Jurnalisme Dan Pemberontakan

Perempuan muda itu bernama Threes Nio. Jurnalis perempuan dari sebuah harian Jakarta. Sendirian. Duduk termenung di ranjangnya. Di sebuah kamar hotel negara Afrika. Badannya menggigil. Ketakutan.

Ia baru tiba dari bandara. Baru empat jam lalu pesawatnya mendarat. Langsung check-in di hotel yang sudah dipesannya jauh-jauh hari. Kata teman-teman di Jakarta, jangan keluar malam kalau sedang meliput di Afrika. Jangan perempuan, buat laki-laki saja itu hal yang berbahaya,

Threes menurutinya. Ia tidak keluar malam itu. Tetap bertahan di kamar dengan sejumlah catatan-catatan mengenai korupsi negara-negara Afrika. Ya benar, ia hendak meliput korupsi di negara-negara Afrika. Sebagai jurnalis. Sebagai perempuan. Sebagai warga negara Indonesia.

Sepeluh menit setelah tiba di kamar dan mulai merebahkan badan di ranjang, suara telepon berdering. Ia angkat. Mati. Lalu berdering lagi. Ia masih bertanya-tanya dari siapa. Di angkat. “Halo?”.

Tidak ada jawaban. Cklik! Putus.

Begitu terus berkali-kali. Hingga akhirnya ia memutuskan turun ke lobi dan bertanya pada satu-satunya resepsionis (pria yang katanya terlihat tidak begitu ramah) untuk bertanya. Si resepsionis bilang, “Ma’am, tidak ada telepon ke kamar anda. Mungkin anda lelah”

Threes Nio kembali lagi ke kamarnya di atas dengan lesu. Lalu telepon mulai berbunyi lagi. Kriiing… Kriiingg…

Dan sama seperti sebelumnya, ketika di angkat, tidak ada yang menjawab.

Threes menuliskan pengalamannya sebagai ‘Belum pernah aku ketakutan seperti itu. Keringat dingin semua badan. Setiap sepuluh menit telepon bunyi. Mereka bisa membunuhku dengan teror. Menanamkan ketakutan diotakku’

Kedatangan wartawati Jakarta itu telah terendus oleh penguasa. Malam itu, ia selamat (walaupun tidak bisa tidur karena takut – entah takut dibunuh atau diperkosa). Namun hingga akhir hari liputannya, ia tetap dipersulit. Semua orang yang buka mulut ketika diwawancarai Threes, dipukul. Penguasa lokal tidak mau borok korupsi mereka sampai hingga telinga manusia ujung Asia Tenggara sana.

Untunglah wartawati pemberani tersebut tidak mati konyol dalam liputannya. Ia masih sempat menulis mengabarkan betapa kebebasan jurnalisme taruhannya kadang-kadang adalah nyawa. Setelah peristiwa itu, beliau masih bisa bekerja dan hidup di New York hingga akhir hayatnya.

Yang bisa dipelajari dari (alm) Ibu Threes Nio dari pengalaman beliau meliput korupsi di negara-negara Afrika adalah… Banyak. Toh kita bisa menafsirkannya masing-masing. Sesuai dengan persepsi yang ada di imajinasi masing-masing.

Namun kita tentu saja bisa menafsirkan hal yang sama ketika suatu hari seorang wartawan dari harian BERNAS Jogjakarta bernama Fuad Muhammad Syafruddin (Udin) dibunuh suatu pagi setelah meliput kasus korupsi yang melibatkan bupati Bantul Jogja dengan aparat keamanan setempat.

Seperti kejadian-kejadian umumnya (Petrus a.k.a Penembak Misterius tahun 80-an yang diceritakan dengan dahsyatnya dalam lagu Iwan Fals berjudul ‘SUGALI’ atau Tim Mawar pada aktivis Pro Demokrasi). Udin diculik sebelum dibunuh. Disiksa sebelum sebunuh. Dipaksa menderita, sebelum akhirnya wafat.

Udin tidak seberuntung Threes Nio yang sebelum menghembuskan nafas, masih dapat menghirup udara kebebasan Taman Kota Central Park di jantung Manhattan New York. Udin meninggal setelah tiga hari koma dengan kepala penuh darah bekas pukulan benda tumpul.

Benang merah yang bisa ditarik dari kejadian yang menimpa Threes Nio dan Udin adalah, dua-duanya orang Indonesia. Dua-duanya di teror ketika tengah berperang melawan korupsi di badan pemerintahan. Dua-duanya jurnalis.

Jurnalis, pengabar, pewarta atau apalah sebutan namanya, katanya memang jadi salah satu korban utama dari perang dengan korupsi.

Sebagai pemberi berita kepada masyarakat, mereka (sengaja atau tidak sengaja) dituntut untuk memberikan kabar terbaik, terpilih, terpercaya kepada masyarakat. Entah ada latar belakang niat penaikan jumlah oplah atau pulitzer yang menyertainya, yang pasti, jurnalis bertugas mengumpulkan, menyebar kabar tentang acara tertentu, manusia, trend atau isu-isu terbaru.

Katanya, semua jurnalis itu teman penguasa. Katanya pula, semua jurnalis itu teman selebriti. Dan tentu saja katanya pula, jurnalis itu teman siapa saja.

Tapi benarkah jurnalis teman siapa saja? Jika benar, maka tentu saja tidak ada telepon teror pada Threes Nio atau pecahnya kepala Udin si orang Jogja.

Dalam bukunya Republica Plato mengatakan bahwa “Homer adalah simbol kekuatan kami. Catatannya yang menyinggung hati para dewa-dewa, adalah kejujuran masyarakat umum. Dan menulis hal yang menyinggung para dewa dan kekuasaan atas nama kejujuran, adalah sebuah keberanian sejarah”

Jurnalis jujur pengabar berita, kini bukan hanya sebuah keberanian sejarah. Ia, bahkan menjelma menjadi simbol keberanian manusia itu sendiri.

Maka, ketika suatu hari di pertengahan November 2009 dua orang pemimpin surat kabar berita dipanggil oleh penguasa karena mewartakan korupsi di tubuh Polisi Indonesia, warga pun terhenyak. Mereka dipanggil, karena anak buah mereka jurnalis, mewartakan korupsi di tubuh para penegak hukum Indonesia.

Apa yang sedang terjadi?

Warga terhenyak. Bukan hanya karena takut teror a’la Afrika atau sadisme Bantul Jogjakarta terulang kembali di bumi pertiwi. Melainkan juga karena, pembungkaman terhadap jurnalisme, adalah juga pembungkaman terhadap keberanian manusia itu sendiri.

Sebagai republik yang terlihat seakan baru merdeka, para rezim penguasa Indonesia nampaknya memang perlu banyak membaca buku sejarah. Jika para penegak hukum terlalu banyak berlindung di balik hukum warisan kolonialisasi, maka apa yang mau mereka terima dari warganya…

Pemberontakan?

This entry was posted in fitur, Orang Indonesia, Republik Indonesia and tagged , , , , . Bookmark the permalink.

11 Responses to Jurnalisme Dan Pemberontakan

  1. Amd says:

    Lah, pimpinan dua media itu kan dipanggil karena mereka “mencemarkan nama baik” Bang? :mrgreen:

    *pasal karet terbukti selalu lentur…*

    –0–

    Hehe, karet yang paling baik setahu saya cuman karet kolor ama kondom, Med. Kalau dijadikan pasal, jadinya suka bermasalah. Hihihi

  2. itikkecil says:

    tidak ada keadilan bang… seperti kata Amed, pasal itu bisa dilenturkan sekehendak hati para penguasa…

    –0–

    Mari kita berjuang, Mbak.

    Sama-sama.

  3. hedi says:

    posisi jurnalis emang sulit, di satu sisi dituntut mencerahkan pembaca, tetapi di sisi lain belum tentu pembaca mau bantu ketika ada urusan dgn penguasa. ah enakan jurnalis sepakbola deh šŸ˜›

    –0–

    Hihihi… Resikonya jadi jurnalis bola kan ada juga Mas Hedi.

  4. nonadita says:

    Ancaman yang sama menghantui para blogger juga kan.. :mrgreen:
    Ancaman pasal pencemaran nama baik itu lho

    Lama2 orang jadi pada takut menulis dan mencari kebenaran. Amit2 kalo sampe terjadi +_+

    –0–

    Saya pikir tidak, Nona. Saya yakin, blogger macam Nona Dita masih ada dan masih banyak serta masih mau menyuarakan yang terjadi dengan sebenar-benarnya.

  5. mungkin harus, bang. berontak. masalahnya, orang2 jakarta kan pada ga brani. takut ga bisa belanja di mol.
    mending berontak di otak dulu ama di nyali deh, bang. saya lebih setuju itu. asal ga konyol aja. ntar kek gerombolan putih2 yg ngeboikot dek Miyabi.

    –0–

    Kalau gerombolan putih-putih pemboikot Miyabi. Setahu saya, mereka percaya bahwa mereka tengah melakukan ‘Revolusi Sosial Mencegah Manusia ke Jurang Maksiat’. Sayangnya mereka sering lupa, aksinya anarkis dan jahat. Jadinya bukan membawa perubahan ke lebih baik, malahan jadi kriminil. Hihihi

  6. guh says:

    Emang ada pilihan lain selain pemberontakan, maksudnya selain diam dan memilih tak peduli?

    Jadi gimana bentuk dan gimana mulainya Bang?

    *Membayangkan Bangaip akan memicu/memimpin pemberontakan yang keren*

    hehe

    –0–

    Hahaha… Saya belum pernah mimpi jadi Pak Dirman, Mas Teguh.

  7. sangprabo says:

    Saya ga suka wartawan gosip Bang.. Btw, Seno Gumira Ajidarma juga pernah membuat cerpen dengan judul Petrus Bang..

    –0–

    Oh iya, saya lupa mengenai SGA. Setahu saya, beliau juga akrab dengan gali-gali Jogja. Terimakasih atas infonya.

  8. jensen99 says:

    Polisi sudah mati akal mencari celah hukum tuk menjaga nama baik Anggodo…

    –0–

    Hehe… Saya pikir, nggak semua polisi kok yang begitu. Ada banyak teman-teman kita yang polisi dan masih berfikir positif bahwa ini akan selesai dengan baik (maksudnya, Anggodo diadili).

  9. edratna says:

    Bukankah besoknya kan ganti bos yang datang ke media bang?
    Setiap jabatan memang mengandung risiko…ada masalah risiko hidup dan mati, namun juga ada risiko godaan atau kesenangan .

    –0–

    Iya Bu. Resiko pekerjaan memang. Walaupun untuk beberapa kasus, kadang secara subjektif saya menilai resiko yang diemban jauh lebih besar daripada nilai pekerjaan itu sendiri. Contoh; Guru. Hehe

  10. guno says:

    karena pena lebih tajam dari belati mana pun..

    –0–

    Jadi inget tahun 90-an dulu. Kalo naek bis 63 jurusan Tanjung Priok – Pasar Baru bawaannya was-was men. Anak Boedoet (Boedi Oetomo) ada di mana-mana men. Markasnya mereka itu Pasar Baru, Senen dan sekitarnya. Kita anak priok biasanya jadi mangsa mulu kalo di daerah mereka. Kalo di jalanan lagi ada polisi razia senjata tajem, penggaris besi, belati, parang atau apapun di buang atau dititipin ke sopir/kenek. Sebagai gantinya, di kantong selalu sedia pensil ama serutan. Jadi kalo mao berantem, nyerut dulu biar pensilnya tajem, terus nyari leher lawan buat ditancep. Hahaha. Bener ente Kak Gun. Dalam kasus ane… Pensil lebih tajem daripada stabilo. Hehe

  11. bunga says:

    Salam kenal semoga sukses selalu

Leave a Reply