'Kita'

Sahabat saya, Mardi adalah penjual training pack. Setelan pakaian untuk berolahraga.

Ia berdagang kaki lima di depan masjid dekat rumah ibu saya di Cilincing. Sudah beberapa hari ini ia terus bertanya pada ibu saya, kapan saya pulang. Ibu saya bertanya kenapa.

Mardi menjawab, ia butuh mengobrol dengan saya. Ia butuh diskusi dengan saya. Ia kangen rupanya.

Maka, tidak lama kemudian saya menelponnya. Kasihan Mardi rupanya, sudah dua bulan ini dagangannya susah laku. Mungkin karena sekarang sudah banyak orang yang malas berolahraga. Lebih suka menonton tabung televisi.

Atau mungkin juga malas berolahraga, karena kampung saya Cilincing, kotor udaranya.

Untuk menghibur Mardi, saya ceritakanlah mengenai hidup Mike Beckman dan ‘Kita’.

Ini ceritanya;

Mike Beckman nama aslinya adalah Mikael Beckman. Memiliki kepandaian multi, diantaranya menulis, berakting hingga memotret.

Kepandaiannya itu mengantarkan Tuan Beckman menjadi seorang sutradara di negara asalnya, Swedia.

Berbeda dengan penulis aktor fotografer merangkap sutradara lainnya, Tuan Beckman mengkhususkan diri spesialisasi pornografi.

Artinya simpel, baik ketika ia menulis, berakting, memotret atau merekam gambar melalui kamera, semuanya adalah sepenuhnya dilakukan memenuhi panggilan pornografi.

Dalam sebuah siaran dokumenter nasional, suatu hari Mikael Beckman ditanya oleh seorang reporter BBC, “Mengapa anda membuat film porno yang dibintangi oleh para orang cacat”.

Tuan Beckman tersenyum memandang reporter itu. Ia menjawab, “Karena selalu ada pasar untuk apa saja”.

Reporter itu, sudah terlatih dengan baik. Terutama terlatih dalam mendengar respons dari orang yang ia ajak bicara. Maka serta merta bertanya lebih lanjut, “Apa pasarnya?”

Tuan Beckman masih tersenyum ketika menjawab, “Saya tidak membuat ini kalau tidak laku. Saya businesman”.

Dalam tayangan film dokumentar BBC itu selanjutnya memang tidak ditemukan adegan ranjang yang dilakukan orang cacat. Namun, wawancara itu hingga kini tetap menjadi fenomenal.

Hingga kini, bahkan saya masih tetap mengingat kalimat itu, ‘Sebab, selalu ada pasar untuk apa saja’.

Kalimat itu, mungkin menjawab hal-hal yang menarik yang terjadi baru-baru ini.

Salah satunya adalah fenomena grup musik dari pedalaman desa di pelosok sebuah pulau di Indonesia, dengan wajah mereka yang ‘ndeso’. Dengan logat medok ketika diwawancara. Dengan pakaian apa adanya. Ternyata sanggup menjual album mereka lebih dari 100 ribu keping.

Banyak orang yang tercengang. Banyak yang kaget.

Bagaimana mungkin, grup band cengeng dengan modal tampang dan suara pas-pasan bisa laku?

Jawabnya banyak. Bisa jadi “Ahh itu rejeki dia”. Bisa juga “Major labelnya kuat sih”. Bahkan bisa jadi “Jangan-jangan main dukun”.

Banyak jawabnya.

Tapi, sedikit sekali yang menjawab “Karena selalu saja ada pasar untuk apa saja”.

Bahkan untuk musik cengeng mereka? Untuk wajah pas-pasan mereka? Apa yang bisa dijual?

Ini yang menarik. Sebab nampaknya ternyata ada pasar untuk menjual sesuatu yang ‘membumi’.

Bukan hanya ada, sebab ia bahkan besar. Sebuah celah besar yang jarang dilirik.

Mengapa jarang dilirik? Sebab pasar yang menjual realita memang tidak banyak. Masyarakat disibukkan untuk bermimpi dalam kelas borjuis. Ramai-ramai otak dijejali mimpi memiliki mobil mewah buatan Jerman hingga gadget terbaru buatan Taiwan.

Para penjual mimpi, baik dari para pembuat sinetron televisi hingga penjual dagangan kaki lima pinggir jalan, sibuk menawarkan mimpi.

Mimpi untuk jadi kaya. Mimpi untuk punya kulit lebih putih, dengan anggapan bahwa putih itu bersih. Mimpi untuk langsing. Mimpi untuk jadi lebih cepat. Mimpi untuk dikagumi. Mimpi… Punya hal yang selama ini hanya ada dalam impian.

Bahkan dalam iklan-iklan baris koran kuning mimpi-mimpi itu berseliweran kemana-mana. Hingga mimpi yang menawarkan zakar keras dan membesar pun ada.

Ketika suatu hari, datanglah penjual yang menawarkan para manusia dengan tampang mirip kita-kita semua. Bukan keturunan bule. Tidak mancung hidungnya. Warna kulitnya coklat. Matanya tidak indah bundar. Kita semua terhenyak.

Maka, ketika manusia-manusia yang mirip kita itu menjual sesuatu (musik) kepada kita. Laku lah jualan mereka.

Kita membeli dagangan itu mungkin bukan karena kita suka (musik) dagangan mereka. Kita membeli karena para penjual itu, mirip dengan kita.

Kita tidak mancung. Kita tidak punya mata indah lebar bundar berbinar. Kita tidak punya kulit terang karena bapak ibu kita bukan caucasian. Kita bukanlah mereka yang sering kita lihat dalam tayangan-tayangan mimpi di kotak televisi.

Kita, sebagaimana orang-orang Indonesia lainnya. Selalu mengaku ‘orang biasa saja’.

Kita, ada.

Tapi mengapa tidak ada yang menjual cerita mengenai ‘orang biasa saja’?

Kita, seperti tersisihkan. Apabila strata sosial adalah rantai jaring makanan, maka kita menempati posisi terbawah.

Kita, ‘orang biasa saja’ tidak ada yang melirik.

Bangkai anjing di jalan raya menarik perhatian banyak orang. Tapi mengapa kita, tidak pernah diperhatikan?

Kita, berhak dapat kehidupan yang layak. Berhak punya rumah untuk tempat tinggal. Berhak menikmati jalan raya tanpa maki-maki dan polusi. Berhak menimati udara segar dengan anak dan keluarga. Kita berhak punya pemerintahan yang bersih dari korupsi.

Kita ada. Tapi mengapa kita diacuhkan?

Maka, ketika suatu hari ada yang berdagang mimpi. Dan mukanya mirip kita. Maka alam bawah sadar kita pun berontak.

Sebagian dari kita memaki. Sebagian dari kita memuji. Ketika sebuah band cengeng dari pelosok pulau yang mungkin desa mereka tak tertera di peta, berhasil menjual 100 ribu lebih keping kopi musiknya.

Ini yang menjadi jawaban mengapa serial lawas ‘Si Doel Anak Sekolahan’ berkali-kali tayang di tivi.

Kita, mayoritas penghuni negeri.

Kita ada.

Dan kita diacuhkan.

Kita tidak butuh Mikael Beckman. Kita tidak butuh bintang porno cacat. Kita tidak butuh semua itu.

Kita, yang tidak berkulit terang karena bapak ibu kita bukan caucasian. Kita, yang berkulit tidak mancung. Kita yang bermata tidak bundar indah berbinar. Kita yang hidup bahkan kadang dengan hanya 1 dollar amerika perhari.

Adalah mayoritas penghuni negeri ini.

Kita adalah pasar.

Dan jika suatu hari dari kita ada yang berhasil menjual mimpi… Apa yang akan kita perbuat?

This entry was posted in sehari-hari and tagged , . Bookmark the permalink.

17 Responses to 'Kita'

  1. Pingback: Bintang Porno Cacat « Arif Kurniawan as Bangaiptop

  2. sora9n says:

    Maka, ketika suatu hari ada yang berdagang mimpi. Dan mukanya mirip kita. Maka alam bawah sadar kita pun berontak.

    Hmm… IMHO sih bang, nggak selalu begitu juga. :-/

    Misalnya kasus boyband. Boyband UK (westlife, boyzone, dkk) relatif sukses. Sementara boyband Asia/Taiwan, di sini justru kesannya: “apaan sih mereka? enggak banget!” xD

    Lha, padahal Taiwan dan UK sama-sama bukan melayu? ^^a

    *bingung*

    Ini yang menjadi jawaban mengapa serial lawas ‘Si Doel Anak Sekolahan’ berkali-kali tayang di tivi.

    *jadi kangen sama oplet Babe Sabeni* :(

  3. agenda kota says:

    wah benar. selalu ada pasar untuk apa saja! apakah yang dimaksud itu kangen band? itu kan bukan dari jawa?

  4. dnial says:

    *bosan dengan sinetron mimpi*
    *setel extravaganza dan coffee bean show 😀 *

  5. suparjo says:

    sangat inspiratif bang! saya lagi bingung mencari bidang usaha baru dan dapat moto baru “selalu ada pasar untuk apa saja”. Harus rajin-rajin mengamati sekitar kita nih. Terima kasih

  6. Marhaen says:

    “kita diacuhkan meski mayoritas” karena, kita bukan kelas berkuasa dan belum berkuasa detik ini. Pun ada pasar untuk apa saja, itu pasar neoliberal bung, semua dijual, bahkan harga diri dan identitas diri sebagai orang biasa pun ludes jadi jualan pasar dunia maya kadang-kadang, obral diri, bingung mau bela siapa, ikut intelek-ningrat atau bela buruh, juga si tani yang beranak si miskin.

    Memang, hari ini, di kehidupan jaman bau sampah elektronik “kita” memang berbeda senyatanya, seperti; anda si kelas tengah yang mengenyam bangku sekolahan mengabdi pada pasar, tapi “kita yang hidup 1 dollar sehari” bukanlah anda, apalagi kata kita tak mungkin buat anda, kita memang berbeda kelas.

    Tapi jangan salah “Kita” sudah sewindu, diperhatikan kok, karena kita terus bergandeng tangan beribu massa-senasib, berkata yang benar pada kekuasaan, tanpa kenal lelah, tanpa kompromi moral kelas berkuasa, kita didengar, kita didengar!, hanya saja kita masih berpencar, seperti Anda dan saya juga bercerai. Tengoklah bung, Si Buruh masih gagu dan lugu dihantam SKB 4 Menteri hari ini; Si Tani mulai rebut tanah meski ditembak timah Perhutani dan ss sang marinir; Si miskin dibuat bingung karena dapat subsidi langsung tapi harga minyak juga melambung, semua masih di pencar!.

    Tapi mulailah mendengar, setiap kita, kami, si Marhaen, si Buruh, si darah muda, bersatu padu pantang tolak terus berlawan rebut kedaulatan, niscaya, pemerintah yang bersih bebas korupsi pasti ada, kita yang buat bung, ingat-jangan-sekali-sekali hanya berharap bung! kelas berkuasa tak kan rela tujuh turunan berbagi hak kepada kita, ingat sejarah…bung!

    Bukan, bukan hanya, membumi apalagi menjual mimpi. Ini cuma kebiasaan, kita sudah dilatih sejak balita dan tua bangka untuk membeli! apa saja meski kita tak butuh dan mengkonsumsi selamanya sejak Suharto naik tahta. Ini pasar bebas bung, pasar kejayaan paman sam yang menghisap sendi budaya nusantara, yang dibangun darah rakyat, tenaga si buruh, keringat si tani dan hak si miskin dari Jakarta hingga Chile.

    Perih duh perih sanubari ini, lihat tanah, air jadi milik korporasi dan serdadu pasar, pengabdi neoliberal, pelayan tuan berkuasa.

    Tapi jangan menyerah, bisa, kita pasti bisa menjual mimpi, mimpi keadilan sosial. Yang setiap malam menghampiri. Yang setiap pagi digenggam si Buruh, si Tani dan si Miskin. Mimpi kesejateraan yang dituang pada dahaga haus keadilan.

    Bisa bung, kita pasti bisa, jangan salah pilih jalan, mari merajut benang kusut perjuangan kelas manusia-Cilincing saudara si Marhaen, jangan berhenti,jangan, hingga kita kembali pada tanah, air, udara dan api pembebasan.

    Tabik,Marhaen.

  7. itikkecil says:

    Iya bang…. kita selalu didikte… terutama oleh rating, seolah-olah mereka yang lebih tahu apa yang kita inginkan.

  8. @ agenda kota

    itu kan bukan dari jawa?

    lho, memangnya kenapa kalo bukan dari jawa? nggak termasuk ‘kita’? :mrgreen:

  9. Banyak juga kok impian lokal yang sukses.

  10. sora9n says:

    @ joe

    lho, memangnya kenapa kalo bukan dari jawa? nggak termasuk ‘kita’? :mrgreen:

    Bukan begitu masbro. Kalau bukan dari Jawa, berarti

    “grup band cengeng dengan modal tampang dan suara pas-pasan”

    yang disebut bang Aip bukan Kangen Band. :mrgreen:

  11. Fortynine says:

    Kita adalah pasar.

    Dan jika suatu hari dari kita ada yang berhasil menjual mimpi… Apa yang akan kita perbuat?

    Seharusnya kita membangunkan yang masih mimpi. karena memang seperti itulah yang dijual oleh partai politik dan caleg. MIMPI! Mimpi untuk kehidupan yang lebih baik, mimpi turun harga, mimpi kesejahteraan. Tapi, itu semua hanya mimpi yang dijual kepada pasar bernama masyarakat!

    Yang kita perbuat? Berhenti bermimpi. Berpijak pada kenyataan, dan pilihlah dagangan yang memang sesuai kebutuhan. Masalahnya sekarang; ada tidak dagangan yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat Indonesia sekarang ini????

  12. telmark says:

    bermimpilah setinggi mungkin.. *halah*
    keren keren… bkn saya ngerenung.

  13. telmark says:

    knp avatarnya cmn separo bang ?

    -0-
    Separuhnya wajah saya, separuhnya lagi wajah mamanya. Avatar itu asimilasi yang lumayan oke juga lah antara saya dan mamanya putri saya yang saya jadikan avatar. Hehe.

    Separuh sebab muka saya yang muncul. Separuhnya lagi, simbolisasi bagian muka istri, ada di website lain yang sama sekali tidak ada hubungannya dengan blog ini. :)

  14. Pingback: Balada Gitaris Band Dangdut

  15. Pingback: Apakah Coldplay Menjiplak Satriani? (Poll) « All That I Can’t Leave Behind

  16. Pingback: Bosan Cari Kerja « dodopolah

  17. Pingback: Balada Argumentasi Sinetron Yang Tertukar-Tukar « Rahmad Hidayat's Blog

Leave a Reply