Taksi I (Cilincing – Rawamangun)

Sudah cukup lama saya tidak mengendarai kendaraan bermotor sendiri. Maksudnya; sudah lama saya tidak menyetir.

Selain kenyataan bahwa saya hanya memiliki SIM C versi Indonesia yang membolehkan saya mengendarai kendaraan roda dua bermotor dengan sejumlah kapasitas CC mesin tertentu hanya di Indonesia, saya pun lebih banyak menggunakan sepeda sebagai sarana keperluan harian. (*Saya ndak bisa nyetir mobil. Jadi tidak punya SIM mobil. Hihihi. Ini rahasia antara kita berdua saja yaah*)

Antar-jemput istri ke pasar, naik sepeda. Ajak anak jalan-jalan ke danau dekat rumah, juga naik sepeda. Tiap hari pun genjot sadel naik sepeda untuk pergi pulang ke pabrik dalam rangka mencari nafkah.

Otomatis, saya jarang menggunakan kendaraan bermotor.

Andaipun secara terpaksa harus naik kendaraan bermotor bepergian, itu pun biasanya menumpang. Entah numpang mobil majikan saya, Ibu Nyonyah. Atau menumpang bus kereta. Atau ketika sesial-sialnya harus memburuh sejauh mungkin, yaa menumpang pesawat umum kelas ekonomi bertarif murah meriah.

Namun pilihan menggunakan tumpangan kendaraan bermotor itu tidak banyak. Saya seperti biasa, lebih banyak menggunakan sepeda dalam operasional sehari-hari.

Walau hanya pakai sepeda onthel tua pemberian neneknya istri, entah kenapa rasanya lebih menikmatinya ketimbang menumpang.

Jadi, kira-kira sudah bisa ditebaklah mengapa saya menyukai perihal mengenjot sepeda.

Sebab bukan hanya sehat, namun juga nyaman.

Saya tinggal di kota dengan polusi jalan raya yang tidak terlalu terlihat. Sebuah kota yang tidak hanya ramah terhadap pejalan kaki. Namun juga ramah bagi pesepeda. Sebab kami disediakan lajur khusus untuk bersepeda. Sebuah jalur jalan berwarna merah berdiameter sekitar 2 meter yang khusus dilalui hanya oleh warga yang menggunakan sepeda. Kiri kanan pemandangan alam pun cukup memuaskan mata.

Udara pun menyenangkan. Walaupun dingin sekali di musim dingin. Namun umumnya cukup enak untuk dipakai bersepeda.

Pada intinya, saya cinta bersepeda. Kegiatan ini saya lakukan bertahun-tahun. Dijalani dengan segenap kebahagiaan.

Maklum, cinta sih.

Saking sudah bertahun-tahun menjalani kehidupan sebagai pesepeda ini. Sungguh pernah sampai lupa bahwa saya lahir dan besar di Cilincing. Sebuah tempat yang dulunya ramah untuk pesepeda, kini sudah berubah. Cilincing saat ini lebih ramah pada industri. Di mana-mana di jalan raya, yang melulu terlihat adalah mobil-mobil besar beroda hingga 18 pengangkut kontainer.

Maklum, ini daerah pelabuhan.

Di Cilincing dan sekitarnya, semua-muanya mau dijadikan pelabuhan. Mulai dari rumah ibadah, makam (termasuk makam Mbah Priok yang bikin heboh di tahun 2010), rumah penduduk, warung nasi, hingga tiang tempat anjing kencing atau apalah namanya. Pokoknya kalau ada di pantai, dekat Tanjung Priok hingga Cilincing, maka semuanya harus jadi pelabuhan.

Sawah tempat saya dahulu mencari belut dan bermain dengan adik dan tetangga, sudah berubah menjadi terminal peti kemas pelabuhan. Pantai yang walaupun berpasir hitam, dulu adalah lokasi favorit mencari kerang dan meledek Odoy, teman saya, karena ia satu-satunya yang tidak bisa berenang. Pun sudah berubah menjadi pelabuhan kapal tongkang, kapal lebih kecil pemandu kapal tanker yang lebih besar.

Iya, walaupun Odoy masih tetap sama; belum bisa berenang, namun Cilincing sudah berubah. Buat pesepeda, ia sudah tidak lagi ramah.

Jadi, dengan amat terpaksa saya kemana-mana harus pakai kendaraan bermotor sewaan bernama taksi. Mau pakai ojek motor sewaan, anehnya tetap sama macetnya. Mungkin karena ini Jakarta. Pinggiran pula. Namanya macet tidak mengenal diskriminasi. Naik mobil atau motor, sama macetnya. Hehe.

Maka triknya, kalau jarak dekat sekitar radius 10 kilometer saya akan memilih ojek motor sebagai sarana pengangkutan. Lebih cepat dan bisa lihat kiri kanan perubahan pada jalan. Namun apabila sudah lebih jauh, pakai taksi saja. Sebab bisa sambil bekerja. Kalau untung, bisa sambil mengobrol dengan supir taksinya.

Akibat susah bersepeda dan sering bepergian dalam radius lebih dari 10 kilometer di Jakarta, saya pun lebih banyak menggunakan jasa transportasi taksi.

Wah, naik taksi di Jakarta itu keren. Tidak, saya tidak bicara mobil fisiknya (*yang kebanyakan baru dan wangi. Walaupun ada pula meski sedikit yang bau dan panas*). Sopir taksinya lah yang keren.

Akibat hampir setiap hari naik taksi. Hampir setiap hari pula saya mengobrol dengan sopir taksi. Sering sampai lupa memotret atau menyelesaikan presentasi. Pembicaraan dengan sopir taksi, sungguh menarik hati.

Maka, berikut ini adalah beberapa instisari obrolan saya dengan para sopir taksi.

Taksi I (Cilincing – Rawamangun)

Taksi yang biasa Ibu pesan adalah Blue Bird. Ibu punya patri yang kuat di otaknya mengenai branding taksi ini. Saya sempat tanya pada Uul, adik saya “Ibu kok demen banget naek taksi blue bird?”

Uul sambil mengunyah tempe menjawab, “Lah itu kan gara-gara yang narik si Budi. Tetangga kita. Bekas murid SD Ibu. Kalo sopirnya selain si Budi, mana mao Ibu? Wah kalo ama dia mah enak. Ibu ama gua kalo belanja suka dianterin. Trus belanjaannya ditentengin. Pokoknya nyantai ama dia mah. Trus nggak berani macem-macem. Lah mana berani dia macem-macem ama gurunya. Hakhakhak…”

Saya cengar-cengir saja mendengarnya.

“Kalo gitu, pesenin gua si Budi dong, Ul. Ntar jam sebelas gua harus ke Rawamangun”

Si Uul membelalakkan mata, “Wah nggak bisa coy. Lo mana bisa dadakan kayak gitu. Si Budi tuh sopir seleb. Walopun sopir, lo jangan pandang enteng. Dia orang sibuk tau”

“Yee, siapa yang mandang enteng, Dul! Orang gua mao make taksi. Dan nggak tahu harus ngontak siapa”

“Wah si Budi mah banyak yang mesen. Maklum orangnya asik sih. Kalo lo mao make jasa dia, tiga hari sebelomnya udah kudu booking”

“Eh buset dah! Trus gua gimana dong?”

“Gini aja, sini gua telponin Budi bentar”

Tidak lama kemudian Uul menelpon Budi dan lalu mengangkat bahu melihat saya. Tanpa diberitahu, saya pun mengetahui kalau Budi sibuk. Kata Uul, masih di bandara.

Gugun menampakkan muka di pintu halaman. Baru pulang dari servis motor, “Lu mao kemana? Sini gua anterin?”

“Rawamangun”

“Yaelah, jauh banget. Ke Gaya Motor aja yaah. Dari situ lu nyegat taksi sendiri”

Saya pikir, daripada kelamaan menunggu taksi. Lebih baik saya terima ajakan Gugun tersebut. Maka tidak lama kemudian sampailah saya di ujung kompleks Gaya Motor yang letaknya tidak jauh dari rumah Ibu untuk mencari taksi.

Sudah lima belas menit menunggu. Taksi belum juga muncul satupun. Gugun sudah tidak ada. Hanya ada satu taksi tanpa pengemudi teronggok di dekat masjid. Warnanya hijau, terlihat kusam dan tua. Beberapa bagian cat mulai mengelupas dan memperlihatkan keropos. Lampu kiri depan retak.

Saya tidak begitu peduli. Saya butuh tumpangan dan saya harus bisa bekerja dengan nyaman. Susah untuk naik ojek motor atau metromini sambil mengetik bahan presentasi.

Celingak-celinguk saya cari pengemudi taksi hijau itu. Ahh tidak ada juga.

Tukang ojek sepeda depan warung rokok bilang, katanya baru pergi. 15 menit itu baru? Hmhh, nampaknya ada perbedaan persepsi mengenai waktu antara kami :)

Sepuluh menit kemudian, pengemudi taksi itu masih belum datang juga. Tukang ojek menarik teleponnya. Kirim SMS, dia bilang “Tunggu lima menit lagi, Mas. Katanya masih di wese”

Ooh okay. Setidaknya, saya tahu di mana pengemudi taksi ini.

Yang katanya lima menit, lalu molor menjadi lima belas menit. Seorang laki-laki bertubuh gempal berkulit coklat tua datang. Menyelempangkan baju di bahunya. Melihat ke arah saya selintas, lalu memberikan baju itu kepada si tukang ojek sepeda. Dan dalam sekejap, si tukang ojek sepeda kini berganti menjadi supir taksi. Semua itu gara-gara seragam supir yang kini dikenakannya.

Wow, hebat!

Ia masuk ke belakang kemudi. Menyalakan AC dan menyuruh saya masuk. Bertanya apakah perlu menyalakan argo. Saya jawab cepat, iya. Kalau tidak ada argo, lebih baik saya turun saja. Ia gagap menjawab, ia kira saya sudah tahu harga ongkos taksi ke Rawamangun. Jadi tidak perlu pakai argo lagi. Katanya, sambil masih tergagap-gagap. Semua penumpangnya lebih suka ‘borongan’ saja. Istilah apabila tidak memakai argo pengukur biaya jalan.

Karena peristiwa itu, kami sempat saling diam sejenak hingga akhirnya macet melanda di depan Pelabuhan II Tanjung Priok.

– “Macet terus di sini yaa, Pak”

Saya membuka pembicaraan. Benar-benar basa-basi. Itu hari jumat. Pada hari itu, pelabuhan sedang penuh-penuhnya.

Ia melirik ke bangku belakang dari kaca spion tengah. Seakan tidak percaya mendengar pertanyaan tersebut. “Iya Pak. Maklum jumat”

– “Narik sampe jam berapa, Pak”
+ “24 jam, Pak. Kira-kira sampe besok jam 11 siang deh”
– “Nggak ngantuk, Pak”
+ “Yaa ngantuk sih”
– “Tidur ga, Pak?”
+ “Yaa tidur sih. Tapi sebentar aja. Tidur ayam gitu deh”
– “Ooohh…”

Diam sejenak.

+ “Bapak tinggal di Rawamangun yah?”
– “Nggak Pak, deket kok rumah saya ama tempat mangkal bapak tadi”
+ “Ooohh…”

Diam lagi sejenak. Kali ini cukup lama. Ia meragukan asal saya. Pembicaraan mulai lagi menjelang masuk jalan tol. Ruas jalan lebar yang diklaim Jakarta bebas hambatan.

+ “Naek tol, Pak?”
– “Jumat gini cepetan naek tol apa nggak, Pak?”
+ “Kalo tol, cepetnya sampe Kelapa Gading aja, Pak. Nanti abis itu lanjutin di bawah. Sebab kalo dari Gading ke Rawamangun, macet”
– “Ok, kalo gitu kita pakai tol sampai Kelapa Gading”

Tidak lama kemudian kami ternyata kena macet pula di tol menuju Kelapa Gading. Saya sudah tidak ada minat mengetik presentasi. Semua ide buyar begitu melihat macet. Saya terkesima melihat betapa panjangnya macet kali itu. Sudah lama tidak melihat macet begitu padat.

+ “Ke Rawamangun kerja, Pak”
– “Hmhh, kira-kira begitu deh Pak. Sebenarnya ini sedang liburan sih. Tapi saya bingung, sebab kenyataannya mengharuskan kegiatan seperti sehari-hari”
+ “Kerja apa, Pak”
– “Buruh kecil biasa, Pak”

Saya tahu, ia melirik melalui kaca spion tengah lagi. Matanya bicara, bahwa ia tidak percaya.

Kami diam cukup lama. Hingga akhirnya sampai di depan lintasan kampus Trisaji.

+ “Di deket halte sini banyak jablay, Pak”

Saya mentapnya melalui kaca spion tengah sekan tak percaya apa yang tengah saya dengar. Tapi ia tidak melihat balik. Matanya lurus menatap jalan.

+ “Cewek begituan, Pak. Di belakang situ, ada hotel jam-jaman. Lumayan lah buat BBS”
– “Apaan tuh BBS?”
+ “Bobo-bobo siang”
– “Hehe, bisa aja si Bapak”

Ia tertawa juga. Suasana kaku antara kami menjadi cair sejenak.

+ “Tamu-tamu saya kalo dari luar kota suka nyari jablay, Pak. Kalo nyari yaa sekitaran sini deh”
– “Loh bapak tau darimana itu perempuan jablay?”
+ “Yah, keliatannya sih nunggu mobil. Padahal bukan”

Saya tanya sekali lagi, kenapa ia menawarkan perempuan jalanan pada saya. Ia tampak tergagap-gagap. Ia meminta maaf. Ia bilang, ia merasa pasti bahwa saya bukan dari kota ini. Raut wajah saya bukan seperti raut wajah penghuni kota ini. Kalau mengantar tamu dari luar kota dan laki-laki, biasanya mereka suka bertanya dimana mencari perempuan penghibur. Satu-satunya yang ia tahu, yaa di jalan raya ini.

Saya tertawa mendengarnya. Saya coba cari topik lain, yang tidak ada hubungannya dengan selangkangan.

– “Sudah lama narik taksi, Pak”
+ “Baru tiga tahun, Pak. Sebelumnya sebelas tahun narik metromini. U-23, jurusan Tanjung Priok-Cilincing”
– “Kenapa ditinggal, Pak?”
+ “Bangkrut, Pak. Harga onderdil mahal-mahal. Nggak nutup ongkos harian. Penumpang juga kadang suka bayarnya nggak bener. Ngakunya mahasiswa mulu. Padahal kenek saya baek banget. Rela kagak dibayar. Sering saya bayar dia cuman pake bir pletok. Minum bareng abis seharian narik. Kadang sehari cuman dapet sepuluh atau duapuluh ribu, Pak. Saya setorin sama istri. Buat belanja makan dan anak bayar sekolah”

Saya diam. Tidak bisa bilang “Oohh…”

Satu lagi potret kemiskinan muncul di depan mata. Kadang realita begitu membuat shock. Beberapa hari lalu, baru saja berdebat dengan beberapa project manager mengenai bujet jutaan dollar untuk program tertentu. Kini, di depan mata, ada manusia yang berpendapatan sekitar 1-2 US$ perhari.

– “Narik taksi lebih banyak dapetnya, Pak?”
+ “Yah namanya juga sopir ganti, Pak. Tergantung kebaekan sopir batangan, pemilik taksi ini. Kalo dia kasih kita narik, yaa lumayan lah. Sehari itu bisa dapet tujuh puluh ribu sampe seratus. Tapi itu juga nggak tetap, Pak. Kadang juga kalo apes, cuman bisa nombokin bensin. Yaah namanya juga rejeki, Pak. Nggak keukur. Paling kita mah sering dapet tip dari tamu. Nah itu yang lumayan, bisa buat istri ama anak makan”
– “Taksi sekarang banyak saingannya, Pak. Apa nggak susah nyari penumpang”
+ “Iya, Pak. Susah. Penumpang mah maunya mobil yang baru dan terkenal. Kalo mobil kayak gini, males mereka”
– “Memangnya argo bapak lebih mahal?”
+ “Nggak pak. Sama aja. Tapi kan kalo taksi baru kan lebih adem dan wangi”
– “Trus gimana trik bapak nyari penumpang?”

Dia diam sejenak. Menarik napas. Menghembuskannya pelan-pelan. Lalu berkata lirih, “Kalo penumpang dari luar kota, biasanya suka nyari cewek, Pak. Kalo bantuin nyari trus nunggu mereka sampe selesai, tipnya suka lumayan, Pak. Trus kalo di Jakarta, nyari saya terus”

Nampaknya ia tidak terlalu bangga.

Saya bingung mau bilang apa.

Saking bingungnya, saya ketawa “Hehe, ada-ada aja, Pak”

Ia kembali tertawa. Suasana menjadi cair kembali.

Setelah itu, ia banyak bercerita. Semua pengalamannya mengalir begitu saja. Tentang bagaimana mobilnya dimasuki pedagang ikan asin beserta barang dagangan mereka yang membuat tidak ada lagi penumpang lain yang mau masuk. Atau ketika hujan deras melanda Pondok Gede dan salah satu bannya terperosok ke got sehingga mobil harus diangkat 10 orang tukang becak (dan setiap tukang becak meminta imbalan sepuluh ribu rupiah). Atau ketika ternyata salah seorang penumpang yang memanfaatkan jasa perempuan sewaan, ternyata dompetnya dicuri ketika sedang bercinta.

Ia terus bercerita. Hingga akhirnya kami tiba di tempat tujuan.

Selesai membayar argo yang 10 persen lebih tinggi daripada biasanya (ini pun saya tahu setelah memakai jasa taksi-taksi lain), ia menjabat tangan saya. “Pak, saya seneng dapet tamu kayak bapak. Macet jadi nggak berasa. Moga-moga kita ketemu lagi, Pak”

Saya tidak terlalu pusing dengan 10 persen itu. Sebab saya pun senang telah diantarnya selamat sampai tujuan.

Dan lebih daripada itu, punya bahan tulisan.

Ahh, saya memang maunya untung saja.

This entry was posted in cerita_kerja, sehari-hari and tagged , , . Bookmark the permalink.

8 Responses to Taksi I (Cilincing – Rawamangun)

  1. manusiasuper says:

    Senang ya Bang, ngobrol-ngobrol begitu? Saya malah biasanya kalo naik taksi cenderung mojok sendirian..

    Eh iya, di Banjarmasin yang namanya TAKSI itu sama dengan yang orang Cilincing bilang ANGKOT. Jadi kalo ke Banjarmasin ditanyai mau naik taksi, jangan geer, itu brarti naik mobil usia diatas 25 tahun, kapasitas 10 orang dipaksa bawa 16 nyawa plus 1 sopir…

    Saya tunggu di Banjarmasin bang… 😛

    –0–

    Loh, kalau ‘taksi’ berjenis sedan itu di Banjarmasin namanya apa, Mansup?

  2. meong says:

    setiap orang punya kisah ya bang… :)
    dan bang aip tahu bener gimana mengajak ngobrol smp keluar semua kisah…

    –0–

    Haha, saya mah gara-gara kejebak macet ajah. Jadi ngobrol ngalor-ngidul. Hahaha

  3. edratna says:

    Karena hanya sesekali ngantornya, saya juga menggunakan jasa taksi..justru sopir taksi ini punya banyak cerita, tahu informasi mana hotel yang bagus apa tidak….jadi ingat tulisan mbak Tuti di tutinonka.worpress.com.. yang sempat nyaris keliru hotel, lalu dikasih tahu pak sopir taksi kalau itu bukan hotel yang baik.

    Dia juga tahu kok kita penumpang tipe apa..karena saya ibu2, mereka sering curhat anak-anaknya…dan jika naik BB banyak yang pintar2, malah saya menduga mereka sarjana, karena suka ngomong yang diselingi istilah bahasa Inggris. Ada juga yang isterinya bekerja sebagai guru dan melanjutkan kuliah lagi. Jadi saya senang kalau mendengar mereka cerita, ada yang anaknya tiga, lulus S1 dan udah kerja semua. Pas ditanya kenapa masih nyopir..dia bilang udah terlanjur suka.

    Entahlah bangaip, tiap kali naik taksi kok malah dapatnya yang cerita menginspirasi dan bagus terus ya
    (Lha kok jadi posting disini ya…:P)

    –0–

    Iya Bu, naik taksi itu seru. Saya pikir, semua manusia yang berprofesi jadi pengendara jalanan di Jakarta itu punya cerita seru. Sebab jalanan Jakarta itu sungguh luar biasa ajaibnya.

  4. hedi says:

    saya jarang banget naik taksi 😀

    –0–

    Saya juga sih. Cuma karena temen2 saya sibuk, dan anggota keluarga lainnya juga sibuk jadi nggak bisa nganter. Maka itu, pakai transportasi yang praktis dan memudahkan kerja… Taksi. Hehe

  5. manusiasuper says:

    kalau taksi berjenis sedan apa namanya

    Dulu dibilangnya ‘taksi bandara’ bang, soalnya cuma melayani rute kota – bandara, tapi sekarang dah ada 2 perusahaan taksi serupa di Jakarta itu, dibilangnya ‘taksi argo’ 😛

    –0–

    Ahaaa… Taksi argo. Menarik juga euy. Sudah pernah coba naik taksi argo di Banjarmasin, mansup?

  6. Iya, sopir taxi banyak berinteraksi dengan banyak orang sehingga punya banyak cerita.

    Saya pernah naik taxi yang sopirnya ternyata pensiunan perusahaan dengan posisi yang lumayan. Anak-anaknya sudah pada sukses. Malahan sudah invest beberapa tanah & rumah. Kalau pun dia nyopir taxi, itu karena dia tidak mau nganggur di rumah.

    –0–

    Sopir taksi itu sering mengagumkan

  7. mbelGedez™ says:

    .
    Bagi nomer ponsel pak sopir taksi dooong…. :mrgreen:

    –0–

    Haha, nomor ponsel saya kan sudah tahu Mas Mbel. Saya kebetulan sudah dianugrahi kemeruh oleh si bapak supir itu soal alamat-alamat penting di Jakarta dan sekitarnya. Hahaha

  8. -tikabanget- says:

    dulu, saya itu bisa ngobrol sama sopir taksi.
    ada aja yang bisa dijadiin bahan obrolan.
    tapi sekarang, yang ada kalo masuk taksi, pengennya tidur.
    capek duluan.
    naek taksi itu adalah masa istirahat sebelum nanti kerja lagi waktu turun dari taksi.

    ah. saya rindu saya yang dulu..

    –0–

    Saya rindu juga. Hehehe

Leave a Reply