Bagaimana Cara Memecat Karyawan?

Suatu hari di pabrik. Atasan saya, Pak Ali, tiba-tiba menjadwalkan makan siang secara tiba-tiba. Hari itu, bukanlah hari jadwal saya semestinya bersosialisasi dengan beliau. Saya bertanya-tanya dalam hati, ada apa.

Sesampainya di rumah makan, Pak Ali menyampaikan bahwa beliau punya tiga kandidat untuk manjadi pemimpin sebuah anak usaha. Kata Pak Ali, ia meminta saya memberi pendapat terhadap tiga kandidat ini.

Saya merasa tersanjung. Tidak menyangka, pendapat saya, seorang buruh kecil begitu dihargai oleh beliau.

Pak Ali bertanya, “Rip, kalau kamu jadi saya… calon mana yang akan kamu pilih?”

Saya tersentak. Kaget. Tidak menyangka ditanya pertanyaan sedemikian rupa.

Ini jelas dilematis. Kalau saya menjawab, jelas saya akan terlihat sok tahu. Sebab saya sama sekali tidak mengetahui latar belakang kandidat. Tapi kalau tidak menjawab, wajah saya yang terlihat tidak cerdas ini akan bertambah semakin muram saja kelihatannya.

Pelan-pelan, secara cemas karena khawatir salah, saya jawablah pertanyaan beliau, “Yang bertanya dan mendengar jawaban, Pak”.

Pak Ali bertanya kenapa.

Saya jawab, “Mereka kan calon pemimpin, Pak. Namanya calon pemimpin itu pasti pinter yaa. Nah orang pinter itu biasanya pinter pula omongannya. Tapi kalau pinter omong doang yaa percuma. Sementara, kalau pinter bertanya dan mendengar… Pasti dihargai anak buahnya. Kalau seorang pemimpin dihormati oleh yang dipimpin, usahanya bisa cepat menghasilkan kebaikan, Pak”

Pak Ali cengar-cengir. Saya ikutan cengar-cengir, “Gimana Pak jawaban saya? Oke nggak? Kalau oke, bonus saya ditambah yaa Pak”

Pak Ali tambah cengar cengir, “Halaah ngaco kamu, Rip. Dasar cowok komersil. Dikit-dikit mintanya bonus”

Siang itu, hati Pak Ali senang rupanya. Ia makan sampai nambah tiga piring. Buset dah.

Tapi saya juga senang, karena makan siang ditraktir Pak Ali. Hehe.

Saking senangnya, Pak Ali rupanya memberi ‘bonus’ yang saya tidak duga-duga. Yaitu menyeleksi tiga kandidat yang akan maju menjadi pemimpin anak usaha. Dan saya pun kaget luar biasa menerima ‘bonus’ yang pasti akan memusingkan kepala itu.

Sorenya, saya langsung meminta bantuan pada teman-teman sekerja dari bagian sumber daya manusia. Agar mereka memberikan perangkat khusus pada tes yang akan dilakukan pada tiga kandidat tersebut.

Perangkat khusus. Sebenarnya bukan sebuah instrumen njlimet berteknologi tinggi. Ia hanya beberapa helai kertas den sebuah pena tinta. Di atas kertas itu, ada pertanyaan-pertanyaan. Para kandidat diminta untuk menulis jawaban diatas kertas dengan pena.

Kenapa pena tinta dengan kertas?

Itu permintaan dari bagian sumber daya manusia. Mereka mempunyai Grafolog disana. Dan seorang Grafolog adalah ahli grafologi, ilmu yang menganalisa tulisan tangan manusia. Katanya melalui tulisan pena tinta, terlihat karakter seseorang dan tingkat stress yang mereka alami.

Sementara buat saya, perangkat khususnya bukan di kertas atau pena. Itu hanyalah medium biasa. Toh apa saja bisa dipakai dalam menjawab pertanyaan yang akan saya lontarkan pada para kandidat. Perangkat khusus yang saya maksud hanyalah pertanyaan-pertanyaan biasa.

Apa pertanyaan yang saya lontarkan pada kandidat tersebut tentulah bukan pertanyaan teknis apalagi pertanyaan-pertanyaan yang saya yakin sudah mereka terima dalam proses fit and proper test.

Saya hanya bertanya sesuai dengan kapasitas mereka, calon pemimpin anak usaha. Di mana mereka adalah orang-orang terpilih yang berambisi. Sebab bisa lulus dari test saja sudah susah setengah mati.

Mereka itu orang cerdas. Maka itu pertanyaan buat saya simpel sekali sebenarnya. Yaitu; apa yang akan saya tanyakan pada orang-orang cerdas?

Saya akui, saya tidak cerdas. Mau bagaimana lagi? Dipukuli satu kampung dipaksa mengaku kalau saya cerdas, yaa tidak bisa, hehe.

Kapasitas otak saya yang pas-pasan dalam menerima tugas dari Pak Ali, membuat saya menyusun pertanyaan-pertanyaan buat orang-orang cerdas itu sesuai dengan kapasitas saya lah.

Diantaranya adalah pertanyaan sebagai berikut;
– Bagaimana cara memecat karyawan ketika ada krisis dunia?
– Bagaimana cara menghadapi media?
– Bagaimana cara menjilat yang elegan?

Tapi yaah, diatas itu baru pertanyaan-pertanyaan biasa sih. masih banyak lagi pertanyaan-pertanyaan aneh lainnya yang saya lontarkan (*Anda mau ikutan menjawab pertanyaan diatas? Silahkan. Syaratnya agak berat.., jujur*)

Oh ya, saya bertanya soal di atas sebenarnya berangkat dari pengalaman pribadi.

Salah satunya adalah memecat karyawan.

Dulu waktu masih bekerja dalam perusahaan yang tidak banyak karyawannya, hubungan antara rekan kerja amat dekat. Dari cerita-cerita maupun anekdot yang mengalir begiu saja antar meja, membuat kami akrab.

Kami tertawa bersama-sama. Begitu pula kami sedih dibagi rata.

Suatu hari, ada beberapa orang rekan kerja yang harus dipecat. Dan kesialan strata lah yang membuat saya harus menjadi satu-satunya orang yang memecat mereka.

Bukan salah mereka harus dipecat. Bukan salah siapa-siapa. Namun kondisi finansial global usaha memang tidak memungkinkan divisi mereka tetap ada. Krisis ekonomi di Indonesia semakin menggila.

Sebelum memutuskan harus memecat, sudah saya cari mati-matian usaha agar divisi mereka tetap ada. Sayang sekali, buntu.

Berminggu-minggu saya susah tidur. Mencari cara memecat teman sekerja. Memikirkan, bagaimana nasib anak istri mereka kalau ayah sekaligus suaminya tidak lagi punya penghasilan. Sebelum tidur, gemetar badan saya memikirkan itu. Memikirkan nasib seorang laki-laki beserta keluarga dimana ia jadi tulang punggungnya, akan saya pecat.

Bagaimana jikalau ternyata padang mahsyar itu ada? Dengan malaikat sangar yang bertanya pada hari hisab, “Hoi Arip, dulu waktu masih idup, kenapa lo mecat karyawan yang juga temen lo?”

Masak sih saya mau menyalahkan Soros?

Sumpah, saya susah tidur. Berat memejamkan mata memikirkan nasib keluarga mereka yang akan dipecat. Percuma pura-pura membisiki hati ‘Ahh, rejeki manusia kan ada yang ngatur. Pecat aja. Nanti juga dia bakal ketemu kerjaan baru’.

Berat. Sungguh berat. Sebab krisis ini menyeluruh. Bukan cuma perusahaan kami yang kena imbasnya, seluruh penjuru nusantara merasakan pedihnya krisis ekonomi.

Maka itu, sebagai orang biasa dengan kapasitas otak pas-pasan, bertanyalah saya pada mereka yang cerdas, bagaimana cara memecat manusia?

Semoga, mereka yang cerdas mampu mendapat jawabannya… Secara jujur.

Kalau tidak jujur, yaa berat. Berat menjawabnya. Berat pula pelaksanaannya.

Saya sadar sepenuhnya, menjadi jujur itu susah. Itu berdasarkan pengalaman pribadi. Masih sering lidah saya berdusta. Jangankan berbohong pada orang lain, tidak kalah jarang saya berbusa-busa membohongi diri sendiri.

Hanya orang-orang yang digerakkan kekuatan luar biasa lah yang mampu jujur. Namun karena ia digerakkan kekuatan luar biasa pula maka menghasilkan tenaga yang luar biasa dahsyatnya.

Maka itu, kalau tidak mampu punya kejujuran… Mau apa lagi yang bisa diharapkan dari sebuah usaha?

Sebagaimana apabila tidak punya kejujuran, mau apalagi yang diharapkan dari seorang manusia?

This entry was posted in cerita_kerja, sehari-hari and tagged . Bookmark the permalink.

4 Responses to Bagaimana Cara Memecat Karyawan?

  1. Pingback: Pecat « Arif Kurniawan as Bangaiptop

  2. Manusiasuper says:

    Dasar cowok komersil.

    Kalau saya nuduhnya Dasar CDG! Cowo doyan gratisan!

    Siang itu, hati Pak Ali senang rupanya. Ia makan sampai nambah tiga piring

    Itu bukan senang hati Bang.. Tapi lapar…

    Ok, sekarang komentar serius…

    Saya tidak pernah berada pada posisi yang memungkinkan saya berwenang menentukan pekerjaan seseorang. Jadi kalau ditanya bagaimana cara memecat yang baik, jawaban saya adalah; pecatlah dengan cepat, jangan diulur-ulur…

    Namun soal jujur, haduh, sulit bang aip.. Sulit sekali.. Apalagi kalau sudah berurusan di lingkungan birokrasi negara seperti saya sekarang. Alhamdulillah, saya tidak mendapat cobaan berat seperti harus mengelola dana Bantuan Operasional Sekolah misalnya…

    Bagaimana harus jujur kalau belum-belum si pemberi dana dari dinas pendidikan sudah minta bagian 10 persen dari dana yang harusnya 100 persen untuk siswa itu??

    Sekarang cukuplah menjadi tukang bagikan gaji sesama guru, yang kalau dipotong 5.ooo rupiah saja, saya akan diomeli dan diplototi sampai bulan depannya. Cukup efektif dalam menjaga kejujuran saya, he…

    Yang saya dapati dari kejujuran, minimal saya menjadi tenang..

    Apa saya pernah bohong? Oaallaahh, ditanyaken… Ya sering tokh!

    -0-
    Terimakasih Mansup sudah berbagi. Satu lagi, saya sekeluarga turut berduka cita.

  3. Daniel says:

    Pecat BangAipTop…………………

    Kalo kejujuran sulit didapatkan, yg kita punya hanyalah harapan.

    Harapan akan kejujuran yg sudah langka agar tetap terjaga….

    -0-
    Bener Mal, sebaiknya kita emang masih bisa berharap euy.

  4. Theresia says:

    I tell u what i think …

    T : Bagaimana cara memecat karyawan ketika ada krisis dunia?
    J : pecat aja,katakan alasan sejujurnya mengenai keadaan perusahaan.Ini adalah resiko setiap pekerja,jadi tidak usah sungkan.Lakukan dengan elegan dan tunjukkan empati anda dengan memberi mereka info tentang perusahaan kenalan anda atau lowongan lain yang mungkin anda tahu.Motivasi mereka untuk tetap berusaha dan optimis,karena keadaan pasti akan berubah baik,pada akhirnya.
    T : Bagaimana cara menghadapi media?
    J : Katakan yang memang sudah disepakati oleh para pihak yang berwenang.Tunjukkan pada media keseriusan dalam menangani masalah (bila ada).Jangan biarkan mereka berasumsi negatif atau menyebarkan rumor dengan berinisiatif baik mengadakan pers Confrense (tidak pelit berbagi info pada media).

    T : Bagaimana cara menjilat yang elegan?
    J : Bila seseorang mempunyai kemampuan,mengapa harus menjilat?Ia hanya perlu menunjukkannya dengan niat baik agar perusahaan maju,tidak semata-mata hanya untuk keuntungan diri saja.

    –0–

    Terimakasih atas komentarnya

Leave a Reply