Pornografi Apa Yang Cocok Untuk Anak-Anak?

Dalam sebuah pertemuan menjelang evaluasi akhir tahun antara para orang tua murid dengan guru terjadi sesi tanya jawab dengan topik yang lumayan seru.

Yang pertama adalah pertanyaan; Bagaimana cara menghindari anak saya dari konten pornografi? Lalu selanjutnya pertanyaan baru; Bagaimana menghindari anak saya dari predator online?

Jawabannya di bagi dalam beberapa kategori.

Kategori pertama, identifikasi masalah. Ternyata para orangtua ini khawatir anak mereka yang berusia tujuh hingga duabelas tahun itu, secara tidak sengaja mengklik link di internet (atau sengaja, karena rasa penasaran anak-anak). Lalu link itu, membawa mata-mata lugu tersebut ke konten berisi pornografi di internet. Atau ketika anak-anak mereka bermain game online yang memiliki fasilitas chat di infiltrasi orang dewasa cabul yang gemar melecehkan anak-anak (disebut juga predator online).

Intinya satu, para orangtua itu was-was ketika anaknya online.

Sang guru berkata bijak dalam menanggapi kategori selanjutnya; solusi, “Adalah tugas kita, membantu anak. Offline maupun online. Kalau takut anak kita terancam di internet maka yaa tugas kita mendampingi mereka ketika mereka online”

Beberapa orang tua murid menggumam tidak setuju. Maklum, beberapa diantara mereka orang penting di pemerintahan maupun di institusi perbankan. Tidak punya banyak waktu luang.

Si guru terlihat bingung. Orangtua-orangtua ini takut anaknya kebablasan berinternet, tapi ketika diberi solusi yang baik malah membantah. Alasannya macam-macam, sibuk lah, single parent lah, pokoknya ™ ada saja alasannya. Tipikal khas masyarakat urban; kekurangan waktu… Bahkan untuk keluarga. (*Alasan yang ajaib, dulu sebelum bikin anak nggak mikir dulu apa? hehe*)

Seorang ibu bersepatu Louis Vitton menimpali, “Sayang sekali kami bukan guru, jadi tidak punya kemewahan waktu seperti anda”

Pernyataan yang menyebalkan.

Si guru masih bertahan, “Satu atau dua jam perhari bersama anak itu bagus untuk perkembangan mereka, Bu. Kalau tidak bisa juga, minimal tiga atau empat jam di akhir minggu. Jadi anak tidak merasa ditelantarkan”

Si Ibu dan orangtua lainnya menggumam. Nampaknya masih belum setuju. “Memangnya tidak bisa dikasih pemahaman, begitu? Jadi langsung ngerti? Bukannya itu tujuan pertemuan ini?”

Saya kebetulan ada di ruangan itu. Hampir terbahak-bahak mendengarnya. Si Ibu Vitton itu nampaknya menginginkan kalimat sakti. Sebuah kalimat magis yang mampu membuat anaknya yang berusia 10 tahun tiba-tiba menurut semua nasihatnya (*Diantaranya agar jangan terlalu lama bermain Nintendo DS. Lah dulu yang ngasih siapa kalau bukan ibunya sendiri? Hehe*).

Bu Guru itu masih saja tetap mempertahankan kesabarannya. Melirik tajam ke arah saya yang hampir sudah tidak bisa menahan tawa. Lalu menjelaskan kepada para tamu-tamunya tersebut bahwa tujuan pertemuan adalah mencari solusi agar orangtua dan anak lebih saling memahami.

“Anak sekarang mah sudah lebih pinter dari kita-kita. Anak saya, sebelas tahun sudah punya fesbuk. Saya sendiri tidak punya”, keluh seorang bapak di pojok sana setelah sesi saya menerangkan fungsi kontrol internet (melalui perangkat lunak, seperti Netnany atau Squid yang berguna untuk memfilter konten untuk anak-anak) selesai.

Ibu Vitton pun kembali menambahkan, “Iya anak sekarang emang pinter-pinter. Kita lengah sedikit, mereka nyolong-nyolong make internet. Kamu bisa besok ke rumah saya untuk nginstal sopwer itu, yang bisa ngeblok internet buat anak saya”

Saya kebingungan di tatap semua mata di ruang kelas. Ditodong begitu, akhirnya saya menyerah dan lalu berkata “Saya bisa kasih workshop buat bapak-bapak dan ibu-ibu semua untuk membantu anak berselancar di internet”

Bapak yang di pojok kembali buka suara seakan mewakili suara mayoritas, “Wah mas, kami nggak ada waktu. Mas aja deh yang dateng ke rumah. Sebut aja berapa biayanya yang penting anak-anak kami terselamatkan”

Pernyataan yang lagi-lagi menyebalkan. Kalau memang ia berniat menyelamatkan anak darah dagingnya sendiri, kenapa ia tidak mau meluangkan waktu untuk belajar dan mendampingi si anak? Lah kok saya yang disuruh menggantikan fungsinya?

(*Saya lirik, Bu Guru menahan senyum. Sekarang saya tahu bagaimana perasaannya. Hehe*)

Malamnya, saya curhat kepada seorang teman. Beliau ini ahli internet di Indonesia. Beliau berkata, “Nah itulah hebatnya Indonesia, Rip. Orangtua nggak usah pusing. Konten-konten nggak bener udah difilter ama pemerintah

Saya bengong dan lalu bertanya, “Lah, emangnya semua orang Indonesia umurnya tujuh sampe dua belas tahun?”

*Katanya sih iya… Sebab UU ITE kali ini tidak hanya berfungsi sebagai penyaring pornografi di internet, melainkan juga jadi sarana melampiaskan emosi kekanak-kanakan. Kalau marah, sikat saja anak tetangga dengan tuduhan pencemaran nama baik. Hehehe*

This entry was posted in sehari-hari and tagged , , , , , , , . Bookmark the permalink.

10 Responses to Pornografi Apa Yang Cocok Untuk Anak-Anak?

  1. edratna says:

    Yang penting sebetulnya kualitas waktu antara orangtua dan anak, dan hubungan yang penuh persahabatan.
    Alasan tak punya waktu kok kayaknya tak tepat, lha banyak teman-teman saya yang jauh lebih sibuk dari saya, yang pengangguran ini, tetap bisa dekat dengan anaknya kok. Dan bersahabat dengan anak itu menyenangkan.

    Jadi…usahakan mendampingi anak, internet memang perlu dikelola, dan jika anak salah jangan dimarahi, buatlah diskusi menyenangkan sehingga anak memahami bahwa pada dasarnya segala perbuatan itu menuntut tanggung jawab.

  2. mbelGedez™ says:

    .
    Hwaaakakakakaka…… 😆

    :ROFL:

  3. adipati kademangan says:

    Ibu gurunya itu kan sudah meluangkan waktu berkomunikasi dengan orang tua murid bagaimana cara berinternet yang baik. Masak ibu guru harus mendampingi anak didik juga dalam berinternet sepanjang hari.

  4. manusiasuper says:

    Parents, teachers, Goverments…

    –0–

    Haha, kombinasi yang berbahaya…

  5. bangaip says:

    @Bu Enny: Terimakasih atas pendapatnya, Bu.

    @Mas Mbel: Hehe, yah begitulah adanya, Mas.

    @Adipati: Saya kebetulan saksi di ruangan itu, Adipati. Nampaknya memang masih banyak saja yang menganggap guru sebagai manusia super yang harus bisa segalanya. Aneh sekali, padahal para orangtua murid itu datang dari kalangan yang cukup tinggi tingkat pendidikannya.

  6. jardeeq says:

    anak-anak jaman sekarang katanya sih:
    kalau dikasih tahu ngeyel.
    Dilarang, nambah ngeyel.
    Dikasih program pemblok internet, dihack!!
    Trus gimana dong??

  7. bangaip says:

    Dijadikan teman kali yaa. Kalo ama teman kan ngomongnya enak.

  8. Wijaya says:

    Pada bisa bikin anak, giliran disuruh mendidik kagak mau…..
    Egois ortu2 yg sok sibuk jaman sekarang.

    Lah, saya kan sudah bayar sekolah mahal2, harusnya situ dong yang ndidik anak saya… (lho?)

    Itu salah satu sebab, kenapa anak2 sekarang kurang etika/budi pekerti yang baik.
    Di sekolah sudah diajarkan tetapi di rumah dan pergaulan kurang diasah. Komunikasi berkualitas antara ortu dan anak sangat kurang. Giliran anak ngelunjak, ortunya kaget….haha.

  9. omnoba says:

    saya jadi ngakak waktu baca kalimat “nga mikir apa waktu bikin anak”

    jadi kepikiran nich, kawin-ngak-kawin-ngak. (^___^)

    menurutku bang, sepertinya kita harus merumuskan suatu kalimat ampuh yang dapat membuat ortu jadi sadar bahwa anak perlu perhatian.

    “berkaca sesudah 21 tahun” temenku pernah bilang bahwa anak2 biasanya akan berkaca setelah umur 21 tahun. dia akan menganggap ortunya bertanggung jawab atas sifat atau keadaannya sekarang sehingga mungkin akan muncul perasaan benci pada orang tuanya.

    sekarang si anak dekat dengan orang tua karena mungkin mereka butuh tunjangan ekonomi dalam merampungkan kuliah atau mengejar pekerjaan, tapi setelah mereka mendapatkan pekerjaan yang mapan dan bisa mandiri? kebanyakan anak yang mengalam “berkaca sesudah 21 tahun” akan menghindari orang tuanya. dan mungkin setelah anaknya menjauh dari mereka, baru mereka akan sadar kesalahan mereka^^

    btw, bang. sang ibu guru itu Nyonya majikan yach^^

  10. bangaip says:

    @Wijaya: Haha, bener banget tuh Mas Nuky. Kebetulan ada anggota keluarga yang mengalami hal itu. Bapak jadi dosen sekaligus orang nomor satu di BUMN yang berlokasi di JKT. Mama, jadi hajjah mubaligh yang punya banyak pengikut dan sering muncul di layar televisi. Dua-duanya sibuk berat. Hingga suatu hari anaknya… kecanduan narkoba. Dan mereka dengan santainya lalu menyalahkan ‘lingkungan pergaulan sekolah’. Ajegilee. (*Yang lebih ajaib, setelah si anak jadi pecandu, mereka mulai menghubungi saya untuk nanya-nanya masalah anak. Hehe, kemana aja kemaren-kemaren? Hehe*)

    @Omnoba: Terimakasih atas sharenya. Menarik sekali ide ‘berkaca setelah 21’. Ada seorang sahabat saya yang mengalami hal tersebut. Hingga saat ini, membenci ayahnya. Soal ibu guru.. Ya benar. Itu Ibu Nyonyah. Hehe.

Leave a Reply