Polisi dan Hacker

Sebelum lebih lanjut, perlu diketahui bahwa:
1. Saya bukan Polisi
2. Saya bukan Hacker
3. Saya bisa menulis ini karena anonim. Tidak perlu di tanya saya siapa. Rumahnya di mana. Kerja apa. Atau apa latar belakang yang saya miliki. Sebab saya cuma salah satu orang biasa dari desa Cilincing. Hehe.
4. Tulisan ini tidak punya pretensi apapun selain berdasarkan pengalaman pribadi yang amat subyektif. Jadi santai saja. Jangan marah-marah. Nikmati saja isinya :)

Latar Belakang

Saya kaget ketika suatu hari blognya Mbak Pito dan beberapa tulisan teman-teman di agregat blog Planet Terasi dihalangi oleh browser kantor. Tidak bisa lagi di akses.

Aneh. Tulisannya Mbak Pito sama sekali tidak termasuk kategori membahayakan ketentraman umum. Apalagi blog-blog Planet Terasi. Sejauh mata memandang, isinya yaa melulu teknologi terkini.

Apa yang salah?

Saya jelas tidak tahu. Maka dengan serta merta, saya menuju IT Departement untuk mengetahui musababnya.

Dari manajer IT, saya mendapatkan kabar mengejutkan. Bahwa kantor kami (cabang Uni Eropa) mendapatkan sebuah alat penyaring alamat-alamat di dunia maya yang boleh diakses maupun sebaliknya. Tugasnya simpel, pembatas.

Saat itu, saya kebetulan bekerja di sebuah perusahaan multinasional yang berbasis di Amerika Serikat. Jawaban orang IT sama sekali tidak memuaskan untuk saya. Maka siang itu, saya langsung menghubungi orang-orang IT kantor pusat. Kebetulan di antara mereka adalah sahabat baik saya.

Dari sahabat-sahabat, saya dapat kabar yang jauh lebih mengejutkan. Ternyata sebelum Presiden Amerika berganti (akhir tahun 2008), ada varian baru dari Undang Undang HR 3162 US Patriot Act. UU HR 3162 adalah undang-undang yang di buat di Amerika Serikat sebulan setelah peristiwa 9/11, di mana menara kembar WTC (World Trade Center) di New York City jadi sasaran aksi terorisme. Undang-undang tersebut, memang di buat untuk memerangi terorisme. Varian itu berisi bahwa semua perusahaan Amerika Serikat harus ikut memerangi terorisme.

Kata mereka, “Rif, sebagai bagian dari Amerika Serikat, mau tidak mau perusahaan harus mengikuti aturan pemerintah. Diantaranya adalah memerangi aksi pornografi anak, penipuan, terorisme dan kejahatan cyber lainnya. Setiap hari, kami mendapat file update terbaru. File itu langsung dibagikan ke seluruh kantor cabang di seluruh dunia. Termasuk juga ke Eropa, tempat kamu berdinas. Sebagai bagian dari perusahaan Amerika, saya yakin kamu sadar bahwa kamu juga bagian dari hukum Amerika”

Saya tidak mengumpat (walaupun hati jengkel luar biasa, sebab wilayah yuridiksi saya di klaim seenaknya). Saya juga tidak bertanya lebih lanjut mereka dapat file dari mana, sebab posisi mereka adalah pemegang keputusan (artinya cuma satu: Diatas mereka cuma ada tuhan dan US Government diantaranya).

Saya coba bersikap wajar. Dan menelaah persoalan ini satu persatu.

Setelah Dua Minggu Mencoba Berprasangka Baik Dan Mencari Bukti.

Saya menemukan fakta bahwa halaman-halaman website berkategori sebagai berikut yang tidak bisa di akses:

  • Mengandung pornografi pada konten gambar atau tulisan.
  • Berisi kalimat eksplisit seperti ‘W*ore’, ‘F*ck’ dan sebagainya. (*Mbak Pito header blognya adalah F*ck Say I. Dan saya sepenuhnya respek dengan pilihan beliau. Hingga saat ini saya tetap pelanggan setia blog beliau – dari perangkat mobile atau PC rumah*).
  • Mengandung malware, atau file-file mencurigakan lainnya yang membahayakan pengunjung.
  • Memberikan informasi yang menjurus ke arah perusakan ketentraman masyarakat. Seperti cara membuat bom, cara merusak fasilitas publik, dan sebagainya.
  • Website yang di duga kuat mempunyai link dengan jaringan terorisme offline.
  • Web yang berisi file torrent.
  • Web khusus unduh yang berisi file-file ilegal dan melanggar copyright.
  • Web yang telah terbukti (berdasarkan data kriminalitas keamanan US) mengumpulkan data pengunjung dan menggunakannya sebagai sarana scam atau spam.

Beberapa blog di Planet Terasi yang terhalang oleh penyaring kantor saya, setelah dikonfirmasi, ternyata ada di bawah IP address server yang gemar melakukan illegal data mining dan tersangkut kasus penipuan kartu kredit (carding). Setelah meyakinkan bahwa isi web mereka sama sekali tidak berbahaya untuk publik, admin EU bersedia mencabut beberapa alamat-alamat domain tersebut dari daftar hitam.

Yang mau saya tekankan di sini adalah; bahwa pihak keamanan Amerika Serikat (terkesan amat sangat) kooperatif dalam mencegah bahaya kejahatan online.

Dan UU HR 3162 (*yang sering dipanggil dengan UU NAZI online oleh para penggiat kebebasan informasi karena banyak membatasi kebebasan berinternet*) diantaranya berperan amat besar sekali dalam dunia internet Amerika Serikat (dan dunia. Secara US punya hubungan diplomatik di hampir semua negara dunia).

Tapi, jangan takut. Sebab UU ajaib itu, yang mirip pasal karet di Indonesia – ternyata bisa dimanfaatkan loh.

Apa Hubungannya HR 3162 dengan Polisi dan Hacker?

Hubungan Pertama:

Bapak Nanan Soekarna pada hari Jumat tanggal 31 Juli 2009 berkata “Kan banyak hacker kita yang pintar di Indonesia. Ayo coba buktikan membela bangsa dan negara. Cari itu semua, berilah informasi. Nanti akan ketangkap,”
(sumber: detiknews).

Hari itu, kebetulan Pak Nanan bertugas sebagai Kadiv Humas Mabes Polri (Singkatan dari ‘Kepala Divisi Hubungan Masyarakat Markas Besar Polisi Republik Indonesia’). Orang yang bertanggung jawab memberikan info dari dinas kepolisian negara kepada masyarakat.

Beliau berkata itu ketika menanggapi pertanyaan wartawan; apakah Nurdin M Top (*alhamdulillah almarhum*) yang ditengarai sebagai otak pemboman hotel di Jakarta pada tahun 2009 juga adalah orang dibalik website bernama mediaislam-busroh.blogspot.com. Dimana website tersebut mengaku bertanggung jawab terhadap aksi terorisme melalui bom.

Singkat kata, Pak Nanan meminta ‘Hacker Indonesia’ mencari tahu siapa otak dibalik mediaislam-busroh.blogspot.com. Kalau sudah tahu, maka polisi bisa mencokoknya.

Kekagetan masyarakat (diantaranya saya) setelah mengetahui pernyataan tersebut adalah:

  1. Pak Nanan (mungkin) belum tahu bahwa blogspot, tempat situs yang mengaku penebar teror itu itu, di hosting Google. Salah satu perusahaan multinasional Amerika. Yang berarti, ada di bawah Undang-undang US
  2. Pak Nanan (mungkin) belum tahu eksistensi UU HR 3162 (yang dibuat tahun 2001 di Amerika Serikat) dan UU itu bisa membantu penyelidikan Polisi RI tanpa bantuan ‘Hacker Indonesia’
  3. Anak buah Pak Nanan (mungkin) kebetulan sedang sibuk jadi lupa memberitahukan dua fakta di atas kepada atasannya
  4. Pak Nanan (mungkin) kebingungan mendengar banyaknya istilah ‘Hacker’ (yang sering disalah-artikan oleh beberapa media, diantaranya KRMT Roy Suryo). Dan menganggap ‘Hacker Indonesia’ adalah orang-orang yang semestinya bertanggung jawab membantu POLRI memberantas aksi terorisme online
  5. Pak Nanan (mungkin) sedang kepeleset omong, bahwa masuk ke dalam sistem (bisnis legal) milik orang lain secara diam-diam adalah manifestasi dari membela bangsa dan negara

Untunglah terpelesetnya Pak Nanan yang terhormat tidak membawa dampak begitu besar (*minimal tidak ada deface, penggantian kulit muka di website Polri, hehe*). Dan untunglah pula kita semua bahwa Nurdin M Top, penjahat yang berbahaya itu mampu dimusnahkan.

Dari ilustrasi diatas, terlihat bahwa hubungan antara ‘Hacker Indonesia’ dan Polisi… Sudah memiliki banyak pertanyaan.

Hubungan Kedua:

Tahun 2009 adalah tahun pertarungan antara dua binatang; Cicak, yang diwakili oleh Komisi Pemberantasan Korupsi dengan Buaya, yang diwakili oleh BEBERAPA anggota Polisi Republik Indonesia (sekali lagi – BEBERAPA. Tidak semua).

Pertarungan ini dipicu oleh kasus ‘pemanggilan’ (bahasa halus dari penahanan dan kriminalisasi) dua pimpinan KPK yang sedang menangani kasus korupsi. Katanya, sambil berguyon Kabareskrim Komjen Susno Duadji (Kabareskrim singkatan dari Kepala Badan Reserse dan Kriminal, itu adalah nama jabatan. Sedangkan Komjen singkatan dari Komisaris Jenderal, nama pangkat) berkata “Cicak Kok Melawan Buaya”. (silahkan klik di sini untuk melihat lebih lanjut kenapa dua orang itu ditahan)

Kita tidak akan bicara mengenai guyonannya Pak Susno serta selera humor beliau.

Tapi kita akan melihat bagaimana “Cicak vs Buaya” ini ternyata membawa pengaruh cukup besar untuk publik.

Facebook, media jejaring sosial, berhasil mengumpulkan sejuta pendukung Bibit S. Riyanto dan Chandra M.Hamzah. Dua pimpinan KPK yang sedang ‘dipanggil’ Polisi. Hebat bukan?

Yang lebih hebat lagi, tiba-tiba di facebook pula muncul status dari seorang anggota polisi bernama Evan yang berisi kalimat “Polri gak butuh masyarakat tapi masyarakat yang butuh polri… maju terus kepolisian indonesia telan hidup2 cicak kecil”

Dari Evan, kita belajar satu hal basis yang kedengarannya klise; ‘mulutmu harimaumu’. Walaupun sebenarnya ada pelajaran lain yang bisa dipetik, yaitu cara mempopulerkan produk secara singkat dan murah melalui marketing gimmick.

Apa Hubungannya Dengan Hacker?

Seminggu setelahnya, atasan Evan, Kepala Korp Brimob Irjen Pol Imam Sudjarwo tidak memberikan sanksi apa-apa. Kata beliau, akun facebook Evan di hack. Jadi, yang menulis itu bukanlah Evan, anak buahnya.

Wohoo, lagi-lagi kita mendengar ada kalimat ‘hack’ dari mulut pelayan publik.

Tentu saja, apabila benar, maka yang melakukan ‘tindakan hack’ tersebut adalah ‘hacker yang bisa bahasa gaul di Indonesia dan mengerti perkembangan situasi dalam negeri Indonesia’ maka asumsi (berdasarkan teori If-Then-Else) yang bisa kita ambil antara lain adalah; hacker tersebut dari Indonesia atau memahami Indonesia.

Rasanya amat janggal kedengarannya apabila ada hacker dari Arab Saudi (atau Hongkong atau Rusia atau apalah) suatu malam mengambil akun Evan dan lalu menulis status tersebut.

Sekali lagi; Kekagetan masyarakat (diantaranya saya) setelah mengetahui pernyataan tersebut adalah:

  1. Pak Imam (mungkin) belum tahu bahwa facebook itu salah satu perusahaan multinasional Amerika. Yang berarti, ada di bawah Undang-undang US (*haha, copy paste dari atas dengan sedikit modifikasi*)
  2. Kalau memang mau diseriusi permasalahan ini untuk memperbaiki citra Polri, Pak Imam (mungkin) belum tahu eksistensi UU HR 3162 (yang dibuat tahun 2001 di Amerika Serikat) itu bisa membantu penyelidikan Polisi RI mengetahui siapa ‘Hacker Indonesia’ yang terlibat dalam memanipulasi status Evan
  3. Anak buah Pak Imam (mungkin) kebetulan sedang sibuk jadi lupa memberitahukan dua fakta di atas kepada atasannya
  4. Pak Imam (mungkin) sedang berguyon menganggap ‘Hacker Indonesia’ adalah orang-orang yang semestinya bertanggung jawab atas rusaknya status facebook anggota Kepolisian Republik Indonesia
  5. Pak Imam (mungkin) sedang kepeleset omong

Dengan berprasangka baik, mari kita bilang saja bahwa Pak Imam sedang berguyon. Mungkin saja, beliau dilatih dengan metode pendidikan kepolisian Inggris Raya. Dimana, humor satir adalah bagian dari kultur orang-orang Inggris.

Saya yakin Pak Imam tidak kepeleset bicara. Sebagaimana keyakinan beliau bahwa anak buahnya Evan, tidak pula pernah terpeleset. (*Walaupun saya yakin kita semua mahfum dan pasti memaafkan apabila Evan di anggap masih muda dan berbuat kesalahan. Ahh siapa sih yang nggak pernah salah?*)

Tapi lupakanlah sejenak Evan, Pak Imam dan bapak-bapak lainnya yang saya sebut di atas tulisan ini.

Marilah kita konsentrasi sejenak dengan kalimat ‘Hacker’ yang dari Indonesia atau mengerti permasalahan Indonesia.

Mengapa ia (atau mereka) banyak muncul dalam kalimat pejabat publik kepolisian Indonesia ketika ada kasus yang mencoreng dunia online RI?

Siapakah sebenernya dikau Mas (atau Mbak) Hacker?

Apakah dirimu menyukai sayur toge sebagaimana diriku menyukainya?

Kenapa kamu hebat sekali, sampai-sampai kalau ada apa-apa urusan polisi, namamu sering muncul?

Ada apa dengan polisi? Ada apa dengan hacker?

Oh hacker… Oh Hacker… Andai boleh, buatkanlah puisi cinta untuk Polisi Indonesia. Sehingga hubungan kalian tidak selalu dalam tanda tanya.

Oh! Pak Polisi, buat juga dong sajak romantis untuk Hacker :)

This entry was posted in bangaip, cerita_kerja, Orang Indonesia, Republik Indonesia and tagged , , . Bookmark the permalink.

17 Responses to Polisi dan Hacker

  1. Amd says:

    Kok saya menangkap kesan kalau istilah “hacker” ini sekadar jadi apologi sehingga polisi bisa lepas tangan kalau ada “woro-woro” di internet ya Bang? Kalo ada teroris petantang-petenteng di internet, hacker yang disuruh mencari, kalo ada (oknum) polisi petantang-petenteng di internet, lah hacker juga yang disuruh tanggung jawab…

    *jadi pengen jadi hacker…*

    –0–

    Wah saya nggak bisa jawab pertanyaan kamu, Med. Hehe. Berat euy. Semoga rekan-rekan polisi yang sering mampir ke blog ini mampu menjawab pertanyaan tersebut.

  2. manusiasuper says:

    Sama seperti di facebook bang, pertanyaannya apa boleh ini tulisan saya copy?

    –0–

    Silahkan Mas Fadil. Terimakasih sudah di sebar.

  3. zam says:

    soal si Evan, ada alibi lain yg lebih masuk akal. “saat itu kucing saya sedang lewat di atas keyboard, terus kepencet..”

    –0–

    Hahahaha. Di forum detiknews juga lucu-lucu komentarnya, Zam. Adek saya malah berkomentar, “Evan lagi maen jelangkung trus kesurupan maen fesbuk”.

  4. sufehmi says:

    Wah menarik … satu pertanyaan : apakah dengan UU HR 3162 itu, maka Google jadi WAJIB memenuhi request bahkan dari pemerintah NON Amerika ?

    Mohon pencerahannya bang, karena ini bisa terkait ke banyak hal (a/l: free speech, dll)

    Thanks !

    –0–

    Pak Harry, UU ini memang salah satu UU yang (katanya) paling parah yang pernah dibuat US.

    Untuk pertanyaan mengenai wajib tidaknya Google menjawab permintaan (berdasarkan protokoler 3162 apabila contoh kasusnya Google sebagai US company). Setahu saya antara lain:
    1. Google sebagai perusahaan US wajib membantu DHS (Departemen Keamanan Dalam Negeri USA) memerangi terorisme
    2. Google dapat menolak, apabila dapat menjelaskan alasannya
    3. Google hanya menjawab pada bagian internalnya (korporat) dan pemerintah US. Segala permintaan yang berasal dari NON Amerika, dapat dialamatkan pada pemerintah US (DHS itu).

    Berdasarkan asumsi sepihak, saya selalu berfikir bahwa Google (sebagai MNC) jauh lebih kuat daripada pemerintah US. Tapi itu jelas asumsi pribadi yang amat subjektif. Sebab di mata hukum toh Google statusnya sama. Maksud saya, sama seprti perusahaan US lainnya. Namun sebagai sebuah usaha, Google tentu saja dapat menolak apabila mendapatkan permintaan yang menyakiti bisnisnya.. Meskipun permintaan tersebut dari pemerintah US.

    Untuk kasus busro, saya yakin (secara objektif lagi), bahwa Google bersedia membantu apabila pemerintahnya meminta pertolongan untuk membuka tabir akun di blogspot. Hubungan baik RI dengan US (termasuk polisinya) dapat membantu pengungkapan akun tersebut. Saya yakin dengan keprofesionalitas Polri, permintaan tersebut kepada DHS bukanlah hal yang mustahil.

    HR 3162, di sisi lain memang amat mengancam kebebasan berpendapat dan berbicara. Ini ada sedikit ulasannya. Pemerintah US (dibawah Bush. Jr) ditengarai berhutang jutaan dollar pada perusahaan telekomunikasi sebagai akibat penyadapan jutaan nomor telepon di US. Sebab wiretapping/webtapping pada publik bukanlah hal yang salah berdasarkan UU ini.

    *Saya yakin jawaban ini masih panjang. Namun sebelumnya, saya mohon maaf Pak Harry sebab saya bukan dari Google sehingga tidak bisa menjawab pertanyaan ini lebih rinci. Saya yakin ada beberapa teman kita dari Palo Alto yang kadang mampir ke sini bisa menjawabnya dengan lebih baik :) *

    *Untuk Google, saya mohon maaf dijadikan pengandaian. Mohon saya jangan dituntut, Pak Harry ini temen saya. Jadi saya coba bantu sebisa mungkin* :)

  5. Setahu saya, tahun lalu itu ada pernyataan dari google u/ bersedia bekerjasama dgn Depkominfo (sekitar dua minggu stlah pemblokiran Youtube).

    Makanya, saat itu aku kaget dgn prnyataan pejabat kepolisian di atas. Ngapain mereka ‘nantang’ hacker di Indonesia kalau ada cara legal.

    –0–

    Iya benar. Saya juga ingat hal itu. Google termasuk salah satu raksasa media yang cukup koperatif. Apalagi jika mau deal dengan pasar besar (seperti RI misalnya. Sebab di RRC saja mereka sudah mau membuat deal dengan pemerintah beijing mengenai pemblokiran Google). Kalau kita mintanya sopan, baik-baik, sah dan memang butuh pertolongan, saya percaya teman-teman di Mountain View mau bantu sepenuh hati.

  6. mbelGedez™ says:

    .
    Mungkin dengan menyebut “hacker”, maka selesailah sudah permasalahan. Ndak perlu nyari-nyari alesan laen. Dimata pulisi, kedudukan “hacker” dan kambing hitam adalah setara. Btw, semua divisi dalem pulisi sekarang memang lagi prihatin. Mereka sedang merapatkan barisan. Mungkin bahasa Sundanya, L’Esprit de Corps…

    **posting yang keren…**

    –0–

    *Makasih Mas Mbel*

    Saya juga turut prihatin sebenernya. Waktu pidato ultah brimob kemarin, bosnya bilang begini “Hujatan wujud tanda cintamu kepada kami”. Saya agak khawatir, sebab tidak semua elemen masyarakat menghujat Polisi. Sebagaimana tidak semua polisi itu kelakuannya aneh bin ajaib. Minimal, saya tidak menghujat deh. Saya harap sekali, Polri segera berbenah. Saya lihat banyak kok personelnya yang sudah mencoba memberi saran. Diantaranya yang oke punya, saran Bang Rere ini. Semoga bosnya Bang Rere dengerin kata-kata anak buahnya

  7. itikkecil says:

    kalau hacker bisa jadi alasan, berarti saya bisa bikin tulisan yang menghujat dan kemudian berdalih blog saya dihack…

    –0–

    Bener Mbak. Saya habis baca itu langsung kepikiran begini “Bagaimana kalo saya nulis gosip bahwa SBY yang presiden itu ternyata ada main dengan penyanyi dangdut asal Cilincing. Kalo saya dituntut, bilang aja web saya di hek ama hantunya mikel jekson”

  8. morishige says:

    apologia pak nanan itu terlalu unbelievable.

    tapi, mungkin kalo pernyataan itu diungkapkan ke anak SD atau SMP yang baru bikin akun FB, audiencenya bakalan manggut2 setuju. :mrgreen:

    –0–

    Pak Nanan atau Pak Imam? :) (Dua-duanya membuat pernyataan yang istimewa, hehe)
    BTW, anak SMP sekarang canggih-canggih loh 😀

  9. omnoba says:

    mungkin pak nanan ama mas evan lagi gelap mata ato khilaf kali bang (^__^)

    tapi syukurlah bang, minimal sekarang ada sesuatu yang dapat didiskusikan antara masyarakat dan polisi jadi bisa nyambung githu hehehe

    mungkin sekalian dimanfaatin menjadi ajang melepas unek-unek yang terpendam dari dulu^^

    oh iya bang. komiknya lucu. aku mau beli yang asli di gramedia. bisa ditulungin tanda tangan nga bang?

    –0–

    Bulan April 2010 akan ada penandatanganan dari Eko. Mau ikut?

  10. omnoba says:

    mungkin pak nanan ama mas evan lagi gelap mata ato khilaf kali bang (^__^)

    tapi syukurlah bang, minimal sekarang ada sesuatu yang dapat didiskusikan antara masyarakat dan polisi jadi bisa nyambung githu hehehe

    mungkin sekalian dimanfaatin menjadi ajang melepas unek-unek yang terpendam dari dulu^^

    oh iya bang. komiknya lucu. aku mau beli yang asli di gramedia. bisa ditulungin tanda tangan pemiliknya nga bang?

  11. celo says:

    Torent itu… ilegal? *kasta penyembah torrent*

    *sebenarnya tadi mau komen serius, tapi baca penjelasan bab google jadi lupa apa yang mau ditanyakan*

  12. bangaip says:

    @Omnoba: Kalo Evan, saya mah sama sekali nggak masalah. Hehe. Saya cuma kebingungan saja dengan pernyataan Pak Nanan. Statement beliau berbeda dengan kumendannya Evan. Saya agak khawatir perpecahan (atau kelemahan distribusi informasi) di tubuh Polri sudah sedemikian parahnya hingga muncul ke permukaan seperti itu. Kalo khilaf, itu manusiawi (*Ah siapa sih yang nggak pernah khilaf :) *). Tapi kalo ada perpecahan atau gap komunikasi, itu tandanya kita sudah harus bantu Polri untuk mengingatkan mereka.

    @Celo: Nggak semua torrent illegal. Saya umumnya download distribusi perangkat lunak terbuka (open source) seperti distro Linux terbaru, pasti dengan torrent (sekedar bantu meringankan beban bandwith distro ybs). Tapi akibat kebanyakan torrent legal di web torrent terkenal jadi satu dengan yang illegal, maka web itu di banned. Selain itu, port listening untuk torrent juga di blok oleh kebanyakan kantor.

  13. venus says:

    ya ampun bang….

    ah mau komen OOT aja ah. lama banget gak baca bang aip. kangen. kemaren pas bang aip ke jkt, saya gak bisa datemg padahal pito udah ngajakin. nyesel :(

    –0–

    Lain kali, ketemuan pasti Mbok. Saya masih langganan tulisan simbok kok. Saya tetap dekat di hati simbok. Ceileee…
    :)

  14. adnan says:

    ijin copas link ke fb saya pak 😀

    –0–

    Silahkan Adnan. Terimakasih sudah membaginya ke publik yang lebih luas dan terimakasih sudah bertanya untuk permisi.

  15. Riki Pribadi says:

    terima kasih infonya Bang, walopun masih pusing bacanya…makin menambah wawasan

    –0–

    Terimakasih sudah mampir Riki :)

  16. perempuan says:

    mantap, kocak dan sadisss… ahahahhaa,,,
    Bangaip ga takut tuh “dipanggil” juga gara2 posting yang bikin panas aparat 😀 *hehehe..
    toppp abiss postinganya. Salam kbl ya bang..

    –0–

    Haha, aparatnya sodara saya. Sodara setanah air. Jadi nggak takut lah. Hahaha.
    Salam juga euy :)

Leave a Reply