Selamat Hari Raya

Bulan Juni tahun ini (2009), Ramos Horta secara tidak resmi di sebuah acara makan malam di Paris yang sama sekali tidak resmi, mengumumkan pada sahabat-sahabat dekatnya bahwa Timor Timur akan menggunakan bahasa Indonesia. Saya kaget. Semenjak itu pula saya mau menulis soal hubungan RI dengan Timor Timur yang kelihatannya tambah akrab saja. Tapi entah kenapa, tidak jadi. Bahkan minggu ini pun tulisan itu tidak pula usai. Saya kebingungan. Bukan saja angin politik hubungan internasional East Timor – RI yang ajaib (seperti para founding fathers East Timor yang berkata “Yang lalu biarlah berlalu”), sebab bahkan beberapa sahabat dari Dili pun menolak memberikan bahan data yang menurutnya “Membuka luka lama”.

Beberapa sahabat lama dari Aceh pun berkata hal yang sama ketika saya tanya soal KKR (Komisi Kebenaran dan Rekonsiliasi) Aceh untuk masa DOM (Daerah Operasi Militer). Entah kenapa?

Akhir-akhir ini memang ramai (*semoga hanya trend sesaat yang kurang dari 68%*) untuk melupakan apa yang dahulu pernah terjadi. Pemilihan Umum orang nomor satu di RI yang terjadi belum lama lalu adalah contoh gamblang yang jelas. Betapa kekuatan media (dan tentu saja stamina kampanye dan pundi-pundi uang yang menyertainya) mampu menganulir imaji seorang tukang culik menjadi bintang iklan yang layak di pilih. Bahkan hingga seorang pemirsa ada yang berkomentar “Demi keamanan negara dia bebas-bebas aja sih”.

(*Keamanan negara my as*. Kalau yang diculik bapak moyangnya, anaknya, atau sanak keluarganya. Apa ia masih mau ngomong hal yang sama, seperti; “Nggak papa. Culik aja nih ibu gua. Silahkeun…”*)

Menarik bukan? Melupakan apa yang pernah terjadi.

Lupa itu penting. Katanya, pasien PSDT (Posttraumatic Stress Disorder) dapat melakukan tindakan fatal pada bagian tubuh vital apabila tidak berhasil melupakan trauma yang diidapnya. Contohnya veteran perang Amerika yang terjebak mengkonsumsi pil penenang akibat tidak kuat dihantui oleh tindakan yang pernah dilakukannya dalam membantai orang Vietnam. Ia jadi pasien, karena tidak bisa lupa.

Lah kalau gampang lupa, apa namanya? Pikun?

Masak sih pikun satu propinsi? Masak sih senegara bisa pikun semuanya?

(*Kalau iya, ini pasti menarik sekali dibuat sinetron. Judulnya “Pikunilah Aku Untuk Selamanya”. – Saya sudah kasih panduan judul, silahkan cari sendiri theme song nya. Hehe*)

Maka itu kali ini, mari kita bicara lupa sebentar.

Lupa adalah hal yang manusiawi. Karena otak manusia bukan mesin perekam yang bisa diputar ulang seenaknya, maka fenomena lupa dapat terjadi pada semua manusia.

Mengapa kita bisa lupa? Ini ada beberapa teori yang menjelaskan mengapa manusia lupa;

  1. Kegagalan Memori
    Salah satu penyebab umum lupa adalah ketidakmampuan untuk mengambil memori. Salah satu penjelasannya dikenal sebagai teori peluruhan. Menurut teori ini, jejak memori dibuat setiap kali sebuah ingatan baru terbentuk. Teori peluruhan menunjukkan bahwa dari waktu ke waktu, jejak ingatan ini mulai memudar, luruh dan menghilang. Jika informasi ini tidak diambil dan dilatih, maka akhirnya akan hilang.
  2. Gangguan
    Penjelasan pada bagian ini dikenal sebagai teori interferensi. Ketika beberapa kenangan bersaing dan mengganggu dengan kenangan lainnya. Jika sebuah informasi sangat mirip dengan informasi lain yang telah ada sebelumnya disimpan dalam memori, maka interferensi lebih mungkin terjadi. Ada dua jenis dasar gangguan:

    1. Gangguan proaktif: adalah ketika memori menjadi tua sehingga menjadikannya lebih sulit atau tidak mungkin untuk mengingat memori yang baru. Seperti pikun misalnya.
    2. Gangguan retroaktif: Berlaku ketika informasi baru bertabrakan dengan kemampuan mengingat informasi yang lama. Contohnya adalah ketika siswa rata-rata belajar rumus matematika, kimia dan fisika di saat yang hampir bersamaan.
  3. Kegagalan Penyimpanan
    Sebenarnya kita juga sering mengalami kegagalam menyimpan informasi karena otak kita tidak pernah benar-benar berhasil memasukkam memori tertentu ke penyimpanan memori jangka panjang. Dalam salah satu eksperimen terkenal di Amerika Serikat (Nickerson & Adams), beberapa peneliti meminta peserta untuk mengidentifikasi mata uang koin sen AS yang asli dan yang palsu. Hasilnya mengejutkan. (*Anda bisa coba sendiri. Kalau anda punya uang koin, maka coba tariklah koin itu dari saku. Amati sebentar sebagaimana anda melihat koin pada umumnya. Simpan lagi. Lalu gambar di atas kertas. Kemudian bandingkan hasilnya dengan uang logam koin sebenarnya*)
  4. Motivasi Untuk Melupakan
    Kadang-kadang, kita dapat secara aktif bekerja untuk melupakan kenangan, khususnya peristiwa traumatis yang mengganggu atau pengalaman buruk. Dua bentuk dasar termotivasi untuk lupa adalah: Supresi, sebuah bentuk sadar melupakan, dan Represi, sebuah bentuk tidak sadar atas lupa.

Berikut ini adalah beberapa contoh dari lupa;

Ada beberapa kejadian dalam hidup memang yang tidak bisa dilupakan. Seperti yang dialami oleh seorang Profesor Universitas California US bernama Elizabeth F Loftus dalam bukunya, menuliskan trauma terhadap baby-sitter yang dialaminya ketika kecil

Sepuluh jam setelahnya… saya kecapaian namun tak dapat tidur, terlalu letih untuk menarik diri saya kembali ke masa kini atau bermimpi mengenai masa depan, disedot oleh kenyataan yang telah terjadi di ranjang orang tua saya ketika Howard, sang baby-sitter mengkhianati seluruh kepercayaan saya, mencuri kegadisan saya dan meninggalkan tanda yang tak pernah hilang, sebuah ingatan yang hitam menakutkan pada masa di mana kebaikan, kehangatan dan keindahan seharusnya ada.

Sejak itu Elizabeth tidak pernah lupa. Dan mungkin tak akan lupa untuk selamanya.

Satu lagi sebaliknya. Leonore Terr, seorang psikiater yang cukup dikenal dengan buku dan penelitiannya pernah menulis mengenai salah seorang pasiennya yang bernama Patricia Webb. Patricia adalah contoh kasus yang menarik. Ia tiba-tiba menjadi amnesia ketika suatu siang memergoki suaminya bersenggama dengan wanita tetangga. Setelah itu bahkan ia tidak ingat apakah ibunya masih hidup atau tidak.

Waktu saya bawa cerita ini ke sebuah milis tertutup, seorang teman WNI yang dekat Horta bicara “Nggak perlu bersenggama sama istri tetangga buat amnesia. Kalau perbatasan di distrik Bobonaro dipencet ama kita, timtim bisa megap-megap, Rip.”

Oooh, saya termangu membacanya.

Mungkin ada baiknya Lenore di bawa ke Indonesia. Supaya bisa meneliti kenapa banyak orang mudah lupa. Sebab ternyata ada teori baru muncul ke permukaan; gara-gara perut, orang bisa amnesia.

Ahh masak sih gara-gara perut saja?

Hari raya juga katanya bisa bikin orang lupa loh. 😀

(*Selamat Lebaran. Selamat mudik. Selamat berakhir pekan*)

This entry was posted in Orang Indonesia, Republik Indonesia. Bookmark the permalink.

14 Responses to Selamat Hari Raya

  1. hedi says:

    maap bang, saya mau tanya…dalam kasus kekerasan di masa lalu (yang katanya melanggar HAM segala) selalu dilakukan oleh negara. Lalu dalam tuntutan ke hukum, siapa yg harus diadili; eksekutor atau aktor intelektual, presiden atau siapa? Saya bener-bener buta soal ini.

    Andai presiden sebagai pimpinan tertinggi negara harus bertanggung jawab, berarti akan ada kekisruhan politik, setidaknya ada peralihan kekuasaan. Ruwet dong ya :(

    –0–

    Saya sendiri tidak begitu ahli dalam issue ini, Mas Hedi. Tapi saya coba jawab sebaik-baiknya sesuai dengan beberapa pengalaman yang pernah saya dapat.

    Apabila topiknya adalah “dalam kasus kekerasan masa lalu, siapa yang harus diadili?”

    Maka jawabannya:

    1. Apabila mengacu pada hukum siapa yang kuat dialah undang-undang, maka akan terjadi balas dendam terhadap mayoritas pelaku kejahatan masa lalu. Kasus terkini adalah Darfur, Sudan, Afrika. Dahulu, Berti adalah suku Non-Arab yang paling berkuasa di Sudan. Mereka banyak melakukan kekerasan dan kejahatan perang masa lalu ketika masih berkuasa. Namun ketika akhirnya kekuasaan mereka tumbang digantikan suku keturunan Arab maka suku-suku Arab yang pernah mereka kerasi, menuntut balas. Diantaranya bahkan mengutus Janjaweed, salah satu suku keturunan Arab yang ahli berperang di medan padang pasir. Dalam kasus ini, yang diadili oleh Janjaweed bukan hanya mereka dari suku Berti yang pernah berkuasa. Melainkan semua suku Berti harus menerima balasannya. Sebab Janjaweed merasa bahwa dahulu mereka tidak melakukan apa-apa ketika saudara sesukunya menzalimi suku lain. Dalam kasus ini, pengadilan berubah menjadi genosida.

    2. Apabila mengacu pada hukum internasional, maka pemimpin negara sebagai kepala institusi tertinggi yang akan diminta pertanggungjawabannya pada ICC (International Crime Court) di The Hague. Beberapa kasus yang terkenal adalah:

    1. Perang Teluk; yaitu ketika bukan hanya Saddam Husein yang diminta pertanggungjawabannya atas kejahatan perang pada suku Kurdi di tahun 80-an. Melainkan juga keluarganya, bahkan hingga menantunya. Dalam kasus Irak, kekuasaan dibagi-bagi dalam struktur kekeluargaan. Jadi siapa pemegang kekuasaan, dia yang harus bertanggung jawab. Pada akhirnya, Saddam sendiri diekstradisi dan di hukum gantung di Irak karena terekam dalam pembunuhan 20-an orang dari suku Kurdi ketika ia masih berdinas di militer dahulu. Ia di dakwa karena pembunuhan.
    2. Pembantaian Srebrenica; Di kasus ini Slobodan Milošević menjadi tokoh utama yang diadili. Karena ia, dibawah wewenangnya sebagai Pemimpin tertinggi Serbia dan bekas Republik Yugoslavia ini mengetahui bahwa akan ada pembantaian bagi warga muslim Bosnia dan menyetujui aksi tersebut. Dalam kasus Milošević, hanya ia yang dibawa ke pengadilan perang internasional. Beberapa pelaku eksekutor lapangan, apabila terbukti bersalah dan tertangkap maka di adili secara terpisah di beberapa negara. Sebab umumnya mereka kabur dari Serbia. Di beberapa negara pengadilan baru bisa dilakukan apabila ada tuntutan. Namun sepengetahuan saya di Amerika Serikat, Argentina dan Australia, pengadilan terhadap pelaku kejahatan Srebrenica bisa langsung dilakukan.
    3. CAVR Timor-Leste; Ini adalah Komisi Kebenaran dan Rekonsiliasi untuk Timor Leste. Dalam film Passabe, kita dapat melihat bahwa ada proses saling memaafkan dalam proses rekonsiliasi dan kebenaran antar warga Timor Leste sendiri. Bagi kasus yang berat, seperti pembantaian yang dilakukan oleh Martenus Bere mendapatkan hukuman (yang disangsikan keadilannya) di lembaga pemasyarakatan. Tulisan Leslie Evans di sini mungkin bisa lebih menjelaskan mengenai proses di negara tetangga kita itu

    Saya mohon maaf Mas hedi apabila tidak terlalu detil dan mendalam jawabannya. Semoga ada gunanya.

  2. Jardeeq says:

    Lupa dan ingat sering terbalik ya bang?
    Melupakan sesuatu yang ingin kita ingat. Mengingat sesuatu yang ingin dilupakan. Contohnya..
    Sama sekali nggak bisa inget kaedah kalkulus itu…. T_T

  3. guh says:

    Melupakan masa lalu, melupakan sejarah memang bikin hati tenang bang.
    Apalagi kalau bisa tidak belajar apapun darinya, maka dengan perasaan ringan kita bisa terus mengulangi kesalahan yang sama. Lagi dan lagi dan lagi…

  4. Alex Aceh says:

    @ Guh ;
    Dalam bingkai NKRI dan di bawah selangkangan Garuda Pancasila, amnesia sejarah adalah keharusan yg bisa dimaklumi pengagung nasionalisme, bukan begitu, Guh? :)
    Ah ya, aku ingat pernah dpt coretan teman (ingat?) di FB-ku dulu, “Semoga kita tetap bersama di Indonesia” setelah beliau curiga dgn gejolak desentralisasi di Aceh, dan aku komplen tentang pukimaknya Indonesia berpusat Jakarta ini mempermainkan janji utk Aceh. Ternyata, antara WNI nasionalis dan umat fanatik, bisa sama taqlidnya, Guh :))

  5. Alex Aceh says:

    @ Bang Aip
    Aku ingat waktu Tika mengabarkan Bang Aip sama2 nonton film Nessen di Jakarta, dan berniat membawanya ke Aceh. FYI, film itu kami tonton dgn sembunyi2 2 tahunan alu paska MoU di sini, krn congor aparat-preman-dan saudagar nampang di baliho2 perdamaian dgn tulisan “Mari lupakan masa lalu.” Ada kutulis kegeraman pada pikun sejarah negeri ini di politikana, tentang KKR Aceh. Kami yg bertanya, dianggap merusak damai, seakan damai wajib menjadi pikun macam keledai yg mengulang polah dungu yg sama.

  6. adipati kademangan says:

    Idul Fitri dan mudik bisa melupakan sejenak aktivitas sehari-hari. Berkumpul dengan keluarga tanpa rasa khawatir telepon berdering menanyakan progressnya sudah sampai di mana. Selamat Idul Fitri, mohon maaf lahir batin, Semoga Allah menjadikan kita orang-orang yang kembali (kepada fitri)

    –0–

    Amiin. Maaf lahir batin juga, Adipati

  7. Fortynine says:

    Mohon maaf kalau terkesan tidak nyambung dengan isi postingan.

    Menurut saya yang awam ini, bangsa ini sejak terbentuk oleh rejim orde baru sebenarnya sudah terbiasa untuk diajarkan lupa. Lupa bahwasanya Indonesia (kalau mengacu pada kekuasaan Majapahit) tidaklah sesempit sekarang.

    Lupa bahwasanya Bung Karno punya banyak jasa, atau malah Bung karno punya banyak dosa

    dan lupa, bahwasanya penduduk asli tertua kepulauan Nusantara itu siapa dan di pulau mana? di pulau Kalimantan? di pulau Sumatra? di pulau Sulawesi? di pulau Papua? atau di pulau Jawa? atau malahan di pulau tak bernama dan sudah terlanjur terjual kepada negara lain?.

    Yang terakhir ini entah lupa atau dilupakan atau memang tak pernah dimunculkan. Yang jelas, dengan Jawanisasi dan sentralisasi Indonesia seperti sekarang ini, saya hanya ingin bertanya kepada yang mungkin masih ingat, atau mempu mengingatkan, siapa sebenarnya penduduk asli Indonesia?

    Siapa atau di pulau mana dari keseluruhan Nusantara sekarang ini, kebudayaan pertama kali tercipta?

    Tebakan saya berdasarkan literatur terbatas adalah: Kalimantan atau Papua. dan kalau ini benar, layakkah dua Pulau yang masuk 5 besar pulau terbesar di dunia dan bahkan 2 besar dunia pulau terkaya di dunia dalam urusan Sumber Daya Alam menjadi pesakitan yang isi perut alamnya dirampok seperti sekarang ini? Pulau pulau yang dilempari manusia manusia sekarat dari pulau lain yang kemudian tumbuh dan berkembang menjadi parasit yang membunuh manusia manusia penduduk asli pulau?

    Maaf kalau tendensius, emosional, one sided, sok tahu dan sebagainya….. Terima kasih jikalau komentar ini tetap bertahan seaslinya….

  8. guh says:

    @Alex, iya, saya pernah jadi fanatik keduanya, dari fanatik agama ke fanatik nasionalis, entah nanti apa lagi. Untuk jadi fanatik kita memang tidak boleh tahu dan bertanya terlalu banyak, hanya perlu yakin blindfaith dan percaya pada apa kata sang pemimpin.
    Tapi sampai sekarang saya masih yakin, setidaknya untuk kenyamanan perut dan selangkangan saya pribadi, kita semua masih perlu bersatu dalam Indonesia.
    Sekedar untuk menghindari keadaan yang lebih mengerikan.

    @Bangaip, ada bahasan yang lebih dalam dan terarah ga? Ini tulisan ngucapin selamat hari raya aja basa-basinya terlalu berat 😛 (atau justru selamatnya yg jd basabasi?) Hehe. Saya sampai lupa mengucapkan selamat.
    Selamat hari raya Idul Fitri Bang :)

    @49, sepertinya ga terlalu penting siapa yang penduduk asli. Bukan karena saya takut diusir dari lampung atau bogor lho, nyatanya kita semua sudah lama lahir, berak dan cari makan disini. Budaya pun tidak perlu dibatukan, biarkan tetap berubah dan berkembang.
    Tapi kalau pendatang dan budaya yang dia impor memang membuat kita jadi lebih terbelakang, ya itu pantas ditolak. Sejauh kesoktahuan saya, leluhur kita memang sudah cukup beradab, tak perlu ditakuti pakai neraka hanya untuk bersih-bersih badan atau untuk tidak makan bangkai. Tidak perlu diperintah ayat sok suci hanya untuk tidak menikahi ibu dan adik sendiri. Kalau kemudian ada orang-orang datang dan ngecap leluhur kita kafir primitip penyembah berhala lalu memaksakan aturan-aturan gila yang mengada-ada, itu baru perlu diajari sopan santun. Maaf kalo responnya juga kurang nyambung 😛

  9. bangaip says:

    @Jardeeq: Hehe, lupa dan ingat itu manusiawi. Termasuk lupa kalkulus. Hehe. Tapi katanya (bukan kata saya loh) kenangan pahit itu lebih sering muncul ke permukaan apabila dipicu oleh kondisi tertentu. Maka saran saya, jangan compiling C++ kalau tidak mau ingat kalkulus lagi :)

    @Guh: Iya Mas Teguh, maap ini saya tega banget menunggangi momen hari raya yang seharusnya bermaaf-maafan dan melupakan dosa dengan menulis yang (katanya) berat-berat begini. Hehe. Anyway, selamat hari raya juga, Mas Teguh :)

    @49: Rid, maafkeun saya euy sebelumnya. Pertama tanpa niatan buruk sedikitpun, setahu saya, pertanyaan terhadap eksistensi keaslian penduduk asli itu saat ini dianggap sebagai benih-benih fasisme. Contohnya “Bali hanya untuk orang Bali”, “Papua only for Papuans” adalah konsep yang hampir mirip dengan “Islam hanyalah Salafi”. Baru saja saya makan siang dengan beberapa teman membicarakan partai politik fasis di UK dan Belanda yang menjadikan islam sebagai sasaran tembak. Salah satu munculnya parpol-parpol ajaib itu memang dipicu dari krisis ekonomi terbaru yang melanda dunia ini. Mirip NAZI pada WW II terhadap yahudi.
    Yang kedua, saya setuju soal perampokan terhadap Kalimantan. Saya yakin, andai pulau yang kamu cintai ini tidak dirampok ‘JKT’, tentu kamu tidak akan patah hati melihat kondisi negeri ini. Jangankan kamu, saya saja patah hati melihat perampokan ini.

    @Alex: Soal pemutaran film Tengku Billy, :) Nantikan serial 7KC berikutnya Lex. Ada saya bahas nanti soal pemutaran film itu dan apa yang terjadi dibaliknya. Beberapa orang bukan saja mencoba pura-pura lupa mematikan ingatan. Bahkan diantaranya ada yang benci jika korban meminta keadilan. Semuanya kata beliau adalah ‘Atas Nama Perdamaian’. (*Loh kok saya jadi promosi posting begini, hihihi*)

  10. Fortynine says:

    Apakah ini artinya orang yang bertanya soal itu bisa dianggap pemberontak? atau sekalian dianggap makar, membahayakan negara dan ideologi pancasila? Hmmm……mungkin saya memang masih terlalu dangkal untuk berfikir.

    Oh iya, sebagai salah satu contoh perampokan besar besaran di Kalimantan adalah ketika Gubernur Kalimantan Selatan bahkan tak berdaya membekukan dan memberikan tindakan tegas kepada sebuah perusahaan tambang yang memiliki lisensi dari pusat. Meskipun akhirnya perusahaan tersebut dinyatakan siap ditutup dan tambangnya “diwakafkan” kepada pemerintah lokal, namun mereka meninggalkan sisa berupa debu dan tanah dari kumpulan batu mulia yang sudah bisa membuat mereka hidup makmur paling tidak 2 turunan atau bahkan lebih

    Belum lagi batubara… ah sudahlah, susah kalau membicarakan soal emas hitam yang satu ini.

  11. bangaip says:

    @49: Ah maaf Rid, mungkin saya yang terlalu berpretensi bahwa topik yang tengah diambil adalah masalah integrasi dengan mengambil contoh kalimat “pulau yang dilempari manusia manusia sekarat dari pulau lain yang kemudian tumbuh dan berkembang menjadi parasit yang membunuh manusia manusia penduduk asli pulau?”

    Sebenarnya, memang tidak ada hubungannya dalam topik tulisan kali ini. Karena topik kali ini adalah perilaku ritual kadang digunakan oleh oknum dalam menghindari tanggung jawab terhadap sesuatu yang pernah mereka lakukan dahulu. (*Diantaranya adalah para penjahat yang tangannya masih berlumuran darah dan selalu tersenyum lebar berbaju koko di hari raya. Open house bagi-bagi angpaw . Seakan amplop berisi lima puluh ribu rupiah itu sanggup menggantikan nyawa-nyawa manusia yang dia hilangkan seenaknya*)

    Tapi saya coba jawab semampu dan sekuat saya mengenai pertanyaan kamu di atas :)

    Soal integrasi memang menjadi bagian yang cukup serius di beberapa wilayah RI. Beberapa konflik horizontal di RI dapat dikategorikan sebagai ketidakmampuan dalam pelaku konflik dalam memahami budaya lokal. Kadang-kadang memang konflik horizontal salah satunya dipicu oleh masalah integrasi ini. Salah satu asumsi serampangan saya adalah konflik Sambas yang terjadi antara pendatang dengan lokal.

    Akan lebih baik jika antara warga pendatang dengan lokal sama-sama bahu membahu membenahi masalah yang timbul diantara mereka. Untuk menghindari terjadinya konflik berdarah.

    Kalau tidak salah, mengutip terhadap konflik yang pernah terjadi di beberapa pulau Maluku. Ada diantaranya disebabkan karena masalah integrasi tersebut. Tentu saja tidak akan ada istilah BBM (Buton Bugis Makassar) yang memicu sentimen kesukuan (dan lalu keagamaan dsb) apabila integrasi berjalan dengan baik.

    Saya pribadi memandang apa yang terjadi pada hutan dan perut bumi Kalimantan adalah perampokan, karena memang begitu adanya di mata saya yang subjektif ini. Isi rimba memang dijarah seenaknya. Dan pelakunya, tentu saja para birokrat yang diangkat Jakarta (sebagai wakil pemerintahan). Dan sialnya, memang birokrasi di beberapa daerah di Kalimantan dikuasai oleh suku tertentu. Sehingga memicu lagi sentimen kesukuan.

    Namun, sekali lagi, saya yakin bahwa Farid disini tidak mencoba untuk menggeneralisasi sebuah suku atau kelompok manusia tertentu sebagai ‘manusia sekarat yang menjadi parasit’. Sebab generalisasi tersebut dapat memicu kita ke jurang pecahnya integrasi yang lebih dalam.

    Am I? Atau saya yang malah sok tahu nih disini? Pura-pura tahu pertanyaan Farid? hehehe. BTW, saya amat ingin mendengar opini Farid mengenai hal ini.

    Kalau pertanyaannya adalah “Apakah ini artinya orang yang bertanya soal itu bisa dianggap pemberontak? atau sekalian dianggap makar, membahayakan negara dan ideologi pancasila?”

    Well, jawabnya… Berbahagialah Rid masih punya hati, keberanian dan nurani untuk bertanya. Sebab bertanya adalah proses awal dari bagian yang baik dalam proses melawan amnesia kolektif terhadap kejahatan.

    Mengenai pancasila, saya mohon maaf. Saya tidak menguasai hal tersebut. Saya pikir ada baiknya jika saya tidak banyak menjawab sesuatu yang tidak saya kuasai. Mungkin ada pengunjung disini yang ahli pancasila, silahkan berbagi.

    Semoga jawabannya berguna. Apabila masih ada yang kurang silahkan ditambahkan.

  12. nita says:

    bang aip,

    selamat hari raya indul fitri, mohon maaf lahir dan bathin.
    kusjes voor jouw dochtertje en groetjes voor ibu nyonyah.

    salam,
    nita

    –0–

    Maaf lahir batin juga, Mbak.
    Salam untuk seluruh keluarga :)

  13. Fortynine says:

    Karena topik kali ini adalah perilaku ritual kadang digunakan oleh oknum dalam menghindari tanggung jawab terhadap sesuatu yang pernah mereka lakukan dahulu. (*Diantaranya adalah para penjahat yang tangannya masih berlumuran darah dan selalu tersenyum lebar berbaju koko di hari raya. Open house bagi-bagi angpaw . Seakan amplop berisi lima puluh ribu rupiah itu sanggup menggantikan nyawa-nyawa manusia yang dia hilangkan seenaknya*)

    Hal yang saya coba mirip miripkan dan dikait kaitkan adalah ketika mereka mereka yang menjarah Pulau kaya ini at least turut serta dalam kebijaksanaan perampokan pulau, datang memuja muji sebagai pulau yang maju, berpotensi, bla bla bla. Seolah olah apa yang mereka bijaksana’i sebagai perampokan itu adalah untuk kemajuan daerah. Tapi ini tentu saja oknum. Bukan keseluruhan.

    Soal “pulau yang dilempari manusia manusia sekarat dari pulau lain yang kemudian tumbuh dan berkembang menjadi parasit yang membunuh manusia manusia penduduk asli pulau?”. Dengan memohon maaf yang sebesar besarnya, inilah kasus Sampit! Pure soal warna kulit dan lidah, tanpa ada setetespun menyoal keagamaan.

    Tanpa berniat menggeneralisir pula, dan dengan segala maaf pula, di banyak bagian pulau Kalimantan, banyak penduduk asli yang terpinggirkan. Banyak pendatang yang malas dan bahkan tidak mau belajar bahasa dan budaya daerah, dan sialnya lagi, di beberapa titik mereka ini menjadi pejabat daerah dengan posisi penting.

    Hal yang sama terjadi pula di beberapa BUMN dan tentu saja di kesatuan militer dan kepolisian, dimana pegawai pegawainya dan pasukannya adalah ‘orang asing’ yang tidak bisa dan tidak mengerti bahasa dan budaya daerah, mulai dari yang berkedudukan dan berpangkat rendah hingga komandan dan kepala bagian.

    Maksud dan keinginan saya, kalau memang masih merasa warga negara Indonesia, hormatilah pepatah “di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung”. Siapa saja, dari pulau mana saja, silakan datang ke sini, jangan lupa belajar budaya dan bahasa lokal. Dan jikalau anda seorang juragan atau yang berkedudukan jangan mengambil pegawai atau anak buah dari luar, di pulau ini masih banyak penganggur.

    Kalaupun alasannya mereka tidak kompetiif, itu cuma karena malas mencari dan sudah sentimen kedaerahan duluan, bukan karena kenyataan.

    Berbahagialah Rid masih punya hati, keberanian dan nurani untuk bertanya. Sebab bertanya adalah proses awal dari bagian yang baik dalam proses melawan amnesia kolektif terhadap kejahatan.

    Terima kasih, termasuk juga jikalau saya dapat jawaban dari pertanyaan siapa dan di mana kebudayaan pertama di Nusantara hadir, saya akan berbangga hati, karena bangsa ini tidak lupa siapa nenek moyangnya.

    Untuk diketahui, saya sendiri bukan keturunan asli Kalimantan. Kakek saya masih ada darah keturunan dari Pulau lain, namun setahu saya, beliau adalah orang yang sangat mencintai Kalimantan dan berjuang untuk Kalimantan Selatan, tempat tinggal saya sekarang. Beliau menjalankan dengan baik pepatah “di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung”. Tidak merasa dirinya orang asing, namun membaur dengan warga dan kebudayaan lokal.

    Demikian kira kira opini dangkal saya.

  14. bangaip says:

    @49: Saya sempat mendengar (walaupun ini belum saya konfirmasi kepastiannya) bagian

    Hal yang sama terjadi pula di beberapa BUMN dan tentu saja di kesatuan militer dan kepolisian, dimana pegawai pegawainya dan pasukannya adalah ‘orang asing’ yang tidak bisa dan tidak mengerti bahasa dan budaya daerah,

    dapat dikonfirmasi di museum polisi/brimob Singkawang. Bukan staff museumnya loh :D. Tapi dari bukti peninggalan isi museumnya, beberapa orang bilang bahwa dapat membuktikan kalimat quote kamu itu. (*intinya: sudah berlangsung lama. Katanya bukti-bukti itu sudah ada dari tahun 70-an. Wow! Ajaib*)
    Saya coba suatu hari nanti kalau ada waktu untuk riset khusus sebelum menulis posting soal kalimantan. Tapi kalau tiba-tiba kamu sudah sukses duluan dalam mendapatkan bahan dan lalu posting di blog, mohon ping saya yaa 😉

Leave a Reply