Apabila Ibu Negara Kita Adalah Monyet

Untung saya bukan presiden Amerika Serikat. Kalau iya, pasti banyak orang yang mengharapkan begitu banyak hal yang semestinya saya tidak kerjakan, terjalani. Contohnya; perdamaian Timur Tengah.

Untung saya bukan presiden Amerika. Sebab banyak hal yang saya tidak mengerti di dunia ini. Contoh; seperti di Timur Tengah misalnya ketika mengapa pemerintah Israel saat ini sedemikian bodohnya merusak perdamaian hanya demi tanah seupil atau orang-orang Palestina yang bahkan ribut di antara mereka sendiri ketika ada orang lain menyorobot kapling anak-istrinya.

Tapi lebih untung lagi adalah; bahwa ternyata saya bukan penguasa Indonesia, kalau iya, sudah saya kasih itu para orang Palestina dan Israel jatah beberapa pulau di Kepulauan Seribu Jakarta. Saya suruh mereka berkembang biak di sana. Lebih jauh lagi, di sebelah pulau-pulau mereka saya khusus alokasikan menjadi pulau khusus (yang memungkinkan akses menuju kegemaran manusia yang tidak ada di Palestina dan Israel; yaitu panggung dangdut, judi koprok, warung remang-remang dan sebagainya. Hihihi). Saya beri otonomi khusus, sehingga mereka bisa membangun sebagaimana Dubai memiliki Burj Al-Arab atau Las Vegas dengan jutaan lampunya.

(Tentu saja hal di atas ada syaratnya. Dan karena alasan kesenonohan publik. Saya coba untuk tidak mengutarakannya di sini. Haha)

Tapi untunglah anda semua, sebab saya bukan penguasa Indonesia apalagi presiden Amerika. Kalau iya, mungkin sudah makin kacau saja dunia ini. :D

Tapi walaupun bukan penguasa Indonesia, apalagi presiden Amerika, sudah beberapa makan siang ini, saya sibuk menjelaskan pada rekan-rekan kerja saya ketika mereka bertanya, “Mengapa kata koran, beberapa hari lalu apabila kita mengetik nama istri presiden Amerika, Michelle Obama di Google, yang muncul pertama di foto adalah muka Michelle yang dimodifikasi jadi mirip monyet?”

Setelah pusing ditanya-tanya terus, akhirnya saya mengalah. (Sudah saya bilang berkali-kali bahwa saya bukan presiden US dan nama istri saya bukan Michelle Obama. Tetap saja rekan-rekan saya ini ngotot)

Saya jelaskan pada mereka tiga hal pokok:

1. Apa itu Google Bomb?
2. Siapa itu Michelle Obama?
3. Dan mengapa harus monyet?

Apa itu Google Bomb?

Istilah Google bomb atau ‘Googlewashing’ adalah upaya untuk mempengaruhi peringkat halaman tertentu dalam hasil yang dikembalikan oleh mesin pencari Google, sering kali dengan maksud untuk bercanda atau bertujuan politik.

Sebelum 2007, Alogaritma Google dapat dimanipulasi dengan cara jika cukup banyak situs lain terhubung dengan halaman yang menggunakan teks jangkar serupa, maka akan mempengaruhi peringkat halaman tertentu. Contoh; karena banyaknya para pemilik website yang menulis “Kegagalan yang menyedihkan” membuat link menuju halaman biografi Presiden Amerika Serikat George Bush, maka setiap anda mengetik “Kegagalan yang menyedihkan” di mesin pencari Google, anda akan masuk ke halaman biografi George Bush (Junior). Jika anda melihat di Google images, maka hasil pencarian itu akan menghasilkan gambar monyet.

Teknik ini, dikenal dengan nama Google Bomb. Artinya membom alogaritma mesin pencari Google.

Teknik ini masih sering dipakai, walaupun triknya berbeda (biasanya untuk menghindari tindakan illegal seperti SPAM). Saat ini teknik ini digunakan untuk mempengaruhi SERP (Search Engine Results Page). Diantaranya, yang mungkin anda pernah ikuti dan pernah dengar adalah Kontes SEO (Search Engine Optimization atau Optimisasi Mesin Pencari). Tujuannya sama, jika mengetik kalimat tertentu di mesin pencari Google, akan menghasilkan halaman khusus.

Kontes SEO sebagai bagian dari mempengaruhi SERP adalah salah satu bisnis lumayan yang dapat dihasilkan oleh mesin pencari. Seorang Gubernur korup dari Riau, Indonesia, bahkan dengan sengaja membuat kontes SEO ketika Komisi Pemberantasan Korupsi dan Polisi mencium aksi busuk korupsi dan pembalakan hutan liarnya. Hebat sekali, beliau mengadakan kontes dengan kalimat nama dirinya “Sang visioner”. Jadi ketika anda mengetik kalimat itu di mesin pencari, maka akan muncul nama beliau. Korup dan menghancurkan hutan? Hebat betul visi orang nomor satu Riau itu! Haha.

Yang pasti, paragraf diatas adalah sedikit informasi mengenai Google Bomb dan teknik mempengaruhi mesin pencari Google.

Siapa itu Michelle Obama?

Michelle adalah istri Barack Obama, presiden Amerika Serikat yang ke 44. Beliau, Ibu Negara Amerika Serikat. Sebutan yang paling terkenal pada posisinya adalah ‘First Lady’. Secara berseloroh banyak orang Amerika Serikat menganggap bahwa arti ‘First Lady adalah; kalau ada apa-apa di Amerika Serikat, beliau adalah perempuan pertama yang harus diselamatkan. :)

Suatu hari, ketika anda mengetik kalimat Michelle Obama di mesin pencari Google, maka gambar yang muncul adalah muka Michelle yang dimodifikasi sehingga terlihat mulutnya lebih mancung dan lebih banyak bulu di mukanya. Michelle, entah karena apa, dimanipulasi fotonya hingga mirip monyet.

Karena anda sudah saya terangkan mengenai teknik Google Bomb di atas, maka anda sekarang bisa menjawab pertanyaan “Kok bisa?”

Namun dunia terhenyak ketika tidak lama kemudian Google menghapus gambar tersebut. Banyak orang yang tidak suka penghapusan ini bertanya, “Kok giliran George Bush, lo pada diem. Sekarang giliran istri Obama, kok dihapus?”

Jawabannya tidak sepele. Pro dan kontra terjadi dimana-mana. Sebab issue-nya antara lain adalah mengenai kebebasan berpendapat melalui internet.

Yang pro menjawab; Sebagaimana perusahaan lainnya, Google punya hak prerogatif. Ia bisa menghapus bahkan menambah apa saja yang ada dalam isi website. Kalau isinya dianggap menyakiti bisnis, yaa wajar saja kalau di hapus. Google bukan Tuhan yang (katanya) menciptakan malaikat dan iblis, ia cuma perusahaan biasa.

Namun sekarang kita tidak akan mengulas yang pro. Kita akan mengulas yang kontra. Orang-orang yang tidak setuju penghapusan gambar tersebut dari mesin pencari gambar Google. Sebab logika mereka sungguh benar adanya. Kalau mau di hapus, yaa harus adil. Semuanya yang membuat ‘lelucon politik’ juga harus di hapus.

Namun lagi-lagi, yang pro penghapusan menjawab “Ini bukan masalah adil nggaknya. Ini rasis, bloon! Monyet itu simbol!”

Rasis?

Loh ada apa? Kok dihubung-hubungkan dengan rasis?

Monyet itu simbol? Lah, simbol apa?

Jawabannya ada di bawah ini;

Dan Mengapa Harus Monyet?

Sejarah Amerika yang tercatat sejak dihampiri Columbus pada tahun 1492 memang penuh dengan cerita-cerita kelam. Diantaranya adalah cerita mengenai budak-budak berkulit hitam yang didatangkan dari gurun sahara Afrika pada abad 18 agar ekonomi Amerika yang pada saat itu bergantung pada katun, gula dan tembakau bisa maju.

Budak-budak berkulit hitam itu di paksa, di perkosa, di siksa dan diperlakukan dengan amat buruk sepanjang pengabdian mereka di perkebunan milik warga kulit putih.

Intinya jelas. Pada saat itu, tekanan ekonomi menghasilkan pandangan politik. Sialnya; outputnya berupa politik beda warna. Di mana manusia dikategorikan menjadi tipikal kelas yang berbeda berdasarkan warna kulit. Yang berkulit putih, adalah majikan. Yang kulit hitam, budak. Yang kulit putih berkuasa. Yang kulit hitam, sepantasnya menderita.

Hukum membuat manusia kulit putih menjadi sedemikian berkuasanya sehingga pada awal abad-18 di AMerika Serikat muncul undang-undang bernama Lynching. Undang-undang itu mengesahkan warga kulit putih menggantung budaknya yang berkulit hitam apabila dianggap membangkang. Sebelum digantung, biasanya si budak akan dihantam oleh hukuman rajam hingga kulit punggungnya mengelupas.

Biasanya, adegan pembunuhan ini sengaja diperlihatkan di hadapan budak-budak kulit hitam lainnya. Saat itu, pesan para majikan kulit putih adalah “Hey! Lihat inilah apa yang akan terjadi kalau kalian membantahku!”

Sambil mencambuk, biasanya para majikan kulit putih berteriak “Mampus kamu, Boy!” jika yang dihukum adalah budak hitam lelaki atau “Terima ini, Monyet!” jika yang dihukum adalah budak hitam perempuan.

Ketika warga kulit hitam dinomor-sekiankan, hak-haknya dirampas, dan terus menerus diteror oleh majikannya. Beratus-ratus tahun. Maka yang terjadi selanjutnya adalah dendam. Kalimat “Boy” atau “Monyet” hingga saat ini masih diperdebatkan di Amerika Serikat sebagai bagian dari budaya rasisme.

Perbedaan kulit masih terasa di sana. Bahkan hingga saat ini.

Bahkan, di beberapa daerah selatan Amerika Serikat (seperti Missisipi, Lousiana, Carolina dan sebagainya) masih sering terdengar kelakar berbau rasisme tersebut. Pada pertengahan tahun 2009 seorang “aktivis pemilu US, Rusty DePass, berkata bahwa Michelle Obama mirip gorilla (bahkan sebelum kartun kera Michelle ini muncul) di akun facebook beliau, hal itu lalu dengan segera menjadi perhatian khusus semua warga Amerika.

Maka menurut orang Amerika, berdasarkan logika dan sejarah di atas; menyamakan George Bush dengan monyet jelas berbeda dengan menyamakan Michelle Obama dengan monyet.

Walaupun katanya ternyata gambar tersebut milik warga RRC, tetap saja memicu reaksi.

Yang menarik adalah, baik Obama maupun Michelle, tidak menuntut siapapun yang memposting gambar tersebut. Baik menuntut atas pencemaran nama baik atau tuntutan lainnya (seperti pencemaran wajah baik misalnya, hehe)

Ini jelas beda dengan di Indonesia. Kalau anda memanipulasi wajah Bu Ani yang istrinya Pak Bambang dengan monyet… akan ada dua opsi:

A. Kalau Bu Ani ternyata adalah tukang sayur lodeh dan Pak Bambang nelayan Cilincing, mungkin mereka sedikit marah-marah. Tapi anda akan aman-aman saja. Sebab mereka tidak mungkin menyewa pengacara (yang jelas ongkosnyamahal) atau pergi ke LBH melapor.
B. Kalau Bu Ani yang dimaksud adalah istri Pak Bambang yang jadi presiden RI, mungkin anda akan disambangi polisi dan lalu dituntut atas dasar pencemaran nama baik.

Sampai sini.., anda tahu bedanya jadi istri presiden dengan jadi istri nelayan?

(*Teman-teman makan siang saya mengangguk-angguk, mungkin setuju. Mungkin juga bosan mendengar cerita mengenai hukum di negeri saya*)

p.s: Walaupun begitu, saya cukup bangga dengan hasil pemilu di Indonesia. Negeri ini pernah diperintah seorang perempuan, warga negara yang memiliki cacat penglihatan, dan bukan Jawa. Rasisme dan diskriminasi memang masih ada di Indonesia, tapi saya yakin bahwa kita bisa sama-sama mengatasinya.

This entry was posted in bangaip. Bookmark the permalink.

8 Responses to Apabila Ibu Negara Kita Adalah Monyet

  1. manusiasuper says:

    “Laundry is the only thing that should be separated by color. ~Author Unknown”

    rasis dan stereotif itu beda atau sama bang? kalau di Indonesia kan (dulu) marak kerusuhan etnis, konon karena stereotif antar etnis itu sendiri. Satu suku disebut serakah, satu suku disebut malas, suku lain egois, dan akhirnya terjadi ‘perang’.

    Ngeri bang, beberapa tahun lalu di Kalimantan kerusuhan macam ini terjadi. Itu kepala manusia dianggap tidak lebih dari barang pecah belah. Ponakan saya, waktu itu 2 tahun usianya, sampai sekarang jadi rada aneh karena sungai di depan rumahnya dulu jadi tempat pembuangan puluhan mayat tanpa kepala…

    Kalau diskriminasi, entahlah… hanya saja saya kerap merasa mengalami perbedaan perlakuan berbeda ketika berhadapan dengan pejabat dari pusat, hanya karena nama saya tidak ada huruf ‘O’nya.. ^_^

    –0–

    Soal diskriminasi, jangankan tanpa huruf O, bahkan orang Indonesia (dari suku-suku tertentu) pun nama belakangnya tidak diakui di paspor. Contoh, jika nama kamu Manusia Super, maka akan tertulis di paspor adalah “Nama: Manusia Super”. Bukan “Nama Depan: Manusia” dan “Nama belakang: Super”.
    Hal ini tidak begitu jadi masalah buat beberapa orang. Namun dalam kasus saya, menjadi masalah yang lumayan besar. Sebab KBRI menolak memberikan informasi nama belakang saya. Sialnya hukum yang berlaku di negara tempat saya tinggal, setiap anak yang lahir harus memiliki nama belakang (umumnya ayah, karena budaya patriaki yang diwariskan Napoleon). Jadi saat ini, Novi Kirana putri saya, memakai nama belakang mamanya. Sebab KBRI, hingga saat ini pula tidka memberi saya nama belakang yang seharusnya saya miliki.

    Ini tidak berlaku pada WNI keturunan. Di paspor, mereka mempunyai “Nama Belakang”

    Diskriminasi masih ada, dan kita akan sama-sama membasminya :)

  2. Untuk kasus Michelle, rasisme menumpangi kekurangan dan kelebihan mesin pencari. Untuk kasus Bush, sentimen publik di atas angin sehingga dibiarkan. Untuk kasus pejabat riau, yang hebat mungkin konsultan komunikasinya, yang mendapat masukan dar ahli SEO. Hasil mesin pencari, dan kualitas konten, menjadi tujuan — bukan sebaliknya, SE menjadi tools bagi konten berkualitas.

    Tentang dua Bu Ani? Sudah jelas. Sangat jelas. :D

    –0–

    Sepengetahuan saya, bukan cuma Google yang jadi korban kontes SEO. Kabarnya DagDigDug pun kena yaa Paman? :)

  3. Mungkin ada masalah dengan “toleransi.”

    –0–

    Toleransi yang dimaksud disini.., saling menghargai? Mas Dewo

  4. minanube says:

    kalo yang kedua di ganti OMNI maka anda harus ganti rugi 204 juta haha…… :D

    –0–

    hehehe, iya yaa

  5. Riki Pribadi says:

    Wahhhh…ternyata kampung halaman gue, Riau, punya cerita seperti itu. Baru tau euy…RZ apa WA nih?? RZ kayanya…wakakaka

    –0–

    Silahkan tebak dengan mesin pencari :)

  6. Nah kalo ngetik nama penulis blog ini di Google, kira-kira keluar gambar apa yak?

    –0–

    Saya sudah coba. Yang pertama muncul adalah avatar dan buku Cilincing Brotherhood I. Selanjutnya di halaman berikutnyam dua cowok sedang berpagutan. Illustrasi yang dicomot dari tulisan lama. Hehehe.

  7. omnoba says:

    waduh bang, saya jadi penasaran melihat nasib abang ke depan. bilang2 kalo diciduk polisi yach bang hehehe^^

    –0–

    siip… Siip.. Santai aja, polisinya kok nanti yang bilang Omnoba langsung. Hihihi

  8. kalo aja presiden di negara saya punya sifat selalu berpikiran baik kek bangaip, keknya brantakannya bakal sedikit deh disini :D

    –0–

    Haha, kalo presidennya saya, bahayaa. Kita semua kerjanya jalan-jalan saja ke dufan. Hahaha.

Leave a Reply