Mata Tuntutan

(*Catatan respek buat guru. Dimanapun. Kapanpun*)

Ibu saya guru. Sekolah Dasar. Formal. Biasanya beliau mengajar dari pagi jam tujuh sampai jam dua siang.

Jam lima sore sampai jam tujuh malam, beliau mengajar anak-anak usia 5 – 9 tahun mengaji. Informal. Buka pangajian di rumah Cilincing. Ruang tengah yang biasanya jadi ruang keluarga, bertransformasi jadi arena mengaji. Mempelajari kitab suci.

Tinggal di Tanjung Priok. Dekat pelabuhan. Mamanya Ibu, Hapsah, adalah nenek saya. Almarhumah buta huruf alfabetis. Tidak bisa baca koran. Tidak bisa baca buku. Tidak mengerti cara menulis. Tapi bisa mengaji dan mengenali aksara arab. Buat saya, itu ironis. Tinggal di Indonesia, tapi tidak bisa baca tulis dalam bahasa Indonesia. Meskipun dalam ironi, Hapsah ini kalau malam hari menyulap dapurnya menjadi sarang baca tulis perempuan-perempuan kampung. Jadi guru para wanita tua yang senasib dengannya (buta huruf). Belajar sama-sama jalinan huruf Arab sambil berbagi cerita di kitab suci. Mungkin sebenarnya berbagi kesedihan. Di belantara manusia modern, mereka tersisih. Dan mungkin aksara arab berisi cerita nabi-nabi (yang katanya jauh lebih susah), jadi pemompa semangat hidup.

Ibunya Hapsah bernama Maryah, pernah ke Mekkah naik haji dengan kapal laut. Pulang dari sana, buka madrasah di Kalibata, tempat ia dilahirkan. Suaminya, Haji Sapidi, bukan tuan tanah. Bukan pula orang kaya. Namun berani jual beberapa ekor sapi untuk ditukar sebidang tempat untuk dijadikan madrasah. Maryah pun jadi guru. Muridnya perempuan-perempuan Condet, Pasar Minggu, Ragunan, Kalibata dan sekitaran daerah yang disebut Jakarta Selatan saat ini. Ia mengajar (tentu saja) aksara Arab dan… Cara memerah sapi.

Generasi diatas Maryah saya tidak faham sejarahnya. Mungkin karena malas mencari tahu. Entah mereka guru, entah mereka punya sekolah. Entahlah. Saya tidak begitu tertarik jadi guru. Waktu itu, saya pikir saya tidak perlu tahu.

Saya memang tidak pernah berniat jadi guru. Apalagi guru mengaji aksara Arab.

Saya ingin jadi petani. Punya sebidang tanah untuk ditanam. Punya sedikit lapak, untuk menjual hasil bumi yang tertuai.

Atau apabila tidak jadi petani… Saya ingin jadi penari. Entah kenapa, buat saya penari itu orang yang luar biasa. Eksotis seperti seniman. Lentur sportif seperti pemain sirkus. Atau malah, gabungan keduanya. Saya kagum.

Ternyata, sering berjalannya waktu, saya gagal jadi petani. Apalagi jadi penari. Sejarah mencatat, bahwa saya tidak pernah punya sebidang tanah untuk di tanam. Sama dengan sejarah pula mencatat bahwa ternyata tubuh saya tidak lentur.

Namun, saya tetap tidak pernah berniat jadi guru.

Lalu saya bertanya pada diri sendiri, “Kenapa saya tidak pernah berminat jadi guru? Apakah ada yang salah dari profesi guru?”

Jawabnya: “Tidak ada. Ini hanya masalah persepsi pribadi”

Ibu saya, jadi guru sejak beliau lulus SPG (Sekolah Pendidikan Guru). Waktu itu, usianya 19 tahun. Tidak lama kemudian, ketemu (almarhum) bapak. Lalu menikah. Di boyong ke Cilincing. Dua tahun setelahnya, saya lahir.

(alm) Bapak saya buruh pabrik bingkai. Kerjanya yaa membuat bingkai. Di daerah Pluit, Jakarta Utara. Pergi pulang kerja, naik motor. RC 100. Itu motor bebek termurah di jamannya. Beliau bisa ambil kridit motor dengan jaminan agunan di bank, yaitu sertifikat pegawai negeri milik Ibu.

Walaupun begitu, percayalah, saya tidak akan menceritakan riwayat biografi singkat keluarga kami. Saya yakin itu tidak penting dan mungkin membosankan buat anda.

Saya hanya mau cerita, gaji (alm) bapak tidak besar. Penghasilan Ibu, sebagai guru pemula honorer, juga sama sekali tidak besar. Mereka bisa bertahan hidup salah satunya adalah dengan cara; mengandalkan beras jatah pegawai negeri yang Ibu dapat setiap bulan.

Tahun 80-an.

Beras jatah guru itu sedemikian ajaibnya. Saking ajaibnya, kami menemukan banyak batu di sana. Sebelum mulai makan malam, kami sudah menyendok nasi dan menaruhnya di atas piring. Hati-hati, dengan sendok saya sisihkan batu diantara kumpulan nasi panas mengepul. Bapak memberi mangkuk. Untuk mengumpulkan batu-batu yang kami peroleh dari antara nasi.

Setelah itu, baru kami makan.

Saya tumbuh dengan ritual lain selain mengumpulkan batu dari nasi. Habis makan malam, biasanya ada orang tua murid datang ke rumah. Konsultasi pada Ibu.

Umumnya mereka datang dengan muka keruh. Alasannya macam-macam. Ada yang karena anaknya nakal berkelahi. Atau karena prestasinya tidak baik dan mungkin tidak dapat naik kelas. Atau karena anaknya sakit dan akan absen lama.

Yang pasti, hampir setiap malam selalu ada orang dengan muka keruh datang ke rumah. Minta tolong.

Maka, mari saya ulang pertanyaannya dengan frasa yang berbeda “Jika guru adalah profesi yang menjanjikan kepahlawanan, akankah saya memilih profesi tersebut?”

Jawabnya: “Entahlah”

Saya tidak pernah berminat jadi pahlawan. Baik itu pahlawan tanpa nama, pahlawan devisa, atau pahlawan apapun sebutannya. Saya tidak pernah punya keinginan untuk jadi pahlawan. Biarlah pujian itu disematkan pada orang lain saja. Saya tidak butuh.

Yang pasti, ada impuls di otak yang tertanam sejak saya kecil. Bahwa guru itu identik dengan beras + batu. Guru = akan selalu kedatangan tamu dengan muka keruh yang datang setiap malam selepas isya lalu pulang terburu-buru.

Dan neuron saya tetap terus bekerja. Tancapan imaji yang diperoleh sejak kecil, susah dihilangkan begitu saja. Saya tidak mau jadi guru.

Saya bukan pahlawan. Dan sama sekali tidak suka makan batu.

Masa 90-an.

Awal November. Masih sekolah di Depok. Suatu hari menjelang akhir minggu, saya mengunjungi rumah Ibu di Cilincing. Sampai sana, pukul empat sore.

Tidak ada orang di rumah. Ada catatan kertas tertinggal di meja. Ibu pergi ke rumah sakit Gatot Subroto. Dekat terminal Pasar Senen. Sahabatnya meninggal di ICU. Innalillahi.

04.30 WIB. Sedang makan. Mulut saya penuh dengan nasi dan cumi. Ada suara pintu di ketuk. Dengan tangan belepotan saus kuah, saya buka pintu dengan terperangah. Tiga orang anak kecil berdiri di sana. Dua lelaki kecil pakai baju koko dan kopiah. Satu lagi, perempuan sekitar usia delapan tahun pakai rok merah.

Selesai mengucap salam, mereka masuk saja ke ruang tengah. Belum saya persilahkan. Main masuk saja nyelonong. Taruh tas. Duduk di lantai bersandar tembok. Tidak banyak bicara. Seakan sudah seperti rumah sendiri.

Sejenak saya kaget. Dalam hati sempat berfikir, ‘Jangan-jangan gua salah masuk rumah nih!’ Saya berdiri mematung di pintu. Bingung. Saya harus apa?

Namun nampaknya kebingungan saya tidak berlangsung lama. Si Rok Merah bertanya dengan logat centil, “Mbak-mbak… Bu Azz kemanza ziih? Akyuu kan zudah ngerzain pe eer looh”

Mbak? Lah dia ngomong ama siapa? Saya celingak-celinguk. (*Omong-omong, Bu Azz itu mungkin yang dimaksud adalah Bu As, ibu saya*)

“Mbak-mbak… Iih tangannyza kok kotzor ziih” si Rok Merah terus mencerocos.

Astaga!

Dengan alis naik, saya bilang “Eh bocah. Pake mata yang bener dong! Gua laki-laki tau!”

Ia menangis.

Dibilang begitu, si Rok Merah takut rupanya. Lah cengeng amat? Baru digituin doang kok nangis.

Dua bocah lelaki berbaju koko, menatap saya dengan perasaan tidak senang.

Saya jadi tidak enak hati. Saya bilang, “Sebentar yaa… Saya makan dulu. Udah kalian disini aja. Duduk yang manis. Jangan nakal yaa”

Saya kabur lagi ke dapur. Meneruskan makan. Walaupun kali ini sambil berdoa. Semoga Ibu pulang lebih cepat. Sumpah! Saya tidak tahu, mau saya apakan anak-anak kecil ini?

05.15 WIB. Makanan sudah habis. Doa saya semakin kencang. Semoga saja Ibu pulang. Atau apabila tidak, si Uul adik saya pulang. Jadi bisa saya limpahkan tiga bocah ajaib di ruang tengah itu.

Atau apabila tidak juga, semoga ada Godzilla menyerbu Cilincing. Mengalihkan perhatian anak-anak itu sementara.

05.20 WIB. Ruang tengah sudah semakin berisik. Saya melongok. Buset! Tambah banyak sekali anak kecil di ruang tengah. Kalau tidak salah, ada sekitar 16 orang. Berisik sekali. Ampun deh!

Tidak ada Ibu. Tidak ada Uul. Tidak ada Godzilla. Tidak ada siapa-siapa. Saya sendirian disini.

Saya ketakutan. Bersembunyi di dapur. Tidak berani menghadapi ‘massa ganas’ tersebut. Sampai akhirnya, si Rok Merah masuk ke dapur “Mbaak… Mbaak… Bu Azzz nya kemanzaaa. Ini pe er akyu bagaimanza doongz”

Saya tidak berani menghardiknya lagi. Saya khawatir dia menangis.

“Ya udah.. Ya udah.., kamu tunggu. Kakak siap-siap. Kakak yang gantiin Bu As sore ini”

Dia kembali ke ruang tengah dengan senyum lebar.

Sambil menyebut nama tuhan (mungkin) ratusan kali. Saya menyusul. Melangkahlah kaki yang berat ini ke ruang tengah. Berdiri di depan papan tulis dekat telepon di sudut ruangan. Anak-anak itu diam. Rapih duduknya berjajar. Semua mata memandang ke depan. Ke arah saya.

(Tanpa sadar keringat dingin saya mengucur)

“Adek-adek… Sore ini kakak yang gantiin Bu As ngajar kalian. Bu As ke ke rumah sakit…”

Belum selesai saya bicara, mereka ribut lagi. Satu anak pakai kopiah tunjuk tangan, “Bu As sakit?”

Saya gelagapan. “Bukan dek. Meninggal. Eh.. Kok saya salah omong begini. Maksud kakak, ada temennya yang meninggal. Bu As lagi nyelawat”

“Meninggal itu apa?”

Saya makin gelagapan. “Meninggal itu.. Err.., Meninggal itu artinya maen-maen ke sorga”

“Sorga itu dimana?”

(Masih dengan gelagapan dan keringat dingin). “Sorga itu rumah yang isinya maenan semua. Pokoknya asik deh”

Mereka semua senyum mendengar kata mainan. Fiuuhhh…

“Situ siapa?” Dari pojok kiri suara kecil bertanya lagi. (Setelah melihat ia mengacungkan jari, saya pikir ada peraturan di ruangan ini). Buset dah, saya dipanggil ‘situ’.

“Saya anaknya Bu As. Nama saya…”

“Kok nggak pake kerudzung ziih?” Suara di depan saya memotong.

Kampret. Si Rok Merah tunjuk tangan. Beraksi kembali.

(Berusaha mati-matian untuk tetap kalem) “Dek, kakak ini laki-laki. Jadi nggak usah pake kerudung”

“Kok lakzi lakzi rambutznya panzaang… Iiihh”

(Masih tetap kalem. Hati saya bilang, ‘sabar men. sabar. anak kecil nih’). “Dek, di dunia ini ada laki-laki yang rambutnya pendek. Ada yang rambutnya panjang. Bahkan ada juga yang nggak punya rambut”

“Tapzi kan… Tapzi kann… Bu Azzz kalo ngazar kan pake kerudzuung”

Semua mata di ruangan itu menatap saya dengan tatapan mata yang sukar dijelaskan dengan kata-kata. Sumpah, belum pernah saya ditatap anak kecil segitu banyak dengan tatapan mata ajaib begitu.

Saya menyebutnya… Mata tuntutan.

Sambil bersumpah serapah dalam hati, saya masuk ke kamar Ibu. Cari kerudung. Saya coba-coba semua kerudung Ibu. Uugh tidak ada yang muat. Kekecilan.

Jadi, saya ambil handuk warna krem tipis. Dijepit pakai peniti. Lalu keluar kamar.

Melihat saya pakai kerudung, mata mereka berubah. Jadi jauh lebih manis.

Satu persatu menghampiri saya, memberi buku PR pekerjaan rumahnya.

Tiba-tiba sahabat saya Odoy, datang. (Kalau dia, datang dan pergi memang tidak diundang. Tahu-tahu sudah di samping saya). “Bu, si Gugun kemana?”

Cari adik saya Gugun, rupanya.

Saya menengok ke arahnya, “Bu! Ibu dari Hongkong!”

Dia bengong. Kaget.

“Loh, Ibu lu kemana Rip? Lo ngapain pake jilbab begini?”

(Saya malas menerangkan)

“Doy, bantuin gua nih meriksa pe er pengajian anak-anak”

Odoy menatap lemas, “Gua nggak bisa ngaji men”

“Yaelah, lu kemana aja men?”

Odoy tidak jawab apa-apa. Dia garuk-garuk kepala. Saya bingung, tidak tahu harus berbuat apa.

“Doy, Ibu gua kalo ngajar bagaimana?”

“Yah begitu deh. Bediri di deket papan tulis”

“Yaelah, gitu doang mah gua tau coy!”

“Lo kenapa sih Rip? Udah pake jilbab… Galak pula?” Ia tambah kebingungan.

(Saya malas berdebat)

“Maksud gua bukan gitu men. Maksud gua, gimana cara ngajar Ibu gua?”

“Ooh itu.. Kalo nggak salah sih, pertama kumpulin dulu bukunya. Abis itu lo kasih itung-itungan di papan tulis. Nah pas anak-anak itu ngerjain itungannya, lo periksa pe-ernya. Kalo udah selesai, lo kasih pe er itung-itungan lagi”

Saya bingung. Saya buka buku pekerjaan rumah anak-anak itu. Saya kaget. Tidak ada aksara Arab di sana. Hanya ada angka.

“Doy, Ibu gua nggak ngajarin ngaji yaa”

“Yaa ngajar. Tapi biasanya sih pengajian matematika gitu. Belajar matematika terus sebelum pulang bedoa. Doanya juga pake bahasa Indonesia. Anak-anak ini kan agamanya nggak semuanya sama, rip”

Akhirnya dengan dipandu Odoy, sukses pula saya memberi pengajian membagi-menambah-menjumlah-angka-angka matematika.

Setelah Odoy pulang. Lepas isya ada bapak-bapak mengetuk pintu. Di sampingnya ada anak kecil. Perempuan dengan rok merah. Dalam hati saya mengeluh ‘Yaah, dia lagi… Dia lagi’

Bapak itu seperti tipikal bapak-bapak Cilincing. Lusuh, kurus dan berkulit gelap. Banyak terpanggang sinar matahari. Urat lengannya menunjukkan cari nafkah mengandalkan tenaga kasar.

“Dek, Bu As nya ada?”

“Belum pulang, Pak. Masih di Gatot Subroto. Saya anaknya, Pak. Silahkan masuk”

“Ahh nggak usah dek. Di sini aja”

“Ada yang bisa saya bantu, Pak”

“Gini dek. Bulan oktober kemaren. Saya nggak bisa bayar SPP. Saya…”

Saya mengerti. Masalahnya mungkin di bayaran bulanan. Aneh juga, setahu saya Ibu tidak pernah meminta iuran. “Ahh nggak apa-apa Pak. Nggak usah dipikirin. Santai aja kalo soal bayaran mah”

“Bukan gitu dek. Saya malu. Ini bukan iuran ngaji aja. Tapi bayaran sekolahnya si Yuni juga saya nggak bayar. Kebeneran bulan kemaren agak seret, dek”

(Ooh si kampret itu namanya Yuni)

“Nggak usah malu, Pak. Santai aja” kata saya sambil senyum.

“Begini dek. Yaah biar bagaimana juga, saya kan orang tua murid. Udah ngasih tanggung jawab sama ibunya adek. Dan ibu adek melaksanakan tanggung jawabnya. Sekarang yaah gantian saya”

Saya diam. Saya tidak tahu maksudnya.

Ia mengambil kotak sterofoam. Awalnya saya kira, bungkus helm. “Ini ada rejeki sedikit dek dari ngelaut. Ini untuk Ibunya adek”

Oh, rupanya ia nelayan pantai Marunda. Bekerja tidak jauh dari rumah Ibu. Isi kotak itu hasil tangkapannya di laut. Ikan-ikan segar.

Saya senyum. Mengucap terimakasih.

Lalu menoleh ke arah si Rok Merah. Sok akrab, “Eh udah malem loh. Kamu nggak dicariin mama?”

Di pintu gerbang si Rok Merah berkata “Kata bapak mama di surga, Mbak. Tapi enak yaa disono, pasti banyak mainan dan boneka”

Saya diam tidak berkata apa-apa. Lidah saya beku.

Dan sejak itu, saya tahu kenapa Ibu terus tetap bekerja sebagai guru.

(*Sejak itu pula, saya punya cita-cita baru*)

This entry was posted in bangaip, Orang Indonesia, sehari-hari and tagged . Bookmark the permalink.

9 Responses to Mata Tuntutan

  1. yo says:

    kata guru saya, cita2 saya dulu waktu SD adalah jd guru. tapi saya heran kenapa saya bisa ga inget pernah punya cita2 jd guru…
    dan biarpun saya sadar profesi guru itu mungkin pekerjaan paling berkah dan bermanfaat, saya masih blum pe-de jadi guru, bang…
    kadang kasian sama anak2 murid kalo sampe punya guru yg berantakan kayak saya… *waduh, maap, bang, jd curcol :mrgreen: *

    –0–

    Nggak apa-apa Mas. Saya juga curcol kok disini. Hihihi.

  2. manusiasuper says:

    mbak.. mbak… nasip kita kok mirip ya mbak? :mrgreen:

    perkara makan nasi campur batu itu, perkara curhat orang-orang itu… dan yang paling saya ingat adalah, bunda saya tidak pernah terlihat lelah dan marah menghadapi semuanya… Pasti sekarang bunda saya di surga juga, yang banyak mainannya itu.. :)

    Abah saya juga guru, gaji pertamanya 7.800 rupiah.
    Saya lahir rada bawa masalah, umur 2 hari menolak minum ASI. Akhirnya tiap bulan gaji abah khusus buat beli susu instan. Keperluan rumah tangga lain ditangani bunda yang sekalian terima jahitan di rumah.

    Saya potong kedua lengan saya dan memberikannya buat mereka, tetap tidak terbayar hutang cinta saya mbak…

    Saya juga tidak pernah niat jadi guru mbak, sumpah! Rata-rata teman saya pasti ingat, saya pernah berujar “guru adalah profesi terakhir yang akan saya pilih jika semua pekerjaan di dunia ini sudah habis”

    Akhirnya, kualat.

    *tuh kan, malah curhat*

    –0–

    *Selalu ada bahu di sini untuk mansup*

  3. hedi says:

    guru seperti ibu sampeyan itu yang harusnya diteladani :)

    –0–

    Saya sampaikan nanti pada beliau, Mas Hedi :) Terimakasih

  4. omnoba says:

    bang… saya jadi malu baca ini… keingat kalo dulu sering berkunjung ke rumah guru saya hihihi

    oh iya bang, beberapa judulku pan diilhami oleh abang, ajarin dunk cara bikin hiperlink. maklum rada gaptek hehehe.

    –0–

    Kalau pakai wordpress, ada fasilitas untuk hyperlink. Ini gambarnya ada disini
    http://www.itegritygroup.com/seo-web-development-blog/wp-content/uploads//wordpress-hyperlink-tool.png

    Semoga berguna :)

  5. Guru memang benar-benar pahlawan tanpa tanda jasa. Tidak hanya memberikan pengetahuan, tapi juga membentuk akhlak yang baik pada murid-muridnya. Saya senang pernah mengalami pendidikan & pembinaan dari banyak guru yang luar biasa.

    –0–

    Terimakasih sudah berbagi Mas Dewo
    :)

  6. Wijaya says:

    *haha, demen cerita begini*

    Saya dulu waktu kecil juga pernah makan nasi campur kerikil bang, haha. Maklum jaman susah.
    Sekarang guru malah sering dilecehkan murid (juga sebaliknya ding). Kalau murid diberi sanksi oleh guru karena melakukan kesalahan, ortunya ntar yang maju pertama belain anaknya, haha.

    *oya bang, cita2 barunya jadi guru ya? Dah kesampean blm?*

    –0–
    Udah Mas Nuky :) Anyway, thanks for share

  7. perempuan says:

    wahh .. kebetulan ibu & bpk saya juga guru. Sekolah Dasar 😀

  8. ki gelenk gelenk says:

    Memang, perubahan tidak melulu perlu uang, harta, pangkat, dan jimat…. cukup lewat “mata”…

    –0–

    Terimakasih

Leave a Reply