Boki-Boki

Mohon maaf sebelumnya karena saya akan banyak menggunakan bahasa yang mungkin dianggap kurang pantas. Maklum saya bukan ahli bahasa. Dan juga sama sekali bukan ahli kepantasan. Hehe.

Ini cerita yang tersisa dari tahun baru lalu. Begini ceritanya;

Tahun baru menurut saya selalu kelabu. Entah kenapa. Waktu masa jaman beranjak akil balig, setiap tahun baru saya sakit. Aneh kan? Hanya beberapa hari sebelum pergantian tahun dan sesudahnya, saya selalu dihinggapi penyakit.

Saya juga bingung. Dalam hati sering berpikir, apa saya salah makan? Atau jangan-jangan ibu saya waktu mengandung dulu mengadakan persekutuan dengan bakteri. Perjanjian ajaib di mana kalau saya lahir sehat, mungkin bakteri dan kuman boleh menghinggapi, jadi sakit di saat-saat tertentu. Misalnya pada tahun baru?

Entahlah.

Yang pasti, saya sering sakit apabila tahun masehi akan berganti.

Sakitnya macam-macam. Mulai dari demam batuk pilek hingga yang teranyar tahun 2006 lalu, saya jatuh dengan kepala dan leher membentur lantai aspal tempat parkir. Akibatnya, seminggu tangan kiri saya tidak bisa digerakkan. Ada urat saraf yang tersumbat. Bahasa ilmiahnya, ‘keseleo’. Hehe

Setelah 2006, sungguh istimewa rupanya; saya tidak lagi terkena penyakit ajaib pada saat pergantian tahun. Wah sungguh bahagia sekali hati ini.

Bayangkan, ketika tahun 2007 tiba; saya jalan-jalan sama istri keliling kompleks perumahan yang kami tinggali untuk melihat kembang api. Senang sekali saya. Belum pernah seumur hidup saya melihat kembang api di tahun baru. Norak ya saya? Yah biar saja lah. Memang begitu kenyataannya :)

Malam tahun baru 2008 istri saya sudah hamil. Kami ada di kota perbatasan, membuka amplop dari dokter dengan perasaan tak terkira, sebab isinya adalah laporan kehamilan dari rumah sakit mengenai jenis kelamin dan kesehatan jabang bayi yang tengah dikandung istri saya. Lagi-lagi isinya… Bahagia.

Tahun 2009 tiba, putri saya lahir sudah dan ia sudah bisa melihat kembang api dari jendela rumah. Wah betapa bahagianya saya. Walaupun ada kabar sedih bahwa tetangga saya mansup meminta doa untuk kesehatan mamanya. Kami lalu menyalakan lampion untuk keluarga mansup, berdoa agar mereka diberi yang terbaik di tahun 2009 lalu. Di saat yang sama, bersyukur bahwa ternyata kami sekeluarga masih diberi rejeki kesehatan. Di sisi lain, saya dan istri senang karena akhirnya punya momongan.

Pada intinya, dari tahun 2006 hingga 2009, saya sehat di tahun baru. Ajaib!

Di akhir tahun 2009, saya kebetulan tengah tinggal di tempat yang dingin dan banyak turun salju. Transportasi publik di sini mulai manakjubkan kalau salju sudah turun. Diantaranya adalah penumpang yang membludak di bandara sebab pesawat-pesawat delay semua. Jalan macet karena licin jadi semua mobil harus merayap pelan. Atau kereta yang berhenti bergerak sebab rel tertutup es.

Karena mau merayakan natal dan tahun baru di rumah mertua dan keluarga yang ada di kota perbatasan (anak istri saya sudah duluan ada di sana, mereka berangkat ketika cuaca membaik), maka tanggal 24 Desember saya pulang lebih dini dari pabrik tempat bekerja. Kalau kemalaman, takutnya kehabisan makanan. Hehe.

Akibat khawatir yang berlebihan, maksudnya khawatir tidak dapat transportasi ke rumah mertua. Serta memikirkan anak yang masih bayi main-main salju hanya dengan mamanya. Jadi sejak tanggal 23 Desember pola makan saya sudah tidak teratur. Banyak pikiran.

Gara-gara kebanyakan pikiran maka menghasilkan hal-hal yang tidak perlu lainnya.

Diantaranya adalah pola makan yang tidak baik plus status bujangan sementara. Dua hal tersebut katanya bukanlah kombinasi yang sehat. Saya kebanyakan makan, lupa olahraga, kurang istirahat dan akhirnya metabolisme memburuk.

Namun untunglah saya dapat transportasi menuju rumah mertua untuk bertemu anggota keluarga lainnya. Sehingga kami bisa merayakan natal bersama.

Namun tetap saja ada yang mengganjal.

Hingga akhirnya tanggal 24 Desember di malam natal setelah makan di rumah mertua, saya mengadu keluh kesah ini kepada istri, “Mah, masak aku belum boki-boki sejak tanggal 21 kemaren”

Istri saya cengar-cengir saja. Ajegile! Suaminya tengah berjuang susah payah dia malah cengar-cengir.

Omong-omong, nampaknya perlu saya terangkan sedikit apa itu Boki-boki.

Boki-boki adalah kalimat yang berasal dari kata ‘Boker’. Dalam bahasa slank Cilincing kampung saya, ‘Boker’ artinya; buang air besar. Saya sering menggunakan kalimat boki-boki ini kepada putri saya, Novi Kirana. Jadi kalau saya cium bau-bau ajaib di sekitar ruangan dan ketika itu ada putri saya tengah bermain, maka saya langsung bertanya “Novi, kamu boki-boki yaa?”
(*Biasanya Novi kabur kalau saya tanya begitu. Dan segera saya tangkap dan lalu mengganti popoknya, haha*)

Jadi, istri saya bukannya simpati, malah cengar-cengir ketika saya bilang bahwa saya sudah tiga hari belum bisa boki-boki.

Singkat cerita, hingga akhirnya tanggal 31 Desember hari kamis 2009 saya belum juga bisa buang air besar.

Buset dah. Di akhir tahun 2009, berat saya bertambah tujuh setengah kilogram. Saya susah jalan. Sakit perut. Sudah begitu, jarang bicara pula. Maklum, kalau mau omong entah kenapa bau mulut rasanya mengalahkan nafas naga di kala bangun tidur. Malu saya euy.

Mertua saya sudah curiga, kok yaa anak mantunya kalau ditawari makan dan minum selalu menolak halus dengan senyum. Iya terang saja, saya tidak mengaku sama mereka kalau saya sudah berapa hari ini tidak bisa boki-boki. Tidak mungkin dong saya bilang “Terimakasih tapi sori anus saya sedang ngambek”

Tapi untunglah mereka tidak banyak bertanya. Hanya kakak ipar saya yang berkomentar “Kamu sekarang gemukan yaa?”

Saya diam saja. Satu sisi saya ingin masalah ini terselesaikan. Di sisi lain saya memang memalukan dan berpikir yang tidak-tidak mengenai rumah sakit. Di bayangan saya kalau saya di bawa ke rumah sakit, dokter akan memasukkan alat semacam selang ke dalam anus saya untuk mengkorek-korek itu loh. Hiii… Ampuun deh.

Karena malu dan tidak ingin banyak bicara. Saya memilih menonton televisi untuk melewati malam pergantian tahun.

Di tivi ada tayangan yang saya sendiri tidak mengerti isi dan maknanya. Kelihatannya sih sedang acara humor. Tapi apa yang bisa membuat tertawa kalau sudah hampir sepuluh hari tidak bisa buang air besar?

Ketika sudah akan beranjak menuju ke kamar karena bosan dan sakit perut, saya lihat ada sebaris informasi di bawah tayangan humor tersebut. Isinya sebuah pertanyaan “Kenapa tahun 2009 begitu berbeda?” Bagi yang mau menjawab pertanyaan tersebut dipersilahkan mengirim SMS ke nomor tertentu dan akan ditayangkan saat itu juga secara langsung di televisi.

Saya penasaran. Apa kata orang-orang sedunia ini mengenai tahun 2009?

Tidak lama kemudian, sekitar dua atau tiga menitan, mulailah SMS-SMS dari publik terpampang di bawah layar tersebut.

Secara selintas, ini yang saya perhatikan terbaca;

– Karena saya jatuh dari main ski dan sekarang paralyzed
– Karena saya dipecat dari pekerjaan. Dua kali. Dan istri kabur.
– Karena kanker ini tidak bisa keluar dari tubuh saya
– Karena bapak saya dan putra saya meninggal ditabrak mobil tadi pagi

Makin lama saya baca SMS-SMS itu, saya makin tertegun.

Astaganaga! Benar rupanya syair lagu band dari Bandung, Bimbo. ‘Dunia ini penuh orang yang malang’. Ajegile. Ternyata bukan cuma saya yang sedang kesusahan.

Tidak lama kemudian, acara itu usai karena detik-detik pergantian tahun mulai berdetak.

Orang-orang menghitung mundur. Ada yang menyalakan kembang api. Ada yang meniup peluit tinggi. Semuanya berteriak riang bergembira ketika pukul 00.00 akhirnya tiba menandakan 2010.

Saya diam duduk di pojok. Dalam hati berdoa lirih, “Semoga tahun ini saya bisa boki-boki tanpa perlu ke rumah sakit”

Beberapa menit kemudian ketika orang-orang lagi-lagi sibuk berfoto-foto, saya ke dapur membuat teh pakai madu. Saya pikir, mungkin dengan meminum tiga gelas teh campur madu ini saya akhirnya bisa boki-boki.

Sayangnya ternyata tidak bisa juga. Haduh…

Jadi saya putuskan mandi pancuran air hangat di lantai atas.

Dan entah kenapa. Mungkin doa orang teraniaya diri sendiri mungkin didengar oleh Yang Maha Kuasa. Ketika sedang menikmati air hangat di kepala sambil berjongkok tiba-tiba ada benda besar dan keras meluncur dari knalpot saya.

Saking senangnya, saya ketawa terbahak-bahak bahagia. Hahaha… akhrnya saya bisa boki-boki juga.

Mungkin karena curiga saya diam saja selama berhari-hari dan tiba-tiba kini tertawa seperti orang gila sendirian di kamar mandi, rupa-rupanya mertua naik tangga mencari saya sambil berteriak memanggil-manggil bertanya ada apa.

Kali ini saya terkesiap menyebut nama Tuhan. Saya lupa menutup pintu kamar mandi.

This entry was posted in bangaip. Bookmark the permalink.

13 Responses to Boki-Boki

  1. Guh says:

    Lalu gimana kelanjutanya? Apakah beliau kaget, atau malah marah2 karena lihat Bangaip jongkok diatas WC duduk? Eh, disitu ada wc jongkok ga sih?

    –0–

    Hint: Di kamar mandi ada sebuah WC duduk dan bathtub. Saya tidak duduk di WC.

    (*Hihihi.. jijaayy kan*)

  2. itikkecil says:

    alhamdulillah kalau akhirnya bang aip bisa boki-boki….

    –0–

    Iya Mbak. Anugrah terindah di tahun 2010.

  3. Riki Pribadi says:

    Hahahaha, cie cie, yg boker. Baunya gimana Bang? Maknyus lah ya..hahaha…Sama Bang Aip, gue juga kalo tiap ganti tahun biasanya sakit, ya minus 7 plus 7 hari lah. Don’t know why??!!

    –0–

    Baunya? Biarlah itu jadi rahasia antara saya dan mertua. πŸ˜€

  4. manusiasuper says:

    speechless…

    1. karena tidak menyangka Bang Aip dan keluarga menyempatkan waktu medoakan bunda tahun lalu.. ternyata bunda saya banyak yang mendoakan…

    2. kehabisan nafas karena ketawa jingring membayangkan scene di toilet antara Bang Aip dan Mertua…

    3. karena membayangkan terlalu detail, malam ini saya tidak makan malam…

    –0–

    Hahaha, nomor tiga… maap…maap… Haha

  5. @mansup: define ketawa jingring. hihi.
    teuteup, bang. berkaaaaaaaahhhhhhh…

    –0–

    Hahaha, iya bener Mbak Pito
    Anyway, saya juga penasaran ama ketawa jingring
    :)

  6. Eru says:

    Nngebayangin scene
    air hangat diatas kepala sambil jongkok, trus keluar
    ng… >_<

    * ga kebayang gimana yang scene sama mertua itu *

    Hal kecil yang keyaknya sepele
    yang ternyata 'kenikmatan tersendiri' ya bang? πŸ˜€

    –0–

    Hehehe, jangan dibayangin. Nanti nggak bisa makan. Hihihi.
    Iya memang bener Eru. Hal ini kelihatannya sepele. Tapi yaah, kalau tidak bisa, membingungkan juga. :)

  7. edratna says:

    Hahaha….syukurlah nggak sampai masuk rumah sakit…teman saya masuk rumah sakit hanya karena nggak bisa begitu selama 10 hari…dan begitu di rawat, sehari kemudian bisa keluar…dan sehatlah dia…hahaha. Dia kalau ditanya sampai malu, sakit apa kok sampai dirawat di rumah sakit.

    Kita memang harus bersyukur atas kesehatan kita…sehat itu mahal.

    –0–

    Wah iya Bu. Kalau sampai rumah sakit, malu banget saya dah :)

  8. omnoba says:

    astaga bang^^ peristiwa berkesan ini bisa dikenang terus dink, siapa tahu bisa di sms ke acara tahun baru yang abang tonton. btw, congrats bang, happy new year.

    –0–

    Makasih Omnoba. Sama-sama euy.
    Ini memang berkesan. Minimal, laen kali kalo natal atau lebaran saya nggak makan banyak-banyak. Huehehe

  9. warm says:

    sampeyan ini lucu
    saya baru tau
    πŸ˜€

    –0–

    Hehe. Kelihatannya saya punya banyak wajah, Mas. Hehe

  10. Minum obat kurus-kurus, eh, obat urus-urus.
    Kalau saya, kalau tidak bisa boki-boki 3 hari, langsung saja minum susu. Langsung deh lancar. Atau makan dengan saus kecap yg banyak. Sejam-dua jam langsung lancar.

    *hihihi*

    –0–

    Saus kecap. Wah baru tahu saya. kecap apa, Mas Dewo?

  11. almascatie says:

    doh.. bahasanya bang aip emang ajip2 hihhihihi

    –0—

    Hueueue… Saya anggap ini pujian. Terimakasih Alma. Hihihi

  12. hack says:

    ternyata kamar mandi telah membuat jijay πŸ˜€

    –0–

    Hehe

  13. goop says:

    Jarang yang merayakan tahun baru dengan boki-boki hehehe…
    Syukurlah, Bang, tidak sampai seperti Auntie saya. Beliau mesti disedot karena tak boki-boki seminggu lamanya.

    –0–

    Wah serem juga cerita aunti-nya, Uncle

Leave a Reply