Kuliah terbang adalah nama dari sebuah program di SERRUM, komunitas seni rupa Jakarta. Program ini berlangsung sejak tahun 2006 hingga saat ini (yaitu 2010 dan nampaknya akan tetap ada apabila penganggung jawabnya si Arman masih diberi rizki hidup).
Awal mulanya program ini dimulai dari nongkrong-nongkrong bersama antara para personel SERRUM dengan anak-anak muda warga sekitar (waktu itu ketika SERRUM masih baru dan bertempat di Rawamangun, Jakarta). Ada salah seorang anak kampung situ yang berkata, “Wah abang sih enak. Anak kuliahan. Apa aja mah gampang” ketika menjelaskan betapa susah hidupnya.
Waktu itu ada saya, MG (dibaca Emjie) dan Arief Rachman (dibaca: Arman) yang mendengar dan langsung bengong. “Loh kalo gitu kenapa nggak ikut kuliah aja ama kita di kampus”, jawab Arman dengan gagah perkasanya.
Saya takjub juga mendengar usul Arman.
Waktu itu di otak saya usul Arman terdengar super brilian. MKDU (Mata Kuliah Dasar Umum) kan pesertanya banyak. Apabila kami membawa satu atau dua orang anak kampung sekitar yang putus sekolah ke dalam kelas MKDU, pasti tidak ketahuan oleh sang dosen. Nah itu yang pertama. Sementara, trik yang kedua, biasanya setelah saya mengajar di lab saya tahu jam-jam kosong. Artinya, lab bisa dipakai sebagai kelas mengajar. Saya bisa melakukan nepotisme dengan satpam penjaga ruangan (*kasih aja rokok dua bungkus. Hehe saya tahu saya memang culas*) untuk menggunakan laboratorium kampus untuk mengajar anak-anak kampung situ sekitar satu atau dua jam.
Intinya cuma satu; yaitu bagaimana anak-anak kampung situ yang putus sekolah dan punya dendam terhadap anak-anak sebaya yang mampu sekolah mahal/tinggi juga bisa mengecap pendidikan.
MG yang kelihatannya paling bijak di antara kami bertanya, “Iya bener. Sekali dua kali sih okee. Tapi sampe kapan coy?”
Wah saya belum berfikir sampai sejauh itu. Ia benar, sekali dua kali memang belum tentu akan ketahuan. Tapi itu tidak mungkin selamanya. Walaupun asosiasinya erat, sekolah itu beda dengan pendidikan. Pendidikan adalah upaya untuk dididik dan mendidik. Sementara sekolah? Haha, sekolah mah bisnis. Dan para pelaku bisnis institusi pendidikan pasti tidak akan diam jika bisnisnya di usik oleh tangan-tangan jahil seperti kami.
Kami semua terdiam mendengar omongan MG. Walaupun kelihatannya menyusutkan semangat, ia benar. Tidak baik memberi harapan palsu pada anak-anak kampung sekitar. Waktu itu akhir minggu. Saya baru pulang dari sebuah pulau di bagian Indonesia Timur dan badan rasanya lelah sekali. Untuk mengusir sepi saya lalu bercerita bahwa di selama seminggu saya tour dari satu kampus ke kampus lain menjadi dosen terbang di seluruh pulau. Maka itu lumayan capek.
Arman membelalakkan mata, “Wah asik tuh bangaip. Kita bikin aja kuliah terbang. Jadi dosen-dosen terbang pada dateng ke kuliah ini”
Saya mengerenyit, “Kuliah ini. Di mana itu ‘ini’?”
“Ya di sini. Di sini di ruangan ini!” Arman berkata semangat sekali sambil menunjuk jari ke lantai ruang kantor SERRUM.
Saya, MG dan anak-anak kampung situ langsung gembira mendengarnya. Ide bagus itu. Bikin kuliah sendiri. Daripada nyolong-nyolong masuk kelas orang lain. Lebih baik bikin kelas sendiri dan menyelenggarakan kuliah sendiri.
“Tapi kok namanya kuliah terbang, Man?” tanya saya sore itu.
“Kan dosen terbangnya udah ada. Elu. Lagian kalo dinamain kuliah jongkok, nanti kita disangka ada di WC pren” jawabnya sambil cengar-cengir.
Tidak lama setelah obrolan sore itu dimulai, Kuliah Terbang perdana bergulir. Dengan dosen terbang dari mana-mana sesuai tingkat keahliannya.
Yang ikut pun bukan hanya anak kampung sekitar lagi, melainkan juga teman-teman kita dari pelosok desa bahkan orang-orang yang sama sekali baru.
Berikut ini adalah daftar kuliah terbang sejak 2006 hingga 2010;
| No | Bulan / Hari, Tanggal | Materi | Pembicara |
| Ke-01 | Senin, 21 Agustus 2006 | Community Management | Arif Kurniawan |
| Ke-02 | Agustus 2006 | Membangun jaringan | Arif Kurniawan |
| Ke-03 | September 2006 | Manajemen Seni | Arif Kurniawan |
| Ke-04 | Rabu, 15 November 2006 | Menerbitkan tabloid komunitas | Daniel Bomal dari Happen Magazine dan Epung dari tabloid kampus Transformasi |
| Ke-05 | Selasa, 16 Januari 2007 | Sejarah Pergerakan Pemuda Tahun 60 sampai saat ini | Bonnie Triyana |
| Ke-06 | Rabu, 21 Maret 2007 | Menulis dan Menerbitkan Buku Sendiri | Zaenal Abidin |
| Ke-07 | Jum’at, 27 April 2007 | Menjawab Kehadiran Sebuah Karya Foto | Indra Ameng |
| Ke-08 | Sabtu, 7 Juli 2007 | Mengenal Ubuntu | Teguh Prasetyo |
| Ke-09 | Rabu, 8 Agustus 2007 | Komunitas | Ade Darmawan |
| Ke-10 | Jum’at, 21 September 2007 | ’Kuratos : Salesman | Hafiz |
| Ke-11 | November 2007 | Musikologue | Ucrit Bandung |
| Ke-12 | Jum’at, 28 Desember 2007 | IMS dan HIV-AIDS | Berta Larasati |
| Ke-13 | Kamis, 15 Mei 2008 | Seni Publik, Liarnya Jalanan, Dan Jinaknya Seni Rupa | Ardi Yunantu (Jurnal Karbon) |
| Ke- 14 | Kamis, 28 Agustus 2008 | Lowbro Attack | Hendra Hehe Harsono |
| Ke-15 | Selasa, 7 April 2009 | “Bermain Sambil Belajar” | Dwi Utami S,Pd |
| Ke-16 | Kamis, 19 November 2009 | Sukses Bekerja, Berkarya dan Berkomunitas. | Billy Antoro |
| Ke- 17 | Jum’at, 22 Januari 2010 | Diskusi Komik “BERBAGI HIDUP” | Soerjorimbo Soeroto. |
| Ke- 18 | Jum’at 12 Maret 2010 | Seni Teater PUBLIK AKTING | Gatot S,Sn |
| Ke- 18# | Kamis 8 April 2010 | Bisnis Konten Internet Gratis | Bangaip, Mbelgedez, Ndaru |
| Ke- 19 | Jum’at, 14 Mei 2010 | Bagaimana Menjadi Relawan Yang Baik | Rahman Seblat S,Sn |
| Ke – 20 | Jum’at, 9 Juli 2010 | HOWTO: Proposal | Muvitasari |
| Ke- 21 | Jum’at, 10 September 2010 | 1. Desain Grafis Media Cetak 2. Fotografi |
1. Muhamad Evan Rahmat 2. Fahmi |
| Ke- 22 | Jum’at, 17 November 2010 | Jejaring Untuk Komunitas | Amika Asriena Asfar |
* Yang tulisannya hitam, pada saat ini belum terlaksana. Silahkan mampir ke SERRUM di Jalan Kayu Manis 2 No.12 Kelurahan Kayu Manis, Kecamatan Matraman, Jakarta Timur, 13130, telp : 021 8194737 Kalau mau ikutan
Jadwal kuliah terbang di SERRUM sebenarnya adalah setiap dua bulan sekali. Tapi beberapa saat lalu, Hasrul, salah seorang personel SERRUM membutuhkan bantuan dalam membangun konten internetnya. Maka, diadakanlah Kuliah Terbang Spesial ke 18#. Lebih cepat sebulan dari jadwal.
Isinya mengenai konten internet. Pernak-perniknya hingga bisnis yang menyertainya. Berikut ini adalah barang buktinya:

Keterangan Gambar Atas: Mas Mbel dari Mbelgedez.com sedang beraksi menjelaskan mengapa blog beliau menjadi salah satu blog yang paling ramai di akses oleh massa berbahasa Indonesia di tahun 2009-2010
(*Kalau tidak salah, kuncinya di positioning. Dengan isi konten blog yang sedang hangat kontroversial, posisi Mbelgedez dot com ternyata mampu menembus pangsa pasar konten dunia maya yang ramai didominasi oleh banyaknya mikro-blogging. Isi konten pun di atur sedemikian rupa agar orisinil, cerdas dan membuat diskusi yang ‘hangat’ antar pembacanya*)

Keterangan Gambar Atas: Lalu ada Mas Ndaru dari Warga Politikana Dot Com sedang beraksi menjelaskan mengapa politikana menjadi salah satu website dengan trafik tinggi yang kalau tidak salah, pernah hanya beberapa poin di bawah KASKUS, sebuah forum berbasis website Indonesia yang paling banyak dikunjungi pengguna internet.
(*Kuncinya ternyata membangun komunitas yang solid dan dinamis tanpa lupa terus memantau dan mengembangkan isu-isu terkini yang berguna buat perkembangan komunitas tersebut*)

Keterangan Gambar Atas: Beberapa narablog dan komikus hadir pula di tempat ini. Ibu kita yang amat kondang itu, Bu Enny dari edratna.wordpress.com, syukurlah menyempatkan dirinya untuk datang bersama Mbak Yoga yang ternyata tidak hanya jagoan masalah arsitektur, motret dan buku saja melainkan juga ahli jalanan Jakarta
(*Maaf apabila mata Mas Ndaru agak aneh. Beliau minta agar foto yang memajang wajah beliau matanya ‘diitem-itemin’. Jadi saya penuhi permintaannya agar tulisan ini bisa naik ke bangaip dot org*)
Saya sempat bicara sepintas mengenai bagaimana konten website atau social media sekarang menjadi ujung tombak yang di dukung oleh konten cetak sebagai strategi pemasaran di beberapa website mulai korporat hingga perusahaan start-up di Eropa.
(*Kuncinya ternyata ada di teknologi. Di negara-negara Uni Eropa, penggunaan internet sudah sedemikian tinggi. Bahkan kadang lebih tinggi daripada konsumsi warga terhadap televisi. Jadi strateginya adalah media tingkat dua mendukung media tingkat pertama. Jika internet jadi media tingkat pertama, maka media cetak jadi bagian lapis selanjutnya yang akan mendukung strategi pemasaran. Di sisi lain, tingkat kesadaran membatasi pemakaian kertas sebagai bahan media cetak pun semakin tinggi. Jadi mereka lebih suka melihat iklan melalui media internet/social media*)

Keterangan Gambar Atas: Ini adalah muka Hasrul yang lumayan pusing mendengar pembicaraan kami. Hasrul ini umurnya baru 19. Suka menulis. suka mendengar musik hard core. Dan tiba-tiba dinobatkan SERRUM menjadi ujung tombak divisi konten kreatif versi cetak. Malam ini, kami nobatkan spesial untuk Hasrul. Hehe.

Keterangan Gambar Atas: Di luar di serambi SERRUM ada cafe bernama Conqueror Cafe. Diadaptasi dari sebuah permainan yang ditemukan oleh JJ salah seorang personel SERRUM. Dimana empat orang bisa memainkan satu papan catur secara bersamaan. Malam itu, kami pula kedatangan anak kampung sekitar yang sedang diskusi membicarakan pagelaran musik rock tingkat RT/RW. Di dalam sibuk, di luar juga sibuk rupanya. Hehe.

Keterangan Gambar Atas: Selesai acara, saya dapat oleh-oleh luar biasa. Eko Bimantara, komikus KRL (Komik Rada Lucu) dan Jeanny Pebriyawani relawan KOLAPS (Komik Lapas, sebuah komunitas komik curhat yang berada di lingkungan Lembaga Pemasyarakatan Anak Pria Tangerang) memberikan satu kopi kompilasi komik KRL (yang diklaim Eko belum pernah terbit) dan satu kopi komik KOLAPS ‘Ndak Lagi Lagi’ (Yang menurut Jeanny, “Tinggal satu-satunya, Bang”)
Terimakasih Eko, Jeanny, Mas Mbel, Mas Ndaru, Bu Enny, Mbak Yoga, Arman dan Kuliah Terbangnya serta terutama pada SERRUM dan lain-lain yang tidak tersebut (gara-gara panjang banget, hehe) yang memungkinkan kita senang-senang sambil berbagi ilmu di malam itu.
Terimakasih yooo!
Salamsayang,
bangaip


Wah, jadi ngiri dengan Ndaru yang pernah maen ke SERRUM
looh kok aku ndak dikabar-kabari
–0–
Maaf adipati, lain kali pasti saya kabari
sepakat bang, mumet mikir sekolah sekarang. btw, salut sama usaha nyata untuk mendidik seperti yang sudah sampeyan lakukan
–0–
Terimakasih euy
Seruuu…
Itu kuliahnya Mbel ndak ada di jadwal Bang?
Dan sumpah mati saya suka bagian yang ini, idem Stein:
“Walaupun asosiasinya erat, sekolah itu beda dengan pendidikan. Pendidikan adalah upaya untuk dididik dan mendidik. Sementara sekolah? Haha, sekolah mah bisnis.”
–0–
Kuliahnya Mas Mbel di gabung Mas Fadil sama kuiliah Ndaru dan saya
Wah iya, nampaknya saya harus mengupdatenya euy
salut buat kalian,
dan malu buat saya
–0–
Wah jangan malu, Mas. Ayo mampir
pantes sekarang sampeyan sering mondar mandir ke jakarta, rupanya lagi maksimalkan kuliah
–0–
Hehehe, iya Mas Hedi.
.
Hihihi…
Saya ndak bermaksut menyesaatkan ummat, lhoo…
–0–
Mas Mbel kuliahnya keren. Habis ngasih kuliah saya dibisiki penanya, “Bos itu siapa tuh Bang, keren banget”
(*Tapi yang nanya cowok. Jadi saya bilang aja Mas Mbel sudah ada yang punya*)
@Adipati…lha saya juga mendadak janjian sama bangaip, karena waktu yang ada hanya saat itu (undangan nikahnya UUL saya tak bisa hadir). Jadi ceritanya mengejar Bangaip…waktunya hanya saat itu, kemanapun bangaip akan di cari
Bangaip….saya mau juga kok ngasih kulter….apa ya…coba dipilih nih: 1) Pengalaman teman2 dari membangun usaha sejak kecil 2) Mengatur keuangan (bisa digunakan untuk usaha atau rumah tangga)…Hmm sambil mikir lagi, nanti jadual disesuaikan dengan jadual Yoga.
–0–
Wah terimakasih Bu. Sudah saya sounding sih ke Arman. Mungkin tahun depan bisa kita jadualkan. Saya sangat mau nih Ibu ngasih kuliah juga di SERRUM dan mau hadir pas kuliah Ibu
wah..saya juga pengen banget gabung!! tapi jauh banget yah…..mudah2n suatu saat diberi kesempatan oleh Alloh pergi ke sana.
btw,saya suka banget sama KRL. sukses buat SERRUM.. ^^ semoga ilmunya berkah
aamiin..