Kenikmatan Yang Dibalut Perasaan Bersalah

Suatu malam sebelum pulang, saya di tanya-tanya oleh seorang bapak gagah yang dikenal publik tertentu sebagai Ndoro. Pertanyaan itu membuat yang ada di samping saya, seorang Paman cengar-cengir hingga dua orang MbakMbak terbahak-bahak sambil berkata “Ini nanya apa nyensus?”

Pertanyaan beliau memang menarik. Semenarik tulisan-tulisannya. (*Silahkan lihat di sini untuk membaca tulisan-tulisan Ndoro*)

OK daripada anda bertanya-tanya, seperti apakah pertanyaan Ndoro pada saya. Maka lebih baik anda saya beritahu (*Maaf Ndor, belum ijin sudah ditulis, hehe*). Sepeingatan saya, Ndoro bertanya hal-hal yang spesifik dan fakta. Misalnya tinggal di mana, sudah berapa lama, bagaimana sampai bisa ada di suatu tempat spesifik dan pertanyaan-pertanyaan simpel lainnya yang menunjukkan rasa keingintahuan.

Mengapa menarik? Atau setidaknya, mengapa menarik menurut saya?

Jawabnya: Karena secara subjektif saya menyukai yang simpel dan fakta.

Pertanyaan-pertanyaan beliau sudah cukup mewakili hal tersebut. Lepas dari kultur rasa ingin-tahu yang mungkin dianggap lingkar pribadi oleh beberapa orang, setidaknya saya cukup cengengesan bila pertanyaan beliau susah saya jawab.

(*Ketika Ndoro bertanya, “Jadi kamu ini ilmuwan?” Sebenarnya saya mau jawab, “Bukan, Ndor. Saya ilmuwati. Ilmuwan katanya adalah orang yang bekerja dan mendalami ilmu pengetahuan dengan tekun dan sungguh-sungguh mengenai lelaki. Dan saya kurang begitu suka mempelajari ilmu soal lelaki. Apalagi pijat urut kejantanan lelaki”, tapi tentu saja tidak saya jawab begitu. Setidaknya di Cilincing ada pameo ‘Kualat kalo ngeledek orang-tua’. Dan saya tidak mau kualat gara-gara meledek Ndoro. Hehe*)

Pada intinya, saya cukup senang dengan pertanyaan-pertanyaan Ndoro yang menurut Mbak Pito ‘pertanyaannya kaya nanya anak teka’. Pertanyaan Ndoro lugas, sederhana, ingintahu, dan simpel saja (walaupun kadang untuk menjawabnya ternyata tidak sesimpel yang saya kira).

Beberapa minggu di Indonesia memang menyisakan pengalaman yang luar biasa berharga untuk saya. Diantara pengalaman-pengalaman itu adalah mendengar pertanyaan dan mencari jawabannya.

Tidak semua pertanyaan yang saya dengar mirip dengan pertanyaan Ndoro. Malah kalau boleh dibilang, hampir tidak ada.

Pertanyaan yang saya dengar sungguh beragam. Mulai dari seorang pria muda kemayu yang bertanya apakah saya suka menjadikannya sebagai istri kedua hingga seorang ibu dengan dua putra, dua-duanya masih balita, yang bertanya bagaimana caranya menjual ginjal di Eropa untuk biaya beli susu anak-anaknya?

Tidak semua pertanyaan bisa saya ceritakan di sini. Sebagaimana tidak semua jawaban pula dapat saya paparkan di sini. Atas nama perlindungan privasi, akan lebih baik sesuatu berjalan sebagaimana orang-orang yang saya temui minta; jangan diumbar yaa, Mas. Itu kata mereka.

Namun, adalah sebuah pengalaman yang berharga. Dan unik tentunya. Mendengar pertanyaan-pertanyaan dan cerita pada sebuah titik di dunia ini tempat saya dilahirkan.

Salah satu dari sekian banyak pengalaman yang menurut saya akan banyak berguna (untuk saya pribadi) di masa depan selain mendengar pertanyaan… Yaitu ternyata adalah mendengar keluhan.

Wah untuk keluhan-keluhan ini, ternyata amat mengagumkan sekali.

Hampir setiap hari saya mendengar orang berkeluh-kesah. Mulai dari keluhan mengenai soal macetnya dan bisingnya jalanan Jakarta. Keluhan air tanah yang kualitasnya memburuk. Keluhan soal harga rumah yang makin tak terjangkau. Hingga keluhan-keluhan lainnya yang tak kalah hebatnya.

Salahkah?

Tentu saja tidak. Toh setiap mulut berhak untuk mengeluh. Sebagaimana setiap telinga berhak untuk tidak mendapatkan akses padanya.

Namun saya pikir, saya coba memilih untuk mendengar.

Sumpah mati, sudah beberapa tahun belakangan ini saya jarang mendengarkan keluhan-keluhan semenarik ini. Keluhan yang sering saya dengar adalah, bagaimana orang di Amerika Serikat sana gemar memakai kartu kredit dan hutang kiri kanan lalu membuat dunia guncang. Atau keluhan soal minyak Timur-Tengah yang benar-benar memicu amarah siapa saja. Atau keluhan tentang para eksekutif mengenai angka prosentase keuntungan perusahaan-perusahaan multinasional yang beranjak naik tidak terlalu tinggi.

Sungguh, saya cukup bahagia ketika akhirnya mendengar keluhan seorang teman yang bekerja sebagai pembantu rumah tangga di bilangan Jakarta Selaran berkata, “Bang sabun cuci sekarang payah. Nggak wangi kayak dulu lagi. Udah gitu bikin tangan jadi cepet kisut. Huh!”

Keluhan beliau sederhana, tepat sasaran. Dan tidak membuat saya harus buka ensiklopedia. 😀

Nah, akibat tiap hari mendengar keluhan. Saya kok yaa (secara kurang ajar) jadi menikmatinya. Edan. Apa saya tiba-tiba jadi sado masochist ketika sampai di Indonesia? Menikmati kesengsaraan orang lain?

Astaga, parah juga yaah kalau begitu?

Tapi, mau bilang apa lagi. Sejujurnya saya mau bilang, kalau mendengar keluhan itu ternyata nikmat juga.

Hampir setiap malam menjelang dinihari, teman-teman saya yang bekerja sebagai profesional mengeluh mengenai pemerintah Indonesia yang berlaku sering ajaib dan kekanak-kanakan. Mereka bilang, korupsi sudah merajalela di mana-mana. Bahkan hingga merasuk ke aparat penegak hukum. Mereka hampir punah rasa kepercayaannya terhadap pemerintah.

Nah terus besok siangnya, hampir setiap hari teman-teman saya yang bekerja di pemerintahan Indonesia mengeluh dengan rakyatnya yang hobinya ‘ngomong doang‘. Minta hak-haknya dipenuhi, namun hobinya melalaikan kewajiban. Bicaranya suka kasar dan tuntutannya sungguh keras. Padahal dengan begitu sama sekali tidak membantu kerja mereka di pemerintahan.

Di saat lainnya; Seorang sahabat wanita mengeluh kalau pacarnya suka main gila di facebook. Hobinya meng-add gadis-gadis ABG bau kencur untuk digombali. Sementara sang lelaki pacarnya, mengeluh kalau si wanita ternyata punya jauh lebih banyak komentar di status teman pria tertentu ketimbang wanita. Hasilnya; keluhan soal cemburu buta.

Nah lihat, seru bukan?

Jadi; Mengapa tidak saya nikmati keluhan-keluhan ini? Hehehe…

Mendengar keluhan itu katanya memang bukan pekerjaan yang menyenangkan. Tapi kalau tahu seni menikmatinya, mungkin bisa jadi seperti saya; kecanduan. Hahaha.

Ketika sudah seminggu lebih akhirnya saya mendengar pertanyaan dan keluhan, sampailah saya pada sebuah titik di mana saya sendiri bertanya-tanya: “Kok yaa nggak ada yang curiga saya cuma mendengar saja?”

Sungguh sebenarnya saya amat menikmati, bahwa tidak ada seorang pun yang curiga pada diri saya. Sebuah kenikmatan yang dibalut perasaan bersalah. Guilty pleasure katanya orang sana.

Namun perasaan bersalah makin hari makin memuncak saja.

Maka saya putuskan suatu hari untuk cerita pada Odoy, teman saya.

– “Doy, orang-orang kok yaa nggak curiga gua kadang diem aja kalo orang ngomong?”
+ “Wah lo mah telat mikir, men. Di sini mah udah kebanyakan orang yang minta didengerin. Tapi sedikit yang ngedengerin. Semua orang pada kepengen ngomong. Tapi mana ada yang mao dengerin”
– “Ahh.., nggak gitu-gitu amat kali, men. Buktinya masih banyak orang yang nanya. Itu kan tandanya masih mao minta pendapat orang laen?”

Odoy menukas dengan cepat, “…tapi berapa banyak dari orang-orang yang bener-bener cari jawabnya, men? Berapa banyak? Yaelah, nanya mah gampang. Yang susah… nyari jawabnya. Kalo udah urusan ama susah, mana mao orang-orang ikut campur”

Saya bengong. Bisa jadi Odoy sudah terlalu letih mendengar apa yang dalam seminggu ini saya dengar. Media membombardirnya setiap hari dengan berita membuat hati jenuh. Lingkungan yang makin lama makin sumpek, mungkin juga membuat dia semakin susah menikmati pertanyaan dan keluhan.

Tapi bisa jadi ia benar.

Bisa jadi di republik tercinta ini; lebih banyak pertanyaan ketimbang mencari jawaban. Sebagaimana lebih banyak pembicara ketimbang pendengarnya.

Namun ahh.., biarkanlah saya untuk egois pada yang satu ini.

Ijinkanlah agar saya untuk tetap… Sadis? Atau apalah namanya.., menikmati keluhan-keluhan ajaib warga negeri ini. Hehehe.

This entry was posted in bangaip, Orang Indonesia, Republik Indonesia, sehari-hari and tagged , , , . Bookmark the permalink.

8 Responses to Kenikmatan Yang Dibalut Perasaan Bersalah

  1. edratna says:

    Hehehehe..untung komentarku saat ketemu pertama kali di Bakoel Kofee, Cikini, nggak ditulis disini ya….

    Odoy benar..orang butuh di dengar keluh kesahnya, biar nggak semua tersimpan di dada yang bikin sakit jantung atau pengin bunuh diri. Nggak apa-apa nggak komentar karena yang dibutuhkan kan hanya pengeluaran uneg-uneg..kan nggak lucu kalau uneg-uneg dikeluarkan bukan ke manusia….walau manusianya juga hanya mendengar dan menikmati dalam diam.

    –0–

    Ada temen saya kalau curhat ke pohon lidah buaya, Bu :)
    (*Itu lidah buaya ternyata tumbuhya lebih subur daripada yang lain*)

  2. goop says:

    sekadar pertanyaan saja tidak boleh diumbar, ya? :(
    dan kadang-kadang, apakah tidak capek menikmati keluhan itu, bang?

    –0–

    Pertanyaannya biasanya amat spesifik dan amat sensitif, Uncle. Saya mohon maaf tidak bisa ditulis di sini, sebab ada beberapa pertanyaan yang juga proyek-proyek terkenal yang sedang berjalan.
    Soal menikmati keluhan, hehe. Capek sih, tapi bukankah menikmati capek juga adalah sebuah seni tersendiri? :)

  3. Kunderemp says:

    Wah.. saya justru malah mau belajar ilmu-ilmu seperti ini, Mas.

    –0–

    Waduh saya juga nggak tahu Mas, belajarnya ini dimana. Mungkin gara-gara waktu itu saya butuh informasi sebanyak mungkin, jadi harus juga mendengar sebanyak mungkin.

  4. manusiasuper says:

    Ahahaha, berarti kita jodoh bang, saya hobinya mengeluh.. mau dong, dijadikan istri ketiga…

    –0–

    Haha, kamu harus motong rambut saya dulu, Mansup. Hahaha

  5. meong says:

    wah ini pencerahan tingkat tinggi 😀
    bisa menikmati keluhan sama dengan mendengar pujian… 😛

    –0–

    Hehe, bisa aja si Mbak ini :)

  6. hedi says:

    saya menyesal sekali ga sempet ketemu sampeyan, bang :)

    –0–

    Saya juga Mas Hedi. Saya harap, di saat nanti di kemudian hari kita dikasih rejeki bisa ketemu bersama :)

  7. -tikabanget- says:

    ndoro udah kawakan.
    pertanyaannya simpel tapi mengalir dan lalu menjurus.

    saya?
    sukanya nanya pengalaman orang laen.
    itupun dengan kalimat acakadul yang bikin ditanya bingung.. 😀

    –0–

    Hahaha. Ahh nggak ahh, Mbak Tika dan teman-teman dari Langsat lainnya pun sudah sukses juga bertanya pada saya. Tapi saya nggak berani saja ngomong di sini. Hihi. Ndoro di ekspose karena beliau kan gagah perkasa. Hihihi

  8. -tikabanget- says:

    Ndoro gagah perkasa lagi lelananging jagat..
    hihihi..

Leave a Reply