Setia Itu Alami. Tapi Setia Pada Satu Wanita Itu Jelas Bukan Kodrat Lelaki Sejati

Waktu datang dan berkunjung ke Indonesia awal tahun 2009 untuk ziarah, banyak rekan-rekan blogger dan bahkan teman-teman lama saya tanya, “Rip, kerja apa sekarang?”

Jangankan mereka, adik saya pun sempat bertanya yang sama.

Saya bingung jawabnya. Kalau diterangkan, maka akan detail, panjang dan membosankan. Kalau dipersingkat.., bingung cari singkatannya. Maka demi rasa aman dan bahagia sementara, saya jawab saja, “Pelayan biasa”.

Saya memang pelayan. Mungkin sudah nasib saya dilahirkan jadi pelayan. Kemana-mana dan dimana-mana tetap saja jadi pelayan.

Setiap hari, pukul 1800 hingga 0800 saya melayani keluarga. Mulai dari mengantar belanja istri, ganti popok-memandikan-mendongeng untuk anak, buang sampah, beres-beres mainan anak yang berserakan dan lain-lainnya terkerjakan sebagai bagian rutinitas kehidupan domestikasi.

Pukul 0800 hingga 1800, saya baktikan waktu untuk melayani manusia dari berbagai penjuru dunia. Ada yang minta dibuatkan majalah, website, film animasi, press release dan lain sebagainya untuk mengiklankan produk dan pekerjaan mereka. Bahkan kadang ada rombongan mahasiswa ramai-ramai minta diajari bagaimana caranya.

Namun sebagaimana kegiatan pelayanan, pasti ada plus minusnya. Dan sebagaimana penilaian (yang memakai plus minus sebagai acuan) tentu saja melihatnya harus pakai kacamata yang objektif.

Sayang sekali, dalam hal ini saya tidak mampu bersifat objektif.

Melayani keluarga, kalau dihitung dari sisi materi, yaa jelas tidak menghasilkan uang. Saya belum cukup gila dan mata duitan, setiap mengantar istri belanja diambil tarif ojeknya. Atau menghitung berapa jumlah popok yang sudah dipakai anak sehingga ia harus menggantinya bila sudah berumur 18 tahun ke atas nanti. Hahaha.

Subjektifitas saya mengatakan bahwa melayani keluarga akan mendapatkan kepuasan batin yang tak terhingga. Semua letih beban hidup sirna sudah begitu melihat anak istri senyum menyambut di gerbang rumah. Tidak ada cukup uang di dunia ini yang mampu membeli momen ketika bayi kami pertama kali menyapa orangtuanya atau pertama kali jalan menapakkan kaki. Itu mungkin saat-saat terindah yang pernah terjadi dalam hidup saya.

(*Saya bilang subjektif. Sebab saya baru saja berumahtangga. Entah apabila ini telah terjadi bertahun-tahun lamanya. Anak tumbuh besar, kuliah dan lalu pergi mencari dunianya. Masihkah rumah tangga adalah sebenar-benarnya surga batin ketika masih hidup di dunia? Katanya, setelah sepuluh tahun berumah tangga yang bersisa tinggallah perkawinan itu sendiri. Lalu cinta kemana? Ahh, jangan tanya saya.. ;) *)

Beberapa hari lalu, si Aji, seorang teman yang belum menikah, bertanya pada saya “Rip, elo kan manusia tipikal untung rugi..”

Saya bengong sambil cengar-cengir, “Untung rugi? Maksud lo apaan, bro?”

“Lu tuh kan dari dulu maunya untung aja. Dulu pacaran juga gitu. Kalo nyari cewe pasti yang menguntungkan. Lu kan orang betawi Rip. Urat lu urat dagang”

Saya mengakak ketawa habis-habisan. “Maksud lo apaan Ji!”

“Gua mao merit nih Rip. Gimana yaa cara nyari istri biar idup gua nggak susah”

Saya diam. Tidak lagi berhenti tertawa. Kelihatannya Aji cukup serius melontarkan pertanyaan tersebut. “Maksud lo susah? Susah gimana, bro? Lo mau nyari istri yang kaya raya?”

“Bukan men. Gini men maksud gua. Lo kan tau, perempuan itu maunya diperhatiin. Suka cemburuan. Dan maunya dia lah yang jadi pusat perhatian sedunia akherat. Nah gua nggak kepengen tuh yang kayak gitu. Gua pengen nyari istri yang nggak masalah kalo gua kerja lembur ampe di luar kota di akhir pekan”

“Itu mah gampang. Tanyain aja ama perempuan yang mao lu jadiin istri. Mao nggak dia di ajak begituan?”

“Kebanyakan nggak mau men. Maunya tuh perempuan-perempuan di ajak jalan-jalan kalo weekend. Ada sih yang bilang mao, tapi dia nanya balik, boleh ga dia lembur juga weekend di luar kota ama rekan-rekan kerjanya yang kebanyakan cowok”

“Trus lu jawab apa?”

“Ahh gila luh. Gitu aja pake nanya. Yaa gua jawab nggak boleh lah. Itu kan bukan kodratnya istri”

“Lah emang kodrat istri apaan?”

“Kodrat istri yaaa nurut ama suami!”

Saya mau debat panjang soal kalimat terakhirnya. Soal kodrat istri. Kodrat perempuan. Apa itu maksudnya? Sejak kapan pria berhak menetapkan kodrat wanita?

Tapi saya yakin, ia sedang kebingungan dan dalam dilema. Mau nikah… Tapi takut.

Daripada saya takut-takuti. Lebih baik saya cerita sedikit soal kehidupan rumah tangga yang saya jalani.

Tapi sebelumnya, jelas saya mau bicara sedikit soal waktu yang saya pergunakan setiap minggu selama empat hari antara pukul 0800 hingga 1800. Waktu dimana saya harus berada di sebuah tempat. Bukan di rumah. Melainkan di tempat bekerja, untuk bekerja dan berinteraksi dengan temen-teman kerja.

Ketika di sana, saya melayani kepentingan orang-orang dari seluruh penjuru dunia.

Melayani kepentingan orang dari seluruh penjuru dunia itu ternyata tidak semudah yang saya bayangkan dahulu ketika sebelum menerima amanah ini.

Sebelum mendapatkan promosi (pasca diberitahu akan ada promosi naik jabatan) saya sering nih petantang-petenteng. Tidak tahu malu. Cerita-cerita pada orang banyak, bahwa saya tidak lagi akan menguasai satu pasar negara saja, melainkan juga pasar Eropa Barat. Sombong. Sok menganggap diri ahli bagaimana cara memasarkan barang pada manusia-manusia di seluruh Eropa Barat.

Lalu waktupun berlalu. Saya kerja pontang-panting bahkan melewati batas waktu pukul 1800. Waktu yang semestinya saya limpahkan untuk keluarga, disunat demi harga diri dan sepotong kalimat berjudul ‘ahli pemasaran visual Eropa Barat’. Saya paksa anak dan istri memaklumi hal itu. Mereka harus mengerti. Bahkan ketika akhir pekan saya kecapaian dan tidak bisa jalan-jalan menemani ke kebun binatang. Saya paksa mereka harus mengerti.

Zalim? Iya, saya zalim pada keluarga. Semena-mena mengambil hak mereka. Hak waktu yang semestinya mau tidak mau harus dicukup-cukupi untuk keluarga, saya potong seenak jidatnya.

Tentu saja sebagaimana manusia lainnya, saya jelas berkelit dengan mengatakan “Yaah, abis mau gimana lagi? Beginilah nasib buruh kecil. Zaman lagi krisis ekonomi begini, masih untung bisa kerja” ketika suatu hari istri bertanya mengapa saya sibuk sekali.

Ia diam. Dan saya tidak pernah merasa bersalah. Saya pikir sudah kodrat saya sebagai lelaki. Pemburu. Dalam hal ini, memburu nafkah (*Pernyataan ini amat bisa dibantah. Sebab meski tiga hari perminggu, istri saya pun bekerja mencari nafkah*)

Sebagai training monkey (istilah pekerja yang sedang diuji coba dalam menguasai keahlian tertentu) saya memang dipaksa bekerja lebih keras dan kuat dibanding ‘monyet-monyet’ lainnya. Seiring bertambahnya waktu, bertambah pula amanahnya. Saya mau tidak mau, dipaksa menerima amanah baru. Menguasai pasar Eropa Timur.

Lagi-lagi, otak licik digabung kezaliman saya beraksi. Dengan alih berlibur, saya ajak anak istri ke beberapa negara pecahan Rusia. Tujuan utama, Eropa Timur. Rencananya, mereka jalan-jalan… Saya bisnis. Saya yakin semua orang akan bergembira. Hehehe.

Sukses?

Tidak juga :D. Menjelang Rumania, istri saya mulai mencium gelagat buruk ketika saya sering bertemu orang-orang baru yang belum pernah kami temui dan sering membalas surat elektronik sepanjang perjalanan. Beliau tanya, “Kamu kerja yaa?”

“Kamu nuduh yaa?”

“Nggak dong. Kamu gimana sih, ditanya malah balik nanya?”

“Kenapa kamu nggak jawab pertanyaan saya?”

“Loh? Kan saya yang nanya duluan. Sudah deh, kamu ngaku aja. Ini pasti trik kamu lagi mengalihkan topik”

Saya cengar-cengir sambil garuk-garuk kepala. Mengaku. Dalam hati sempat terfikir, jangan-jangan ia saya pilih jadi istri karena susah saya bohongi.

Istri saya diam lama mendengar pengakuan saya. Sedih. Ia jelas pasti sedih. Suaminya berbohong. Dan sebagaimana manusia normal lainnya, dibohongi itu rasanya tidak enak sekali.

Saya jadi tidak enak hati. Ahh rupanya saya menyakiti hatinya. Beliau berkata, “Kamu sudah janji kita akan berlibur. Kamu kerja terus. Dan saya amat sangat menantikan liburan ini. Sebelum nikah, kamu janji akan meluangkan waktu untuk keluarga. Apakah kamu sedang menyalahi janji?”

Beliau tanya biasa saja. Tanpa ada pretensi apapun. Tapi sumpah mati saya kebingungan menjawabnya. Saya ingat pada suatu hari dulu enam tahun lalu. Di pasar, depan tukang jeruk, saya berlutut melamarnya. Diatas jeruk, tangkainya dibalut cincin ukuran 14,5. Saya sodorkan lambang cinta yang segar padanya. Tahu ia jawab apa? Ia tolak euy. Ajegile! Ia tolak lamaran saya. Sambil berkata, “Kamu kerja 140 jam perminggu. Kamu bahkan punya ruangan khusus diatas tempat kerja kamu untuk mandi, ganti baju dan istirahat. Apa yang mau kamu tawarkan sama saya? Pernikahan itu punya komitmen waktu. Dan waktu… Itu hal mewah yang kamu tidak miliki”

Sebagai pria gombal, setelah kejadian menohok itu jelas saya mati-matian cari pekerjaan baru. Saya jelas cinta bekerja. Tapi sejujurnya, saya lebih cinta wanita. Haha. Dan Aji benar, sebelum menikah bukan hanya cinta yang menjadi alasan. Diam-diam ada ambisi pribadi di sana. Saya ingin mengalahkan diri sendiri yang selalu benci terhadap komitmen jangka panjang. (*Motto sebelum nikah: Setia itu alami. Tapi setia pada satu wanita itu jelas bukan kodrat laki-laki sejati :P *)

Dan kali ini, saya jelas-jelas tidak mau kehilangan apa yang sudah saya raih.

Maka pelanlah saya jawab pertanyaannya, “Iya saya menyalahi janji, maaf”

Ia diam. Saya diam. Kami diam-diaman. Cukup lama.

Ia tidak berkata apa-apa. Namun kali ini ketika ia diam, saya merasa bersalah. Dan makin merasa bersalah.

Saya kebetulan tipikal manusia yang ingin menyelesaikan masalah dengan komunikasi. Dan diam ini begitu menyakitkan… Ahh, diam itu berbahaya.

“Saya… Err… Saya benar-benar minta maaf dan akan membatalkan janji bisnis”

“Kamu mau batali janji lagi?”

“Uuhh.. Well, maksud saya… Err… Maksud saya… Menyesuaikan janji”

Ia diam.

Dan dalam diamnya, segera saya kirim surat elektronik ke kantor pusat. Meminta agar semua janji tiga minggu ke depan dialihkan ke hari lain.

Sudah kadung basah, yaa basah sekalian. Saya telpon Pak Ali, atasan. Mengaku dengan terus terang dialog antara saya dan istri hari itu. Saya tahu, ini benar-benar tidak profesional, mencampur adukkan masalah keluarga dengan bisnis. Tapi biar bagaimanapun, Pak Ali harus tahu latar belakang keputusan yang saya ambil (tiba-tiba tiga minggu akan menghilang di Eropa Timur).

Dan bersyukurlah saya ketika Pak Ali menjawab, “Iya, saya mengerti. Saya bantu sebisa mungkin. Selamat berlibur”

Tiga minggu kemudian berliburlah saya bersama keluarga. Ini jelas rahmat yang tak terhingga. Seingat-ingat terakhir saya libur, jaman sekolah dulu di Depok. Astaga, saya sendiri sudah lupa kapan. Sudah lama sekali itu.

Saya jelas tidak akan menceritakan liburan kali ini (Mungkin lain kali kalau sempat. Lagi pula libur saya tidak terlalu menarik. Kami tidak mengunjungi lokasi tujuan turis). Tapi saya bisa bilang, kalau tiga minggu bersama keluarga, tanpa surat elektronik, tanpa televisi, tanpa internet dan telepon genggam… Adalah saat-saat indah bersama keluarga.

Pada masa libur itu, putri saya banyak berinteraksi dengan kami orangtuanya dan alam. Ia belajar memberi makan ayam dan membelai kucing. Bahkan belajar naik sepeda roda tiga. Dan saya mengetahui sebuah rahasia, bahwa ia ternyata suka mencuci dan bermain kereta. Ahaa!

Tiga minggu setelahnya, saya kembali bekerja. Dan pulang kerja sore itu, istri saya memasak makan malam enak sekali. Ia berterimakasih. Ketika makan malam, putri kami yang berusia 13 bulan Novi Kirana bercanda meniru suara ayam dan kucing. Hal yang belum pernah saya dengar sebelumnya.

Tiba-tiba, saya merasa menjadi laki-laki paling beruntung di dunia.

–0–

Kami diam sejenak setelah cerita ini usai.

Pelan. Aji menyeruput tehnya, lalu menanggapi sambil berkata “Apa lu pikir masih bakal ngerasa jadi laki-laki yang paling beruntung di dunia jika suatu hari lu liat bini lu berubah jadi gembrot dan bawel? Atau anak lu jadi abege yang doyan mabok?”

This entry was posted in bangaip, cerita_kerja, sehari-hari and tagged , , . Bookmark the permalink.

15 Responses to Setia Itu Alami. Tapi Setia Pada Satu Wanita Itu Jelas Bukan Kodrat Lelaki Sejati

  1. edo says:

    weh weh judulnyaaaaaaaaaaaa
    kekekkeek

    *comment dulu baru baca

    –0–

    Hehehe

  2. edo says:

    hmmm….
    thank you bangaip
    tulisannya mencerahkan…
    bukan berarti tulisan bangaip tidak mencerahkan.
    tapi kali ini temanya berbeda heheheh
    so terlihat lebih gimanaaa gt :p

    akan saya simpan tulisan ini, hingga suatu saat nanti, bisa saya baca kembali, dan saya tidak perlu menunggu sekian tahun untuk mendzalimi keluarga saya kelak :)

    –0–

    Biasanya saya memang menolak jika ada tuntutan untuk menulis sesuatu yang sifatnya personal, Mas Edo. Apalagi yang mengutarakan kehidupan pribadi yang saat ini dijalani. Namun kalau begitu terus, ada sahabat yang hidupnya berada dalam ketakutan terus-menerus. Saya pikir, saya zalim apabila diam membiarkan mereka hidup dalam ketakutan. Dan diam, adalah pengkhianatan.

    Tertulisah sepenggal cerita ini

    Maka, temanya jadi beda. :)

  3. sufehmi says:

    Apa lu pikir masih bakal ngerasa jadi laki-laki yang paling beruntung di dunia jika suatu hari lu liat bini lu berubah jadi gembrot dan bawel? Atau anak lu jadi abege yang doyan mabok?

    Ini bukan soal beruntung / untung-untungan sih kalau menurut saya.

    Ini adalah soal ikhtiar / usaha kita. Sudah sampai mana usaha kita untuk me manage keluarga kita dengan baik ?

    Selaku pemimpin, ultimately, kita adalah yang bertanggung jawab atas semuanya di keluarga kita.
    Kata oom Smith – the buck stop at us. Enggak bisa lagi ngeles. 99% (*) masalah di keluarga itu bisa dirunut balik kepada kekurangan kita, suami.

    Istri tidak menurut? berarti kemampuan kita untuk memimpin masih kurang.

    Anak jadi pemabuk? berarti ada masalah komunikasi & relasi. atau, kita tidak mampu mengarahkan istri agar bisa lebih dekat dengan anak. atau, kita gagal mengawasi pergaulan anak. atau, kita gagal dalam tugas kita untuk menjadi kawan terdekatnya anak-anak kita.
    dst.

    Istri jadi gembrot? emangnya elo sendiri enggak ? Emangnya siapa lu, Arnold Suasanaseger ? :D

    Dst, dst.

    Saya kira, semua masalah ini adalah 99% (*) tergantung pada usaha kita; pemimpin / boss / direktur dari rumah tangga ini.
    Hanya 1% saja yang takdir / nasib / diluar kemampuan kita.

    Kalau mau enak, ya musti mau mengusahakannya :)
    No pain, no gain. He he…

    (*) Angka ini tidak eksak bang, ampunnn :)
    Cuma hendak mengilustrasikan saja mengenai bagaimana pentingnya ikhtiar / usaha suami itu agar keluarganya bisa sukses

    –0–

    Setuju Pak Harry. Saya pribadi yakin bahwa dalam rumah tangga, suami istri anak adalah sebuah relasi yang utuh yang harus dibangun bersama. Namun tidak bisa dipungkiri soal the buck stop at us. Sebagai laki-laki, Bapak atau Ayah, memang (harus) bertanggung jawab pada keluarganya dengan ikhtiar-ikhtiar yang di rasa perlu.

    Soal 99%… Ahh ga masalah itu, Pak. Asal jangan 68% saja. Sebab dengar-dengar angka terakhir itu sudah dipatenkan di dunia telematika Indonesia. Huehehe.

  4. hedi says:

    Kayaknya semua cuma soal perspektif dan kelegaan kita melihat sesuatu aja, bang ;)

    –0–

    Wah, terilhami nih saya. Gara-gara komen ini saya jadi mau cerita soal perspektif, Mas Hedi. :) Tapi saya coba lain kali deh. Panjang sih ceritanya :D

  5. adipati kademangan says:

    Perempuan memang teguh terhadap janji yang diucapkan. Beberapa memang termakan rayuan gombal, amun ketika kejadian janji-janji yang tak terpenuhi akan sakitlah hatinya.
    Membangun rumah tangga tidak mudah, tapi jagan dijadikan alasan untuk tidak berumah tangga. kalau tidak bisa mencari wanita yang sesuai, maka bentuklah, buatlah menjadi sesuai.
    Caranya? ya seperti cerita bangaip di atas, timbal balik antara istri dan suami, emnjaga keharmonisan keluarga, komitmen terhadap kesepakatan yang telah dibuat, dst dst. Ini bukan tentang untung rugi, tetapi bagaimana usaha yang terbaik untuk kelangsungan rumah tangga.

    –0–

    Terimakasih atas tanggapannya, Adipati.

  6. celo says:

    Bagaimana dengan lelaki yang cukup punya banyak waktu luang, terlalu banyak sampai hal itu tidak menjadi sesuatu yang mewah… Mungkinkah wanita yang sama menuntut sesuatu yang berbeda? Serius, daku curious.

    –0–

    Lain ladang lain belalang. Lain wanita, lain pula tuntutannya :)
    Sebenarnya, IMO, bukan masalah dituntutannya. Tapi lebih kepada “Apa yang ditawarkan”. Ibarat dagang, kalau ada yang nawarin, biasanya ada yang tertarik beli. Kalau seorang lelaki tidak menawarkan apa-apa (bahkan tidak pula cinta)… Lah itu perempuan mau apa dan bagaimana dong?
    :D

  7. The Bitch says:

    ergh! saya tetep gamo kawiiin!

    *perang batin antara kekeukeuhan ama kenyataan di tulisan bangaip*

    –0–

    Percayalah… Saya nggak maksa, Mbak Pito. Kalau Mbak Pito ikhlas, yaa saya juga ikhlas. (*hihihi*)

  8. DeZiGH says:

    Hmmm, pasangan jadi gembrot saat gairah seksual sudah turun sih mungkin tidak terlalu masalah, yah. Yang jadi masalah jika timpang ^_^
    Pasangan yang baik tentunya akan menjaga dirinya sendiri untuk selalu tampil menarik di depan pasangannya.
    Semua tergantung kesungguhan hati

    –0–

    Timpang ini maksudnya, satu gembrot, satu nya lagi nggak? Hehe
    Soal kesungguhan hati, saya setuju tuh :)

  9. manusiasuper says:

    mengutip,

    “yang sudah menikah selalu mendesak yang belum untuk mengikuti jejaknya, yah, kita memang tidak ingin menderita sendirian kan?”

    *Kabur sebelum ditabrak Novi cantik pakai mainan kereta*

    –0–

    Hahaha…

    *ikut-ikutan mengutip*

    “Gila kalo kawin di umur kepala 2! Lebih gila lagi, kalo umur udah kepala 4 masih teuteup nggak punya pasangan. Keahliannya seseorang bersosialisasi, negoisasi dan perencanaan patut dipertanyakan kalo gitu”

    Huehehe

  10. omnoba says:

    bang… makasih atas postingnya. aku jadi mengerti kenapa pacarku selalu marah. mungkin alasannya karena aku nga komit untuk nyediain waktu buat dia. makasih yach bang, ternyata workaholic itu nga baik.

    –0–

    Kembali kasih, Omnoba :)

  11. fety says:

    lama gak main ke sini, malam ini berkunjung ke sini dan baca postingan ini. Ah, sepakat bang ip. ada hak keluarga atas kita :)

    –0–

    Terimakasih buat supportnya Mbak :)

  12. edratna says:

    Saya justru merasakan, semakin lama menikah rasanya kehidupan rumah tangga semakin nyaman. Entah kenapa, rasanya jika saya membatin ingin sesuatu, suami juga sama…seperti nyambung gitu.
    Mungkin juga karena semakin saling memahami sifat masing-masing, serta tujuannya adalah mengantarkan anak-anak menjadi mandiri.

  13. edratna says:

    Semakin lama menikah, saya merasa semakin ada hubungan erat antara suami isteri…nyambung gitu lho. Dan rasanya menjadi lebih erat, dan bukan lagi karena cinta yang berkobar-kobar, namun saling menghargai, menghormati dan ada tujuan utama yaitu membesarkan anak-anak dan membuat mereka mandiri.

    Bagaimanapun rumah tangga perlu dirawat, ibarat seperti tanaman, perlu dipupuk dan disiram terus menerus.

    –0–

    Setuju Bu. Setuju sekali :)

  14. perempuan says:

    kebetulan aq mo nikah, apa seseram itu ya mahligai rumah tangga :D but i like challenge..

    –0–

    Nggak seram. Kalau sama-sama yakin sih dan dewasa, yaa jalannya pasti asik-asik aja.

  15. fajar says:

    ternyata baca posting-posting diinternet asik juga bisa dapat inspirasi n pelajaran
    trims yah sy numpang baca
    semoga lain waktu ada waktu lagi untuk nulis jangan lupa diposting biar bs belajar yang baru lagi

Leave a Reply