Balada Gitaris Band Dangdut

Gara-gara artikel lalu, teman-teman saya yang kebetulan mengaku anak band banyak yang protes.

Sebab pasalnya, mereka anggap saya menyinggung band-band yang muncul di Indonesia (kata mereka, fenomena band pas-pasan ada sejak pertengahan 90-an hingga sekarang).

Setelah kalimat ‘Band dari Jawa’ saya edit lalu menggantinya dengan ‘Band dari Indonesia’, yang protes ternyata lebih banyak lagi. Hehe.

Maap… Maap… Maap sodara-sodara.

Ya sudah sekarang cerita yang santai-santai saja. Karena masih menyoal grup musik Indonesia. Ini cerita waktu saya masih jadi anak band dahulu.

Begini ceritanya, beberapa tahun lalu, saya sebagaimana layaknya anak muda lainnya (*sekarang juga masih muda loh, hehe*) ikut-ikutan lah bikin band.

Modalnya yaa skill pas-pasan. Jangan hitung muka dan tampang kami sebagai modal. Sebab andaipun dipakai topeng make-up mirip grup cadas asal New York, KISS, wajah kami pun masih terlihat berantakan.

Diantara muka berantakan kami, menonjol lah Iwan, sang gitaris. Yang walaupun mukanya tidak kalah berantakan, tapi entah kenapa, dikaruniai kelebihan menggombali wanita lebih hebat daripada penggombal manapun yang kami kenal.

Kami menjulukinya ‘Iwan Spik Kobra’.

Pokoknya, wanita berbahaya lah apabila dekat-dekat Iwan ini. Rayuannya sungguh mati luar biasa. Begitu mendengar, langsung klepek-klepek deh pokoknya.

Bagaikan ular kobra yang mematuk musuhnya, sekali pagut, korban langsung tak berdaya. Begitupun rayuan Iwan. Entah apakah korban setelah terkena ‘speak‘ bujuk rayu juga akan terkena pagutan ularnya, yang bisa jawab hanya si Iwan seorang (dan juga sang korban tentunya).

Akibat kelihaiannya itu, banyak sekali cowok-cowok yang punya pacar cantik enggan berdekatan dengan Iwan. Mereka khawatir gadisnya kecantol si Iwan Spik Kobra.

Suatu malam, band kami manggung di lapangan sepakbola depan kantor kecamatan. Yang menonton panggung hiburan ini banyak sekali.

Maklum, ini malam tahun baru. Banyak pasangan tua maupun muda datang berkunjung. Jangankan yang berpasangan, yang sendirian pun banyak sekali datang melihat panggung pertunjukan ini.

Di samping panggung, ada warung yang menjual makanan dan minuman. Diantaranya menjual bir pletok. Bir yang dicampur-campur. Entah dicampur apa, rasanya buat saya enak sekali. Manis, tidak seperti bir kebanyakan.

Yang menjual namanya Mang Jajang. Kami memanggilnya Mister Jay.

Maka tidak heran kalau saya dan teman-teman satu band duduk setia di warung tersebut. Menikmati bir pletok. Menanti giliran dipanggil tampil menghibur penonton. Ditemani oleh Mister Jay yang sibuk melayani pembeli lainnya.

Setengah jam sebelum giliran kami tiba untuk main band, Iwan sudah tidak kelihatan mukanya. Rekan-rekan saya kebingungan semua. Bagaimana mungkin kami tampil tanpa gitaris? Kami bukan grup nasyid.

Udin Petot, basis band kami bertanya pada saya, “Bang, si Iwan kemana? Wah cari dong, bahaya nih kalau kita tampil tapi ga ada si Iwan”

Saya kebingungan, “Cari kemana Din! Gila orang sebanyak ini, nyarinya gimana?”

Mister Jay tiba-tiba datang membisiki saya “Rip, si Iwan tuh lagi di tengah. Lagi dansa-dansi dia ama istri orang. Cepet kamu tarik si Iwan. Kalau nggak, sebentar lagi ribut nih. Suaminya itu di samping Udin. Yang lagi nge-bir pletok”

Dengan serta merta semangat empat lima, larilah saya menghambur ke kerumunan tengah gedung mencari Iwan yang sedang pelukan berdansa mesra dengan wanita bersuami.

Waduh, ternyata setelah sampai TKP, susah sekali memisakan mereka. Apalagi memisahkan si perempuan yang nampaknya sudah terkena ajian semar mesem si Iwan Spik Kobra.

Namun setelah saya bisiki Iwan bahwa suami sang wanita sedang minum bir pletok bersama anak-anak band kami, maka Iwan pun mundur teratur.

Malam itu, seperti yang bisa diduga, band kami sukses besar. Membawakan lagu dangdut ciptaan sendiri. Sebab semua personel main dengan komplit.

Tapi yang namanya sukses band dangdut pria dengan muka berantakan, yaa jelas beda dengan rocker. Kalau rocker apalagi penyanyi pop sukses, pasti dikerubungi cewek-cewek. Kami, dikerubungi penikmat dangdut pria setengah mabok yang minta tambah lagu. Supaya mereka bisa terus berjoged.

Yaah, males banget menurutinya.

Apalagi, ditambah melihat si Iwan Spik Kobra rupanya sedang berdiri di pojok belakang panggung. Ditemani dua gadis seksi semlohay.

Jelas kami lebih memilih ke warungnya Mister Jay. Duduk menatap langit berhadapan dengan botol-botol bir pletok yang makin lama makin banyak saja.

Udin Petot cemburu berat. Bahkan sudah berniat akan meninggalkan band, kalau saya tidak membujuknya bahwa kalau sudah jadi Dangdut Star seperti Bang Oma, pasti juga banyak perempuan yang merubung berharap cinta.

Malam itu, saya dan teman-teman se band pulang ke rumah. Tentu saja dengan tangan hampa tanpa wanita. Dan juga dengan mulut bau naga plus badan sempoyongan kebanyakan alkohol.

Sejak malam tahun baru itu, kami tidak pernah mendengar kabar Iwan lagi.

Hingga dua minggu kemudian, jumat malam, saya dan Udin Petot sedang nongkrong di warungnya Mister Jay. Biasa lah kegiatan anak muda, menikmati bir pletok.

Tak dinyana, Iwan Spik Kobra tiba-tiba datang. Begitu datang, langsung duduk di samping saya. Ia diam membisu bagai patung-patung candi.

Saya pesan satu botol bir pletok pada Mister Jay. Spesial untuk Iwan.

Anehnya, itu botol bir sampai keringatan, juga tidak diminum si Iwan yang masih saja membisu.

Udin Petot tidak mau menegur Iwan. Ia masih cemburu. Ia juga kepingin menggandeng dua wanita di malam tahun baru lalu.

Saya tanya Iwan baik-baik, “Wan, ada apa? Itu birnya diminum dulu, biar otak seger”

Iwan diam. Tidak menjawab sepatah kata.

Saya jadi kebingungan. Dalam hati tidak enak juga mengulangi pertanyaan. Toh si Iwan tidak tuli. Mister Jay juga diam. Dia tidak mau ikut campur urusan kami rupanya.

Maka itu, saya ganti pertanyaannya, “Wan, ada apa?”

Wah, tanpa hujan tanpa angin, si Iwan tiba-tiba menangis mendengar pertanyaan saya.

Saya bengong. Udin Petot juga bengong. Apalagi Mister Jay, yang tiba-tiba berhenti mengelap gelas yang baru dicuci.

Saya rangkul pundak Iwan, “Wan, kalau mau cerita silahkan aja… Jangan ditahan, nanti sakit hatinya”

Iwan: “Huhuhu… Bang… si Tini Bang… Tini”
Saya: “Tini? Tini siapa?”
Iwan: “Ngatini bang. Huhuhu… Dasar cewek gampangan! Dasar perek!”

Ooh, dalam hati saya sebenarnya sudah menduga. Nampaknya Iwan Spik Maut kali ini terkena batunya. Jatuh cinta pada gadis yang diam-diam ia jadikan mainan.

Dan rupanya, gadis itu malah gantian mempermainkan ia. Setidaknya mempermainkan hati si Iwan. Sehingga tanpa ada juntrungannya, ia nangis bombay di warungnya Mister Jay.

Saya: “Yaa udah deh, Wan. Nggak usah nangis. Santai aja”
Iwan: “Huhuhu… Gimana bisa nyantai!”
Saya: “Yaa, begitulah resiko tebar pesona, Wan”
Iwan: “Huhuhu…, Ngatini kena AIDS, Bang. Udah tiga hari ini badan saya gatel-gatel! Huhuhu.., masa cuman begituan doang saya ikutan kena AIDS!”

Kali ini gantian saya yang kaget bukan kepalang.

Tidak menyangka masalahnya Iwan Spik Kobra lebih parah daripada yang saya kira. AIDS itu masalah serius. Sebab walaupun ada yang bilang tingkat penyebarannya terhitung rendah dibandingkan populasi warga RI dan ada pula yang bilang tingkat penyebarannya tinggi, tetap saja mempunyai angka penderita yang signifikan dari tahun ke tahun.

Saya (sambil terkaget-kaget): “Kamu serius Wan, si Ngatini kena AIDS”
Iwan: “Huhu… Iya bang…”
Saya: “terus kenapa kamu nangis?”
Iwan: “Huhuhu.. Waktu malem tahun baru saya mabok bang. Bangon-bangun besok paginya ada dua perempuan di samping saya. Telanjang. Si Ngatini ama Susi… Huhuhu. Sial! Sial!”

Saya yang masih terkaget-kaget, tiba-tiba membayangkan dua perempuan telanjang. Bagaimana yaa rasanya bangun pagi terus di samping kita ada dua perempuan telanjang terlentang?

Ahh, air lur saya sampai mau menetes.

Tapi astaga! Kok yaa saya jadi mikir yang enggak-enggak. Bukannya mikirin masalahnya Iwan, malahan mikirin perempuan telanjang.

Tiba-tiba si Udin angkat bicara. Mungkin sejak empat botol bir pletok bir masuk perutnya. Ia jadi berhenti cemburu pada Iwan Spik Kobra.

Ternyata saya salah.

Sebab si Udin berkata, “Wan… Mangkanya jangan melakukan dosa. Ngewe itu dosa tau. Apalagi lo ngewe ama dua perempuan. Dosanya dobel tuh!”

Saya bingung mendengarnya. Ini orang, bukannya membantu orang yang lagi dirundung duka dengan mencari solusi, malah sibuk bikin fatwa.

Saya: “Din, lo yang bener aja dong. Kasian nih si Iwan”
Udin: “Itu lah bang akibat ulah kerakusan manusia. Untunglah tuhan bersama kita, orang-orang yang sabar menahan diri”

Nampaknya Udin kebanyakan minur bir pletok. Makin lama makin ngawur saja omongannya. Walaupun saya yakin, ia masih cemburu akibat malam tahun baru.

Saya menoleh kepada Iwan, “Yakin Wan, kalo gatel-gatel itu gara-gara kena AIDS?”

Iwan masih menunduk.

Saya sendiri tidak tahu banyak soal AIDS dan HIV. Maklum desa kami jarang  didatangi aktivis penyuluh kesehatan. Ditambah lagi, miskin sarana informasi. Mana tahu kami soal penyakit canggih macam HIV dan AIDS itu.

Jadi, saya sama sekali buta bahwa kalau kena AIDS badan jadi gatal-gatal.

Iwan menatap saya lemah, “Tadi siang, si Ngatini bilang kalau dia kena AIDS bang. Dia juga baru tahu. Sebab kemaren pusing-pusing. Terus cek ke dokter. terus kata dokter, dia kena AIDS”

Saya malah tambah kebingungan. Apa hubungannya pusing-pusing dengan AIDS.

Saya: “Hmhh pas mabok malam tahun baru. Mabok apaan?”
Iwan: “Inek ama potka, bang. Emang kenapa, Bang?”

Udin Petot tiba-tiba menyela dengan agresif, “Wah enak bener luh Wan dapet Inek ama Potka. Dapet darimana luh! Begitulah hidup lu sebagai orang rakus. Ada barang bagus ga bagi-bagi temen. Dasar luh borok sikutan! Mangkanya lu jadi kena AIDS begini!”

Saya melotot ke arah Udin. Ini orang kok yaa makin aneh saja. Supaya tidak tambah aneh, saya belikan lagi sebotol bir pletok supaya ia diam.

Saya: “Wan, yakin begituan pas malem tahun baru? Kalo begituan, emang ada resiko sih kena AIDS.  Apalagi kalo nggak pake kondom”
Iwan: “Nggak yakin juga sih, Bang”

Rupanya, saya salah. membelikan sebotol bir pletok pada Udin Petot untuk menyumpal sementara mulutnya. Sebab ia tiba-tiba berkata lagi, “Luh inget ga Wan? Masa luh nggak inget sih ngewe? Ngewe itu goyang-goyangin pantat. Trus mbelesek-mbelesekin pler luh ke pantatnya si Ngatini ama Susi”

Loh, si Udin kok pertanyaannya ajaib sekali.

Maka, saya ajak Iwan ke luar warung Mister Jay. Menghindari celotehan aneh Udin Petot. Itu anak, makin banyak minum bukannya tambah santai malahan makin gokil.

Saya: “Wan, saya kurang tahu soal AIDS. Tapi lebih baik yuk kita sama-sama ke puskesmas besok. Kalo puskesmas tutup, kita tanya ke kakaknya si Putu yang dokter itu”
Iwan: “Malu, Bang. Kalo ketauan orang sekampung, kasian yaa orang tua saya”

Iya, saya tahu memang kalau penderita AIDS itu sering dianggap warga negara yang lebih buruk daripada sampah.

Banyak orang menganggap penderita HIV atau AIDS punya label pendosa yang melekat erat di jidat mereka. Mereka dianggap tikus yang mati di dapur. Harus cepat-cepat dienyahkan. Sebab apabila tidak, meracuni makanan sehari-hari.

Saya tahu, Iwan tidak risau masalah itu. Ia risau orangtuanya akan malu punya anak seorang penderita AIDS.

Tidak lama kemudian ia pamit. Pamit pada saya. Pamit pada Mister Jay. Pamit pada Udin Petot (yang tidak dibalas, akibat Udin kebanyakan minum bir).

Malam itu, malam terakhir saya melihat Iwan.

Ia pergi dari kampung kami sejak pengakuannya di warung Mister Jay. Tidak ada orang yang tahu kemana. Dan tidak ada pula yang bertanya mengapa. Semua cerita dibaliknya tertimbun bersama botol-botol bir pletok di warung Mister Jay.

Sejak saat itu, band dangdut saya bubar.

Udin Petot mengajak saya membuat band baru. Hanya dua orang saja. Ia jadi drummer. Saya, ia minta jadi penyanyi sekaligus pemain gitar sekaligus pemain harmonika.

Kata Udin Petot, bandnya harus band rock atau band pop. Biar digilai wanita-wanita.

Nama bandnya, Azab dan Sengsara!

This entry was posted in bangaip, Orang Indonesia, sehari-hari and tagged , . Bookmark the permalink.

19 Responses to Balada Gitaris Band Dangdut

  1. Pingback: Ngewe Itu Dosa Tau! « Arif Kurniawan as Bangaiptop

  2. lambrtz says:

    Nama bandnya, Azab dan Sengsara!

    Ebuset…nama bandnya serem amat 😯
    Jadi inget Merari Siregar…
    Apa ga lebih pantes main dangdut melayu? 😛

    Kalo kampus saya dulu beda Bang.
    Band-band yang main rock (termasuk band saya) malah sepi penggemar. Jatahnya disco sama dangdut baru rame. 😕

    -0-
    Iya, seharusnya kita memang main dangdut melayu. Tapi Udin menolak habis-habisan. Hehe

  3. adipati kademangan says:

    Udin petot itu hebat ya bang, dalam keadaan teler dan omonganya ngawur, masih ada benernya juga. Ngomongin dosa jugak.

    -0-
    Hehe, nanti saya sampaikan pada Udin. Hehe

  4. battou says:

    Ini orang, bukannya membantu orang yang lagi dirundung duka dengan mencari solusi, malah sibuk bikin fatwa.

    hmm… ternyata fatwa itu bukan merupakan solusi ya? :)

    Udin: “Itu lah bang akibat ulah kerakusan manusia. Untunglah tuhan bersama kita, orang-orang yang sabar menahan diri”

    bujubuneng, die kan juga ga bisa naha diri (untuk minum)

    -0-

    hmm… ternyata fatwa itu bukan merupakan solusi ya? :)

    Hehe, tergantung sudut pandangnya. Kalau pakai Il Principe nya Macchiaveli, fatwa itu solusi. Suara tunggal adalah kebenaran.

    Kalau pakai Mizan al Amal nya Imam Ghazali, itu tergantung kondisi. Fatwa adalah bagian dari manusia. Bukan bagian dari binatang. Karena manusia berdasarkan perilaku manusiawi (hiss mushstarik), maka kondisi fatwa yang manusiawi lah yang membedakan solusi itu untuk manusia atau bukan.

    Kalau pakai sudut pandang Heidegger dalam Vom Wesen der Wahrheit, fatwa itu sama sekali bukan solusi. Kebenaran itu tidak perlu dihalang-halangi oleh suara segelintir manusia yang mengaku utusan tuhan.

    Masih banyak sih acuan soal fatwa. Tinggal pilih aja yang paling cocok. Hehe

  5. itikkecil says:

    Stigma dan diskriminasi jadi masalah serius sekarang di sini bang, padahal ODHA semakin banyak di sini… harusnya orang berprinsip “Jauhi virusnya, jangan jauhi orangnya”

    -0-
    Iya, berat memang. Tulisan ini pun tadinya berniat dieksklusifkan. Tapi karena dengan internet jarak jangkaunya jadi lebih jauh, saya buka saja ke publik, Mbak. ODHA itu butuh perhatian lebih serius dari masyarakat luas.

  6. Syech Mbelgedez, "Imam Madzab Bocor Alus™ " says:

    Weh, post memeperingati hari AIDS, ya bang….

    Beidewei, Iwan sekarang kemana bang ???

    -0-
    Innalillahi wa inailaihi rajiun. Ash to ash dust to dust. Sudah meninggal beliau, Mas Mbel.

  7. Syech Mbelgedez, "Imam Madzab Bocor Alus™ " says:

    Pletok ituh campuran sebotol bir, sebotol vodka gepeng, sebotol Krating Daeng, dan peresan jeruk lemon ya bang ??? :mrgreen:

    -0-
    Sepertinya bener deh Mas Mbel. :)

  8. Syech Mbelgedez, "Imam Madzab Bocor Alus™ " says:

    @ Mbak ITIK;

    Njawuhin pirusnya, kan berarti njawuhin orangnya, dong mbak ???

    Kalok deket-deket orangnya, berarti ndeketin pirusnya, donk…

    :roll:

  9. titiw says:

    Aih2.. bang aip.. selalu tampil dengan cerita2 aneh tapi nyata.. ANyway itu kalimat2 yg muncrat dr mulut udin kagak ada ayakannya yak? Hihihiihi..

    -0-
    Dia itu unik, Tiw.Hehe. Walaupun begitu, saya juga bingung tuh orang nempel terus dengan saya. Kalau tidak salah, sebentar lagi dia akan meneruskan ke jenjang pendidikan doktoralnya. Entah tahun depan, entah 2010.

  10. Citra Dewi says:

    Heran Ip, kamu ini masih muda tapi pengalaman hidupmu banyak banget.
    Tidak ada habis2nya dan selalu ngreget uk dibaca dan jg utk di renungkan.

    -0-
    Akibat pergaulan bebas, saya beginilah Mbak hasilnya. Hehe

  11. Manusiasuper says:

    Kalau menurut Bang Aip, yang perlu dilakukan itu pendidikan seks sejak anak SD atau pelarangan masif perlakukan-perlakukan yang berpotensi AIDS?

    -0-
    Pertanyaannya berat yaa. :)

    Ini berdasarkan pengalaman pribadi;
    Ibu saya guru SD, sekaligus guru ngaji buat anak-anak kecil. Di sekolahan SD beliau, tidak boleh diajarkan pendidikan seks usia dini. Katanya, bahaya. (*dengan anggapan mereka pikir ibu saya akan mengajarkan kamasutra pada bocah berusia 4-8 tahun kali yaa, hehe*)

    Di pengajian, akhirnya ibu saya bisa leluasa mengajarkan pendidikan seks pada usia dini. Diantaranya adalah dengan memberikan pengertian perbedaan antara anak laki-laki dengan anak perempuan. Untuk anak yang kira-kira akan beranjak ABG, diterangkanlah apa itu menstruasi, hingga perubahan pada suara.

    Pendidikan seks di pengajian lebih berhasil. Sebab tidak ada apriori dari penilik sekolah bahwa pendidikan seks usia dini itu berbahaya.

    Munculnya apriori pendidikan seks usia dini itu berbahaya memang dipicu dari kekurangpahaman pelarang, bahwa pendidikan seks itu bukan melulu teori reproduksi.

    Soal pelarangan masif perilaku yang berpotensi AIDS, saya pikir saya tidak mampu menjawabnya. Ini ada link dari teman kita, Domba Garut aka Luigi Pralangga soal rekan kerjanya yang terkena HIV/AIDS. Menarik untuk dipelajari dan dijadikan renungan.

    Terimakasih buat pertanyaannya, Mas Fadil

  12. dnial says:

    Moral cerita :
    Jangan ngewe sambil mabuk? 😀

    -0-
    Kebetulan.., nggak ada yang bagi-bagi moral di blog saya ini. 😀

  13. Wijaya says:

    Cerita begini yg bikin kangen, he he he…., saya selalu senyum2 kalo baca ini….
    Dah lama si Udin gak nongol…eeehhh, skalinya nongol malah mabok…

  14. Manusiasuper says:

    Maaf kalau merepotkan Bang, he..

    Sejak jadi guru di SMP, saya memang kesulitan menempatkan diri pada topik sensitif seperti Seks dan AIDS ini di depan siswa siswi saya.

    Saya ingin menerapkan konsep terbuka pada sat membicarakan masalah di atas, takutnya usia siswa saya belum cukup.

    Saya ingin tertutup dan melarang mereka ‘mendekati zina’ *wuakakakak* , tapi omongan siswa siswi saya sudah menjurus ke sana-sana..

  15. lambrtz says:

    @Manusiasuper
    Saya waktu SMP diajari pendidikan seks sama sekolah saya. Sampai mengundang pakar juga. Ga masalah itu 😕

  16. Eh… komen saya kok ilang ya?
    Jangan-jangan saya emang belum komen ya?

  17. Chandra says:

    Moral cerita : “mo ngewe harus periksa dulu kah :))”

    —-

    Sayang sekali saya nggak berminat bagi-bagi moral lewat tulisan. Moral saya kurang cukup untuk dibagi-bagi. Buat sendiri saja masih susah. :)

  18. GOBAH SENJA says:

    Cerita yang bagus…….
    mas aip ada pengalaman ma polisi gak?

  19. ini cerita fiksi ya mas..?? kok agak aneh.. bir pletok mang bisa bikin mabok..?? bir pletok khan sebenernya minuman jahe setahu saya..

    trus ada beberapa nama yang dejavu… :)

Leave a Reply