Maut Itu Bisnis

Seorang sahabat, jurnalis di harian terkemuka Jakarta. Jam tiga dini hari masih bangun dan membalas kalimat-kalimat chat saya.

“Belum tidur?”

“Lo gila! Sebentar lagi dia mati. Kalo dia mati, gua harus udah punya tulisan!”

‘Dia’ yang dimaksud adalah mantan orang nomor satu di Republik Indonesia. Saat itu, nampaknya tengah berjuang susah payah dalam kondisi sakaratul maut. Di rawat di sebuah rumah sakit besar Jakarta.

Tidak lama kemudian pukul lima dini hari, sahabat saya ini pamit. Beserta beberapa wartawan foto, mereka akan menuju sebuah daerah di Jogjakarta. Ke persemayaman terakhir sang mantan penguasa.

Saya ingat betul kalimat terakhir di dinding chat sebelum ia logout, ‘Hidup nyusahin, giliran mati kok yaa susah dan nyusahin’

Ia kecewa, harus meninggalkan istrinya yang sedang ada di rumah sakit. Atasannya tidak mau peduli, ia salah satu jurnalis terbaik di tempat kerjanya. Tulisannya di tunggu pembaca. Berita meninggalnya orang yang pernah menjabat selama beberapa dekade, adalah prioritas yang cukup tinggi. Ia harus pergi meliput ke Jogja. Ia kecewa.

Setelah itu, saya tidak mendengar kabarnya lagi. Hingga beberapa minggu kemudian di inbox surat elektronik muncul sebuah terusan yang berisi tulisan sahabat jurnalis tersebut.

Isi tulisannya dahsyat. Bagaikan burung api di tengah badai. Meluap-luap. Membakar. Meraung menggaung-gaung. Menghanguskan siapa saja hati yang membacanya.

Saya hampir yakin siapa saja yang kebetulan melihat isi tulisan itu, pasti akan tergerak hatinya. Untuk marah dan memaki-maki dosa-dosa politik si mayit mantan penguasa. Obituari itu memang mungkin di buat dalam satu kacamata perspektif saja.

Tidak bisa dipungkiri, sang mantan penguasa itu memang meninggalkan lebih dari ratusan misteri sejarah. Ribuan pro dan kontra. Dan lebih dari sejuta masalah dibelakang kematiannya.

Maka jika tiba-tiba ada sebuah tulisan di media massa yang menentang arus – bicara tabu – melawan tradisi bicara hal yang baik-baik saja ketika ada orang besar meninggalkan dunia fana ini, tulisan tersebut langsung melejit bagaikan meteor. Terkenal.

Surat terusan mengenai mantan presiden itu tiba-tiba meluncur bagaikan bola salju. Membesar dan semakin membesar. Penulisnya, sahabat saya itu, pun di undang ke sana ke mari. Membicarakan dosa warisan si mayit yang masih saja membahana dan diamini kalangan pengikutnya.

Tulisan itu, saking terkenalnya bahkan pula dimuat dalam memoar untuk mengenang sang pemimpin nomor satu yang kini membujur kaku sembilan kaki di bawah permukaan tanah. Katanya, bagian dari objektifitas.

Ketika orang-orang sibuk lagi dengan urusan dan perutnya masing-masing dan sejenak lupa masalah politik, euforia kematian itu pun mereda. Suatu hari, kami nampaknya sama-sama dianugrahi waktu untuk berbincang bersama. Lagi-lagi melalui ruang chat kami bersua.

Saya bertanya mengenai kabar istrinya. Ia bertanya mengenai kabar keluarga saya. Obrolan yang biasa-biasa saja diantara dua bapak-bapak biasa. Hingga akhirnya pembicaraan kami terspesifikasi mengenai tulisannya, ia pun pamit. Mungkin mengangap saya terlalu naif.

Namun saya masih ingat betul kalimat terakhirnya di dinding chat.

Ia menulis, “Maut itu bisnis”

This entry was posted in Orang Indonesia, Republik Indonesia and tagged , . Bookmark the permalink.

13 Responses to Maut Itu Bisnis

  1. bsw says:

    Ini tulisan kok pas sebelum Gus Dur wafat ya?
    Media jadi punya “berita hangat” lagi…….

  2. edratna says:

    Masih merenung, siapa orang nomor satu yang dimaksud.
    Beberapa kali bersinggungan dengan jurnalis yang mengejar berita, saya paham …bahwa ada yang layak dijadikan berita dan ada yang tidak..

    Terkadang saya menginginkan obyektivitas…karena banyak juga berita baik-baik….namun seringnya berita tsb kalah dengan berita yang spektakuler.
    Akibatnya, saya males nonton TV..baca media yang penting aja, terutama jika saya lebih tahu tentang berita yang ditulis itu…

  3. hedi says:

    Tuhan aja dijadikan bisnis, apalagi yg lain πŸ˜€

  4. jardeeq says:

    Maut memang bisnis bang, buat tukang gali kubur, pengurus pemakaman, dan pemerintah…

  5. dewo says:

    Judulnya serem. Untung isinya tdk horor. Hi3x

  6. […]there is nothing new under the sun
    – Ecclesiastes 1:9

    begitupun maut yg jadi bisnis, bang. banyak orang idup yg lebih perlu makan ketimbang berempati.
    maaf, jadi personal. saya ngalamin ada temen saya yg bikin lwakan dari kematian almarhum mantan orang no. 1 disini.
    sekali lagi maaf.

  7. bangaip says:

    Hehe, nggak usah minta maaf Mbak Pito. :)
    Terimakasih sudah berbagi

  8. bangaip says:

    Nggak Mas Dewo. Nggak horor. Saya nggak berani. Hihihi

  9. bangaip says:

    Setuju

  10. bangaip says:

    Hehe, bener banget Mas Hedi :)

  11. bangaip says:

    Saya kebetulan diskusi sama mansup di FB, Bu. Kelihatannya kami sepakat bahwa objektifitas dalam menulis itu selalu bisa dikalahkan oleh kekuatan pemilik usaha (dalam hal ini, bosnya sang jurnalis). Walaupun tidak semuanya, tapi seringkali itu terjadi.

  12. omnoba says:

    bang.. semenjak mengayom pendidikan level menengah di universitas, saya dituntut untuk mempunyai sifat agnostik dan tertuju pada fakta dalam membicarakan ilmu sehingga sifat objektifitas berpendapat bisa dicapai dengan baik…

    tapi bang, mengenai wacana “maut itu bisnis” saya merasa agak aneh bang. nga tau gimana harus berkomentar, terus terang saya agak kurang senang karena mereka mempermainkan fakta seseorang. menurut abang, apakah perasaan pribadi seseorang harus diacuhkan dalam membicarakan hal-hal seperti ini?

  13. cK says:

    gak cuma maut, seks, darah, dan air mata itulah yang justru laku keras untuk dijadikan berita… :roll:

Leave a Reply