Kanker Penggertak Buruh

Profesi saya ini buruh kecil biasa. Kerjanya ya begitu deh, memburuh.

Namanya juga buruh, kalau untung dalam bekerja, lumayan deh, bisa pergi pagi pulang petang. Lalu makan malam bersama keluarga. Kalau tidak untung, bisa pergi pagi-pagi buta lalu pulang larut malam. Tidak bisa makan malam bersama keluarga. Tidak bisa menerima ciuman sayang dari putri maupun istri ketika pergi atau pulang kerja. Tidak ada lampu menyala di rumah ketika saya sampai di rumah. Sebab semua orang sudah tidur. Namun lebih tidak untung lagi, kalau masa perburuhan kadang bahkan mengharuskan untuk berhari-hari meninggalkan rumah. Seringkali di landa badai rindu terhadap keluarga. Kangen.

Tapi namanya juga nasib, yaa dijalani saja apa adanya.

Sebagaimana proses lainnya proses perburuhan ini tentu saja memiliki efek samping. Diantaranya efek letih dan lelah setelah pulang bekerja. Efek ini, efek yang wajar tentunya. Yang (mungkin) tidak wajar adalah saya mencari penyaluran efek ini dengan bermain facebook. Ealah! Kok yaa enak sekali bermain facebook kalau sudah selesai pulang bekerja atau ketika jauh dari rumah.

Dari facebook, bertemulah saya sahabat-sahabat lama (atau baru) yang sudah beberapa tahun tidak berjumpa. Lalu ketika bersua di dunia maya, senang sekali hati saya rupanya.

Kami bercanda-canda. Sama seperti dahulu. Lepas begitu saja. Gembira.

Yang saya tidak sadar adalah, bahwa manusia itu berubah. Dan itu mungkin ketololan awal saya yang akan diceritakan dalam tulisan kali ini. Saya lupa bahwa manusia itu berubah.

Becanda saya, mampu dikategorikan sebagai becanda dengan umpatan-umpatan kasar. Atau bahkan menyinggung masa lalu yang pernah terjadi diantara kami para sahabat lama. Saya pikir, dengan melontarkan kalimat canda begitu mampu menggiring kami kembali ke masa lalu. Mentertawakan kejadian masa lalu itu menyenangkan. Obat setelah capai memburuh.

Tapi buat siapa?

Contoh: Dulu teman kami belajar naik sepeda. Sebut saja namanya si Fulan. Pada usia menjelang 18 tahun ia baru memulai belajar naik sepeda. Artinya ia sudah cukup dewasa. Suatu ketika ia jatuh ketika belajar. Semua yang melihatnya tertawa. Tapi apakah ia yang jatuh dari sepeda tertawa? Ia nyeri saat itu. Ia tertawa. Meringis. Tapi belum tentu tertawa karena merasa itu lucu. Ia mungkin tertawa menutupi malu.

Dan lalu bertahun-tahun setelah kejadian itu. Semua orang lupa. Lalu facebook pun tiba. Semua manusia berkumpul lagi. Diantaranya komunitas lama, para pengejek pesepeda. Lalu ketika sebuah foto akhirnya muncul, si Fulan yang tengah naik sepeda dengan lepas tangan, kenangan lama pun timbul pula. Kami semua berlomba-lomba mentertawakan fulan. Melalui status komentar foto facebook.

Bedanya, kali ini si Fulan tidak tertawa. Ia marah sekaligus kecewa.

Mungkin karena sudah terlanjur mengejek dan tinggi hati untuk meminta maaf, maka para pencela ini (yang sialnya termasuk diantaranya adalah saya) pun makin keras melancarkan arogansinya. Bahkan ada diantaranya menuduh si Fulan ‘terlalu sensitif, gitu aja kok marah!’ Sebuah statement yang luar biasa dungu. Ketika diberitahu untuk memperbaiki kesalahan, bukannya dijalani malah menantang balik.

Akhirnya si Fulan pergi dari grup kami. Komunitas para bully. Ia menjauhi teman-temannya yang ternyata para penggertak yang tinggi hati.

Lepas dari ‘Tragedi si Fulan’, kami semua kasak-kusuk. Mencoba menenangkan diri bahwa semua baik-baik saja. Bahwa si Fulan lah yang salah. Meyakinkan hati kami yang dungu, bahwa toh si Fulan dari dulu memang layak dicela.

Dua hari setelah kasus Fulan, saya dapat kabar ajaib. Kabar duka. Salah seorang paman terkena kanker. Sudah parah stadiumnya. Dan masalah si Fulan pun jauh terlupakan.

Akhir minggu itu rencananya saya, istri dan anak mau ke danau yang ada di dekat rumah. Sekedar jalan-jalan bersama di tepinya. Namun niat itu diurungkan. Kami semua akhirnya menengok ke rumah paman. Sekedar untuk melihat beliau ketika masih hidup dan mungkin syukur-syukur bisa menenangkan hatinya.

Ketika akhirnya tiba, saya lihat paman terbaring di tempat tidur. Dia kelihatan sakit sekali. Kata bibi, kanker sudah mengerogoti seluruh sel-sel darahnya. Di kamar itu, saudara sepupu saya duduk di samping tempat tidur. Memegang tangan ayahnya.

Paman sudah susah untuk konsentrasi mendengar orang bicara. Namun begitu melihat putri saya, ia sempat melemparkan seutas senyum pada kami semua. Saya sendiri tidak begitu banyak bicara. Walaupun saya memilih untuk tidak percaya hal-hal gaib, entah kenapa kamar itu memiliki aura yang berbeda. Muram. Seakan malaikat maut menggelayut di jendela.

Sebelum pulang, saya sempatkan berbisik ke telinga paman. Sebuah cerita bodoh ketika saya tidak bisa buang air besar selama lebih dari seminggu. Entah kenapa saya cerita hal yang menjijikkan tersebut kepada orang yang akan nafasnya tengah kembang kempis menahan sakit? Mungkin karena bermaksud untuk melucu. Menghiburnya. Sekedar berbagi senyum sebelum ajal tiba. Untungnya, ada lagi senyum muncul di wajahnya.

(*Istri saya sempat bertanya, apa yang saya bisikkan sehingga paman senyum. Saya tidak jawab. Malu… Hehe*)

Beberapa hari setelah kejadian itu. Paman menghembuskan nafas terakhirnya. Sesuai pesan beliau, jenazah dikremasi. Lalu abunya dikubur di pemakaman milik keluarga.

Beberapa hari pulang dari pemakaman beliau, kami sekeluarga dikejutkan lagi berita ajaib lainnya. Ayah kakak ipar saya (yang bukan mertua) ternyata pula kena kanker dan sudah mencapai stadium akhir.

Saya bingung. Istri pun bingung. Jangankan kami, mertua saya dan bahkan ibu saya pun ikut bingung. Kok yaah ini tiba-tiba seperti musim hujan telah tiba. Bedanya, yang tercurah bukan air, melainkan penyakit kanker dan kabar duka.

Karena kebanyakan para penderita kanker ini datang dari keluarga istri. Maka gundah gulana lah istri saya. Ia takut, khawatir kalau penyakit ini adalah penyakit warisan. Ia takut jika suatu hari ia menjadi salah satu korbannya. Namun lebih takut lagi jika putri kami yang terkena.

Maka tugas saya menenangkan hatinya. Sedihnya, akibat pekerjaan sebagai buruh yang menyita waktu, saya tidak bisa terlalu lama mendengarkan curhat emosi beliau. Jadi pagi itu, saya sarankan agar ia berbicara dengan tetangga kami, Mbak Isa. Seorang ibu muda yang hampir sebaya dengannnya dan memiliki dua anak perempuan yang manis dan lucu. Mungkin saja mereka bisa saling berbagi dan menasehati.

Hari itu, saya rupanya tengah beruntung. Setelah bekerja lebih keras daripada biasanya, pekerjaan di pabrik sudah selesai sebelum matahari terbenam. Jadi saya bisa pulang untuk makan malam dengan anak dan istri.

Pada makan malam, terjadilah komunikasi antara kami

Saya: “Apakabar Mbak Isa?”

Istri saya diam tidak menjawab pertanyaan saya. Mukanya agak keruh. Saya kaget juga melihatnya. “Kamu mau ganti topik?” Saya tanya kembali.

Dia masih diam. Namun akhirnya bicara juga, “Mas Aji, suaminya Mbak Isa. Kamu kenal kan?”

“Kenal”

“Umurnya berapa?”

Saya pikir Aji lahir di tahun yang sama dengan Gugun, adik saya, “Hmhh, yaah kira-kira nggak jauhlah dari saya. Lebih muda setahun atau dua tahun. Kenapa ama si Aji?”

“Aji kena kanker. Parah”

Dug! Jantung saya berdetak lebih keras daripada biasa. Saya berhenti menyendok makanan. Astaga, bukankah Aji masih muda. Anaknya yang paling tua berumur tujuh tahun. Satu lagi, masih seusia putri saya Novi Kirana, hampir dua tahun. Kok masih muda begitu bisa kena kanker ganas?

Saya sedih. Namun mampu menyembunyikannya. Sayangnya, istri saya tidak bisa. Putri kami yang sedang belajar makan bayam termangu menatap mamanya yang melamun di meja makan.

Ia menatap saya sebentar lalu bertanya, “Kenapa sih banyak orang baik mati muda?”

Saya diam di tanya begitu. Jelas saya tidak tahu apa jawabannya. Maut toh seringkali datang secara tidak terduga. Apa yang saya ketahui tentang maut sungguh sedikit.

Acara makan malam tidak lama kemudian berakhir dengan masygul.

Ketika saya mencuci piring, istri saya datang sambil menggendong Novi Kirana. Ia bertanya, “Bagaimana yaah kalau yang kena vonis kanker itu kamu? Apa yang harus saya lakukan? Apa yang akan kamu lakukan”

Saya menatapnya lama sekali. Tangan kanan masih memegang sikat dan sabun. Sumpah saya tidak tahu apa yang harus saya katakan untuk menjawab pertanyaannya. Ah! Betapa saya suami yang tidak pintar.

Di rumah samping kami sebentar lagi Mbak Isa akan menjadi janda. Iya yaah, bagaimana cara dia membayar kredit rumah? Bagaimana nanti anak-anaknya kalau Mas Aji meninggal? Bagaimana… Bagaimana… Dan sejuta bagaimana berkelebat di otak saya setelah mendengar pertanyaan istri. Katanya rejeki memang ada sudah ada yang mengatur. Tapi kalau lantas pasrah begitu saja, yaa bagaimana dong?

Otak saya penuh pertanyaan. Letih sekali rasanya memiliki banyak pertanyaan tanpa memiliki satupun jawabannya.

Selesai mencuci piring dan menina-bobokan anak, saya duduk di depan monitor komputer. Membuka facebook. Habis mau buka apa lagi? Saat itu facebook satu-satunya pelarian dari segala kesumpekan yang tengah ada.

Bedanya, kali ini pelan-pelan menulis permintaan maaf pada si Fulan.

Kalimat pembukanya; “Ternyata; hidup ini singkat

This entry was posted in bangaip, cerita_kerja, sehari-hari and tagged , , , , . Bookmark the permalink.

5 Responses to Kanker Penggertak Buruh

  1. Fortynine says:

    Ini bukan berarti bang Arif yang kena kanker, bukan…?

    Soal si Fulan, meskipun saya yakin kasusnya lebih dari sekedar jatuh dari sepeda. Saya juga pernah mengalami hal yang saya kategorikan sendiri sebagai kemiripan:

    Ada seorang rekan yang sejak dulu senang main anak laki laki alias playboy :mrgreen:. Dulu, kami sering mengolok olok dengan ancaman akan memberitahukan kelakuannya ini kepada kekasihnya..

    Dulu dia menganggapnya biasa, seiring berjalannya waktu, dia mulai menutup diri dan sering menyembunyikan hobi bermainnya yang satu itu. Entah untuk menjaga perasaan siapa saya juga tidak bisa mengerti…

    Kesimpulannya, mungkin Bang Aip dulunya tidak pernah tahu apakah mentertawakan si Fulan yang jatuh dari sepeda dan kami yang mengolok rekan itu melakukan sesuatu candaan yang biasa ataukah menyakiti hati.

    Tapiiiiiii…..bukankah mereka juga selayaknya berbesar hati,bahwasanya punya teman memang anugerah, dan diantara anugerah tersebut ada terdapat candaan. Dimana candaan itu sendiri memang seringkali bisa berbisa.

    Satu hal yang ingin saya tanyakan. Apakah jatuh dari sepeda, dan suka bermain anak laki laki (playboy) adalah sebuah tindakan yang harus ditutp rapat rapat, dengan kata lain si Fulan dan rekan saya itu “berani berbuat tidak berani bertanggung jawab”??

    Sekian dan terima kasih, mohon maaf kalau ada kesalahan baik dalam pengetikan maupun penyampaian

  2. bangaip says:

    Syukurlah saya tidak kena kanker, Rid.

    Selanjutnya, ahahaha, pertanyaan kamu baisanya selalu berat sekali :) Dan saya, entah bagaimana, secara sok tahu pura-pura kenal dengan rekan kamu itu 😀

    Oke, kita balik ke pertanyaan:

    “Apakah jatuh dari sepeda, dan suka bermain anak laki laki (playboy) adalah sebuah tindakan yang harus ditutp rapat rapat”

    Sepengetahuan saya yang tidak banyak ini, manusia berubah euy. Satu lagi, yang lebih penting, apa yang terlihat belum tentu seperti apa yang tersirat. Maksudnya, setiap peristiwa itu bisa dimaknai macam-macam oleh yang mengalaminya. Apalagi orang lain yang tidak mengalaminya.

    Ada banyak orang di muka bumi ini yang tidak terlalu bangga dengan masa lalunya. Dan mereka dengan berat hati (atau bahkan kadang dengan gagah berani), harus moving forward menyambut masa depan. Sebuah tindakan masa lalu, apabila sudah terjadi dan sudah diselesaikan dengan baik, maka sepantasnya tetap jadi masa lalu. Yang sebaiknya digunakan untuk pelajaran di masa depan dalam mengambil keputusan.

    Soal “berani berbuat tidak berani bertanggung jawab”??

    Saya pikir semua yang berbuat akan tiba saatnya untuk bertanggung jawab. Yang jadi pertanyaan, kepada siapakah pertanggungjawabannya ditujukan. Kalau si A menyakiti B dan si B tidak terima (karena dia bukan sado masochist), maka si A wajib meminta maaf pada si B. Tapi kalau acara maaf memaafkan itu sudah terjadi dan lalu tiba-tiba ada si C meminta pertanggung-jawaban dari si A bahkan mengolok-oloknya, saya pikir itu keterlaluan. Bahkan apabila si C ini sahabat baik sekalipun, mengolok-olok sesuatu hal buruk yang telah diselesaikan dengan baik, bukanlah hal yang tepat dan ramah dalam persahabatan.

    Saya setuju dengan kamu, Rid. Sahabat yang baik adalah anugrah. Dan salah satu bagian dari anugrah itu adalah saling membantu, saling menguatkan di kala susah. Bukan merendahkan dan saling menghakimi.

    (*Halah, saya kok sok tahu kayak ahli konsultasi psikologi. Hihihi. Sori Rid kalo saya sotoy. Hihihi*)

  3. Fortynine says:

    mengolok-olok sesuatu hal buruk yang telah diselesaikan dengan baik, bukanlah hal yang tepat dan ramah dalam persahabatan.

    Iya setuju, soal lainnya, biarlah orang menyelesaikan masa lalunya. Sebenarnya saya tidak pernah begitu ambil pusing juga dengan masa lalu seseorang, haanya saja mungkin banyak kenalan yang menganggapnya berbeda. :mrgreen:

    Saya setuju dengan kamu, Rid. Sahabat yang baik adalah anugrah. Dan salah satu bagian dari anugrah itu adalah saling membantu, saling menguatkan di kala susah. Bukan merendahkan dan saling menghakimi

    He he he, tapi apakah Bang Arif juga setuju dengan semacam teori ngalor ngidul bahwasanya semakin rekat persahabatan dan keakraban, maka semakin menurun pula tingkat kasarnya kata kata.

    Contoh, kata ‘bangsat’ yang sudah menjadi berubah menjadi sapaan akrab antar teman baik

    –0–

    Ada satu teman dulu saya selalu panggil ‘Jing!’ apabila bertemu. Kalimat itu tentu saja singkatan dari ‘anjing’

    Hari berganti. Dia lalu jadi salah satu tokoh pemuda yang kerap dipanggil dalam mengisi acara bulan dakwah. Bahkan sampai punya talkshow sendiri di radio. Orang-orang memanggilnya dengan sebutan ‘Pak’ atau ‘Yai’. Saya bimbang, tidak mungkin saya panggil beliau ‘Jing’ di depan publiknya. Sebab yakin akan menimbulkan banyak pertanyaan. Maka itu, saya panggil beliau ‘bro’ atau bahkan namanya saja. Panggilan ‘Jing’ buat beliau biarlah jadi masa lalu kami.

    Hingga saat ini, keakraban kami malah bertambah erat daripada sebelumnya

  4. edratna says:

    Kadang kita merasa dekat dengan sahabat kita dan merasa bahwa memperoloknya adalah gurauan biasa…
    Namun manusia berubah, dan semakin matang, rasa malu makin besar, jadi saat teman-teman masih mengoloknya, dia lebih baik mundur.

    Soal kanker….staf saya berturut-turut terkena kanker…semuanya kanker payu dara dan tak tertolong semua. Namun kita harus tahu, bahwa cara menghadap Tuhan bermacam-macam, ada yang melalui sakit, ada juga yang lain.

    –0–
    Saya turut berduka untuk staf ibu dan keluarga mereka

  5. omnoba says:

    bang, topiknya berat juga nich. tapi bicara mengenai maut, emang sudah suratan yang diatas bang. tabah yach bang…
    turut berduka buat dua kerabat yang meninggal. semoga diterima disisi yang maha kuasa.

    –0–

    Terimakasih Omnoba

Leave a Reply