Doa Di Atas Sepeda

(*seri 7KC terbaru sedang dalam konfirmasi. Silahkan menikmati dulu sajian cilincing a’la chief bangaip ini, :) *)

Beberapa waktu lalu, saya setelah kerja. Seperti biasa, masih genjot sepeda ontel tua penuh korosi sambil menikmati pemandangan kiri kanan sepanjang perjalanan pulang. Tidak ada pikiran apa-apa di benak kepala selain kembali ke rumah untuk bertemu keluarga, lalu makan malam.

Tidak ada yang aneh di sore panas tersebut. Hingga akhirnya saya melewati jembatan penyebrangan sebelah sungai dengan pinggir penuh rumpun bunga dandelion. Tiba-tiba saya merasa tersadarkan bahwa jalan rute sepeda yang tengah saya jalani ini berubah, menanjak.

Apa yang aneh?

Buat saya ini aneh. Setelah melewati jalan tersebut selama hampir kurang lebih satu tahun lamanya. Empat kali seminggu. Setiap hari selasa hingga hari jumat. Setiap hari dua kali, berarti seminggu delapan kali. Selama 11 bulan ini, bukankah berarti sudah sekitar 80 kali lebih saya melewati jalan tersebut? Kok tiba-tiba, jalanannya menanjak?

Saya kebingungan (*Seperti biasa kalau menemui kejanggalan seketika saya selalu termangu. Katanya kalau orang cerdas, reaksinya cepat dalam menemukan akar masalah dan memutuskan solusi. Saya jelas beda. Ketidak-cerdasan yang saya miliki nampaknya hanya membuat saya terbengong-bengong. Haha*).

Turun lah saya dari sepeda. Diam sejenak. Tengok kiri-kanan cari pengendara sepeda atau orang pejalan kaki yang lewat lainnya. Namun jalanan sepi. Hingga akhirnya sekitar lima menit selanjutnya, ada rombongan anak-anak pulang sekolah naik sepeda.

Saya tanya, “Dik, ini jalanan menanjak yaa?”

Yang saya tanya, anak laki-laki berambut jabrik. Artinya rambutnya pendek berdiri dari kulit kepala setinggi dua senti. Ia menatap saya aneh. Lalu menatap jalanan. Lalu menatap saya lagi. Hingga berkata singkat sambil membalikkan sepedanya beranjak pergi, “Iya”.

Saya: “Dari kapan?”
Si Jabrik: “Dari duluuu!”

Mereka menjauh. Meninggalkan saya yang masih saja kehilangan kata-kata. Menyadari bahwa setelah sekian lama menjalani sesuatu, ternyata telat menyadarinya.

Malam itu saya pulang dan melewati makan malam tanpa banyak bicara. Setelah beres-beres meja makan, membawa putri saya, Novi Kirana, ke lantai atas. Ia mengantuk. Sudah jam setengah delapan. Saya akan meninabobokannya malam itu. Di bawah, mertua dan istri saya masih sibuk membereskan ruangan dapur.

Sampai di lantai atas, Novi Kirana yang baru bisa berdiri dan jalan itu, sibuk bermain dengan boneka. Saya membungkuk membelakangi, hendak mengambil popok baru pengganti untuknya.

Tiba-tiba terdengar suara benda jatuh dan teriakan bayi.

Astaga, rupanya pintu di anak tangga teratas tidak terkunci dengan baik. Ia tergelincir ketika hendak mencoba membuka pintu. Saya lihat dengan mata kepala sendiri, putri saya yang baru berusia 13 bulan itu berputar-putar, terpental jatuh dari satu anak tangga kayu ke anak tangga lainnya. Jatuh dari ketinggian tiga meter lebih.

Seperti terbang saya loncat untuk menyelamatkannya.

Sayang telat. Ia sudah sampai di anak tangga terakhir. Lalu terhempas begitu saya di papan lantai rumah kami. Terjerembab dengan tangan kiri dan kepala menghantam dasar.

Sejenak, bumi seakan berhenti bergerak. Ketika Novi Kirana sudah ada dalam dekapan saya, pintu yang menghubungkan dapur dengan kami, terbuka. Istri saya datang dan terlihat seperti meraung melolong. Ia menangis. Saya lihat Ibu mertua juga datang menghambur menangis.

Tapi saya tidak bisa mendengar apa-apa. Seperti tuli telinga ini. Tiba-tiba semuanya seperti terjadi dalam gerak lambat. Yang pasti, Novi Kirana masih ada dalam dekapan saya.

Tiga menit berikutnya, kami sudah ada dalam kendaraan menuju rumah sakit. Dan lima belas menit berikutnya, saya dan istri sudah ada di ruang gawat darurat. Ayah dan Ibu mertua saya menunggu di zal rumah sakit dekat loket pendaftaran pasien.

Malam itu, Novi Kirana harus bermalam di sana.

Dokter memeriksa reflek Novi Kirana. Artinya, setiap jam di malam itu bayi kami harus dibangunkan untuk dilihat apakah reaksinya bagus dengan cahaya, gerak atau bunyi. Karena masih menyusui, istri saya yang akhirnya berada dalam ruangan pasien bersama Novi.

Dokter meminta saya pulang ke rumah. Hanya satu orangtua yang boleh menunggu. Itu kebijakan rumah sakit.

Keluar dari rumah sakit saya kebingungan lagi. Gelisah sekali. Sungguh saya tidak tahu harus kemana dan harus bagaimana. Di otak saya hanya ada pikiran bagaimana kondisi kesehatan putri satu-satunya itu. Di depan rumah sakit ada halte bus kota. Saya coba untuk duduk di sana. Malam sudah semakin gelap. Pukul 22.20. Tidak ada bus maupun calon penumpang di halte tersebut.

Setiap saat, saya lihat layar telepon genggam. Mencoba mengecek mungkin ada pesan SMS atau miscalled yang terlewat. Berita mengenai Novi Kirana dan kondisinya. Sayang tidak ada. Saya yakin mamanya Novi pasti sibuk sekali disana sendiri. Pasti letih ia.

Akhirnya saya menghabiskan malam duduk bangku di halte bus kota. Entah kenapa? Galau sekali hati rasanya. Mata sukar dipejamkan.

Lalu ketika pagi tiba, bergegas lah saya kembali menengok putri yang terbaring lemah di peraduan sementaranya. Dokter bilang kondisinya sudah lumayan baik. Namun tetap saja harus di rumah sakit. Belum boleh pulang.

Kedua mertua datang ketika anak mereka yang mendampingi hidup saya beristirahat, meyakinkan bahwa semua akan baik-baik saja. Menganjurkan lebih baik jika saya beristirahat atau sejenak menenangkan diri ketika mereka menjaga Novi. Saya pun menurut. Lalu memilih berangkat ke pabrik untuk bekerja siang itu. Walaupun setelah sampai pabrik tidak lama kemudian disuruh pulang lagi oleh Pak Ali sang mandor, karena tangan ini gemetar dan sulit konsentrasi.

Pak Ali: “Kamu kenapa sih? Tumben, kok hari ini kerjaan kamu nggak rapih, Rip?”

Saya hanya menggeleng lemah sambil berkata “Mungkin cuma lagi nggak enak badan, Pak”

Entah kenapa saya berbohong. Walaupun saya tahu berbohong itu tidak baik. Entah kenapa saya menyembunyikan sedih yang tengah saya alami. Mungkin supaya terlihat lebih baik, sebab bukankah kita dari kecil sudah dibekali lagu “Buat apa susah, buat apa susah… Lebih baik kita bergembira”? Atau mungkin berpura-pura wajar adalah bagian dari hidup bermasyarakat? Atu mungkin inikah cara mencoba mempertahankan imaji yang tengah dibangun mengenai diri sendiri tentang seseorang yang mampu mengendalikan emosi? Mengapa saya harus mempertahankan imago, toh saya bukan barang dagangan?

Teruslah berulang-ulang pertanyaan demi pertanyaan masuk ke benak. Dan bukan hanya pertanyaan diatas saja. Saya pun sudah mulai bertanya-tanya, apa yang akan saya lakukan kalau-kalau sekiranya Novi Kirana diambil oleh Yang Maha Memiliki.

Setiap malam sejak ia jatuh dari tangga, saya susah tidur. Iya, saya sudah kembali ke rumah. Kadang bergantian jaga dengan istri di rumah sakit. Namun adakala ketika mata terpejam dan tubuh mulai terlelap, saya lihat dalam tidur Novi Kirana jatuh. Berulang-ulang mimpi ini ada.

Saya stress. Dan amat merasa bersalah.

Hari ketiga setelah kecelakaan yang menimpanya, Novi Kirana belum juga menunjukkan perkembangan signifikan. Ia murung terus. Kadang mencoba untuk berdiri dan bermain sepeda roda tiga kesukaannya. Namun berkali-kali ia jatuh dan kehilangan keseimbangan.

Sejak hari itu, grafik panas badannya terus meningkat tanpa henti.

Hari ke lima. Saya coba masuk kerja lagi. Namun lagi-lagi gagal. Walaupun perut sudah di isi, tangan saya masih gemetar dalam bekerja. Tidak ada yang lain dalam otak ini selain memikirkan kesehatan si buah hati. Tapi biar bagaimanapun saya harus bekerja. Ada perut dari beberapa kepala yang menjadi tanggung jawab tenaga saya.

Malam sebelumnya, panas Novi Kirana mencapai 41,5 ℃ Celcius. Dokter lokal bilang, apabila panas bayi berumur 13 bulan mencapai 41,7 ℃, dapat menimbulkan kemungkinan masalah pada otaknya.

Dan tangan saya pun semakin gemetar saja.

Menyimpan semua duka ini sendiri dan berusaha mati-matian tegar terlihat di depan istri bukanlah sebuah pekerjaan yang mudah. Ia seorang ibu. Melihat putri yang baru saja keluar dari rahimnya bertarung menghadapi hidup. Ia ketakutan dan wajar sekali tidak mampu menyembunyikannya. Saya pun ketakutan, namun insting laki-laki saya menutupinya.

Tidak kuat akhirnya menahan semua ini, suatu malam yang sepi saya online untuk berbincang-bincang dengan seorang sahabat melalui papan keyboard. Malam sudah larut, namun Mobi sahabat saya itu masih ada di dunia maya.

Mobi: “Rip, sabar yaa. Kan elu udah usaha. Itu dokter, dokter bagus. Itu rumah sakit, juga rumah sakit bagus. Itu pintu, juga sebenernya udah kekunci. Ini kecelakaan rip. Bagian dari hidup yaa menerima bahwa kecelakaan bisa terjadi sama siapa saja”
Saya: “Gua takut anak gua lewat, bro”
Mobi: “Maksud lo?”
Saya: “Meninggal, men. Bagaimana kalo ajalnya tiba? Dia kan belum lama lahir dan bareng gua. Ahh cinta banget gua ama dia”
Mobi: “Yaelah rip. Ajal kan bukan urusan kita”

Dalam hati, ada prasangka buruk antara saya terhadap Mobi. Bagaimana ia bisa tahu perasaan seorang ayah ketika putri yang dikasihinya mengkhawatirkan? Ia belum punya anak, pernikahannya pun baru seumur jagung? Tapi justru pikiran itu semakin menakutkan saya. Bagaimana saya bisa berprasangka buruk terhadap satu-satunya orang di dunia ini yang mendengarkan keluh kesah ketika saya sedih? Manusia macam apa saya?

Saya: “Gua nggak bahagia men saat ini”
Mobi: “Gua bisa ngerti”
Saya: “Kenapa yaa gua nggak merasa bahagia, padahal gua seperti orang yang udah punya segalanya”
Mobi: “Jawabannya jelas kok”
Saya: “Maksud lo apa men?”
Mobi: “Lu buta, Rip. Jawabannya kan jelas. Seharusnya lo bersyukur udah dikasih rejeki waktu 13 bulan bersama anak lo. Andai dia mau dipanggil, itu kan hak pemiliknya. Emang lo pemilik anak lo? Kalo lo pikir iya, itu nggak bener men. Anak itu titipan”

Saya kaget. Dan lagi-lagi merasa bersalah berprasangka buruk terhadap Mobi.

Malam itu, saya tutup perbincangan dengan Mobi dengan perasaan galau. Bingung. Entah mau bagaimana lagi. Jawaban yang semestinya sudah jelas, tidak mampu memuaskan saya.

Hari ke enam, Novi Kirana mulai membaik. Temperatur panas tubuhnya menurun dan semakin stabil. Ia tidak lagi terlihat pucat dan mulai bernafsu untuk makan dan minum kembali. Betapa bahagianya saya dan seluruh keluarga melihat kenyataan ini.

Suatu hari setelah kejadian tersebut sepulang dari pabrik, ketika bersepeda di jalan menanjak dekat jembatan saya teringat kembali omongan Mobi.

Tiba-tiba teringat almarhum ayah saya.

Mungkin saya telat menyadari betapa cinta beliau terhadap saya begitu besar di balik sifatnya yang pendiam.

Namun hari ini, saya rasa tidak cukup telat untuk mengumandangkan sebuah doa terimakasih kepadanya.

Sebuah doa diatas sepeda.

This entry was posted in bangaip, cerita_kerja, sehari-hari and tagged , . Bookmark the permalink.

14 Responses to Doa Di Atas Sepeda

  1. Wijaya says:

    Bang,
    Saya cukup bisa merasakan, secara saya juga pernah mengalami walau gak parah.
    Anak saya waktu masih breumur 2/3 bulan, jatuh dari dipan kasur. Gak cuma sekali, karena ternyata gaya tidurnya heroik sekali….
    Waktu dia jatuh dan langsung menjerit di tengah malam buta, nyawa saya seperti terbang. Dari posisi tidur bisa lompat langsung sigap, jantung rasanya mo copot.
    Aduh, nyesel banget rasanya. Sepertinya memang ini kesalahan kami sgb ortu yg lalai.
    Bini yg stress, saya diomel2in walau bukan salah saya mutlak, tapi saya terima aja, toh bini perlu perlu penyaluran emosi.
    Kasur dah kami ganti pake springbed gak pake dipan, tidur sdh saya bentengi sisi kanan kiri sama badan saya dan mamanya, bawah dibentengin guling. Eeehhh, masih aja gelinding kebawah….

    Tabah bang, saya yakin Novi akan baik2 saja. Bayi itu punya malaikat pelindung di kiri kanannya, yg menjaganya 24 jam. Saya meyakininya, dan anak saya yg sering gelinding jatuh juga sehat sampe sekarang….

    -0-
    Temen-teman kerja saya juga bilang hal yang sama, “Sie hat Schutzengel”. Kata mereka, ada sayap malaikat menempel di bahu para bayi.

  2. adipati kademangan says:

    melihat anak sendiri jatuh dari ketinggian, sangat miris sekali. Saya sampai tidak tega melihat seorang anak menangis sakit kerena jatuh. memberikan nasihat kelihatannya mudah, namun dalam prakteknya sangat susah untuk dilaksanakan, seperti bangaip sendiri terdiam ndak bisa berbuat apa-apa. Semoga Novi keadaannya semakin membaik.

    -0-
    Novi Kirana sudah membaik Adipati. Terimakasih atas simpatinya.

  3. Ketika aku membaca di bagian Novi Kirana yang terjatuh dari tangga, aku kaget sendiri. Shock sendiri. Gak tega. Langsung deg-degan gitu. :(

    Tapi untunglah Novi Kirana tidak kenapa-kenapa. Titip peluk dan cium untuk Novi Kirana ya, Bang. :)

    -0-
    Terimakasih Mbak, saya sudah sampaikan pesannya :)

  4. cK says:

    bagaimana keadaan kirana, bang? semoga saja ia lekas sembuh dan tidak ada luka permanen. maaf cuma bisa bantu doa… :(

    -0-
    Syukurlah Chika Novi Kirana sudah baik kembali. Terimakasih atas doanya. Sangat berharga sekali untuk saya.

  5. edratna says:

    Cerita yang mengharukan dan bikin saya deg2an.
    Bangaip, kita tak bisa terus menerus merasa bersalah, dan syukurlah Novi akhirnya baik-baik saja.
    Anak seumuran seperti itu memang sangat lasak, dan kadang tindakannya diam-diam, sehingga mengkawatirkan. Dan anak kecil, biar sering jatuh. lebih kuat dibanding orang dewasa.

    Syukurlah semua membaik, saya ikut berdoa untuk kebaikan dan keselamatan Novi….salam buat si kecil Novi dan nyonya.

    -0-
    Terimakasih Bu atas masukannya. Saya akan sampaikan salamnya.

  6. shinte galeshka says:

    speechless …
    cuma berharap bangaip bisa melepaskan diri dari rasa bersalah, dan semoga novi bisa segera sembuh …

    -0-
    Terimakasih. Syukurlah Novi sudah baik sekarang. Dan mungkin saya harus banyak belajar lebih keras lagi untuk melepaskan rasa bersalah.

  7. Hmm, kata dokter anak memang tempat paling rawan untuk anak balita adalah di rumahnya. Entah kejedug, jatoh dari tempat tidur, dan masih banyak lagi.
    Susahnya, si anak memang sedang aktif-aktifnya. Karena itulah, saya gelar kasur ga pake tempat tidur. Ngga ada meja makan juga (yang ini karena belum mampu beli hehehe). Ngga ada kursi dan meja tamu, semua digelar dilantai dengan tujuan pengamanan. Tangga ke atas juga dikasih pintu berkunci di bagian bawah dan juga atas.
    Mudah-mudahan anaknya Bang Aip baik-baik saja, tumbuh kembang dengan normal, bahkan jadi manusia mumpuni yang mampu membawa perubahan baik buat agama dan bangsanya.

    –0–
    Amiin, Pak. Terimakasih atas tips dan doanya.

  8. nita says:

    bang, aduuuuuh aku sampe nangis deh baca ceritanya. kirain mah si novi jatoh dari undak2an ato gimana gitu tapi bukan dari tangga. waktu bang arif cerita ke saya di imel. sekarang gimana keadaan novi? moga2 semakin baik aja ya.

    bang, saya di rumah punya traphek 1 biji nganggur nih. kalo mau, diambil aja. itu lhooo… pager berpintu khusus buat tangga. biar anak kecil gak bisa nyelonong. ato enggak kita janjian ketemu dimana gitu… di tengah2. anak saya sih udah libur sekolah, suami bentar lagi cuti. ntar kalo enggak kita janjian, bisa ketemu dimana… biar dibawain itu trapheknya.

    bang, rasa bersalah itu normal. tapi jgn berlarut2. seperti udah pernah saya bilang: anak kecil lebih peka, dia tau kalo bapaknya sedih berlarut2. kasian si novinya. jadi kan peristiwa ini sebagai pelajaran.

    groetjes voor jouw nyonyah en kusjes voor novitje.

    –0–
    Terimakasih Mbak. Iya deh, nanti kalo ada waktu, ketemuan yaa :)

  9. Manusiasuper says:

    Jadi kangen mama saya…

    Sudah seminggu tidak mengunjungi pusara beliau…

    Ya sudah, saya berdoa untuk semua orang tua di dunia,…

    –0–
    Terimakasih atas doanya

  10. Manusiasuper says:

    Eh, doa buat Novi juga bang… titip salam dari Om ganteng-nya ini ya,,,

    –0–
    Terimakasih atas doanya. Salam disampaikan :)

  11. sufehmi says:

    Senang sekali bisa punya kawan seperti Mobi 😀

    Mudah2an bang Aip bisa terus bahagia selalu bersama Novi & keluarga, aminnn

    –0–
    Terimakasih atas doanya, Pak

  12. sufehmi says:

    Oh ya, kalau kebetulan ketemu, titip terimakasih kepada Mobi bang.

    Aye dapat nasehat yang bagus sekali hari ini.

    Memang manusia pelupa banget ya. Anak ada 4, kirain punya dia semua… he he

    Juga lupa bersyukur….. bertahun-tahun punya anak, belum pernah ada yang kena musibah yang parah. Ya ampun…. memalukan benar ini pikunnya….

    –0–
    Sudah disampaikan Pak salamnya :)

  13. Saat membaca daku deg-degan & terharu. Apalagi ketika sampai pada hikmah di akhir cerita. Syukurlah Novi Kirana sudah sehat kembali.

    Oh iya, puteri saya juga bernama Kirana.

    GBU

    –0–
    Terimakasih Mas Dewo.
    GBU too

  14. Citra Dewi says:

    Bang Aip. syukurlah semua baik2 dgn Novi dan juga dgn Bang Aip sekeluarga.
    Kejadian ini jg menimpa anak saya yg bungsu waktu dia berumur 2 thn. Dia jatuh di kolam renang yg kosong sedalam 2 mtr dan kepalanya membentur dgn keras tegel zwembad itu (di indo kejadiannya saat dia bercanda dgn oomnya).
    Tapi Tuhan maha baik sampai saat ini dia sehat walafiat.

    –0–
    Iya Mbak syukurlah semua baik-baik saja. terimakasih atas doanya. :)

Leave a Reply