Angkot Bodong

Tidak mau kalah rupanya saya ikut-ikutan orang-orang. Bikin resolusi untuk tahun 2009. Maksudnya, tahun depan ada target baru yang harus dicapai.

Dalam hati berfikir, sungguh benar-benar sok-sokan saya ini. Toh tahun berganti tahun, namun yaa tetap begitu-begitu saja. Hehe. Tapi yaah, pura-pura pintar sedikit yaa tidak apa-apa toh. Biarlah saya sekali-kali berlagak jadi orang intelek kali ini. Ikut-ikutan bikin resolusi.

Sungguh deh, saya sendiri tidak ahli bikin resolusi. Apalagi bikin resolusi agar saya terlihat kelihatan lebih cerdas sedikit, lalu dengan bangganya saya pajang pada publik. Memangnya saya PBB yang jago bikin resolusi. Jelas bukan.

Omong-omong soal PBB. Saya bertanya-tanya sebenarnya. Kalau tugas PBB adalah salah satunya membantu mengawasi keberlangsungan hajat hidup bangsa-bangsa sedunia. Maka, siapakah yang membantu mengawasi keberlangsungan PBB?

Haha, jangan di ambil pusing. Lebih baik, saya fokus saja ke tulisan yang akan saya bagi ini.

Ini sekedar tulisan penghilang lelah saja. Tulisan iseng saya setelah pulang kerja.

Pada pergantian tahun menuju 2000 ada seorang lelaki menangis di samping saya. Entah saya yang sial, entah dia yang sial… Yang pasti, di awal tahun itu ada seorang lelaki menangis di samping saya. Di bawah jembatan penyebrangan depan terminal bus Depok. Tepat setelah pukul 12 malam.

Sebut saja namanya Toto. Teman saya. Sudah lama kenal. Orangnya pinter. Ramah. Punya keluarga. Punya kedudukan yang baik di kantornya. Orang baik-baik.

Kenapa ia menangis?

Saya pegang pundaknya. Tidak berani memeluk. Di daerah ini lelaki yang memeluk sesama laki-laki di bawah remang-remang jembatan penyebrangan jalan bisa dipukuli orang terminal.

Saya tanya perlahan sambil menawarkan sebatang rokok, “Kenapa To?”

Toto mengusap airmatanya, “Taun baru, Rip”

Saya mengerutkan kening, “Lah kan bagus tuh. Harapan baru”

“Gua takut, Rip”

Saya tambah mengerutkan kening, “Takut kenapa, To? Bilangin aja men siapa yang bikin lo takut. Ayo kita samperin”

“Yee lo, Rip. Bukan itu men”

Saya tambah kebingungan. Kenapa ada seorang lelaki menangis di bawah jembatan dan setelah ditanggapi omongannya, menjadi kesal. Saya diam saja.

Setelah lama saya terdiam, Toto akhirnya berkata “Gua ketakutan, Rip. Kok yaa sekarang semuanya serba ada. Rumah ada. Mobil ada. Mau makan tinggal makan, mau tidur tinggal tidur. Pulang ke rumah, anak istri ada. Pergi ke kantor ada anter. Sampe di kantor ada yang hormatin. Semuanya serba ada”

“Wah lo kayak toko dong men, serba ada”

“Gue serius nih, Rip”

Saya kebingungan, aneh sekali si Toto. Hidupnya serba berkecukupan, tapi kok yaa masih saja merasa kekurangan?

Jangan-jangan si Toto teman saya mengidap penyakit miskiniatus. Penyakit misterius. Pengidapnya mengalami kondisi yang amat menyakitkan. Apa-apa hidup serba kekurangan.

Tapi bisa jadi si Toto mengidap sindrom kemapanan.

Sindrom kemapanan ini semacam sindrom yang menghinggapi manusia yang dulunya harus berjuang mati-matian, saking susahnya hidup sampai-sampai lupa kalau roda nasib itu berputar. Dan suatu hari ketika semua yang ia perjuangkan tercapai, kebingungan. Sebab mau apa lagi yang harus diperjuangkan dalam kemapanan.

Mirip gerilyawan revolusioner yang ujung-ujungnya jadi birokrat.

Dan saya, malam ini nampaknya tengah menghadapi seorang mantan gerilya yang menangis di bawah jembatan penyebrangan jalan.

Apa yang harus saya ceramahi pada seorang bekas pejuang yang kini telah mempunyai apa yang dulu ia cita-citakan? Khotbah basi campur sejumput kata-kata mutiara? Sepenggal-penggal ayat suci populis yang kata orang manjur mententramkan jiwa sembari berkhayal apabila tebakan ayat berhasil saya akan berkarir sebagai orang suci?

Ahh… Tidak mungkin. Tidak pada Toto. Tidak malam ini.

“Gua takut, Rip. Kok yaa idup gampang sekali saat ini. Mau apa-apa, nggak susah. Nggak ada tantangannya. Dulu waktu masih kuliah, apa-apa dapetinnya susah banget. Jangankan berhasil, setengah berhasil aja udah seneng banget. Sekarang apa-apa gampang. Gua bosen, Rip. Bosen idup gua nih”

Saya tidak tega mau bilang ‘Mati aja luh!’.

Maka itu saya berkata, “To, mendingan lu pulang deh. Ngapain juga lu udah punya keluarga masih nongkrong ama gue di kolong jembatan. Pulang, To. Liat muka anak bini lu. Minta maap ama mereka, lo udah mikir yang nggak-enggak kayak begini. Kasian anak bini luh. Pulang sono”

Saya usir dia dari bawah jembatan penyebrangan. Toto menatap bimbang. Lalu tidak lama kemudian ia menelpon supirnya. Minta di jemput.

Usai Toto pulang, jalanan sudah tidak begitu ramai lagi. Sudah hampir pagi.

Yang tersisa adalah hancuran berkas-berkas kertas koran pembungkus mercon. Terompet yang melempem terkoyak terlalu banyak ditiup angin. Jalan Margonda bau sangit asap petasan semalam.

Tipikal khas tahun baru. Setiap orang ingin berpesta. Namun tidak ada yang mau mencuci piring setelahnya.

Lalu, berjalanlah saya ke arah kantor polisi. Di sana, di pinggir jalan, ada warung kopi. Rencananya mau duduk sebentar. Ngopi sambil makan cemilan hangat.

Ketika jalan, telinga saya menangkap musik dangdut sayup-sayup dari Angkot Bodong. Di sebut Angkot Bodong sebab ini adalah angkutan perkotaan tak berlisensi pengganti angkot 05 jurusan Depok-Citayam. Penasaran campur mau joged, saya hampiri asal suara.

Ternyata di depan warung kopi itu mangkal supir-supir Angkot Bodong. Musik mengalir dari salah satu tape mobil angkot rupanya. Ada beberapa dari mereka sedang main kartu remi. Saya pun duduk bersama mereka, menawarkan rokok sambil minum kopi dan makan bakwan panas.

Di sela-sela hentak bantingan kartu remi dengan meja warung, mengalirlah cerita-cerita khas sopir jalanan. Lucu, tragis, bahagia, ironi semuanya jadi satu. Kisah mereka unik.

Yang paling menarik, ada cerita seorang bapak yang pakai baju biru duduk di sudut.

Katanya beliau, suatu hari di siang yang panas di Depok ada seorang ibu-ibu lari ke tengah jalan. Menabrakkan diri ke mobil angkot yang ia bawa. Dan sialnya, ia pun sedang ugal-ugalan mengemudikan mobil. Lari seperti setan di dalam jalan lingkar kota.

Walaupun akhirnya ia mengerem mendadak, Ibu itu, mental di udara dan menghantam aspal panas dengan kepala tiba terlebih dahulu. Kata si bapak, ada cairan putih keluar dari sela-sela tengkorak yang retak. Entah itu apa.

Saya mual mendengarnya.

Namun si bapak tidak berhenti bercerita. Ia terus melanjutkan bahwa tidak ada seorangpun yang percaya bahwa ibu itu menabrakkan diri. Hampir ia di amuk massa. Untung saja diamankan polisi.

Hingga pada akhirnya ia tidak terbukti bersalah (karena ada saksi yang meilhat si Ibu ternyata benar-benar menabrakkan diri ke mobil dan meninggalkan seorang putra berusia tujuh tahun di pinggir jalan), uang yang ia keluarkan untuk proses peradilan sudahlah teramat banyak.

Harta benda ia jual. Demi badan tidak terpenjara.

Dan kini, pagi di tahun baru 2000. Ia duduk di sudut. Bercerita tentang nasibnya yang dulu kaya. Dan kini, awal tahun, berharap penghasilannya dari jam sepuluh malam hingga jam empat pagi mampu menghidupi mulut istri, empat anak, satu mantu dan dua cucu. Dan tentu mulutnya sendiri.

Tdak lama kemudian, saya pulang. Jalan kaki dari warung kopi menuju rumah. Di jalan tidak habis-habisnya saya berfikir. Tentang Toto si mantan gerilyawan kota. Tentang bapak berbaju biru mantan orang kaya. Dan juga tentang seorang anak berumur tujuh tahun yang menatap mantan hidup ibunya di habiskan di ujung tanduk angkutan perkotaan.

Di jalan, tiada habis saya berfikir. Apa artinya tahun baru? Apa arti resolusi di garis imajiner buatan manusia itu?

This entry was posted in bangaip, Orang Indonesia, sehari-hari and tagged . Bookmark the permalink.

8 Responses to Angkot Bodong

  1. Catshade says:

    Hidup itu, bang aip, seperti jalan tol. Dan tahun baru, atau ulang tahun, adalah pal penanda yang ditancapkan manusia di pembatas jalan tol itu tiap 200 meter sekali. Sekedar untuk simbol akan sejauh mana kita sudah melangkah, dan seberapa dekat kita dari gerbang tol terakhir.

    -0-
    Bagus perandaiannya. Terimakasih Mas sudah memberi masukan. :)

  2. itikkecil says:

    IMHO, resolusi di tahun baru itu semacam pengingat atau malah harapan untuk hidup yang akan kita jalani kelak…

    -0-
    Terimakasih Mbak atas masukannya :)

  3. edratna says:

    Resolusi, kata anak saya, agar dia punya target.
    Lha nanti kalau tak tercapai?, tanya saya
    Ya, minimal udah buat target bu, daripada malah ga ada arah.

    Jadi betul juga komentar catshade…hidup ini kayak jalan Tol…harus ada tujuannya mau kemana….tentang sampai diujung jalan Tol apa tidak, itu masalah nasib dan kemauan, serta kerja keras untuk mencapainya.

    -0-
    Terimakasih Bu atas masukannya

  4. Artinya, nikmat yang dicari sebenarnya ada ditelapak tangan. Susah payah nyarinya untuk dihilangkan. Begitu hilang baru terasa nikmatnya. ha ha ha, baru kerasa pas mau hilang gitu lho.

    -0-
    Bener, Pak. Iya itu memang intinya.

  5. cK says:

    resolusi itu cuma sekedar patokan mau ke arah mana. setidaknya untuk pegangan sehingga ada ‘sesuatu’ yang menjadi tujuan tiap tahunnya. makanya kadang resolusi itu ada yang berubah tiap tahun.

    -0-
    Terimakasih atas masukannya, Chika

  6. Mampir mapir eh masuk sini
    Duh duh ane bingung nih mo ngomong apa ya bang, maju terus blogger Indonesia

    -0-
    Terimakasih sudah mampir

  7. Saya tahun baru kemaren juga mikir, apa sebenarnya artinya tahun baru sih, jadi perlu dirayakan dengan hingar bingar secara massal? Kalo dipikir-pikir sebenernya hanya satu hari yang biasa saja, ga perlu dibuat heboh, dalam acara hidup.

    Karena dah bosen dengan rame-rame, sudah 2 tahun terakhir ini saya memutuskan untuk pergi tapa bisu (meditasi, beneran kagak boleh ngomong), daripada makan-makan melulu, saya malah kena aturan puasa dari jam 12 siang sampe besok pagi. Dingin, bersalju, laper…

  8. eddy says:

    Rif, coba bikin tulisan tentang malioboro, lu bisa cari di facebook_malioboro classical, anggotanya banyak yang tinggal di negara di mana kau berdiri sekarang!

    -0-
    Hehe, ini iklan terselubung yaa. Hehe, kalao bener iklan, kalah ama lurah kampung dong. Hehe

Leave a Reply