Kamp Konsentrasi Yahudi Terezin

(*Ini album foto. Tulisan dengan jumlah ukuran kilobyte paling berat*)

Di depan kami, dua orang turis memakai seragam team sepeda datang dengan sepeda balapnya. Mau bayar tiket masuk. Perempuan besar berkemeja putih itu duduk di belakang kaca jendela kasir. Bertanya, “Where do you come from?” Tidak lama setelah dua turis pembalap sepeda itu menjawab, ia memberikan dua buah brosur berbahasa Inggris.

Lalu giliran kami tiba. Belum ditanya saya menjawab “I’m from Indonesia”. Matanya mendelik. Lalu menoleh asistennya yang tidak bersemangat menjawab “On Indonéski” (*artinya; ‘Dia orang Indonesia’ dalam bahasa Ceko*).

Perempuan itu lalu berkata dalam bahasa Inggris terpatah-patah “We don’t have Indonéski”

Saya senyum, “Well then. English brochure would be fine for us. Do I have to pay more?”

Ini kebiasaan saya sejak kecil. Selalu bertanya apakah ada yang gratisan. Kali ini, saya bertanya apakah brosurnya juga gratis? Sebagai wisatawan asal Indonesia, kedatangan kami memang belum pernah dinantikan di kamp konsentrasi yang berubah fungsi jadi lokasi wisata ini. Belum ada brosur khusus berbahasa Indonesia

Dia (masih) tidak senyum “No”

Kasir pintu masuk tempat wisata begini biasanya tidak laku kalau di Indonesia

Setelah melalui perempuan tersebut, pada musim panas itu mulailah petualangan saya di Benteng Terezin. Sebuah benteng yang didirikan Kaisar Joseph II pada 1780. Letaknya di Kota Terezin. Sebelah utara kota Praha, Republik Ceko.

Dua hari lalu, istri saya mengajak ke Terezin. Dia bilang “Di sana bagus. Bersejarah. Satu kota adalah ghetto, penjara massal untuk yahudi pada perang dunia ke dua.  Kamu pasti suka!”. Saya cuek menanggapi. Saya tidak begitu tertarik dengan wisata reliji. Dia tetap semangat membujuk, “Ada bentengnya. Benteng kuno. Pernah jadi kamp konsentrasi dan memiliki krematorium bakar mayat hidup. Kamu kan suka arsitektur. Pasti kamu suka disana!”. Saya masih tetap cuek menanggapinya. Saya tidak tertarik wisata sadisme. Dia diam sejenak. Lalu berkata lagi pelan sambil senyum, “Di sepanjang perjalanan ke sana banyak tukang buah-buahan segar dan tukang makanan”. Saya langsung menolehnya dengan cepat, “Kapan kita berangkat. Sekarang? Okeh!”

Begitu tiba, saya langsung sibuk foto-foto.

(*Saya jarang melakukan ini. Memenggal tulisan. Tapi karena halaman nanti akan berat, sekitar 900 KB. Maka tulisan ini di penggal. Selain agar loading lebih cepat juga agar memberikan pilihan bagi anda yang tidak suka melihat foto perjalanan saya yang cukup membosankan. Tulisan dan foto setelah ini, tidak ada intensi apapun berbau reliji, politik dan bla-bla-bla selebihnya. Saya hanya sekedar cerita. Sekedar memotret. Selamat menikmati*)

Pintu Masuk Benteng Terezin

Pintu Masuk Benteng Terezin

Kami tiba siang hari di benteng ini. Sebab sudah sepagian bepergian mengunjungi Ghetto Terezin. Sebuah kota yang posisinya unik pada perang dunia ke II. Hitler mengiklankan kota ini sebagai kota pariwisata dan ziarah untuk para Yahudi tua dari Rusia. Mereka, jual semua banda agar bisa datang ke kota ini.

Terkecoh oleh iklan mulut manis Hitler di koran.

Harta benda sudah di jual demi pergi ke Terazin. Kata iklan koran itu, tanah suci kaum Yahudi di Eropa. Begitu sampai di sama, mereka tertipu. Itu Kamp Konsentrasi. Lebih tepatnya, Kamp Terminasi.

Di samping kota, ada benteng. Di benteng ini sejak 1942-1944 dari sebanyak 87 ribu orang penghuninya, hanya dua ribu yang selamat. Sisanya…? Sisanya silahkan baca nanti nasib mereka di bawah ini;

Artinya: Kerja Dapat Membebaskan Manusia.

Artinya: Kerja Dapat Membebaskan Manusia.

Arbeit Macht Frei arti harafiahnya adalah “Pekerjaan Membawa Kebebasan”. Pada intinya, ini adalah semboyan yang di pasang pada pintu kamp konsentrasi dan penjara yang di asuh oleh SS (singkatan dari Schutzstaffel, organisasi paramiliter yang melindungi Hitler). Tulisan ini sebenarnya adalah ejekan. Dalam sejarah, tidak ada satupun Yahudi yang dibebaskan dari Kamp Konsentrasi pada masa pendudukan NAZI. Bagi SS, Yahudi yang baik adalah Yahudi yang mati.

Begitu masuk ke dalam kamp konsentrasi. Kita akan segera melihat ada kamar-kamar di mana pesakitan akan di catat dalam administrasi (*Yup, NAZI itu gemar mencatat dan catatan mereka, …teliti sekali*)

Setelah itu, kamar dimana para pesakitan akan disuruh membuka baju. Lalu masuk kamar mandi.

Kamar Mandi Terezin

Kamar Mandi Terezin

Di kamar mandi ini, tahanan-tahanan baru, dibugili dan lalu diguyur air dari keran atas kepala. Setelah itu, mereka dilumuri bedak. Beberapa anak kecil yang di transfer dari penjara Auswitzh begitu takut dengan kremasi kamar gas yang ada di sana. Ketika diguyur air, begitu uap muncul mereka menangis sekencang-kencangnya sambil teriak “Gas… Gas…”

Lalu ada lonceng. Di dekat kamar jaga sipir.

Lonceng Kamp konsentrasi Terezin

Lonceng Kamp konsentrasi Terezin

Lonceng ini berguna untuk mengumpulkan tahanan baru dan juga mendata tahanan yang sakit. Semua penghuni tahanan penjara, setiap hari dikumpulkan di lapangan kecil ini. Namanya dipanggil. Kalau tidak menyahut karena sakit, di siksa atau dikremasi hidup-hidup.

Tahanan yang sering mengalami penyiksaan, biasanya sering pula sakit. Wajar. Itu hubungan sebab akibat. Jika mereka tidak sakit, mereka di bawa ke rumah tahanan.

Ini adalah ruang tahanan pria. Satu kamar ini, dapat dihuni 300 orang Yahudi. Isinya yaa tempat tidur tingkat itu dengan beberapa meja dan kursi. Ada satu WC yang terletak di dekat pintu. Ruang ini, sebagaimana ruang penjara lainnya. Tidak ada penghangat ketika musim dingin. Maka ketika musim dingin tiba, para tahanan membakar kotoran mereka yang telah kering untuk menghangatkan badan.

Ruang Tahanan Pria Terezin

Ruang Tahanan Pria Terezin

Kotoran itu, dicampur dengan luka-luka bekas siksaan dan sirkulasi udara yang buruk, pasti akan menimbulkan infeksi dan penyakit-penyakit khusus.

Sebuah ruang ‘PUSKESMAS’ untuk tahanan pun diadakan. Bukan untuk menangani penyakit-penyakit di atas. Ruang ini hanya dipakai apabila Palang Merah Internasional datang berkunjung dan apabila Hitler ingin merekam kehidupan penjara ini dalam film propaganda (agar dunia menganggapnya humanis). Selebihnya, hanya hiasan saja.

Pusat Kesehatan Tahanan Terezin

Pusat Kesehatan Tahanan Terezin

Di samping Puskesmas ini ada sel bernama Block – A. Sel ini terkenal sebagai sel yang paling sadis. Tidak ada WC di sana. Jika tentara jerman sedang iseng, mereka memasukkan 100 – 200 orang Yahudi ke dalam sel ini. Tidak di beri makan. Tidak di beri minum. Dalam sel yang berukuran 4 x 4 meter persegi, yahudi-yahudi itu dibiarkan tergencet-gencet mati haus kelaparan.

Terezin Block - A

Terezin Block - A

Katanya pemandu (anak dari korban yang selamat), para tentara SS itu suka tertawa ketika melihat tubuh manusia Block – A yang hanya tinggal tulang dibalut kulit itu merintih sebelum dicabut ajalnya oleh malaikat maut.

Perempuan, nasibnya tidak begitu jauh berbeda. Namun, mereka memang menempati sel yang lebih besar. Ini adalah sel tahanan wanita;

Ruang Tahanan Wanita Terezin

Ruang Tahanan Wanita Terezin

Dalam ruangan ini, sekitar 700 wanita dari segala umur harus masuk di sana. Kelebihan dari penjara wanita adalah, WC nya dua. WC sendiri adalah sebuah kotak berukuran 1 x 1 meter persegi dengan sebuah lobang berdiameter sekitar 20 cm di lantai.

Ini adalah pemandangan dari balik teralis penjara umumnya:

Di Balik Teralis Terezin

Di Balik Teralis Terezin

Apabila ada tahanan yang entah-mungkin-mukzizat bisa selamat dari kekejaman-kekejaman awal ini, biasanya akan diujicoba oleh para asisten Dr. Mengele di kamar khusus. Dr Mangele terkenal dengan sebutan ‘Malaikat Kematian Putih’ karena sering memakai jas putih.

Ia melakukan percobaan pada anak-anak tahanan Yahudi seperti menginjeksi mata mereka agar berubah jadi biru dengan cairan kimia. Atau menjahit dua anak kembar sehingga mirip kembar siam. Atau mengamputasi organ tahanan dan menggantinya dengan organ binatang untuk memperoleh manusia hybrid.

Kamar Kompresi Penjara

Kamar Kompresi Penjara

Di atas adalah foto kamar kompresi. Di ruang berbentuk silinder ini, asisten-asisten Dr Mangele memasukkan tahanan Yahudi yang tersisa, lalu menguji coba mereka. Begitu kedua ujung tabung ruang ini ditutup, ruang kompresi menyedot seluruh udara yang tersisa. Melihat sampai sejauh mana manusia bisa bertahan hidup dalam ruang hampa. Uji coba lainnya, adalah dengan memberikan tekanan udara sebanyak-banyaknya. Intinya sama, uji coba pada manusia. Dan semua objek percobaannya, tidak ada yang keluar hidup-hidup.

Lorong Maut

Lorong Maut

Diantara tahanan yang hidup dan ‘beruntung’ tidak dijadikan bahan percobaan, di bawa melalui lorong khusus yang di sebut lorong maut. Di ujung lorong ini ada sebuah pintu yang mengarah ke lapangan.

Lapangan Tembak

Lapangan Kuburan

Di ujung lapangan ada kuburan bernisan. Kuburan ini adalah kuburan yang sudah ada sejak ratusan tahun lampau. Ketika SS berkuasa di benteng ini, Yahudi yang beruntung ‘di  kristen kan dulu’ sebelum di tembak jidat mereka. Biasanya, dua orang di suruh jongkok di pinggir liang lahat ini. Di tembak kepalanya, agar menghemat peluru.

Apabila jatah peluru untuk satu hari habis. Mereka di gantung.

Tiang Gantung Terezin

Tiang Gantung Terezin

Di samping tiang gantung, ada sungai kecil yang mengalir ke bawah. Mayat biasanya di lempar ke sungai itu. Di ujung sungai kecil, ada tempat pembakaran mayat.

Ketika ada percobaan melarikan diri, si pelaku yang mencoba lari menuju sungai Ohře yang terletak di samping benteng akhirnya tertangkap. Sebagai hukuman, ia di semen hidup-hidup di depan seluruh penghuni benteng Terezin.

Para orang yang mengetahui kejadian ini sebelumnya, di eksekusi di depan khalayak. Ini titik eksekusinya;

Titik Eksekutor Terezin

Titik Eksekutor Terezin

Di kotak yang menjadi monumen itu, regu tembak berdiri menghabisi sasarannya.

Close Up Eksekusi

Close Up Eksekusi

Titik Eksekusi jika di lihat dari dekat. Masih terlihat lubang-lubang bekas peluru menganga di tembok.

Saya mencoba merepresentasikan diri menjadi seorang yang akan dieksekusi. Apa yang ia lihat pada saat-saat detik terakhir menjelang nafasnya?

Selamat Tinggal Dunia

Selamat Tinggal Dunia

Pemandangan penjara (Benteng Terazin) dari sudut pandang seorang yang akan dieksekusi.

Saya merasakan sensasi yang aneh di antara kulit ini. Matahari tidak begitu garang. Suhu musim panas ini sekitar 25° – 26° Celcius. Saya merasa aneh. Sebagai seorang manusia, saya memilih untuk tidak mudah percaya parapsikologi. Namun, berdiri di atas titik yang telah jadi saksi ribuan manusia mati, ada perasaan aneh menyapa.

Titik eksekusi adalah rangkaian perjalanan kami terakhir. Hari sudah condong sore. Keluar dari kompleks penjara tersebut masih ada musium dan bioskop gratis yang menjadi titik sedot pengunjung.

Putri saya, Novi Kirana sudah mulai rewel minta Es Krim, “Papa, Aisko… Papa, Aiskoo…”. Kami akhirnya mencari warung yang menjual makanan dan minuman. Agak mahal juga Es Krim di sana. Empat euro untuk Magnum rasa coklat.

Sebelum sampai warung, ada dua bangunan berhadapan yang dikunjungi banyak orang. Itu kantor sipir dan asrama tempat tinggal para sipir. Di samping asrama, ada bekas kolam renang untuk keluarga sipir.

Kantor Sipir Penjara

Kantor Sipir Penjara

Benteng Terezin adalah sebuah benteng yang terkenal bukan karena Kaisar Joseph II telah menghalau serangan tentara Rusia di sini. Melainkan, ini adalah kamp pembantaian Yahudi nomor dua terbesar setelah Auschwitz di Polandia. Ia digunakan Hitler sebagai wilayah kontrol populasi kaum Yahudi Eropa. Para tentara Nazi yang gila promosi, biasanya akan ditempatkan di sini sebelum di transfer ke Berlin, markas utama mereka.

Hari itu, Novi Kirana sibuk berlarian dan bercanda di antara sel-sel penjara, bahkan hingga sel yang paling kejam sekalipun. Sel isolasi. Di mana para tawanan dikurung dalam gelap tanpa sinar matahari sedikitpun. Beberapa hari setelah dikurung, biasanya mereka dieksekusi.

Dalam hati saya membatin “Syukurlah Nak kita ada di sini sekarang. Bukan 65 tahun lalu. Kalau tahun 1944 kita di sini, wajah asia bapakmu adalah alasan yang cukup untuk membunuh kita sekeluarga”

Kuburan Terezin di lihat dari pintu keluar

Kuburan Korban Terezin di lihat dari pintu keluar

This entry was posted in bangaip, sehari-hari and tagged , , , , , . Bookmark the permalink.

17 Responses to Kamp Konsentrasi Yahudi Terezin

  1. perempuan says:

    dulu, hati manusia Eropa terbuat dari apa ya???

    –0–

    Yang baek, yaa hati manusia baek. Yang jahat, yaaa hati manusia jahat.

  2. mbelGedez™ says:

    .
    Wah,… Jaman dulu udah ada kristenisasi juga yah…???

    terus, itu hasil fotonya bagus-bagus. Pasti kameranya mahal :mrgreen:

    **dilempar botol smirnoff**

    –0–

    Kadang-kadang make kamera ceklek biasa, Olympus MJU 700. Kamera kecil, enteng, punya istri. Dipake di negara dingin di atas 3000 DPL tetap jalan. Kecemplung di got, masih bisa dipake. Dibanting-banting ama anak, masih bisa motret ama rekam pidio. Saya sendiri nggak punya kamera, lebih sering pake hape, Mas Mbel. Hapenya juga hape abal-abal, 3 mp. Yang penting bisa nyekrek. Hehe

    Soal kristenisasi, umumnya perwira Jerman pada saat itu memiliki garis besar partai yang sosialis (Nazi singkatan dari Nationalsozialismus, Nasionalis Sosialisme). Kebetulan, perwira yang berkuasa di Terezin adalah tentara yang menjubahi dirinya dengan agama. Kekejian yang dilakukannya – menurut saya pribadi – bukanlah tipikal pemeluk nasrani dari Jerman. Kejadian ini pun hanya berlangsung beberapa saat saja. Setelah itu ada larangan dari Berlin untuk ‘Mengkristenisasi’ Yahudi. Sebab menurut mereka, Yahudi bukan manusia. Jadi tidak bisa dimasukkan dalam agama

  3. Riki Pribadi says:

    wow…..cocok jadi tour guide Bang..hehehe…nice pics!!

    –0–

    Hehehe, kalo saya pensiun, saya ngelamar kerja aja jadi Pramuwisata. Hihihi. Makasih euy :)

  4. jensen99 says:

    Saya pernah baca juga tentang tempat ini, tapi baru hari ini liat foto2nya sebanyak ini. Makasih bang. 😉

    –0–

    Sama-sama Jensen. Kembali kasih.

  5. edratna says:

    Foto-fotonya indah, namun entah kenapa ada perasaan serem saat melihatnya.
    Foto Novi Kirana sama mamanya kok nggak ada?

    –0–

    Foto Novi dan mamanya ada di lajur khusus, Bu :) Nanti kapan-kapan saya bagi lajurnya :)

  6. hedi says:

    Kisah PDII yg melibatkan NAZI lagi sering diputar di BBC atau NGC tuh. Tapi Arya yg dulu begitu sangat kejam terhadap Yahudi, kini justru berubah wajah.

    Jerman sekarang menjadi negara yg punya orang yahudi terbanyak di luar Israel. Jerman juga menjadi tempat tinggal bagi jutaan jiwa orang Turki, terutama di kawasan Timur. Membayangkan dua hal ini di jaman PD atau tahun 70-80an aja udah ga berani hehehe

    –0–

    Jerman memang berubah total, Mas Hedi. Beberapa hari lalu, saya lihat masih ada tokoh Nazi yang ebrhasil di tangkap dan diadili. Tapi kondisi beliau sudah sedemikian parahnya jadi mendengar pertanyaan hakim pun sudah tidak bisa. Riwayat kesehatannya mirip mantan almarhum RI-1, yang sebelum meninggal (meminjam istilahnya Mas Momon – Herman Saksono) hidup setengah-kopling dan pemerintah Jerman termasuk pemerintah yang paling semangat membantu penyelidikan hingga tokoh itu tertangkap.

  7. manusiasuper says:

    Kenapa bisa ada manusia-manusia sekejam itu? atau jangan-jangan, suatu hari nanti, beberapa dasawarsa dari sekarang, akan ada posting dari anak cucu saya menceritakan betapa barbarnya cara hidup saya sekarang?

    –0–

    Kalau jender masa depan adalah wanita semua, well… kamu harus siap-siap, Mansup.
    Hehehe

  8. Fortynine says:

    Sebagai saksi hidup tempat eksekusi, sekarang dengan segala hormat, saya yang terisolir disini ingin bertanya pada Bang Arif; Percayakah anda dengan jumlah korban holocaust setelah kunjungan ini? Jumlah korbannya,bukan kejadiannya… Terimakasih atas kesediaan menjawab, dan tentu saja terima kasih atas postingan yang menambah wawasan ini…

    –0–

    Pertama, Rid saya minta maaf. Entah kenapa komen ini masuk akismet. Adakah yang memasukkan kamu ke daftar spammer? Lain kali nampaknya saya harus hati-hati ngecek kotak spam. Biasanya saya langsung hapus. Sebab banyak sekali spam di sini.

    Kedua. Soal jumlah, Rid. Secara subjektif (karena banyak rekan yang berasal dari Jerman), saya amat mengakui ketelitian warga Jerman dalam dokumentasi. Bukan hanya itu sebenarnya, disain karakter animasi saya miring 2 pixel saja mereka bisa lihat dengan mata telanjang (tanpa bantuan penggaris digital). Dan warga Jerman juga amat bangga dengan ketelitian mereka. Sambil berseloroh, rekan-rekan Jerman saya bilang “Karena (ketelitian) ini negeri kami mencetak mesin-mesin terbaik di dunia”. Dari illustrasi tersebut saya pikir secara subjektifitas itu pula, saya mempercayai catatan kepala sipir Terezin 1942-1944 (seorang jenderal Jerman) yang terpampang di museum Terezin. Di sana ada catatan beliau bahwa korban yang tertulis adalah sebagaimana apa yang saya pampangkan di atas. Jadi, jumlah korban bukanlah hasil dari catatan keluarga korban Yahudi. Sebagian besar data di atas, saya dapatkan justru dari catatan prajurit-prajurit Nazi yang bertugas di benteng ini (*sebab entah kenapa, saya selalu punya kebiasaan buruk. Yaitu cek dan ricek info. Meskipun pemandu sudah berbusa-busa cerita bahwa ia anak salah satu korban*)

  9. wah itu tempat mengerikan sekali, bau kematian… kalo punya penglihatan ekstra, pasti bisa lihat setan penasaran korban kamp masih gentayangan di sana.

    –0–

    Syukurlah mata saya baru dua, Mbak. Coba kalau lebih? Berdasarkan teori si Mbak, kelihatannya saya sengsara juga kali yaa mendapatkan pemandangan ekstra.

  10. hilmy says:

    Saya merinding bacanya.
    Tapi di foto Selamat Tinggal Dunia, langitnya cerah jadi ga terlalu kelam suasananya. Kalau langitnya gelap mungkin lebih mencekam.

    –0–

    Cuaca di sana tidak begitu berubah kalau di musim panas, Mas. Katanya pemandu, satu-satunya hiburan napi adalah melihat langit cerah sebelum dieksekusi.

  11. Nita says:

    makasih bang atas oleh2nya…
    saya suka banget cerita2 kayak begini. tapi belum punya keberanian untuk dateng sendiri ke sana.
    konon yang di polandia, lebih terasa semeriwing lagi.
    dan foto2nya juga bagus2 banget.
    saya tunggu oleh2 berikutnya.

    groetjes

    –0–

    Auschwitz memang jauh lebih sadis, Mbak. Ada sih dokumentasi saya dan esai. Tapi karena untuk keperluan komersil, sayang sekali tidak dapat ditampilkan di bangaip.org. Kapan-kapan kalau mampir ke Poland lagi, saya coba ambil beberapa gambar atau footage. Terimakasih, Mbak. Groeten
    :)

  12. Wijaya says:

    Jadi ingat sama mas Ahmadinejad yang bilang bahwa pembantaian Yahudi itu gak gak ada….walau sudah banyak bukti sejarah mengatakan demikian. Kok gitu ya?

    –0–

    Mungkin beliau belum jalan-jalan ke sini atau ke Oświęcim yang membuat Terezin kelihatan seperti taman kanak-kanak.

  13. hamzah says:

    @atas gw

    CMIIW, kalo ga salah maksudnya ahmadinejad itu bukan ga ada pembantaian sama sekali. pembantaian tetap ada, tapi ga sebanyak yang diklaim. dan korbannyapun bukan cuman yahudi doang.

    pernyataan itu juga sindiran terhadap hukum di beberapa negara eropa dimana “holocaust denial” bisa diancam penjara. tapi kalo membantah kejadian pembantaian lain sih gak masalah. hehe aneh yak :D. CMIIW sekali lagi.

    –0–

    Sepengetahuan saya, Pak Ahmadinejad memang mengatakan bahwa holocaust adalah “Big deception”. Kalau tidak salah, persepsi ini juga yang menyebabkan program nuklir Iran akan terus jalan :)

    Soal “holocaust denial” bisa diancam penjara, buat saya itu juga mengada-ada. Sepengetahuan saya juga, di Benelux (Belgia, Netherlands & Luxemburg) membaca Mein Kampf adalah hal yang terlarang. Hehehe. Mirip baca buku Pram waktu jaman kuliah dulu. Atau baca Enny Arrow di dalem musolah. Hehe. Bukan hanya itu, menyanyikan lagu Die Fahne Hoch hingga saat ini terlarang di Jerman. (*Hehe, sensor memang ada di mana saja*)

  14. zam says:

    aku baca tulisan njenengan, seolah-olah langsung terlempar dan membayangakan situasinya. aku sampe miris an ngeri sendiri..

    sebuah masa lalu yg kelam. terkutuklah NAZI!

    –0–

    Yang ngeri Zam, perilaku para (pengaku) nasionalis seperti itu, masih banyak di dunia ini.

  15. guno says:

    wew,
    baca sambil ngabayangin apa yang terjadi pada saat itu, pastinya horror banget..
    ini bener terjadi kan kakak?
    klo kata ahmad dinejad kan smua itu hanya propaganda israel dalam menarik simpati dunia sehingga meraka bisa menduduki tanah palestina..

    terima kasih untuk cerita dan foto2nya..

    –0–

    Soal beneran terjadi apa tidak, sumpah mati saya tidak bisa bilang apabila kejujuran dinilai dari ‘saksi hidup’. Sebab saya bukan saksi hidup. Tapi kalau kejujuran dapat di bagi melalui bingkai sejarah, artefaktual, catatan pelaku dan korban serta pencocokan satu sama lain, maka apa yang terjadi di Terezin adalah sebuah skandal kemanusiaan tingkat tinggi.
    Tulisan ini sama sekali tidak berniat menyinggung apa yang dilakukan Israel di Palestina (atau sebaliknya). Apapun yang terjadi di Terezin, berdasar hemat saya bukanlah justifikasi bagi para korban untuk memperlakukan manusia lain dengan buruk/sama seperti apa yang pernah diperlakukan atas mereka.

    Terimakasih atas kunjungannya Kak Gunawan

  16. omnoba says:

    bang… foto pemandangan terakhir sebelum mati itu bikin ane merinding. tapi bikin gimana yach.. bikin ane jadi depresi tapi sekaligus penasaran akan pemandangan terakhir sebelum “berangkat”.

    –0–

    Saya aja belum berani ngebayangin euy. Serius euy. Bisa bikin depresi tuh.

  17. tiyok says:

    Membaca artikel mengenai sejarah adalah hobi saya (narsis, hehe…), cerita mengenai Nazi dan perang kala itu selalu menarik perhatian saya.
    Foto yang menarik perhatian saya adalah “Selamat Tinggal Dunia”, kesannya gimanaa gituu… Dalam bayangan saya, mungkin yang ada dalam pikiran orang yang ada dalam posisi itu, “Akhirnya… Akhir dari segala penderitaan ini…”
    Who knows?
    Memang membuat bergidik.

    O ya, hasil penelitian Dr. Josef Mengele setelah perang konon diambil pihak sekutu (begitu pula dengan penelitian Unit 731-nya Jepang). Mereka jadi tak perlu susah-susah mengadakan percobaan kejam seperti itu.

    Salam kenal Bang!
    😀

    –0–

    Salam kenal jua Tiyok.

    Terimakasih infonya soal Dr Mangele. Sebab saya pribadi agak takut mendalami untuk mengetahui apa riset beliau.

Leave a Reply