Pindah

Sudah lama saya tidak membaca tulisan teman-teman saya. Sudah lama pula saya tidak menulis. Iya, memang baru beberapa minggu… Tapi toh seakan sudah cukup lama dalam benak saya.

Saya sibuk. Saya pindah tempat kerja. Kata Ami, adik saya, itu lah redaksional yang paling pas untuk menggambarkan situasi saat ini. Pindah tempat kerja itu bukan pindah kerja. Pindah tempat kerja (menurut si Ami yang galaknya minta ampun kalau dalam berbahasa mentang-mentang dulu sekolah bahasa dan ketika selesai jadi editor-setengah-dewa) artinya adalah masih bekerja pada obyek yang sama namun beda lokasi geografisnya.

Saya dipindahkan. Dari ruang pabrik yang kiri-kanan-depan-belakang penuh riuh rendah penuh cengar-cengir manusia menuju ke sebuah tempat tidak terlalu luas persegi-empat. Cengar-cengirnya tidak pindah, sebab saya sendiri di sana. Sepi.

Manusia tidak pernah puas. Dulu waktu kerja di rumah, saya minta ditempatkan di pabrik. Alasannya, di rumah tidak bisa konsentrasi. Entah bagaimana, orang-orang rumah tidak pernah terbiasa melihat orang yang pada pukul 08.45 pagi bangun tidur, lima menit kemudian menyeduh kopi dan menyalakan komputer (yang terletak di samping ranjangnya) sebagai orang yang bekerja.

Waktu saya kerja di rumah, Ibu sering ditanya teman-temannya, “Si Arip kerja aja di tempat saya yah? Kasian tuh dia. Idupnya belangsak begitu. Di kamar terus. Bangon siang. Nggak pernah liat matahari. Ntar matanya kotak kebanyakan liat monitor”

Jadilah sejak saat itu saya kerja di pabrik. Kasihan Ibu, ditanya-tanya terus. Saya tidak mau membuat malu.

Sialnya, pabrik jauh. Kalau naik bis pulang pergi bisa tiga jam. Gila! Saya nanti bisa tua di jalan. Bulan pertama saya masih ceria pulang pergi kerja naik bis kota. Namun bulan selanjutnya, sudah mulai patah hati awak ini. Bangun tidur harus dibarengi jeritan-jeritan sial jam weker yang menyayat hati. Mata masih mengantuk, harus ke kamar mandi gosok gigi, mandi dan melakukan ritual pagi. Malam ketika pulang, badan sudah sedemikian letih, namun tetap harus pula mandi. Sebab peluh bercampur peluh, saya terima dengan apa adanya ketika bercampur dengan penumpang lain di bis kota. Dan saya benci bau badan orang lain.

Saya tidak puas. Saya kecewa dengan diri sendiri. Bahkan mulai menyalahkan dengan kalimat, “Ngapain juga gua dengerin omongan orang laen?” Lebih parah dari itu, saya mulai menyalahkan Ibu dan anggota kelarga lainnya yang tidak begitu ahli menjelaskan pekerjaan saya pada orang lain. Andai mereka ahli bicara, tentu saja nasib saya tidak sesial ini harus berada setiap saat di bis kota.

Pada intinya, saya tidak mensyukuri dengan apa yang saya miliki saat itu. Sebuah pekerjaan yang baik di sebuah pabrik sarjana ternama di Jakarta.

Hari demi hari, saya lalui dengan sungut dan muram. Saya coba mencari jalan keluar dari permasalahan ini. Sial sekali, tidak bisa. Hari saya sedemikian menyedihkan. Saya bosan dengan hidup saya. Saya bosan dengan bus kota dan keringat bau ketiak kondekturnya. Saya bosan harus bangun pagi. Saya bosan dengan acara tivi yang seru tayang malam namun saya harus tidur karena kalau tidak besoknya bangun kesiangan.

Saya bosan.

Dan kebosanan itu menyeret saya untuk menyalahkan pabrik tempat bekerja saat itu. Saya mulai berpikir, bahwa gaji di sini kecil. Sesuatu yang belum pernah saya pikirkan sebelumnya. Saya mulai berpikir, teman kerja saya mulai membuat jengah. Sesuatu yang sama sekali tidak pernah terlintas di benak saya. Saya mulai menyalahkan situasi di sekitar saya.

Iya saya tahu… Saya tipikal pecundang. Yang ketika punya masalah, bukannya intropspeksi, e-eh malah menyalahkan situasi sekelilingnya.

Lalu saya berpikir mencari pekerjaan baru. Bagaikan anjing yang tidak puas dengan tulang yang diberikan majikan, mulailah saya mencari-cari iklan lowongan di koran atau majalah atau apa saja lah. Yang penting, mampu membuat saya pergi jauh-jauh dari tempat kerja yang tiba-tiba punya embel-embel nama baru dibelakanya… Yaitu ‘terkutuk’.

Padahal saya tidak tahu kenapa dengan bodohnya saya maki-maki pabrik yang menghidupi setiap denyut nadi saya selama beberapa bulan belakangan itu dengan kalimat kasar. Bukankah saya yang memilih jalan hidup untuk pergi pulang pergi naik bus ke pabrik?

Entahlah. Yang penting saya harus pergi dari pabrik itu.

Setelah mencari kiri kanan, kasak-kusuk depan belakang. Akhirnya saya dapat panggilan interview di beberapa pabrik baru. Dengan berbohong pada rekan kerja dan atasan dengan alasan sakit atau pergi ke luar kota, saya datangi satu persatu calon pabrik baru untuk melakukan interview.

Tentu saja saya belum setolol itu untuk jujur bilang akan pergi meninggalkan mereka semua.

Ah iya, saya bukan hanya pecundang. Saya juga munafik. Saya tidak mau meninggalkan nama buruk di sumber finansial yang menghidupi saya dalam beberapa bulan terakhir itu. Saya mau mereka (di pabrik ‘terkutuk’ itu) berfikir yang baik-baik mengenai saya. Atau minimal, senyum di hadapan saya. Jika saya bilang “mau cari kerja baru” ketika mereka bertanya mengapa saya tidak masuk kerja; saya khawatir image saya rusak.

Jadi, saya bukan hanya pecundang. Saya pula adalah munafik dan seorang yang luar biasa egomaniak yang selalu memanjakan gejolak pemujaan terhadap imaji diri sendiri.

Sialnya… Lagi-lagi sialnya… Selalu ada ruang untuk manusia macam apa saja di muka bumi ini. Termasuk pesakitan komplikasi loser macam saya ini.

Saya diterima di pabrik anu untuk bekerja di sana. Dan sebagaimana cerita sesudah-sudahnya, saya lagi-lagi tidak puas. Sebagaimana lakon sebelumnya, saya terus mengeluh dan terus mengeluh. Saya pindah kerja dan terus pindah kerja.

Ketika gaji semakin hari semakin kecil rasanya, saya pindah cari kerja untuk gaji yang lebih besar. Ketika jabatan di kartu nama makin hari seakan makin tidak bergengsi, saya pindah mencari pabrik yang mampu menawarkan cahaya baru di embel-embel belakang nama saya. Ketika rekan kerja sudah tidak mampu lagi menampung semua histeria yang saya cipta, saya menyalahkan budaya mereka dan pikir-pikir untuk pindah ke pabrik yang beda kultur negara.

Hingga suatu hari… Ketika akhirnya saya jenuh dengan semua chaos dan musuh yang saya tinggalkan di sepanjang tapak yang saya lalui, saya sempat berfikir. Mungkin pekerjaan yang cocok untuk saya adalah penjaga satelit di luar angkasa sana. Sendiri. Sepi. Terisolasi dan tidak harus berhubungan dengan ras manusia yang begitu membosankan dan menjijikkan.

Hari demi hari saya lalui dengan tololnya menatap langit ketika pergi dan pulang kerja. Sambil berharap-harap ada pekerjaan yang mampu meluncurkan saya ke luar angkasa.

Minggu demi minggu berlalu. Dan saya akhirnya (dengan telatnya) menyadari bahwa tidak ada satupun pekerjaan di muka bumi selain astronot yang mampu membawa saya dengan roket (*yang selalu saya imajinasikan dengan warna kotak-kotak merah putih seperti roket Tintin*) menuju luar angkasa.

Dengan wajah malu merah remuk redam, saya sadari kebodohan demi kebodohan dan ilusi yang saya ciptakan. Otak saya tidak cukup untuk membawa saya menjadi seorang astronot. Saya manusia pas-pasan. Sampai mampus diperas pun otak saya tetap akan pas-pasan. Dan waktu yang terpakai untuk menghayal mengharapkan pekerjaan baru dengan suasana selalu baru, dengan sia-sia terbuang. Itu bukti bahwa otak saya memang pas-pasan. Kalau cerdas, tentu saja saya tidak menyia-nyiakan waktu.

Dan saya semakin malu.

Untung saja, sejak punya keluarga, sejak punya tanggung-jawab manusia yang harus saya beri makan; nafsu untuk menyia-nyiakan waktu jadi sedikit berkurang.

Belajar untuk tidak menyia-nyiakan waktu itu susah. Dari semua hal yang saya pelajari dalam hidup ini, hal yang paling sepele seperti menghargai waktu itu, ternyata susahnya minta ampun. Apalagi jika manusia yang belajar ini model saya, orang yang dalam hidupnya sering memanjakan diri dengan kalimat “Ngapain mikirin masa depan. Bikin pusing. Sekarang yaa sekarang. Enjoyy aje…”

Saya akui saya telat. Sebegitu naifnya, kesadaran untuk memikirkan masa depan itu baru ada ketika putri saya lahir. Melihat betapa dahsyatnya cinta saya pada manusia kecil pertama kali ada dalam dekapan, baru kali itu saya berfikir “Buset dah, kalo gua mati besok.., Gimana dia yaah?”

Sejak saat itu, saya berhenti berfikir bahwa ada rejeki nomplok yang akan membuat saya menjadi astronot dadakan. Dan coba belajar untuk realistis bahwa ada namanya makhluk yang bernama waktu. Yang dengan tanpa ampunnya, melahap jiwa saya detik demi detik.

Hasilnya… Saya tidak kuat. Saya gamang. Lepas dari semua yang saya sebut dia atas. Saya ternyata punya nama julukan baru, ‘penakut’.

Saya takut berhadapan dengan realita. Saya takut berhadapan dengan waktu. Saya ingin selalu kembali ke zona nyaman yang saya ciptakan, mimpi menjadi seorang asronot yang mengarungi luar angkasa sana.

Beberapa orang teman dahulu, mencibir. Mereka bilang jika saya sudah tidak lagi mampu bermimpi. Itu tandanya, hidup saya kering. Saya diam saja. Toh mau bilang apa? Saya lelaki berkeluarga. Saya punya tanggung jawab. Saya tidak bisa masturbasi terus-terusan untuk memproduksi peju melumasi jiwa yang kering.

Tadi pagi, saya pergi kerja ke pabrik mengayuh sepeda seperti biasa. Di tengah jalan, saya melalui rumah yang berfungsi sebagai panti untuk anak-anak yang memiliki kekurangan. Ada beberapa dari mereka yang terkena down syndrome dan harus duduk di kursi roda

Wajah mereka bersinar bahagia. Tidak nampak sedikitpun ketakutan di sana. Kekurangan yang mereka miliki, bukan hambatan untuk memperoleh kebahagian dan hangatnya sinar matahari pagi.

Mereka bahagia. Dan sejenak… Saya ikut merasa bahagia hanya karena melihat mata mereka memancarkan kebahagiaan.

Dan kini, saya sendiri di sini. Di ruang berbentuk persegi empat. Duduk di hadapan layar monitor membaca satu persatu surat-surat dari banyaknya sahabat yang penuh kalimat selamat atas hadirnya promosi.

Saya takut. Saya sepi. Sendiri di sini. Ketika tanggung jawab semakin besar, semakin sedikit pula orang-orang yang ada di sisi.

Mungkin saya harus lebih banyak belajar dari anak-anak berkursi roda dengan down syndrome yang setiap hari saya lalui. Belajar untuk lebih berani menghadapi hidup ini. Belajar untuk lebih menghargai hangatnya sinar matahari pagi.

Malam ini, saya akan pulang ke rumah. Sudah waktunya saya belajar untuk jujur. Saya harus mengaku di hadapan putri saya, bahwa saya penakut yang lebih banyak harus belajar mensyukuri hidup. Dan saya pun harus jujur mengaku dihadapannya, bahwa tatatapan mata sayangnya setiap hari lah yang masih membuat saya berani menjalani hidup ini.

This entry was posted in bangaip, cerita_kerja, sehari-hari. Bookmark the permalink.

6 Responses to Pindah

  1. noni says:

    bang, sebagai manusia wajarlah kalo kita punya rasa takut. tapi percayalah bahwa Allah tidak akan pernah meninggalkan kita. apalagi Allah sudah mempercayai abang dengan menitipkan novi.

    kita seperahu kok. mungkin nasib di perantauan emang begini kali ya?

    marilah kita berpikir (yang) positif (aja).karena kalo pikiran kita positif, semangat kita juga positif akibatnya ibu nyonyah+novi ya kecipratan positif. intinya semua jadi positif lah.

    emang siy ngomong paling gampang ketimbang ngerjainnye. saya juga masih dalam tahap belajar terus kok. sekarang ini saya selalu hanya mencoba berpikir yang gampang2 aja. gak usah yang ruwet2. sederhana. saya ditemukan jodoh oleh Allah (liat tuh yang masih ngejomblo banyak). saya dikaruniai anak2, yang sehat walafiat tidak kurang satu apa pun juga (liat tuh yang down syndrome, yang anaknya cacat badan, dll). mareeeee kita jaga dan pelihara titipan2 Allah tsb. gitu aja deh… urusan yang laen2 itu mah pelengkap penderita statusnya.

    teteb semangat ye, bang!

    –0–

    Terimakasih Mbak :)

  2. edratna says:

    Berarti naik jabatan ya….
    Lha mendapat ruang kotak sendiri, sepi….ditemani monitor…
    Karena,
    Jika jabatan rendah, kerjanya dalam ruangan bersama orang lain …semakin punya jabatan maka mendapat ruang tersendiri.
    Tulisan ini khas bangaip, yang rendah hati….

    Di satu sisi ada rasa kehilangan, saat harus sendiri, namun di sisi lain bisa lebih merenung….dan bukankah dengan mernung bisa mendapat isnpirasi untuk berbuat kebajikan?

    Wahh kerjaku sekarang juga hanya di ruang kerja sempit di rumah, ditemani monitor, bangaip…..untungnya perempuan, jadi melihat perempuan di rumah tak banyak pertanyaan dari tetangga kiri kanan.

    –0–

    Terimakasih banyak atas masukannya Bu

  3. adipati kademangan says:

    Semakin besar tanggung jawab yang diemban semakin merasa terasing di dekat kawan sendiri. Dikelilingi teman namun serasa tertawa sendiri didalam kebisuan teman-teman. Ah.. bangaip yang selalu rendah hati, tetap berusaha untuk menjabat teman da kawan meskipun sudah berada di ruangan tersendiri.
    Selamat ya atas promosinya 😀

    –0–

    Terimakasih adipati :)

  4. Cak Redy says:

    Wah… Nggak nyangka ada tulisan yang pas banget mewakili kondisi yang aku hadapi saat ini… Terutama di bagian sulitnya menyesuaikan diri saat bekerja di rumah… Tapi di saat yang sama, tulisan ini juga menginsprasi…
    Good luck out there, mates!

    –0–

    Terimakasih Cak :) Sama-sama euy. Semoga sukses juga buat anda sekeluarga

  5. pit says:

    kalo kata bukunya coelho winner stands alone, bang. eh, sits dong ya. kan bangaip lagi duduk. hehe.

    itu… itu… bangun siang nyalain komputer itu udah gwa banget sekarang, bang! ((= masih enjoy sih, kerja pake piyama doang. ga peduli tetangga kalo setel Dream Theater kenceng2 (kan tetangganya pada kerja semua). sering nemenin ibukos ngobrol curhat2an (dengan upeti cemilan, tentu saja!). so far so good. masih menyenangkan. berkat omongan bangaip juga when i was down kapan hari itu. saya masih maen ke pabrik kadang2, yg cuma seplesetan bencong dari kamar saya. masih jumat kumat-an, nongkrong ama temen2 kalo pas mereka bisa. yah… kalo kata emak saya sih orang ga bakal dikasi tanggungjawab besar kalo dia ga mampu. berarti bangaip dianggap mampu tuh. makanya diserahin Novi dan ibunyonyah.

    tetep semangat ya, bang. keep your chin up and wear that silly smile of yours (yet silently investigating eyes) always, everywhere (=

    –0–

    Terimakasih banyak, Mbak Pito. Saya butuh doa ini. Terimakasih

  6. Danik says:

    saya sudah melewati masa-masa pengen pindah2 itu, bukan karena puas juga, lebih karena tidak berani keluar dari comfort zone (penakut juga, tapi entah kenapa sekarang udah lebih tenang, ga blingsatan lagi. ada waktunya mungkin.

    saya suka sekali tulisan bang aip, apalai istilah “terkutuk” hehahaha….

    tapi sangat menyentuh di akhir-nya.

    –0–

    Terimakasih yaa Mas

Leave a Reply