Isabela

Desember mungkin hari penuh duka bagi segelintir manusia di Timur sana. Entahlah…

Tanggal 7 Desember dini hari, Isabela Lobato lari tersuruk-suruk di jalan raya sambil menangis. Ia ketakutan. Matanya merah letih. Badannya basah keringat. Bayi yang ada dalam kain gendongannya, tidak kalah takutnya menjerit melihat langit yang tertutup parasut-parasut tentara yang berkembangan.

300 meter sebelum mencapai gereja, tempat aman yang ia yakini mampu melindungi, seorang tentara yang baru saja melepaskan tali parasut menghadangnya. Merampas bayi yang ada dalam gendongan Isabela, lalu dengan popor senapan, menghantam dahi perempuan malang tersebut.

Isabela tersungkur jatuh ke tanah.

Sang bayi, tidak lama terdiam, setelah sang tentara melemparkan tubuh berumur tiga bulan itu ke dalam sumur samping jalan. Dan Isabela, tidak mampu berbuat apa-apa, sebelum sempat menangis sebutir timah panas telah bersarang di kepala setelahnya.

Hari itu, dini hari 7 Desember 1975 di Dili.

Hari itu pula seorang suami, Nicolau Lobato, bersumpah atas nama roh leluhur mereka yang bersemayam di Gunung Matebian. Bahwa ia, dengan segala kemampuan, tenaga dan waktu, akan membalas kematian anak istrinya.

Namun rupanya takdir menentukan lain. Tidak lama kemudian, Nicolau remuk pula kepalanya terkena mortir serdadu. Ia pergi, entah dengan damai entah dengan dendam yang bersisa.

Semoga saja, ia pergi menemui anak istrinya di alam sana.

Bertahun-tahun setelah kejadian itu, dalam sebuah pagi Thomas Ximenes meratap di gereja Santa Cruz. Masih di Dili.

Ia terlentang di lantai gereja. Lengan kanannya sobek terkena peluru. Sambil menatap gubernur, ia berkata “Pak, saya haus… Mohon beri air, Pak”.

Pagi itu, pukul sebelas. Sang gubernur Carascalao menatapnya lirih, “Maaf Thomas, mereka hanya mengijinkanku menengok warga. Mereka tidak memperbolehkan aku membawa makanan minuman ke dalam gereja ini”

Pagi itu, beberapa hari menjelang Desember 1991. Thomas bersama ratusan warga lainnya berbaring terlentang dalam gereja dan kompleks pekuburan Santa Cruz. Tidak mampu mengangkat kepala. Sebab siapapun yang mengangkat kepala artinya hanya satu, mengharapkan peluru panas menghantam batoknya.

Mereka terbaring dalam gereja. Kepanasan. Kehausan. Kelaparan. Berdarah. Baik berdarah hatinya, sebab demonstrasi damai mereka dibalas aksi brutal kekerasan. Dan berdarah badannya, dihajar peluru tentara.

Di luar gereja, situasi mencekam. Ribuan tentara dengan perlengkapan tempur kelas berat mengepung. Di otak mereka hanya ada satu kata. Titah pemimpin mereka seorang Jendral (*yang kemudian menjadi wakil presiden*) berkata “Siapapun yang mengangkat kepala dalam gereja, siapapun yang memberi bantuan kepada demonstran yang bersembunyi dalam gereja dan kompleks pekuburan… Layak ditembak!”

Tidak ada yang sadar, seorang anak mantan duta besar Inggris untuk El Savador, Max Stahl ternyata terperangkap juga dalam kompleks pekuburan Santa Cruz.

Max adalah pembuat film dokumentar. Siang panas di kuburan Santa Cruz, ia merekam polisi memukul, menelanjangi dan lalu menyiksa sekitar 60 pemuda-pemudi di atas kompleks makam tersebut.

Filmnya, ia sembunyikan ke dalam pasir di bawah sebuah nisan. Ia sendiri, setelah kameranya dirampas, ikut dipukul dan diangkut dalam sebuah mobil bersama 60 pemuda-pemudi. Lalu dibawa dalam sebuah mobil pengangkut tahanan.

Jika saja tidak ada seorang relawan palang merah asal Jerman yang berbohong mengaku pada tentara bahwa Max adalah juga relawan, mungkin ia nasibnya akan sama dengan 60 pemuda-pemudi lainnya di kompleks pekuburan.

Dua video Pembantian Santa Cruz yang tersembunyi di bawah nisan di ambil beberapa hari kemudian dan lalu diputar dalam tayangan televisi Yorkshire, Inggris. Nama filmnya Cold Blood: The Massacre of East Timor.

Iya, itu film dokumentar mengenai Timor Timur yang menggegerkan dunia.

Ketika laki-laki, perempuan, tua bangka, anak kecil terbaring di gereja. Lebih dari setengah dari 315 orang yang terlentang dalam gereja mati sia-sia. Sisanya, 60 orang di kompleks pekuburan di sekeliling gereja, menghilang begitu saja setelah masuk mobil tahanan. Tanpa proses peradilan. Tanpa informasi. Tanpa keterangan secuilpun jua.

Cerita diatas, bukan fiksi. Ahh sayang sekali bukan fiksi.

Cerita diatas, sebuah kisah nyata. Bahwa setelah Presiden Ford dari Amerika berkunjung ke Jakarta tanggal 6 Desember, tanggal tujuhnya, Indonesia merampas hak kebebasan Timor Timur.

Merampas hak kebebasan itu eufimisme. Bahasa yang benar, menghisap, membunuh dan lalu membumi hanguskan. Tepatnya, menjajah.

Bagaimana mungkin sebuah bangsa yang didirikan dengan kalimat pembukaan dasar negara “Bahwa sesungguhnya Kemerdekaan itu ialah hak segala bangsa dan oleh sebab itu, maka penjajahan di atas dunia harus dihapuskan, karena tidak sesuai dengan peri-kemanusiaan dan peri-keadilan” bisa menjajah bangsa lainnya?

Apakah penting pertanyaan itu dijawab kini?

Mungkin iya… Mungkin tidak. Tergantung sudut pandang yang anda punya. Atau bisa juga atas nama kesadaran dan hati nurani yang anda miliki.

Namun, ada lagi yang lebih menarik dari peristiwa maupun pertanyaan diatas. Yaitu kejadian-kejadian setelahnya. Lama berselang setelah Timor Timur merdeka. Setelah bahkan lebih banyak korban jiwa yang jatuh dalam proses tersebut.

Yaitu proses rekonsiliasi antara Indonesia dengan Timor Timur.

Rekonsiliasi dalam Kamus Bahasa Indonesia dalam jaringan adalah perbuatan memulihkan hubungan persahabatan pada keadaan semula atau perbuatan menyelesaikan perbedaan.

Proses ini untuk mengetahui, apa yang sebenarnya telah terjadi antara dua belah pihak, Indonesia dengan Timor Timur. Proses membina hubungan apa yang bisa dibina dengan baik antara dua negara bertetangga ini ibarat sepasang suami istri korban Kekerasan Dalam Rumah Tangga yang mencoba rujuk kembali.  Bisa bersahabat, tapi bukan tanpa cacat.

Rekonsiliasi adalah proses pahit yang dapat membuahkan hasil yang amat manis. Toh kita bisa melihat warga kulit hitam Afrika Selatan memaafkan perlakuan buruk yang teramat lama dari si kulit putih, lalu kemudian mencoba maju bersama membangun negara.

Rekonsiliasi, berawal dari pengakuan. Saling bercerita. Saling berbagi. Saling memaafkan dan menerima. Lalu setelahnya, bergandengan tangan mesra. Merajut hari-hari menjadi lebih baik bersama.

Namun bagaimana proses ini bisa dimulai. Jika ternyata tidak ada seorang pun yang mengaku atas kesalahan yang telah diperbuatnya.

Apalagi, jika sang pelaku ternyata adalah calon penguasa negeri yang akan maju melalui Pemilu 2009.

Mungkin, mengakui kesalahan adalah hal yang terberat yang dapat dilakukan seorang manusia.

Sebab jika mudah, mengapa tidak banyak dari kita, manusia, yang gampang mau mengakui kesalahannya?

Mungkin… Mungkin… Ahh mungkin kita merasa terlalu suci untuk menjadi manusia.

This entry was posted in Orang Indonesia, Republik Indonesia and tagged . Bookmark the permalink.

16 Responses to Isabela

  1. Pingback: Dasar Penjajah « Arif Kurniawan as Bangaiptop

  2. KiMi says:

    Mungkin saja si Pelaku tersebut tidak mau mengakui kesalahannya karena terlalu banyak yang dipertaruhkan. Nama baik, harga diri, dan bahkan kesempatannya untuk menjadi penguasa negeri. *btw, pelaku yang dimaksud siapa ya?*

  3. Fortynine says:

    Siapapun pelakunya, saya hanya ingin mengutip sesuatu dari tulisan diatas

    Bagaimana mungkin sebuah bangsa yang didirikan dengan kalimat pembukaan dasar negara “Bahwa sesungguhnya Kemerdekaan itu ialah hak segala bangsa dan oleh sebab itu, maka penjajahan di atas dunia harus dihapuskan, karena tidak sesuai dengan peri-kemanusiaan dan peri-keadilan” bisa menjajah bangsa lainnya?

    Pertanyaan yang sama yang ingin saya tanyakan kepada semua yang mungkin merasa cinta Indonesia, dan beranggapan bahwasanya Indonesia adalah Bhineka Tunggal Ika; seperti yang pernah saya tuliskan di sini:

    Sila Ketiga: Persatuan Indonesia. Masa sich? Apa kabarnya GAM? Sudah damai atau hanya pura pura damai sehingga kesannya NKRI masih utuh? Lantas bagaimana pula dengan pengibaran bendera kemerdekaan di Papua dan Pengibaran Bendera RMS di Maluku? Kalau masih harus bersatu kayanya sila ketiga harus ditambah kata katanya menjadi “Persatuan Indonesia yang Dipaksakan”.

    Toh kenyataannya selama ini persatuan itu hanya dilakukan dengan paksaan. Banyak pergolakan dan keinginan memerdekakan daerah yang ditutup tutupi dan disembunyikan, sementara kaum separatis dihajar dengan senjata. Lagian dengan lepasnya Timor Timur sila ini sudah tidak relevan. Jadi bagaimana bagusnya sila ini diganti kata katanya ya? Kalau “Perpecahan Indonesia” saya rasa tidak tepat juga, karena kalau Indonesia pecah Pancasila juga sudah ga ada lagi. Mungkin yang ini bagusnya diganti menjadi “Persatuan Sisa Sisa Indonesia Secara Paksa”.

    Masih layakkah Indonesia bersatu? Dipimpin oleh pemimpin yang berjiwa kriminal dan brutal pula misalnya????

  4. Goen says:

    Semua dimulai ketika saya bertemu seorang teman, mahasiswa dari Timor Leste yang satu kelas dengan saya di kampus.

    Sebelum itu saya meyakini bahwa Indonesia membebaskan Timor Timur dari belenggu penjajahan, bahwa Indonesia merangkul saudaranya di Timor sana. Namun begitu mendengar cerita–tentang keadaan di Timor Leste–dari teman Timor Leste saya, entah kenapa keyakinan itu sedikit terusik. Bukannya langsung percaya atau malah membantah kebenaran cerita dari teman saya, namun saya langsung tergerak untuk mencari reportase tentang Timor Leste dari tahun 70an hingga akhir 90an, baik dari sumber Indonesia maupun sumber luar (namun saya coba fokuskan ke sumber dari luar, tentunya tak hanya dari satu negara saja).

    Saya kaget, apa yang dulu saya yakini bahwa Indonesia “membebaskan” Timor Timur setelah itu buyar. Salah satu reportase terlengkap tentang keadaan di Timor Timur pra dan pasca referendum saya dapatkan dari tulisan Richard Lloyd Parry yang dari dekat pernah mengujungi markas gerilya pro-kemerdekaan. Dalam beberapa tulisan yang saya temukan memang banyak sekali pelanggaran HAM yang dilakukan oleh tentara dan polisi Indonesia di Timor Timur sejak tahun 70an. Dari agresi militer, pelanggaran HAM, hingga chaos–hanya saja ini dilakukan dengan hati-hati sehingga tidak begitu menarik perhatian dunia pada awalnya.

    Dan akhirnya referendum Timor Timur tahun 1999 akan tercatat dalam sejarah sebagai salah satu bentuk pemilihan umum dengan angka golput terendah.

    Btw, yang rasa rasa aneh ya mengapa Timor Timur dulu ditetapkan sebagai provinsi Indonesia ke-27 berdasarkan UU no. 7 tahun 1976 dan PP no. 19 tahun 1976, padahal sepengetahuan saya agresi Indonesia ke Timor Timur salah satunya adalah karena ada pihak minoritas di sana yang menghendaki Indonesia mengambil alih Timor Timur dari FRETILIN. Dan setelah Indonesia menguasai keadaan di sana juga, PBB hanya “menitipkan” (duh saya lupa pernyataannya, nanti saya cari-cari lagi) Timor Timur kepada Indonesia, dan bukan berarti itu serta-merta bisa dimasukkan begitu saja ke wilayah Indonesia.

  5. Saya punya Om yang menjadi pastor di sana. Bahwa benar ada pembantaian di sana, bahkan ada korban dari kalangan rohaniwan, yaitu pastor dan para suster.

    Setelah merdeka, Om saya lebih memilih tinggal dan berkarya di sana. Dulu saya menanggapnya itu sangat beresiko karena stabilitas dan keamanan di sana sangat mengkhawatirkan. Tetapi ternyata ketidakstabilan dan ketidakamanan itu bermuara dari RI.

    Kini di sana sangatlah baik keadaannya walau pun kemiskinan dan keterbelakangan tetap saja dan masih belum bisa teratasi. Tetapi keadaan di sana jauh lebih baik dari pada saat terjadinya insiden tersebut. Dan kini di sana dalam rangka tertatih-tatih dalam membangun negara.

    Semoga Timor Leste dapat menjadi negara yang maju, berdaulat penuh dan sejahtera.

  6. boy says:

    memang sedih mendengar nasib sodara kita disana..tapi namanya juga war casualties..timor-timor itu korban dari perang perebutan pengaruh antara barat dan komunis, dan nafsu kekuasaan…

  7. enyong says:

    indomi seleraku

  8. Eru says:

    yet another potongan sejarah yang di buku sejarah masa saya SMP/SMA dulu adalah buku yang memahlawankan satu pihak dan memenjahatkan pihak lain (padahal mungkin tidak begitu) *sigh*

  9. guh says:

    ah.. malu saya bang… baru tahu kalau banyak hal ternyata tidak sebaik penampilannya.

    sekarang jarang online ya? kapan bisa chat lagi? 😀

    -0-
    Jarang sekali saya online, Mas Teguh. Sibuk ganti popok putri saya. Hehe

  10. guh says:

    filmnya bisa di download dimana bang? boleh minta directlink nya?

    -0-
    Jawaban dari Max soal Film Online

    “Dear Arif

    Thanks for youe enquiry.

    In 2003 I started CAMSTL, the centro audiovisual Max Stahl Timor Leste,in Dili, Timor Leste. It is a centre for production and audioviual archive of the birth of the nation. There we have copies of ‘In Cold Blood,’ ‘Sometimes I must Speak Out Strongly’,and two other docs I made which featured the massacre of Nov 12 1991 at Santa Cruz, Dili. However we do not yet have these on line. We are working on this and it may soon be possible via the INAMEDIA site of the French National archive to view much or even all of the material on the massacre, and also on investigations I did afterwards into what happened that day and afterwards when victims were poisoned in the military hospital, and also there will be material on 1999 amongs much else.

    For INAMEDIA you have to be a potential buyer for a tv station or something, but it seems fairly easy to access if u can appear as a Production Company or whatever….

    If u come to Dili we can show u these films and many others or u can buy them . From Indonesia I can only think of using Federal Express or something which is of course very expensive………………..but maybe worth it??!

    Meanwhile, Very warmes wishes or a Happy Chirstmass

    Max Stahl”

    Secara tersirat, nampaknya Max menyebut INAMEDIA. Di situs itu, saya belum berani berbohong mengaku pembuat film, jadi tidak berani mendaftar, hehe

  11. Syech Mbelgedez, "Imam Madzab Bocor Alus™ " says:

    Lho ?!!

    Kok pengertian sayah malah sebaliknya yah ???

    :roll:

    -0-
    Saya di Dili tahun 1993, Mas Mbel. Ada anggota keluarga yang berdinas di sana, sebagai bagian dari pasukan organik RI. Di banyak tempat, semua mata menatap saya tidak begitu bersahabat. Saya sempat dengar dari keluarga, ada pemimpin pasukan Anu, yang hobinya memaksa warga Timor Timur memakan telinga sendiri ketika disiksa untuk mendapatkan informasi soal Fretilin.

    Kami, yang berwajah ‘Jawa’, bukan masyarakat favorit di sana saat itu.

  12. Problemnya bahwa situasi saat itu tak bisa dilepaskan dari konstelasi perang dingin komunis dan blok barat..Indonesia jadi agak sensitif kalau pulau kecil itu dikuasai ‘ kiri ‘ akibat ekses revolusi bunga di Portugal yang kekiri kirian.
    Apalagi ini didukung oleh Amerika. Mereka hanya minta supaya pasukan Indonesia masuk ke TimTim saat pesawat Airforce 1 sudah melewati keluar dari wilayah RI. Itu saja. Malaysia, Australia membantu pasokan peluru, suku cadang.
    Banyak aneksasi atau penyerahan wilayah di tempat lain berakhir dengan nyaman, dan kesejahteraan bagi penduduk lokal, seperti di ketika pasukan India masuk di Goa ( bekas kolonisasi Portugal juga ), atau atau Turki di pulau siprus.
    Memang militer Indonesia jadi keblinger akibat monopoli kopi, sumber daya alam, dan yang lebih penting biaya politik perang. Sudah bukan rahasia pemasukan besar militer adalah menciptakan daerah konflik.
    Ah..ini analisa ngawur he he

  13. titiw says:

    Aduh.. aku merinding banget bacanya bang. Ck ck ck.. bang aip selalu expert pengetahuannya dalam hal2 kayak gini yah. Anyway saya belajar sejarah banyak dari tulisan2 bang aip lho, thx ya bang! :)

  14. Korporaal says:

    Hahaha, “negara” itu memang rapuh.

  15. kevin says:

    dapet ilmu baru lagi… sukurlah…

    tapi serem bacanya…

  16. DeZiGH says:

    Duh.. Miris mbacanya..
    Nyanyi aja ah..

    isabela adalah…
    kisah cinta dua dunia…
    mengapa kita berjumpa…
    namun akhirnya…
    berpisah…

    *lagu jadul*

Leave a Reply