7KC – Lima; Jadi Orang

Ada bagian dari hidup saya yang benar-benar hanya diketahui oleh orang-orang yang kebetulan bertemu pada periode tertentu hidup dengan mereka saja. Contohnya begini; ketika di Manado misalnya, yaa saya hanya ketemu dengan orang-orang Manado dan komunitas yang menyertainya. Tidak ada satu orang pun dari kampung asal Cilincing yang mengenal kontak saya di sana. Atau bahkan mengunjungi saya.

Ada bagian dari hidup dimana saya benar-benar terisolasi dari masa lalu.

Di Manado, saya amat bisa sekali mengaku-ngaku seorang pakar telematika. Syukurlah untung saja itu tidak dilakukan. Kalau iya, mungkin saat ini saya akan digosipkan mencalonkan diri menjadi menteri komunikasi dan informatika dan lalu jadi bulan-bulanan cibir di dunia maya maupun dunia nyata, karena doyan berbohong tapi tidak panjang hidungnya. Hehe.

Malu mengaku sesuatu yang bukan hak milik. Kata Ibu saya mengakui yang bukan haknya adalah dosa. Dosa atau tidak, buat saya itu lebih cenderung kepada membohongi diri sendiri. Berbohong kepada orang lain itu tidak cool, namun berbohong pada diri sendiri itu bagaikan onani jiwa yang tak kunjung orgasme. Dan dihinggapi ruh impotensi itu lebih-lebih tidak cool. Yakin atau tidak yakin dengan adanya dosa, namun ketika harus memilih antara dosa dengan impoten… Sama sekali bukanlah saat yang menyenangkan. Hahaha.

Maka, daripada harus memilih dua hasil yang menyebalkan tersebut, saya tetap mengaku sebagai anak Cilincing. Sebuah desa di pesisir utara Jakarta. Mengaku sebagai anak Cilincing membuat bahagia karena tidak pusing karena harus karang-mengkarang kalau ada yang tanya :)

Namanya hidup, ada positif dan ada negatif. Itu biasa. Hidup terisolir membuat saya benar-benar harus adaptasi dengan lingkungan.

Positifnya, karena punya keinginan untuk mengenal dan hidup dengan masyarakat sekitar, dapatlah keahlian khusus seperti mengerti bahasa lokal dan mampu memasak makanan seperti masyarakat di mana kita tinggal. Kelebihan lainnya, punya teman baru dan ada kontak bahkan hingga di pelosok. Sementara negatifnya, yaa itu deh. Selain kadang-kadang dihinggapi rasa sepi, begitu banyak orang yang menerka-terka. Kalau setelahnya lalu bertanya-tanya secara baik-baik, yaa menyenangkan. Sebab bisa permisi kalau pertanyaannya sudah teranggap masuk teritori amat pribadi dan sensitif. Namun, kalau si penanya bikin jawaban sendiri lalu menyebarkannya pada publik, yaa bikin pusing kepala juga yaa.

Gosip menyebar di udara. Sepandai-pandainya saya melompat, pasti akan terperangkap juga. Hahaha.

Tapi, kalau dibanding-banding secara komprehensif, sisi positifnya lebih banyak daripada negatif. Saya pribadi lebih banyak mendapatkan keuntungan dari sisi positif. Dan kalau sisi itu tiba pada saat yang dibutuhkan, benar-benar seperti pucuk dicinta ulam tiba. Misalnya ketika suatu hari kemalaman di sebuah daerah tertentu karena kendaraan tumpangan saya telat di jalan, tinggal kirim text SMS atau telpon ke teman yang kebetulan tinggal dekat situ. Bahagia sekali rasanya apabila melihat teman datang menjemput lalu memberi segelas teh hangat sebagai ungkapan selamat datang.

Namun kalau datang sisi negatifnya, puyeng sekali kepala ini.

Maka itu, marilah duduk di sini bersama-sama. Menyimak ketika Bangaip pusing dilanda gosip tiba. Hehe.

Beberapa hari setelah saya tiba di Cilincing, ada seorang kenalan lama menelpon. Kami dulu pernah ikut satu kursus sama-sama di sebuah daerah Jakarta Pusat. Kursus itu hanya beberapa bulan saja. Saya tidak serius ikut kursus itu. Maklum baru lulus SMA dan berdomisili sementara di Bandung, karena di saat yang sama menjalani sekolah di Dipati Ukur (*iya saya kabur dari sekolah itu sementara untuk jadi bohemian Jalan Jaksa, hehe*). Pikirannya masih main-main saja. Tidak seperti anak sekolah menengah jaman sekarang, walaupun masih muda sudah punya pikiran jadi usahawan mandiri.

Teman lama itu menelpon karena kangen ingin bertemu. Sudah belasan tahun kami tak jumpa.

Akhirnya pada sebuah sore, saya bertemu dengannya. Wajah dan posturnya masih sama. Untunglah ia termasuk kategori cepat matang. Artinya waktu dulu kami bertemu, mukanya memang sudah kelihatan dewasa. Jadi sekarang, tidak terlalu berbeda ketika waktu menggerogotinya. Hehe.

Namanya, ahh… Panggil saja ia Kuar.

Kuar: “Yaa ampun rip. Kamu tua amat?”
Saya : “Yaah beginilah nasib orang kecil, War. Muka keriput gampang tua gara-gara banyak pikiran tapi jarang penyelesaian. Hehe”
Kuar: “Jangan suka stress rip. Orang mah tuh kayak saya atuh. Semuanya anggap saja angin lalu. E-eh, beneeer. Saya nggak pernah stress loh. Coba liat nih muka saya. Masih alus kan. Masih ganteng euy. Coba deh kamu ngaca, idih ada keriput-keriput gitu di samping mata. Kamu juga gemukan sekarang, iih jijay deh bo!”

Saya diam saja. Malu. Mau bilang apa lagi? Dalam hati rasanya sedih juga. Ini teman lama kok yaa ketika bertemu bukannya jadi asik, kok ya malah bilang begitu?

Sepenuhnya sadar diri. Muka memang sudah terlihat lebih tua. Perut sudah agak membuncit. Kulit tidak sekencang dahulu. Umur tidak dapat menipu. Tapi tetap saja tidak bisa menutupi bahwa saya sedih dengan apa yang Kuar utarakan.

Tapi mungkin karena saya coba jaga perasaannya, jadi saya diam saja. Mungkin saya salah, buat apa menjaga perasaan orang yang sama sekali tidak mau memperlihatkan empatinya pada orang lain? Tapi dalam hati saya coba berprasangka baik saja. Sebab sudah bertahun-tahun dengan Kuar tidak berjumpa. Mungkin ia berubah. Mungkin ia pikir menjaga perasaan orang lain bukanlah sebuah cara yang baik ketika bertemu. Mungkin seharusnya ia pikir bahwa manusia harus menuangkan seluruh perasaan melalui kata-kata. Kapanpun. Dimanapun. Dengan menempuh seluruh konsekuensinya. Mungkin ia sekarang berbeda dan metamorfosa.

Kuar: “Loh ko kamu pendiem sekarang, rip. Eh baydewy, gimana yaa rasanya jadi orang jelek. Susah kali yaa. Katanya muka jelek bisa bikin nasib jelek”

Kali ini saya semakin terperangah. Benar-benar bingung mau bilang apa.

Kuar: “Eh sorii yee. Bukan kamu yang saya maksud. Jangan diem gitu dong”

Saya: “War, aduh saya minta maaf yaa. Saya kebetulan tidak terlalu lama ada di Cilincing. Ini ada teman yang kebetulan perlu saya singgahi untuk silaturahmi. Kalau boleh tahu, apa yang bisa saya bantu?”

Muka Kuar berubah tiba-tiba. Memelas. Melihat mukanya berubah begitu, batin saya melemas. Dalam hati sedikit ada rasa khawatir apabila mungkin menyakiti perasaannya.

Kuar: “Istri saya ngajak begituan, Rip”

Muka saya kembali terperangah. Mulut membundar membentuk huruf O besar. “Lah! Maksud kamu apaan, War?”

Ia diam saja. Tangan kanannya mengepal membentuk. Jempol mengacung dijepit telunjuk dan jari tengah. “Beginian loh! Ahh begitu aja masak nggak tau!”

Ooh, maksudnya berhubungan suami istri. Pakai bahasa simbolis jari.

Saya mau senyum. Tapi tidak enak melihat raut mukanya yang keruh. Jadi diam saja dan berkata, “Kan itu istri kamu, kok kamu nggak mau? Menyenangkan istri masuk sorga deh… Sorga dunia”

Dia tidak tersenyum. Saya makin jadi tidak enak hati. Salah lempar lokasi lelucon.

“Itu istri pertama saya, Rip. Saya tinggalin gara-gara selingkuh sama tukang ojek di pengkolan. Masak lagi selingkuh kamar nggak dikonci. Anak saya yang baru SMP pulang sekolah ngeliat mamanya begituan sama tukang ojek. Kan nggak bener itu. Ya udah saya tinggalin aja dia. Saya kasih lagi dia ke orang tuanya. Anak saya bawa. Trus saya kawin lagi. Dari istri baru, dapet anak dua. Satu umur 5 tahun, satu lagi masih 3 tahun. Istri sekarang di Saudi. Jadi pembantu di keluarga peternak kambing. Saya di rumah mertua. Jaga anak-anak sama mertua. Mertua saya katarak, Rip. Ini mau jual hape Nokia baru buat biaya operasi katarak mertua. Ini hape kiriman istri saya yang di Saudi. Di saudi nggak ada empang yaa Rip. Sayang yaa. Padahal di rumah mertua saya di belakangnya ada empang. Ikannya gurame. Gede-gede deh, Rip. Kapan-kapan main ke rumah yaa. Nggak jauh kok dari terminal Pakupatan. Kamu pokoknya tahu deh daerah itu. Kamu kan dulu pernah tinggal di sana. Ayoo main…”

Mulut saya tidak berhenti membentuk huruf kapital O. Apa hubungannya rap biografi singkat romantisme drama hidup dengan ‘istri yang mau begituan’?

Kepala saya pening sejenak. Daripada tambah stress saya ajak Kuar ke warung untuk pesan Es Teh Manis. “War sebenernya nggak enak saya ngomong begini. Tapi saya bener-bener minta maaf, saya tidak bisa main ke rumah mertua kamu saat ini. Saya mau ke rumah Yandi. Mau silaturahmi”

Kuar: “Yandi. Yandi temen kita kursus itu dulu. Yang item gede kayak anjing balap?”

Wah saya kaget. Benar-benar lupa bahwa Kuar, saya dan Yandi dulu duduk di bangku kursus yang sama. “Iya bener si Yandi. Yandinya kita”

“Ikut dong, Rip?”

“Saya telpon Yandi dulu yaa”

“Ahh kita kan temenan udah lama. Masa sih pake telpon-telponan segala?”

“Saya nggak yakin, War. Sebab sudah lama juga tidak ketemu Yandi”

Tanpa sepengetahuan Kuar yang mengotot minta diajak dan tiba-tiba saja menyetop taksi, di perjalanan saya SMS Yandi. Memberitahu ada lagi tamu istimewa yang akan mengunjunginya. Untung saja si Yandi menyetujuinya (sebab kalau tidak, saya gagal makan malam gratis suguhan istrinya Yandi, haha).

Begitu sampai di rumah Yandi (tidak jauh dari Cilincing), Kuar terbengong-bengong. Yandi, rumahnya sekarang empat tingkat. Mewah. Besar. Baru. Lantai bawah untuk garasi mobil-mobilnya. Lantai atasnya untuk terima tamu, sisanya untuk ruang keluarga. Kami diantar satpam ke lantai dua.

Kuar yang tak mampu menahan kekagumannya memegang lengan saya, “Rip beda banget si Yandi sekarang ama dulu yaa”

Perlahan saya tepis pegangan Kuar, “Apanya yang beda?”

Kali ini Kuar pegang bahu saya, “Kaya dia men sekarang! Pake ada satpam segala!”

Karena sebal, kedua kaki saya selonjorkan di atas paha Kuar, “Orangnya kan sama? Masak gara-gara tebel dompet, hati bisa berubah sih?”

Obrolan kami berhenti. Tiba-tiba Yandi masuk ke ruang tamu, “Heh! Lu bedua ngapain pangku-pangkuan?” (*Istrinya cengar-cengir menatap kami*)

Setelah itu, yaa kami mengobrol dengan serunya. Saling berbagi (*sebenarnya kalimat yang benar adalah saling berghibah, ngomongin orang. Hihi*).

Kuar tidak henti-hentinya memuji Yandi. Semua barang yang ada di ruang tamu pun dia nilai sebaik-baiknya dengan kalimat-kalimat dekoratif. Bahkan sampai-sampai istrinya Yandi pun ia puji-puji hingga merah mukanya. Di sini saya agak bingung, dulu kalimat Kuar sungguh berbeda dalam bicara mengenai istrinya Yandi. Walaupun di sisi lain, saya juga lebih bingung melihat istrinya Yandi kulitnya menjadi lebih terang daripada dahulu.

Masak sih isi dompet dapat merubah warna kulit?

Tapi saya tidak lagi perduli. Istrinya Yandi mengajak kami semua makan malam. Namun nampaknya ketidakpedulian saya sirna seketika ketika makanan sudah terhidang.

Ketika Kuar bertanya pada Yandi, “Lu kok bisa hebat kayak gini, Yan? Apa rahasianya? Lu kerja apaan men? Gua juga pengen nih kayak elu. Sukses!”

Ia berhenti menyendok nasi. “Gua orang iklan, War sekarang” Sambil senyum menambahkan, “sektor komersiyel ayti”

Tertarik. Mata saya membulat. “Commercial IT”. Apa pula itu?

“Kerjaan gua enak. Bisa kerja dari rumah. Asal ada komputer nyambung internet, rekening pepal, kartu kridit.. Uang dateng sendiri”

Saya garuk-garuk kepala, “Kok bisa dateng sendiri, Yan?”

“Ahh lu mah mana ngerti kayak ginian, Rip. Ini sistim, sistim canggih. Gua bikin website yang banyak. Terus website itu harus banyak pengunjungnya. Nah dari sono dapet iklan. Trus isi websitenya juga gua jual. Nah pengunjung gua kan punya imel tuh. Nah imel-imel itu gua kirimin penawaran-penawaran khusus. Kemaren aja gua baru beli imel 25 juta perak”

Saya makin penasaran. Bagaimana mungkin ia beli alamat email semahal itu. “Maksud lo, website yang nyediain cara supaya kita bisa dapet imel kan, Yan?”

“Udah gua bilang, Rip. Lo pasti ga bakalan ngerti, ini sistim canggih. Apalagi lo War, mulut lo aja ampe menyong-menyong begitu”

“Kok bisa email seharga 25 juta. Berapa banyak emailnya, Yan”

“Yaa banyak lah. Mau tau aja luh!”

Ketika istrinya Yandi ke dapur mengambil nasi ronde ke dua, saya tanya pelan-pelan, “Yan, website-website lo? Isinya porno yaa?”

“Elu ga usah bisik-bisik, Rip. Istri gua mah udah tau. Ngapain ditutup-tutupin, lah dia juga makan hasilnya kok. Eh tapi iya, website webiste gua isinya 3gp 3gp gitu dah, terus kata koncinya juga yaa anak SMP SMU yang lagi begituan. Topik-topik hangat dunia esek-esek. Tapi sekarang gua juga melebarkan sayap, Rip. Sekarang udah pake perempuan Taiwan. Pokoknya manteb dah”

Entah kenapa, perut saya jadi tiba-tiba malas meneruskan makan malam. Apalagi setelah Yandi memberitahu bahwa uang Rp 25 juta itu digunakan untuk untuk mengirim email spam dan scam. Trik menyedihkan untuk mencari nafkah.

Tidak lama kemudian Yandi minta ijin mau istirahat. Saya dan Kuar pun pulang dan menunggu angkutan perkotaan dekat rumah Yandi.

Tak henti-hentinya Kuar bilang bahwa ia ingin seperti Yandi. Hidup yang enak. Kaya. Mobil banyak. Kerja santai. Kuar bilang ‘Yandi sudah JADI ORANG’. Kalimat yang selalu ingin saya bantah dengan ‘Memang dulu apaan? Sapi? Apa gara-gara kaya manusia lalu dinobatkan menjadi manusia? Emangnya orang miskin bukan manusia? Kok manusia kaya karena nipu orang lain, dipuja-puja?’

Kuar bilang, “Rip, elu mah urat susah. Kalo bisa idup santai, ngapain kerja keras? Jangan cemburu ama Yandi, itu penyakit hati. Eh, ngomong-ngomong kok toket istrinya Yandi jadi gede begitu yaa? Mirip Pamela Anderson”

Saya diam. Angkot menuju Cilincing sudah tiba. Sudah terlalu lelah untuk membantah Kuar. Sebab mungkin saja saya salah. Mungkin saja saya yang benar-benar dihinggapi penyakit hati. Mungkin kerja keras memang cocok untuk urat-urat susah saya ini.

Entahlah.

Sejak hari itu, saya tidak pernah bertemu Kuar maupun Yandi lagi. Jarak geografis antara kami sedemikian jauh. Yandi dan Kuar pun tidak pernah membalas email saya.

Hingga akhirnya sebulan setelah pertemuan itu, saya dapat email dari seorang perempuan;

‘Mas, saya kecurian henpon Nokia. Diambil Mas Kuar. Ia bilang pinjam. Tapi hingga saat ini tidak pernah dibalikin tuh telepon. Mas, tau ga Kuar dimana?’

Saya balas

‘Mbak, saya turut berduka. Saya sudah lama tidak bertemu Kuar. Ada yang bisa saya bantu? Ngomong-ngomong, kok bisa-bisanya dapat email saya?’

Ia jawab, ‘Kata Kuar dulu, kalo ada apa-apa, hubungi saja Mas Arip’

This entry was posted in bangaip, Orang Indonesia, sehari-hari and tagged , , . Bookmark the permalink.

5 Responses to 7KC – Lima; Jadi Orang

  1. manusiasuper says:

    Pada akhirnya, semua kembali ke prinsip kita masing-masing ya bang. Kadang bingung juga kalau sudah nemu kasus kaya Yandi. Lah wong dulu-dulu orang tua ga pernah ngasih tau ad-sense itu haram apa halal.. 😛

    Kalau di Kalimantan Selatan, saya sering bingung sama ulama-ulama yang dekat dengan pengusaha tambang. Saya mikirnya mbok ya itu pengusaha tambang diingetin kalau habis buka hutan buat nambang, hutannya dibalikin lagi biar warga ga kebanjiran. Ini malah numpang dibiayain umroh doank, trus malah ulamanya yang manggut-manggut kalau ngomong sama pengusaha.

    Lah, dia pegangnya ayat yang bilang kalau hasil bumi itu memang buat dimanfaatkan manusia sebesar-besarnya… Ga salah juga jadi,,,

    (eh, sudah nemu jawabannya kenapa itu toket jadi mirip Kim Kadharsian bang?)

    –0–

    Soal adsense, hehe… Saya pikir itu bukan spam atau scam. Tapi kalau emmang tujuan awalnya sudah menipu, seperti nigeria scam, yaa saya pikir itu sama sekali tidak baik.

    Masalah Kalsel memang pelik sekali, pernah saya ke forum (offline) dimana keduabelah pihak antara pengguna HPH (pembalak) dengan LSM lingkungan saling menyalahkan pemerintah. Repot. Sementara yang disalahkan, justru cuek saja. Hehe

    Mengenai toket, sampai saat ini saya belum berani tanya. Hihi

  2. Wijaya says:

    Idealis vs pragmatis ya bang?
    Hmm, semua kembali ke pribadi masing2 sih…..
    Klo semua orang ditanya, kayaknya 99% pasti mau kerja enteng dapat duit bejibun.

    Oya, kalo urat mah gak ada yang susah…palingan ada urat keseleo (klo ini harus diurut).
    Klo urat susah gak ada obatnya, hihi…..

    –0–
    Haha.. Iya bener, kalau keseleo memang asiknya sih di urut.

    Kalau soal Yandi, nampaknya sudah cenderung ke arah kriminalitas. Jadi menurutnya, aksi kriminalitas bukanlah hal yang tabu apabila sudah berhubungan dengan pragmatis. Dan itu diamini oleh Kuar.

    Dalam hal ini memang repot sekali. Ketika pemujaan terhadap pragmatisme semakin kuat karena desakan budaya (contoh disini: kagum melihat teman yang kaya. Dan pas jalan-jalan ke mall satu-satunya hiburan murah, nyatanya dompet dipaksa harus tebal) maka jalan pintas diambil sebagai solusi tercepat.

  3. didats says:

    semua kembali ke pribadi masing-masing.
    kebanyakan orang, mau hasilnya banyak, dengan kerja sedikit2nya.

    adsense membuka jalan itu.

    PS.
    email yg dulu maap blum dibales-bales, udah tertimbun. saya baru sempet lagi bolak-balik baca blog orang… pr udah saya lunasin ya bang.

    –0–
    Haha, jangan dianggap PR, Dats.

    Soal adsense, saya setuju adsense loh. Sayangnya itu bukan metode yang dipakai oleh Yandi (bukan nama sebenarnya). Beliau nampaknya menyukai hal-hal yang cenderung spamming (ke email personal), scamming, serta pencurian data.

  4. hedi says:

    kalo gitu sekarang sampeyan pindah aja dari Cilincing, nyebrang dikit ke Tambora 😛

    –0–
    Hehe, buat saya pribadi bukan esek-eseknya yang jadi masalah. Tapi nyolong identitas nya itu yang lumayan cenderung ‘nggak asik’. Ibarat ngembat dompet hidung belang di lokalisasi. Lah kalo dompetnya di colong, gimana mau mbayar esek-eseknya. Huehehe. Kasian kan yang udah ngangkang. Sudah dihajar depan belakang… Lah, gratisan!

    huehehe

  5. mbelGedez™ says:

    .
    Sayah dulu (1994) punya pacar namanya Lucienne Megelink, anak Alkmaar….
    Bisa tolong cariin info keberadaan dia, bang…???

    **kata blog inih, kalo ada penting hubungin aja yang bersangkutan**

    –0–
    Diusahakan semampunya. Mohon saya dijapri Mas Mbel, siapa yang mencari :)

    UPDATE 1: Binor.
    UPDATE 2: Ginekolog (*ini belum pasti. tapi yang pasti saya sudah dapat alamat dan nomor telpon suaminya, :D*)

Leave a Reply