Hijau Mata Duitan

Beberapa pagi lalu saya terburu-buru. Lupa sarapan. Sadar bahwa sarapan penting, maka ke toko terdekat mencari alternatif. Kebetulan ketemu jeruk dan jus buah botol 250 ml. Lumayan untuk ganjal perut.

Sambil minum jus, mata saya iseng melihat-lihat botol kemasan. Sekedar membaca apa isi yang ada di sana. Dari iseng, muncul beberapa pertanyaan setelah melihat bahwa di belakang kemasan label botol tersebut. Sebab terpampang tulisan bahwa ada tulisan ‘green label’ di belakang botol. Padahal yang nyata-nyata itu botol terbuat dari plastik. Bahkan labelnya juga dari plastik.

Saya kaget. Apanya yang hijau dari botol plastik?

Sumpah mati saya penasaran mencari jawabannya. Botol nekat itu benar-benar mengganggu kenyamanan pola kerja otak ini. Tidak lama kemudian mulailah saya mencari jawabannya.

Karena ini menyangkut botol tersebut. Langkah yang saya lakukan adalah:

  1. Mencari siapa yang memproduksi. Setelah dapat nomor telpon nama pabrik belakang label di buku kuning telepon, saya telpon untuk bertanya siapakah yang memproduksi botol jus buah yang baru saja saya minum. Mereka bilang, mereka sendiri yang memproduksi
  2. Bertanya pada orang yang tepat. Setelah menelepon bagian produksi botol yang katanya tidak tahu apa-apa, sebab label itu ada di bawah bagian departemen disain grafis dan saya pun terlempar ke bagian disain grafis. Di departemen ini disainernya nampak bersembunyi di balik bahasa Inggris terpatah-patah. Daripada susah komunikasi, saya ajak pakai bahasa lokal setempat, bahasa dia sejak lahir. Dan sialnya, masih susah di ajak komunikasi. Kali ini bukan gara-gara bahasa, melainkan dia mengelak memberi jawaban dan melemparkan ini ke bagian marketing. Katanya, “Mereka yang minta saya mendisain ini. Konten disain itu bukan tanggung jawab kami”. Hebatnya, setelah dari departemen marketing, telepon saya malah dilempat ke bagian Hubungan Masyarakat perusahaan yang berada di Lyon, Perancis. Dari mereka saya dapat jawaban bahwa botol itu hijau bukan karena plastik mudah didaur ulang (ini pun saya dapat setelah saya debat dengan sumber-sumber yang saya siapkan sebelum menelepon mereka. Saya sudah menebak bahwa awalnya mereka akan pakai alasan itu). Mereka mengaku bahwa mereka ‘Hijau’ karena sudah menyumbang untuk organisasi lingkungan hidup.
  3. Verifikasi. Menurut organisasi lingkungan hidup, si pabrik pembuat botol memang memberikan sejumlah euro pada mereka, yang bisa di cek di laporang pertanggungjawaban keuangan website organisasi tersebut. Tapi bukan berarti bahwa mereka bisa lepas tanggung jawab memberikan data palsu pada konsumen

Ini fakta yang menarik. Minimal buat saya. Logika subyektif yang bisa saya tangkap dari cerita diatas adalah; ketika anda bersedekah maka itu akan menghapuskan dosa-dosa tolol anda ketika sedang memperkosa hak-hak orang lain.

Tapi oke lah. Mari tidak usah bicara tentang dosa atau perkosaan. Dua kalimat itu lebih baik anda temui di tulisan lain. Seperti di kitab suci misalnya. Hehe.

Mari kita bicara lainnya. Misalnya tentang penipuan atas nama ‘Hijau’

Pertanyaan utama yang paling penting adalah; Mengapa?

Tahun 1986, seorang warga New York yang juga ahli lingkungan bernama Jay Westerveld melontarkan jargon ‘greenwashing’. Asal kalimat tersebut adalah green dan white washing dalam bahasa Inggris. Kalimat ini digunakan sebagai terminologi dalam menjelaskan langkah pemasaran sebuah perusahaan yang pura-pura menggunakan produksi ramah lingkungan padahal sebenarnya tidak.

Banyak perusahaan-perusahaan menggunakan teknik marketing hijau greenwashing ini untuk memperoleh laba lebih banyak. Atau bahkan sekedar untuk memperlihatkan mereka ramah lingkungan. Atau peduli dengan pemanasan global.

Contoh ajaib adalah perusahaan minyak Chevron. Di tahun 1980-an mereka membuat kampanye menggembar-gemborkan bahwa mereka ramah lingkungan dan konsumen mereka adalah orang-orang yang peduli lingkungan. Ternyata sialnya ini adalah marketing gimmick. Trik pemasaran agar produknya lebih laku.

Yang paling gila katanya adalah BP plc (dulunya British Petroleum plc), sebuah perusahaan enerji yang bergerak utama di bidang minyak (*aah lagi-lagi minyak*). Tahun 2000, BP ini mengeluarkan uang sebesar 200 juta dollar. Semuanya hanya untuk melakukan penggantian branding. Misalnya mengganti logo menjadi berwarna hijau dan mencerminkan daun dan matahari. Agar lebih terlihat ‘membumi’. Padahal tetap saja kenyataannya BP ini adalah salah satu perusahaan penyedot minyak, sumber daya bumi non daur-ulang terbesar.

Pertanyaan kedua yang tidak kalah pentingnya; Kok bisa laku?

Ini penting. Sebab tidak ada yang mao dagang kalau tidak laku.

Teori marketing orang betawi menyatakan, ‘Lu jual gua beli!’. Whahaha, walaupun hubungannya tidak signifikan tapi ini membuktikan satu hal pokok. Bahwa selalu ada pasar untuk apa saja.

Klasifikasi keperluan konsumen itu luas, bahkan pada yang paling spesifik sekalipun.

Maka misalnya, ketika ada pedagang bensin yang memperlihatkan bahwa mereka ‘ramah lingkungan’, konsumen pun merasa punya lebih dari satu keuntungan; ditunaikan kebutuhannya serta terpuaskan egonya sebab mereka merasa telah berbuat sesuatu untuk planet bumi ini.

Memenuhi kebutuhan konsumen itu penting. Namun dibutuhkan lebih daripada itu untuk dapat menjaring loyalitas pelanggan. Salah satunya yaa melalui pemenuhan ego konsumen :) Pemasar yang baik bukan hanya yang mampu menjual, melainkan adalah yang juga mampu membuat pembelinya kembali datang dan bahkan mentransformasi pelanggan menjadi agen pemasarannya, baik langsung maupun tidak langsung.

Masa ini, menjadi ‘hijau’ adalah seksi. Contoh; banyak orang kaya di muka bumi ini yang mampu beli mobil mewah sebagai tunggangan pribadi maupun sarana pemuasan eksebisi diri. Tapi diantara orang-orang kaya itu, yang memiliki mobil mewah ramah lingkungan akan terlihat beda. Menjadi unik adalah salah satu target yang dibidik para pemasar (atau yang mengaku). ‘Menjadi Hijau’ saat ini unik. Di saat manusia lain berlomba-lomba menghabiskan isi bumi, ada manusia yang masih mencoba menyelamatkannya. Dan manusia-manusia penyelamat itu, apa boleh buat, mereka toh konsumen juga.

greenwash laku. Sebab banyak pemasar yang matanya hijau mata duitan melihat segmentasi pasar ini. Sebab banyak konsumen yang mencoba ‘hidup tanpa dosa’ dengan ‘menyelamatkan bumi’ tanpa melihat apakah benar produk yang mereka konsumsi menyelamatkan bumi atau tidak.

Tapi itu kan di luar Indonesia. Kita mah di Indonesia tidak akan kena greenwashing.

Proyek greenwashing ada di mana-mana. Bahkan juga di negeri tercinta.

Contoh pertama: Piala Dunia di Indonesia

Yang pertama yang paling terkenal (sekaligus paling ajaib) mungkin ketika bos PSSI, Nurdin Halid memberikan proposal pada FIFA, badan sepakbola dunia, agar Indonesia bisa masuk sebagai penyelenggara Piala Dunia 2022.

Walaupun luar biasa ajaib sebab ternyata Indonesia memiliki banyak masalah di sepakbola dalam negerinya (yang bisa anda baca di ulasan Mas Hedi ini). Namun tidak kalah ajaibnya adalah alasan bapak Nurdin Halid dalam proposal tersebut. Sebab Pak Nurdin berkata “Laju penggundulan hutan kami telah menyumbang banyak polusi dunia. Dengan menjadi tuan rumah Piala Dunia, kami ingin membangun infrastruktur dan fasilitas yang ramah lingkungan sehingga kita dapat memberikan lebih banyak ke planet bumi ini”

Luar biasa bukan alasannya. Sayang sekali belum disetujui. Entah kenapa alasannya. Namun kalau kira-kira dibuat percakapan nyeleneh, mungkin begini:

Nurdin: “Jangan ditolak ditolak! Coba bayangkan, dengan sepakbola kita bisa menyelamatkan bumi! Kita bisa melawan rasisme dengan sepakbola? Kenapa tidak sekalian menyelamatkan bumi?”
FIFA: “Kamu dulu sekolah makan apa sih? Bikin proposal nggak jelas gini. Bahasanya muter-muter banyak basa-basi. Kamu sudah siap belum?”
Nurdin (dengan semangat): “Sudah!”
FIFA: “Punya website?”
Nurdin (mikir-mikir): “Errhh… Errhh… Kalo fesbuk sih ada. Kami kan jamaah al-fesbukiyah. Eh ada deng. Tapi belom resmi. Masih dibikin ama suporter”
FIFA: “Punya logo?”
Nurdin (garuk-garuk kepala): “Errhh… Errhh… Kalo itu mah gampang. Coming sooon…”
FIFA: “Punya sarana pendukung”
Nurdin (celingak-celinguk kebingungan): “Errhh… Errhh… Yaa itu tadi.. Fesbuk…”
FIFA: “Kamu ngerti ga sih sarana pendukung?”
Nurdin (emosi jiwa): “Kamu gimana siih! Pendukung yaa itu tadi!! Fesbuk!!!”

Untung saja FIFA belum bilang “Menyelamatkan Planet bumi? Coba urus Bonek dulu noh! Ngurus satu suporter klub begitu aja nggak becus apalagi mao ngurus orang sedunia? Baru bisa fesbukan ajah udah belagu luh”

(*Haha, jangan diambil hati Bos Nurdin. Itu diatas hanya percakapan imajinatif nyeleneh yang berangkat dari proposal nan ajaib*)

Contoh kedua: THE ROYALE SPRINGHILL RESIDENCES

Tertarik dengan proyek marketing greenwash di Indonesia. Mata saya tertumbuk pada blog ArchitectureUrban. Di sana dijelaskan mengenai pengembang hunian yang melakukan praktek bogus, pura-pura ‘hijau’ dalam menjual produk mereka.

Kali ini, justru tulisan itu yang saya verifikasi.

Berdasarkan riset kecil-kecilan; THE ROYALE SPRINGHILL RESIDENCES adalah perumahan yang terletak mengakunya terletak di Jakarta. Tepatnya menurut kutipan dari mereka “in the midst of Jakarta; where enjoying the breeze and smelling the flower’s scent in the air are an everyday happenings.

Canggih sekali lokasinya. Di Jakarta. Di mana bisa menikmati kesegaran dan harumnya wangi bunga. Buset! Masih adakah area berhektar-hektar penuh kesegaran dan wangi bunga di Jakarta selain di kebun binatang Ragunan pagi hari?
(*Di Ragunan Zoo pun anda akan dapat bonus, selain wangi bunga, juga wangi binatang sana. :) *)

Lebih hebatnya lagi dari perumahan ini, mereka mengklaim sebagai satu-satunya apartemen yang mengusung green Label Certification. Ini screenshotnya:

link menuju TKP

Saya penasaran. Apa itu Green Label Certification?

Menurut Departemen Hortikultura Belanda, Green Label Certification adalah “A green Label certification system enabling the grower and the greenhouse constructor to verify if a planned investment in a greenhouse system meets green Label Investment rules i.e. the system has better energy performance than is required according to normal standards.

Saya curiga. Bukan gara-gara itu dari Belanda dan datangnya dari Departemen Hortikultura pula yang tidak ada hubungannya dengan tata bangunan. Bukan. Bukan itu.

Saya curiga ini greenwash marketing sebab marketing ini masuk dalam klasifikasi enam dosa greenwash marketing. Adapun ‘dosa’ tersebut adalah:

  1. Sin of the Hidden Trade-Off: Terjemahan asalnya kira-kira “Menyamarkan konten”. Contoh, menempelkan label “recycle” botol pembungkus cairan kimia pembersih lantai. Iya benar, botolnya mungkin bisa di daur ulang. Namun apakah cairan kimianya bisa? Tentu saja tidak.
  2. Sin of No Proof: Terjemahan asalnya kira-kira, “Tanpa Bukti Jelas”. Contohnya adalah; Beberapa lampu menempelkan label ‘ramah lingkungan’ pada label mereka. Bahkan di cetak di bola lampunya. Tapi apa buktinya? Siapa yang bilang lampu itu ramah lingkungan, bapak moyang yang punya pabrik lampu? Yaelah… Kalau iya ramah lingkungan, buktikan dong!
  3. Sin of Irrelevance: Terjemahan asalnya kira-kira “Tidak Nyambung”. Contohnya: Beberapa produk pelumas kondom, pembersih jendela, sampai jel cukur menggunakan label CFC-free. maksudnya biar konsumen melihat bahwa produk mereka tidak menambah bahaya karbon buat bumi ini. Padahal CFC sudah tidak berlaku lagi sejak 20 tahun lalu. Artinya, ‘bebas CFC’ itu basi dan sama sekali tidak ada hubungannya dengan penyelamatan bumi.
  4. Sin of Lesser of Two Evils: Ini kira-kira artinya “Jahatan dia daripada saya”. contoh: Ada perusahaan rokok yang mengklaim bahwa rokok mereka menggunakan bahan organik, jadi mereka menyelamatkan bumi. Aneh. Sebab filter rokok itu adalah salah satu bahan yang susah di daur ulang. Sementara ada pula perusahaan insektisida dan herbisida yang mengklaim bahwa produk mereka ramah lingkungan. Ini lebih aneh lagi. Apa yang ramah dari insektisida dan herbisida? Contoh di persawahan jalur Pantura, Jawa, telah mengajarkan pada kita apa yang mereka perbuat pada padi IR-5 dan sosial ekonomi masyarakat sana. Pestisida itu racun buat bumi.
  5. Sin of Vagueness: Terjemahan ngawur saya kira-kira adalah “Remang-remang”. Contoh banyak sekali produk yang menempelkan kalimat “Hijau”, “Ramah Lingkungan”, “Natural”, “Bebas Bahan Kimia” atau apalah sebut saja kalimatnya. Tapi apa sebenarnya arti kalimat itu? “Bebas bahan kimia” itu aneh, air yang dapat kita minum saja masih mengandung bahan kimia. “Natural” malah lebih aneh, arsenik, merkuri, formaldehida itu natural. Tapi itu racun buat bumi dalam jumlah tertentu dan kalau ditempatkan dalam wadah yang tidak semestinya.
  6. Sin of Fibbing: Kalau saya terjemahkan dengan asal, kira-kira adalah “Boong luh yee”. Contohnya: Shampo yang ada tulisannya “Bersertifikat Organik”. Organik dari mana? Dari Hongkong! Sudah jelas itu berasal dari bahan kimia, masih saja ngotot bilang organis. Atau botol plastik yang bilang “100% Daur Ulang”. Daur ulang apaan? Buat bikin helikopter? Ngarang aja deh bisanya tuh pabrik!

Untuk kejelasan mengenai THE ROYALE SPRINGHILL RESIDENCES, anda bisa membaca lebih lanjut di blog ArchitectureUrban di sana. Blog tersebut lebih detil menjelaskan lebih detil mengapa pengembang hunian itu berlaku ajaib dan mengklaim ‘hijau’ (terutama baca deh jawaban dari pihak pengembang. Mulai dari argumentasi ad-hominem hingga red herring diumbar semuanya oleh mereka. Hehe).

Yah tapi… Sekian dulu deh ocehan saya kali ini. Saran saya buat sahabat-sahabat sesama konsumen, jangan ketipu deh. Hati-hati kalau belanja. Sedangkan saran buat sesama pemasar, “Ati-ati kalo dagang. Lu jual, gua beli”. Hahaha

Hari sudah sore ketika saya selesai konfirmasi kiri-kanan di sela-sela menumpuknya pekerjaan. atasan saya, Pak Ali masuk ke ruangan saya. Bertanya, “Hari ini kamu iseng ngapain saja?”.

Saya jawab lah segala macam greenwash ini dan tetek bengek yang menyertainya dengan semangat 45.

Ia cengar-cengir dan berkata, “Lain kali, jangan lupa sarapan”.

This entry was posted in cerita_kerja, Republik Indonesia, sehari-hari and tagged , , , . Bookmark the permalink.

18 Responses to Hijau Mata Duitan

  1. dodo says:

    wah, postingan yang bikin marah nih..!!
    *ngerasa diboongin*
    -as a consumment-

    –0–

    untuk kasus ini, marah itu anugrah :)

  2. sufehmi says:

    Posting Investigatif yang sangat menarik bang ! 😀 “dosa greenwash marketing” – menarik ! Nanti begitu demam hijau melanda Indonesia, dan berbagai perusahaan segera merespons dengan “greenwash marketing”, maka kita sudah siap untuk menunjukkan belang-belangnya, ha ha

    btw; terlampir adalah link ke produk minuman dengan botol plastik yang biodegradeable :)

    http://biotaspringwater.com/

    Di Inggris ternyata juga sudah ada sejak 2006, saya sudah terlanjur cabut dari situ :

    http://www.independent.co.uk/environment/the-bottle-that-heralds-a-plastic-revolution-480185.html

    Biasanya dulu saya belanja di Co-op karena mereka menggunakan berbagai jenis plastik pembungkus yang biodegradeable :

    http://www.selfsufficientish.com/thecoop.htm

    Mudah2an nanti saya bisa tiru juga disini, aminn…

    –0–

    Terimakasih banyak infonya Pak Harry. Dengan komentar ini saya berarti pula meralat , bahwa ternyata ada botol plastik yang terbuat dari jagung. (*Canggih euy teknologinya BIOTA*)

  3. itikkecil says:

    bener-bener penipuan publik…..

    –0–

    Hehe, dikiranya mereka publik oon semua kali yaa, Mbak.

  4. gosip says:

    wah artikelnya manteep banget, panjang skalii! gosip or fakta? hehehe

    –0–
    Ada linknya kan. Silahkan diverifikasi :)
    Selamat memverifikasi dan jangan mudah percaya tulisan saya.
    bangaip.org memberanikan anda untuk menyanggah dan membantah tulisan ini.

  5. titiw says:

    Mantep bang! Selama ini kjalo beli2 prodak berbahan plastik itu secara tidak saadar aku ngerasa “gak terlalu dosa” karena mereka itu “hijau”.. Ah ternyata.. Makanya jangan lupa sarapan ya bang! 😉
    PS: link bang aip ini saya share di twitter saya yaa.. 😀

    –0–

    Terimakasih sudah dibagi, Tiw :)

  6. hedi says:

    aku suka obrolan imajiner dengan Nurdin Halid itu :)

    –0–

    Hehe, sayangnya beliau nggak begitu suka. Hehehe.

  7. adipati kademangan says:

    Bang, saya mau nanya kalau ada yang mengklaim bahwa peraturan RoHS itu ramah lingkungan bagaimana ?

    –0–

    Soal RoHS. Saya coba bahas nanti lain kali, adipati. Di bagian sampah Elektronik. Kebetulan ada salah satu anak SERRUM, AriMak yang jagoan soal itu. Hehe. Kali ini saya minta maaf hanya membahas RSR saja dulu. Sebab kalau hijau sih sudah mereka klaim sejak lama, Adipati. Hehe.

    Pemukiman hijau itu sepengetahuan saya itu mempunyai banyak aspek. Kalau sekedar dagang “Hijau” tanpa memberikan bukti. Well, itu sudah termasuk greenwash.

    RSR mengklaim bahwa grup mereka adalah founder yang menerbitkan organisasi yang dapat mengeluarkan sertifikasi ‘pemukiman hijau’. Ada kok jawaban PR nya di blog architectureUrban di sini. Ini jawabannya

    “Group kami adalah Founder of Green Building Council di Indonesia. Dan The Royale SpringHill sendiri didesign oleh tenaga2 profesional dibidangnya masing2 salah satunya dibagian arsitek yaitu xxxxxx xxxxx, beliau merancang gedung dan tata letak didalamnya sedemikian rupa supaya The Royale SpringHill hemat energi. Dan dengan besarnya nominal yg dikeluarkan untuk project kami The Royale SpringHill tentunya kami tidak hanya sekedar bicara. Terima kasih,kami harap penjelasan dari kami cukup. “

    Sementara kenyataannya, baik RoHS sama sekali tidak mencantumkan apa spesifikasi ‘Hijau’ yang mereka maksud. Bahkan dari jawaban PR nya sendiri benar-benar ad-hominem. Kalau dibuat percakapan nyeleneh, kira-kira begini:
    PR: “Ayo beli, ayo beli. Kami ijo kok!”
    Konsumen: “Ijo? Mana buktinya?”
    PR: “Err… Karena saya bilang begitu! Udah kamu nurut aja, sih. Cerewet amat! Yang bikin sertipikat ijo itu bapak saya. Kamu kok nggak percaya sih!”
    Konsumen: Hah? Kan yang jadi konsumennya saya, kok galakan situ??
    PR: “Kamu berisik yah! Saya ini hemat energi?”
    Konsumen: “Maksudnya hemat energi itu apa?”
    PR: “Kamu ini bloon yah, nanya-nanya mulu. Pokoknya udah dirancang begitu deh. Kamu nurut ajah!”
    Konsumen: “Kenapa saya harus nurut omongan kamu?”
    PR: “Cukup! Cukup!! Kami sudah mengeluarkan banyak biaya. Kamu sudah nggak beli, bisanya ngebacot doang. Pergi sana!!!”

    Hehe…

  8. bitch, the says:

    ah, ketauan beut itu royale springhill kaga punya webmaster. leotnya aja nyomot dari templek blogsepot.

    errr… bang, bang. itu… bagian yg PR ngotot2an ituuu… iya bangeut!!! huahahaha!

    –0–

    Hehehe, berdasarkan kalimatnya, nampaknya beliau memang agak ajaib. Hehehe

  9. Bang,

    Ini fakta yang menarik. Minimal buat saya. Logika subyektif yang bisa saya tangkap dari cerita diatas adalah; ketika anda bersedekah maka itu akan menghapuskan dosa-dosa tolol anda ketika sedang memperkosa hak-hak orang lain.

    Hihihi… Ntar ada yg tersinggung loh.

    –0–

    Yang tersinggung dengan tulisan saya mah sudah banyak Mas Dewo. Saya saja yang nggak tahu diri, tetap menulis. Hehehe

  10. edratna says:

    Saya senang kalimat terakhir…”Lain kali jangan lupa sarapan…” hehehe….lagi puyeng soalnya nih..kerjaan numpuk

    –0–

    Iya Bu, semoga dengan sarapan bisa menambah produksi dan stamina :)

  11. mbelGedez™ says:

    .
    Jadi inget sebuah konter kosmetik di mall-mall mewah Jakarta, yang meng klaim produk-produknya “ramah lingkungan”. Maka para kaum sadar ligkunganpun rela mengeluarkan lebih banyak rupiah demi mendapatkan produk hijau. Konyolnya, sulit sekali membuktikan ke “hijau” an produk mereka.

    Mengenai jagung sebagai bahan pengganti plastik, secara teknis memang udah memungkinkan. Masalahnya, ongkos produksinya masih sangat mahal bila dibandingkan menggunakan plastik konvensional. http://bit.ly/a8jvNQ

    Jadi, yang namanya “produk hijau” menurut sayah masih jauh panggang dari api. Bahkan sekelas Prius sekalipun…

    –0–

    Kalau mengenai Prius, saya nggak berani ngebantah. (*Sepengetahuan saya, yang komen diatas ini ini asli reviewer Prius Indonesia terbaik loh :) *)

  12. jumhari says:

    wah, hebat lo Rip, rajin nyelidikin dan menulis….. ntar lo riset gw deh……. hehe…

    –0–

    Siip Jum :)

  13. meong says:

    dari dulu saya juga curiga dan skeptis dg iklan2 layanan masyarakat dr perusahaan2 tambang ato properti.

    sepertinya label hijau udah makin jauh dr hakikat sebenarnya ya bang, udah menjadi sekedar life-style spt majalah2 gaya hidup itu… :(

    –0–

    Label hijau ‘menjual’ sih, Mbak. Makanya banyak yang mau.

  14. meong says:

    baca komennya om mbel jadi keinget salah satu merk kosmetik yg katanya hijau banget. tp kalo baca2 di inet, banyak juga yg menyangsikan komitmen mereka palagi stlh dibeli ma perusahaan kosmetik.
    gimana kalo itu, bang? beneran ga, merk satu itu hijau?

    –0–

    Saya mohon maaf, Mbak. Saya ndak tahu

  15. titiw says:

    Aneh deh bang postingan ini.. katanya ada 14 komentar tapi kok yg ditampilkan cuma 4, dan saya gak liat ada button untuk liat komentar lainnya.. hem..

  16. bangaip says:

    Iya Tiw, saya juga bingung. Ada komentar dari Pak Harry, Bu Enny dan teman-teman lain menghilang. Ini baru ganti template dan backup database. Aduh, moga-moga nggak ilang beneran.

  17. dobelden says:

    lama ga mampir kemari hehe..

    green label yg jelas sih di minuman Nu Green Tea.. hehe.. itu yg perumahan mahakarya agung podomoro grup gmn nasibnya? katanya menciptakan kawasan hijau

  18. Ki gelenk gelenk says:

    riset yg muantap bang..kalau mau di extend topik ^label melabel^-nya, di kampung ane, semua barang yg bkl masuk perut berlabel ^halal^, tapi apakah masuk ^tak sama tapi mata duitan^ pula..barangkali perlu di investigasi ni bang..

    –0–

    Siip lah.. Nanti dicoba untuk di data :)

    Eh iya, udah tau belum, kalau halal itu belum tentu sehat? (*Diskusi yang akan cukup rumit. Sebab jangankan halal, sehat aja udah berat. Lebih parah lagi, kalo halal sehat dan biologis pula, huehehe*)

Leave a Reply