Durrahman Di Mata Teman Saya

Saya tidak kenal dekat dengan Gus Dur, apabila kenal dekat didefinisikan sebagai aksi pertemanan yang sering jumpa sua dengan kualitas obrolan yang menjurus ke arah curahan hati pribadi. Tidak. Saya tidak sedekat itu dengan almarhum.

Saya sendiri kenal Gus Dur dari sahabat saya, Cirul. Waktu itu kami sama-sama mengurus rumah singgah anak jalanan di Depok. Di kamar Cirul, yang lalu kemudian jadi kamar kedua saya (dan kamar anak-anak jalanan lainnya akibat seringnya kami mampir di sana); terpampang poster Gus Dur ukuran kertas A4. Di sampingnya ada poster dua kali lipat besarnya, wajah Hasyim Ashari dalam potret hitam putih di bawah tulisan huruf kapital tebal berhias simpul tali, ‘Nahdatul Ulama’.

Ketika melihat foto Gus Dur, waktu itu di otak saya cuma ada satu ingatan, “Oh ini yaah yang suka nulis bola dan nongkrong ama anak-anak IKJ itu”. Iya, saya memang mengenal Gus Dur bukan dari aktifitas beliau di salah satu ormas terbesar di RI, Nahdatul Ulama. Melainkan dari tulisan-tulisan beliau mengenai sepak bola dan kedekatannya dengan teman-teman saya di IKJ, Institut Kesenian Jakarta yang sering mangkal di Taman Ismail Marzuki.

Tapi kebetulan ada beberapa orang sahabat saya yang kelihatannya kenal dekat dengan beliau. Sebab beberapa kali sudah saya mendengar kalimat mereka mengenai Gus Dur.

Berikut ini adalah cerita teman-teman saya (seperti biasa, nama yang digunakan bukanlah nama sebenarnya) mengenai Gus Dur. Pekerjaan teman-teman saya ini amat beragam. Usia mereka juga tidak seragam. Satu-satunya kemiripan dari mereka adalah, semuanya mengaku kenal dekat dengan (almarhum) Gus Dur. Entah benar entah tidak, saya kurang paham. Yang pasti, saya pernah melihat dan mendengar mereka membicarakan Gus Dur. Secara langsung atau tidak langsung.

Saya rangkum dalam beberapa cerita di bawah ini. Begini ceritanya;

Satu: Si Pirang

Saya jalan bertiga. Bersama Yuda dan pacarnya, Ningsih. Kami baru saja sarapan di kost saya di Kukusan Kelurahan. Waktu itu ada kelas dimana saya dan Yuda harus masuk pagi-pagi, sekitar jam 0900 WIB. Kami naik bis kuning menuju sekolah.

Sekolah kami lumayan besar. Setidaknya buat saya yang kecil ini. Sebab kelas-kelas dibagi bersekat-sekat dalam gedung-gedung yang kadang di pisahkan oleh lorong, hutan maupun danau. Sebelum masuk kelas saya harus melewati kantin.

Ada anak kurus pakaiannya sederhana duduk di lantai di depan kantin. Senyam-senyum ke semua orang yang menatapnya. Ia pakai peci. Rambutnya pendek pirang.

Saya kira anak jalanan. “Yud, lo masih ada duit ga?”

Yuda: “Ada. Goceng lah kira-kira. Kenapa rip?” (*Goceng = lima ribu*)
Saya: “Kayaknya sih ada anak jalanan. Kasian men, sapa tau belum sarapan. Kasih makan aja dulu. Trus bilang suruh tunggu kita abis kelas pagi. Nanti kita ajak ke rumah singgah kalo kelas udah selesai. Kali aja dia bisa ketemu ama temen-temennya sesama anak jalanan”

Yuda melirik ke arah lengannya melihat jam. Memastikan bahwa masih ada waktu sebelum kelas dimulai. Lalu ketika kami mau beranjak menuju anak pirang tersebut Ningsih matanya melotot. Menghalangi.

Ningsih: “Lo gila yah bedua. Itu Inay!”
Yuda: “Inay siapa?”
Ningsih: “Inay adeknya Anit!”
Yuda: “Anit siapa?”
Ningsih: “Anit itu temen gua, anaknya presiden!”
Yuda: “Presiden siapa?”
Ningsih: “Presiden kita semuaa lah, begooo. Itu anaknya Gus Dur, presiden Republik Indonesia”

Saya bengong sejenak. Masih belum paham situasi. Maklum baru sarapan. Perut saya kekenyangan. Susah mikir.

Saya: “Kok kesian amat. Anaknya presiden jadi anak jalanan”
Ningsih: “Wah lu mah kacau, Rip. Yang bilang anak jalanan tuh siapa. Itu kan lu yang mulai. Dia itu bukan anak jalanan. Dia itu anak presiden. Nah lu liat kan dua orang cepak di dalem kantin. Itu pengawalnya, dul”

Saya lihat dalam kantin. Ningsih benar. Ada dua laki-laki berpakaian rapi duduk minum kopi. Matanya tidak lepas mengawasi si Pirang.

Yuda: “Kok anaknya presiden rambutnya belang”
Ningsih: “Mao belang kek. Mao ngepunk kek. Apa urusan lo?”
Yuda: “Harusnya dia kan ngasih contoh buat warga Indonesia”
Ningsih: “Contoh apaan? Emang dia harus nurut ama yang lu bilang? Bapaknya boleh deh nurut lo bilang apa. Bapaknya kan pembantu kita semua. Tapi dia kan bukan bapaknya”
Yuda: “Pasti bapaknya nggak bener. Presiden apaan tuh yang anaknya boleh rambutnya bule? Tidak mencerminkan jiwa bangsa”
Ningsih: “Jiwa bangsa dari hongkong! Sok tau lu ah. Apa hubungannya bangsa ama rambut? Lo kira bangsa endonesa didiriin ama tukang cukur!”
Yuda: “Lo cerewet banget sih. Ntar gua nggak anterin pulang luh!”
Ningsih: “Yeeh pake ngancem segala. Mentang-mentang laki-laki luh, sok ngancem-ngancem. Ntar gua ga kasih cipokan luh!”

Akhirnya dua sejoli itu malah diskusi campur ribut menjurus hal-hal lain yang ajaib, misalnya soal kado valentine.

Saya memilih menyingkir. Masuk kelas buru-buru. Dalam hati bersyukur bahwa anak jalanan di Depok tidak lagi bertambah satu.

(*Di kemudian hari saya sempat mendengar sepak terjang Inay, nama panggilan Inayah Wulandari Wahid, salah seorang putri almarhum Gus Dur, yang memiliki empati cukup besar dalam membantu beberapa anak jalanan di Depok yang tertimpa musibah. Salah satunya terdokumentasikan di di sini*)

Dua: Yahudi Pesanan

Pagi itu dengan berapi-api tetangga saya Toni mengajak saya ke Monas. Mau mendemo Gus Dur. Katanya Gus Dur ‘Nggak Becus jadi presiden’. Dia bilang, “Gus Dur itu agen yahudi!”. Waktu itu kalau tidak salah pertengahan tahun 2001.

Saya bengong. “Loh sejak kapan Gus Dur dagang Yahudi?”

(*Saya bloon banget deh waktu itu. Di otak saya, agen itu artinya tukang dagang. Agen koran, artinya orang yang setiap pagi mengirim koran ke lapak-lapak keliling kota. Agen minyak, artinya tukang minyak yang sering diantri warga untuk membeli dagangannya. Jadi yaah, di otak saya; agen itu sama saja dengan dagang. Agen Yahudi yaa dagangin yahudi. Haha*)

Dia bengong mendengar pertanyaan saya. Lalu menghardik, “Ahh luh banyak cing cong. Ayo kita ke istana. Turunkan Gus Dur!”

Saya menjawab santai, “Ada makan-makannya, nggak?”

Nampaknya Toni marah mendengar pertanyaan-pertanyaan saya (yang ia anggap bodoh dan kekanak-kanakan) dan lalu pergi dengan teman-temannya di atas truk terbuka menuju istana di depan Monas tempat Gus Dur bertahta.

Saya teriak dari kejauhan, “Pesen Yahudi, dua. Cabenya jangan kebanyakan. Jangan lupa pake ketimun!”

Entahlah ia pura-pura tidak mendengar atau memang tidak mendengar.

Sorenya ia pulang ke Cilincing. Sendirian. Teman-temannya entah kemana. Saya tanya, “Gimana tadi di istana? Mana pesenan gua, Ton?”

“Tau luh. Banyak tentara. Banyak banser. Panas. Capek… Lemes gua. Bodo amat lah Gus Dur mau turun apa enggak. Capek gua!”

Ia lalu ke dapur. Mengambil teh manis dingin lalu duduk berdua di beranda bersama saya. Kami melewati malam itu dengan tidak banyak bicara.

Besok-besoknya ia tidak pernah bicara lagi mengenai Gus Dur.

Padahal saya penasaran dengan pesanan saya yang tidak pernah disampaikannya. Gado-gado lontong Yahudi tidak pedas.

Tiga: Penerima Peluru

Isya itu kami duduk di warung tegal yang terletak di samping Karang Taruna Cilincing. Tidak ada yang taraweh. Semuanya kabur dari musolah. Maklum, sudah mau lebaran.

Odoy pesan es susu soda. Uki makan pecel. Aris sibuk merokok. Oka masih lihat-lihat apa yang mau di makan. Saya? Saya sibuk tanya pada Uki dan Odoy apakah mereka mau traktir saya makan. Hehe.

Uki: “Lu ngerecokin gua makan aja, men. Sono minta traktir sama Odoy”
Saya: “Wah lu, men. Apakah tega melihat orang sekitar lo kelaparan sementara lo hidup bermewah-mewahan?”
Uki: “Nggak mempan, Rip. Makan pecel apanya yang mewah. Lu pikir tentara kaya! Udah sono, tanya ama Odoy”
Odoy: *Diam saja. Pura-pura tidak dengar. Pura-pura dapat SMS dari cewek. Odoy kalau sudah dapat SMS dari gadis-gadis suka lupa daratan lupa lautan*

Saya melengos ke arah Oka, “Lu kan baru dapet THR dari Bu Mega, Ka. Bagi-bagi dong?”

Oka senyum, “Pesen aja men. Alhamdulilah nih rejeki. Tadi Gus Dur baru datang ke Jakarta. Lumayan lah, dibagi THR ama doi”

Saya garuk-garuk kepala, “Gus Dur? Lah kan doi udah nggak jadi bos lu lagi?”

“Ada urusan negara tadi siang. Jadi Gus Dur harus dikawal. Kebetulan gua duduk di sampingnya di jok belakang. Tadi pas kita kena macet di UKI Gus Dur ngomong begini, ‘Jakarta sekarang macet yaa’. Terus gua kelepasan omong men. Gua bilang, ‘Yaelah Gus, sekarang kan Gus Dur udah nggak jadi presiden lagi jadi nggak ada tuh yang namanya pengawalan jalan’. Wah sumpah men, gua kelepasan omong. Senior gua yang bareng-bareng di belakang aja ampe kaget gua ngomong begitu”

Tiba-tiba Uki berhenti menyendok pecel ke arah mulutnya. Aris membuka mulut mengeluarkan asap-asap menganga. Odoy berhenti olahraga jempol menulis SMS. Semuanya kaget mendengar cerita Oka. Pengawalan Jalan adalah istilah untuk patroli yang bertugas mengamankan dan melancarkan rombongan istana lewat jalan-jalan protokol. Tidak boleh sembarangan bicara. Baik kepada penghuni istana maupun pada tamu-tamunya.

Saya terpana, “Gila luh men! Serius Gus Dur lu gituin?”

Oka cengar-cengir, “Demi owloh men. Gua kelepasan omong. Padahal dulu waktu gua dines jaga doi, nggak pernah gua kelepasan sampe begitu”

“Trus lu diapain ama Gus Dur? Wah kalo ama Pak Harto jidat lo bisa di injek di tempat men”, tanya Uki.

“Gus Dur diem aja. Trus pas turun, gua dikasih gocap dua lembar men. Nggak tau kenapa?”, kata Oka seraya buka dompet memperlihat dua lembar uang kertas lima puluh ribu rupiah.

Tidak lama kemudian, kami semua gembira makan pecel lele traktiran Oka. Kami menyebutnya Pecel Lele rasa Gus Dur.

(*Oka bekerja sebagai manusia yang bertugas mengamankan bosnya, orang momor satu di RI. Kami memanggil Oka dan rekan-rekannya, ‘penerima peluru’, sebab apabila terjadi mereka lebih memilih mengumpankan tubuhnya untuk peluru yang dialamatkan ke bosnya*)

Empat: ‘Durrahman’

Pur marah-marah masuk ke dalam kamar saya. Kata Pur, “Haji Muslan bagaimana itu yah. Masak dia bilang Durahman-durahman saja. Ndak ada hormatnya sama Gus Dur”

Purnomo ini sahabat saya. Tinggalnya di kamar samping. Pas sebelah kamar kontrakan saya. Kebetulan sore itu dia sedang membicarakan Haji Muslan, imam masjid yang berdiri dekat lokasi rumah kami. Yang ia angap tidak sopan, karena memanggil KH Abdurrahman Wahid, ketua NU sekaligus mantan presiden RI itu dengan ‘Durahman’ saja.

Saya pikir, karena namanya Abdurrahman bukankah boleh dipanggil ‘Durahman’? Nah pola pikir inilah yang ditolak si Pur. Sebab menurut Pur, panggilan ‘Gus’ itu panggilan kehormatan sebagai anak pemilik sekolah. Tepatnya sekolah pesantrian, tempat mendidik santri (*yang lalu sering disebut sebagai pesantren*). Bukankah Haji Muslan itu dulu sempat sekolah di pesantrennya KH Hasyim Ashari, ayahnya Gus Dur. Sudah sepantasnya Haji Muslan memanggil beliau sebagai Gus Dur. Begitulah menurut logika Purnomo. Mantan ketua Banser salah satu daerah tapal kuda di Pulau Jawa.

Saya mah cengar-cengir saja. Mana tahu saya anak pemilik pesantren harus dipanggil dengan segala macam begitu segala. Haha.

Tapi daripada urusannya tambah panjang saya ajak Purnomo ke rumah Haji Muslan setelah magrib. Kami berdua menuju rumahnya yang tidak jauh dari masjid.

Saya cukup respek dengan Haji Muslan. Beliau ini salah satu penengah ketika konflik antara saya dan teman-teman dengan salah satu ormas kontemporer berbasis agama yang cukup dikenal radikal semakin meruncing dan menjurus ke arah konflik fisik. Bahkan hingga melibatkan aparat pemerintahan segala.

Maka sebagai tanda hormat, terus terang saya tanya tanpa basa-basi, “Pak Haji, saya dan Purnomo mau tanya nih sama Pak Haji. Apa hubungan Pak Haji dengan Gus Dur?”

Haji Muslan senyum, bertanya “Kenapa?”

“Mau tau ajah” kata saya sambil cengar-cengir.

Sambil di jamu teh dan cemilan ringan, mulailah Haji Muslan cerita.

“Dulu waktu di Baghdad, saya ini hobi motret, Rif. Apa saja saya potret. Guru-guru saya marah betul melihat kelakuan saya. Saya pakai kopiah, mereka tidak suka. Aneh, saya kan orang Indonesia. Boleh dong pakai peci untuk melindungi kepala saya. Matahari Irak itu panas loh”

“Loh kok bisa bisa dimarahin gara-gara motret, Pak Haji?”

“Yaah begitu deh memang orang Irak. Mereka pikir kalau saya memotret atau melukis manusia atau hewan atau apalah namanya, sama saja haram. Lah aneh kan. Baghdad itu ratusan tahun lalu jaman Harun Al-Rasyid terkenal karena kesenian, dunia medis bahkan mereka sudah produksi surat kabar sendiri buat sang khalifah. Kalo tidak ada gambar makhluk hidup, bagaimana para seniman, dokter bisa belajar? Lah terus bagaimana si khalifah tahu kondisi rakyatnya kalau tidak dari gambar? Aneh kan orang Baghdad, pikirannya jadi lebih mundur seribu tahun lebih”

“Trus Pak Haji masih pake peci? Masih motret?”

“Hehehe. Kalo kopiah sih saya pakai saja terus. Tapi kalo foto-foto, nah si Durrahman itu punya ide”

Saya dan Pur maju duduknya. Kami tertarik mendengar lanjutan cerita beliau.

“Durrahman bilang, ‘Lan, Arab kok kamu dengerin, bisa panjang jenggot kamu nanti’. Saya jawab, ‘kalau tidak didengarkan yaa tidak lulus nanti sekolahnya’. Aneh juga si Durrahman itu”

Saya dan Pur tertawa-tawa, “Trus Pak?”

“Durrahman bilang, kalau mau lulus dari Arab harus tau muslihatnya. Caranya, foto itu semua guru-guru Arabmu. Jangan bilang-bilang kalau mereka mau di foto. Ambil diam-diam. Cetak besar-besar. Kalau sudah dicetak tempelkan di pagar sekolah. Sekalian pameran ke semua teman-teman”

Saya membelalakkan mata, “Trus bapak ikutin?”

Pak Haji Muslan tersenyum bangga, “Lah iya dong. Sukses itu pameran. Guru-guru saya bangga semua. Fotonya mereka ganteng-ganteng. Malah ada yang pesan tiga foto sekaligus bersama keluarganya”

“Trus si Durrahman gimana, Pak?” Saya lihat kening Pur mengerenyit ketika saya ikut-ikutan menyebut ‘Durrahman’. Hehe, saya cuek saja.

“Jaman itu dia memang paling pintar. Nilai sekolahnya mah biasa-biasa saja. Tapi akal itu loh. Banyak betul. Mana pernah saya lihat si Durrahman belajar. Kerjaan yang dia suka yaa plesiran keliling Baghdad. Tapi kok yaa lulus terus. Begitu lulus saya pulang ke Surabaya. E-eh dia malah sampai ke Leiden segala. Dia bilang kalau lulus mau plesiran di Eropa”

Tidak lama kemudian saya dan Pur pamit pulang.

Di jalan sambil bersungut-sungut Purnomo bilang, “Oke… Oke… Pak Muslan boleh panggil Durrahman sebab kan bapa’e Pak Muslan juga punya pesantren. Kamu ndak boleh panggil-panggil ‘Durrahman-durrahman’ saja. Bapak kamu kan ndak punya pesantren”

Sambil cengar-cengir mendengar logikanya yang ajaib saya jawab sekenanya, “Tapi ibu saya kan punya, Pur”

Purnomo tidak menjawab. Mulutnya tambah merucut. Semakin bersungut-sungut.

Lima: Gila itu orang-orang Jawa

Sebuah sore yang hujan. Saya berdua dengan Amar. Saya Minum teh. Amar makan mie rebus. Kami menikmati hujan di beranda kantor. Beberapa minggu lalu tsunami meluluhlantakkan Aceh, kampung halaman Amar. Sembilan orang keluarganya hilang. Hingga saat ini tidak ada kabar rimbanya.

Amar tengah berduka.

Kami berbagi cerita. Saling menghibur. Mengenai keluarga dan teman-teman saya di Cilincing dan ia bercerita kenapa ia ada di depan saya saat ini di Brussel.

Saya: “Kenapa kamu masih di sini?”
Amar: “Pulang dari konfrensi antara RI dengan GAM di Tokyo aku langsung ke sini. Aku sudah nggak bisa pulang lagi ke Indonesia”
Saya (*sambil cengar-cengir*) : “Kamu ngomong apa di Tokyo?”
Amar: “Aku bilang saja jujur kalau tentara kalian TNI itu pantek. E-eh pa’i-pa’i di konfrensi marah-marah sama aku” (*Pantek = bokong. Pa’i adalah istilah yang digunakan rakyat kampung Amar terhadap tentara dari Indonesia. Amar ini salah satu perwakilan rakyat Aceh yang bukan dari Gerakan Aceh Merdeka*)
Saya: “Loh kan ada Gus Dur di sana kalau tidak salah”
Amar: “Iya ada. Tapi kampret itu presiden kau. Pemerintah Jepang mana sudi menerima pelarian politik dari Indonesia. Aku langsung mereka urus untuk di kirim ke sini. Hari terakhir waktu konfrensi aku tanya-tanya sama presiden kau itu, ‘Gus… Gus, aku takut pulang ke Indonesia. Gus, Kau bisa bantu aku pulang ke Indonesia?’. Trus kau tau Gus Dur bilang apa sama aku?!”
Saya: “Apaan?”
Amar: “Dia bilang, ‘Amar, kamu takut sama TNI? Jangankan kamu, saya juga takut’ sambil tertawa-tawa. Gila kan itu presiden kau!”

Saya tertawa terbahak-bahak mendengarnya. Hampir jatuh dari kursi.

Amar tidak tertawa. Saya cuek saja. Saya tertawa terus.

Amar: “Sudah berapa tahun ini Rip aku tidak ketemu pacarku di Aceh. Dia syukurlah selamat. Rindu aku”
Saya (yang kali ini berhasil mengusai untuk tidak tertawa terus menerus: “Panggil aja ke sini. Atau kamu pulang ke sana. Ke Aceh”
Amar: “Aku datang ke sini pakai paspor pencari suaka. Negara yang tak boleh kusinggahi yaa Indonesia”
Saya: “Sekarang kan Mega yang jadi presiden. Kali aja lebih bagus daripada Gus Dur”
Amar: “Ahh sama saja lah presiden kau. Tukang dagang semua”

Saya bengong. Apa maksudnya si Amar ini?

Amar: “Kalau aku minta sama Mega, pasti dia kasih nanti pelintir-pelintir buat kampanyenya nanti di Aceh. Sama saja seperti Gus Dur”

Saya kembali tertawa. Entah kenapa, kalau mendengar nama Gus Dur itu erat dengan cerita-cerita ajaib.

Saya: “Emang Gus Dur kenapa lagi”
Amar: “Kau tahu, waktu Aceh panas aku dan teman-teman datang lah ke Ciganjur. Ke rumahnya. Coba kau bayangkan, kita semua harus masuk lewat pintu belakang”
Saya: “Pintu belakang?”
Amar: “Iya, sebab di depan banyak sekali wartawan. Gus Dur itu cerdik kali untuk jual nama kita. Kita orang Aceh harus lebih pintar agar tidak dijual Gus Dur”

Amar menghabiskan kuah terakhir mie rebusnya. Kembali saya senyum-senyum lagi. Entah kenapa, tiba-tiba teringat cerita-cerita Abunawas dan di saat yang sama juga teringat karakter film kartun Looney Tones: Wile E. Coyote dan Road Runner. Sekilas ada benang merah antara cerita-cerita tersebut dengan kisah orang-orang Aceh, media dan jabatan sebagai orang nomor satu di RI.

Amar: “Untunglah kita tidak kena foto wartawan. Waktu aku di dalam, kami di dapur. Aku lihat si Yeni sedang bantu mamaknya membuat nasi goreng. Lalu aku lihat santri-santri NU datang. Mereka juga dari pintu belakang. Kelihatannya itu pintu cukup terkenal. Mereka begitu datang langsung cium tangan Gus Dur. Minta doa selamat. Istilah mereka, barokah. Gila itu orang-orang Jawa. Minta barkah ke manusia”

Saya ketawa-tawa lagi. Cara dia bilang ‘Gila itu orang-orang Jawa’ entah kenapa membuat saya terpingkal-pingkal.

Saya: “Trus kamu diam saja?”
Amar: “Yaa tidak lah. Aku bilang sama Gus Dur ‘Gus… Kau percaya kau bisa kasih itu barkah?’ Terus kau tahu Gus Dur jawab apa?”
Saya: “Ya nggak lah. Emang saya ada di situ! Buset dah. Gus Dur bilang apa?”
Amar: “Gus Dur bilang ‘Kan mereka percaya… Biar saja’ sambil tertawa-tawa”

Kali ini Amar yang terpingkal-pingkal. Dan saya terbengong-bengong mendengarnya.

//*Selamat jalan Pak Durrahman*//

This entry was posted in bangaip, Orang Indonesia, Republik Indonesia, sehari-hari and tagged , , , , , , . Bookmark the permalink.

5 Responses to Durrahman Di Mata Teman Saya

  1. itikkecil says:

    selamat jalan pak durrahman…
    salah satu dari sekian pemimpin bangsa yang terkadang tidak dimengerti orang karena pemikirannya yang jauh melebihi jamannya….

    –0–

    Terimakasih, Mbak

  2. emang aneh Pak Durrahman itu. penasaran banget dengan nama Kiai Motret itu. boleh dikirim namanya via japri, Kang?

    ini cerita tentang penampilan Gus Dur di TIM, di seberangnya warung Alex. ketika itu, Si Endang masih suka keliaran (semoga Allah mengampuni dosa-dosa Endang. Amin)

    http://blontankpoer.com/gus-dur-guru-bahasa/

    –0–

    Beliau meminta agar namanya tidak dipublikasikan Mas Poer. Tapi nanti coba saya tanya, apakah boleh kalau lewat japri :)

  3. omnoba says:

    benar-benar menarik bang. terima kasih sudah membagikan cerita ini. saya jadi senyum2 sendiri pas baca berita ini pagi2 hehehe

    –0–

    Terimakasih :)

  4. hedi says:

    cerita yg penuh kembang 😀

    –0–

    Kalau diibaratkan pohon berbunga. Syukurlah akarnya kuat :)

  5. dodo says:

    durrahman, tetangga saya tuh bang. biasa jualan pentol kliling kampung. *yang jelas bukan yang dibahas di sini*

    -nunggu lanjutan 7kc-

    –0–

    Pengumuman 7KC akan segera tiba, Mas. Tunggu saja tanggal mainnya :)

Leave a Reply