Paru Paru

Dulu. Beberapa orang sahabat saya ketika masih menjadi siswa di sebuah sekolah seni, mencoret-coret patung buatan guru yang terpajang di tengah-tengah bangunan sekolah. Mereka menyampaikan protes, baik kepada sekolah dan terutama kepada guru pembuat patung tersebut yang ternyata juga merangkap sebagai kepala sekolah. Kata si pemrotes, “Seni sudah dikadali. Uang sekolah dinaiki”

Entah apa maksud dan hubungannya dengan kadal sang binatang reptil itu. Saya pun tak mengerti. Katanya sih protes itu tujuannya mendemo kebijakan finansial sekolah.

Sebagai seniman, atau minimal mengaku seniman, teman-teman saya ini melakukan protes tanpa kekerasan. Mereka mengecat patung lalu melapisinya dengan kain putih. Sebuah protes melalui bahasa simbol visual. Namun walaupun tanpa kekerasan, reaksinya yang mereka terima cukup keras juga. Tiga orang siswa pelaku (yang disebut vandalis oleh pihak sekolah) sampai stress karena hampir dikeluarkan. Harus drop-out dengan terpaksa.

Beberapa orang siswa yang sama sekali tidak ikut-ikutan protes, marah. Bisa jadi karena solidaritas. Akibat saling mengenal dengan pencoret. Bisa jadi karena sebab lain. Namun ketika masalah ini keluar ke publik. Ternyata lebih banyak orang bereaksi. Publik berang. Tentu saja tidak suka karena anak-anak itu main corat-coret sembarangan. Namun lebih marah lagi ketika pihak sekolah menjatuhkan hukuman yang tak setimpal pada anak-anak itu. Kok corat-coret dibalas DO?

Pihak sekolah, terutama si pencipta patung, kecewa. Sama sekali tidak senang. Mereka kecewa. Publik lebih berpihak ke anak-anak pemrotes vandalis. Dengan balik berang, sekolah berkata bahwa publik tidak mengerti seni. Si pencipta bilang bahwa seni itu agung. Dalam membuat patung, dibutuhkan banyak sekali waktu, tenaga dan biaya yang tidak sedikit. Namun yang lebih banyak dari semua itu adalah ide. Dan semua ide, adalah agung.

Ide? Iya ide. Di balik karya seni, biasanya selalu ada ide. Agung atau tidak, masih bisa diperdebatkan. Namun, entah ditopang kreatifitas. Ditopang kerja keras, atau di topang hal lainnya, memang selalu ada ide di balik sebuah karya. Di balik patung yang ternoda itu, ada pesan di sana. Bisa satu, bisa lebih. Yang pasti, ada ide, ada pesan, ada komunikasi di sana. Sebelum di buat, atau dalam proses pembuatan, atau bahkan ketika sudah jadi dan lalu (sialnya) di protes.

Singkat cerita, tiga siswa tersebut tidak jadi dikeluarkan paksa. Patung dibersihkan. Kembali bersih berdiri seperti sedia kala seakan tidak terjadi apa-apa.

Apapun yang terjadi pada patung tersebut, ada hal menarik yang bisa saya petik. Yaitu bahwa kejadian pada patung tersebut ternyata mampu menyita emosi pembuatnya, penadah tempatnya, pemrotesnya serta orang-orang disekeliling yang tidak tahu apa-apa menjadi saling berinteraksi.

Siswa, guru dan sekolah yang semestinya menjadi ajang komunikasi dan fasilitas dalam mencari ilmu, tiba-tiba berubah menjadi ladang emosi yang mengharu-biru. Kegiatan belajar Mengajar (KBM) yang semestinya optimal entah bagaimana caranya bisa berubah menjadi opera sabun dadakan.

Katanya, agungnya karya seni bukan hanya terletak yang ada di depan mata saja. Melainkan pula pergulatan si pembuatnya dan ide-ide yang ada di belakang otak mereka. Tapi sekali lagi, ide agung itu amat layak diperdebatkan.

Apa yang saya anggap agung toh tidak harus dianggap sama oleh situ, misalnya.

Kasus RI dengan Malaysia tahun 2007 salah satu contoh yang baik mengenai ‘keagungan’ ide sebuah seni.

Bukan hanya satu warga RI yang kecewa ketika tetangga negeri jirannya itu tiba-tiba memakai tari atau produk budaya Indonesia dan mengklaimnya di dunia internasional. Bukan… Bukan hanya satu. Melainkan banyak sekali warga Indonesia yang kecewa.

Di saat yang sama, warga Malaysia pun kaget luar biasa. Bukankah banyak sekali warga yang ayah ibu mereka yang berasal dari Indonesia. Apakah sebegitu bermasalahnya sang tetangga seperti kebakaran jenggot? Punya rumpun sama namun kenapa mereka suka marah-marah?

Maka, logika tak sedap seperti ‘Bukankah mereka suka menawarkan dagangan pada saya dengan paksa? Bukankah negeri kami sudah baik hati menerima tenaga kerja mereka, sungguh tak tahu diri mana balas jasanya?’ hingga ‘Terlalu tinggi hati dengan masa lalu’ pun dialamatkan pada bangsa Indonesia.

Yang mencengangkan, di balas lagi oleh pemuda kita dengan logo Malingsia. Astaga! Bukankah itu melaknat nama sebuah negara yang terdiri dari banyak manusia? Jika memang yang melakukan tindakan tidak terpuji hanyalah beberapa orang saja, apakah pantas kita menyematkan titel nista pada semua orang di sana?

Akhirnya, sudah bisa di tebak. Fasilitas media massa, konvensional maupun tidak, penuh dengan hujatan, makian dan bahasa-bahasa ajaib lainnya. Isinya hampir senada; Indonesia vs Malaysia.

Ketika sudah jadi rumor publik, pemerintah pun turun tangan. Otoritas dari kedua belah pihak, saling bertemu untuk membicarakan semakin hangatnya isu. Bersyukurlah saya, pemerintah saat itu lebih dewasa daripada pemerintahan tahun 60-an dahulu. Tidak lagi ada korban jiwa dalam friksi antar tetangga kali ini.

Namun apapun yang terjadi antara dua negara tersebut, ada hal yang amat menarik dicermati. Minimal buat saya; Yaitu ada opera sabun dibungkus emosi antara hubungan bertetangga.

Dua manusia tiba-tiba menjelma menjadi aktor semu hanya karena dipisahkan sebaris batas pada peta.

Maka aktor-aktor itu pun menjalankan perannya. Ada aktor yang masih ‘berjuang di garis depan’ untuk ‘vokal’ di forum-forum internet. Ada aktor yang meminta dana pada negara; katanya untuk beli senjata. Alasannya; negara tidak bisa dilecehkan. Untuk mencapai keagungan dan kekuatan sebuah negara adalah dengan senjata.

Ini jelas gila. Buat apa beli senjata kalau tidak untuk dipakai? Buat gosok gigi? Terus kalau sudah dibeli dan mau dipakai, akan diarahkan kemana moncongnya? Ke pantat masing-masing?

Edan!

Beberapa warga Indonesia dan Malayasia itu sering lupa. Bahwa mereka di Kalimantan sana (atau Borneo atau apalah sebutannya) itu berbagi tanah. Menginjak pulau yang sama. Bernafas dari oksigen yang dilepaskan oleh tumbuhan yang sama. Bahkan mungkin minum dari sumber air yang sama.

Dan (sialnya lagi) pulau itu, makin lama makin sekarat dihantam keserakahan manusia. Entah yang menghancurkan hutan dan membuyarkan hidup banyak suku asli yang bergantung di sana. Atau mengeruk isi bumi dan lalu meninggalkan polusi.

Bagaimana kalau pulau itu semakin sekarat lalu dengan santainya warga diatasnya tembak-tembakan. Menghambur-hamburkan uang demi kesenangan membunuh, sok kuasa atau hanya ingin kelihatan jumawa.

Bukannya saling bahu membahu menyelamatkan tanah dan bumi, kok yaa saling membenci. Tidak mungkin Indonesia dan Malaysia kehabisan akal hanya untuk menyelesaikan masalah antara mereka soal tari pendet atau Tenaga Kerja Indonesia atau apalah yang akan muncul nanti. Bukankah energi yang ada saat ini lebih baik dipakai untuk kelangsungan hidup anak cucu kita lebih layak.

Tapi yaah, tentu saja tidak semua manusia mirip sama. Masih banyak warga di kedua belah negara yang saling memaki ‘Indon’ atau ‘Maling’. Semuanya atas nama ‘keagungan’ sebuah ide lantas berpikir bahwa seteru dua tetangga hanya dapat diselesaikan dengan peluru.

Sementara, semakin hari Kalimantan semakin lemah paru-paru.

This entry was posted in Orang Indonesia, Republik Indonesia and tagged , , , . Bookmark the permalink.

7 Responses to Paru Paru

  1. edratna says:

    Tadinya bingung…kok judulnya paru-paru…ternyata maksdunya semua manusia, baik di Indonesia dan Malaysia bernafas dengan paru-paru dengan udara yang sama.
    Dan kadang sumpeknya sama..karena berbagi asap…..

    Kata teman saya, yang habis mantu dan menantunya orang Malaysia, cerita dengan bangganya…”Mbak, anakku udah tak patenkan kok.” Saya bingung….nggak nyambung….tapi bagaimana mematenkan…nanti kan anaknya separo-separo…hehehe

  2. sangprabo says:

    Maaf Bang, saya orang yang turut membuat paru-paru kalimantan tambah rusak. Saya kadang ikut cukong kayu, nebang poon, tapi legal kok Bang.. Ndak ada yang salah dengan nebang poon menurut saya, asal jangan asal tebang. Saya ndak habis pikir, kenapa orang kota sukanya mencela orang2 yang nebang poon.. Padahal mereka juga ndak punya kontribusi apa2, naik mobil terus, nanam poon juga gak mau..

  3. bangaip says:

    @Ibu Enny: Hehe, mematenkan anak. Ide baru tuh Bu :)

    @Sangprabo: Wah saya senang sekali kedatangan langsung orang lapangannya. Mas, mohon di share pengalamannya sama kita-kita. Misalnya; bagaimana arti terminologi “Tidak asal main tebang” atau bagaimana kontribusi pihak ‘cukong kayu’ terhadap komunitas lokal yang mengandalkan hidup dari hutan. Saya amat berterimakasih sekali loh kalau mau di share pengalamannya si Mas.

  4. omnoba says:

    anu bang, maap kalo komen saya kurang sesuai dengan tulisan abang, tapi aq ingin nanya mengenai buku brotherhood of cincling.
    masih ada jatah buat cetakan ke 3? tulung di embatin, eh salah, ditambah satu kalo nga merepotkan en berkenan di hati.

    btw transferannya gimana bang?

  5. mbelGedez™ says:

    .
    Etapi…
    Malingsia Malesa memang orangnya rasis, nyebelin, blagu, padahal norak..!!!

    *kesempatan buat curhat pengalaman pribadi*

    –0–

    Mas Mbel, maaf OOT; tumben komen ini masuk kategori SPAM oleh Akismet. Saya bongkar-bongkat archive comment spam, loh kaget ada komen Mas Mbel nyangkut di sana.

  6. manusiasuper says:

    Ah, kalimantan saya… selalu jadi objek pasif penderita…

    –0–

    Dan sampai sekarang, kebijakan politik malah semakin memperparah Kalimantan kita itu, Mansup

  7. Kigelenkgelenk says:

    seandainya gugusan pulau negri pusaka ini dianggap kesatuan utuh sebuah badan, kalimantan adalah salahsatu penyusun bagian dada tempat paru paru..setuju!..dan..perlu otak cerdas dalam memutuskan, apa yg hrs dilakukan, agar paru paru tetap dpt berfungsi menjaga otak tetap cerdas…problemnya, sang otak isinya, yg penting duit aja bro…soal anak cucu, sudah ada Yang Maha Pengatur…gitu gosipnya brow..

    –0–

    Yang lain, setuju. Lovely :)

    Soal aturan terhadap anak cucu, well, ini kayaknya kita belum sepakat, Ki. Kata Bang Iwan Fals, cuma orang yang memanjakan diri, berkata hari esok bagaimana besok. Yang paling aware dengan masalah masa depan saat ini (berdasarkan klasifikasi negara) adalah negara-negara Skandinavia dengan membuat secara serius kapsul-kapsul masa depan, yang mirip bunker WW II Jerman namun lebih canggih berisi peralatan bertahan hidup bioteknologi (*Hell yeah, ini bocoran pribadi. Sangat subjektif hanya karena kebetulan pernah mampir di sana*) dan Cina yang mengalihkan politisasi Tibet jadi sumber energi ramah lingkungan (*Ada di Time edisi EU bulan Juli 2010*). Bottom line, kalau kita nggak bergerak sekarang, anak cucu nanti yang jadi korban. Hari esok amat bergantung dengan apa yang kita capai pada hari ini.

    Ahh sok wise banget aye… Hihihi. Nuhun pisan :)

Leave a Reply