Cilincing 18 April

Lepas tengah malam di Cilincing, sebuah desa di pesisir Jakarta Utara. Gugun, adik saya, mengantarkan pulang menuju rumah Ibu. Kami baru pulang dari rumah bibi yang terletak persis di sebelah komplek perumahan TNI-AL Rorotan.

Bau laut menyengat. Udara Cilincing malam panas mengoyak. Jalan berlubang-lubang. Aspal tidak mampu lagi menahan beban beribu-ribu truk kontainer raksasa yang setiap hari melindasnya. Tubuh saya terguncang-guncang di boncengan belakang motor Gugun.

Gugun sibuk bercerita tentang desa kami yang sejak beberapa tahun berlalu ini, tidak banyak berubah. Kecuali semakin padat, semakin kriminal, semakin berisik dan semakin-makin lainnya yang pedih namun ia ceritakan dengan penuh canda dan tawa.

Ia masih bisa tertawa diantara gelombang kesedihan yang menimpa hidupnya sehari-hari. Ia mentertawakan Jakarta… Ia mentertawakan keluarga dan sahabat-sahabat kami… Ia mentertawakan dirinya sendiri.

Saya kagum. Ia masih saja tetap ceria diantara sejuta badai yang tengah melanda.

Ia masih tetap tersenyum santainya dengan menjadi satu-satunya laki-laki yang masih ada di tengah-tengah keluarga. Sebagai tukang ojek Ibu untuk ke pasar, sebagai pendengar yang baik keluh kesah Uul (adik perempuan yang bungsu), sebagai peronda malam setiap minggu, sebagai tukang angkut-angkut kursi ketika banjir tahunan melanda Jakarta. Sebagai seorang calon ayah yang istrinya kadang-kadang minta markisa di tengah malam buta.

Saya kagum. Ia sungguh sabar.

Saya kagum atas keberaniannya untuk tidak melecehkan saya, kakak laki-laki, anak tertua yang pergi sekian lama meninggalkan rumah dan kembali hanya untuk beberapa hari setelah menghilang beberapa tahun. Walaupun kemungkinan besar saya amat layak dilecehkan dan dimaki-maki.

Iya, saya kembali ke desa itu, Cilincing. Hanya untuk berziarah. Datang, setelah bertahun-tahun pergi, hanya mungkin untuk melepas rindu dan doa. Memohon keberkahan di kaki ibunda setelah beban hidup sedemikian beratnya. Namun, setelah tenang di jiwa dan di hati, kembali pergi dan mungkin akan kembali setelah bertahun-tahun lagi.

Sebagaimana ziarah, saya pun harus pergi meninggalkan nisan-nisan di belakang dengan bunga-bunga bergeletakan. Air mawar telah tersiram di atas gundukan makam. Doa-doa telah ditabur memenuhi langit. Namun ketika saya telah pergi, Gugun tetap setia di sana. Hari demi hari, membersihkan gundukan daun yang jatuh di repih angin. Dengan sabarnya.

Hari ini, waktu saya pun tiba. Meninggalkan Cilincing tercinta. Dimana puluhan bahkan ratusan jiwa anak-anak muda telah tergadai dengan mudahnya atas nama kebutuhan perut sehari-hari. Pergi dan bertahun-tahun lagi nanti akan kembali.

Pergi, meninggalkan Gugun berjuang sendiri.

Hati saya perih. Saya tak mampu membohongi mata untuk tidak menumpahkan airnya satu persatu ketika menatap adik yang saya sayangi itu berbaring istarahat tidur di tengah ruang rumah yang sehari-hari dipakai Ibu untuk mengajar ngaji.

Sejuta kalimat pembenaran maupun alibi tiba-tiba hilang menguap begitu saja. Saya, sang kakak si anak hilang, malam ini sungguh tak berdaya. Datang dua minggu ke negeri tercinta, tebar mimpi tebar pesona. Luluh tak mampu bicara apa-apa. Menatap adiknya, yang akan berjuang sendiri di kampung tercinta.

Hari ini, saya harus pergi. Entah kapan akan kembali. Meninggalkan Cilincing. Meninggalkan kenangan manis dengan para dewa-dewi Jogja di tepi Kali Code dini hari, Meninggalkan riuh rendah jalinan persahabatan penandatanganan buku Cilincing Brotherhood di Cikini. Meninggalkan anak-anak jalanan Klender, Kalibata, Tanjung Barat di antara gemuruh kereta api. Meninggalkan seniman-seniman muda SERRUM di Rawamangun mencari sepercik api. Saya harus pergi.

Saya sering berkata, “Maaf, apabila saya banyak menyinggung perasaan saudara”, walaupun juga sering lupa. Dan itu kalimat pula yang saya ingin ucapkan kepada seluruh teman-teman yang pernah dan telah mengontak saya selama di negeri pulau tercinta.

Namun di depan Gugun, lidah saya kelu. Bertahun-tahun saya pergi. Berkali-kali pula saya meminta maafnya. Dan saya yakin, berkali-kali pula ia kecewa namun tetap memafkan atas perjalanan-perjalanan yang saya lakukan ketika ia harus di rumah menjaga keluarga.

Hari ini, saya pergi. Dan sebagaimana sesudah-sudahnya sebelum pergi, saya mintai ia maaf dan restunya apabila suatu hari hanya nama saya yang akan kembali.

Bedanya kali ini, permintaan saya bukan hanya untuk Gugun. Namun juga kepada teman-teman semua.

“Maaf apabila ada khilaf dan salah kata selama ini. Betapa bahagianya saya bisa bertemu saudara semua. Terimakasih untuk semua doa dan bantuannya. Saya sungguh terharu atas kebaikan hati semuanya, tidak mampu sekalipun selain doa sebagai penggantinya”.

Ziarah ini usai sudah.

Sampai jumpa di ranah maya…

Selamat jalan dan terimakasih, semuanya.

This entry was posted in bangaip, Orang Indonesia, sehari-hari and tagged . Bookmark the permalink.

23 Responses to Cilincing 18 April

  1. Goen says:

    Terimakasih atas perjumpaan yang singkat, namun sangat berarti itu, bang.
    Kapan-kapan semoga bisa ngobrol dan diskusi bareng lagi. 😀

    Saya, sebagai anak lelaki tertua juga merasa bersalah. Meninggalkan ibu dan adik di kampung halaman, dengan studi saya yang sedang tersendat-sendat. Juga saya yang jarang sekali pulang… :(

    —-

    Ayo Mas Gun. Semangat dan terus berjuang menyelesaikan studinya!

  2. DETEKSI says:

    *membaca dengan hikmat*

    —-

    *berterimakasih dengan hikmat pula kepada DET*

  3. Guh says:

    Sampai jumpa lagi 😀

    —-

    Sampai jumpa lagi, Mas Teguh. Semoga di suatu saat nanti langkah kita lebih dekat lagi menuju Timor Leste :)

  4. adipati kademangan says:

    pertemuan kita sangat singkat, ndak sampai 5 menit. Ternyata bangaip punya aura yang sangat besar, saya sampai ndak kuat untuk menatapnya. Maka saya cepat-cepat meninggalkan bakul kopi sebelum saya terbakar.

    —-

    Sodara-sodara… Ternyata adipati kademangan ini orangnya ganteng euy :)

  5. danalingga says:

    Selamat jalan bang, sayang kita belum sempat bejumpa.

    —-

    Kalau ada rejeki, kita pasti bisa berjumpa di suatu hari, Mas

  6. Indie_ana Jones says:

    sampai ketemu lagi Bang!!! tetap semangat!!!

  7. hamzah says:

    selamat jalan bang :). smoga suatu saat kita bisa ketemu lagi :)

    belom sempet ngobrol lama nih, hiks hiks

    —-

    Iya Hamzah, sayang sekali yaa. Lain kali semoga ada waktu :)

  8. Yoga says:

    Selamat berjuang Bang Aip, kelak inshaAllah mungkin kita bertemu lagi entah di Bumi bagian mana, dalam kondisi yang lebih baik. Ibu, Gugun dan keluarga nampaknya sangat ikhlas dan ridhlo, luar biasa. :)

    —-

    Terimakasih Yoga atas doanya

  9. edratna says:

    Bangaip, pertemuan yang singkat meninggalkan kesan mendalam buatku, terutama cerita pengalaman Bangaip dan perjuangan seorang ibu. Percayalah ibu akan mengiringi kepergianmu dengan doa, dan dengan ikhlas mendoakan agar Bangaip bahagia dengan keluarga kecilnya disana.

    Saya kira Gugun juga demikian…saya merasakan karena saya juga seorang ibu, yang anak sulungnya telah pergi jauh, guna mendapat hidup yang lebih baik bagi keluarganya. Biarkan mereka seperti anak panah, yang melesat pergi. Dan jika tak ada halangan apapun, si adik juga akan pergi juga meninggalkan tanah air yang dicintai ini. Hanya doa ibu yang mengiringimu…percayalah Gugun akan mendapatkan kebahagiaan karena bisa menolong ibu, dan Bangaip menolong dari sisi lain.

    Setelah sempat ngobrol lama kemarin (sebelum yang lain datang), saya tahu hatimu begitu lembut…dan saya yakin ibumu juga akan punya perasaan seperti saya. Bukankah Bangaip juga merasakan bagaimana hubungan batin ibu dan anak? Ibu akan rela ditinggalkan untuk kebahagiaan anaknya, demikian pula saya nanti, jika si bungsu berhasil mendapatkan beasiswanya.

    —-

    Terimakasih Bu. Jarang-jarang ada yang bilang hati saya lembut. Wah ini sungguh luar biasa, Bu. Saya sampai terharu, begitu.

  10. oscar says:

    postingan ini mengingatkan saya bang bahwa saya juga sudah lama ga berziarah kemakam orangtua…bang seorang kawan saya punya buku cilincing brotherhood karangan abang, bolehkah saya mengkopinya bang, telat baca postingan yang kemarin bang untuk ikut memesan bukunya…

    —-

    Silahkan hubungi MG di SERRUM (+6221-47869740) Mas Oscar. Beliau saya serahkan untuk bertanggung jawab distribusi buku Cilincing Brotherhood dan kopinya. Semoga sukses

  11. almascatie says:

    *bersiap untuk pulkam*
    😀

    —-

    *bersiap menunggu laporan pulkamnya Alma di blog* :)

  12. cK says:

    bang aip, terima kasih atas waktunya ^^. kita memang belum ngobrol banyak, tapi saya melihat keramahan bang aip kepada semua teman-teman yang hadir saat itu.

    btw papa saya kaget, tiba-tiba didatengin bang aip hihihi… 😆

    —-

    Iya Chika. Maaf belum bisa ngobrol banyak. Tapi saya senang sekali bisa ketemu Chika dan ayahnya. Salam untuk papanya yaa, Chik.

  13. titiw says:

    BAng Aip.. meski Bang Aip ngerasa jadi kakak yang tidak baik.. Aku yakin kalo si Gugun tetap mengaggap bang Aip adalah kakak terbaik yg bisa ia punya. Lho.. Orang2 kemarin di Cikini berkumpul karena apa? Ya karena ingin beli buku C.B.. Nah uang pembelian untuk apa? Ya untuk membantu adiknya bang Aip.. Jadi, salah besar kalo Bang Aip ngerasa jadi kakak yg nggak baik.. karena dari kacamata aku yg orang luar aja, Aku bisa ngerasain kebaikan hati bang Aip.. Jadi, buat Gugun, yang semangat ya..
    PS: Bang.. Gugun ternyata kasep juga ya.. Sayang.. (LHO?!)

    —-

    Terimakasih yaa Titiw. Senang sekali saya dan Odoy bisa nongkrong bareng Titiw dan ditraktir makan siang. Itu sayur asemnya enak banget yak. Semoga Yang Kuasa dapat membalas kebaikan Titiw dan teman-teman di Gatot Subroto sana dengan sayur asem yang lebih melimpah ruah dan nikmat surikmat.

  14. mbelGedez™ says:

    .
    Meski dua kali ketemu Bang Aip, rasanya masih kurang neh Bang…

    [ Semoga perjalanan ke negri sebrang memberi banyak manfaat untuk keluarga, lingkungan, dan temen-temen.
    Selamat berjuang Bang…. ]

    —-

    Terimakasih Mas Mbel.

    Mau tau kata Odoy soal Mas Mbel, “Rip, tuh orang pasti bos yaa? Kok mau yaa bos-bos begaul sama eluh”

    Saya cengar-cengir saja mendengarnya. Mas Mbel, tanpa perlu berkata apa-apa, sudah kelihatan dari rapihnya punya aura seorang seleb. 😉

  15. edo says:

    thank bangaip.
    akhirnya penasaran saya bertemu dengan orang yang saya kagumi tercapai.
    mohon maaf jika request kapan hari hasilnya tidak sesuai keinginan bangaip.

    terima kasih juga atas bukunya.
    sungguh pengalaman luar biasa buat saya.

    selamat berjuang bangaip

  16. itikkecil says:

    sayang saya tidak bisa berjumpa dengan bang Aip… selamat jalan bang… semoga lain waktu saya bisa bertemu dengan bang aip…

  17. rere says:

    Bang Aip, Walaupun jauh… tapi kenangan Cilincing tetap terbawa kemanapun kita berada sekarang… seperti saya juga hiks hiks..

    —-

    Bener Bang Rere. Itu tanah, walopun isinya manusia susah semua. Plus mengesalkan kelakuannya. Tidak disiplin. Preman melulu. Sepi cuma antara jam 2 dinihari sampai jam 4 pagi. Kok yaa tetap saja bikin kangen. Aneh bin ajaib memang.

  18. Wijaya says:

    Sayang sekali kita gak sempat ketemu bang…
    Kapan2 pulang lagi harap kontak2, sapa tau sekalian Cilincing Brotherhood jilid 2….
    Salam buat keluarga disana.

    —-

    Iya terimakasih Mas Nuky. Salam juga buat keluarga dan Ciracas Brotherhood

  19. loly says:

    duh ip, gw lupa.lo juga sih..gak kangen ama gw?? :(

    —–

    Sori Lol, maaf yaa. Waktunya mepet banget. Sukur sempet ketemu, kordinasi, diskusi dan nongkrong bareng anjal + Cirul. Depok cuma kebagian empat jam saja euy. Agenda kali ini di RI sungguh gila-gilaan padatnya. Lain kali nampaknya harus benar-benar liburan. Hehe

  20. jumhari says:

    thanx lo mampir ke rumah man….. gw skarang lg ngerintis rorotan brtherhood ma temen2 gw. ampe ketemu man…..


    Ampe ketemu Jum. Thanks buat keramahan Rorotannya. Jalesveva Rorotan Jaya Mahe. (*artinya=Walaupun komplek marinir di Rorotan, tapi Rorotan jaya selalu! hihi*)

  21. blue says:

    Terima Kasih, Bang!
    Saya senang bisa berjabat tangan dengan abang.

    Salam buat keluarga

    —-
    Saya juga senang Mas Sofian. Terimakasih. Salam akan saya sampaikan.
    Senang sekali bisa ketemu Mas Sofian

  22. Citra Dewi says:

    Wah senangnya pulang kampung Bang. Sayang yah kita ngga bisa ketemu disana. Nanti saya juga akan ke cilincing mau bernostalgila dan rasanya spt apa yah luamaaaa sekali ngga ketemu teman2 dan saudara.

    Miris banget yah Bang melihat keadaaan cilincing saat ini dan saya rasa jg ditempat2 yg lain banyak yg sama keadaannya dgn kota kita. mudah2an Allah membukakan mata hati pemimpin bangsa kita spy nasib rakyat jelata bs diperbaiki.

    Btw bukunya kok ngga nyampe2 yah.
    Salam buat ibu Nyonya dan Novi Kirana.

    —-
    Saya akan sampaikan salamnya Mbak. Terimakasih yaa. Bukunya On the way :)

  23. Manusiasuper says:

    Someday.. At some point of life.. You’re the one who’ll say welcoming words for me bang..

Leave a Reply