Lembaga Bantuan Hukum Blog Indonesia

Akhir tahun 2007 saya dapat kabar mengejutkan dari Boni; Bersihar Lubis dikriminalisasi karena mengutip tulisan (alm) Joesoef Ishak bahwa “Interogator Kejaksaan Dungu“.

Saya pribadi (sebagai manusia yang menderita penyakit kompulsif dan jarang berpikir panjang 😛 ) langsung bereaksi atas kriminalisasi tersebut.

Tuduhan atas Bersihar sungguh ajaib: Pencemaran nama baik.

Pak Sawali pun dengan amat bagusnya pun menulis mengenai pelarangan tersebut. Pada intinya sama, banyak orang, diantaranya kami, terhenyak dan kaget mengenai kebebasan arus lalu lintas informasi di negeri ini.

Bayangkan… Tahun 2007? Masih saja ada yang di penjara karena menulis “Kamu dungu!”

Dua tahun kemudian, 2009, Prita Mulyasari kembali dikriminalisasi karena menulis di milis (mailing list) mengenai keluhannya pada Rumah Sakit Omni yang menurut Bu Prita, ‘Mereka membuat tangan saya bengkak’

Sebagaimana Bersihar, Prita pun akhirnya sempat mencium aroma kamar sel penjara. Bayangkan… Tahun 2009? Masih saja ada yang di penjara karena menulis “Mereka membuat tangan saya bengkak!”

Kita semua terkejut, marah, sekaligus takut. Kombinasi itu membawa kita menulis ungkapan hati melalui media massa yang menyediakan kolom komentar, melalui blog, melalui dukungan facebook, hingga demonstrasi di jalan.

Apa yang terjadi pada Prita maupun Bersihar punya persamaan; Dua-duanya dikriminalisasi karena menulis.

Kriminalisasi yang jelas membuat takut banyak orang (yang menulis).

Mengapa?

1. Biasanya kalimat ‘kriminalisasi’ amat lekat dengan kalimat ‘penjara’. Kalimat ‘penjara’ itu di Indonesia (dan sebagian besar negara di dunia ini) bukanlah kalimat yang baik. Orang yang sudah pernah di penjara, susah dapat SKKB (Surat Keterangan Kelakuan Baik) dari kepolisian kalau ingin mencari kerja. Selain itu, penjara Indonesia bukanlah sesuatu yang nyaman bahkan hingga di imajinasi anda sekalipun.

2. Kriminalisasi juga lekat dengan kalimat ‘melawan hukum’. Di negara yang (katanya) berdiri atas nama hukum, Republik Indonesia. Kegiatan melawan hukum sama saja dengan kegiatan melawan negara. Tindakan represi negara terhadap rakyat atas nama hukum yang mengakibatkan banyak warga Indonesia meninggal dan terluka, meninggalkan rasa traumatis yang amat tinggi di jiwa warga Indonesia. Contohnya; hingga kini masih banyak orang yang takut dengan aparat penegak hukum. Sebab bagi mereka, penjahat paling sadis, yaa justru datang dari aparat tersebut.

3. Jika anda melihat bahwa ‘pena atau belati sama sekali tidak setajam tuntutan hukum’, maka secara otomatis otak anda akan belajar untuk “Ahh takut nih nulis! Gimana nanti kalo gua dituntut? Nanti gua bisa dipenjara! Nanti makan apa gua dipenjara?”

4. Kita tidak sedang ada di Amerika Serikat, di mana para narablog US punya bantuan hukum sendiri dalam menghadapi kasus kriminalisasi yang menimpa mereka. Ini Indonesia, Bung. Dimana bukan hanya mulutmu harimaumu. Sebab disini bahkan nama orang kaya, korporasi cere hingga penguasa lokal tingkat kelurahan pun ikut-ikutan jadi harimaumu.

Dan sebagainya… Dan sebagainya… Di atas hanya beberapa contoh umum yang anda dapat lihat di kolom-kolom komentar warga pada kasus kriminalisasi penulis.

Alasan-alasan di atas adalah basis dasar Pak Wicaksono (*sumpah, nama penulisnya memang begitu adanya. Bukan Ndoro*) menulis bahwa posisi narablog (atau dikenal juga sebagai blogger) memang sungguh lemah adanya di mata hukum.

Begini kutipan tulisan Ndoro Bapak Wicaksono

Nasib narablog pun belum sebaik jurnalis. Para jurnalis memiliki semacam pelindung yang kuat dalam bentuk Undang-Undang Pers dan kode etik jurnalistik. Undang-undang, selain memberi perlindungan, menyediakan privilese kepada wartawan berupa hak tolak. Narablog justru belum memiliki pegangan khusus apa pun.

Seandainya seorang wartawan mendapatkan masalah hukum, ada asosiasi, seperti Aliansi Jurnalis Independen dan LBH Pers, yang siap membela. Tapi, bila ada narablog yang digugat, dia pasti kebingungan akan meminta pertolongan kepada siapa. Kalau narablog yang terjerat kasus itu kaya sih, dia bisa menyewa pengacara. Tapi bila narablog itu koceknya tipis, siapa yang akan membantu?

Analisa yang menarik (buat saya pribadi). Kalau mau blak-blakan terbuka, ini adalah issue yang memang sedang hangat-hangatnya. Jurnalis, menulis karena profesi. Mendapat bayaran untuk bertahan hidup karena bekerja secara profesional.  Dihantam undang-undang apapun, ada pemimpin redaksi hingga editor (kalau berani) yang sedia pasang badan melindungi.

Sedangkan orang yang menulis blog / facebook / plurk / tweet / kronologger atau apalah namanya, mulai dari undang-undang kelas kacang hingga undang-undang lentur dahsyat model UU ITE, memang rentan kena hantam.

Siapa pula yang bayar orang-orang itu menulis, berbagi ilmu, kebijaksanaanya (dan kadang makiannya) pada publik? Jawabnya: Nggak ada euy! Siapa yang berani membantu para manusia-manusia itu kalau dirundung masalah. Jawabnya sekali lagi: Nggak ada euy!

Mereka sendirian menghadapi semua terpaan. Ada badai, air pasang, geledek… yaa semua ditelan sendiri.

Dulu ada ide dari seorang pejabat tinggi. Idenya mulia, ‘Sejuta blogger’.

Lah kalau sudah sejuta mau apa?

Percuma ada sejuta kalau tidak punya kekuatan apa-apa. Kata para dai radio, itu lah manusia yang seperti buih di lautan. Banyak tapi terpecah-pecah. Ada, terlihat, tapi tidak sanggup berbuat apa-apa.

Percuma punya lebih dari sejuta otak dan mulut tapi tidak sanggup mengguncang Senayan untuk menyuarakan aspirasinya.

Jika tidak ada yang mendengar. Jika tidak ada yang beraksi. Sejuta pendapat ujung-ujungnya hanya jadi sejuta omong kosong. Sebab apapun yang keluar melalui tulisan tersebut, hanya jadi bumerang bagi aktifis-aktifis yang menyuarakan pendapatnya di ranah maya.

Siapa pula yang mau bersuara kalau mulutnya diancam panjara?

Maka itu, sumpah mati saya bangga (dan sepenuhnya mendukung) jika pada suatu hari muncul Bapak Anggara yang mengumumkan pada publik bahwa beliau dan teman-teman bersedia membantu blogger/aktifis ranah internet untuk tetap menyuarakan kebebasan berekspresi.

Di kutip dari blog Anggara.org:

Kami juga berupaya untuk mendorong kerjasama dengan banyak pihak untuk dapat melindungi dan mendukung kemerdekaan berekspresi di Indonesia termasuk di ranah internet. Kami memang punya banyak rencana besar diantaranya memfasilitasi para human rights litigator di Indonesia untuk mempunyai banyak referensi soal penghinaan, media, dan internet. Kami inginnya sih punya situs, yang berfungsi sebagai resources center yang bicara tidak hanya soal lawsuit against blogger akan tetapi juga bicara soal – soal kemerdekaan berekspresi lainnya. Mudah2an ini akan bisa terwujud 2010 nanti.

(*Jadi begini teman-teman, kalau anda bermasalah karena aktifitas berinternet di Indonesia. Hubungilah Om Anggara di Anggara dot Org atau kantor temen-temennya si Oom. Makasih yaa atas niat dan bantuannya*)

Media memang sedang jadi issue yang hangat akhir-akhir ini. Apalagi media web 2.0. Di mana siapa saja dan kapan saja bisa mengungkapkan isi otaknya dan diketahui publik luas melalui internet. Jadi jangan heran jika internet adalah salah satu  kategori teknologi yang dibenci penguasa otoriter (diantaranya pemerintah RRC, Myanmar dan US di ketika bawah kendali Bush. Jr).

Media itu bisnis besar loh. Dulu waktu jaman prehistori ada pameo, siapa yang dekat dengan api dialah yang menguasai. Sekarang jaman sudah berganti. Pameo saat ini adalah, siapa yang memegang media dan informasi dialah yang berkuasa.

Sebab dengan corong media lah seseorang dapat menguasai hati banyak orang (sesuatu yang diimpi-impikan para penguasa).

Maka itu, sekali lagi… Terimakasih kepada Bapak Anggara dan rekan-rekannya yang bersedia membantu para aktifis ranah maya untuk terus bergiat.

Sebab informasi bukanlah monopoli!

This entry was posted in Orang Indonesia, Republik Indonesia and tagged , , , . Bookmark the permalink.

8 Responses to Lembaga Bantuan Hukum Blog Indonesia

  1. yah…sejak kasus prita bergulir saya juga jadi sangat hati-hati dalam menulis. Terakhir saya bahkan menghapus postingan protes saya kepada sebuah maskapai penerbangan di salah satu blog. Soalnya manajemennya dah galak banget berkomentar di blog saya itu. Serem juga, takutnya di pritakan juga. 😀

    –0–

    Saya sering kasihan sama teman-teman yang beraktifitas menyuarakan kebebasan. Mereka punya banyak idiomatika, mulai dari dimunirkan hingga takut dipritakan. Semoga ini bisa kita atasi bersama dengan baik.

  2. hedi says:

    bagus kalo ada LBHB(logger)I, dan lebih bagus bila kita juga nulis dengan bijaksana 😉

    –0–

    Setuju Mas Hedi. Walaupun dalam beberapa kasus, jadi ‘bijaksana’ itu sungguh berat bagi beberapa teman yang ingin melontarkan keluhannya. Sebab dalam kondisi tersebut, eufimisme memang bukan jadi salah satu pilihan yang ada di hadapan mereka. Saya pribadi, berfikir bahwa Bersihar hanyalah mengutip. Dan Prita hanya melontarkan apa yang ia alami. Jika penulis mengutip pun sudah salah dan mengungkapkan kejadian yang di alami berdasarkan kacamata pribadi jauh lebih salah, maka kita berarti penulis tersebut hidup dalam ketakutan dan teror. Itu bukan hidup yang menyenangkan.
    Tapi saya pikir ‘bijaksana’ dalam kasus kriminalisasi pengirim informasi (penulis) adalah kalimat yang rancu. Sampai sejauh mana batasan bijaksana? Kita mungkin punya batasan personal terhadap kalimat tersebut. Tapi, manusia kan jamak. Hehe. Tidak semua dari kita punya batasan bijaksana yang sama. Sebagaimana tidak semua dari kita menyukai kadar manis pada teh dengan cara yang sama.
    Maksud saya begini, tolok ukur bijaksana itu siapa dan seperti apa? :)

    *Maap, jawaban saya mungkin bukan jawaban yang bijaksana.. Hihihi*

  3. edratna says:

    Udah ada mas Anggara dan teman-teman..tapi hendaknya kita juga sadar hukum dan membuat tulisan secara bijaksana. Dengan bijaksana, kritikan akan bisa diterima dengan senang hati.
    Sependapat dengan mas Hedi di atas

    –0–

    Kalau soal bijaksana, komentar saya sependapat dengan jawaban pada Mas Hedi diatas, Bu. Kalau masalah soal sadar hukum, itu saya jelas sangat mendukung sekali.

  4. Fortynine says:

    susah dapat SKKB (Surat Keterangan Kelakuan Baik) dari kepolisian kalau ingin mencari kerja.
    Sekarang surat tersebut sudah bertransformasi jadi SKCK (Surat Keterangan Kelakuan Baik Cukup Keren)Bang. Jadi kalau mau dapat itu memang harus keren, sebab kalau orang Indonesia yang sudah pernah masuk penjara pasti ga keren lagi. Karena biasanya mereka sudah punya tatto di jidatnya yang bertuliskan “MANTAN NAPI!!!”

    Selain itu, penjara Indonesia bukanlah sesuatu yang nyaman bahkan hingga di imajinasi anda sekalipun.
    Kalau masuknya gratis, penjara memang bukan surga dunia. Tapi kalau masuknya bayar, selama bisa beli kamar, ngupah sipir,dan melecehkan para preman berseragam dengan fulus seperti yang lazim dilakukan para pengerat dan reptilia yang marak berkembang biak dan beranak pinak di Indonesia, maka penjara adalah HOTEL BINTANG 7!.

    –0–

    Huehehe… Kali ini saya langsung mengamini kamu, Rid. Nantikan edisi 7 KC Tujuh. Ada yang isinya tulisan tentang mantan napi. *Halah, kok jadi promosi gini, hihi*

  5. mbelGedez™ says:

    .
    Males komen ah,… Takut…
    Ntar jangan-jangan di somasi….

    :mrgreen:

    –0–

    Yang somasi Mas Mbel paling gadis-gadis manis fesbuk, Mas.
    Huehehe

  6. Pingback: tentang #freeprita « Aditya Sani

  7. manusiasuper says:

    Kalau tidak salah om Anggara pernah juga menyebarkan tips menghindari masalah hukum karena tulisan di blog, saya pernah punya slidenya, tapi sekarang entah di mana…

    Diantaranya seperti menulis sasaran protes dengan inisial atau alias, atau menuliskan keluhan jangan cacian, atau juga memberikan kritik plus solusi…

    Saya? Ah, saya tetap menghujat saja, menghujat itu memuaskan…

    –0–

    Kata panduan jurnalistik sebuah harian ibukota beroplah nasional, memakai inisial itu katanya berbahaya. Sebab dapat menggiring opini publik. Saya pribadi, tidak suka memakai inisial. Saya lebih suka terang-terangan menyebut nama personal. Dengan catatan, nama tersebut sudah ditayangkan di media konvensional. Jadi berita atau nama yang ditayangkan disublimasi menjadi berita dari sumber kedua.

    (*Iya, walopun saya anonim, tetap saja punya trik ngeles. Hehehe*)

  8. Anggara says:

    Lah – lah, saya koq baru ngeh ada nyebut2 nama sayah disini 😀

Leave a Reply