7KC – Satu; Salam

Sebenarnya boleh dibilang kalau saya gagal beradaptasi dengan lingkungan dalam beberapa tahun belakangan ini. Jetlag semakin menggila. Siklus tubuh dan siklus istirahat sudah tidak karuan rasanya.

Oh ya, sebelum terlalu jauh, ada baiknya saya terangkan soal jetlag. Jetlag sebenarnya adalah sebuah penamaan terhadap kondisi psikologis tubuh. Menurut wikipedia Jet lag (juga dieja jetlag atau jet-lag) adalah sebuah kondisi psikologis akibat perubahan ritme circadian. Perubahan tersebut disebabkan oleh kerja shift, perjalanan melewati meridian (seperti perjalanan antar benua), atau panjangnya hari yang berubah. Kondisi ini dipercayai sebagai akibat dari terganggunya putaran terang/gelap yang mengubah periode ritme circadian tubuh. Dia dapat diperburuk oleh faktor lingkungan. Gejala-gejala jet lag ialah: Lesu, Grogi, Mual, Sakit kepala, Insomnia atau pola tidur yang sangat tidak teratur, Dehidrasi dan kehilangan nafsu makan, Mudah terganggu, Tidak rasional.

Untuk saya, berbeda dengan kondisi diatas. Jetlag yang saya alami lebih cenderung ke arah pikiran. Jadi, begini. Menurut otak saya, hidup saya adalah liburan selalu. Nah, disitulah masalahnya dimulai. Sebab ternyata harapan pada otak saya berbeda pendapat dengan kenyataan.

Tadi pagi, saya baru sadar bahwa saya ada di kantor dan harus bekerja ketika di pintu masuk ruang kerja, ada seorang resepsionis ibu-ibu orang Finlandia menyapa “Selamat pagi dan selamat datang, pak. Selamat bekerja”.

Bagaikan orang linglung saya menatapnya. Dalam hati bertanya-tanya “Kerja? Loh saya ada dimana saat ini? Lah saya bukannya sedang liburan?”

Saya baru sadar, bahwa liburan saya usai sudah. Minggu-minggu lalu, saya mengambil jatah delapan hari libur saja. Itu pun telah selesai saya ambil.

Di tempat saya bekerja, dalam setahun, para buruh dapat jatah 25 hari kerja untuk berlibur. Kasus saya sedikit berbeda. Saya hanya dapat 20 hari saja. Sebab dalam tujuh hari seminggu, empat hari saya pakai untuk bekerja lalu tiga hari setelahnya saya manfaatkan untuk mengurus anak, Novi Kirana (*saya kurang menyukai ide bahwa ibu/perempuan melulu harus mengurus anak. Saya pikir sebaiknya pula ayah/laki-laki berhak mendapatkan sumber daya untuk mempergunakan waktunya secara sesuai dan proporsional untuk membesarkan anak*)

Kali ini liburan saya usai sudah. Delapan hari kerja, dengan total 18 hari campur weekend dan hari besar saya gunakan untuk pergi ke Cilincing, kampung yang membesarkan saya. Sebagaimana liburan-liburan terdahulu, liburan saya umumnya selalu menarik buat saya pribadi. Namun libur ke Cilincing kali ini, jauh lebih menarik daripada liburan-liburan lainnya

Apa yang menarik dari liburan kali ini?

Jawabannya sungguh aneh; yaitu bahwa sebenarnya saya justru tidak sedang berlibur dalam liburan kali ini.

Berbagai peristiwa ajaib terjadi silih berganti dalam liburan saya beberapa saat lalu ke Cilincing. Saya sendiri bertanya-tanya, apakah karena kali ini saya pergi sendiri tanpa anak-istri-mertua sehingga banyak kejadian aneh? Ataukah memang saya sudah dari ‘sononya’ dibekali anugrah bertemu manusia nyeleneh?

Saking bingungnya, saya sampai-sampai mau buat buku baru. Kali ini judulnya ‘7 Keajaiban (berlibur ke) Cilincing’. Tapi karena buku yang lama saja masih belum ada yang mau menerbitkan karena selain isinya melebar, juga terlalu banyak menyinggung perasaan instansi-instansi besar dan mapan. Maka kali ini sebaiknya saya tulis di sini saja deh. Hehe.

7KC – Tujuh Keajaiban (berlibur ke) Cilincing: Satu

Pesawat saya sampai di bandara Soekarno-Hatta, Indonesia pada pukul 18.30 WIB. Hari Sabtu sore. Udara Jakarta sedemikian panasnya. Untung kulit Cilincing saya tidak terkaget-kaget pindah dari suhu enam derajat celcius ke 32 Celcius.

Celingak-celinguk cari WC. Nampaknya mata saya tidak terbiasa melihat papan penunjuk di terminal internasional ini. Setelah bertanya, diberitahu bahwa WC ada di dekat pojokan. Ahh bodohnya saya. Masa sih lupa sama budaya sendiri? Bukankah di sini buang air semestinya di pojok? (*BENARKAH?*)

Ketemu WC. Kaget saya.

WC yang saya temui, sungguh jauh di luar harapan dan dugaan.

Aduh, itu WC nya bersih dan wangi. Ada bunga kamboja hingga lukisan bali. Kagum juga yaa. Saya ini orang awam, biasa menilai rumah yang saya singgahi dari WC nya. Kalau WC nya bersih, sesederhana apapun rumahnya, saya sanjung-sanjung pemiliknya. WC bandara internasional Soekarno-Hatta, sudah bersih, wangi, dan ada hiasannya pula. Tiba-tiba bangga juga jadi orang Indonesia yang membayar pajak untuk membangun bandara ini.

Naif sekali saya, masa sih WC mencerminkan sebuah bangsa? Hehehe.

Dari WC, saya menuju imigrasi. Mengantri. Hari itu, nampaknya banyak orang yang berlibur ke Indonesia. Antrian cukup panjang. Di depan saya, dua biarawati Jakarta baru saja pulang dari Berlin, Jerman. Hebat sekali dua ibu-ibu itu. Nampaknya sudah cukup berumur, namun masih kuat saja bepergian ke belahan lain dunia ini untuk berbagi doa.

Antrian tinggal dua orang lagi di depan saya. Sementara di belakang mengular panjangnya. Panas sore itu sungguh membuat saya mengantuk. Tiba-tiba tiga orang perempuan menyerobot antrian.

Kali ini saya kaget luar biasa. Satu perempuan, nampaknya majikan perempuan yang sedang menggendong anak perempuanya yang nampaknya usianya sudah 10 tahun tapi masih suka digendong-gendong. Di belakangnya kelihatan perempuan dengan style ‘pembantu’ (*Ia, si pembantu, pakai masker berwarna putih. Saya pikir ia sedang sakit tenggorokan. Di Kyoto, orang-orang menggunakan masker itu agar tidak dianggap barbar ketika sedang terserang flu*). Tiga-tiganya dengan santai menyerobot antrian saya.

Aneh sekali. Saya terkaget-kaget. Apa yang sedang terjadi. Mengapa perempuan-perempuan ini tanpa berkata apa-apa mengambil antrian saya?

Sambil tersenyum, saya bertanya.

Bang Aip Bingung (BAB): “Ibu… Permisi… Kenapa Ibu ambil antrian saya?”
Perempuan Majikan (PM): Tidak menjawab. Ia celingukan. Lihat kiri kanan. Seakan BAB berbicara dengan makhluk lain selain dirinya.
BAB: “Ibu… Ini antrian saya? Kenapa ibu ambil antrian saya?”
PM: “Nggak kok… Saya nggak ambil. Kamu kan dari tengah. Saya masuk deh dari tengah?”
BAB: “Tengah? Maksud Ibu Timur Tengah? Saya orang Cilincing bu. Bukan Arab. Loh tengah apaan bu?”
PM tiba-tiba ngotot. Matanya mendelik. Suaranya berubah jadi ketus dan kasar: “Kamu tuh ngasal aja sih. Kalau nggak percaya tanya aja sama bapak di belakang kamu!”

Tiba-tiba suara di belakang saya muncul. “Nggak kok. Mas ini memang sudah di sini lama. Ibu yang salah”. Itu suara dari bapak berbaju batik di belakang saya pas persis. Ia berkata sejujurnya.

Perempuan itu marah-marah. Marah kepada saya. Marah kepada si bapak. Ia lalu ke belakang antrian. Anehnya tidak ke belakang sebenar-benarnya belakang. Ia menyerobot antrian orang lain lagi. Dan anehnya yang diserobot, seorang laki-laki muda, diam saja. Seakan ia dari batu dan seakan ia berhak diperlakukan begitu. Duh Gusti, mimpi apa ibu orang itu kok yaa dianugrahi anak yang diam saja ketika diperlakukan semena-mena?

Suara perempuan itu menggerundel di belakang antrian. Marah-marah. Di belakang muka saya.

Saya tersenyum. Rasanya kok yaa hati ini mengganjal. Ada orang yang marah-marah di belakang punggung saya. Jadi saya palingkan muka. Saya tatap matanya sambil tersenyum. Ia kelihatan kaget. Ia diam sebentar. Lalu saya akui nyalinya kuat juga.

Saya permisi pada bapak yang memakai baju batik di belakang saya. Saya bilang, “Pak sebentar, boleh saya permisi untuk bicara dengan ibu itu?”. Bapak itu mengangguk mengiyakan. Ia bilang akan menjaga antrian saya.

Lalu saya hampiri ibu itu. Ia berdiri pada sekitar setelah empat orang di belakang si Bapak batik.

BAB: “Bu, kenapa marah dan menyerobot antrian lagi? Adakah yang bisa saya bantu?”
PM: “Kamu tuh di tengah! Saya kan ambil saja dari kanan!”
BAB: “Bu, ibu nggak kasian sama anaknya?”
PM kebingungan: “Loh! Kenapa?!”
BAB: “Ibu sudah menyerobot antrian e-eh berbohong pula. Kasihan loh anak ibu, diajarkan seperti itu. Kasihan nanti dia tumbuh dan besar jadi seperti ibu”

Saya masih tersenyum ketika ia berteriak-teriak dengan memanggil sejuta binatang-binatang dan kotoran-kotorannya untuk menyebut saya.

Nampaknya drama ini memicu keamanan mulai bergerak. Mereka datang. Satu pakai jas safari. Dua lagi berseragam. Semuanya berkepala plontos. Si Ibu menyadari situasi memanas, ia pindah ke jalur antrian lain. Aneh sekali, ia tidak mengambil antrian dimana orang asing mengantri. Di sana kebetulan saat itu hanya ada dua antrian untuk WNI. Sisanya antrian imigrasi untuk orang asing. Ia menyerobot antrian orang Indonesia lainnya. Selain di tempat antrian saya ini.

Petugas keamanan bertanya pada saya apa yang terjadi. Saya jawab singkat. Mereka kembali ke pos jaganya setelah mendengar penjelasan itu. Setelah mereka beranjak pergi, giliran saya menghadap petugas imigrasi pun tiba.

BAB: “Selamat sore, Pak?”
Petugas Imigrasi (PI): Tidak menjawab salam saya. Mungkin aneh apabila menjawab salam di negeri ini. Salam di negeri ini pakai bahasa asing. Tidak wajar mengucapkan salam memakai bahasa Indonesia. Bahkan ketika anda orang indonesia, nampaknya kelihatan lebih relijius dan hebat apabila menggunakan salam dalam bahasa asing.
BAB: Mendapat pelajaran pertama. Yaitu; Jangan mengucapkan salam kepada petugas nan sibuk.
PI: “Salah nih”
BAB: “Apanya yang salah, Pak?”
PI: “Ini kartu kedatangan untuk orang asing. Yang ijo dong”
BAB: “Yang ijo? Lah saya dikasihnya yang ini di pesawat, Pak?”
PI: “Di konter ungu. Tanya sana”

Saya terkaget-kaget. Di mana counter ungu pun saya tidak tahu. Dan petugas itu tidak memberi saya banyak opsi. Sambil bertambah kebingungan saya keluar antrian.

Lebih kaget lagi, tiba-tiba ada suara perempuan berteriak-teriak, “Mampus luh! Sukurin luh! Coba kalo lo tadi ngasih gua! Dasar luh bego!”

Itu suara perempuan majikan tadi yang saat ini tidak menggendong anaknya. Ia mendorong tas besar di kereta dorong. Anaknya digendong pembantu.

Saya terbengong-bengong. Aneh sekali yaa? Saya tiba-tiba merasa di negeri dongeng.

Setelah tanya kanan kiri dan ternyata petugas kebersihan bandara sangat membantu sekali (terimakasih Pak, Bu) sampailah saya kepada kartu keberangkatan. Anehnya, kartu itu bukan di counter ungu tadi. Ia ada di pegang seorang berbaju-seragam-entah-apa. Orang itu duduk di tangga. Merokok di ruang ber-AC. Memberi saya kartu tanpa banyak bertanya.

Di belakang saya, ada perempuan muda. Orang Indonesia, baru pulang dari Qatar. Bertanya pada laki-laki berbaju-seragam-entah-apa itu setengah merajuk, “Saya nggak bawa pulpen. Isiin dong Mas. Dua puluh mau yaa”

Laki-laki itu mendongak menatap si mbak-mbak dari Qatar yang membawa tas besar, tangannya membuka lebar-lebar, menunjukkan jari-jemari semua tangan kanan. Menunjukkan angka lima dalam bahasa simbol.

Saya sibuk mengisi kartu kedatangan berwarna hijau dalam booth telepon umum yang rusak tak terpakai dekat imigrasi. Saya ingin pura-pura tidak melihat.

Sayang sekali saya gagal.

Dalam hati bertanya, “Selamat datang di negeri tercinta?”

This entry was posted in bangaip, Orang Indonesia, Republik Indonesia, sehari-hari and tagged , . Bookmark the permalink.

20 Responses to 7KC – Satu; Salam

  1. edratna says:

    Hehehe…saya geli baca ini
    Terbayang Bangaip dengan santunnya tanya pada ibu tadi, dan diomeli….
    Memang ajaib kok, padahal kalau di negara lain, walau antrian mengular, orang kita juga disiplin untuk antri.

    —-

    Iya bu. Saya juga bingung. Saya yakin ibu itu baru saja tiba dari mengunjungi sebuah negara yang disiplinnya cukup tinggi (saya hanya menebak dari kartu check-in airlinesnya). Kok yaa bisa pas di RI, tiba-tiba disiplinnya hilang? :)

  2. Yoga says:

    Oalah… Indonesia sekali 😉

    —-

    Yang mana?
    Yang antri?
    Yang transaksi?
    Atau yang salam?

    Heehe

  3. nitnot says:

    baru satuuuuuuu…. ditunggu yang enam berikutnyaaaaa…
    duh deh ah, gak sabar. :-)

    —-

    Sabar… Sabar… Nantikan episode berikutnya. :)

  4. adipati kademangan says:

    tipikal (orang) Indonesia sekali. Sesunguhnya tanah Indonesia adalah “cuilan” tanah surga, namun orang Indonesia menjadikan rakyatnya sendiri tidak betah.

    —-

    Semoga kita dikasih kemampuan dan kesabaran buat membikin rakyat sendiri menjadi betah :)

  5. itikkecil says:

    yeah…. selamat datang di Indonesia bang…. dan soal antrian itu memang sepertinya penyakit kebanyakan orang Indonesia. tidak peduli dari strata sosial mana….


    Terimakasih Mbak.
    Soal antrian, saya bahkan baru baca juga di blog Neng Keke soal antrian beli sendal Crocs. Ternyata kata beliau, kalau di pusat perbelanjaan mewah, malah lebih parah lagi. Hehe

  6. Indie_ana Jones says:

    saya juga pernah ngalamin nyapa petugas imigrasi didiemin, ya saya sapa lagi sampe beliau menjawab 😉

    —-
    Ini juga trik bagus, Mbak Indie. Terimakasih. Lain kali, pasti saya coba :)

  7. jumhari says:

    assalamualaikum sodara. guttentag, oi…. dah gw sampaikan permintaan maaf lo pd boss gw. ktnya gak apa2. tp kl kesini lg lo diminta dateng boss.. cari sutradara, kisah lo disinetronkan aja rip


    Insaoloh, kalo masih ada waktu dan dikasih rejeki, gua pasti dah jadi pembina upacara buat STM lo, Jum. Salam buat anak-anak dan rekan kerja termasuk Big Boss

  8. edo says:

    huakakakakakkakakak
    wellcome bangaip
    *menunggu episode berikutnya hihihi

    *btw, gw dipaksa tika untuk menuliskan “tika dibelakangku!”
    ps : tika yang saya maksud tika yang itu loh bang, tikabanget yang terkenal ituh
    tau kan?
    masa ngga tau…

    Wah hebat, di belakang Mas Edo ada Mbak Tika. Kok bisa?

  9. edo says:

    oh iyah. kata tika, ini tika yang demen sama bangaip ituh…

    —-

    Hehehe… Bangaip yang mana? Yang gondrong kaya genderuwo itu? Apa yang ada di dunia maya?
    Hehe, dua-duanya benar-benar payah dan tidak menjanjikan apa-apa. Hehe. Kok bisa didemenin?

  10. -tikabanget- says:

    sayah udah komen, tapi error..
    padahal pake leptop yang sama dengan orang yang bikin berita entah benar entah tidak di atas sayah..

    udah berapa kali sayah komen ndak diterima disini..
    hukz..

    —-
    Mohon maaf Mbak Tika. Kadang memang susah komen disini. Saya juga bingung. Jangankan simbak, saya aja yang punya rumah susah komen. Hehehe.

    Mohon jangan sungkan-sungkan untuk mampir walaupun susah komen yaa :)

    Nanti saya coba cari cara supaya blog ini ramah komen, hehe

  11. -tikabanget- says:

    lhoooo…
    begitu ngomel malah muncul komennya… (lol)

    —-

    Saya terimajadi, Mbak :)

  12. DeZiGH says:

    Apakah artinya bang aip ditakdirkan untuk menerima omelan tika?
    It’s a sign!

    —-

    Saya ditakdirkan menerima apa saja dari Mbak Tika. Termasuk menerima sodakoh senyum manisnya :)

  13. adipati kademangan says:

    bangaip diomelin sama tika ituh … cepetan lapor sama majikan ibu nyonyah


    Gapapa, Mbak Tika ituh orangnya baik kok, Adipati. :)

  14. dodo says:

    he..he..keren ya bang negeri kita. bangga sekali rasanya punya negeri seperti ini..

    —-

    Hehe, iya. 7KC masih belum selesai. Masih banyak ‘kebanggan’ lain kok. Tunggu saja tanggal mainnya (*halah promosi, hihi*)

  15. titiw says:

    Weeleh.. ternyata orang masih judge a book by it’s cover.. (loh.. berarti.. bang aip..). Yang aku kesel banget si ibu2 itu deh.. dia itu sebenernya malu ditegor secara sopan sama bangaip, tapi malah mempermalukan dirinya sendiri.

    AKu setuju sama bang aip, apa dia gak kesian sama anaknya ya..? ntar pas dia gede, akan berpikir kalo semua binatnag2 bonbin yang keluar dari mulutnya adalah wajar, selama ibunya juga mempergunakannya. Akh.. Moga2 bang Aip lebih bisa jadi orangtua yang mengajarkan hal2 positif sama Novi. Amin.
    PS: Yang terakhir itu TKW ya bang..? Kesian, terpalak di negeri yang memanggil dia pahlawan devisa..

    —-
    Terimakasi untuk doanya Tiw.
    Oh ya, sepengetahuan saya, nampaknya yang terakhir itu memang TKW. Beliau nampaknya yang yang menjadi pemicu untuk dipalak. Bapak pemberi kartu tidak meminta apa-apa sebelum si Mbak ‘menjual’ lebih dulu angka-angka dalam rupiah.

  16. Wijaya says:

    Khas Indonesia….
    Saya sering tuh ketemu hal begituan….terpaksa empet dah dada ini.
    Ditegor malah galakan dianya…..
    Jadi inget nasehat lama : kalo di rantau, elu salah bener harus galak duluan…., kalo gak, entar elu yang kalah…

    —-
    Terbukti, walaupun tidak galak, antrian dapat direbut kembali komandan :)

  17. funkshit says:

    soal antrian itu sangat indonesia.. khususnya ibuk2
    ngga nuduh.. tapi kebanyakan setauku ..emang pelakunya ibuk2..:D

    makasih bang aip sudah mengajarkan bab kesopanan dan kesantuan…

    teria kasih sekali lagi
    semoga bisa bertemu lagi suatu saat

    —-

    Terimakasih pula Mas Ari yang sudah mengajak saya jalan-jalan sambil jikiran (nanti saya jelaskan maksudnya di edisi 7KC mendatang, hehe) di penjuru Jogja.
    Semoga bisa bertemu kembali pula :)

  18. emyou says:

    jadi langsung ngebayangin kejadiannya terputar di kepala saya. selama ini saya juga termasuk yang diam saja melihat antriannya diambil. males berkonflik. akhirnya cuma bisa bersungut-sungut dongkol sendiri. tapi kalo caranya santun kayak cara bang aip, pasti akan lebih efektif yak hehehe.. i’ll try..

    —-
    Terimakasih untuk mencoba nanti yaa Emyou. Saya senang kalau ini bisa berguna :)

  19. fety says:

    mengapa di negeri sendiri justru kita merasa ‘aneh’ yah:) waduh, harus siap mental nih nantinya:)

    —-
    Wah pertanyaannya sukar saya jawab, Mbak :)
    Saya sendiri suka kebingungan kalau sedang ada di RI. Tapi yaa betul kata si Mbak. Siap-siap mental selalu :)

  20. Citra Dewi says:

    Wah aku harus siap2 menghadapi yg gini2an lagi. Tp apa boleh buat Bang Aip kita tetap kangen sama negri tercinta he..he jadi yah … judulnya pasrah aja deh!

    —-
    Saya yakin Mbak Citra pasti punya cara yang lebih oke menangani hal-hal yang kayak beginian, hehe

Leave a Reply