Taksi III (Macet Di Kelapa Gading)

Ritual sebelum tidur putri saya Novi Kirana adalah; minum vitamin, ganti baju dengan piyama, memakai kantung tidur, digendong sambil diberi ASI oleh mamanya sambil mendengar sayup-sayup lagu-lagu klasik.

Saya duduk di samping mereka, membacakan dongeng dalam bahasa yang diajarkan oleh Ibu saya. Setelah itu, Novi Kirana dibaringkan di atas tempat tidurnya. Sambil berbaring, mamanya mendongeng cerita yang sama. Kali ini walaupun dalam bahasa yang berbeda.

Setiap hari begitu adanya. Andaipun tidak akibat saya harus pergi ke suatu tempat nun jauh di sana, disempat-sempatkan untuk menelponnya bertanya kabar dan juga mendongeng melalui Saluran Langsung Internasional. Mahal? Ahh, jangan naif. Rindu itu berharga.

Tapi saya tidak akan bicara soal tarif telepon. Itu belum perlu. Setidaknya untuk saat ini. Saya hanya mau cerita, bahwa saya ini pendengar dangdut sejati. Memang sih saya tidak dibesarkan oleh lagu dangdut. Tapi lingkungan ketika saya tumbuh besar, amat mencintai dangdut.

Jadi, apa yang terjadi jika avid dangdut listener mendengarkan sayup-sayup lagu klasik setiap hari selama satu jam penuh?

Jawabnya; biasa saja tuh. Hehe.

Yang tidak biasa ialah ketika suatu hari saya naik taksi dari aula masjid Kelapa Gading menuju kantor SERRUM di Kayu Manis. Pak Supir, yang bertubuh besar dan berkumis lebat itu memutar lagu klasik. Ahh, kalau saja saya tidak dicekoki sehari sejam mendengarkan lagu klasik pengantar tidur Novi Kirana, tentu saja tak akan mungkin mengenali bahwa Pak Supir tengah memutar Sonata Pathétique. Sebuah komposisi piano yang diciptakan oleh Ludwig van Beethoven pada usianya yang ke 27.

Maka, jadilah saya siang itu duduk di kursi empuk taksi yang sejuk. Menikmati jalanan yang macet melalui kaca berlapis penahan sengatan matahari sambil mendengarkan sebuah mahakarya Beethoven yang juga dikenal sebagai Piano Sonata No. 8 yang dimainkan dalam C minor.

Indah… Macetnya Jakarta terasa indah.

Pak Supir menoleh ke kaca tengah, bertanya “Pak, kalau kurang suka musiknya bisa saya matikan?”

Saya senyum menatapnya, “Jangan, Pak. Lagu bagus ini. Saya jadi inget anak kalo denger lagu ini”

Seumur-umur saya naik taksi, di negara apapun, belum pernah mendengar supir yang memutar lagu klasik (*well saya memang belum terlalu banyak bepergian, apalagi naik taksi. Namun saya usahakan sebisa mungkin untuk naik taksi apabila singgah di lokasi-lokasi geografis yang disebut negara itu*).

Jadi, cukup takjub dan membahagiakan juga jika siang itu saya bisa mendengar sebuah lagu yang mengingatkan akan keluarga yang berada sungguh jauh di belahan dunia sana.

Pak Supir bertanya kenapa saya suka musik klasik. Saya jawab apa adanya. Selebihnya, kami saling bertukar cerita mengenai keluarga masing-masing.

Ia bilang, anaknya dua. Yang paling besar, SMP kelas satu. Si bungsu masih SD, baru kelas enam. Bukan hanya status sekolah yang ia ceritakan, pun dari mulutnya mengalir deras betapa si sulung amat suka bermain sepak bola dan bercita-cita mau jadi pemain sepak bola profesional.

Ia bertanya, “Pak, susah gaa yah jadi pemain sepakbola?”

Saya kebingungan, “Waah, saya bukan ahlinya, Pak” sambil garuk-garuk kepala.

Sambil terus memegang kemudi ia bergumam, “Kalo maen bola di Italia di AC Milan sono mungkin enak kali yaa, Pak. Kalo ada apa-apa, misalnya kalo anak saya luka ditekel pemaen lawan atau kalo udah nggak kuat lagi main bola, kan dari gaji ama tabungannya masih bisa hidup. Kalo maen di sini, mah. Aduh, urut dada saya, Pak. Takut bener saya kalo pas lagi maen, anak saya dilemparin botol ama penonton”

Saya masih kebingungan. Tidak tahu harus berkata apa. Saya bukan penggemar AC Milan.

Namun ia melanjutkan lagi, “Apa-apa mah susah di sini, Pak”

Sambil cengar-cengir, saya bertanya, “Yang gampang apa dong, Pak?”

Terbahak dia berkata, “Korupsi Pak! Hahaha…”

Saya senyum menanggapinya, “Kalo korupsi nggak bagi-bagi juga susah, Pak. Nanti banyak yang nyanyi. Hehe…”

Pelan-pelan sayup, Sonata Pathétique dari Beethoven mulai menghilang. Sebuah sonata yang diberi lanjutan penamaan Pathétique, dari bahasa Perancis yang mempunyai persamaan kata dengan ‘lamentable, misérable, pauvre, pitoyable‘. Artinya sendiri dalam bahasa Indonesia adalah ‘suram, malang, miskin, menyedihkan’.

Maka siang itu, saya tidak tahu siapa yang Pathétique? Saya dan sopir taksi yang tengah terjebak kemacetan di Kelapa Gading? Sedemikian menyedihkannya kah kami sehingga akhirnya hanya mentertawakan semua kasus korupsi di negeri Nusantara?

Atau akal sehat di republik tercinta ini?

(*Daripada nyalahin orang, mendingan saya ngaku. Iya.., Yang nggak sehat itu saya, loh… hehehe*)

This entry was posted in bangaip, Orang Indonesia, Republik Indonesia, sehari-hari and tagged , , . Bookmark the permalink.

2 Responses to Taksi III (Macet Di Kelapa Gading)

  1. meong says:

    loh dangdutnya manaaaaa? 😮
    *udah siap2 goyang jempol*

    –0–

    Hehe, nanti aja dah, Mbak. Kita joged bareng. Hehehe

  2. edratna says:

    Jika bangip selama mudik di Jakarta naik taksi tiap hari…betapa banyak cerita yang bisa ditulis disini…
    Mendengarkan supir taksi cerita, bisa membuat kaget dan bingung…banyak juga mereka yang S1, sebelumnya kerja di perusahaan bagus, berdasi…..karena perusahaan bangkrut, dia kena PHK…dan kemudian menikmati jadi sopir taksi.

    Ada juga sopir taksi yang santai, usut punya usut, isterinya guru yang lagi mengikuti pendidikan S2.
    Ya, naik taksi, ibarat mengikmati lagu bang..bisa sonata, bisa damgdut, klasik, jazz dsb nya…..

    Sepanjang masih bisa mentertawakan diri sendiri, maka kegetiran sementara bisa menghilang….

    –0–

    Kebetulan waktu di JKT, memang hampir selalu bepergian naik taksi Bu. Sebab bisa sambil nyambi kerja dan confrence. Supir taksinya hebat-hebat, banyak membantu. Dan utamanya, kami memang lebih sering mentertawakan diri sendiri :)

Leave a Reply