Roman Obat Perangsang Dan Hamba Penegaknya

Kata para penggemar film klasik bergenre horor spesifikasi vampir; “Belum lengkap koleksi kalau tidak punya The Fearless Vampire Killers -nya Polanski”.

Sebab film besutan 1967 itu, disebut-sebut sebagai gabungan brilian antara horor dengan komedi. Pada usia 34, sutradara muda Roman Polanski sudah berhasil merebut pehatian publik dengan film vampir tersebut (walaupun tentu saja sebelumnya sudah diperhatikan oleh penggemar film melalui karyanya Cul-De-Sac).

Setahun setelahnya, 1968, seorang anak perempuan berusia 13 tahun mengaku bahwa ia “akan di foto Polanski untuk sampul majalah. Tapi saya disuruh ganti baju dihadapannya. Malamnya, saya diundang ke rumah teman Polanski. Diberi minuman anggur. Lalu saya dipaksa melakukan hubungan seksual melalui oral, vaginal dan dubur. Setelah itu saya merasa tidak nyaman lagi

Tentu saja tidak nyaman. Namanya dipaksa, jelas tidak nyaman. Apalagi dipaksa berhubungan intim.

Polanski di bawa ke peradilan. Prosesnya panjang, namun pengadilan membuktikannya tak bersalah.

Suatu hari di Swiss. Dunia terhenyak. 41 tahun setelah kejadian, Polanski dilucuti dan diekstradisi oleh polisi Amerika di sebuah acara yang dibuat untuk menghargai dirinya. Tuduhannya; memperkosa anak di bawah umur.

Diskusi merebak di mana-mana. Antara lain;

  • Kenapa Polanski melakukannya dengan anak umur 13 tahun?
  • Kok dia bisa bebas?
  • Kalau sudah bebas, kok ditangkap lagi?
  • Apakah polisi Amerika bisa menangkap orang di Swiss?
  • Bocah perempuan itu, sekarang sudah berusia 54 tahun. Apa perasaannya?
  • Kenapa banyak yang memberi dukungan pada Polanski?

Jawabannya tidak simpel. Sebab talk show sepenggal-sepenggal per jam pun tidak mampu membahas itu semua sekaligus. Maka untuk disingkat, maka ini jawabannya (versi tanya jawab antara presenter televisi, pakar, dan rakyat awam);

Pengadilan Polanski adalah tipikal pengadilan Amerika. Walaupun Polanski adalah kelahiran Polandia dan memegang paspor Perancis, pelecehan ini terjadi di California, daerah di Amerika Serikat. Maka, ia diadili di Amerika.

Pengadilan Amerika yang membebaskan Polanski itu berdasar pada keputusan juri. Jumlah juri 12 orang. Maka ketika para juri teryakini alibi Polanski bahwa antara ia dan sang bocah saling menyukai dan si bocah dengan kesadaran penuh sebelum meneguk anggur yang ditawarkan, Polanski pun akhirnya bebas.

Tentu saja bebas bersyarat. Sebab walaupun begitu, Polanski tetap harus membayar denda. Setengah juta dollar Amerika pada gadis naas tersebut. Sebab di dalam anggur, Polanski muda membubuhkannya obat perangsang.

Sialnya, Polanski tidak pernah membayar denda. Ia kabur ke Perancis, beberapa jam sebelum juri memberikan vonis. Kasusnya mengambang. Polanski tidak pernah datang lagi ke Amerika. Bahkan ketika ia dinominasikan Piala Oscar sebagai pemenang dalam film drama/roman/perang besutannya yang belatar belakang seorang pemain piano Yahudi, The Pianist.

Polanski, menghindari Amerika (dan hanya datang dengan jaminan). Menghindari utangnya. Mengindari tatapan mata si bocah perempuan yang perkosa.

Bertahun-tahun hidup di Perancis (yang tidak punya undang-undang ekstradisi dengan Amerika Serikat) Polanski bahagia. Apabila harus ke luar Perancis ia merencanakan perjalanannya dengan matang. Selain sutradara handal, diam-diam ia mempelajari undang-undang sebuah negara mengenai ekstradisi. Semua negara yang punya hubungan hukum dengan Amerika, dihindari.

Maka, jika suatu hari polisi Amerika mendengar bahwa ia akan datang ke Swiss, tertangkaplah ia di sana. Sebab Swiss memang punya undang-undang ekstradisi dengan Amerika (*dan ini adalah negara-negara yang tidak punya. Diantaranya tentu saja, Indonesia*).

Sepandai-pandainya Polanski melompat, jatuh pula akhirnya.

Lalu panitia festival film pun kaget. Orang yang mereka undang, ditangkap di depan mata. Pas sebelum memberikan pidato terimakasih.

Fans tidak kalah kagetnya. Mereka menganggap ada teori konspirasi. Bukankah Polanski sudah berkali-kali mengunjungi Swiss? Bukankah Polanski bahkan punya rumah di sana? Bukankah ia pun telah dimaafkan oleh gadis yang ia perkosa? Menurut mereka, Polanski harus dibebaskan. Kasus ini sudah lama, buat apa diungkit kembali?

Kasus ini mencuat kembali. Sebab sungguh menarik. Nama Roman Polanski memang mencerminkan roman hidupnya. Di sana ada prasangka teori konspirasi. Ada pengadilan dengan sistem yang rumit. Ada uang dengan jumlah besar yang terlibat. Ada polisi Amerika yang kelihatannya bisa jadi polisi di mana saja.

Yang pasti, ada celah dalam sistem keadilan. Sebagaimana selalu ada celah dalam sistem apa saja. Dan khusus untuk ini, Polanski mengetahuinya dengan baik sekali.

Apapun hasilnya, seberapapun lamanya, kasus Polanski jadi contoh yang bagus. Bahwa tidak ada seorangpun yang akan lolos dari jerat hukum. Lari atau sembunyi, bukanlah pilihan.

Sistem hukum memang tidak sempurna. Dan mungkin tidak akan pernah sempurna. Namun apabila hanya itu yang satu-satunya dimiliki, mau tidak mau yaa harus berbesar hati memeliharanya.

Sebab (katanya) keadilan memang harus ditegakkan. Bahkan untuk sekelas manusia luar biasa macam Polanski sekalipun.

Yang jadi pertanyaan, percayakah kita pada hukum? Pada sistemnya? Pada pendukungnya? Pada hamba penegaknya?

This entry was posted in fitur and tagged , , . Bookmark the permalink.

8 Responses to Roman Obat Perangsang Dan Hamba Penegaknya

  1. mbelGedez™ says:

    .
    Sementara inih, biarkan lembaganya. Brantas oknumnya.

    Bisa jadi KPK dan pulisi sama korupnya. Tapi sebagai sebuah system, mesti ditambal sanah-sinih celah bolongnya, dan jeblosin ke penjara oknum busuknya.

    **lho,…??? kok ngembet kemana-mana komennya…???**

    –0–

    *Haha, emang itu tujuannya*

  2. morishige says:

    pada hukum saya percaya, paman. sejatinya hukum memang diperlukan. adanya hukum pertanda manusia yang berada di “sekitarnya” berbudaya. civilized.

    nah, pada penegaknya itu yang nggak.

    –0–

    Ayo kita ajak ngobrol mereka. Mungkin saja mereka mau berbuat sesuatu untuk mengembalikan kepercayaan kamu :)

  3. zam says:

    hukumnya sih bisa jadi bener, tapi penerapannya yang sering keblinger. tajem ke bawah, tumpul ke atas, apalagi kalo ada duit.. makin susah dah!

    –0–

    Kalau yang dimaksud mafia peradilan… Saya sedih mengakui, tapi kelihatannya sudah jadi wajah peradilan RI. Saya sendiri cukup malu sebab tahu hal ini tapi tidak bisa melakukan apa-apa :(

  4. itikkecil says:

    saya masih percaya pada hukum bang… yang saya tidak percayai adalah keparat aparatnya….

    –0–

    Iya Mbak. Saya juga tidak menyukai oknum penegak hukum yang berlaku dan merasa kadang lebih tinggi dari hukum. Tapi andai boleh berbagi, masih banyak saudara-saudara kita yang bertugas sebagai penegak hukum masih menjalankan tugasnya dengan amat baik sekali. Sayang sekali, karena seragam mereka sama, kadang memang susah dibedakannya (kecuali kalau kenal akrab atau bagian dari keluarga)

  5. Fortynine says:

    Setuju dengan Ibu Ira. Saya percaya law,tapi sudah terkikis habis kepercayaan terhadap para penegaknya,apalagi untuk para preman berseragam!

    –0–

    IMO, Salah satu tugas kita, yaa membantu penegakan hukum berjalan dengan baik.

  6. omnoba says:

    astaga mba ama mas.. jangan langsung menghakimi para aparat polisi. emang mereka salah tapi apa kita juga nga pernah salah? trus apa semua mereka itu salah?

    saya percaya banyak yang geram dan marah pada aparat tapi kalau cuma geram dan marah tanpa sekalipun memindahkan sudut pandang kita pada sudut pandang mereka gimana?

    apakah kalau kita menjadi bagian dari “preman berseragaman” tersebut maka kita bisa menjaga eh… apa kata yang tepat yach… tugas kita?

    dan apakah mereka tidak menjalankan tugasnya sehingga harus
    disebut keparat? apakah yang mereka kerjakan semuanya itu jelek dan penuh dengan korupsi? dan kalau kita di posisi mereka, apakah kita bisa melakukan tugas dengan baik dan tidak korupsi?

    i believe in law and i put great respect to those who able to uphold it. but i also understand to those who unable to uphold it. for they had many reason, often had to choose between family or the nation they served, the reason whom i might able to overcome or perhaps fallen by it..

    –0–

    *Sudut pandang yang (menurut saya pribadi) amat menarik dan bijak. Saya pribadi banyak kenal dengan polisi yang menjalankan pekerjaannya dengan baik dan (sepengetahuan saya) tidak korupsi *

  7. manusiasuper says:

    Tegakkan Khilafah! *disepak*

    Hukum itu sejatinya kan untuk membentuk masyarakat madani, sejahtera, aman, terlindungi.

    Kalau ‘hukum’ suatu negara justru membuat warganya merasa tidak aman, tidak terlindungi, tidak ada kepastian, maka itu tentu bukan hukum sebenarnya.

    Itu, ‘a fail system’…

    –0–

    BTW, kalau Banjar jadi menerapkan sistem Khilafah. Kamu atau Farid atau malah Amed yang dipilih jadi Khalifah?
    Hihi
    *bakarr sateee*

  8. manusiasuper says:

    kalau Banjar jadi menerapkan sistem Khilafah. Kamu atau Farid atau malah Amed yang dipilih jadi Khalifah?

    Sepertinya Farid yang akan jadi yang pertama yang dirajam untuk khalifah…

    Boleh request cerita tentang Mafia Peradilan bang?

    –0–

    Kalau ketemu Frans lagi, pasti saya tanya apakah dia mau jadi narasumber. Dia jago soal finansial kasus. Tapi kalau belum, mohon bersabar (saya sendiri nggak yakin Frans mau jadi source saya. hehe) :)

Leave a Reply