Tolong! Saya Dipukuli Suami. Terus Bagaimana Dong?

(*Beberapa nama dalam tulisan ini bukanlah nama sebenarnya*)

Kata beberapa orang rekan kerja, sudah beberapa waktu belakangan ini saya terlihat murung ketika makan siang. Saya memang tidak bisa menyembunyikan kegelisahan yang tengah saya alami.

Adik saya yang bungsu, si Uul mengabarkan bahwa sahabat yang sekaligus tetangga saya, Fatimah, seorang ibu berputri tiga, dihajar habis-habisan oleh suaminya. Suatu hari suami Fatimah pulang ke rumah. Dalam keadaan emosi. Menurunkan kalimat kotor cercaan dan pukulan pada istrinya. Di depan ketiga anak mereka (yang paling tua sembilan tahun yang paling kecil empat tahun). Di depan Ibu Fatimah. Dan di depan adik Fatimah. Fatimah di hajar sabuk pinggang hingga lebam-lebam.

Fakta bahwa pemukulan itu bukan kejadian yang pertama dan pekerjaan sang suami adalah seorang penegak hukum, sungguh amat membuat berang. Siapa saja yang mendengarnya, tentu akan marah. Ini memang mirip film India. Tentang suami yang doyan selingkuh. Tentang suami yang menjadi penegak hukum dan sering beroprasi penyamaran dalam dunia hitam. Lalu ketika pulang ke rumah, menjadikan istrinya bak penjahat yang harus di aniaya dan di siksa. Bedanya ini tidak terjadi di film, apalagi film India. Ini terjadi di Indonesia, tepatnya di kampung saya; Cilincing tercinta.

Empat jam setelah kejadian. Adik sang korban mencurahkan isi hatinya pada Uul. Dan lalu, Uul jelas melapor pada kakaknya. Karena dia tidak tahu kemana lagi harus mengadu. Sebab sang korban adalah sahabat dekat kakaknya semasa SMA.

Begitu dapat telepon dari Uul, saya jelas amat kecewa. Di sisi lain emosi betul rasanya hati ini.

Namanya juga saya orang Cilincing sih dan peristiwa ini melibatkan orang Cilincing. Maka langkah pertama yaa kontak teman-teman Cilincing saya. Namanya emosi jiwa, apapun yang saya katakan memang dibalut emosi dan tentu saja itu hal yang tidak bijaksana. Sebab sahabat-sahabat Cilincing saya memang jauh lebih ajaib dibandingkan dengan saya kalau sudah emosi. Beberapa orang diantara mereka bilang, “Ngepet…, mentang-mentang dia (si suami) polis kali bisa maen gampar bini seenaknya! Si bajingan itu lupa kali di Cilincing bukan cuman dia doang yang punya pestol!”

Setelah diomeli oleh istri (*iya istri saya marah betul mendengar pembicaraan antara saya dan teman-teman Cilincing. Ia takut suaminya ikut campur dan jadi otak dalam tindak kekerasan*) akhirnya saya sadar bahwa kekerasan memang benar-benar tidak bisa diselesaikan dengan kekerasan.

Akibat kasus ini melibatkan penegak hukum dan Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT), dua hal yang saya akui saya tidak pandai menganalisanya. Maka saya melakukan riset terlebih dahulu. Dengan berupaya kontak beberapa teman yang berada dekat lokasi kejadian perkara. Diantara mereka kebetulan terkenal karena keahlian spesifik mereka. (*Pada waktu ini, sumpah mati saya bersyukur bahwa teman-teman saya bukan hanya makhluk berangasan saja. Para pemarah. Namun banyak juga yang orang baik dan tidak segan membantu*)

Bang Rere, seorang polisi yang kebetulan juga mantan anak tongkrongan Cilincing, menyarankan agar sesegera mungkin dilaporkan ke kantor polisi terdekat. Saran dari beliau adalah:

  1. Lakukan visum sesegera mungkin. Sebab nanti kalau sudah sembuh lukanya alat bukti hasil visum bisa samar
  2. Dan apabila dihalang-halangi (karena pelaku adalah oknum anggota polisi) lalu proses pengaduan yang tidak dikerjakan/ diperlambat. Bisa di jamin Polri tidak berani, karena sudah merupakan program dari Kapolri untuk menanggapi setiap laporan. Namun kalau masih benar-benar tidak ditanggapi; maka solusinya amat mudah caranya… Yaitu layangkan surat/pengaduan ke divisi Propam (profesi dan pengamanan) Polda Metro jaya ditembuskan ke Polres terkait
  3. Untuk KDRT, laporkan pada Polres lokal. Sebab di sana sudah ada unit Perempuan dan Anak yang diawaki kebanyakan oleh Polwan
  4. Kalau masih dipersulit juga, saya diberi nomor telepon beliau (*Dan karena alasan privasi, tidak akan saya sebar ke publik, hehe*)

Dari Imam yang pada waktu kejadian ini berprofesi sebagai pengacara menyarankan agar:

  1. Menghubungi Mbak Ratna (Ratna BM) yang menjadi inisiator LBH Apik. Nomor telepon LBH apik adalah 021-87797289
  2. Karena kejadian ini di JKT, segera hubungi RSCM (Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo) dimana mereka juga memiliki layanan pengaduan dan konsultasi (istilahnya women crisis centre) yang buka 24 jam
  3. Melihat tulisan Dinda mengenai alamat kontak untuk pengaduan kekerasan dalam keluarga di beberapa tempat di Indonesia

Sementara Loli, sahabat saya yang ahli pendampingan terhadap korban menyarankan agar Fatimah diajak ke

Yayasan Pulih
Jalan. teluk peleng no 63 A Rawa Bambu Pasar Minggu
telp. 78842580 hotline: 98286398, 0888-1816860

Agar bisa di bantu didamping dalam melewati masa-masa sulit ini.

Dengan sejumlah jaminan ini dan beserta banyak dukungan lainnya dari beberapa teman yang peduli, maka saya sampaikan kabar dan data ini kepada Uul. Pada intinya satu, menyarankan agar Uul memberi sejumlah data ini kepada Fatimah atau anggota keluarga Fatimah lainnya. Jadi Fatimah bisa keluar dari neraka yang saat ini bernama rumah tangga.

Setelah menyempaikan kabar tersebut, sehari saya tunggu jawaban dari Uul. Masih belum ada jawaban. 36 jam setelah kabar ini turun, masih belum ada jawaban. Saya gelisah. Saya takut. Dalam hati berdoa semoga hal buruk tidak semakin parah menimpa Fatimah. Maka ketika 48 jam berlalu sudah, saya putuskan untuk menelpon Uul.

Yang menerima bukan Uul, melainkan Ibu saya. Jawaban beliau, benar-benar anti klimaks. “Udah kamu nggak usah ikut campur. Itu rumah tangga orang”

Saya kecewa. Pertama karena yang menerima bukan Uul. Yang kedua, mengapa alasan “Urusan dalam rumah tangga” menjadi sebuah ayat suci yang tingkat hukumnya sedemikian tinggi sehingga tidak bisa dipertanyakan lagi bahkan ketika kekerasan sudah melanda rumah tangga tersebut? Yang ketiga, saya benar-benar kecewa Ibu meminta saya berhenti di tengah jalan.

“Ibu gimana sih! Ini bukan masalah rumah tangga lagi. Ini kriminalitas! Bukan lagi urusan rumah tangga. Sekarang kita masih syukur sebab si Fatimah masih idup. Coba gimana kalo besok-besok nyawanya nggak ada? Kalo kita diem dan besok-besok dia meninggal dihantem suaminya, kita dosa, Bu!”

Ibu itu relijius. Saya harap kalimat saya bisa mengubah pendpaat beliau. Walaupun sebenarnya sungguh menyesal saya menghardik Ibu dan membawa-bawa kalimat dosa. Dua hal yang tidak perlu.

Ibu diam sejenak. “Ibu udah ngomong ama Fatimah. Dia nggak mau dibantu. Dia takut suaminya masuk penjara. Kata dia kalo polisi masuk penjara kasian, digebugin terus”

Saya diam lama sekali mendengar itu. Lalu dengan pelan saya tanya lagi, “Ibu berani jamin dia nggak apa-apa?”

Ibu mengiyakan di seberang sana.

Namun entah kenapa, saya masih masygul. Bisa jadi karena si bedebah pemukul perempuan itu masih berkeliaran dengan bebasnya. Atau bisa jadi karena kecewa mendengar sahabat saya Fatimah yang mati-matian melindungi suaminya seakan tidak ada lagi pilihan di muka bumi ini. Atau bahkan saya kecewa karena saya tidak ada di sana untuk memastikan mata kepala saya bahwa semuanya akan baik-baik saja.

Malam itu yang ternyata bukan hari keberuntungan saya, nampaknya harus semakin tabah menerima rasa kecewa.

Sebelum tidur saya baca status facebook dari seorang sahabat, “Ado kurang ajar. Ga mao denger kata orang tua. Terpaksa gua maen tangan”

Ado itu anaknya. Tidak mau bangun untuk ibadah di pagi buta. Ibunya, sahabat saya, murka (atau khilaf, sebut saja terserah anda). Hingga bocah lelaki berumur enam tahun itu merah pipi ditampari.

This entry was posted in cerita_kerja, Orang Indonesia, sehari-hari, tips and tagged , , , , , , . Bookmark the permalink.

9 Responses to Tolong! Saya Dipukuli Suami. Terus Bagaimana Dong?

  1. hamidah says:

    Istri yang tdk mempunyai pekerjaan atau penghasilan memang biasanya lebih memilih untuk menerima kenyataan dalam hal ini adalah penganiayaan, daripada berontak kemudian kesejahteraan terancam. Yang perlu diperhatikan adalah tidak hanya bagaimana caranya mengeluarkan dia dr “neraka” tp juga bagaimana caranya agar dia bisa berdiri sendiri setelah dia terbebas dr suami karena luka yang berbahaya itu adalah luka di dalam.

  2. rere says:

    Bang Aip, ending seperti ini sudah saya duga sebelumnya… keterikatan ekonomi yang absosut dari seorang istri membuat ia tidak mempunyai banyak pilihan…. dan Jujur saja selama saya menangani masalah KDRT banyak sekali tidak sampai ke meja hijau karena si korban yang menarik lagi laporannya (dalam kasus ini bahkan si korban belum melapor resmi).. Ini merupakan masalah sosial yang kompleks, yang perlu diperbaiki adalah peningkatan pendidikan dari wanita agar dia bisa mandiri tidak tergantung 100% terhadap suami… jadi tidak bisa sewenang – wenang lagi…. bisakah ? bisa cuma perlu waktu …

  3. Memang sangat disayangkan jika seseorang tidak bisa memanusiakan manusia lain, terutama istri & anak-anaknya.

  4. Fi says:

    informatif, di kopi deh alamatnya.

  5. kimi says:

    menjadi sebuah pembelajaran bagi saya. kekerasan tetap sebuah kekerasan yang harus dilaporkan. tidak bisa didiamkan. dan membaca komentar bang rere, saya setuju. wanita harus bisa mandiri dalam hal finansial. jangan tergantung dengan suami. *siap2 sebar surat lamaran kerja kemana2*

  6. edratna says:

    Masalahnya…korban KDRT sering kebingunan memilih antara cinta dan benci pada pelaku kekerasan…
    (ehh rupanya komentar saya di FB ya)

  7. Domba Garut says:

    KDRT biasanya berawal dari kultur dan tingkat kematangan emosi dari komunitas dimana si pelakunya dan korban berasal. Perpaduan antara gelap mata dirangkul bujuk iblis hingga emosi menjadi liar dan sasarannya pada orang terdekat dalam hidp pelaku.. wah, itulah mengapa pentingnya pegangan agama agar tidak mudah keblinger macam KDRT, terlepas dari kampanya anti KDRT sudah pernah ramai muncul diperbincangan ‘grass-roots’ apakah implementasi hukumnya sudah rampung?

    Ah, saya lupa.. πŸ˜€

  8. DeZiGH says:

    Yah, kalo takut ditinggal suami mah ya telen aja lah, mungkin nggak percaya kalo Tuhan bakal ngasi jalan seandainya suami itu ditinggalkan. Ndak ada keberanian ya nikmati aja lah babak belur itu

  9. ikha says:

    aku juga siap membantu korban kdrt dimanapun mereka berada jika tenagaku dan kemampuanku tak b isa menjangkau mereka aku akan selalu mendoakan mereka.ingatlah wahai para suami kamu lahir dari wanita,hormati ibumu dan sayangi istrimu.oke….

Leave a Reply