Biarkanlah Mereka Menari…

a.k.a. Cemburu Nih Yee

Menjelang akhir tahun, tadinya saya mau menulis tanggapan saya terhadap Rob mengenai perlu tidaknya dibuka alogaritma mesin pencari raksasa Google terhadap publik. Saya bukan orang Google, tapi aneh juga melihat ada orang yang menganggap bahwa mentang-mentang mendukung open-source semuanya harus digratiskan.

(*Beberapa tahun lalu ada seseorang yang meminta tim saya memodifikasi server-servernya yang berbasis Cent-OS secara profesional. Kesepakatan awal sudah tertulis. Namun setelah kerja selesai beliau tidak mau menepati bayaran dengan berdalih “Kan sopwernya gratis, kalian sebagai pendukung opensors seharusnya malu meminta bayaran. Anggap saja kerja ini salah satu iklan buat sistem opensors”. Hehe, ada-ada saja tuh orang*)

Tapi membaca postingan Mas Gun mengenai barongsai di Aceh beserta tanggapan-tangapan di blog beliau, saya urungkan niatnya.

(*Secara personal, Barongsai kelihatannya lebih berwarna ketimbang alogaritma mesin pencarian. Hehe*)

Begini ceritanya, di Aceh itu tinggal seorang Kepala Kantor Wilayah Departemen Agama di Aceh yang bernama Rahman TB.

Suatu hari di akhir tahun 2009, Pak Rahman yang terhormat itu berani tampil di depan publik sebagai wakil dari mereka yang melarang Barongsai tampil di Aceh.

Kata Pak Rahman, “Jangan sampai Aceh rusak kembali dengan benih-benih konflik. Apalagi selama ini, tidak pernah ada konflik agama di Aceh.” (sumber: tempointeraktif.com)

Karena Pak Rahman bicara mengenai konflik (yang secara serampangan saya kira maksudnya di sini adalah cikal-bakal konflik fisik berlatar keagamaan), maka saya tertarik menanggapinya.

Reaksi saya pertama kali jelas kaget. Loh apa hubungannya barongsai dengan konflik agama di Aceh?

Hingga detik ini, sejarah hanya mencatat bahwa konflik di Aceh adalah konflik kepentingan sumber daya alam. Entah berebutan ladang minyak. Ladang ganja. Ladang sarang burung walet. Hingga berebut ladang bertani dan ladang menyebarkan ideologi (yang ujung-ujungnya lagi-lagi sumber daya alam).

Hingga detik ini, sejarah mencatat bahwa sudah banyak orang-orang ajaib yang datang ke Aceh hendak merebut sumber daya alam mereka. Sampai detik ini, setahu saya belum ada yang cukup iseng hendak coba-coba merebut agama orang-orang Aceh. Apalagi hanya dengan modal barongsai.

Sebelum terlalu jauh ada baiknya saya beritahu sedikit apa itu barongsai.

Secara garis besar, barongsai (dalam bahasa Spanyol: Danza del león, artinya tarian singa) adalah tarian tradisional Cina dengan menggunakan sarung yang menyerupai singa. Barongsai memiliki sejarah ribuan tahun. Catatan pertama tentang tarian ini bisa ditelusuri pada masa Dinasti Chin sekitar abad ke tiga sebelum masehi. (sumber: wikipedia)

Di Indonesia barongsai pernah dilarang pada masa pemerintahan Orde Lama dan Orde Baru karena dianggap identik dengan RRC – yang menurut rezim yang berkuasa saat itu – mendukung pemberontakan G30S. Pelarangan ini, dilakukan secara terpusat. Artinya Jakarta, sebagai pusat lokasi pemerintahan, mengetahui bahkan menganjurkannya.

Yang menarik dari kasus pelarangan barongsai di Aceh akhir tahun 2009 adalah, bahwa Pak Rahman TB ini ternyata bukan dari Jakarta. Namun dari Aceh sendiri.

Loh, ternyata Pak Rahman orang Aceh. Bukan orang Jakarta. (* Tumben kalah cepat nih dinosensorus – makhluk yang suka menyensor – yang biasanya tinggal di Jakarta. Hehe*)

Artinya sederhana, bahwa terjadi sistem sensor (dalam hal ini; budaya) di Aceh (yang disuarakan oleh Pak Rahman). Sensor ini kemungkinan besar terjadi akibat Pak Rahman takut bahwa barongsai akan menimbulkan benih konflik keagamaan.

Ketakutan Pak Rahman nampaknya tidak beralasan.

Namun saya jelas ugal-ugalan kalau hanya bilang “Pak Rahman, ente nggak bener tuh” tanpa memberikan penjelasan lebih lanjut.

Maka itu, ijinkanlah si sini, saya coba untuk membantu Pak Rahman mengidentifikasi mengapa beliau tidak perlu takut terhadap barongsai;

1. Barongsai tidak datang ke Aceh dengan senjata.
Lagi-lagi, fakta sejarah membuktikan. Bahwa hanya orang ajaib yang hendak membawa kepentingan pribadinya ke Aceh yang datang bawa senjata. Mulai namanya KNIL, NICA, ABRI, TNI atau apalah, setelah datang bawa senjata mereka mulai berlaku menjadi istimewa di daerah yang jelas-jelas sudah istimewa tersebut. Konflik di Indonesia umumnya mulai parah kalau melibatkan senjata. Selama barongsai tidak datang dengan senjata, turunkan tinju anda, Pak. Sebab itu tidak perlu.

2. Barongsai tidak menggigit.
Barongsai itu singa bohongan, Pak. Bukan betulan. Sumpah! Saya berani konfirmasi. Kalo bapak digigit barongsai, sini bilang ke saya. Ongkos pengobatan saya ganti. Biar kata dibilang sombong, nggak apa-apa deh. Jangan takut, Pak. Dia nggak ngegigit.

3. Barongsai tidak memperlihatkan auratnya.
Jadi bapak tidak usah khawatir terbawa nafsu sesat yang dapat membawa amalan bapak terpuruk atau malu akibat ekses negatif dari terpampangnya aurat; seperti misalnya bagian belakang resleting celana yang agak marah… Lalu menjendol karena lepas kontrol.

4. Barongsai tidak bicara.
Kalau memang mulut dianggap sebagai bagian propaganda, maka jangan khawatir. Barongsai ada mulutnya, tapi senyum saja bisanya. Tidak pidato. Tidak agitasi. Bahkan tidak berpuisi. Jangan khawatir barongsai akan menyebarkan agama baru pada rakyat Aceh.

5. Barongsai itu bisa berfungsi untuk hiburan
Kasihan rakyat Aceh, Pak. Sudah lama mereka di dera bencana alam. Di sikat keserakahan penguasa. Di obok-obok isi buminya oleh siapa saja. Mereka sudah lama menderita. Beri lah hiburan barang sedikit terhadap saudara-saudara kita di Aceh sana. Sebagaimana rocker mereka juga manusia, Pak. Punya jiwa punya hati… Jangan samakan dengan belati (*Loh saya malahan jadi nyanyi begini*). Saya yakin Pak Rahman pun masih punya hati mengasihi sahabat-sahabat kita di Aceh sana.

6. Barongsai tidak membawa kabur istri anda.
Sebab sekali lagi, barongsai itu tokoh mitos, Pak. Bapak tidak usah cemburu sama barongsai. Saya yakin bapak lebih ganteng daripada barongsai. kalau bapak memang merasa kurang yakin dengan ketampanan bapak, saya punya banyak teman di sini yang mengaku ganteng dan pula mengaku dapat menularkan kegantengannya pada publik (*Wahai Mansup dan Joe, muncullah.. Muncullah…*)

Jadi, sekali lagi, jangan takut sama barongsai yaah. Andaipun Pak Rahman bermimpi buruk setelah melihat barongsai. Sini Pak, datang ke sini. Menangislah jika kau ingin menangis. Ceritakan ketakutanmu. Masih selalu ada bahu disini untukmu bersandar.

Namun, biarkanlah mereka menari…

This entry was posted in Orang Indonesia, Republik Indonesia, sehari-hari and tagged , , , , . Bookmark the permalink.

18 Responses to Biarkanlah Mereka Menari…

  1. cK says:

    saya juga heran kenapa barongsai bisa dilarang. padahal anggap aja itu boneka yang menari-nari. kenapa mesti dilarang, khan itu hiburan… 😕

  2. tidak bisa, bang!
    bicara perkara kegantengan, saya sendiri tidak tahu asal-muasal kegantengan saya. dari lahir sudah begini dengan performa yang terus menanjak secara stabil.

    jadi tentu saja saya tidak bisa mengajari dan menularkan tentang suatu hal yang saya sendiri tidak tahu rumus-rumus penyusunnya.

    apapun itu… saya jadi kecewa (lagi) dengan kondisi negeri gara2 baca tulisan abang :(

  3. Amd says:

    Alasannya satu kata saja, Bang: POKOKNYA™!

    Yah, saya nggak ngerti, apa ini perkara otoritas mayoritas di atas minoritas, atau apa, yang jelas pelarangan cara begini sudah nggak hip lagi ah, di era Web 2.0 sekarang…

    Atau masih?

  4. yudhist39 says:

    simple: apa di Indonesia sudah kehabisan jenis tarian? :-/

  5. bangaip says:

    @Chika: Yah saya juga bingung, Chik. Hehe.

    @SarimiSelatan: Kasihan Pak Rahmat.

    @AMD: masih Med… Masih. Buku aja masih dilarang Kejagung.

    @Yudhist39: Maksudnya? Saya beranggapan baik ini bukan Red Herring dan sejenis. Kalau iya, mohon baca ini dulu, Mas. Kalau bukan, silahkan dijelaskan maksudnya. Terimakasih.

  6. gunawanrudy says:

    Akhirnya ada yang menjabarkannya secara panjang lebar. 😀
    Tempo hari saya hanya menyorot alasan-alasannya saja sih.

    *menunggu juga kisah dari bang ijal dan alex*

    Hehehee…

    Satu lagi, barongsai itu tidak minum miras. 😀

  7. Manusiasuper says:

    Siyal.. Kesummon..!

    Apakah bang Aip tahu? Saya dan Joe lahir di tanggal, bulan dan tahun yang sama?

    Susahnya jadi penganut prinsip kebebasan berpendapat adalah dilema ketika menghadapi pendapat POKOKNYA macam itu. Apa kita harus membiarkannya berkoar berpendapat di muka umum atau bagaimana?

    Baru kemaren sore saya mendengar ceramah di radio, mengutuk perayaan tahun baru masehi yang menurut si preacher ‘propaganda musuh kita – kaum nasrani itu – agar generasi muda kita terlena’…

  8. Nda says:

    bang, tolong bilang sama pak Rahman, “barongsai itu ga beragama, jd ga bakalan ada tuh yg namanya konflik keagamaan”.
    Ini hanya masalah seni/budaya, lagian islam itu agama yg flexible, bkn kaku seperti bpk, POKOKNYA!!

  9. Nazieb says:

    Barongsai kan ndak ada di jaman nabi, jadi ga boleh ada juga sekarang :mrgreen:

  10. @ bangaip
    kasian gara2 ndak jadi ketularan ganteng?

    @ Nazieb
    betoool…
    kalo dipaksakan, itu namanya bid’ah! 😛

  11. Riki Pribadi says:

    hahaha…..Pak Rahman ga asik nih…

  12. bangaip says:

    @Mas Gun: Iya benar, kalau minum miras… Hahaha.. Kalau minum miras kenapa yaah.. haha

    @Mansup: Saya baru tahu kalian ternyata kembar. Soal the preacher, bukan cuma beliau, masih banyak saudara-saudara kita yang takut dengan perbedaan. Nampaknya, memang perlu diberitahu dengan cara yang baik agar mereka bebas dari ketakutan.

    @Nda: Semoga Pak Rahman baca ini. Andai tidak, mari kita doakan ada saudara atau teman Pak Rahman yang mampu meneruskan pesan-pesan cinta ini.

    @Nazieb: LOL… Huehehehe…

    @SarimiSelatan: Iya, kasihan, gantengnya hanya 50% sebab itupun hanya dari mansup saja. BTW, komposisi kegantengan kalian berdua berapa sebenarnya 60-40, 30-70 atau berapa? 😛

    @Riki: Hehehe, ayo kita doain biar asik :)

  13. choro says:

    HUAHAHAHAHHAHAA…. *baru baca tulisannya bangaip, ngakak poll*

    ada yang aneh sih dari kata pak rahman itu, kalo barongsai dibilangbaru, soale 2 tahun lalu di episentrum art summit barongsai masih ada dan ga ada konflik di sana, hihihi

  14. edratna says:

    Saya malah baru tahu barongsai dilarang di Aceh….
    Tapi kenapa ya?
    Kan itu kebudayaan, walau aslinya dari daratan China.
    Tapi seperti karate, kan asalnya dari Jepang, kok nggak dilarang ya? (Tambah ngaco nih perumpamaannya)..

    Tapi bener, sayapun bingung….

  15. bangaip says:

    @Choro: Saya juga bingung euy :)

    @Ibu Enny: Saya setuju analoginya, Bu. Bahkan kalau dilihat dari konteks fisik, karate itu lebih berpotensi menimbulkan bentrokan fisik ketimbang barongsai. Ajaibnya karate nggak dilarang. Hehe

  16. choro says:

    mungkin karena karate fungsinya bukan hiburan :)) maklum lah, hiburan disana kan biasa dianggep maksiat *misalnya, konser musik* hihihi

  17. Pingback: Perangai Rasis Ala Kanak-kanak: Kenang-kenangan Diskriminatif Pada Tionghoa « alexisme

  18. Pingback: Perangai Rasis Ala Kanak-kanak: Kenang-kenangan Diskriminatif Pada Tionghoa | Komunitas Menulis Ababil

Leave a Reply