Atheis

Ada percakapan bagus dari film karya Ron Howard yang merupakan adaptasi novel Dan Brown yang berjudul Angels & Demon yang terus terngiang-ngiang di antara telinga saya. Yaitu ketika Camerlengo Patrick McKenna (pengganti sementara Paus dalam masa transisi pemilihan) dengan Profesor Langdon (tokoh utama dalam novel maupun filmnya).

Saya kutip di sini tanpa diterjemahkan dalam bahasa Indonesia (*Sadar diri. Kemampuan berbahasa saya tidak begitu baik*):

McKenna: Do you believe in God, sir?
Langdon: Father, I simply believe that religion…
McKenna: I did not ask if you believe what man says about God, I asked if you believe in God.
Langdon: I’m an academic. My mind tells me I will never understand God.
McKenna: And your heart?
Langdon: Tells me I’m not meant to. Faith is a gift that I have yet to receive.

Percakapan yang menarik.

Saya tidak akan bicara soal agama dalam membahas dialog di atas. Tapi saya akan sedikit bicara dahulu soal akademisi dan ‘Tuhan’ (yang saya dapatkan dari menterjemahkan secara serampangan kalimat ‘God’).

Beberapa waktu lalu di Amerika Serikat terjadi perdebatan yang cukup serius mengenai perlu tidaknya mata pelajaran geografi dan biologi menjelaskan terjadinya alam semesta. Saking serunya bahkan sampai masuk ke dalam serial kartun The Simpsons (yang walaupun kartun dan lucu namun isu yang ditampilkan biasanya cukup serius).

Para pengedukasi dari kalangan akademisi merasa bahwa anak-anak perlu dijelaskan mengenai terjadinya alam semesta. Semua teori yang relevan, semestinya cukup untuk menjelaskan dalam bahasa anak-anak mengenai terjadinya bumi ini.
Beberapa orang tua murid, marah. Mereka tidak setuju. Sebab semua teori yang dipaparkan, tidak menyangkut-nyangkuti teori ‘Jika Tuhan mengijinkan, maka terjadilah!’

Para orang tua yang marah itu berpendapat; bahwa bumi diciptakan dalam enam hari sebagaimana kitab suci yang orang-orang tua mereka ajarkan. Sayangnya biologi dan geografi tidak mengijinkan bahwa bumi hanya diciptakan dalam enam hari. Bahkan, ternyata mampu memberikan teori bahwa ada kemungkinan besar ikut campurnya ‘Tuhan’ tidak membawa pengaruh banyak pada bundarnya bola dunia ini.

Beberapa wali murid yang marah, bahkan memboikot sekolah. Ada yang ekstrim, bawa bedil menodong guru biologi agar tidak menjelaskan teori evolusi. Katanya, manusia bukan dari monyet. Kalau iya, maka hanya nenek moyang guru biologi lah yang berasal dari monyet. Untung ada polisi melerai. Kalau tidak, maka teori Darwin pasti akan memakan korban jiwa seorang pengajar.

Sebuah stasiun televisi dokumenter bernama Discovery Channel menayangkan kejadian tersebut serta mengenai proses terjadinya alam semesta dan opini yang menyertainya. Sebagaimana stasiun publik, ia harus netral. Maka mau tidak mau harus riset mendalam dan mewawancarai semua pihak yang terlibat.
Hasil dari wawancara dan riset tayangan Discovery ini cukup menarik. Diantara yang teringat adalah;

  1. Ternyata ilmuwan yang relijius jumlahnya kurang dari satu dari sepuluh ilmuwan di Amerika Serikat
  2. Ternyata banyak orang Amerika yang memandang curiga pada pemeluk sebuah agama tertentu (yang tidak dijelaskan agama apa). Namun sebanyak-banyaknya, jumlah mereka hanya 20% saja. Ternyata lebih dari total setengah responden mengaku bahwa mereka lebih curiga dan tidak menyukai ‘atheis’
  3. Ternyata di sebuah daerah Amerika bernama Alabama buku-buku yang mengajarkan teori evolusi ditarik dari peredarannya di sekolah-sekolah dasar
  4. Ternyata anak-anak sekolah tingkat menengah di beberapa negara bagian Amerika; percaya, kalau mau lebih pintar maka memilih untuk jadi atheis atau agnostik

Menarik bukan?

Yang lebih menarik, ketika reporter Discovery Channel mewawancarai Chad, seorang bocah berusia 6 tahun dengan pertanyaan, “Chad, kamu tahu bagaimana bumi ini tercipta”

Chad menjawab dengan membelalakkan mata tertarik, “Iya saya tahu”

“Bagaimana?”

“Yang bikin bumi ini ialah Mama”

“Kok Mama? Kenapa?”

“Karena Chad dan adik Tim keluar dari Mama”

Penonton tertawa melihat adegan tersebut. Iya benar, Chad, Tim atau anak-anak kecil lainnya di muka bumi mungkin tidak perlu tahu nama siapa yang merasa paling layak disebut sebagai pencipta bumi. Mereka kanak-kanak yang lugu. Hidupnya penuh canda dan tawa.

Di akhir adegan film dokumenter tersebut, ditayangkan mengenai kondisi bumi saat ini. Dimana kerusakan di muka bumi saat ini lebih parah daripada yang terjadi di Inggris pada masa revolusi industri (*Revolusi ini dikenal sebagai salah satu revolusi alam buatan yang paling ekstrim yang pernah terjadi pada bumi. Diantara korbannya adalah Biston betularia*)

Selesai film, istri saya menoleh “Tadi di sekolah ada siswa teriak ‘i hate moslem!’. Entah kenapa, tiba-tiba dia berdiri di bangkunya dan lalu meneriakkan kalimat itu.”

Saya mengambil minum ke dapur. Menjerang air panas untuk dua gelas. Rencananya mau membuat teh Indian Chai. Mau santai-santai saja malam ini. “Terus, kamu bilang apa?”

“Aku tanya kenapa. Ia bilang ‘kata papa begitu’. Nanti aku coba panggil orangtuanya meminta penjelasan. Tapi tadi aku bilang juga padanya bahwa di kelas ada beberapa anak muslim”

“Ooh yaa?”

Sebelum kita meneruskan percakapan antara saya dan istri, ada baiknya jika mengetahui kejadian ini terjadi ketika istri saya masih bertugas sebagai guru Sekolah Dasar. Mengatur dan bertanggung jawab untuk pendidikan satu kelas anak-anak berusia 6 hingga 8 tahun.

“Imani itu bapaknya orang Maroko. Muslim. Zoa itu dari keluarga Senegal, muslim juga. Dan kamu ingat toh Boy, anaknya Mbak Sinta. Dia juga di kelas saya”

Saya tiba-tiba ingat Mbak Sinta. Orang Cilandak, Jakarta yang bersuamikan lelaki Belgia. Keluarga mereka selalu ramah pada kami. Setiap lebaran selalu mengirimkan ketupat serta tempe orek kering kesukaan istri saya. Bahkan ketika sebelum anak mereka duduk di kelas istri saya.

“Aku bilang sama Rion, kalau ada muslim di kelas. Lalu aku tanya apakah ia benci Imani, Zoa dan Boy? Rion menggeleng dan kaget. Katanya, muslim yang dia maksud itu yang papanya bilang. Pakai kerudung”

Saya mulai tertarik, “Loh ibunya Rion kan teman kamu. Kalau tidak salah dia bekas pramugari. Suaminya yang pilot 757 itu kan? Apa hubungannya dengan kerudung?”

“Rion bilang, papanya takut sama orang kerudung. Takut bawa bom ke pesawat”

Saya diam. Kasihan. Kasihan sama Imani, Zoa dan Boy. Kasihan pada Rion yang dari kecil di didik untuk membenci. Dan kasihan juga pada Papanya Rion, yang selalu ketakutan setiap kali membawa penumpang yang berkerudung ketika bertugas.

Diam-diam, saya kasihan pada istri saya. Ia pasti harus memutar otak mengatasi masalah tersebut.

Menurut saya guru itu pekerjaan berat. Gajinya tidak seberapa, tapi tanggung jawabnya besar sekali. Salah mendidik, masa depan seseorang jadi taruhan. Maka itu, saya selalu kagum pada guru. Mereka nampaknya ditakdirkan untuk dilahirkan sebagai manusia perkasa.

Istri saya melirik, “Loh kamu kok cengar-cengir?”

Saya garuk-garuk kepala, “Untung aja saya nggak ngajar di kelas kamu. Buntu deh otak saya kalo itu terjadi sama saya. Trus, kamu punya trik nggak mengatasi masalah ini?”

Istri saya diam sebentar. Lalu berkata “Aku coba permen deh”

Saya melongo. “Permen?”

“Sebentar lagi kan bulan puasa. Aku coba kasih permen sama siswa sekelas. Mereka boleh makan apa saja hari itu. Tidak usah puasa. Tapi mereka tidak boleh makan permen itu kecuali nanti ketika saatnya berbuka puasa”

Saya makin melongo, “Lah, apa gunanya?”

Dia cemberut “Kamu ini payah banget sih. Tau ga prinsip tak kenal maka tak sayang. Si Rion kan bilang begitu karena ia tidak kenal orang berkerudung. Mamanya Zoa dan Mbak Sinta kan berkerudung. Nanti mereka yang bagikan permen pada anak-anak sekelas. Semoga trauma Rion hilang pada orang berkerudung. Dan semoga saja bisa bilang ke bapaknya kalau tidak semua orang berkerudung itu punya bom”

Saya makin kagum akan kecerdasan dan empatinya. Alih-alih malah mendukung acara ini dengan menawarkan sekantung permen.

Acara itu, berlangsung tidak lama kemudian. Sukses. Semua anak di kelasnya bahagia. Maklum setiap siswa mendapatkan lima permen dan dua coklat. Namanya juga anak kecil. Dapat coklat dan permen gratis itu artinya surga.

Seminggu kemudian respon tak terduga datang. Beberapa pihak mengklaim istri saya telah menebar angin dan kini saatnya menuai badai. Diantaranya orang tua murid yang marah. Menuduh bahwa istri saya tengah melakukan islamisasi di sekolah.

Cercaan dan dukungan datang secara tak berimbang. Istri saya sedih dan gamang. Para penghujatnya memang datang tanpa bedil ke sekolah, namun dengan kalimat-kalimat yang menyakiti. Merajam hatinya pelan-pelan.

Kasihan sekali melihatnya seperti itu. Saya dukung dia dengan mengatakan bahwa apa yang ia lakukan bukanlah sebuah proses dalam mendukung agama tertentu. Ia sebagaimana guru berbudi lainnya, hanya bertindak atas dorongan naluri. Menyelamatkan anak muridnya dari rasa benci.

Pasca bagi-bagi permen dan respon ajaib setelahnya itu berlangsung hingga beberapa saat. Lumayan lama. Kalau kami ke pusat perbelanjaan lokal, selalu dilirik oleh pengunjung lainnya sambil berbisik-bisik. Saya sih, sudah tebal muka terlatih sebagai anak Cilincing. Seluruh dunia boleh bilang apa saja. Saya tidak peduli. Show must go on. Memangnya mereka yang kasih makan saya? Memangnya gosiper itu yang membiayai sekolah dan hidup keluarga saya selama ini?

Tapi istri saya yang kasihan. Ia sensitif perasaannya. Kadang baginya adalah siksaan jika harus ke tempat publik. Ia tidak kuat mendengar bisik-bisik itu.

Namun, sebagaimana peristiwa-peristiwa di muka bumi lainnya. Untunglah memudar dan pelan-pelan mereda.

Suatu hari lama setelah peristiwa tersebut usai, istri bertanya pada saya “Apa aku salah bagi-bagi permen dan meminta mereka untuk sejenak sabar tidak memakannya?”

Saya diam cukup lama. (*Saya bingung mau ngomong apa*)

Lalu menjawab tanpa pretensi apapun, “Menurut kepercayaan saya, kita masih bisa bertanya-tanya soal eksistensi agama, tuhan, malaikat, api neraka dan bla-bla-bla yang menyertainya. Faith is a gift that we have yet to receive. Sedangkan benci… Menurut saya, benci itu nyata dan dapat membakar setiap manusia kapan saja. Menurut kepercayaan saya pula… Kamu melakukan sesuatu yang seharusnya kamu lakukan”

Saya mengutip Langdon.

Entah benar entah salah. Entah kacamata siapa yang dipakai untuk menilai kalimat tersebut. Saya tidak begitu peduli. Saya hanya ingin menghibur hatinya dengan kalimat jujur yang datang dari hati saya. (Walaupun tentu saja tidak seorisinil Dan Brown).

Ia diam setelahnya. Terlihat wajahnya sedikit lega.

Maka ketika cerita ini usai, suatu sore saya bertemu teman lama. Sudah lama tidak jumpa dan kini ia menjadi seorang pejabat publik di negara republik tercinta. Sore itu, pada jamuan minum teh saya ceritakan kisah ini kepadanya.

Ia kaget. Shock. Menatap saya sambil berkata, “Saya nggak nyangka kalo ternyata kamu atheis”

This entry was posted in bangaip, Orang Indonesia, sehari-hari and tagged , , . Bookmark the permalink.

7 Responses to Atheis

  1. hedi says:

    Saya ga tahu bang apakah keliru tidak punya agama atau hanya agnostic saja. Beberapa kawan bule saya mengaku Kristen, tapi tak pernah ke gereja. Bahkan waktu saya sempet ibadah minggu di Jerman, jemaatnya 95 persen kakek dan nenek. Seorang jemaat di sebelah tanya saya kenapa anda masih muda sudah rajin ke gereja? saya cuma jawab warum nicht dan tersenyum (berasa jadi orang Aria) hahaha

    Tapi yang saya tahu orang2 itu malah humanis, jauh lebih humanis dari umat beragama. Di San Fransisco ada keluarga yang membiarkan rumahnya tak dikunci saat sedang bepergian ke luar negeri. Maksudnya untuk jaga-jaga kalo ada orang kemaleman dan nyasar, biar bisa tidur di rumahnya.

    Atau bagaimana humanisnya sejumlah orang Amerika — dari tua sampai anak TK — ketika ada bencana tsunami Aceh dengan menggalang donasi sangat besar. Ada teman saya yang ngajar di TK sana bilang muridnya paling sedikit nyumbang 5 dolar.

    Kadang-kadang saya jadi bingun kalo lihat praktek2 itu:D

    –0–

    Iya Mas Hedi. Hati manusia itu katanya lebih luas dari samudra (walaupun ada juga yang penuh badai, hehe).

  2. The Bitch says:

    sama, maz hed. saya juga heran. kadang yg dituduh nggak beragama malah lebih sayang sama sesama manusia daripada yg teriak2 dirinya punya tuhan.

  3. omnoba says:

    (maaf bang aip kalo tanggapan saya tidak sesuai etika hehehe. tolong dihapus mas ato diedit kalo agak gimana githu, harap maklum mas, masih belum tau tata krama kasih koment^^)

    saya setuju dengan statement bang aip

    “Menurut saya, benci itu nyata dan dapat membakar setiap manusia kapan saja. ”

    emang betul mas, kebencian itu adalah hal universal yang dilarang oleh setiap ajaran, dan tindakan dari isrinya mas itu tepat sekali. aku pernah mengajar dan emang agak batin kalo ketemu dengan yang begituan (syukur cuma part time^^). menurut aku sebagai guru mereka dituntut netral dan harus mampu mendidik. parahnya sebagian besar orang tua telah menyerahkan tugas mendidik itu pada guru. lebih kagok lagi tugas mereka…

    tapi bang, saya kurang setuju dengan statement di dan brown “faith is gift i’ve yet to receive”.

    humanis adalah pilihan tapi iman juga adalah pilihan dimana kita harus memilih apakah kita mau menerima iman atau tidak. menurut aku si harus sedikit dimodifikasi “faith is a gift i’ve yet to choose”

    @mas hedi
    saya setuju mas hedi. menurut saya kristen itu menuntut “Buah” dan harusnya kita mengenali pengikutnya dari “buahnya” bukan dari ktpnya.

    –0–

    Terimakasih atas komentarnya Omnoba :)

  4. Pingback: The Words « A Journal of A Not-Superman Human

  5. mbelGedez™ says:

    .
    Duh, susah omong Bang…

    Pokoke I know what you mean, lah…

    –0–

    Makasih Mas Mbel

  6. sufehmi says:

    Hehe… beberapa hari yang lalu saya barusan berdiskusi topik ini juga di TheJakartaGlobe.com :)

    Ada komentator yang dengan yakinnya mengklaim bahwa jumlah penganut agama selalu makin menurun.

    Maka saya kutip hasil sensus Amerika, yang menunjukkan peningkatan jumlah penganut agama setiap tahunnya.

    Lalu ybs, kembali dengan yakinnya, meng klaim bahwa tidak ada penerima Nobel Sains yang percaya kepada Tuhan.

    Maka saya sampaikan nama penerima Nobel Sains muslim :)
    Juga, Einstein percaya akan adanya sesuatu yang mengatur alam semesta ini; dan beliau menolak arogansi & bigotry para ekstrimis atheis.

    Lalu ybs mengklaim bahwa jilbab itu ada opresi / penindasan terhadap wanita.

    Maka saya sampaikan bahwa istri saya, dan banyak perempuan lainnya, mengenakan jilbab dengan sukarela, dan bangga.
    Bukan karena ditindas atau dipaksa oleh saya :)

    Lalu ybs mulai memelintir statement2 saya :( sampai disini saya sudah kehilangan selera untuk melanjutkan.

    Setuju sekali dengan Bang Aip :

    “….benci itu nyata dan dapat membakar setiap manusia kapan saja”

  7. sufehmi says:

    Oya, ada lagi yang berkomentar bahwa agama & sains itu tidak bisa saling bersanding.

    Saya komentar, bahwa beberapa ratus tahun yang lalu, memang ada anggapan seperti ini.
    Para ilmuwan yang nekat menyampaikan ilmu yang (sepertinya) berlawanan dengan ajaran institusi agama, maka musti siap-siap dituduh sebagai pelaku bid’ah. Dengan kemungkinan hukuman mati.

    Saya lanjutkan dengan harapan bahwa kini situasi tersebut sudah tidak terjadi lagi sekarang. Agama & sains bisa saling eksis pada saat & tempat yang sama. Kawan-kawan kita para ilmuwan & juga beberapa penerima Nobel Sains juga berpendapat sama.

    Pertentangan antara agama & sains itu hanya karena miskomunikasi dan salah paham saja.

    Contoh, di milis Isnet barusan ada yang berkata bahwa hukum “kekekalan” energi itu syirik. Karena, yang kekal itu hanya Allah swt :)
    Saya balas emailnya sambil nyengir miris – saya minta ybs membaca lagi definisi dari “hukum kekekalan energi” dengan baik. Maka dia akan bisa temukan bahwa tidak ada pertentangan antara agama dengan sains disitu :

    http://en.wikipedia.org/wiki/Conservation_of_energy

    (hint: “closed system”)

    Sekarang sudah enggak zaman lah saling konflik itu. Mari kita mulai saling berkolaborasi, untuk kebaikan semuanya :)

Leave a Reply