Ahli Waris Internet

Beberapa waktu lalu, saya coba menghubungi pihak hosting yang saya kenal. Rencananya adalah memperpanjang domain dan hosting beberapa website yang berisi konten karya-karya yang saya buat dan kumpulkan selama hidup, untuk 200 tahun lamanya.

Pihak hosting kaget, lalu bertanya “Untuk apa, Pak?”

Jawaban saya simpel, “Lah kalau saya meninggal dunia. Bagaimana itu karya-karya saya? Punah dong?”

Dia balas, “Kan ada google cache, Pak?”

Saya ketawa-ketiwi. Saya bilang, “Kalau saya mau perusahaan Google menghosting karya-karya saya, ngapain saya nelpon kamu?”

Dia bilang untuk pikir-pikir dahulu menjawab pertanyaan saya itu. Saya juga tidak memaksanya menjawab cepat-cepat. Saya sadar, minat dan bakat seseorang berubah-ubah selama hidup. Belum tentu selamanya ia kepingin menjaga server tempat semua karya yang pernah saya buat selamanya. Bisa saja ia kepingin jadi petani. Lalu pindah dan meninggalkan dunia jaringan komputer beserta server-servernya.

Tiga hari kemudian ia menjawab. Lemah. Dan sudah bisa saya tebak apa isinya. Yang pasti ia menolak. Baginya 200 tahun terlalu lama. Ia tidak yakin dapat menjaga amanah selama itu.

Saya kagum atas kejujuran serta logika yang diusungnya. Ia bilang, kalau masih hidup (ia, komputer dan jaringan internet) maka kemungkinan besar dapat menjaga server yang akan menaruh karya-karya saya. Tapi kalau ia meninggal, ia sendiri tidak yakin akan jadi bagaimana.

Dan ia lalu pun bertanya lagi (yang sebelumnya sudah bisa saya tebak juga), “Kenapa 200 tahun? Setelah 200 tahun, apa yang akan terjadi?”

Saya jawab, bahwa 200 tahun adalah sesuai bujet saat ini yang saya kumpulkan sejak lama untuk menghosting karya-karya saya di internet. Apabila setelah mati nanti, rencananya memang saya akan mewariskan karya-karya saya yang ada di internet pada ahli waris dan warga masyarakat. Notaris telah mencatat prosentasenya serta alogaritma yang digunakan oleh setiap generasi (*saya menghitungnya menjadi per 40 tahun dalam satu generasi. Jadi dalam 200 tahun, saya membuat 5 alogaritma yang akan dienkripsi oleh 5 generasi ahli waris tersebut. Alogaritme tersebut akan digunakan untuk memecahkan sandi yang dipakai untuk membuka akun dunia maya*). Jadi, ada kejelasan mengenai karya-karya saya.

Setelah 200 tahun nanti usai, saya berharap ahli waris saya atau masyarakat yang berminat, mau memperpanjang domain dan hostingnya. Ini jelas tindakan yang agak sembrono. Sebab bagaimana coba kalau ternyata ahli waris saya menolak? Atau masyarakat malah menganggap saya tidak perlu diurus? (*Haha, saya gede rasa, memangnya diri pahlawan yang layak dikenal? Huehehe*)

Ia masih kebingungan ketika saya menjawab pertanyaan tersebut. Tapi nampaknya ia diam saja. Saya sadar betul kenapa ia bingung. Selain ia bingung masalah hukum waris dan ahli waris. Ia pun bingung memetakan apa itu warisan.

Sepengetahuan saya, pada garis besarnya, warisan dalam dunia nyata di bagi menjadi:

  • Warisan Alam; terdiri dari keragaman flora fauna, sumber daya alam dan lingkungan
  • Warisan Budaya; peninggalan artefaktual dan atributnya secara fisik yang berhubungan dengan sekumpulan manusia, suku atau masyarakat.
  • Warisan Tradisi; praktek-praktek yang diturunkan dari leluhur
  • Warisan Virtual; Hasil kerja dunia Informasi Teknologi yang berhubungan dengan Warisan Budaya
  • Warisan Fisik; Terdiri dari peninggalan almarhum/almarhumah kepada ahli warisnya dalam bentuk fisik/materi
  • Warisan Biologi: Karakteristik khusus yang didapatkan dari orang tua biologis/ras
  • Warisan Lahir; Warisan yang berhubungan dengan tempat, waktu atau kondisi dimana seseorang dilahirkan.
  • Warisan Industri; Monumen atau karya dari budaya industri
  • Warisan Pertalian Keluarga: Warisan yang didapatkan dari hubungan atau asal mula silsilah keluarga.

Mungkin apa yang saya tengah utarakan sang pada pemilik hosting adalah termasuk dalam “Warisan Virtual”. tapi setelah saya lihat-lihat, ternyata warisan virtual itu adalah upaya pendokumentasian dan penyediaan materi pada publik mengenai kerja/warisan artefak/inskripsi arkeologis. Contohnya; Museum Virtual.

Yaah, karya saya jelas belum masuk kategori inskripsi arkeologi. Kalau itu mah saya tahu diri. Hehe.

Tapi saya memang punya kekhawatiran cukup tinggi tentang karya-karya blogger/seniman virtual Indonesia. Saya khawatir, jutaan karya tulis/lukisan/film virtual ini suatu hari akan musnah dan sulit ditemukan. Sebagaimana sulitnya menemukan karya-karya Hamzah Fansuri, seorang seniman filosof sufi dari Sumatera.

Tadinya mau mengemukakan ide ini pada Pesta Blogger 2009. Sayang sekali, saya telat yaa. Itu pesta sebentar lagi mau mulai. Ini ide sudah lama muncul sayangnya baru dibicarakan setelah gagal bicara dengan pemilik hosting. Hehe.

Pertanyaan ini memang muncul sejak lama. Ketika beberapa waktu lalu, jaman-jaman awal nge-blog ada pemilihan blogger. Saya cukup bingung waktu itu, kok yaa blogger yang dipilih? Kenapa bukan karya tulisnyanya? Suatu saat si blogger akan musnah beserta cacing-cacing tanah, sementara karyanya… Ahh karyanya akan abadi jika kita menginginkannya.

Saya suka baca buku kumpulan cerita pendek harian KOMPAS. Dimana cerita-cerita pendek itu tayang pada koran hari minggu. Lalu, yang terbaik, akan masuk buku tersebut. Kok yaa dunia blog Indonesia belum ada yang memulai itu, membuat kompilasi tulisan blog terbaik setiap tahunnya? Apa takut kali yaa? Ahh ndak mungkin. Penulis-penulis Indonesia kan berani-berani orangnya. Hehe.

Tulisan ini jangan diambil hati, sebab hanyalah sekedar kegelisahan belaka. Gelisah mempertanyakan dimana mencari puisi-puisi aksara bali Negarakertagama atau karya lukis pemuda LEKRA yang banyak meruam di udara. Rezim berganti, undang-undang datang silih berganti, dan karya-karya seni yang musnah disana-sini.

Setiap tahun, saya merayakan kemerdekaan negeri yang melahirkan orang tua dan leluhur saya dengan cara yang unik dan berbeda-beda. Tahun ini, saya merayakannya dengan cara yang biasa-biasa saja. Hanya sekedar berfikir, bagaimana menyelamatkan asset dunia maya karya anak bangsa.

(*Ahh mikir mulu, kapan berbuatnya?*)  :)

This entry was posted in bangaip, Orang Indonesia, Republik Indonesia, sehari-hari and tagged . Bookmark the permalink.

8 Responses to Ahli Waris Internet

  1. hedi says:

    yang saya tahu sih panitia PB masih menampung usulan tuh, bang :)

    –0–

    Setahu saya, PB nampaknya punya semangat egaliter model bunderan HI. Kalau tidak salah, “Yang kasih usul, yaaa yang tanggungjawab”. Hehehe.

    Bukannya mau lari dari tanggung-jawab, tapi kendala waktu dan geografis nampaknya menjadi issue yang lumayan banyak di kemudian hari apabila saya dapat amanah disuruh ngumpulin karya-karya orang-orang hebat itu :)

  2. cK says:

    bangaip kalau bersedia jadi pembicara, nanti saya kasih usul ke chairman agar dibikinkan satu breakout session khusus ini… 😀

    –0–
    Bersedia. Sayang sekali waktunya yang saya tidak bisa sempatkan.
    Terimakasih atas supportnya, Mbak Chika.
    Saya lagi pikir-pikir format yang ideal untuk akses penyelamatan tulisan-tulisan yang bagus itu, euy.

  3. ichanx says:

    waduh…. setelah sempet ngakak di awal (ngebayangin perasaan si orang webhosting pas dimintain langganan 200 taun)… untuk idenya mantep juga ya…

    –0–
    Terimakasih Ichanx untuk supportnya

  4. mbelGedez™ says:

    .
    Sayah juga gelisah bang…
    Khususnya dengan domain sayah inih bang, yang “ntah gimana”, banyak banged yang menginginkannya…

    ( silakan check di google, maupun di Facebook, banyak nick Mbelgedez palesu )

    Sayah pernah ngobrol sama owner hosting dimana sayah nyewa, intinya, sayah ingin kontrak dalam jangka waktu 10 atao 20 taun kedepan, dengan harga spesial…

    Dan sayahpun mengalami hal yang sama dengan bang Aip, mereka ndak sanggup…

    :roll:

    –0–
    Namanya Imam.. Yaa pasti banyak yang mau njiplak. Hahaha

  5. Terus terang daku juga pernah merasakan kegelisahan seperti Bang Aip. Dan pada akhirnya daku memutuskan untuk tetap setia hosting di layanan blog gratisan WP. Harapannya blogku dapat hidup lebih lama dariku. Dan semoga tetap gratis selamanya.

    Amin.

    –0–
    Amiin, Mas Dewo

  6. Pingback: Melewati Angka Seribu Posting « Emanuel Setio Dewo

  7. sofianblue says:

    Betul bang, banyak karya seni yang musnah sana-sini.
    Tau-tau sudah nangkring di negeri tetangga.

    –0–

    Iya Mas Sofian, nampaknya memang begitu.
    (*sambil lirik-lirik tetangga yang suka mampir ke blog ini, hehe*)

  8. zam says:

    setauku untuk domain kita bisa sekali sewa maksimal 10 tahun, terus agar tetep eksis, aktifkan mode “auto-renewal” yang akan memperpanjang 10 tahun lagi.. 😀

    untuk hosting, sepertinya tergantung usia si pemilik hosting juga sih.. he he he

    –0–
    Setahu saya, untuk “auto-renewal” ada sistem otentifikasi pembayaran, Zam. Kalau misalnya dalam kasus ini kita pakai cara pembayaran otomatis pakai rekening bank, maka jika si pemilik rekening sudah meninggal, umumnya bank akan memberikan rekening (dan isi) pada ahli warisnya. Kalau ahli warisnya berminat, maka tentu saja akan ada proses “auto-renewal” itu dari rekening lama (atau baru). Yang jadi masalah, bagaimana kalau si fulan tidak mempunyai ahli waris?

    Salah satu solusi jawabannya yaa pakai surat waris pelimpahan pada notaris. Namun sekali lagi, notaris itu baru bisa bergerak setelah kita memberikan tempo jangka waktu seberapa lama domain itu mau di “auto-renewal”. 200 tahun itu angka yang mudah buat bank atau notaris. Namun tidak mudah bagi pemilik hosting dan registrar. Karena tidak semua registrar punya fasilitas ini.

Leave a Reply