Lima Milyar

Bicara masalah kepercayaan memang susah. Mau bilang apa pun juga, kalau sudah menyangkut kepercayaan, masing-masing individu pasti punya kepercayaan masing-masing.

Jarang sekali dalam sebuah perdebatan menyinggung soal kepercayaan, seseorang  akan berkata “Ya, kepercayaan kamu benar. Saya salah. Jadi, selama ini saya salah mempunyai kepercayaan ini”. Dan lebih jarang lagi, jika embel-embel kalimatnya ditambahi dengan kata “Tunjukilah kami jalan kepercayaan yang benar”.

Percayalah, jaraang sekali yang ada orang yang melafalkan kalimat pada paragraf di atas ketika diskusi soal kepercayaan.

Masing-masing, biasanya mempertahankan mati-matian kepercayaannya. kalau perlu, sampai pukul-pukulan. Semuanya, apapun jua, dilakukan demi mempertahankan logika kepercayaannya. Seakan semua harga diri terkumpul jadi satu dalam sebuah dogma.

Saya mau cerita sebenernya soal orang sampai berdarah-darah mempertahankan (juga memaksakan) kepercayaannya ketika diskusi soal orang lain.

Tapi, karena itu masuknya dalam kategori membicarakan orang (*sebab saya belum dapat ijin beliau mempublikasikan ceritanya hingga saat ini, hehe*). Maka saya sebaiknya membicarakan diri saya saja.

Hehe, narsis.

Oke, sekarang bicara soal kepercayaan saya saja.

Begini. Saya punya kepercayaan. Bahwa pada umumnya manusia ketika punya uang diatas lima milyar, ia akan mengharapkan uangnya menjadi berlipat ganda.

Kepercayaan ini, buat saya tidak muluk-muluk. Tidak anarkis. Tidak pura-pura. Dan buat saya lagi, biasa-biasa saja.

Aneh? Ahh, masa sih? Tidak itu. Tidak aneh itu.

Kenapa tidak aneh? Begini ceritanya…

Beberapa sore lalu, saya ditelpon. Seorang keponakan yang mungkin amat berbakti pada pamannya. Mengeluh dia.

Keponakan: “Rip, paman saya ngawur seh tadi”
Saya (diam sebentar, sebab pamannya memang suka ngawur): “Kok bisa?”
Keponakan: “Saya baca koran pagi, disana ia bilang akan menzakatkan sisa umurnya untuk rakyat”

Saya diam lagi sebentar. Pamannya memang sering masuk koran. Dari jaman ke jaman. Rezim apa pun yang berkuasa di RI, pamannya memang selalu punya kekuatan. Tentu saja tidak jauh panggang dari api. Media menyukai kekuasaan. Media menyukai pamannya. Dan pamannya adalah salah satu api negeri ini.

Maka itu saya diam sebentar. Hati-hati mau bicara. Pamannya mau maju jadi RI-1 pada pemilu 2009.

Keponakan: “Kan ngawur tuh, Rip. Bikin malu saja. Dulu kemana aja si Oom waktu masih muda, kuat berkuasa dan jenderal? Kok ngomong soal zakat buat rakyat baru sekarang”
Saya: “Mungkin beliau sibuk berzakat di di bidang lainnya, dulu”
Keponakan: “Lah kamu ikutan ngawur. Kamu kan tahu dia tukang culik orang. Tukang bunuh orang. Apa yang mau dizakatin buat rakyat?”

Saya tercekat. Ini keponakan yang baik. Tahu diri. Sadar bahwa ada yang salah di keluarga, lalu coba mencari solusi.

Tapi saya tidak mudah percaya begitu saja pada omongan beliau (*maaf, Kang. No offense. Ini bawaan asli sejak lahir, hehe*). Maka saya konfirmasi lebih lanjut.

Saya: “Bisa saja itu salah kutip media?”
Keponakan: “Makin ngawur kamu! Itu trik pakar telematika. Salah omong, menyalahkan media. Paman saya belum sampai merendahkan diri hingga taraf itu”

Dia menggerung. Saya jadi malu, asal menganalisa dan lalu ketahuan. Hehe.

Saya: “Terus gimana dong? Apa yang bisa saya bantu?”
Keponakan: “Yaa mau ganti tulisan di koran sudah ndak bisa lagi. Jadi, gimana dong bilang sama paman saya supaya tidak tambah bikin malu keluarga?”

Saya terlonjak. Gila kali dia? Jutaan orang di republik ini saja tidak mampu lagi mengingatkan kekejaman yang dilakukan pamannya. Apalagi saya?

Memangnya saya siapa?!

Setahu saya, pamannya bebas melenggang setelah membunuhi saingan bisnis hingga lawan-lawan politiknya. Tidak dipenjara, walaupun ketahuan menyuruh terang-terangan anak buahnya menyiksa manusia.

Pamannya manusia yang ajaib. Walaupun terbuat dari tulang, kulit, daging dan darah, tidak dapat tersentuh sama sekali.

Kini, pamannya mau jadi pemimpin negeri. Bikin iklan di tivi. Seakan tabung kaca itu mampu meredam aura muka jahatnya. Mau bikin film. Mencuci otak manusia melalui layar bioskop. Melakukan pengamnesiaan massal. Benar-benar meniru rezim pendahulunya yang sukses menebar kebencian melalui siaran tivi bulan September.

Ia mendehem. Saya tergagap sadar dari lamunan.

Saya: “Aduh bagaimana yaa?”
Keponakan: “Kok aduh-aduhan. Bagaimana dong?”
Saya: “Wah itu kan masalah keluarga. Saya bisa bilang apa? Saya akan orang luar”

Dia diam. Nampaknya trik mengeles saya, sukses. Hehe.

Sang Keponakan nampaknya tidak tahu Teori Lima Milyar (atau semilyar atau whatever lah). Teori ini, sama seperti teori mengenai kekuasaan. Semakin banyak dipegang, semakin tidak merasa cukup pemegangnya.

Ia, Sang Keponakan, tidak saya ceritakan soal Lima Milyar.

Tapi anda? Ahh, sayang sekali… Kotak pandora telah terbuka. Anda sekarang sudah tahu cerita soal Lima Milyar ini. Tahu sedikit soal seorang keponakan yang mengeluh melihat paman yang berambisi mempermalukan diri dari hari ke hari.

Namun hmhhh… Santai saja. Jangan diambil hati.

Itu kan kepercayaan saya.

Maka itu, kalau mau ikut membantu, sekarang pertanyaannya adalah, berdasarkan kepercayaan anda, apa yang semestinya dilakukan kalau punya lima milyar? :)

This entry was posted in Orang Indonesia, Republik Indonesia, sehari-hari and tagged . Bookmark the permalink.

16 Responses to Lima Milyar

  1. danalingga says:

    Wah, kan rakyat indonesia itu memang pelupa. Jangan-jangan tulisan ini sedang menyindir agar jangan pada lupa. Begitu bukan bang?

  2. kevin says:

    saya nda ngarep punyak 5 M…
    tapi mudahan ada 200M hohohoho…

    *diem-diem bergidik ngebayangin pemilu 2009, siap2 ngepak koper trus pindah ke negri antah berantah*

  3. adipati kademangan says:

    kalo punya dhuwit 5 milyar, kata kakek saya biar dibelikan dawet aja sekalian. Biar renang dawet orang satu kelurahan.

  4. Ngayal ke level berikutnya, “seandainya saya punya 100 milyar” 😀
    Katanya sih orang kaya no 1 di Indonesia pun masih sering nangis, jadi apa gunanya duit sebanyak itu sebenarnya?!?

  5. jampang says:

    wah kalo punya duit sebanyak itu mendingan di buka lapangan kerja yg bisa menampung yg nganggur2, so semua org bs kerja n bs mengurangi angka kemiskinan di negeri kita.hhehehhehe……..

    boleh dong kenalan ma bangaip markotob nee, lewat japri aja ya bang aip markotob

  6. DeZiGH says:

    Keponakan: “Makin ngawur kamu! Itu trik pakar telematika. Salah omong, menyalahkan media. Paman saya belum sampai merendahkan diri hingga taraf itu”

    Hihihihi..
    Terasa seperti sedang menyindir seseorang..

    Apakah kesimpulannya adalah:
    Walaupun sang paman di masa lalu menjadi orang yang sadis,
    dan kemudian berniat menjadi RI-1,
    namun tarafnya masih lebih tinggi dibandingkan pakar telematika dan triknya?
    Huahahahahahahahah….

  7. guh says:

    Saya ambil hati hati aja aaah :)

    Dan untuk 5 milyar itu, saya pikir-pikir dulu deh, gimana caranya supaya sebanyak mungkin orang yang senang (terutama saya). Sementara itu silakan transfer aja dulu, dah tahu no rek saya kan?

    😀

  8. edratna says:

    Kita semua kan punya penyakit imsomnia dan pelupa……
    Uang Rp.5 miliar? Wahh kapan ya bisa pegang Rp.5 miliar?…..betul juga kata Adipati Kademangan, jika dibelikan dawet bisa satu kelurahan kebagian semua.

  9. 5 M?
    Habisin saja lah…
    Gampang dapetnya, gampang ngabisinnya.
    Hehehe…

  10. Manusiasuper says:

    errr… kalo punya 5 milyar? Membantu petani dan nelayan Endonesa? Mungkin…. errr….

    -0-
    Soal membantu petani dan nelayan. No comment saya. Hehe.
    (*Sebab nampaknya kamu tahu siapa sang Paman*)

  11. hemm.. Saya pernah pegang uang 5 milyar, tapi cuma 10 menit, langsung setor bank; milik perusahaan.

    Tapi jika aku punya 5m beneran. Aku beli mesin ATM di Jepang, Lengkap dengan: monitor warna, panduan dengan suara operator otomatis, Serta Online. Gimana?

    -0-
    Buat apa punya mesin ATM? Biar bisa narik duit kapan saja? :)

  12. Jardeeq says:

    Kalau punya 5 milyar sih kasihin orang aja. Lha wong masih ngayal. Kalo abis tinggal ngayal lagi

  13. -tikabanget- says:

    apakah postingan ini aman? 😀

  14. guh says:

    saya tidak mengerti kenapa ada hit dari tulisan ini ke blog saya, padahal postingan2 lama dah didelete…

    apakah ini masih ada kaitannya dengan prabowo… atau… hehe :)

    *gagal menahan diri untuk tidak menyebut nama, tapi setidaknya tidak nunjuk langsung, hehe*

  15. Yoga says:

    Hahaha… Amnesia massal, bagusss… Hati saya patah demi melihat teman sepermainan yang amnesia. Bisa bilang apa kalau sekarang ia pilih ‘naik’ kendaraannya paman teman Bangaip. Hati nurani, apakah betul mudah dibolak balik?

Leave a Reply