Boikot

Sudah beberapa tahun belakangan ini makin santer gerakan ‘anti-antian’ terhadap negara lain. Di bantu internet, memang tambah memudahkan aksi ini.

Waktu zaman Schapelle Corby dituduh membawa berkilo-kilo ganja ke Bali dan polisi belum mampu membuktikannya, langsung ada gerakan ‘Boikot Bali’ bahkan hingga ‘Boikot Indonesia’ di negara tetangga. Saking parahnya di daerah suburban barat laut Melbourne sana hingga ada sebuah bar yang menempelkan plang papan di depan pintunya ‘No Beers 4 Indonesians
(*Kami nekat masuk. Memesan es teh manis. Tetap tidak dilayani. Bahkan malah dipelototi. Tapi cuek saja nyemil kacang gratis yang ada di depan meja bartender. Hihihi*)

Hingga akhirnya Schapelle Corby ternyata benar-benar seorang ratu ganja, gerakan boikot ini ternyata belum di cabut juga. Alasannya kali itu adalah; Penjara Kerobokan Denpasar Bali tidak layak untuk seorang Corby. Beuh!

Hari berganti, begitupun peristiwa. Ada negara tetangga yang mengklaim sebuah lagu dan tari yang bahkan sudah dilirik anak negeri. Tiba-tiba semua orang kebakaran jenggot. Ramai-ramai pakai batik supaya si negeri jiran tak berani mengklaim lagi. ‘Boikot negeri sebelah’ tiba-tiba jadi trend yang seksi. Ramai-ramai anak muda jadi nasionalis dadakan dengan memakai atribut mencela negeri tetangga. Tiba-tiba, idiom ‘makin nyela tetangga makin gaya’ merambah kemana-mana dan jadi sebuah bangga.

Lalu sebagaimana peristiwa lainnya, orang-orang lupa. Atau mungkin; terlalu banyak di dera masalah dan peristiwa yang nan tak kalah ajaibnya… Jadi dilupakan.

Hingga akhirnya muncul lagi. Ketika Garuda Indonesia ketek sayapnya di jitak Uni Eropa. Sehingga burung-burung besi milik maskapai penerbangan pribumi itu dilarang terbang di langit Eropa sana. Berbagai pejabat negeri tiba-tiba (lagi) berkoar menjadi nasionalis sejati. Ada yang asal bunyi berkata “Ini pasti politis, gara-gara pembunuhan Munir yang belum terungkap maka kita dilarang terbang”.

Politis? Uh! Itu benar-benar asal bunyi. Sebab sebelum di larang, sudah berkali-kali diperingati bahwa Garuda itu gagal memenuhi persyaratan untuk mendarat tepat waktu. Dikiranya, seluruh bandara di Uni Eropa milik bapak moyangnya apa? Pilot-pilot itu main landing seenak jidatnya. Bung, tahukan anda terminal bandar udara itu beda dengan terminal angkot Cilincing, kampung di ujung laut Jakarta sana di mana para sopir mangkal semau-maunya?

Diberitahu begitu, makin merah muka sang pejabat. Sampai-sampai mengeluarkan titah, “Apapun yang terjadi, Garuda kita harus melanglang di langit Eropa. Kalo nggak bisa juga, boikot saja negara yang melarangnya”.

O-o-o… Lagi-lagi ada masalah bisnis yang diintervensi kebijakan negara. Kok yaa tidak berfikir lebih dulu dengan seksama, bahwa kadang-kadang teknisi kita terkenal tukang lupa. Hingga parahnya alpa membersihkan korosi di mesin burung-burung besi kebanggaan (beberapa) anak negeri itu.

Lagi-lagi boikot. Lagi-lagi boikot. Kalau buruh kecil pabrik tekstil di Tangerang sana boikot minta keselamatan kerja dan upah layak, maka semua aparat dituruni untuk mengemplangi para manusia kecil bernasib naas itu. Beuh!

Lalu, sebagaimana sejarah, ini akan tetap berulang terus. 2009, sebuah website terkenal tempat kumpul para seniman tiba-tiba memboikot semua orang-orang Indonesia yang ada di sana. Gara-gara, beberapa orang pencuri (tentu saja dari IP address Indonesia dan memiliki status geografis RI) diam-diam menyikat hasil karya member lain dan lalu dengan bodohnya terang-terangan menjual karya colongan itu, di website yang sama.

Memboikot semua orang Indonesia yang ada di forum?

Hahaha… Tahu darimana dia orang itu adalah WNI atau minimal mengaku orang Indonesia?

Dari IP address? Buset dah, gara-gara beberapa orang maling ber alamat Indonesia tiba-tiba memblok semua karya anak Indonesia? Lagi pula, apakah semua orang yang ber IP address Indonesia adalah orang Indonesia? Hahaha… Gimme a break!

Dari status geografis? Ampun deh, mengganti status geografis di forum itu bisa dilakukan dalam waktu beberapa detik. Toh bisa saja saya mengaku dari Republik Vanuatu.

Dari nama Indonesia. Jadi semua orang yang bernama ‘berbau-Indonesia’ harus di blok? Hahaha…
(*Apa forum website berbasis di California itu berani nge-block Bapak Sehat Sutardja? Ahh Pak Sehat mana mau masuk forum rasis begitu πŸ˜€ Buang waktu ajah*)

Lah terus bagaimana dengan orang-orang Indonesia yang tidak memiliki IP address Indonesia, apakah harus di boikot juga? Aje gile deh.

Boikot pencuri dari Indonesia itu adalah tindakan cerdas. Tapi boikot semua orang Indonesia (atau yang mempunyai penampakan seperti WNI karena mungkin mereka semuanya maling, koruptor, dan sebagainya) jelas adalah tindakan bloon.

Yang terkini, mungkin beberapa hari lalu. Ketika ada pertandingan sepakbola antara kesebelasan sepakbola kebanggaan warga Jakarta, Persija dengan pengocek bola piawai dari Bandung Persib. Hasilnya imbang.

Mungkin karena hasil yang dianggap tidak memuaskan atau alasan tidak penting namun memuakkan lainnya, beberapa supporter Persija, Jakmania memukuli seorang bocah berumur tujuh tahun. Hanya karena, ia anak supporter lawan kesebelasan yang bangga memakai kaus supporter Persib bernama Viking Bandung. Itu anak, babak belur dan bukan hanya kausnya, mata dan pipinya pun ikut lebam membira.

Haruskah kita memboikot para supporter sepakbola asal Jakarta tersebut? Sebagaimana niat kita memboikot bonek supporter sepakbola dari Surabaya?

Well, hati kecil saya berkata iya. Namun ketika melihat bahwa dari ribuan manusia pendukung sepakbola tersebut sebagian besar adalah orang-orang biasa yang mencintai sepakbola daerah lokalnya, maka nurani pun berkata berbeda.

Jika ada beberapa orang beratribut islami melakukan tindakan tolol luar biasa dengan membunuh manusia lain atas nama tuhan yang mereka percayai, tidak menjadikan semua orang islam adalah pembunuh yang tolol. Sebagaimana hanya karena satu dua yahudi menjadi pencuri tidak selayaknya kita mengirimkan mereka semua ke kamp konsentrasi.

Maka, apabila solusi yang di rasa paling tepat adalah supporter klub sepakbola Jakarta menindak koleganya yang berbuat tak senonoh pada bocah Bandung berusia tujuh tahun. Maka sudah sepantasnya kita memboikot ‘kolega’ kita yang bawa-bawa nama ‘kami’ hanyak sebagai alasan untuk menzalimi.

This entry was posted in bangaip, Orang Indonesia, sehari-hari and tagged , , , , . Bookmark the permalink.

12 Responses to Boikot

  1. itikkecil says:

    tapi mereka berani menghajar kalo rame-rame gitu.. coba kalo sendirian, mana berani…

  2. manusiasuper says:

    generalisasi, stereotif.. Penyakit berbahaya manusia dari dulu sampai kiamat nanti.. Dan sungguh sulit menyembuhkannya..

  3. noni says:

    makasih ya bang, tulisan abang terus menerus membuka mata saya… membuat saya jadi terang (lampu kale ah…) hehehe… apa kabar novi en ibu nyonyah?

  4. DeZiGH says:

    Mungkin karena hukumannya terlalu ringan, jadi masih banyak yang berani melakukan itu, dan untuk membuat permasalahan jadi sederhana memang dengan cara larang semua sih, praktis buat penegak hukumnya πŸ˜›

  5. adib says:

    ga tau lah bang, baru baru ini di alibaba jg ada org amrik yg posting pengumuman/statement katanya salah satu perusahaan mebel dimari scam, ha? Saya ga ngerti yg salah siapa tp yg pasti sbgian besar dr pengusaha disini di jepara pasti akan terpengaruh oleh statement tersebut.

  6. Mardianto says:

    Wah. Iya ya.

    Jadi yang kita perlukan adalah pikiran yang jernih untuk memahami isu-isu. Soalnya kebanyakan orang Indonesia (setidaknya kawan-kawan dan juga saya) suka ikut-ikutan kalau ada isu yang ngetren. Misalnya: ganyang Malaysia.

    Padahal sampai sekarang saya nggak tau apa arti kata ganyang. Memangnya artinya apa sih? :)

  7. Mardianto says:

    @Adib: Mudah-mudahan efeknya nggak terlalu buruk. Kecuali itu dibikin oleh ahli bikin isu. Katanya orang amrik kan lebih rasional.

  8. morishige says:

    yang paling bikin saya heran itu adalah saling klaim budaya, bang. budaya kok diklaim. yang namanya budaya itu, harusnya, memang sudah membudaya… masa budaya dipaksakan?

    makanya saya heran ketika batik menjadi pemberitaan. “Sudah diakui UNESCO”, begitu tulis salahsatu surat kabar. sejak itu saya sering lihat setiap jumat temen2 kuliah pada pake batik. sampe-sampe pedagang asongan juga ikutan pake rompi motif batik.

    lha? waktu saya masih di sumatra dulu nggak ada yang pake batik kok ke kondangan. :mrgreen:

    anyway, yang bikin saya heran itu, bukannya batik itu motif pakaian tradisi bangsawan jawa ya? setia kali proletar-proletar mempertahankan kebudayaan orang-orang berdarah biru…

    *mengelap keringat*

    –0–

    Hehe, sabar Mas… Sabar. Hehehe

  9. Lah abang yang udah udah melanglang buana kemane-mane aja masing bingung, masih kaga bisa terima akal, lah kita…, yg tiap ari masih nyaksiin ketidak adilan tiap hari gimana jadinya.

    Hari ini Rabu 14 April 2010, jakarta berdarah lagi (huruf awal pada penamaan kota sengaja dikasi huruf kecil), Makam “Mbah Priok” mau di renovasi, warga tidak bisa terima alasan dan perlakuan petugas satpol pp yang membawa personel lengkap plus alat berat dengan arogan menghancurkan tembok luar areal makam. Kenyataanya, warga marah, mulai dari pelabuhan peti kemas baru, Rawa Buaya, koja, kosambi, sampai Cilincing telinganya merah, korban berjatuhan, pemerintah kota sibuk cari alasan diplomasi dengan mass media.

    Cilincing Tambah ancur bang, aye jadi ikutan sedih. Abang kapan pulang, kita perlu orang-orang kya anbang disini.

    salam kenal yak bang, aye blogger ingusan baru kenal internetan mohan petunjuk buat cilincing kita dan infonya.

    –0–

    Salam kenal juga euy :)

  10. omnoba says:

    bang, bukunya udah nyampe. hehehe

    –0–

    Ahh, saya ikutan senang. :)

  11. sinoby85 says:

    Kasih komentar ucapan perkenalan aja dulu

    –0–

    Salam kenal juga euy Sinoby :)

  12. Ki gelenk gelenk says:

    Apa beda boikot dgn perampasan dong? ..keep writing blo..salam keeeoo..c78

    –0–

    Wah beda, euy. Beda banget. Dalam konteks tulisan ini beda banget.
    Anyway, thanks berat bro.
    Eeoooooooooo….

Leave a Reply