Ruang Publik

*Agar tidak terlihat sedang belajar jadi munafik atau malah pura-pura suci, sebelumnya anda perlu saya informasikan bahwa suatu siang di awal tahun 2000-an saya ditangkap oleh aparat keamanan stasiun kereta Utrecht Overvect karena kamera mereka memperlihatkan saya sedang membuat graffiti ukuran 6 x 1,5 meter di dinding ujung stasiun (menulis kampanye anti knalpot keras). Saya di hukum untuk kerja selama 80 jam di Graffiti Removal Brigade, pekerja sosial yang bekerja membersihkan dinding publik. Buat saya pekerjaan ini selain berat secara fisik dan juga amat membebani perasaan. Sebab harus menghapus graffiti milik saya dan milik teman-teman saya*

–0–

RUANG PUBLIK a.k.a. TUBUH SELEBRITI

Dalam sebuah diskusi hangat malam hari antara beberapa pegiat kebebasan berinformasi ruang publik dengan beberapa seniman di Rawamangun, Jakarta; di temukan sebuah alegori baru “Ruang publik adalah sebuah kekuatan”

Seorang pembicara berkata “Apapun yang ada di depan mata kita dan mata orang banyak itu ruang publik. Kalau mau ya bisa dipakai”

*Saya tidak setuju*

Ia mengacu pada tembok dinding pagar rumah bagian luar halaman depan. Menurutnya, bagian dalam tembok yang menghadap ke pintu masuk sebuah rumah adalah ruang pribadi. Sementara bagian luar muka tembok itu adalah ruang publik. Sebab terpelihatkan untuk mata publik. Kalo tidak untuk publik, buat apa pagar itu di cat ketika menjelang hari raya, misalnya.

Beberapa orang seniman lukis yang biasa membuat graffiti di tembok jalanan (bahasa kaum sejenisnya adalah ‘Bomber’ atau ‘Gerilyawan Seni Jalanan’. Bahasa resmi penamaan mereka dari pemerintah adalah ‘vandalis’) bersorak mendengar hal ini. Namun tentu saja tidak semua. Ada beberapa diantaranya berkata “Wew, bahaya banget tuh kalo begitu”

Bahaya?

Di mana bahayanya?

Salah seorang yang tidak setuju lagi-lagi berkata “Kalo misalnya  tembok mesjid atau apalah namanya lo ganti aja namanya pake nama rumah ibadah laen, trus ada bomber yang dateng bawa pylox taruh namanya di sana. Gimana?”

Si pembicara berkata; “Ada kesepakatan tak tertulis bahwa rumah ibadah tidak diganggu gugat di kalangan bomber. Tapi kalo emang ada yang nekat mao ngebom mesjid, yaa gua rasa itu bisa saja terjadi”

“Kalo ketauan kan bahaya, bisa digebukin orang se-masjid”

“Itu kan kalo ketauan”

Saya terperangah mendengar jawaban si pembicara dan merasa tidak setuju. Walaupun maksudnya ‘ngebom’ adalah melukis di dinding masjid dan logika yang dipakainya masih masuk akal, tetap saja saya tidak setuju.

*Sejujurnya, tidak begitu penting saya setuju atau tidak. Toh saya bukan siapa-siapa. Saya setuju atau tidak, suara saya tetap tak terdengar. Saya cuma orang kecil. Bukan pembicara. Bukan seniman. Bukan siapa-siapa. Haha*

Saya tidak setuju karena:

1. Tembok rumah itu milik pemilik rumah

Mau bagian muka dalam atau bagian muka luar, kek. Tembok rumah adalah milik pemilik rumah. Si pemilik bekerja keras agar tembok itu bisa berdiri dan terlihat sebagaimana visualisasi yang ia inginkan sepanjang tidak menyakiti perasaan publik.

Si pemilik rumah, mempunyai hak agar temboknya tidak ditempeli oleh slogan-slogan omong kosong para calon wakil rakyat yang sedang kampanye. Hak yang sama ketika ia meminta agar temboknya tidak ditempeli stiker “SEDOT WC, telpon 021-777-XXXX”

Pemilik rumah, berhak mengecat tembok rumahnya dengan warna atau dekorasi apapun. Walaupun tentu saja, ia tetap dibatasi oleh hukum. Misalnya; ia sebaiknya tidak menuliskan kalimat yang menyakiti perasaan tetangga-tetangganya atau makhluk hidup lain. Contoh: Jika anda anti Bali dan lalu tinggal di Denpasar, anda tidak begitu bebas menulis kalimat besar-besar “F*CK Bali!” di depan tembok rumah anda. Anda bisa di tuntut kalau memang ngotot memaksa menuliskannya.

(*Soal Bali, ini serius loh. Beberapa tahun lalu secara ajaib beberapa orang memboikot Bali karena Bali memenjarakan kurir ganja, Schapelle Corby*)

Pada intinya, tembok rumah itu ada yang memiliki.

2. Ruang publik adalah milik publik

Bukan milik pribadi. Kalo milik pribadi, yaa boleh dicoret-coret seenak jidatnya sesuai keinginan hati. Jaga ruang publik agar benar-benar untuk publik.

Sebagai seseorang yang juga gemar menempelkan eksistensi diri pada ruang publik, saya memiliki semacam justifikasi (yang tentu saja anda amat boleh untuk tidak sepaham dengannya). Bahwa kekuatan ruang publik terdapat pada esensi pesan yang disampaikannya. Stiker “FREE PRITA” yang tertempel di angkutan umum yang beroprasi di depan Rumah Sakit Omni Internasional jelas berbeda muatan dan efektifitasnya dibanding stiker “UjAng c00l dEh”
(*Kamu teh siapa, Jang?*)

Kekuatan ruang publik bukan hanya terletak pada lokasinya yang strategis. Yaitu terlihat oleh mata publik. Melainkan juga pada bagaimana sebuah pesan disampaikan.

Tahun 1996, sekitar 500 aktifis lingkungan dan jurnalis mengakuisisi lahan di Wandswoorth, Inggris, milik pabrik bir terkenal Guinness (kampanye ini dikenal dengan nama Pure Genius!! Diadopsi dari parodi iklan Guinness saat itu). Lahan tersebut tak terpakai dan terbengkalai. Mereka menggunakan lahan tersebut untuk menetap (sebagai protes akan mahalnya sewa tempat tinggal) dan juga untuk berkebun (sebagai protes bahwa terhadap banyaknya lahan terbengkalai yang seharusnya bisa lebih hijau dan berguna). Setelah lima setengah bulan menetap, polisi (dan Guinness yang akhirnya sadar bahwa lahannya tengah digunakan) mengusir para aktifis tersebut.

Dari cara para aktifis lingkungan itu menyampaikan pesan, terlihat bahwa demonstrasi di ruang publik tidak melulu dengan aksi sehari dan sporadis. Itu yang pertama. Sementara selanjutnya adalah; mata publik terbuka. Bahwa penghijauan tidak melulu harus dengan cara konservasi rimba yang jauh di sana. Penghijauan bisa dilakukan di depan mata. Saat ini juga.

3. Batasan ruang publik itu jelas

Di Jakarta, Indonesia terdapat jalan tol. Jalan bertingkat yang menghubungkan satu lokasi ke lokasi lainnya. Di bawah jalan tol tersebut terdapat tiang-tiang besar penyangga yang menggunakan teknik Sasrabahuh yang ditemukan oleh Tjokorda Raka Sukawati. Tiang itu (kira-kira berdiameter tengah sekitar 3 meter) kerapkali di gambar atau di lukis.

Pertanyaannya; bolehkah tiang itu digambar?

Tiang itu milik Pemda Jakarta (atau yang terkait). Kalau mereka mau yaa sah-sah saja. Tahun 2002, Pemda Jakarta Timur mengadakan lomba untuk melukisi tiang-tiang kokoh, dingin dan gelap itu dengan gambar kampanye anti narkoba. Pesertanya mulai dari anak SMP hingga mahasiswa.

Saya angkat topi terhadap aksi Pemda Jak-Tim tersebut. Sekali mengayuh, lebih dari tiga pulau terlampaui. Satu, memberi lahan pemuda untuk aktif berkreasi. Dua, memerangi narkoba. Tiga, menunjukkan publik niat baik pemerintah. Empat, memanfaatkan anggaran dengan baik. Lima, menyediakan pengguna jalan yang sering menumpuk di bawah jalan tol dengan pemandangan yang menarik 😀

(*Ada pertanyaan; Kenapa saya diam saja ketika teman-teman saya di SERRUM melukis diam-diam di dinding jalan raya ketika memprotes Polisi yang mengkriminalisasi Komisi Pemberantasan Korupsi tanpa seijin Pemda sang pemilik dinding? Maka jawabnya adalah “Pesan tetap harus disampaikan. Bahkan ketika penguasa diam seribu basa atau malah melarangnya”. Jangankan saya yang cecere, penulis papan atas macam Paman tyo saja berteriak ketika ruang publik diperkosa*)

Sampai sini, saya hanya mau bilang, bahwa ruang publik itu bukanlah sejauh mata publik memandang. Kalau begitu batasannya, yaa bahaya. Sebab kalau begitu, siapapun jelas boleh mencoret-coret kaus yang saya kenakan ketika saya di dalam bis. Atau malah, batasan itu membolehkan siapa saja boleh memencet puting dada saya ketika saya telanjang dada di pantai (auuww…)

Sampai sini, anda jelas?

Kalau belum jelas… Mari ikuti tes di bawah ini.

Tes Ruang Publik a’la Bangaip Dot Org.

Menurut anda, seorang selebriti itu ruang publik atau bukan?

(Kalau tidak, kenapa?)

(Kalau iya, apakah anda atau siapa saja boleh mengeksplorasinya dengan cara-cara yang anda setujui?)

This entry was posted in bangaip, cerita_kerja, Orang Indonesia, Republik Indonesia, sehari-hari and tagged , , , . Bookmark the permalink.

3 Responses to Ruang Publik

  1. Wijaya says:

    Pertamaxxx….!! (baru kali ini)

    Eh, seleb itu ruang publik? Jadi segala rahasia dan kehidupan pribadinya bisa dikonsumsi publik ya?

    Menurut saya, seleb itu ruang publik: YA dan TIDAK.
    YA; karena mereka memang menggunakan dirinya untuk memperoleh sesuatu dari publik (popularitas, materi).
    TIDAK; karena harus ada batasan sampai sejauh mana publik boleh mengetahui hal2 mengenai dirinya. Mereka toh manusia juga yg butuh privasi.

    –0–

    Pertamax kan disini, di fesbuk mah… hehe…

    Makasih atas jawabannya Mas Nuky. Bagus ini tanggapannya.

  2. Guh says:

    Siapa dulu selebnya. Kalau seperti Maria Ozawa, ya saya ndak keberatan mengeksplorasi setiap lekuk wujudnya 😀

    Kalau seorang menteri gimana? Menurut saya, sebaiknya selama dia menjabat, dia adalah milik publik, semua rahasia pribadinya harus bisa diketahui dan diawasi publik.

    –0–

    Terimakasih Mas Teguh. Salam pada Maria Ozawa marilah kita sampaikan melalui Mas Gun, Mas Joe dan teman-teman kita lainnya yang mengenal beliau secara dekat. :)

    Kalo mengenai menteri. Well, ini ada pertanyaan lanjutan Mas Guh. Kalau rahasia pribadinya adalah menjaga agar anaknya yang kecanduan narkoba dan tengah direhabilitasi bukanlah konsumsi publik, bagaimana?

  3. hedi says:

    rolling door rumah pernah dicoret grafiti sama anak tetangga. besok malemnya saya bawa cat semprot dan ganti coret di tembok rumah dia, bapaknya marah2. saya bilang, saya ndak marah rumah saya dicoret, tapi sekarang saya cuma mau bikin keseimbangan dengan coretan “bagus!”.

    bapak itu diam. dalam hati saya teriak: rasain lu! hehehe

    –0–

    Whehehe. Sweet revenge :)

Leave a Reply