya begini, apa yang saya makan adalah sama seperti apa yang orang lain makan. Apa yang saya hirup, adalah udara yang orang lain juga hembuskan.

Ternyata saya salah. Sebab ternyata, dunia itu terbagi-bagi dalam banyaak sekali kategori, sub kategori, hingga klasifikasi.

Dunianya tukang copet beranak tiga jelas beda dengan dunia mahasiswa yang tinggal-di-kost-sambil-sibuk-skripsi. Walaupun sesama penyanyi, dunia penyanyi dangdut Rhoma Irama jelas beda dengan dunianya Michael Jackson.

Indonesia itu adalah bagian dari dunia. Mempunyai dunia sendiri, sebuah dunia yang terdiri dari sekian ribu pulau-pulau dan sekian ratus juta manusia. Masing-masing eksis dengan keunikannya.

Diantara sekian banyak yang eksis itu, ada dunia yang terlihat lebih menonjol daripada dunia lainnya. Contohnya dunia kaum radikal dan dunia kota-kota besar di Indonesia. Disana, dunia kaum berpunya jelas terlihat menyolok ketimbang dunia kaum yang dianggap tidak punya.

Tapi kebetulan saya memang tidak berniat bicara soal dunia menonjol kaum berpunya di kota besar. Capek. Sebab biasanya kaum berpunya itu memang membosankan untuk dibicarakan.

Tidak percaya ini contohnya; mentang-mentang punya mobil, klakson sembarangan. Mentang-mentang punya motor, trabas kiri kanan. Mentang-mentang mengaku miskin, begitu punya modal sedikit langsung buka warung di pinggir jalan mengklaim trotoar milik pejalan kaki.

Capek bicara soal dunia kaum berpunya di kota besar.

Paling enak, memang bicara dunia yang menyenangkan. Walaupun pertanyaannya, seperti apakah dunia yang menyenangkan itu? Dunia Sophie yang terkenal itu saja ternyata tidak terlalu menyenangkan.

Mencari dunia yang menyenangkan ternyata bukan sebuah perkara gampang. Beberapa siang lalu, saya coba bicara dengan seorang kenalan baru. Mencoba menjajaki dunia beliau.

Agar lebih mudahnya, kita panggil saja beliau Pak Bur.

Saya ketemu Pak Bur ini dalam sebuah acara. Ketika tempat usaha saya bekerja mencoba melakukan tender offshoring. Nah, Pak Bur ini ternyata adalah perwakilan sebuah vendor dari Indonesia.

Melakukan offshoring sebenarnya gampang saja. Semuanya sudah ada dalam prosedur standar operasional. Yang susah adalah meyakinkan diri, bahwa kita akan bertemu mitra vendor yang tepat. Maka itu digunakanlah perangkat tender untuk meyakinkan bahwa kita akan mendapatkan mitra vendor yang baik dan jujur.

Oh sebelum lebih lanjut, saya mohon maaf. Mungkin kiranya ada di antara kita disini yang tidak mengetahui arti offshoring. Sebab ini adalah istilah dimana sebuah usaha di alih dayakan ke perusahaan lain di negara yang berbeda. Umumnya karena penghematan biaya, efisiensi dan efektifitas kerja.

Waktu itu, saya sedang mengamati proses terjadinya tender. Karena prosesnya berlangsung cukup rumit dan lama, ada proses jeda dan istirahat.

Begitu istirahat di sebuah siang, Pak Bur langsung menghampiri saya. Menjabat tangan sambil tersenyum hangat, “Waah bapak dari Indonesia juga yaa”.

Saya senyum menjabat tangannya. Dalam hati senang sekali ketemu dengan sesama perantauan. Walaupun saya tahu, ini bukanlah cara yang etis dalam profesionalitas tender. Untuk menghindari hal tersebut, saya bilang ke Pak Bur, “Pak, nanti kalau proses tendernya selesai bapak ada waktu?”

“Ooh ada sekitar tiga hari sebelum saya pulang ke Jakarta. Ada apa yaa?”

“Mau makan malam di rumah saya nanti kalau proses tendernya selesai? Maaf tidak bisa mengundang sekarang. Saya harap bapak mengerti”

Pak Bur menatap saya muram, “Kok kenapa nggak mau sekarang?”

Saya salah tingkah. Dalam hati bertanya-tanya, apakah saya yang sudah tidak ramah lagi sebagai orang Indonesia? Ataukah saya kehilangan rasa solidaritas sesama perantau?

Saya rasa tidak. Tapi mungkin saja saya bisa salah.

Maka itu, daripada berlanjut-lanjut, saya bilang, “Kalau proses tendernya masih berlangsung, saya merasa tidak enak Pak Bur. Sebab ada kemungkinan saya banyak keberpihakan pada bapak. Di sisi lain, kebetulan saya didaulat teman-teman jadi salah satu pengamat tender ini”

Pak Bur matanya makin muram, “loh memangnya kenapa Pak… Bagi-bagi rejeki gitu loh antar sesama orang Indonesia… Kan bagus bisa menambah devisa negara kalau tendernya masuk ke Indonesia… Bapak jadi pahlawan dengan memberi sumbangan devisa loh, Pak”

Saya semakin tidak enak hati.

Dalam hati bertanya-tanya, apakah Pak Bur sedang menyudutkan saya? Ataukah memang mata hati Indonesia saya sudah seburam matanya Pak Bur?

Pak Bur adalah bagian dari banyak perusahaan-perusahaan vendor lainnya yang ikut tender. Setiap perusahaan yang ikut tender, sudah melewati proses kaji ulang kelayakan. Artinya, proses yang tengah diikuti Pak Bur ini adalah proses terakhir. Dimana semua perusahaan sedang mati-matian berjuang dalam proses tawar-menawar.

Pada proses terakhir ini, setiap perusahaan vendor saling unjuk gigi memperlihatkan kebolehannya di hadapan pemberi tender. Seperti kelihaian mereka dalam menjawab bagaimana cara memproses pesanan hingga layanan purna jual.

Rupa-rupanya Pak Bur juga tidak mau kalah. Hehe. Dan dengan lihainya beliau melobi saya habis-habisan.

Setelah di lobi ketika makan siang. Hati saya luluh juga. Kasihan melihat Pak Bur mati-matian merayu agar perusahaan tempat saya bekerja sebagai buruh memakai jasa mereka.

Maka, tidak lama kemudian saya telpon istri saya bahwa nanti malam akan ada tamu yang akan ikut makan malam di rumah. Dari Indonesia.

Iya, hati saya luluh melihat mata buramnya. Ahh cengeng sekali rupanya saya ini.

Namun kebalikannya, Pak Bur rupanya senang sekali melihat gelagat itu. Beliau bilang, “Pak, pokoknya tidak menyesal deh mengajak saya makan malam”.

Entah apa maksud Pak Bur, saya tidak ambil hati. Jadi setelah hari itu usai. Saya segera pulang ke rumah. Pak Bur balik ke hotelnya. Mempersiapkan diri untuk proses tender yang masih memakan waktu empat hari lagi itu.

Malamnya, saya masak perkedel jagung dengan oseng-oseng tahu. Khusus menyambut tamu dari Indonesia. Sebab kami memang tidak begitu sering kedatangan tamu dari negara asal saya ini.

Pada pukul setengah tujuh malam, Pak Bur datang. Setelah melepas jas, saya mempersilahkan beliau duduk sebentar sambil minum teh dulu di ruang tamu. Berbincang-bincang mengenai kampung halaman asal kami masing-masing.

Tidak lama setelahnya istri saya mengajak kami ke dapur makan malam.

Seperti biasa, makan malam di rumah kami bukanlah hanya sekedar makan malam. Ini mungkin lebih mirip ritual. Dimana sambil makan saya berdiskusi, berdebat, belajar dan saling bertukar cerita dengan peserta makan lainnya.

Enak, sebab habis makan bisa jadi lebih pintar. Hehe.

Pak Bur rupanya kaget nih dengan situasi makan malam ini. Dan nampaknya, untuk mengatasi kekagetan itu ia membuka tas jinjing yang ia bawa.

“Pak Arif, ini untuk bapak. Dan ini untuk Ibu dan si kecil”, sambil menyerahkan tiga bungkusan ke arah saya dan istri.

“Apa ini Pak Bur?”, tanya saya kaget. Istri saya juga kebingungan melihatnya.

“Oleh-oleh Pak dari Indonesia”

Saya makin bingung. Banyak sekali pertanyaan menggantung di benak saya. Seperti; apa Pak Bur sudah tahu dari Indonesia bahwa saya yang jadi pengamat tender yang diikutinya? Kalau iya, kenapa bawa hadiah? Buat saya, buat istri dan buat anak? Kenapa?

Tapi keheranan saya lenyap. Sebab istri saya ter’wow’ begitu membuka hadiah kotak kecil dari Pak Bur. Ternyata isinya jam tangan. Itu jam tangan bukan sembarang jam tangan. Mereknya merek mahal. Berlapis emas.

Saya buka hadiah untuk saya, yang juga kotak tidak terlalu besar. Ouuuch… Sebuah telpon genggam baru produk Apple, pembuat barang elektronik cukup terkenal pada masa ini.

Anak saya dapat kotak yang lebih kecil lagi. Waktu dibuka, voucher belanja di toko anak-anak dengan nilai yang cukup buat beli popok untuk persediaan selama dua puluh tahun. Hehe.

Istri saya kebingungan. Saya juga tambah kebingungan.

Menjawab kebingungan saya, Pak Bur bilang, “Kita kan sama-sama orang Indonesia Pak. Sudah adat dunia kita saling memberi dan berbagi”

Ia senyum-senyum sambil mengedipkan mata ketika berkata hal tersebut.

Istri saya mengalihkan pembicaraan, bertanya kepada saya bagaimana hari yang telah saya jalani.

Saya jawab, “Lumayan capek. Tadi sore Pak Ali, bos saya marah-marah”

Istri saya kaget, “Kok bisa. Pak Ali kan tidak pernah marah sama kamu?”

Saya jawab lemas, “Ia marah, saya mengundurkan diri dari proses tender. Katanya, jangan sampai masalah pribadi bias mencampuri urusan kerja”

Istri saya diam saja. Mungkin sedih, mungkin kecewa atau mungkin tidak tahu harus berbuat apa. Ia tahu, pengunduran diri itu artinya adalah proses promosi saya bulan febuari tahun depan menjadi tertunda. Atau mungkin menghilang sama sekali.

Makan malam, setelah itu dilalui dengan tidak banyak cakap antara saya, istri dan Pak Bur. Walaupun kadang-kadang diselingi tangisan putri saya ketika mainannya jatuh.

Tidak lama kemudian Pak Bur pamit pulang. Matanya semakin buram.

Ketika beliau memakai jaketnya, saya ambil hadiah-hadiah yang telah ia berikan. Semuanya ada di dalam kantong plastik jinjingan yang ia bawa. Saya kembalikan pada beliau semuanya.

Di pintu keluar, ia menatap saya. Masih dengan matanya yang terus memburam, “Bapak seharusnya bisa jadi pahlawan. Buat Indonesia, juga buat keluarga bapak sendiri. Sayang sekali bapak pilih jalan yang sok-sok’an”.

Saya diam saja sambil cengar-cengir garuk-garuk kepala. Bingung mau bilang apa.

Setelah Pak Bur pulang, sambil menutup pintu saya menyadari bahwa dunia saya bukanlah dunia kepahlawanan. Bukan dunia etos kaum berpunya. Apalagi kaum berpunya kota besar.

Dunia saya hanyalah dunia yang kecil. Dunia orang Indonesia yang sekedar ingin berbagi makan malam dengan saudara seperantauannya. Dunia seorang suami dan ayah yang biasa-biasa saja.

Saya bukan pahlawan. Dan tidak hidup dalam dunia kepahlawanan.

This entry was posted in cerita_kerja, sehari-hari and tagged , . Bookmark the permalink.

17 Responses to Dunia Pahlawan

  1. Pingback: Ikut-ikutan Seksi « Arif Kurniawan as Bangaiptop

  2. Fortynine says:

    Pahlawan? He he… Setiap orang adalah pahlawan bagi dirinya sendiri
    *kalau ga salah Bang Fertob yang nulis ini*

    Mungkin yang begituan sudah menjadi mentalitas orang Indonesia. Entah ini mentalnya yang sebenarnya tidak ada namun dibina, ataukah justru memang sudah potensi mental, sehingga tidak perlu dibina pun sudah bermental kolusi duluan. Yah memang begitulah masyarakat Indonesia secara umum, namun tidak secara khusus karena masih banyak yang tidak begitu. dan Bang Arif lah salah satunya…

  3. dnial says:

    Soal kolusi itu saya ndak komen karena emang salah.
    Cuman saya berpikir soal nepotisme karena ada di wilayah abu-abu.

    Sepertinya cukup wajar kalau seorang almunus dari universitas memberi kesempatan lebih besar bagi adik2nya satu kampus untuk bekerja di tempatnya.

    Alasan logisnya sangat sederhana, alumnus itu sudah paham budaya dan etos kerja alumnus kampusnya, untuk alumnus kampus lain masih meraba-raba. Dan jika ditarik ke ranah kerja, sepertinya juga wajar menarik orang yang kita percaya dan cocok sebagai tangan kanan kita, bukan orang yang paling kompeten.

    Akhirnya kepercayaan dan pemahaman atas etos kerja jadi bagian penilaian dengan porsi yang besar (baik untuk tender, rekruitmen atau promosi).

    Tapi kalo udah mulai menyuap sih… Ya berarti etos kerjanya nggak bener.

  4. kramero says:

    huh, bang aip… mentang – mentang bukan pahlawan, main mengundurkan diri aja… 😛
    *becanda, bang…*

    Hihihi..

  5. bee says:

    Salut buat bang Aip. :)

    Tapi saya rasa, ada kok jalan tengah untuk itu. Suatu jalan yg bisa membuat pak Bur lolos tender dgn benar dan layak, yg bisa membuat bang Aip tetap mendapatkan promosi, tanpa harus menjadi pahlawan, tanpa suap-menyuap. Memang pekerjaan jadi lebih beribet dan sedikit lebih panjang, tapi solusi win-win solution bisa dicapai. Semua senang, semua menang, tak ada yg perlu jadi korban. Tentu bang Aip tau apa itu “gentlement agreement”. 😉

    Kadang kebenaran dan kebaikan itu gak harus hitam-putih kok bang. :)

  6. itikkecil says:

    memberi hadiah seperti itu sudah dianggap wajar bang….
    menjadi berbeda ketika kita bekerja di perusahaan yang tidak memperkenankan menerima hadiah yang ada hubungannya dengan pekerjaan kita..
    bagaimanapun juga bang Aip tetap pahlawan kok…

  7. adipati kademangan says:

    Saya salut terhadap keputusan yang diambil. Tidak banyak orang yang bisa seperti itu ika dihadapkan dengan keadaan yang sama persis.
    Lhah wong dhuwit sak hohah … kan eman kalo dibiarkan begitu saja

  8. CY says:

    Untung “oleh2 dari Indonesia” -nya di balikin bang, kalo ga… bisa nangis bombay tuh pak Bur hahaha…

    Strateginya memang bagus bang, lain kali saya coba terapkan bila ada yg coba nyuap. Diajak makan malam trus baru ditembak ditempat, mati deh harapan2nya hihihi…

  9. sufehmi says:

    Wah saya dukung bang Aip 1000% !! 😀
    .
    TERIMAKASIH BANYAK !!
    .
    Secara ringkas — orang-orang model begini yang bikin bisnis jadi SUSAH di Indonesia : cheaters !
    Tidak mau susah, maunya enak saja.
    .
    Tapi karena dasarnya bodoh – enaknya ya cuma di awal. Belakangannya akan susah sendiri. Misal: profit jadi menurun, karena harus dibagi-bagi kepada yang disuapnya. Dampaknya, selain profit loss, antara lain adalah kesejahteraan pegawai.
    .
    Kalau kita bicara dalam istilah agama, nama untuk situasi ini adalah “tidak barokah”, he he.
    .
    Nah, kalau profitnya terpotong terlalu banyak, tentu namanya bisnis tidak boleh rugi kan? Jadi apa lagi yang musti dikorbankan?
    Kualitas – apa lagi.
    .
    Saya juga ada bisnis yang kadang menuntut saya untuk turut ikut dalam berbagai tender. 2 tahun yang lalu, hopeless. Karena semua orang bermain curang. Yang tidak main curang tidak ada harapan.
    .
    Pernah disuatu kasus, jelas penawaran kami jauh lebih baik. Dan jauh lebih murah.
    Tapi karena ada yang main curang, akhirnya justru yang penawarannya jelek yang menang.
    .
    Akibatnya?
    Proyek tersebut gagal.
    .
    Semua orang rugi.
    .
    Pemenang tender rugi, karena jadinya dia tidak dibayar (walaupun dalam hati saya cenderung bersorak “sukuriiinnn“, hue he he. Duh, masih ada penyakit di hati saya ini nih)
    .
    Institusi pemberi tender juga rugi besar. Karena waktunya sudah terbuang banyak, tapi solusi yang mereka butuhkan tersebut tetap belum ada. :(
    .
    Saya juga rugi, tidak perlu dijelaskan lagi. Secara ringkas, celakalah mereka yang bermain dengan jujur, he he he.
    .
    Jadi ini alhamdulillah banget deh ada yang mau repot-repot memberi pelajaran kepada orang-orang pemalas dan egois ini.
    .
    Indonesia harus bisa bangkit dengan kekuatannya sendiri. Bukan dengan cara-cara curang, yang merugikan semua orang. Termasuk diri kita sendiri.
    .
    Terimakasih bang.

  10. Lebih baik menjadi “Pahlawan Kebenaran/kebajikan/kebijakan” dari pada menjadi “Pahlawan Bangsa” dengan lingkup yang kerdil.

    Salut untuk Bang Arif.

  11. DeZiGH says:

    Iyah, salut buat Bang Aip!

  12. edratna says:

    Percayalah masih banyak orang berada di jalan kebenaran…cuma tak terlihat, dan tak banyak omong. Dan penggoda seperti model pak Bur akan terus merecoki, agar orang2 yang lurus tadi dapat dipengaruhi.

  13. Citra Dewi says:

    Bang Aip top/keren ngga makan suap but tetap nyuapin majikan yg baru kan?
    But saya ngga keberatan di suap sama Bang Aip lho…he..he (kabur sebelum ibu nyonya pencak silat)!!!!!.

  14. aryf says:

    Bang AIP, kapal perangnya saya docking disini aja ya?
    Msh baru dan gress.
    Lebih berguna dan bermanfaat di tangan admiral.
    Dari pada mulu dpt kapal ‘major over haul’.

    *Jgn lupa maintenen nya, biar g jd brg rongsokan* ^^

  15. mer says:

    ya, setuju dgn yang lain…. Bang Aip keren deeeeh…..
    saya selalu yakin bahwa masih banyak org jujur yang tetap ingin berjalan di jalan kebenaran….
    senang mengetahui bahwa Bang Aip adalah salah satu -nya..

  16. Diperbanyak aja pahlawannya sehingga Indonesia bisa jadi negara yang memakmurkan rakyatnya.

    -0-
    Amiin

  17. telmark says:

    dgn menuliskan ini aja, bangaip dah pahlawan…

Leave a Reply