Wartawan Beneran vs Wartawan Bohongan

Seorang sahabat suatu hari marah-marah luar biasa. “Saya dimaki-maki babi! Apa maksudnya dia bilang begitu?!”

Saya diam sejenak. Lalu bertanya, “Apa masalahnya?”

Rupa-rupanya, sahabat saya yang blogger ini suatu hari menulis di blognya. Sebuah opini yang tajam. Kebetulan rupanya memangsa hati si pemaki-maki. Sehingga mengeluarkan umpatan yang berisi kebun binatang beserta cacian lainnya.

“Yah sudah lah. Direlakan saja”

Ia melirik tajam, “Coba kalau kamu yang dimaki-maki!”

Wah saya jadi tidak enak hati. Saya mau bilang, kalau saya dimaki-maki babi, maka langkah pertama adalah saya akan berkaca. Sejauh mana wajah saya sudah berubah. Kalau memang muka saya yang bentuknya berantakan ini mirip babi, yaah saya mah pasrah saja. Haha.

Tapi saya urung bicara begitu kepadanya. Nanti dia tambah marah. :)

Waktu itu belum ada Undang-Undang yang mengatur mengenai Informasi Teknologi di Indonesia. Blogger, yang menulis di blognya sering jadi sasaran makian dari pengunjung yang tidak suka. Yang sering ditemui, memaki-maki balik. Namun tidak jarang, yang memaki-maki justru ganti di maki-maki oleh pengunjung lainnya, karena sembarangan bicara.

Blogger (atau katanya setelah di bahasa Indonesiakan menjadi narablog) memang posisinya agak ajaib saat itu. Mereka berhak mewartakan jurnal opininya, namun di saat yang sama, juga berhak dimaki-maki oleh pembacanya kalau mereka tidak suka. Dengan catatan, si narablog tidak memoderasi ruang komentar.

Blog posisinya jelas beda dengan media cetak konvensional. Jurnalis media konvensional dilindungi oleh persatuan profesi jurnalis. Entah namanya Persatuan Wartawan Ini-itu, Aliansi Jurnalis Sebagainya atau apalah. Yang pasti, mereka punya semacam ruang untuk berkumpul dan bersatu apabila mendapat ancaman dan juga ajang mengeluarkan pendapat. Dan juga punya kode etik sebagai panduan. Sementara narablog, bersatunya kalau kopdar (kopi darat) saja. Hehe. Jadi kalau dimaki-maki, paling curhat saja dengan sesama narablog di ajang kopi darat :)

Seorang teman yang berprofesi sebagai wartawan waktu itu secara berseloroh berkata, “Tau ga rip bedanya kita. Blogger itu boleh bohong. Kalo jurnalis nggak!”

Saya bengong mendengarnya. Waduh kalimatnya istimewa sekali. Kok bisa?

“Kalo blogger kan nggak punya editor, nggak punya spell checker, nggak punya pemred. Nggak bisa memilih topik. Kalo salah logikanya, nggak ada yang benerin. Jangankan logika, nulis bahasa indonesia aja masih nggak bener. Wartawan beneran itu wartawan yang nulis di media beneran. Blogger itu wartawan bohongan”

Saya tertawa saja. Nampaknya beliau tidak tahu bahwa banyak juga rekan-rekan saya yang nge-blog juga berprofesi sebagai jurnalis pofesional. Lah kalau begitu, bagaimana mendefinisikannya? Kalau siang, jadi jurnalis; tidak boleh bohong. Kalau malam jadi narablog; boleh semena-mena membohongi publik? Haha, ada-ada saja.

Pada intinya cuma satu, teman saya yang wartawan (dan bukan narablog) ini mempertanyakan keabsahan narablog.

Saya pikir sah-sah saja. Toh kalau kita bisa mempertanyakan keabsahan Tuhan, panduan kontrasepsi, isi software bajakan dan lain sebagainya, kenapa kita tidak bisa mempertanyakan keabsahan sebuah isi tulisan dan penulisnya?

Namun membandingkan pewarta konvensional yang dibayar dan dilatih secara profesional dengan warga biasa yang menulis, apakah tepat dan bijak? Bukankah teknologi seharusnya membuat kita semua bersatu, bukan untuk saling cemburu.

Seiring bertambahnya waktu satu persatu teman-teman saya yang ngeblog pun menghilang. Tulisannya jarang muncul di dunia maya. Sementara, rekan saya yang wartawan itu (dan masih belum juga membagi isi hatinya ke publik lewat dunia maya) masih tetap saja jadi wartawan dan tertawa “Bener kan kata Pak Roy, blog itu cuman tren sesaat”

Beliau maksud adalah Bapak Roy Suryo. Saya ikutan tertawa. Hehe. Sebab kali ini adalah karena masih ada saja jurnalis yang menjadikan Pak Roy (*yang nampaknya juga belum punya blog atau catatan digital yang bisa dikomentari publik secara bebas. Eh beliau sudah punya belum yaa?*) dijadikan referensi.

Namun tetap saja tertawa tidak bisa memungkiri, bahwa satu persatu narablog yang kritis menyuarakan opininya semakin menghilang.

Waktu berlalu, kamipun berpisah. Ia tetap bersikukuh dengan ideologinya mempertahankan prinsip ‘wartawan beneran’. Menjauhi saya yang dianggapnya ‘wartawan bohongan’.

Dan lalu ketika suatu hari muncul UU ITE, undang-undang informasi dan transaksi elektonika muncul, saya tiba-tiba ingat dan lantas menghubungi sahabat lain yang dulu dimaki-maki dengan sebutan babi. “Wah kamu beruntung sekarang, kan jadi tidak ada orang yang bisa memaki-maki kamu dengan adanya UU ITE ini. Nama kamu akan tetap bersih”

Dia tidak gembira. Menyahut pelan, “Bagian pelecehan nama baik itu nggak bener, rip. Saya malah sekarang khawatir untuk menulis”

Saya diam sejenak, lalu bertanya “Kamu lebih suka dimaki-maki orang yang berseberangan pendapat dengan kamu?”

“Saya sih milih merdeka. Dan jadi merdeka, pasti ada konsekuensinya”

Untunglah sang sahabat ini masih menulis. Walaupun kemudian memilih fesbuk sebagai medianya. Alasannya sederhana, sebab bisa mengontrol siapa yang boleh membaca jurnalnya dan siapa yang tidak.

Sementara si ‘wartawan beneran’ masih juga belum pernah membagi opininya kepada publik dunia maya. Alasannya sekarang beda, “Blog nggak banyak duitnya”

Dua-duanya sama, menganggap jurnalisme bukan milik siapa saja.

This entry was posted in bangaip, Orang Indonesia, sehari-hari and tagged , , , . Bookmark the permalink.

10 Responses to Wartawan Beneran vs Wartawan Bohongan

  1. rere says:

    Kalau ada yang maki maki di comment blog yaa ngga usah dimuat, kan terserah kita mau dimuat apa tidak … yang penting sih biasa aja kalee, ngga usah dimasukin hati … :)

    –0–

    Kebetulan banyak yang dimasukin ke hati, Bang Rere. Buat beberapa orang, blog adalah salah satu bagian hidup mereka yang cukup penting. Sebab respon di tulisan mereka juga cukup mereka anggap penting.
    Kalau di blog saya, apabila tidak masuk ke akismet, pasti di muat. Di sini tidak ada moderasi, kecuali SPAM. Hehe.

  2. edratna says:

    Hmm ..kalau gitu saya termasuk yang boongan ya…lha memang bukan wartawan.
    Menulis buat saya sekedar sharing pengalaman, dan juga latihan menulis…lha menulis ya baru di blog ini…maksudnya menulis yang bisa menuai komentar.

    Belakangan memang saya lihat banyak yang lebih berasyik masyuk dengan FB…namun bagiku blog masih mengasyikkan…rasanya lucu aja, kalau setiap kali baca orang update di FB nya, dia sedang kemana..kemudian bergerak lagi kemana…walau itu syah-syah aja.
    Kadang-kadang saya sesekali ikutan komentar di FB, cuma waktu yang sempit yang akhirnya menghalangi untuk aktif di dunia maya.

    –0–

    :) Kendala kita sama, Bu. Masalah waktu. Tapi saya salut sama tulisan Ibu. Lebih banyak updatenya ketimbang saya. Hehe

  3. Amd says:

    Hehe, teringat kembali seribuan komentar di ef-pe-i dulu itu Bang…

  4. buat saya,moderasi komentar itu perlu.
    bukan karena takut dicaci maki, tapi jika ada ketidak setujuan dg tulsian saya, lebih baik membalas makian via artikel lagi.

    setidaknya, jika di awal2 dia punya niat memaki, tapi setelah nulis panjang2, ybs lupa untuk memaki ๐Ÿ˜€

    ngebloglah dg senang dan ikhlas, ga usah ribut dg komentar orang.insya ALLOH akan asik2 ajah deh :p

  5. bangaip says:

    Terimakasih atas pendapatnya, Mas Fahmi. :)

  6. bangaip says:

    Whaha, itu parah Med. Saya udah kebingungan sama kombinasi antara SPAM plus hate speech plus kombinasi aneh lainnya. Untung aja di hostig di WP yang sakti dalam menghadapi anak nakal yang niat mencopoti sandal. Hehe

  7. kunderemp says:

    Saya masih ngeblog..hore… walau terkendala oleh waktu dan mood.

  8. joesatch says:

    sejelek apapun komen yang masuk, kalo saya sih semuanya saya muat, bang. aseek bisa berantem soalnya ๐Ÿ˜†

  9. bangaip says:

    @Kundaremp: Santai aja, saya masih menunggu kok posting-postingan kundaremp :)

    @Joesatch: Iya. Saya sadar itu. Senangs ekali kalau masuk blog diary satch design dan ada yang tidak setuju atas pendapat yang masuk. Seruuu.. Hhaha

  10. omnoba says:

    wah, kalo saya yang hanya menulis diary doank, kagak bisa dimaki2 dunk hehehe

Leave a Reply