Bisnis Maut

Saya selalu bertanya-tanya, mengapa kuburan manusia itu harus berbeda secara klasifikasi berdasarkan agamanya.

Ini hal yang menarik buat saya sebenarnya. Sudah beberapa tahun terakhir ini, karena penelitian, saya memotret kuburan. Dan anehnya, di setiap tempat yang saya singgahi, kuburannya selalu dibedakan menjadi klasifikasi berdasarkan agama.

Tidak berdasarkan umur. Tidak berdasarkan kelamin. Tidak berdasarkan banyaknya jari di tubuh. Semuanya kompak, memilih agama sebagai patokan lokasi memilih mengubur jasad.

Jadi, paedofil, koruptor, pembunuh, dan sebagainya jadi satu dengan penderma, hingga orang suci. Syaratnya cuma dua; pertama seagama, yang kedua, jelas harus sesama jenazah.

Begini, di negara anu yang ada di bagian tenggara asia, kuburan dibedakan menjadi kuburan warga beragama A. Lalu, tidak jauh disebelahnya, kuburan agama B. Lalu tidak jauh dari A dan B, ada kuburan agama C dan seterusnya. Begitupun hingga negara-negara yang katanya maju letaknya di Eropa sana. Sama saja. Kuburan itu yaa harus beda.

Entah kenapa?

Tapi bagi saya menarik sekali.

Dalam hati, saya berfikir. Apakah ini memang kodrat manusia, untuk membedakan manusia berdasarkan status agamanya. Bahkan di saat sudah menghembuskan nafas pun, sang hidup masih pula memisahkan mereka berdasarkan agamanya.

Yang jadi pertanyaan, mengapa kuburan-kuburan itu harus dibedakan, berdasarkan agama pula?

Apakah apabila kuburan agama A jauh lebih mahal daripada agama B, C dan lainnya? Jadi kalau dikubur di lahan pemakaman A, kelihatannya jauh bergengsi?

Ataukah kuburan agama B memang kelihatannya lebih meriah dan indah, jadi seakan-akan seperti surga?

Entahlah…

Yang pasti, sebagaimana makanan, kuburan itu bisnis yang menjanjikan memang. Sebab setiap orang pasti butuh makan sebagaimana setiap orang pasti (mau tidak mau) akan mati.

Namun tetap saja tidak bisa menjawab, mengapa kuburan harus dipisahkan berdasarkan agama.

Kalau menganut teori seorang keturunan Palestina Amerika bernama Edward Said, kolonialisme lah yang membuat manusia menjadi terpeta-petakan dalam kategori yang mereka buat sendiri. Diantaranya, memetakan kuburan itu,

Mengapa kuburan harus dibuat peta?

Apakah dengan memetakan kuburan akan membuat mereka yang percaya akan alam barzakh tidak akan tersasar apabila menyinggahinya nanti?

Ataukah ternyata kuburan itu semacam pelabuhan. Sebuah gerbang yang mengantarkan manusia menuju surga (atau neraka) abadinya. Menuju persinggahan terakhir manusia.

Oke, masalah persinggahan terakhir memang masih diperdebatkan. Kalau ternyata surga menjadi persinggahan terakhir, tentulah yang percaya akan masuk ke sana berbahagia. Tapi bagaimana kalau neraka yang jadi persinggahan terakhirnya. Sial amat, bikin dosa cuma berapa tahun, tapi balasannya dicincang-cincang abadi.

Maka itu, sebaiknya diskusi tidak dilanjutkan ke persinggahan terakhir. Hehe.

Lebih baik, bicara soal kuburan lagi saja.

Yang ternyata, hingga saat ini, saya tidak mampu menjawab. Mengapa kuburan manusia dipisahkan berdasarkan klasifikasi agama? Seakan Yang Maha Kuasa cukup buta memilah-milah warga pilihannya.

Kita, dari lahir sudah dibedakan. Mulai dari akte kelahiran. Jenis tipikal rumah sakit. Hingga udara tempat dilahirkan.

Begitu besar dan dewasa, perbedaan itu sedemikian kuat. Sehingga muncullah kategori manusia pemangsa hingga manusia yang harus dibela.

Kita berjuang sedemikian beratnya melawan perbedaan itu. Kita si miskin ogah terus terinjak-injak. Berjuang banting tulang setiap hari demi sesuap harga diri. Sementara, kita si kelas menengah, terus menerus mencari jati diri. Dimana segelintir kita, yang kaya, dilanda takut jatuh bangkrut setiap hari.

Setiap hela nafas, manusia terus menerus berjuang melawan perbedaan. Hingga muncullah sebuah ungkapan yang terkenal mengenai perbedaan, ‘Barang siapa yang hari ini sama dengan kemarin, adalah orang yang merugi’.

Tapi kenapa, ketika kita mati. Ketika ruh pergi meninggalkan jasad. Ketika nafas terakhir telah berhembus pula. Kita masih dibedakan?

Apakah tidak cukup membedakan manusia berdasarkan kelas, berdasarkan hasrat seksual, berdasarkan kajian demografi, berdasarkan bla-bla-bla lainnya ketika mereka hidup.

Jawabnya simpel; tidak cukup!

Entah kenapa, kita punya keinginan kuat untuk terus menerus berbeda berdasarkan agama. Terus menerus diadu egoisme dengan keinginan merasa memiliki tuhan yang paling suci. Bagaikan bocah bermain kelereng, merasa bahwa tuhan yang satu mungkin terlihat lebih mengkilat ketimbang tuhan lainnya.

Tapi tetap saja tidak bisa memungkiri bahwa bisnis mayat mungkin hanya bisa dikalahkan dengan bisnis makanan, misalnya.

Di Indonesia, bisnis mayat itu berprospek cerah.

Kita tentu saja bukan orang bodoh, bahwa perbedaan agama kadang memicu konflik yang mengakibatkan korban jiwa. Dan sebagaimana korban jiwa lainnya dalam masyarakat beradab, harus dikebumikan.

Mengurus mayat dan mengebumikannya, bukanlah hal yang teramat susah bagi bangsa Indonesia. Gerak darah dalam nadi turun temurun sejak leluhur mereka, mengakibatkan satu sama lainnya bekerja sama dalam mengurus jenazah. Ada bagian yang membeli kafan, ada bagian yang memandikan, ada bagian yang menggali lubang.

Tapi bagaimana jika satu sama lainnya sudah berkelahi, salah satunya yaa gara-gara agama itu tadi.

Siapa yang akan mengurus mayatnya?

Maka itu… Bisnis jenazah bukanlah bisnis yang buruk di Indonesia. Selama konflik masih ada, selama tuhan dianggap lebih mengkilat ketimbang tuhan lainnya oleh manusia, santai saja. Tidak akan bangkrut itu bisnis, percayalah.

Di kota besar, dimana harga tanah menggila, mati itu kutukan buat orang miskin.

Di pemakaman Budi Darma, Cilincing, kampung saya. Sekali mati, kena 5 juta.

Jadi, bayangkanlah jika seorang pegawai negeri golongan awal. Dengan gaji sekitar satu koma sekian juta perbulan. Ketika ada anggota keluarganya meninggal dunia, bukan hanya harus sedih kehilangan orang yang dicintai, melainkan juga harus puasa sekitar selama 5 bulan bagaikan pertapa.

Tidak makan dan tidak minum.  Sudah sedih, dipaksa pula kepalaran.

Dan jangan anggap 5 juta itu dapat tempat kuburan yang oke punya. Salah. Kuburan itu ibarat stadion sepakbola, makin strategis duduk ziarahnya, makin mahal harganya.

Ditambah lagi, ada biaya-biaya tambahan perkwartal atau pertahunnya. Seperti pohon rindang dekat kuburan misalnya. Atau bunga pada hari-hari tertentu. Itu harganya beda. Ada daftarnya di kantor kuncen yang dekat jalan raya.

Tentu saja, jangan lupa memberi tips pada pembersih rumput liar kuburan di hari raya. Itu hari suci loh, sebagaimana hari suci lainnya, kita ramai-ramai ke kuburan. Entah niatnya meminta hajat, entah mengurangi dosa dan airmata, atau entah apa… Rumput-rumput liar kan tidak enak dipandang mata.

Maka itu, bisnis jenazah adalah bisnis yang berprospek cerah.

Selama masih ada yang akan mati, masih hiduplah bisnis ini.

Dan jika yang mati karena konflik seperti tawuran oknum bersenjata mabuk rebutan pelacur, preman berjubah berebut lahan parkir, hingga gorok menggorok leher berebut tuhan mana yang lebih mengkilat.., itu lah bonus namanya.

*In memoriam untuk korban Masohi 2008*

This entry was posted in Orang Indonesia, Republik Indonesia, sehari-hari. Bookmark the permalink.

20 Responses to Bisnis Maut

  1. det says:

    wah pertanyaan yang aneh. menurut saya mengapa dibedakan berdasar agama karena masing-masing punya cara sendiri dalam menguburkan kang aip. yang kristen dan islam kan model kuburannya beda. ada yang besarnya harus selapangan bola dan dikasih bangunan megah, ada yang cukup batu nisan biasa. kalo dicampur kan bisa tidak efisien tempat :mrgreen:

  2. Wijaya says:

    @ det : “masing-masing punya cara sendiri dalam menguburkan…”.
    Lhah, kalo dah selesai upacara penguburannya? Kan sama2 dah jadi mayat….
    Naaa…., kalo masalah bangunan/nisannya, yaa ini kembali kepada masing2 individu. Kadang nisan juga menunjukkan status…

    Kalo dibayangkan sebuah kuburan dgn berbagai jenis agama jadi satu, jadi bhinneka tunggal ika ‘kali yaa…
    Mungkin kesannya jadi tidak seragam (?), tdk rapi…., entahlah.

    @ bangaip : adalagi bang, kalo iring2an pembawa jenasah ke kuburan, biasanya para pengantarnya galak2 pada pengguna jalan yg lain.
    Kadang dah jalanan padat, kita disuruh minggir. Katanya sih ada kepercayaan/anggapan untuk memperlancar jalan sang almarhum.
    Tapi, kalo dah mati aja masih bikin susah orang lain yg masih hidup…., gimana kalo dianya masih hidup yaaaa….?? he he he….

  3. hedi says:

    orang mati harusnya game over, tapi sayang yg ngurus game adalah orang hidup. yg hidup inilah yg repot2 minta pemisahan dan tetek bengek lainnya 😀

  4. reallylife says:

    waduh
    untung saja di tempat saya tidak
    dan semoga seterusnya

  5. Bukannya dipisahkan berdasarkan jenis kelaminnya juga?

  6. Catshade says:

    Bang Aip, setahu saya masih ada kuburan yang dicampur: Taman Makam Pahlawan (eh, tapi ini sebenarnya juga pemisahan tersendiri ya 😛 ); ndak tahu sih apa semuanya begitu, tapi yang pernah saya kunjungi di Solo mencampurkan semua agama.

    Lalu masih ada pembedaan lagi: Spesies. Saya membayangkan melototnya mata si penjaga kubur kalo kita bilang mau memakamkan anjing kesayangan kita di TPU ‘khusus manusia’ (meski sebenarnya tidak ada batasan itu sih rasanya). Mau dimakamkan di mana pula si anjing itu kalau agamanya saja tidak jelas? 😀

  7. aRuL says:

    @catshade : biasanya di taman makam pahlawan itu, tetap dpisah, sebelah kanan dan kiri.
    saya tau tempat makam yang campur, yaitu pas medan perang dikubur massal, termasuk korban tsunami dan lain2 yang memang massal adanya 😀 hehehe

    anyway kalo saya melihat pemisahan itu seperti misalnya rumah ibadah, masak gabung toh gereja dengan masjid, masing2 butuh kekhusukan…
    gimana nih misalnya, masing2 peziarah masing2 berbeda agama dekat liang, sama2 berdoa apa ngak mengganggu.
    Sebenarnya pemisahan antara kuburan salah satu bentuk toleransi.
    toh yang tau setelah kita dikubur Tuhan koq.

  8. DeZiGH says:

    @bangaip

    Bisa jadi karena:

    – Tata cara pemakaman tiap agama lain-lain (ritual, arah jenazah, dll)
    – Tata cara ziarah ke makam untuk tiap agama lain-lain

    Mungkin dikhawatirkan tatacara agama yang satu bisa mengganggu tata cara agama yang lain di pemakaman tersebut, malah mungkin juga tata cara yang berbeda antara agama bisa mengganggu mayat yang berbeda keyakinan ^_^

    @wijaya

    Betul, sudah jadi mayat kalau sudah dikuburkan,
    namun jika mayat itu dikuburkan dengan penataan yang tidak seragam,
    hal tersebut akan membuat penggunaan lahan menjadi tidak efisien,
    coba bandingkan dengan mayat-mayat yang dikubur dengan tersusun rapi

  9. Syech Mbelgedez, "Imam Madzab Bocor Alus™ " says:

    Soale tanah Indon mingsih luwas kalo buwat kuburan. Ntar kalo harganya udah ndak kira-kira, mau ndak mau mesti di kremasi kayak da Singapore…. :mrgreen:

  10. erander says:

    Bang .. tadinya, saya juga mikir kaya’ entu. Tapi selama saya tugas di Karesidenan Madiun, saya menemukan kejutan karena disana banyak tempat pemakamam umum (TPU) yang memiliki jazad antar agama. Ketika saya tanyakan : “Koq makam disini ga terpisah² berdasarkan agamanya seperti ditempat² yang laen?” .. dijawab sama roh halus tukang jaga bahwa mereka berasal dari satu keluarga.

    Saya baru ingat .. kalo di Jawa, mudah dijumpai dalam satu keluarga, agamanya bisa beda² .. boleh jadi bapaknya muslim, ibunya nasrani kemudian anaknya ada yang ikut kepercayaan bapaknya ada yang ikut kepercayaan ibunya. Dan bahkan ada yang diluar kedua agama tersebut seperti budha ato hindu.

    Sehingga ketika salah satu anggota keluarga yang berlainan agama itu berpulang .. mereka tetap kuburkan dalam satu area. Jadi .. seperti-nya bang Aip perlu deh jalan² ke karesidenan Madiun untuk survey. :)

  11. sutan says:

    1. biar ngga bikin bingung malaikat yg katanya mo nanya2 sama si mayit. ntar kalo malaikat nanya “man robbuka?” ternyata si mayit bukan Islam, pan berabe urusannya, brur….
    2. lebih berabe lagi kalo satu peziarah lagi Yasinan, sementara sebelahnya menyanyikan kidung/ode. Runyam!

    Tetapi, bagaimanapun, ranah pemikiran yang unik. Teruskan!

  12. boy says:

    jangan lupa bos..bisnis rumah duka..very very lucrative. di jakarta setiap minggu selalu fully booked

  13. edratna says:

    Saya sepakat dengan komentar Erander… keluarga sayapun terdiri dari berbagai kepercayaan, dan bisa rukun damai. Dan karena masih di daerah, maka biasanya keluarga telah punya tempat tersendiri, tanpa memisahkan agama.

    Tapi kan tetap juga ada pengklasifikasi an…mungkin ini hanya untuk memudahkan bang, bagi kerabat atau teman yang ingin nyekar dan berdoa bagi si mati.

  14. enyong says:

    emang si imam samudra mau dikubur dengan kaum kafir menurut pandangan agamanya?

  15. Taruma says:

    mayat kok dibisnisin?

  16. Fritzter says:

    Ah, ternyata ada untungnya selama ini hidup di Papua.
    Disini pekuburan masih gratis gak semahal di sono.
    Walau gak tau persis rupiahnya, saya bisa pastikan di bawah 1 juta.
    Untuk biaya hidup di Papua (bakso paling murah 9000), angka ini pastinya terjangkau sekali. Kalau memang tidak mampu, masjid atau gereja setempat bisa bantu.

  17. Fritzter says:

    Kelupaan.
    Di Papua belum ada bisnis pekuburan swasta. Masih diurus pemerintah. Angka diatas itu masuk kantong pengurus kuburan saja.

  18. sufehmi says:

    Jadi ingat supir kami waktu ybs ditimpa musibah dengan wafatnya anaknya.

    Dia malah ditodong warga sekampung untuk tahlilan — yang mana ini berarti adalah (1) besekan (nasi kotak) untuk semua yang hadir (2) amplop terimakasih bagi para hadirin (3) amplop terimakasih bagi si ustadz.

    Dan tahlilan tidak cukup satu kali.

    Saya langsung lemes mendengar ceritanya. Tidak tega untuk menanyakan berapa duit yang jadi terpaksa dia buang untuk itu.

    Padahal sudah jelas dalam Islam itu HARAM hukumnya memakan makanan dari keluarga yang tertimpa musibah. Apalagi sampai memaksa untuk mendapatkan amplop dari ybs.

    Kita selama ini sibuk mencaci maki para pejabat. Tapi kita lupa mencaci diri kita sendiri. Padahal orang mati saja masih juga kita mangsa. Hiy…

    Kalau ingat hal-hal ini, saya jadi skeptis dengan Indonesia ini…

  19. errr…anu, bang, mungkin gara2 – ya itu tadi – sejak lahir kita memang sudah dibedakan. asal tanah balik ke tanah, asal berbeda ya balik ke berbeda 😀

  20. didinu says:

    Setuju sekali dengan Sufehmi dan memang seperti adanya.

    Kalo kita masing-masing berusaha benerin diri sendiri mungkin hasilnya akan lebih baik, ketimbang protes kanan-kiri tentang segala perilaku orang lain (pejabat? politikus?), tapi kitanya masih rajin beli dvd bajakan, software bajakan, nrobos lampu merah.

    Sebaliknya juga jangan skeptis. Ayo pelan2 kita benerin diri masing-masing.

    Merdekaaaa!

Leave a Reply